KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1

Sabtu, 05 Maret 2011

Komunikasi Umum

Komunikasi Umum: "Tentang Komunikasi

Pengertian Komunikasi
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa latin communis yang berarti "sama", communico, atau communicare yang berarti "membuat sama" (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang pa­ling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata - kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi-definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal-hal tersebut, seperti dalam kalimat "Kita berbagi pikiran", "Kita mendiskusikan makna, dan "Kita mengirimkan pesan".
Berbicara tentang definisi komunikasi, tidak ada definisi yang benar ataupun yang salah. Seperti juga model atau teori, definisi harus dilihat dari kemanfaatannya untuk menjelaskan fenomena yang didefinisikan dan mengevaluasinya. Beberapa definisi mungkin terlalu sempit, misalnya 'Komunikasi adalah penyampai pesan melalui media elektronik', atau terlalu luas, misalnya 'Komunikasi adalah interaksi antara dua makhluk hidup atau lebih sehingga para peserta komunikasi ini mungkin termasuk hewan tanaman, dan bahkan jin. Komunikasi didefinisikan secara luas sebagai 'berbagi pengalaman'. Sampai batas tertentu, setiap makhluk dapat dikatakan melakukan komunikasi dalam pengertian berbagi pengalaman.
Sebagaimana dikemukakan Johr R. Wenburg dan William W. Wilmot juga Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, seti­daknya ada tiga pemahaman mengenai komunikasi, yakni komunikasi sebagai tindakan satu-arah, komunikasi sebagai in­teraksi, dan komunikasi sebagai transaksi.
Suatu pemahaman populer mengenai komunikasi manusia adalah komunikasi yang mengisyaratkan penyampaian pesan searah dari seseorang (atau suatu lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) baik secara langsung (tatap-muka) ataupun melalui media (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Misalnya, seseorang itu mempunyai informasi mengenai suatu masalah, lalu ia menyampaikannya kepada orang lain, orang lain mendengarkan, dan mungkin berperilaku sebagai hasil mende­ngarkan pesan tersebut, lalu komunikasi dianggap telah terjadi. Jadi, komunikasi dianggap suatu proses linier yang dimulai dengan sumber atau pengirim dan berakhir pada penerima, sasaran atau tujuannya.
· Komunikasi sebagai tindakan satu arah
Pemahaman komunikasi sebagai proses searah ini oleh Michael Burgoon disebut sebagai "definisi berorientasi-sumber" (source-oriented definition) Definisi seperti ini mengisyaratkan komunikasi sebagai semua kegiatan yang secara sengaja dilakukan seseorang untuk menyampaikan rangsangan untuk membangkitkan respons orang lain. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja (intentional act) untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu ke­pada orang lain atau membujuknya untuk melakukan sesuatu. Definisi komunikasi demikian mengabaikan komunikasi yang tidak disengaja, seperti pesan yang tidak direncanakan yang terkandung dalam nada suara atau ekspresi wajah, atau isyarat lain yang spontan. Definisi-definisi berorientasi-sumber ini juga mengabaikan sifat prosesual interaksi-memberi dan menerima- yang menimbulkan pengaruh timbal balik antara pembicara dan pendengar. Singkatnya, konseptualisasi komunikasi sebagai tindakan satu­-arah menyoroti penyampaian pesan yang efektif dan mengisyaratkan bahwa semua kegiatan komunikasi bersifat persuasif. Beberapa definisi yang sesuai dengan konsep ini adalah sebagai berikut.
Bernard Berelson dan Gary A. Steiner:
'Komunikasi: transmisi informasi, gagasan, emosi, keterampilan dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol kata-kata, gambar, figur, grafik, dan sebagainya. Tindakan atau proses transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.'
Theodore M. Newcomb:
'Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai suatu transmisi informasi terdiri dari rangsangan yang diskriminatif, dari sumber kepada penerima
Carl L Hovland:
'Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang (komunikator menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-lambang mengubah perilaku orang lain (komunikate).'
Gerald R. Miller:
'Komunikasi terjadi ketika suatu kepada penerima dengan niat yang penerima.'
Everett M. Rogers:
'Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.
Raymond S. Ross:
'Komunikasi (intensional) adalah suatu proses menyortir, memilih dan mengirimkan simbol-simbol sedemikian rupa sehingga membantu pendengar membangkitkan makna atau respons dari pikirannya yang serupa dengan yang dimaksudkan komunikator.'
Harold Lasswell:
(Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Atau Siapa Mengatakan A~ Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?'
· Komunikasi sebagai interaksi
Konseptualisasi kedua yang sering diterapkan pada komunikasi interaksi. Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergan­tung pada seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban verbal atau anggukkan kepala, kemudian orang pertama bereaksi lagi menerima respons atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya.

 Komunikasi sebagai transaksi
Ketika anda mendengarkan seseorang yang berbicara, sebenarnya pada saat itu bisa saja anda pun mengirimkan pesan secara nonver­bal (isyarat tangan, ekspresi wajah, nada suara, dan sebagainya) kepada pembicara tadi. Anda menafsirkan bukan hanya kata-kata pembicara tadi, juga perilaku nonverbalnya. Dua orang atau bebe­rapa orang yang berkomunikasi, saling bertanya, berkomentar, me­nyela, mengangguk, menggeleng, mendehem, mengangkat bahu, memberi isyarat dengan tangan, tersenyum, tertawa, menatap, dan sebagainya, sehingga proses penyandian (encoding) dan penyandian-balik (decoding) bersifat spontan dan simultan di antara orang­ orang yang terlibat dalam komunikasi. Semakin banyak orang yang berkomunikasi, semakin rumit transaksi komunikasi yang terjadi. Bila empat orang peserta terlibat dalam komunikasi, akan terdapat lebih banyak peran, hubungan yang lebih rumit, dan lebih banyak pesan verbal dan nonverbal.
Dalam konteks ini komunikasi adalah suatu proses personal karena makna atau pemahaman yang kita peroleh pada dasarnya bersifat pribadi. Penafsiran anda atas perilaku verbal dan nonverbal orang lain yang anda kemukakan kepadanya juga mengubah penaf­siran orang lain tersebut atas pesan-pesan anda, dan pada giliran­nya, mengubah penafsiran anda atas pesan-pesannya, begitu sete­rusnya. Menggunakan pandangan ini, tampak bahwa komunikasi bersifat dinamis. Pandangan inilah yang disebut komunikasi sebagai transaksi, yang lebih sesuai untuk komunikasi tatap muka yang mungkinkan pesan atau respons verbal dan nonverbal bisa di­ketahui secara langsung.
Kelebihan konseptualisasi komunikasi sebagai transaksi adalah bahwa komunikasi tersebut tidak membatasi kita pada komunikasi yang disengaja atau respons yang dapat diamati. Artinya, komunikasi terjadi apakah para pelakunya menyengajanya atau tidak, dan bahkan meskipun menghasilkan respons yang tidak dapat diamati. Berdiam diri, mengabaikan orang lain di sekitar, bahkan meninggalkan ruangan, semuanya bentuk-bentuk komunikasi, semuanya mengi­rimkan sejenis pesan. Gaya pakaian dan rambut anda, ekspresi wajah anda, jarak fisik antara anda dengan orang lain, nada suara anda, kata-kata yang anda gunakan, semua itu mengkomunikasikan sikap, kebutuhan, perasaan dan penilaian anda.Dalam komunikasi transaksional, komunikasi dianggap telah berlangsung bila seseorang telah menafsirkan perilaku orang lain, baik perilaku verbal maupun perilaku nonverbalnya. Beberapa definisi yang sesuai dengan pemahaman ini adalah, antara lain:
John. R. Wenburg dan William W. Wilmot:
“Komunikasi adalah suatu usaha untuk memperoleh makna”
Donald Byker dan Loren J Andersou:
'Komunikasi (manusia) adalah berbagi informasi antara dua orang atau lebih.'
William l. Gorden:
'Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.'
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson:
“Komunikasi adalah proses memahami dan berbagi makna.'
Stervart L. Tubbs dan Sylvia Moss:
“Komunikasi adalah proses pembentukan makna di antara dua orang atau lebih.'
Klasifikasi Komunikasi
Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa sosial melainkan pada situasi tertentu. Indikator paling umum untuk mengklasifikasikan komunikasi adalah berdasarkan jumlah peserta yang terlibat dalam komunikasi.
a. Menurut Kelompok Sarjana Komunikasi Amerika (Human Comm. 1980)
· Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communications)
· Komunikasi Kelompok (Group Communications)
· Komunikasi Organisasi (Organizational Communications)
· Komunikasi Massa (Mass Communications)
· Komunikasi Publik (Public Communications
b. Joseph A DeVito (Communicology 1982)
 Komunikasi Antar Pribadi (Interpersonal Communications)
 Komunikasi Kelompok Kecil (Small Group Communications)
 Komunikasi Publik (Public Communications)
 Komunikasi Massa (Mass Communications)
c. R. Wayne Pace (Techniques for Effective Communications, 1979)
1. Komunikasi dengan diri sendiri (Intrapersonal Communications)
2. Komunikasi antarpribadi (Interpersonal Communications)
3. Komunikasi khalayak (Audience Communications)
Penjelasan:
1. Intrapersonal Communications
• Proses Komunikasi yang terjadi dalam diri individu (dengan diri sendiri)
• Terjadi karena terjadinya pemberian makna pada obyek. Obyek yang diamati mendapatkan rangsangan panca indra kemudian mengalami proses perkembangan dalam pikiran manusia.
• Mendapatkan perhatian besar dari kalangan psikologi behavioristik.
• Merupakan landasan untuk melakukan komunikasi antarpribadi. Keberhasilan komunikasi kita dengan orang lain bergantung pada keefektifan komunikasi kita dengan diri sendiri.
2. Interpersonal Communications
• Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka (R wayne Pace, 1979)
• Bentuk khusus dari komunikasi ini adalah Komunikasi Diadik (Dyadic Communications) yaitu dengan karakteristik : Proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang dalam situasi tatap muka, dibagi atas percakapan, dialog, wawancara. Komunikasi diadik memkiliki ciri: Pihak-pihak yang berkomunikasi berada dalam jarak dekat dan pihakpihak yang berkomunikasi mengirimkan dan menerima pesan secara spontan dan simultan.
• Komunikasi antar pribadi sangat potensial untuk mempengaruhi atau membujuk orang lain.
3. Komunikasi Kelompok
Kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut Contohnya seperti; keluarga, kelompok studi dan kelompok diskusi. Dapat juga terjadi pada kelompok kecil (small group communications)
4. Komunikasi Kelompok Kecil
Proses komunikasi yang berlangsung antara 3 orang atau lebih secara tatap muka dimana anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lain. Tidak ada jumlah batasan anggota yang pasti, 2-3 orang atau 20-30 orang tetapi tidak lebih dari 50 orang. Komunikasi kelompok dengan sendirinya melibatkan pula komunikasi antarpribadi.
5. Public Communications
Komunikasi publik adalah proses komunikasi dimana pesan-pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka di depan khalayak yang lebih besar dan tidak dikenali satu persatu. Disebut juga sebagai komunikasi kelompok besar (large group comm.), komunikasi pidato, komunikasi retorika, public speaking. Berlangsung secara lebih formal, dituntut persiapan pesan yang cermat, keberanian dan keahlian menghadapi sejumlah besar orang. Daya tarik fisik, keahlian dan kejujran pembicara dapat menentukan efektifitas penyampaian pesan
Ciri-ciri Komunikasi Publik
• Satu pihak (pendengar ) cenderung lebih pasif.
• Interaksi antara sumber dan penerima terbatas
• Umpan balik yang diberikan terbatas
• Dilakukan di tempat umum seperti di kelas, auditorium, tempat ibadah.
• Dihadiri oleh sejumlah besar orang
• Biasanya telah direncanakan
• Sering bertujuan untuk memberikan penerangan, menghibur, memberikan penghormatan dan membujuk
6. Organizational Communications
Komunikasi organisasi terjadi dalam suatu organisasi, bersifat formal dan informal, dan berlangsung dalam jaringan komunikasi yang lebih besar daripada komunikasi kelompok. Melibatkan komunikasi diadik, komunikasi antar pribadi dan komunikasi publik. Komunikasi formal adalah menurut struktur organisasi yaitu komunikasi ke bawah dan ke atas serta komunikasi horizontal. Komuniksi informal tidak tergantung pada struktur organisasi seperti komunikasi dengan sejawat, termasuk juga gosip.
7. Mass Communications
Adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonim dan heterogen. Proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanik seperti; radio, televisi, surat kabar dan film. Pesan-pesan bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini.
Ciri-ciri Komunikasi Massa
• Sifat pesan terbuka
• Khalayak variatif baik dari segi usia,agama, suku, pekerjaan maupun dari segi kebutuhan
• Sumber dan penerima dihubungakan oleh saluran yang diproses secara mekanik
• Sumber merupakan suatu lembaga atau institusi
• Komunikasi berlangsung satu arah
• Umpan balik lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Dengan kemajuan teknologi, saat ini sudag lebih dapat teratasi
• Sifat penyebaran pesan yang berlansung cepat dan serempak serta luas mampu mengatasi jarak dan waktu. Dapat bertahan lama bila didokumentasikan
• Dari segi ekonomi biaya untuk memproduksi komunikasi massa cukup mahal dan memerlukan dukungan tenaga kerja yang relatif banyak untuk mengelolanya
Komunikasi massa menurut De Vito (1996) adalah milik umum, setiap orang dapat mengetahui pesn-pesan komunikasi melalui media massa, karena komunikasi berjalan cepat maka pesan yang akan disampaikan kepada khalayak silih berganti tanpa selisih waktu.
Unsur – unsur dalam komunikasi
a. Sumber ( Source ) : Pihak yang berinisiatif atau berkebutuhan untuk berkomunikasi, bisa seorang individu, kelompok, organisasi, perusahaan, dll.
b. Pesan (Massage) : Apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan seperangkat symbol verbal dan/ atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud sumber tadi.
c. Saluran/Media (Channel) : alat/ wahana yang digunakan sumber untuk menyampaikan pesannya kepada penerima.
d. Penerima (Receiver) : Orang yang menerima pesan dari sumber. Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir dan perasaan. Penerima pesan ini menerjemahkan/ menafsirkan seperangkat symbol verbal dan/ atau non verbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia pahami.
e. Efek (Effect) : Apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut.
f. Proses Encoding: Adalah proses pemilihan symbol/alat angkut pesan. Dilakukan oleh Pengirim pesan.
Sumber : Toto Hernawo, 30 Juli 2006.
http://totohernawo.blog.m3-access.com/posts/11668_Tentang-Komunikasi.html
PENDIDIKAN [2]
Pendidikan ada sejak pertama manusia mengenal komunikasi, sebab pendidikan tak mungkin bisa dilakukan tanpa adanya komunikasi, baik komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Hal ini bisa dipahami sebab sejak semula, pendidikan beriringan dengan kepercayaan. Kepercayaan terhadap sifat-sifat hakiki kemanusiaan sendiri, dan kepercayaan terhadap ada atau tidak adanya daya ruhaniah yang lebih besar dibanding kekuatan manusia, yang memayungi jagat seisinya.[1] Kepercayaan atas sebuah kebenaran yang disampaikan ke orang lain inilah yang melahirkan adanya pendidikan.
Pendidikan pada masa 'Sophistic' di Yunani dilakukan oleh para guru yang selalu berkeliling mengajar ditempat-tempat umum yang dipanggil dengan nama 'Sofis'. Dalam bahasa Yunani ada kata 'sophisma' yang berarti 'akal cerdik', 'ketrampilan berargumen' dengan konotasi 'licik' yang dipakai di dalam perdebatan atau pengajaran dengan satu tujuan yaitu agar keluar sebagai seorang pemenang. Kaum Sofis ini berpendapat bahwa pendidikan yang diperlukan adalah retorika, tata bahasa, logika, hukum, matematika, sastra, dan politik yang di dalam prakteknya kaum Sofis ini 'terjebak' ke dalam permainan lambang dan simbol semata dalam bentuk permainan kata, ber-'silat-lidah', menyusun argumentasi yang bersifat manipulatif melalui pemutar-balikan fakta, memanipulasi lambang dan makna yang disampaikan pada para pendengarnya[2] yang menurut Yasraf A. Piliang mereka terjebak di dalam dunia citra (image), dunia lambang yang berbeda dari realitas yang ada, berbeda dari kebenaran itu sendiri. Sehingga kebebasan yang diharapkan ada di dalam proses pendidikan secara tidak langsung sudah mengalami apa yang disebut oleh Pierre Bourdieu sebagai 'kekerasan simbolik' yaitu kekerasan yang halus dan tak tampak,[3] baik dari sisi struktrur bahasa maupun ditingkat semantik yang mengakibatkan di dalam proses pendidikan kaum Sofis yang ada sebenarnya adalah kebebasan semu.
Socrates menganggap bahwa pendidikan yang tidak mengajarkan pada murid untuk mencari kebenaran atau mengajarkan kebenaran tidaklah termasuk pendidikan dalam arti yang sebenarnya. Untuk mencapai kebenaran melalui pendidikan itulah, Socrates menggunakan metoda dialektika yang membebaskan murid untuk berpikir sendiri tanpa terpengaruh oleh gagasan gurunya.[4]
Senada dengan Socrates, Plato (427-347 SM) melalui karyanya yang berjudul 'Republica' juga menggunakan metoda dialektika ini untuk memberikan kebebasan kepada murid-muridnya untuk berpikir sendiri tentang musik, tentang pernikahan, tentang pemerintahan, tentang perundang-undangan dan yang lainnya.
Meski kebebasan di dalam pendidikan diakui perlunya sejak awal adanya pendidikan, tetapi di dalam perjalanan sejarah yang ada, cukup banyak paradigma-paradigma yang meminimalkan kebebasan di dalam pendidikan. Selain di masa Shopistic kebebasan menjadi minim sebab adanya 'kekerasan simbolik' yang dilakukan, dimasa-masa selanjutnya masih juga terjadi reduksi kebebasan dalam pendidikan. Seiring dengan masa Yunani Sophistic, berkembang pula pendidikan di Romawi yang meminimkan kebebasan melalui penekanan disiplin, organisasi dan ketrampilan militer.[5]
Santo Benediktus dari Nursia (480-550 M) mendirikan ordonya di Monte Cassino, Italia, dengan dekrit ketat yang meminimkan kebebasan dalam pendidikannya. Pendidikan yang dilakukan mewajibkan setiap biarawan membaca kitab-kitab suci sekurang-kurangnya dua jam perhari, dan tidak memperkenankan membaca buku-buku lain, tidak membolehkan para biarawan itu memiliki pena untuk menulis sendiri.[6] Setelah masa itu dilanjutkan dengan monopoli Gereja atas pendidikan formal di seluruh Eropa yang berlangsung seribu tahun, kebebasan di dalam pendidikan diminimkan lagi sebagai pelaksanaan pendidikan atas doktrin Gereja (kaum Skolastik). Kebebasan berpikir ditekan, kebebasan berbeda pendapat diberangus yang sampai memakan korban seperti Galileo yang harus kehilangan nyawanya akibat berbeda pendapat dengan pihak gereja akan pengetahuan ilmu alam. Berbagai perguruan pendidikan yang bertebaran sampai abad ke 16 masih dilandasi niat untuk memasok calon-calon pendeta dan mendidik kaum ningrat yang kawasan rohaniahnya dikendalikan oleh pejabat gereja.
William F. O'neil berpendapat bahwa pendidikan yang meminimkan kebebasan itu disebut sebagai pendidikan yang konservatif. O'neil membaginya menjadi tiga bagian yaitu pendidikan fundamental, pendidikan intelektual dan pendidikan konservatif. Lebih lanjut O'neil menjelaskan tentang Fundamentalisme pendidikan sebagai berikut :
'.pada dasarnya anti-intelektual dalam arti bahwa mereka ingin meminimalkan pertimbangan-pertimbangan filosofis dan atau intelektual, serta cenderung untuk mendasarkan diri mereka pada penerimaan yang relatif tanpa kritik terhadap Kebenaran yang diwahyukan atau konsensus sosial yang sudah mapan.' [7]
O'neil juga menjelaskan tentang Intelektualisme pendidikan sebagai berikut :
'.pada dasarnya otoritarian.demi menyesuaikan secara lebih sempurna dengan cita-cita intelektual atau rohaniah yang sudah mapan dan tidak bervariasi.'[8]
O'neil juga menjelaskan tentang Konservatisme pendidikan sebagai berikut :
'Konservatisme pada dasarnya adalah posisi yang mendukung ketaatan terhadap lembaga-lembaga dan proses-proses budaya yang sudah teruji oleh waktu (sudah cukup tua atau dan mapan), didampingi dengan rasa hormat mendalam terhadap hukum dan tatanan, sebagai landasn perubahan sosial yang konstruktif'[9]
Pendidikan yang konservatif beranggapan bahwa sasaran utama sekolah adalah pelestarian dan penerusan pola sosial serta tradisi-tradisi yang sudah mapan.
Pada abad ke 17, muncul kembali pemikiran-pemikiran yang mengedepankan kebebasan di dalam pendidikan di Eropa yang diawali dengan kebebasan dalam pendidikan berdasar kepada paradigma liberal arts klasik.
William F. O'Neil menyebutnya dengan pendidikan Liberal yang oleh O'Neil dibagi menjadi tiga macam yaitu Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan.
O'Neil menjelaskan Liberalisme pendidikan sebagai berikut:
'..tujuan jangka panjang pendidikan adalah untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif.'[10]
O'Neil menjelaskan Liberasionisme pendidikan sebagai berikut :
'Liberasionisme adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita musti segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin'[11]
Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari 'yang obyektif' , melalui pengamatan atas kenyataan.[12]
O'neil menjelaskan Anarkisme pendidikan sebagai berikut :
' ...seperti pendidik liberal dan liberasionis, pada umumnya (anarkisme pendidikan) menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah).'[13]
Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang bebas lembaga.. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian.


Komunikasi ialah penyampaian atau pertukaran pikiran, pesan, atau informasi seperti melalui pembicaraan, tulisan ataupun perilaku antara dua atau lebih manusia.
Komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau proses memberikan dan menggali informasi dari orang lain atau mahluk hidup lain dengan memakai sinyal-sinyal seperti pembicaraan, gerakan dan isyarat tubuh atau sinyal-sinyal suara [1]. Atau, komunikasi adalah “suatu tindakan di mana seseorang memberikan atau menerima dari orang lain informasi tentang kebutuhan, keinginan, persepsi, pengetahuan atau kondisi afektif. Komunikasi dapat bersifat sengaja maupun tidak disengaja, dapat menyangkut sinyal-sinyal kovensional maupun tidak konvensional, dan dapat terjadi lewat modus lisan maupun lain-lainnya”.[2]

Empati adalah “suatu kualitas atau proses memasuki secara penuh melalui imaginasi ke dalam perasaan-perasaan atau motif-motif orang lain”. [3] Istilah empati diperkenalkan pertama kalinya oleh seorang psikolog Jerman bernama Theodore Lipps, sekitar tahun 1880-an dalam istilah “einfuhlung” atau ‘in-feeling” yang menjabarkan apresiasi emosional terhadap perasaan-perasaan orang lain.[4]

Maka Komunikasi Empati ialah pengetahuan tentang cara-cara untuk memperoleh atau menyerap informasi dari orang lain tentang kebutuhan, keinginan, pemahaman, pengetahuan, dan kondisi afektif yang tersimpan dalam “memori kolektif” dari orang tersebut baik secara disengaja maupun tidak, baik yang mencakup simbol-simbol yang telah disepakati maupun belum, baik dalam bentuk bahasa biasa maupun para-bahasa [5], dan yang mungkin terjadi melalui sarana wacana vokal maupun sarana lain-lainnya yang bersifat non-vokal.

Manfaat Komunikasi Empati Dalam Bidang Medis
Apakah Komunikasi Empati mempunyai sesuatu manfaat bagi dunia kedokteran? Dalam setiap hubungan interpersonal terjadilah. komunikasi. Ada corak komunikasi yang efektif tetapi ada pula komunikasi yang sama sekali tidak produktif apalagi kondusif.

Di masa lampau – atau mungkin sebagian masih berlaku sampai sekarang juga - ilmu Pengobatan allopatik dalam penanganan suatu kasus penyakit terdapat pola pikir “Find it and fix it.” Yaitu pada tahap prognosis mengamati simtom-simtomnya dan kemudian memikirkan metode penanganannya. Secara keseluruhan agak mirip dengan pekerjaan seorang montir elektronik. Padahal yang dihadapi para dokter ialah manusia yang memiliki tiga matra dalam jatidirinya yaitu matra fisik, kejiwaan dan spiritual.
Untuk penanganan penyakit-penyakit yang jelas-jelas bersifat fisikal tentunya tidak memerlukan Komunikasi Empati. Kalau kaki pasien patah yang diperlukan pertama-tama ialah selembar foto rontgen dan kemudian diperlukan bilah supaya kaki itu dapat disalut gipsum.
Untuk mules-mules saja sudah diperlukan informasi tambahan tentang kondisi psikologis pasien. Mungkin saja benar hal itu hanya akibat kontaminasi bakteri E Coli biasa atau gejala flatulensi biasa akibat ekskresi getah lambung berlebihan karena kerap makan terlambat. Tetapi mungkin saja ada sebab kejiwaan, misalnya karena stress menghadapi suatu persoalan yang pelik dan belum lagi terpikirkan bagaimana cara pemecahannya.
Pernah ada kisah tentang pasien yaitu seorang nenek tua yang semua jari-jari tangannya selalu dalam keadaan mencengkeram kaku dan tidak kunjung tersembuhkan. Lewat konseling yang intensif diketahui bahwa nenek itu sangat membenci menantunya dan menganggap dia itu ingin merebut semua hartanya. Ia sama sekali tidak rela hartanya jatuh ke tangan menantunya itu. Kebencian itu telah merasuk jauh ke dalam hatinya. Kemudian nenek itu secara perlahan dapat diyakinkan tentang pentingnya nilai pengampunan serta nilai keterbukaan untuk dapat menerima manusia lain sebagaimana adanya. Juga nilai kepasrahan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan sesuai agama yang iyakininya. Akhirnya, quasi carpal syndrome itu sembuh dengan sendirinya dan nenek itu menjadi seorang penderma yang sangat murah hati dan selanjutnya memiliki muka yang enuh senyum.
Dalam wawancara singkat antara dokter dengan pasien di ruang praktek tidak mungkin seorang dokter melalui tanya jawab biasa untuk menemukan akar masalah kejiwaan dan kerohanian yang mendalam seperti itu yang menjadi akar masalah penyakitnya. Justru Dalam hal seperti ini dan dalam waktu sesingkat itulah Komunikasi Empati dapat sangat bermanfaat bagi para dokter untuk menggali sedalam-dalamnya semua informasi yang dibutuhkan dari memori para pasiennya.
Tiga hal yang patut dipertimbangkan ialah:
1. Pemberian pelayanan yang lebih sesuai kepada para pasien. 2. Mengurangi risiko tuntutan mal-praktek karena kesalahan diagnose. 3. Meningkatkan kepuasan batin bagi kedua belah pihak.


Pembelajaran Komunikasi Empati
Masalahnya kini ialah apakah ketrampilan – kalau belum dapat disebut bagian dari pada ilmu pengetahuan resmi Komunikasi Empati itu dapat dipelajari secara klasikal ? Tentu saja ketrampilan Komunikasi Empati ini dapat dipelajari oleh semua orang karena pada dasarnya semua orang telah mempraktekkannya secara tidak sadar sejak masa kecilnya.
Bagaimana seorang bayi dan balita berkomunikasi dengan ibunya padahal ia belum menguasai bahasa apapun kecuali bahasa isyarat dan yang terpenting kemampuan untuk membaca dan menginterpretasi “bahasa air muka ibunya”. Bagaimana pula seorang bayi mampu mendeteksi kehadiran “orang yang jahat” di sekitarnya yang dapat membahayakan nyawa diri dan ibunya dan memberikan “early warning” lewat para-bahasa satu-satunya yang dikenalnya yaitu dengan cara menangis sekeras-kerasnya? Bayi memiliki “kecerdasan intuitif” yang berada pada domain otak hemisfir kanan sementara kecerdasan analitis dari otak kirinya sama sekali masih belum berkembang.
Dengan masuknya anak-anak pasca-balita ke dalam sistem pendidikan formal - yang secara berat sebelah sangat menekankan pentingnya “kecerdasan intelektual”, maka kemampuan “kecerdasan intuitif” anak semakin ditekan dan dianggap “kurang ilmiah” itupun hanya karena belum dapat dijelaskan secara memadai oleh dunia ilmu pengetahuan. Bersamaan dengan itu terdapat gejala umum fakta menciutnya kelenjar pineal pada otak anak sehingga “kecerdasan spiritual”-nya juga secara bertahap mulai menghilang. Ia tidak dapat lagi “melihat” kawan-kawannya yang nir-wujud yang selama ini dapat diajaknya “berbicara dan bermain-main” di mana oleh dan dalam dunia orang dewasa kemampuan “indra keenam” yang nyata itu hanya dianggap sebagai suatu bentuk halusinasi, atau secara umum sebagai daya khayal dan imaginasi anak-anak belaka.
Komunikasi Empati melatih kembali orang dewasa untuk memanfaatkan “kecerdasan intuitive”nya untuk dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan dalam berbagai bidang profesinya masing-masing di mana selalu terdapat kebutuhan akan suatu komunikasi interpersonal dengan orang lain.
Sukarkah Mempelajari Komunikasi Empati?
Melatih ketrampilan Komunikasi Empati itu dapat dikatakan mudah tetapi sekaligus dapat Juga dikatakan rumit. Intinya, komunikasi Empati tidak dapat dipelajari seperti mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan eksakta atau humaniora lainnya yang menekankan dominansi fungsi “kecerdasan intelektual”. Dikatakan mudah karena ketrampilan ini lebih mudah dipelajari oleh anak-anak karena mereka memiliki semangat avonturir, spontanitas, sikap relaks, sikap berani salah dan berani malu, karena di sini tidak diperlukan ketajaman otak untuk menganalisis dan mengajukan bermacam-macam pertanyaan yang rumit. “Mengapa begini?” “Apa dasar metodiknya?” “Bagaimana validitas jawabannya?” “Bagaimana Proses terjadinya?” “Apakah hasilnya standar dan terukur?” “Apakah prosesnya repeatable dan hasilnya homogen? Semua pertanyaan tersebut timbul dari disiplin ilmu yang mengandalkan “kecerdasan intelektual”.
Selama para peminat tidak mampu melakukan “switching” dominansi otaknya dari hemisfir kiri ke hemisfir kanan, maka ia selalu akan gagal mempraktekkan Komunikasi Empati. Just that simple ! Pertanyaan selanjutnya kemudian ialah: Bagaimana caranya melakukan aktivasi dominansi otak hemisfir kanan supaya “intuitive intelligence” seseorang dapat mulai beroperasi? Tekniknya tidak akan dibahas dalam session ini namun pada dasarnya ialah dengan cara melakuklan apa yang dinamakan “proses de-konsentrasi” secukupnya selama beberapa menit.
James T. Hardee MD. memberikan beberapa petunjuk untuk meningkatkan empati dokter kepada para pasien. Dalam Komunikasi Empati hal-hal itu dapat diperhatikan dan tentu akan sangat bermanfaat namun bukan merupakan syarat bagi keberhasilannya.
Langkah-langkah kunci yang disarankannya mencakup hal-hal seperti:
1. Mengakui adanya perasaan-perasaan kuat dalam situasi klinis bagi pasien seperti rasa takut, marah terpendam, kesedihan, kekecewaan dsb.
2. Berhenti sejenak dan embayangkan apa yang sedang diraskan oleh pasien yang bersangkutan.3. Mengekspresikan persepsi doktervtentang perasaan pasien tersebut (Misalnya, “Saya dapat membayangkan bahwa anda...” atau “sepertinya anda merasa kesal tentang ...”) 4. Melegitimasi perasaan-perasaan tersebut.
5. Menghargai usaha-usaha pasien untuk bekerjasama.dalam proses pengobatan.
6. Menawarkan suatu dukungan atau kerjasama (Misalnya: “Saya janji untuk memberikan kerjasama yang sebaik-baiknya...” atau ‘Mari kita lihat apa yang dapat kita lakukan bersama untuk mengatasi hal ini ...”) [6]
Kesimpulan Dan Penutup
Komunikasi Empati dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, efektif dan efisien serta tidak kentara sebagai alat komunikasi antara dokter dengan pasien dalam suatu wawancara medis maupun sepanjang masa pengobatan.

Pendahuluan
Dua kata terlibat dalam topik kita di sini. Yaitu kata Komunikasi dan Empati.
Komunikasi ialah penyampaian atau pertukaran pikiran, pesan, atau informasi seperti melalui pembicaraan, tulisan ataupun perilaku antara dua atau lebih manusia. Komunikasi dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan atau proses memberikan dan menggali informasi dari orang lain atau mahluk hidup lain dengan memakai sinyal-sinyal seperti pembicaraan, gerakan dan isyarat tubuh atau sinyal-sinyal suara [1]. Atau, komunikasi adalah “suatu tindakan di mana seseorang memberikan atau menerima dari orang lain informasi tentang kebutuhan, keinginan, persepsi, pengetahuan atau kondisi afektif. Komunikasi dapat bersifat sengaja maupun tidak disengaja, dapat menyangkut sinyal-sinyal kovensional maupun tidak konvensional, dan dapat terjadi lewat modus lisan maupun lain-lainnya”.[2]
Empati adalah “suatu kualitas atau proses memasuki secara penuh melalui imaginasi ke dalam perasaan-perasaan atau motif-motif orang lain”. [3]
Istilah empati diperkenalkan pertama kalinya oleh seorang psikolog Jerman bernama Theodore Lipps, sekitar tahun 1880-an dalam istilah “einfuhlung” atau ‘in-feeling” yang menjabarkan apresiasi emosional terhadap perasaan-perasaan orang lain.[4]
Maka Komunikasi Empati ialah pengetahuan tentang cara-cara untuk memperoleh atau menyerap informasi dari orang lain tentang kebutuhan, keinginan, pemahaman, pengetahuan, dan kondisi afektif yang tersimpan dalam “memori kolektif” dari orang tersebut baik secara disengaja maupun tidak, baik yang mencakup simbol-simbol yang telah disepakati maupun belum, baik dalam bentuk bahasa biasa maupun para-bahasa [5], dan yang mungkin terjadi melalui sarana wacana vokal maupun sarana lain-lainnya yang bersifat non-vokal.
Manfaat Komunikasi Empati Dalam Bidang Medis
Apakah Komunikasi Empati mempunyai sesuatu manfaat bagi dunia kedokteran? Dalam setiap hubungan interpersonal terjadilah komunikasi. Ada corak komunikasi yang efektif tetapi ada pula komunikasi yang sama sekali tidak produktif apalagi kondusif. Di masa lampau – atau mungkin sebagian masih berlaku sampai sekarang juga - ilmu pengobatan allopatik dalam penanganan suatu kasus penyakit terdapat pola pikir “Find it and fix it.” Yaitu pada tahap prognosis mengamati simtom-simtomnya dan kemudian memikirkan metode penanganannya. Secara keseluruhan agak mirip dengan pekerjaan seorang montir elektronik. Padahal yang dihadapi para dokter ialah manusia yang memiliki tiga matra dalam jatidirinya yaitu matra fisik, kejiwaan dan spiritual.
Untuk penanganan penyakit-penyakit yang jelas-jelas bersifat fisikal tentunya tidak memerlukan Komunikasi Empati. Kalau kaki pasien patah yang diperlukan pertama-tama ialah selembar foto rontgen dan kemudian diperlukan bilah supaya kaki itu dapat disalut gipsum.
Untuk mules-mules saja sudah diperlukan informasi tambahan tentang kondisi psikologis pasien. Mungkin saja benar hal itu hanya akibat kontaminasi bakteri E. Coli biasa atau gejala flatulensi biasa akibat ekskresi getah lambung berlebihan karena kerap makan terlambat. Tetapi mungkin saja ada sebab kejiwaan, misalnya karena stress menghadapi suatu persoalan yang pelik dan belum lagi terpikirkan bagaimana cara pemecahannya.
Pernah ada kisah tentang pasien yaitu seorang nenek tua yang semua jari-jari tangannya selalu dalam keadaan mencengkeram kaku dan tidak kunjung tersembuhkan. Lewat konseling yang intensif diketahui bahwa nenek itu sangat membenci menantunya dan menganggap dia itu ingin merebut semua hartanya. Ia sama sekali tidak rela hartanya jatuh ke tangan menantunya itu. Kebencian itu telah merasuk jauh ke dalam hatinya. Kemudian nenek itu secara perlahan dapat diyakinkan tentang pentingnya nilai pengampunan serta nilai keterbukaan untuk dapat menerima manusia lain sebagaimana adanya. Juga nilai kepasrahan untuk menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan sesuai agama yang diyakininya. Akhirnya, quasi carpal syndrome itu sembuh dengan sendirinya dan nenek itu menjadi seorang penderma yang sangat murah hati dan selanjutnya memiliki muka yang penuh senyum.
Dalam wawancara singkat antara dokter dengan pasien di ruang praktek tidak mungkin seorang dokter melalui tanya jawab biasa untuk menemukan akar masalah kejiwaan dan kerohanian yang mendalam seperti itu yang menjadi akar masalah penyakitnya. Justru dalam hal seperti ini dan dalam waktu sesingkat itulah Komunikasi Empati dapat sangat bermanfaat bagi para dokter untuk menggali sedalam-dalamnya semua informasi yang dibutuhkan dari memori para pasiennya.
Tiga hal yang patut dipertimbangkan ialah:
1. Pemberian pelayanan yang lebih sesuai kepada para pasien. 2. Mengurangi risiko tuntutan mal-praktek karena kesalahan diagnose. 3. Meningkatkan kepuasan batin bagi kedua belah pihak.
Pembelajaran Komunikasi Empati
Masalahnya kini ialah apakah ketrampilan – kalau belum dapat disebut bagian dari pada ilmu pengetahuan resmi – Komunikasi Empati itu dapat dipelajari secara klasikal? Tentu saja ketrampilan Komunikasi Empati ini dapat dipelajari oleh semua orang karena pada dasarnya semua orang telah mempraktekkannya secara tidak sadar sejak masa kecilnya.
Bagaimana seorang bayi dan balita berkomunikasi dengan ibunya padahal ia belum menguasai bahasa apapun kecuali bahasa isyarat dan yang terpenting kemampuan untuk membaca dan menginterpretasi “bahasa air muka ibunya”. Bagaimana pula seorang bayi mampu mendeteksi kehadiran “orang yang jahat” di sekitarnya yang dapat membahayakan nyawa diri dan ibunya dan memberikan “early warning” lewat para-bahasa satu-satunya yang dikenalnya yaitu dengan cara menangis sekeras-kerasnya? Bayi memiliki “kecerdasan intuitif” yang berada pada domain otak hemisfir kanan sementara kecerdasan analitis dari otak kirinya sama sekali masih belum berkembang.
Dengan masuknya anak-anak pasca-balita ke dalam sistem pendidikan formal - yang secara berat sebelah sangat menekankan pentingnya “kecerdasan intelektual”, maka kemampuan “kecerdasan intuitif” anak semakin ditekan dan dianggap “kurang ilmiah” – itupun hanya karena belum dapat dijelaskan secara memadai oleh dunia ilmu pengetahuan. Bersamaan dengan itu terdapat gejala umum fakta menciutnya kelenjar pineal pada otak anak sehingga “kecerdasan spiritual”-nya juga secara bertahap mulai menghilang. Ia tidak dapat lagi “melihat” kawan-kawannya yang nir-wujud yang selama ini dapat diajaknya “berbicara dan bermain-main” di mana oleh dan dalam dunia orang dewasa kemampuan “indra keenam” yang nyata itu hanya dianggap sebagai suatu bentuk halusinasi, atau secara umum sebagai daya khayal dan imaginasi anak-anak belaka.
Komunikasi Empati melatih kembali orang dewasa untuk memanfaatkan “kecerdasan intuitive”nya untuk dimanfaatkan secara optimal bagi kepentingan dalam berbagai bidang profesinya masing-masing di mana selalu terdapat kebutuhan akan suatu komunikasi interpersonal dengan orang lain.
Sukarkah Mempelajari Komunikasi Empati?
Melatih ketrampilan Komunikasi Empati itu dapat dikatakan mudah tetapi sekaligus dapat juga dikatakan rumit. Intinya, komunikasi Empati tidak dapat dipelajari seperti mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan eksakta atau humaniora lainnya yang menekankan dominansi fungsi “kecerdasan intelektual”. Dikatakan mudah karena ketrampilan ini lebih mudah dipelajari oleh anak-anak karena mereka memiliki semangat avonturir, spontanitas, sikap relaks, sikap berani salah dan berani malu, karena di sini tidak diperlukan ketajaman otak untuk menganalisis dan mengajukan bermacam-macam pertanyaan yang rumit. “Mengapa begini?” “Apa dasar metodiknya?” “Bagaimana validitas jawabannya?” “Bagaimana proses terjadinya?” “Apakah hasilnya standar dan terukur?” “Apakah prosesnya repeatable dan hasilnya homogen? Semua pertanyaan tersebut timbul dari disiplin ilmu yang mengandalkan “kecerdasan intelektual”.
Selama para peminat tidak mampu melakukan “switching” dominansi otaknya dari hemisfir kiri ke hemisfir kanan, maka ia selalu akan gagal mempraktekkan Komunikasi Empati. Just that simple ! Pertanyaan selanjutnya kemudian ialah: Bagaimana caranya melakukan aktivasi dominansi otak hemisfir kanan supaya “intuitive intelligence” seseorang dapat mulai beroperasi? Tekniknya tidak akan dibahas dalam session ini namun pada dasarnya ialah dengan cara melakuklan apa yang dinamakan “proses de-konsentrasi” secukupnya selama beberapa menit.
James T. Hardee MD. memberikan beberapa petunjuk untuk meningkatkan empati dokter kepada para pasien. Dalam Komunikasi Empati hal-hal itu dapat diperhatikan dan tentu akan sangat bermanfaat namun bukan merupakan syarat bagi keberhasilannya.
Langkah-langkah kunci yang disarankannya mencakup hal-hal seperti: 1. Mengakui adanya perasaan-perasaan kuat dalam situasi klinis bagi pasien seperti rasa takut, marah terpendam, kesedihan, kekecewaan dsb. 2. Berhenti sejenak dan membayangkan apa yang sedang diraskan oleh pasien yang bersangkutan. 3. Mengekspresikan persepsi doktervtentang perasaan pasien tersebut (Misalnya, “Saya dapat membayangkan bahwa anda...” atau “sepertinya anda merasa kesal tentang ...”) 4. Melegitimasi perasaan-perasaan tersebut. 5. Menghargai usaha-usaha pasien untuk bekerjasama dalam proses pengobatan. 6. Menawarkan suatu dukungan atau kerjasama (Misalnya: “Saya janji untuk memberikan kerjasama yang sebaik-baiknya...” atau ‘Mari kita lihat apa yang dapat kita lakukan bersama untuk mengatasi hal ini ...”) [6]
Kesimpulan Dan Penutup
Komunikasi Empati dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, efektif dan efisien serta tidak kentara sebagai alat komunikasi antara dokter dengan pasien dalam suatu wawancara medis maupun sepanjang masa pengobatan.
Komunikasi Empati melampaui semua hal-hal yang mungkin dijangkau oleh wawancara biasa karena sistem ini dapat mendalami aspek nilai-nilai, pendapat pribadi, motivasi, kondisi kejiwaan serta perasaan-perasaan pasien yang mungkin segan atau tidak mungkin diungkapkannya secara sadar dan terbuka kepada dokternya.
Hasil-hasil dan manfaat nyata dari pada Komunikasi Empati dapat dinikmati secara bersama baik oleh pihak dokter maupun para pasien mereka. Dan apabila hal tersebut berlangsung pada suatu Rumah Sakit tertentu maka akan dapat mendatangkan manfaat sampingan juga bagi nama baik dan keuntungan nyata bagi Rumah Sakit yang bersangkutan.
Dengan demikian pasien bukan lagi hanya sekedar nomor urut senata-mata, atau suatu obyek ekonomi, melainkan adalah manusia seutuhnya yang sedang menghadapi masalah gangguan kesehatan tetapi yang dapat dipahami secara lebih menyeluruh dan dapat diperlakukan secara lebih manusiawi.
Perawat bahagia
muncul 1x

0 komentar:

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: