KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asuhan Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2010

PLASENTA PREVIA PARSIAL

PLASENTA PREVIA PARSIAL:
1. Pengertian
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi di sekitar segmen bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum.
(Dikutip dari : Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal.2005.Jakarta)

Secara klinis ada empat derajat abnormalitas plasenta yang diketahui, yaitu :
a. Plasenta previa totalis adalah plasenta menutupi seluruh osteum uteri internum.
b. Plasenta previa parsialis adalah osteum uteri internum tertutup sebagian oleh jaringan plasenta.
c. Plasenta previa marginalis adalah tepi plasenta berada disekitar pinggir osteum uteri internum.
d. Plasenta letak rendah adalah plasenta tertanam dalam segmen bawah uterus sehingga tepi plasenta sebenarnya tidak mencapai osteum uteri internum tetapi terletak sangat berdekatan dengan osteum tersebut.
(Dikutip dari : Buku Obstetri Williams edisi 18)
2. Etilologi
Implantasi plasenta di segmen bawah rahim dapat disebabkan oleh :
a. Endometrium difundus uteri belum siap menerima implantasi
b. Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi ke janin.
c. Vili korealis pada khoiron leave yang persisten
Mengapa plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat diterangkan. Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang, atau perubahan atrofi padaa desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, tidaklah selalu benar, karena tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa di dapati untuk sebagian besar pada penderita dengan paritas tinggi.
Menurut Singh, dkk (1981), misalnya menemukan plasenta previa pada 3,9% wanita yang pernah mengalami persalinan sesarea bila dibandingkan dengan angka 1,9% untuk keseluruhan populasi obstetrik. Faktor lainnya adalah plasenta yang besar sehingga membentang dan meliputi daerah uterus yang luas sebagaimana terlihat pada eritoblastosis fetalis dan pada janin yang lebih dari satu.
(Dikutip dari buku Obstetri Williams edisi 18)
Kloosterman di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (1973), mengatakan frekuensi plasenta previa pada primigravida yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang dari 25 tahun, pada grande multipara yang berumur lebih dari 35 tahun kira-kira empat kali lebih sering dibandingkan dengan grande multipara yang berumur kurang dari 25 tahun.
(Dikutip dari buku Ilmu Kebidanan edisi 3)

3. Gejala dan Tanda
Gejala utama dan pertama dari plasenta previa adalah perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri, dan biasa terjadi pada kehamilan usia sekitar 28 minggu atau mendekati akhir trimester kedua atau sesudahnya. Perdarahan ini biasanya terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat faal. Akan tetapi, perdarahan berikutnya hampir-hampir selalu lebih banyak daripada sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
Darahnya berwarna merah segar, berlainan dengan darah yang disebabkan oleh solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitamaan. Sumber perdarahannya ada sinus uterus yang terobek karana terlepasnya plasenta dari dinding uterus.
(Dikutip dari buku Obstetri Williams edisi 18)



4. Penatalaksanaan
Plasenta dengan plasenra previa dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok, yaitu :
1. Kelompok dengan janin prematur tetapi tidak terdapat kebutuhan yang mendesak untuk melahirkan janin tersebut.
2. Kelompok dengan janin dalam waktu 3 minggu menjelang aterm
3. Kelompok yang berada dalam proses persalinan
4. Kelompok dengan perdarahan yang begitu hebat sehingga uterus harus dikosongkan meskipun janin masih imatur.
Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi plasenta previa dan janin prematur tetapi tahap perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnya bagi ibu maupun bayinya. Pada penundaan persalinan, salah satu keuntungan yang kadang kala dapat diperoleh meskipun relatif terjadi kemudian dalam kehamilan adalah migrasi. Plasenta yang cukup jauh dari serviks, sehingga plasenta previa tidak lagi menjadi permasalahan utama. Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu persalinan sesarea dan pervaginam. Logika untuk melahirkan lewat bedah sesarea ada dua :
1. Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinkan uterus untuk berkontraksi sehingga perdarahan berhenti.
2. Persalinan sesarea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang merupakan komplikasi serius persalinan pervaginam pada plasenta previa totalis serta parsialis.
Logika untuk melahirkan pervaginam adalah dengan harapan cara ini dapat menekan plasenta yang lepas pada tempat implantasi yang mengalami perdarahan selama persalinan dan dengan demikian menjadi tampan yang cukup baik bagi pembuluh darah yan ruptur sehingga perdarahan hebat bisa dicegah.
Ada empat metode kompresi atau penamponan untuk persalinan pervaginam, meskipun hanya pemecahan ketuban secara sederhana pada kasus plasenta previa parsialis yang kini digunakan secara luas.
"
lihat artikel selengkapnya - PLASENTA PREVIA PARSIAL

Ketuban Pecah Dini (KPD)

Ketuban Pecah Dini (KPD)

Pengertian

Ketuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu sejak pecah ketuban sampai terjadi kontraksi rahim disebut “kejadian ketuban pecah dini” (periode laten).


Etiologi

Penyebab ketuban pecah dini (KPD) mempunyai dimensi multifaktorial yang dapat dijabarkan sebagai berikut :
  • Serviks inkopeten
  • Ketegangan rahim berlebihan; kehamilan ganda, hidramnion
  • Kelainan letak janin dalam rahim, letak sunsang, letang lintang
  • Kemungkinan kesempitan panggul : perut gantung, bagian terendah belum masuk PAP, sepalopelvik disproforsi
  • Kelainan bawaan dari selaput ketuban
  • Infeksi yang menyebabkan terjadi proses biomekanik pada selaput ketuban dalam bentuk proteolitik sehingga menyebabkan ketuban pecah.

Patofisiologi

Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat berlangsung sebagai berikut :
  • Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan vaskularisasi.
  • Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban.

Penatalaksanaan
  1. Konservatif
    • Rawat rumah sakit dengan tirah baring.
    • Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin.
    • Umur kehamilan kurang 37 minggu.
    • Antibiotik profilaksis dengan amoksisilin 3 x 500 mg selama 5 hari.
    • Memberikan tokolitik bila ada kontraksi uterus dan memberikan kortikosteroid untuk mematangkan fungsi paru janin.
    • Jangan melakukan periksan dalam vagina kecuali ada tanda-tanda persalinan.
    • Melakukan terminasi kehamilan bila ada tanda-tanda infeksi atau gawat janin.
    • Bila dalam 3 x 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada kontraksi uterus maka lakukan mobilisasi bertahap. Apabila pelepasan air berlangsung terus, lakukan terminasi kehamilan.

  2. Aktif
    Bila didapatkan infeksi berat maka berikan antibiotik dosis tinggi. Bila ditemukan tanda-tanda inpartu, infeksi dan gawat janin maka lakukan terminasi kehamilan.
    • Induksi atau akselerasi persalinan.
    • Lakukan seksiosesaria bila induksi atau akselerasi persalinan mengalami kegagalan.
    • Lakukan seksio histerektomi bila tanda-tanda infeksi uterus berat ditemukan.

Daftar Pustaka

Dr. Santosa NI, SKM (1990), “ Perawatan Kebidanan yang Berorientasi Pada Keluarga (Perawatan II) “, Jakarta : Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Asrining Surasmi, Siti Handayani, Heni Nur Kusuma, (2002), “Perawatan Bayi Risiko Tinggi”, Jakarta : EGC.

Prof. Dr. Abdul Bari Saifudin, SPOG, MPHD ( 2002 ), “ Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Material & Neonatal “, : Jakarta : EGC.

Marilyn E. Doengoes, Mary Frances Mooorhouse (2001), “Rencana Perawatan Maternal/Bayi “, Jakarta : EGC.

Prof. dr. Ida Bagus Gde Manuaba, SpOG (1998), “Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”, Jakarta : EGC
"
lihat artikel selengkapnya - Ketuban Pecah Dini (KPD)

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

I. PENGUMPULAN DATA
Tanggal: 8 Desember 2007 Pukul: 10.00 WIB
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama Istri : Ny Sugianto Nama Suami : Tn. Joko
Umur : 25 Tahun Umur : 30 Tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Jangli IV Semarang Alamat : Jl. Jangli IV Semarang
2. Keluhan Utama
Ibu mengatakan hamil anak pertama usia kehamilan 3 bulan datang untuk memeriksakan kehamilannya, ibu mengeluh nyeri perut bagian bawah dengan mengeluarkan darah sedikit (flek) pada celana

3. Riwayat Hidup
Menarche : 13 tahun
Siklus : kurang lebih 28 hari
Banyaknya : 2 x ganti pembalut
Lamanya : 5-7 hari
Sifat darah : encer bercampur gumpalan
HPHT : 22 September 2008
TP : 29 Januari 2009


4. Riwayat Perkawinan
Ibu menikah I kali, status perkawinan syah sebagai istri pertama, usia perkawinan 1 tahun, usia saat pernikahan 24 tahun. Ibu mengatakan pernikahannya cukup bahagia dan dalam keluarga tidak mengalami masalah.
5. Riwayat hamil bersalin dan nifas yang lalu
Ibu hamil anak pertama
6. Riwayat kehamilan sekarang
a. Tanda-tanda kehamilan (trimester I)
PP tes 20 Oktober : hasil positif
b. Pergerakan fetus belum dirasakan
c. Keluhan yang di rasakan
Mual dan muntah : ya
Nyeri perut : ya
Sakit kepala : tidak ada keluhan
Penglihatan : tidak ada keluhan
Rasa nyeri atau panas waktu BAK : tidak ada keluhan
Rasa gatal panas vagina dan sekitarnya : tidak ada keluhan
Pengeluaran pervaginam : ibu mengatakan darah sedikit pada vagina
Oedema : tidak ada oedema
7. Riwayat kesehatan ibu dan keluarga
a. Kesehatan ibu
Ibu tidak pernah di rawat di RS, penyakit keturunan tidak ada, penyakit menular tidak ada, dan penyakit menahun tidak ada.
b. Kesehatan keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang menular dan penyakit menular dan penyakit keturunan.


8. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
1) Sebelum hamil : makan 2 x sehari dengan porsi nasi sedikit dan lauk yang sedikit, tidak di sertai dengan buah-buahan dan jarang mengkonsumsi sayuran, tidak minum susu, ibu minum kurang lebih 7-8 gelas/hari.
2) Saat hamil : ibu makan 2 x sehari, porsi nasi sedikit dan sayuran yang kurang, lauk kadang mau kadang tidak, minum susu tidak setiap hari dan buah-buahan yang kurang. Ibu minum kurang lebih 7-8 gelas/hari
b. Eliminasi
1) Sebelum hamil : BAB : 1-2 x/hari BAK : 5-6 x/hari
2) Saat hamil : BAB : 1 x/hari BAK : 10-11x/hari
c. Istirahat
1) Sebelum hamil : ibu tidur malam kurang lebih 7-8 jam / hari, tidur siang 1-2 jam/hari
2) Saat hamil : tidur malam 6 jam / hari , tidur siang 1-2 jam/hari
d. Personal hygiene
Sebelum hamil dan saat hamil ibu mandi 2x/hari, ganti pakaian 2x/hari
e. Aktivitas atau olah raga
Ibu hanya mengerjakan aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga, ibu sering jalan-jalan pagi
f. Seksualitas dan kontrasepsi
Seksualitas antara ibu dan suami sedikit terganggu, sebelum hamil, ibu belum pernah menggunakan alat kontrasepsi
g. Imunisasi
Ibu mengatakan belum pernah mendapatkan imunisasi TT
B. Pemeriksaan
1. Keadaan umum
a. Keadaan umum : Baik
b. Tanda-tanda vital
TD : 110/90 mmHg RR : 20 x/menit
Nadi : 80 x/menit Temp : 370C
c. BB sebelum hamil : 43 kg
BB saat hamil : 45 kg
Kenaikan BB : 2 kg
d. Tinggi badan : 157 cm
e. LILA : 21 cm
2. Pemeriksaan fisik
1) Rambut : keriting, tidak ada ketombe, dan tidak mudah rontok, keadaan bersih
2) Mata : kelopak mata: simetris, tidak ada oedema.
3) Konjungtiva : pucat sklera: tidak ikterus
4) Hidung : bentuk simetris, keadaan bersih, tidak ada polip, fungsi penciuman normal
5) Mulut dan gigi: lidah tidak terdapat stomatitis, gigi tidak ada lubang dan caries
6) Telinga : keadaan bersih, bentuk simetris, tidak ada kotoran dan pendengaran baik
7) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
8) Dada : bentuk payudara simetris, nafas teratur, tidak ada benjolan abnormal
9) Payudara : membesar simetris, puting susu menonjol, colostrum belum keluar.
10) Abdomen : tidak ada bekas luka operasi, perut bagian bawah sedikit menggembung dan nyeri tekan
a) Palpasi : Leopold I : TFU 20 cm
: Leopold II : tidak di lakukan
: Leopold III : tidak di lakukan
b) TBJ : TFU – 12 x 155
: 20 – 12 x 155
: 1240 gr
c) Auskultasi : tidak terdengar denyut jantung janin
11) Punggung : keadaan lordosis, michealis simetris
12) Genetalia : dilakukan pemeriksaan genetalia eksterna menggunakan spekulum terlihat adanya darah di kavum douglas dan terdapat sedikit pengeluaran darah atau flek-flek hitam ke coklatan
13) Ekstremitas
Atas : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit turgor kulit baik, dapat digerakan dengan baik, tidak ada kecacatan.
Bawah : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik
3. Pemeriksaan laboratorium
HB : 9 gr%
Protein uterus : tidak dilakukan
USG : tidak terlihat kerangka janin dan ditemukan kantung gestasi yang terdapat di lumen tuba.
PP tes : hasil positif
4. Pemerikasaan panggul luar
Distantia cristarum : 27 cm
Distantia spinarum : 26 cm
Konjungtiva external : 20 cm
Lingkar panggul : 89 cm



II. INTERPRESTASI DATA DASAR
1. Diagnosa
Ibu G1 P0 A0 12 minggu dengan KET
Dasar : ibu mengatakan hamil anak pertama
HPHT : 22 September 2007
TP : 29 Juni 2008
a. Palpasi : tidak teraba adanya balotemen perut bagian bawah sedikit mengembung dan tegang.
b. Auskultasi : tidak terdengar denyut jantung janin
c. Pembesaran uterus
d. Ibu mengatakan nyeri perut bagian bawah
e. Ibu mengatakan terjadi perdarahan sedikit
f. Hasil pemeriksaan kuldosintesis, terdapat pengeluaran darah
g. Kadar hemoglobin turun hingga 9 gr% karena perdarahan yang banyak di rongga perut
h. Adanya amenorea : amenorea sering ditemukan walaupun hanya pendek saja sebelum di ikuti oleh perdarahan
2. Masalah
a. Gangguan pemenuhan cairan dan nutrisi
Dasar : Ibu terlihat tampak lemah
: Ibu terlihat tampak pucat
: Ibu kurang dan makan dan minum atau tidak nafsu
b. Gangguan Psikologi
Dasar : Ibu mengatakan takut dan cemas dengan kehamilannya
c. Keterbatasan beraktivitas
Dasar : Ibu mengatakan cepat lemah bila beraktivitas
: Ibu mengeluh dengan keluarnya darah
: Ibu mengeluh dengan adanya pegal-pegal

d. Kahamilan yang lemah
Dasar : Ibu mengalami perdarahan di perut bagian bawah
Ibu mengalami pengeluaran darah sedikit-sedikit tapi berlangsung continues
3. Kebutuhan
a. Pemenuhan cairan dan nutrisi
Dasar : Ibu tampak lemas dan pucat
Ibu tidak nafsu makan
b. Memberikan dukungan
Dasar : ibu tampak cemas dan takut dengan kehamilannya
c. Pemberian bedres total
Dasar : ibu sulit beraktivitas dan terus mengeluarkan darah dari vagina
d. Segera lakukan tindakan laparatomi
Dasar : pada kehamilannya ibu kehilangan banyak darah karena mengalami perdarahan di rongga perut.

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
a. Abortus iminens : terjadi perdarahan bercak yang menunjukan ancaman terhadap kelangsungan suatu kehamilan
b. Abortus inkomplit : perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah di luar kavum uteri melalui kanalis servikalis
c. Rupture tuba : robekan yang terjadi pada tuba

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TERHADAP TINDAKAN
Rujuk dengan kolaborasi dokter.




V. RENCANA
1. Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini
a. Menjelaskan kondisi ibu
b. Jelaskan tentang kehamilan ibu saat ini
c. Melibatkan keluarga dalam memberikan dukungan
2. Berikan konseling pada ibu saat ini
a. Anjurkan ibu untuk segera rujuk
b. Beritahu ibu bahwa akan dilakukan tindakan laparatomi
3. Anjurkan ibu untuk istirahat
a. Beritahu ibu untuk istirahat cukup
b. Beritahu ibu untuk makan secara rutin
4. Anjurkan ibu untuk memenuhi kebutuhan gizi
a. Memberitahu ibu untuk makan-makanan yang bergizi
b. Memberitahu ibu untuk makan secara rutin
5. Berikan konseling untuk pasca tindakan
a. Kelanjutan fungsi produksi
b. Resiko hamil ektopik ulangan
c. Kontrasepsi yang sesuai

VI. PELAKSANAAN
1. a. Menjelaskan pada dan keluarga tentang kondisi ibu saat ini, bahwa ketika dilakukan pemeriksaan Leopold uterus teraba bulat lebar tetapi tidak teraba balotemen. Tinggi fundus 20 cm kemudian pada saat USG ternyata kehamilan berimplantasi dan tumbuh di luar rahim yaitu di tuba.
b. Jelaskan pada ibu bahwa kehamilan ibu ini adalah kehamilan di luar rahim, janin tumbuh di tuba kehamilan ini biasanya tidak bertahan berakhir dengan abortus.
c. Anjurkan untuk keluarga, agar selalu memberi dukungan pada kehamilan ibu
2. a. Ibu segera memeriksakan kehamilannya lebih lanjut ke dokter spesialis kandungan agar ibu dan keluarga lebih jelas dengan tindakan lebih lanjut untuk kehamilannya
b. Beritahu ibu tentang tindakan laparatomi yaitu pembedahan di bagian perut dan segera lakukan tindakan laparatomi di rumah sakit oleh dokter untuk menghilangkan sumber perdarahan.
3. Menganjurkan ibu untuk istirahat
a. Istirahat tidur 8-9 jam / hari
b. Melarang ibu untuk melakukan aktivitas yang berat karena dapat terjadi perdarahan yang berat.
4. a. Jelaskan pada ibu tentang makan-makanan yang banyak mengandung gizi yaitu makanan yang mengandung protein, vitamin, karbohidrat, lemak, mineral. Misalnya makanan sehari-hari; nasi, sayur, buah-buahan. Sayur misalnya; wortel, tomat, bayam, katu. Lauk misal; tempe, tahu, telur, hati, daging. Buah misalnya; jeruk, apel, melon, pepaya, dan di tambah minum susu.
b. Beritahu ibu agar makan teratur 3x sehari, dan minum 7-8 gelas / hari
5. a. Jelaskan pada ibu tentang kelanjutan fungsi reproduksinya kelenjar fungsi reproduksi ibu hanya 60% dari wanita yang pernah dapat KET menjadi hamil lagi, walaupun angka kemandulannya akan jadi lebih tinggi.
b. Menjelaskan pada ibu tentang resiko kehamilan yang berulang itu dilaporkan berkisar antara 0-14,6% kemungkinan melahirkan bayi cukup bulan adalah 50%
c. Memberitahu tentang kontrasepsi yang baik digunakan yaitu dengan menggunakan kondom atau dengan KB kalender.

VII. EVALUASI
a. Ibu mengerti tentang keadaannya saat ini
b. Ibu mengatakan cukup istirahat
c. Melakukan kolaborasi dengan dokter
d. Ibu dilakukan tindakan laparatomi oleh dokter di rumah sakit.
e. Ibu mengatakan nyeri pada perut hilang
f. Ibu mengerti tentang resiko kehamilan ulang
g. Ibu tahu alat kontrasepsi yang baik digunakan
h. Cemas ibu sudah berkurang

"
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN TANDA-TANDA GAWAT JANIN

ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN TANDA-TANDA GAWAT JANIN

TANDA-TANDA GAWAT JANIN
(DENYUT JANTUNG JANIN > 160 X/MENIT)


A. Definisi Takikardi (Menurut Tucker Martin 1997 Pemantauan Janin)
Takikardi adalah denyut jantung dasar di atas 160 dpm, yang bertahan selama 10 menit atau lebih. Takikardi sulit dibedakan dengan akselerasi, yang merupakan perubahan periodik sementara. Bila takikardi janin terjadi umumnya de hubungkan dengan penurunan variabilitas dasar karena hilangnya aktivitas atomic parasimpatik.

B. Penyebab tanda-tanda gawat janin (Menurut Tuckor Martin 1997 Pemantauan janin)
1. Hipoksia awal pada janin
Janin melakukan kompensasi untuk mengurangi aliran darah dengan meningkatkan stimulasi simpatik atau melepaskan epinefrin dari medulla adrenal atau keduanya.
2. Demam pada maternal
Mempercepat metabolisme dari miokardium janin, meningkatkan aktivitas kardia akselerasi simpatik sampai 2 jam sebelum ibu demam.

Demam dalam kehamilan pada maternal menurut WHO 2005
Diagnosis demam dalam kehamilan

Gejala dan tanda selalu ada Gejala dan tanda kadang-kadang ada Diagnosis kemungkinan
1. Disuria
2. Frekuensi kencing meningkat 1. Nyeri supra simfisis
2. Nyeri perut Sistitis
1. Disuria
2. Demam
3. Frekuensi
4. Nyeri abdomen 1. Nyeri Pinggang
2. Nyeri Dada
3. Mual / muntah
4. Anoreksia Pielonefritis akut
1. Cairan vagina berbau pada kehamilan < 22 minggu
2. Demam
3. Uterus nyeri 1. Nyeri abdomen bawah


2. Nyeri lapas
3. Perdarahan, nanah di serviks Abortus septic
1. Demam/menggigil
2. Cairan vagina barbau pada kehamilan > 22 minggu
3. Nyeri abdomen 1. Ketuban pecah
2. Nyeri uterus
3. Djj cepat
4. Perdarahan sedikit Amnionitis
1. Demam
2. Sesak nafas

3. Batuk beriak
4. Nyeri dada 1. Lendir (+)
2. Dada/tenggorokan sakit
3. Sesak
4. Rhonkhi Pneumonia
1. Demam
2. Menggigil
3. Nyeri kepala
4. nyeri otot 1. Limpa membesar Malaria tanpa komplikasi
1. Gejala demam, menggigil, nyeri kepala, nyeri kepala, nyeri otot
2. Koma
3. Anemia 1. Kejang
2. Ikterus Malaria dengan komplikasi
1. Demam
2. Nyeri kepala
3. Batuk kering
4. Lemas
5. Anoreksia
6. Limpa besar 1. Meracau
2. Tidak sadar Tifus
1. Demam
2. Lemah
3. Anoreksia
4. Mual
5. Kencing coklat tua
6. Kuning
7. Hati bengkak 1. Nyeri otot
2. Urtikaria
3. Limpa besar Hepatitis
Keterangan :
Di berikan ampisilin 1 gr per oral 4 kali sehari atau amoksilin 1 gr per oral 3 kali sehari

3. Obat-obatan simpatometik beta (ritodrine dan isoksuprin )
Obat-obatan tokolitik ini, di berikan untuk mengontrol persalinan, mempunyai efek jantung yang mirip seperti efenefrin.
4. Obat-obatan parasimpatolitik (antropin, skopolamin, hidroksizin, fenotiazin).
Menghambat bagian parasimpatik dari sistem syaraf otonom.
5. Hiportiroid
Long lackting tyroid stimulating hormone kemungkinan menembus plasenta dan meningkatkan curah jantung dan perfusi jaringan.

C. Intervensi tanda-tanda gawat janin (menurut Sarwono Prawiroharjo 2002 Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal)

Intervensi tanda-tanda gawat janin tergantung pada faktor penyebab. Demam pada maternal dapat di kurangi dengan antibiotic, hidrasi, dan tindakan pendinginan. Pemberian oksigen 8-12 L / menit dapat membantu. Takikardi dapat menjadi tanda yang berbahaya bila berhubungan dengan deselorasi lambat, deselorasi berubah-ubah yang berat atau tidak adanya variabilitas. Takikardi persiston dengan variabilitas dasar rata-rata atau tidak adanya perubahan periodik, tidak muncul serius pada kondisi bayi baru lahir, hal ini benar bila takikardi dihubungkan dengan maternal yang demam.
Denyut jantung janin lebih dari 160 dpm dalam kehamilan variabilitas dasarnya dan menunjukkan deselerasi lanjut pada kontaksi uterus. Bila Hipoksia menetap glikollsis anaerob menghasilkan asam laktat dengan PH janin yang menurun.
Adapun janin yang beresiko tinggi untuk mengalami gawat janin adalah :
a. Janin yang pertumbuhannya terhambat.
b. Janin dari ibu dengan diabetes matitus.
c. Janin Proterm dan Posterm.
d. Janin dengan kelainan letak.
e. Janian kelainan bawahan atau infeksi.

D. Perencanaan
Data diagnostic tambahan menurut Sarwono Prawiroharjo
Pemantauan denyut jantung janin
Pemantauan denyut jantung janin yang segera dan continue dalam hubungan dengan kontraksi uterus memberikan suatu penilaian\an kesehatan janin yang sangat membantu selama proses persalinan. Akselerasi periodik pada gerakan janin merupakan ketenangan dari reaktivitas janin yang normal. Indikasi-indikasi dari kemungkinan gawat janin:
1. Beradikardia, denyut jantung janin (+) yang kurang dari 120 DPM.
2. Takikardia, akselerasi denyut jantung janin yang memanjang lebih dari 160x/menit. Dapat dihubungkan dengan demam ibu sekunder terhadap infeksi intrauteri. Prematuritas dan atropin juga di hubungkan dengan denyut jantung dasar yang meningkat.
3. Variabililtas denyut jantung dasar yang menurun, yang berarti depresi sistem syaraf anatomi janin untuk medikasi ibu (atropin, skopopamin, diazepam, fenolbarbitas, magnesium dan analgesic naikotik)
4. Pola deselerasi, deselerasi lanjut menunjukkan hipoksia janin yang disebabkan oleh isufisiensi uteroplasma. Deselerasi yang bervariasi tidak berhubungan dengan uterus adalah lebih sering dan muncul untuk menjalankan kompresi sementara waktu saja dari pembuluh darah umbillikus. Peningkatan hipoksia janin adalah deselerasi lanjut, penurunan variabilitas, bradikaria yang menetap dan pola gelombang sinus.

E. Penatalaksanaan
Jika denyut jantung janin diketahui tidak normal, lakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Tergantung faktor penyebab: perubahan posisi lataran dan pemberian O2 8-12 l/menit membantu mengurangi demam pada maternal dengan hidrasi anti piretik dan tindakan pendinginan.
2. Jika sebab dari ibu diketahui (seperti demam, obat-obatan) mulailah penanganan yang sesuai dengan kondisi ibu:
a. Istirahat baring
b. Banyak minum
c. Kompres untuk menurunkan suhu tubuh ibu
3. Jika sebab dari ibu tidak diketahui dan denyut jantung janin tetap abnormal sepanjang paling sedikit 3 kontraksi, lakukan pemeriksaan dalam untuk mencari penyebab gawat janin:
a. Jika terdapat perdarahan dengan nyeri yang hilang timbul atau menetap, pikirkan kemungkinan solusio plasma.
b. Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, sekret vagina berbau tajam) berikan anti biotik untuk amnionitis.
c. Jika tali pusat terletak di bawah janin atau dalam vagina lakukan penanganan prolaps tali pusat.
4. Jika denyut jantung janin tetap abnormal atau jika terdapat tanda-tanda lain gawat janin (mekonium kental pada cairan amnion, rencanakan persalinan).

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL DENGAN
TANDA-TANDAGAWAT JAININ
TERHADAP Ny. “J” DI BPS Ny. MUsni Hendro

I. PENGUMPULAN DATA DASAR
Tanggal 25 Maret 2007 pukul 13.00 WIB
A. Pengkajian
1. Identitas
Nama Istri : Ny Jumiati Nama suami : Tn. Danang
Umur : 28 Tahun Umur : 30 Tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Suku : Jawa Suku : Jawa
Alamat : Jl.Sambiroto IV Semarang Alamat :Jl. Sambiroto IV Semarang
2. Keluhan utama
Ibu datang untuk memeriksakan kandungannya, ibu hamil aterm, mengeluh menderita demam dalam kehamilannya.
3. Riwayat Menstruasi
Menarche : 15 tahun
Siklus : 28 hari
Lamanya : 6-7 hari
Banyaknya : 2 x ganti pembalut
Keluhan : tidak ada
HPHT : 25 Juli 2006
TP : 01 Mei 2007


4. Riwayat Kehamilan
a. Trimester I
ANC : 2 X di bidan
Keluhan : mual, pusing, dan muntah-muntah
Anjuran : banyak istirahat, hindari makanan mengandung minyak dan berbau menyengat
Terapi : B6, B komplek, vocea

Trimester II
ANC : 3 X di bidan
Keluhan : tidak ada
Anjuran : kunjungan ulang makan makanan yang bergizi
Terapi : SF, vitamin C

Trimester III
ANC : 2 X di bidan
Keluhan : pegal-pegal, merasa cepat lelah
Anjuran : banyak istirahat, anjurkan ibu agar rajin melakukan senam hamil
b. Tanda-tanda kehamilan (trimester I)
PP test tanggal 30 Agustus 2006 hasil positif
c. Pergerakan uterus dirasakan pertama kali pada usia kehamilan 16 minggu
d. Keluhan yang dirasakan
Mual dan muntah yang lama : tidak ada
Nyeri perut : tidak ada
Demam : ada
Sakit kepala : tidak ada
Penglihatan kabur : tidak ada
Rasa nyeri : tidak ada
Rasa gatal : tidak ada
Pengeluaran cairan : tidak ada
Oedema : tidak ada
5. Riwayat kehamilan ibu dan keluarga
a. Data kesehatan ibu
Ibu tidak pernah dirawat di rumah sakit, penyakit keturunan tidak ada, tidak ada penyakit menular.
b. Data kesehatan keluarga
Ibu mengatakan didalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit dan penyakit turunan.
6. Pola kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum hamil : Makan 3x sehari dengan porsi sedang 1 piring nasi, lauk tempe/tahu kadang-kadang ikan, dengan 1 mangkuk kecil sayur, 7-8 gelas air putih/hari.
Saat : Makan 3x sehari, porsi 1 piring nasi, lauk 1 potong tempe/tahu/ikan, dengan 1 mangkuk sedang sayur, kadang-kadang buah dan susu, minum air putih 7-8 gelas tiap hari.
b. Eliminasi
Sebelum hamil : BAB 1 x sehari-hari, BAK 6-7 x tiap hari
Saat hamil : BAB 1-2 x setiap hari, BAK 7-8 x tiap hari
c. Personal hygiene
Saat hamil : mandi 2 x sehari, pagi dan sore
Sesudah hamil : mandi 3 x sehari, pagi, siang dan sore
d. Pola istirahat
Sebelum hamil : tidur malam 7-8 jam / hari, tidur siang 1-2 jam /hari
Saat hamil : tidur malam 6-7 jam / hari, tidur siang 1-2 jam /hari

e. Olah raga
Jalan pagi-pagi 3x seminggu
f. Seksualitas
1-2 x dalam seminggu, tidak ada keluhan
7. Immunisasi
TT Lengkap:
TT 1 pada usia kehamilan 5 bulan di bidan
TT 2 pada usia kehamilan 6 bulan di bidan
8. Kontrasepsi
Ibu belum pernah KB
9. Riwayat sosial
a. Apakah kehamilan ini direncanakan : ya
b. Respon terhadap kehamilan : keluarga senang dengan kehamilan ini
c. Status perkawinan : ibu menikah 1x, usia pernikahan 1 tahun
d. Kepercayaan yang berhubungan : tidak ada

B. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum : agak lemah
2. Tanda-tanda vital
TD : 110/70 nnHg
Nadi : 80 x / menit
RR : 18 x / menit
Temperatur : 40oC
3. Tinggi badan : 155 cm
4. Berat badan : Sebelum hamil : 49 kg
Sesudah hamil : 59 kg
5. Ukuran lila : 24 cm
6. Inspesi
a. Rambut : Terlihat bersih, tidak ada ketombe
b. Mata : Bentuk mata simetris, tidak ada pembengkakan pada mata konjungtiva merah muda, seklera tidak ikterik Fungsi penglihatan baik.
c. Hidung : bentuk mata simetris, keadaan bersih, tidak ada pembesaran hidung, faktor penciuman normal
d. Gigi dan mulut: tidak ada kelainan bentuk pada mulut, tidak terdapat stomatitis, keadaan gigi bersih, tidak ada caries, pada gigi, tidak ada gigi yang berlubang, jumlah gigi atas dan bawah lengkap
e. Telinga : keadaan bersih, bentuk simetris tidak ada kotoran, faktor pendengaran normal
f. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada embesaran kelenjar limpa, tidak ada pembengkakan vena jugularis
g. Dada : bentuk payudara simetris kanan dan kiri, papilla menonjol colostrum belum keluar, keadaan payudara bersih, terdapat hiperpigmentasi pada aerola mamae
h. Abdomen : keadaan pembesaran abdomen sesuai dengan usia kehamilan terhadap linea nigra, tidak ada bekas operasi
i. Genetalia eksternal : tidak ada flour albus, tdak ada oedema, hygiene baik haemoraid tidak ada
j. Ekstremitas :
Atas : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik, turgor kulit baik, tidak ada kecacatan
Bawah : bentuk simetris, keadaan kuku bersih, keadaan kulit baik


7. Palpasi
Leopold I : TFU tiga jari bawah Px, pada fundus teraba lunak dan tidak, melenting yang berarti bokong
Leopold II : perut ibu sebelah kanan lebar dan memberikan tahanan yang besar berarti punggung kanan
Leopold III : bagian terbawah janin teraba keras dan melenting bila digoyang yang berarti kepala
8. Askultasi
DJJ terdengar pada daerah 3 jari bawah pusat sebelah kanan dengan frekuensi 168 x / menit
9. Perkusi : reflek petela positif
10. Pemeriksaan panggul luar
Distantia spinarum : 25 cm
Distantia cristarum : 27 cm
Conjugata eksterna : 19 cm
Lingkar panggul : 80 cm

II. INTERPRESTASI DATA DASAR, DIAGNOSA, MASALAH DAN KEBUTUHAN

1. Diagnosa
G1P0A0, ibu hamil aterm, janin tunggal, hidup intra uteri, DJJ 168 x/menit presentasi kepala
Dasar
a. ibu mengatakan hamil anak pertama
b. HPHT : 25 Juli 2006
c. TP : 01 Mei 2007
d. Pada auskultasi: DJJ terdengar jelas pada satu tempat 3 jari dibawah pusat sebelah kanan dengan frekuensi 168 x/menit
e. Pada palpasi
Leopold I : TFU tiga jari bawah Px,
Leopold II : bagian fundus teraba bulat, besar, lunak dan tidak melenting yang berarti bokong
Leopold III : bagian terbawah rahim teraba keras, besar, bulat, dan melenting bila di goyang yang berarti kepala
TBJ : (32-12) x 155 : 3100 gram

2. Masalah:
a. Ibu menderita demam dalam kehamilan
Dasar :Ibu mengatakan mengigil demam dalam kehamilan
b. Gangguan rasa nyaman : badan pegal-pegal dan cepat lelah
Dasar : Ibu mengatakan badannya pegal dan cepat letih
c. Takikardi janin
Dasar : Frekuensi denyut jantung janin 168x/menit

3. Kebutuhan:
a. Menurunkan demam ibu
Dasar : Ibu menggigil demam dalam kehamilan
b. Penyuluhan tentang pola istirahat yang cukup dan rileks
Dasar :Takikardi janin karena ibu lelah dan kurang rileks dalam menghadapi persalinan
c. Penyuluhan tentang senam hamil
Dasar : Ibu mengatakan badannya pegal-pegal
d. Penyuluhan tentang gizi ibu hamil
Dasar :Ibu mengatakan malas makan buah dan minum susu





III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
a. Potensial terjadi hipoksia
Dasar: pemasukan O2 yang tidak adekuat pada janin
b. Potensial terjadi gawat janin
Dasar: DJJ > 160 x/menit
c. Potensial terjadi kematian janin dalam kandungan
Dasar: gawat janin

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TERHADAP TINDAKAN DAN KOLABORASI
Tindakan segera: Perubahan posisi lateral dan pemberian oksigen 8-12 l/menit untuk mengurangi demam pada ibu dengan hidrasi antipiretik, dan tindakan pendinginan/kompres untuk menurunkan suhu
Kolaborasi : Dilakukan bila terjadi gawat janin dan kematian janin dalam kandungan

V. RENCANA MANAJEMEN
1. Beri tahu ibu tentang hasil pemeriksaan
a. Jelaskan kondisi ibu saat ini
b. Observasi denyut jantung janin saat ini
c. Anjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin
d. Libatkan keluarga dalam memberikan dukungan ibu
2. Penanganan demam pada ibu
a. Kompres untuk menurunkan suhu ibu
b. Pemberian obat antipiretik
c. Anjurkan ibu untuk istirahat baring dan banyak minum


3. Berikan informasi mengenai gizi ibu hamil
a. Jelasakan pada ibu tentang makanan yang bergizi
b. Ibu diberi vitamin
4. Berikan informasi tentang senam hamil setelah kondisi ibu membaik
a. Jelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil
b. Ajarkan pada ibu tenatang gerakan senam hamil
c. Anjurkan pada ibu untuk melakukan senam hamil secara teratur
5. Beritahu ibu tentang pola istirahat yang baik
a. Jelaskan pada ibu pentingnya istirahat yang cukup
b. Anjurkan pada ibu untuk mengurangi aktivitas sehari-hari
c. Anjurkan pada ibu untuk tidak melakukan pekerjaan yang berat
d. Evaluasi apakah ibu menjalankan yang dianjurkan

VI. IMPLEMENTASI LANGSUNG
1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan keadaan ibu dan kandungannya
a. Menjelaskan kondisi ibu saat ini
b. Mengobservasi denyut jantung janin, setiap 30 menit untuk mengetahui kondisi janin
c. Menganjurkan ibu untuk memeriksakan kehamilannya setiap minggu
d. Melibatakan keluarga dalam memberikan dukungan pada ibu dalam menanti kelahiran anaknya.
2. Menangani demam pada ibu
a. Kompres hangat untuk menurunkan suhu tubuh ibu sampai kondisinya membaik
b. Memberikan obat antipiretik paracetamol 500 mg 3x sehari
c. Menganjurkan ibu untuk istirahat baring secara total 8-9 jam sehari dan banyak minum air putih 1,5-2 liter sehari

3. Memberikan informasi mengenai gizi yang baik pada ibu hamil
a. Menjelaskan pada ibu mengenai makanan bergizi seperti sayur-sayuran hijau, misalnya daun katuk, buah-buahan segar, makanan TKTP seperti ikan, tempe, tahu.
b. Menganjurkan ibu makan makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, misalnya daun katuk, buah-buahan segar, makanan TKTP (ikan, tempe, tahu)
c. Memberi ibu vitamin B12, SF 1x sehari
4. Memberikan informasi tentang senam hamil setelah kondisi ibu membaik
a. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya senam hamil untuk mempersiapkan proses kelahiran bayi
b. Mengajarkan pada ibu tentang teknik senam hamil, yaitu; latihan pemanasan dan peregangan, latihan pernafasan, latihan penguatan, latihan relaksasi, koreksi sikap, latihan pendinginan.
c. Menganjurkan pada ibu untuk melakukkan senam hamil setiap hari Jumat dan Sabtu seminggu sekali di Puskesmas Pekalongan
d. Mengevaluasi kemampuan ibu mengulang yang sudah dajarkan
5. Memberitahu ibu tentang pola istirahat yang baik
a. Menjelaskan pada ibu tentang pentingnya istirahat yang cukup dengan pola istirahat 8-9 jam setiap hari
b. Menganjurkan pada ibu untuk mengurangi aktivitas yang berlebihan seperti pekerjaan rumah tangga yang berat
c. Mengevaluasi kemampuan ibu untuk mengerti tentang pola istirahat yang baik dan akan menjalankannya.





VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui kondisinya saat ini
Keadaan umum ibu: agak lemah
a. Tanda-tanda vital
TD : 110/70 mmHg Pols : 80 x/menit
RR : 18 x/menit Temp : 400C
DJJ : 168 x/menit
b. Palpasi
Leopold I : TFU tiga jari bawah Px, pada fundus teraba besar, bulat, lunak, melenting yang berarti bokong
Leopold II : Perut ibu sebelah kanan lebar dan memberikan tahanan yang besar, seperti punggung kanan
Leopold III : Bagian terbawah janin teraba besar, bulat, keras, dan melenting bila di goyangkan, yang berarti kepala.
c. Oedema : Negatif
2. Observasi denyut jantung janin dalam 30 menit sekali frekuensi denyut jantung janin 154x/menit
3. Ibu bersedia akan melakukan kunjungan rutin di tempat bidan setiap minggu
4. Keluarga terutama suami bersedia untuk menemani ibu memeriksakan kehamilannya setiap minggu.
5. Keluarga mengerti terutama suami bahwa ibu butuh dukungan psikologis, perhatian yang lebih dan khusus dalam menanti kelahiran anaknya.
6. Kondisi ibu sudah mulai membaik, demam ibu mulai berkurang suhu tubuhnya turun 380C
7. Ibu bersedia untuk minum obat paracetamol 500 mg 3x sehari
8. Ibu mengerti tentang makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran hijau, misalnya: daun katuk, buah-buahan segar, makanan TKTP seperti tahu, tempe, ikan.
9. Ibu bersedia untuk makan makanan bergizi
10. Ibu bersedia minum vitamin B12 SF 1 kali sehari
11. Ibu mengerti tentang pentingnya senam hamil
12. Ibu bersedia akan melakukan senam hamil seminggu sekali
13. Ibu mengerti tentang pola istirahat yang baik 8-9 jam tiap hari
14. Ibu bersedia untuk istirahat baring secara total dan banyak minum air putih 1,5-2 liter dalam sehari


DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Bina Pustaka: Jakarta
Matrin, Tucker Susan. 1997. Pemantauan Janin. EGC: Jakarta
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Bina Pustaka: Jakarta
Supridi, Teddy. 1994. Kedokteran Observasi Dan Gynekologi. EGD: Jakarta
http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEBIDANAN KEPADA IBU HAMIL DENGAN TANDA-TANDA GAWAT JANIN

Mekanisme Persalinan Normal

Mekanisme Persalinan Normal: "








MEKANISME PERSALINAN NORMAL

Paramitha Harsary



  • 96 % janin dalam uterus berada dalam presentasi kepala dengan ubun-ubun kecil kiri depan sebanyak 58 %, kanan depan 23 %, kanan belakang 11 % dan kiri belakang 8 %.

  • Janin dengan presentasi kepala disebabkan karena kepala relatif lebih besar dan lebih berat serta bentuk uterus sedemikian rupa sehingga volume bokong dan ekstremitas yang lebih besar berada di atas di ruang yang lebih luas sedangkan kepala berada dibawah di ruang yang lebih sempit.

  • 3 faktor yang memegang peranan penting pada persalinan :

    1. Kekuatan ibu, seperti kekuatan his dan mengedan

    2. Keadaan jalan lahir

    3. janin.





  • His à kekuatan yang menyebabkan servik membuka dan mendorong janin ke bawah serta masuk kedalam rongga panggul.

  • Kepala masuk melintasi pintu atas panggul dalam sinklitismus à arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul. Dapat juga terjadi keadaan :

    1. Asinklitismus anterior à arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan pintu atas panggul

    2. Asinklitismus posterior à arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke belakang dengan pintu atas panggul.





  • Fleksi


Kepala memasuki ruang panggul dengan ukuran paling kecil ( diameter suboksipitobregmatika = 9,5 cm) dan didasar panggul kepala berada dalam fleksi maksimal.



  • Putar paksi dalam


Kepala yang turun menemui diafragma pelvis yang berjalan dari belakang atas ke bawah depan. Kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intra uterin oleh his yang berulang-ulang Þ kepala mengadakan rotasi Þ ubun-ubun kecil berputar kearah depan dibawah simpisis.



  • Defleksi


Setelah kepala berada di dasar panggul dengan ubun-ubun kecil di bawah simpisis ( sebagai hipomoklion), kepala mengadakan fleksi Þ berturut turut lahir bregma, dahi, muka dan akhirnya dagu.



  • Putaran paksi luar


Gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam terjadi, untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung anak



  • Ekspulsi


Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring Þ menyesuaikan dengan bentuk panggul, sehingga di dasar panggul, apabila kepala telah lahir, bahu berada dalam posisi depan-belakang Þ bahu depan lahir lebih dahulu, baru kemudian bahu belakang.


Mekanisme persalinan fisiologis penting dipahami, bila ada penyimpangan –> koreksi manual dapat dilakukan sehingga tindakan operatif tidak perlu dilakukan.


Tindakan – tindakan setelah bayi lahir :



  • Segera bersihkan jalan nafas.

  • Tali pusat dijepit pada 2 tempat, pada jarak 5 dan 10 cm, digunting dan kemudian diikat.

  • Tindakan resusitasi –> membersihkan dan menghisap jalan nafas serta cairan lambung untuk mencegah aspirasi.


Bila bayi telah lahir, uterus akan mengecil. Partus berada dalam kala III ( kala uri), yang tidak kalah penting dari kala I dan II oleh karena tingginya kematian ibu akibat perdarahan pada kala uri.


Mengecilnya uterus akibat his setelah bayi lahir mengakibatkan terjadi pelepasan perlengketan plasenta dengan dinding uterus. Ada 3 cara lepasnya plasenta yaitu :


1. Tengah (sentral menurut Schultze) à terbanyak


2. Pinggir (marginal menurut Mathew-Duncan)


3. Kombinasi 1 dan 2.


Kala III berlangsung selama 6 sampai 15 menit, dengan tinggi fundus uteri setelah kala III kira-kira 2 jari di bawah pusat.


Sumber Dari :


http://ksuheimi.blogspot.com/2008/06/mekanisme-persalinan-normal.html

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Mekanisme Persalinan Normal

Minggu, 01 Agustus 2010

Sectio Caesarea atas Indikasi Letak Sungsang

Sectio Caesarea atas Indikasi Letak Sungsang
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah sectio caesarea berasal dari bahasa latin caedere yang artinya memotong. Sedangkan definisi sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Rustam M, 1998). Sedangkan Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala berada di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.
Pada ibu hamil dengan letak janin sungsang ditambah lagi dengan indikasi belum pernah SC, kehamilan sudah cukup bulan dan taksiran berat janin besar maka untuk ibu dianjurkan agar melakukan operasi Seksio Sesarea.
Ditambah lagi dewasa ini, perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran makin berkembang terutama di bidang kandungan, banyak penanganan yang mungkin dapat dilakukan pada ibu yang mengalami kelainan letak anak. Salah satunya yaitu melakukan operasi SC.
Untuk itu, penulis ingin mengangkat kasus ibu hamil dengan kelainan letak anak ini agar dapat digunakan dengan semestinya oleh berbagai pihak.

B. Tujuan
Adapun tujuan penulisan laporan ini adalah
a. Mengetahui tentang pengertian, penyebab, komplikasi serta penatalaksanaan letak sungsang
b. mengetahui langkah langkah serta manajemen dari pasien yang mengalami letak sungsang





BAB II
PEMBAHASAN

A. SECTIO CAESAREA
1. Definisi Sectio Caesarea
Istilah sectio caesarea berasal dari bahasa latin caedere yang artinya memotong. Sedangkan definisi sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina (Rustam M, 1998).
Beberapa macam teknik operasi sectio caesarea adalah :
a. Sectio caesarea abdominalis
1) Sectio caesarea transperitonealis
Sectio caesarea klasik atau korporal dengan incisi memanjang pada korpus uteri dan sectio caesarea ismika atau profunda dengan incisi pada segmen bawah rahim.
2) Sectio caesarea ekstraperitonealis
Yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal.
b. Sectio caesarea vaginalis

Operasi ini biasanya dilakukan tim yang melibatkan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anestesi, dan bidan. Dalam Operasi Caesar, ada tujuh lapisan yang diiris pisau bedah, yaitu lapisan kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Setelah bayi dikeluarkan, lapisan itu kemudian dijahit lagi satu persatu, sehingga jahitannya berlapislapis
Anastesi merupakan upaya untuk menghilangkan rasa sakit dan nyeri pada waktu menjalani operasi. Teknik anastesi yang akan dibahas pada kasus sectio caesarea disini yaitu anastesi regional. Pada pembiusan regional, ibu yang menjalani persalinan tetap dalam keadaan sadar sebab yang mati rasa hanyalah saraf-saraf di bagian perut termasuk rahimnya. Pembiusan regional yang digunakan untuk operasi caesarea pada persalinan diantaranya adalah bius epidural, spinal dan kelamin. Jenis pembiusan ini dilakukan dengan memberi obat pemati rasa ke daerah tulang belakang, mengakibatkan sebatas panggul ke bawah mati rasa, tetapi ibu masih sadar selama proses pembedahan berlangsung (Dini Kasdu, 2003).

2. Etiologi Secsio Caesarea
Pada persalinan normal bayi akan keluar melalui vagina, baik dengan alat maupun dengan kekuatan ibu sendiri. Dalam keadaan patologi kemungkinan dilakukan operasi sectio caesarea. Adapun penyebab dilakukan operasi sectio caesarea adalah :
a. Kelainan dalam bentuk janin
1) Bayi terlalu besar
Berat bayi lahir sekitar 4000 gram atau lebih (giant baby), menyebabkan bayii sulit keluar dari jalan lahir.
2) Ancaman gawat janin
Keadaan gawat janin pada tahap persalinan, memungkinkan dokter memutuskan untuk segera melakukan operasi. Apalagi jika ditunjang oleh kondisi ibu yang kurang menguntungkan.
3) Janin abnormal
Janin sakit atau abnormal, misalnya gangguan Rh, kerusakan genetic, dan hidrosephalus (kepala besar karena otak berisi cairan), dapat menyebabkan diputuskannya dilakukan operasi.
4) Bayi kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
b. Kelainan panggul
Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan. Terjadinya kelainan panggul ini dapat disebabkan oleh terjadinya gangguan pertumbuhan dalam rahim (sejak dalam kandungan), mengalami penyakit tulang (terutama tulang belakang), penyakit polio atau mengalami kecelakaan sehingga terjadi kerusakan atau patah panggul.
c. Faktor hambatan jalan lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas (Dini Kasdu, 2003).

3. Tipe insisi uterus
(1) Insisi pada segmen bawah rahim
• Insisi transversal ( trans peritoneal profunda )
• Insisi vertical ( low vertical incisions )
Insisi yang dilakukan pada segmen bawah rahim, seringkali merupakan operasi yang terpilih, dengan keuntungan :
• Kehilangan darah sedikit
• Lebih mudah diperbaiki
• Jarang menimbulkan ruptur uteri pada kehamilan selanjutnya
• Tidak menyebabkan perlengketan pada omentum
Persiapan insisi :
• Rambut pada abdomen dicukur mulai permukaan mons pubis sampai di atas umbilikus
• Kandung kecing dikosongkan
• Lapangan operasi seluruhnya disikat dengan sabun detergen
• Lapangan operasi diperkecil dengan duk steril
 Insisi abdominal :
Insisi vertical pada linea mediana
 Insisi dimulai sedikit diatas margo superior sampai dekat umbilicus dengan ukuran disesuaikan dengan taksiran berat anak
 Insisi dilakukan sampai tampak fasia M. Rektus anterior
 Jaringan lemak dibebaskan sehingga fasia terlihat minimal 2 cm
 Fasia diperlebar keatas dan kebawah dengan gunting sesuai dengan irisan sebelumnya
 M. rektus abdominalis dan M piramidalis dipsahkan secara tumpul dan tajam sehingga tampak fasia transversalis dan peritoneum
 Fasia dan lemak prepetonialis dipisahkan dengan hati hati
 Peritoneum yang terdapat dibagian atas diklem dengan 2 hemostat dengan jarak 2 cm ke samping
 Peritoneum antara 2 klem ditarik dan dilihat serta diraba apakah ada omentum, usus dan vesika urinaria yang terjepit dan setelah itu baru peritoneum dibuka dengan hati hati.
Insisi pada batas atas rambut pubis ( Modified Planenstiel Incision )
 Insisi melengkug pada setinggi garis atas rambut pubis dan diperlebar sampai batas lateral M. rektus
 Jaringan sub kutan dipisahkan sehingge tampak fasia kira kira 1 cm
 Fasia kemudian diinsisi transfersal sesuia insisi sebelumnya
 Tepi superior dan inferior dipegang dengan klem
 Pembuluh darah antara otot dan fasia diklem, diikat dan dipotong
 M. rektus dipisahkan satu sama lain kemudian dibebaskan dari fasia transversalis dibawahnya serta dari peritonium.
 Peritonium di buka dengan membuat insisi vertikal pada garis tengah.
 Insisi uterus pada seksio sesarea trans peritoneal profunda / SCTPP
 Lapisan peritoneum yang secara khas agak longgar ( lapisan serosa ) diatas margo superior vesika urinaria yang menutupi segmen bawah uterus dijepit pada garis tengah di insisi dengan gunting.
 Guntig diselipkan di antara lapisan serosa dan miometrium di dorong ke arah lateral dari garis tengah dengan sebentar sebentar membuka gunting sebagian.
 Lapisan serosa yang lebarnya 2 cm dipisahkan serta kemudian di insisi
 Setelah dekat ke margo lateral pada tiap tiap sisi insisi diarahkan ke kranial
 Lipatan bawah peritonium diangkat dan vesika urinaria secara hati hati dipisahkan dari miometrium secara tumpul ( pemisahan vesika urinaria ini tidak boleh lebih dari 5 cm dan biasanya kurang dari itu oleh karena pada serviks yang sudah tipis bukan saja SBR yang terpotong tapi juga vagina yang dibawahnya dapat terpotong.
 Vesika urinaria ditarik kebawah simpisis dengan refraktor
 Uterus dibuka pada SBR 2 cm di atas vesika urinaria yang telah dibebaskan.
 Dibuat sayatan transversal sepanjang 2 cm atau separuh jarak antara ke dua margo lateralis. Sayatan dilakukan dengan sangat hati hati sehingga potongannya tidak terlalu dalam dan melukai bayi dibawahnya.
 Insisi diperlebar dengan menggunakan kedua telunjuk kea rah lateral
 Apabila pada insisi terdapat plasenta, plasenta harus dilepas atau diiris.
 Persalinan bayi
1. Bayi dalam presentasi kepala
- refrakor dilepas
- satu tangan operator diselpkan dalam kavum uteri, antara simpisisi dan kepala bayi, angkat kepala bayi dengan jari jari.
- Bahu dilahirkan dengan penekanan pada fundus
- Berikan infus oksitosin sampai uterus berkontraksi dengan baik
- Tali pusat segera diklem dan bayi diberikan pada asisiten
2. Bayi tidak dengan presentasi kepala
Dicari tungkai atau kaki lalu dilakukan ekstraksi kaki
3. Plasenta dilahirkan secara manual dengan pemijatan fundus
 Reparasi uterus
• Setelah plasenta lahir, uteru diangkat melalui lubang inisisi pada dinding abdomen yang ditutpi kain duk
• Inspeksi plasenta, cavum uteri di lihat serta digosok bagian dalamnya dengan kassa steril untuk menghilangkan selaput ketuban, verniks dan gumpalan darah
• Tiap tiap sudut insisi dilihat untuk mencari pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan
• Luka insisi uterus dapat ditutup dengan jahitan kromik kontinue
• Jahitan pertama diletakkan tepat dibelakang slah satu sudut inisisi, tiap jahitan menembus miometrim
• Jahitan bersimpul selanjutnya diteruskan sampai tepat dibelakang sudut insisi yang berlawanan
• Perapatan luka dilakukan dengan satu jahitan
• Jika belum yakin dan perdarahan masih terus berlanjut, maka tempatkan lapisan jahitan sedemikian rupa sehingga tercapai perapatan luka insisi atau dengan jahitan angka delapan

 Penutupan Abdomen
• Jika memakai laparatomi pack, maka diangkat dulu dan isi perut dibersihkan dari sisa darah dan cairan amnion dengan menggunakan suction
• Evaluasi abdomen
• Setelah penghitungan alat alat dengan benar, dinding abdomen ditutup
• Peritoneum ditutup dengan catgut kromik 00 dengan jahitan kontiniu
• M. rektus abdominalis dibiarkan terbuka
• Fasia yang ada diatasnya ditutp dengan jahitan satu satu memakai benang 0
• Subkutis dijahit plain 1/0
• Kulit dijahit dengan silk 3/0
• Luka operasi ditutp dengan kassa steril dan plester
Insisi klasik
Insisi dilakukan pada korpus uteri secara vertical diatas segmen bawah rahim.

4. Komplikasi Seksio Sesarea
1. Pada Ibu
a. Infeksi puerperal
b. Perdarahan jika cabang cabang arteri uterina ikut terbuka, atau karena atonia uteri
c. Komplikasi komplikasi lain seperti luka kandung kencing, embolisme paru paru
d. Pada kehamilan selanjutnya dapat terjadi ruptura uteri
2. Pada anak
Kematian perinatal pasca SC berkisar antara 4 – 7 %

B. LETAK SUNGSANG
1. Defenisi Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala berada di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri.

2. Klasifikasi Letak sungsang
a. Letak bokong ( Frank Breech )
Letak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas
b. Letak sungsang sempurna ( Complete Breech )
Letak bokong dimana kedua kaki ada di samping bokong ( letak bokong kaki sempurna ( lipat kejang ).
c. Letak sungsang tidak sempurna (Incomplete Breech )
Adalah letak sungsang dimana selain bokong bagian yang terendah juga kaki atau lutut, terdiri dari :
- kedua kaki = letak kaki sempurna
- satu kaki = letak kaki tidak sempurna
- kedua lutut = letak lutut smpurna
- satu lutut = letak lutut tidak sempurna
Posisi bokong ditentukan oleh sakrum, ada 4 posisi :
(1) Left sacrum anterior ( sakrum kiri depan )
(2) Right sacrum anterior ( sacrum kanan depan )
(3) Left sacrum posterior ( sacrum kiri belakang )
(4) Right sacrum posterior ( sacrum kanan belakang )
3. Etiologi letak sungsang
Letak janin dalam uterus bergantung pada proses adaptasi janin terhadap ruangan di dalam uterus. Pada kehamilan sampai lebih kurang dari 32 minggu, jumlah air ketuban relative lebih banyak, sehingga kemungkinan janin bergerak lebih leluasa. Dengan demikian, janin dapat menempatkan diri dalam presentasi kepala, letak sungsang atau lintang. Pada kehamilan triwulan terakhir janin tumbuh dengan cepat dan jumlah air ketuban relatif lebih berkurang. Karena bokong dengan dua tungkai yang terlipat lebih besar dari kepala, maka bokong dipaksa untuk menempati ruang yang lebih luas di fundus uteri, sedangkan kepala berada dalam ruang yang lebih kecil di segmen bawah uterus. Dengan demikian dapat di mengerti mengapa pada kehamilan belum cukup bulan, frekuensi letak sungsang lebih tinggi, sedangkan pada kehamilan cukup bulan, janin sebagian besar ditemukan dalam presentasi kepala.
Terdapat beberapa factor yang berperan dalam terjadinya letak sungsang diantaranya adalah multiparitas, kehamilan kembar, hidramnion, hidrosephalus, anensefalus, plasenta previa, panggul sempit, prematuritas, kelainan genetic, kelainan bentuk uterus, tumor uterus, implantasi plasenta di daerah fundus.

4. Diagnosis letak sungsang
(1) Palpasi
Kepala teraba di fundus, bagian bawah bokong, dan punggung di kiri atau di kanan.
(2) Auskultasi
DJJ paling jelas terdengar pada tempat yang lebih tinggi dari pusat.
(3) Pemeriksaan dalam
Pada pemeriksaan dalam teraba os sacrum, tuber ischii, anus, kadang kadang kaki.
Bedakan antara :
a. Jika teraba lubang kecil, tulang (-), isap (-), mekonium (+) maka artinya teraba anus
b. Jika mengisap, teraba rahang, teraba lidah artinya teraba mulut
c. Jika teraba tumit, sudut 90’, rata jari jari artinya teraba kaki
d. Jika teraba jari jari panjang, tidak rata, patella (-) artinya teraba tangan siku
e. Jika teraba petella dan poplitea artinya teraba lutut
(4) Pemeriksaan foto Rontgent : bayangan kepala di fundus

5. Prognosis Persalinan Sungsang
Zatuchni dan andros telah membuat suatu indeks prognosis untuk menilai lebih tepat apakah persalinan sungsang dapat dilahirkan pervaginam atau perabdominal, sebagai berikut :
0 1 2
Paritas primi Multi
Umur kehamilan > 39 Minggu 38 Minggu < 37 minggu
Taksiran berat anak >3630 3629 - 3176 < 3176
Pernah letak sungsang Tidak 1X > 2x
Pembukaan serviks < 2 cm 3 cm > 4 cm
station <-3 < -2 -1 atau lbh rendah

Arti nilai :
< 3 : persalinan perabdominal
4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam
> 5 : dilahirkan pervaginam

Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi bila dibandingkan dengan letak kepala. Sebab, kematian perinatal yang terpenting adalah prematuritas dan penanganan persalinan yang kurang sempurna dengan akibat hipoksia atau perdarahan di tengkorak. Sedangkan hipoksia terjadi akibat terjepitnya tali pusat antara kepala dan panggul pada waktu kepala memasuki rongga panggul serta akibat retraksi uterus yang dapat menyebabkan lepasnya plasenta sebelum kepala lahir.











BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun yang dapat penulis simpulkan yaitu :
1. Sectio caesarea adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina.
2. Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala berada di fundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri
3. prognosis letak sungsang

0 1 2
Paritas primi Multi
Umur kehamilan > 39 Minggu 38 Minggu < 37 minggu
Taksiran berat anak >3630 3629 - 3176 < 3176
Pernah letak sungsang Tidak 1X > 2x
Pembukaan serviks < 2 cm 3 cm > 4 cm
station <-3 < -2 -1 atau lbh rendah

Arti nilai :
< 3 : persalinan perabdominal
4 : evaluasi kembali secara cermat, khususnya berat badan janin, bila nilai tetap dapat dilahirkan pervaginam
> 5 : dilahirkan pervaginam

B. SARAN
Adapun saran yang dapat diberikan adalah :
1. kepada masyarakat umumnya dan kepada ibu hamil khususnya agar selalu melakukan antenatal secara teratur agar mudah dideteksi kelainan kelainan yang terjadi misalnya saja seperti kelainan letak pada janin agar tidak terlambat dalam pertolongan.
2. kepada tenaga kesehatan agar selalu memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasiennya


DAFTAR PUSTAKA

Ida, Bagus Gde Manuaba. 1998. ”Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan”. Jakarta : EGC.

Mochtar, Rustam. 1998. ” Sinopsis Obstetri”. Jakarta : EGC.

Mansjoer,arif.dkk.2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:Media Aesculapius

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. ” Ilmu Kebidanan”. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Tiran, denise. 2006. “Kamus saku bidan”. Jakarta : EGC
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Sectio Caesarea atas Indikasi Letak Sungsang

Sabtu, 31 Juli 2010

Askeb Kehamilan Ektopik

ASUHAN KEBIDANAN ASKEB KEHAMILAN EKTOPIK

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahhirobbil’alamin, segala puji bagi Allah semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah SWT limpahkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai rahmat dan kasih sayang bagi alam semesta dan nabi yang telah membawa umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Kami bersyukur kepada Allah karena makalah kami dapat selesai pada waktunya. Judul makalah yang kami buat adalah “KEHAMILAN EKTOPIK yang kami harap dihari mendatang dapat bermanfaat bagi pembaca serta membangun semangat pembaca.
Dan kami juga mengharapkan kritik dan saran bagi pembaca agar kedepannya kami dapat memperbaiki kesalahan – kesalahan pada makalah kami ini. Lebih dan kurang kami mohon maaf, terima kasih.
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar belakang
Bidan adalah salah satu pemberi pelayanan kesehatan secara langsung kepada masyarakat, dituntut peran serta, fungsi dan aplikasinya didalam menilai serta menentukan langkah awal dan kapan melakukan rujukan kefasilitas kesehatan yang paling tinggi. Beberapa tahun yang lalu pendidikan bidan hanya sebatas DI saja, yang disebut dengan Program Pendidikan Bidan (PBB), dimana bidan D1 belum memahami dan menerapkan secara professional manajemen kebidanan yang baik dan benar. Sesuai dengan perkembangan pendidikan, maka pendidikan bidan dibuka pada tahun 1996 menjadi Akademi Kebidanan (DIII), SK MENKES RI No. 4118 1987 dan SK MENDIKBUD RI No: 009/4/1996 untuk memenuhi tuntutan profesionalisme guna meningkatkan mutu dan kualitas bidan itu sendiri dan memahami bagaimana manajemen kebidanan yang baik dan benar dalam bidang kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak.
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus, Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%. apabila tidak diatasi atau diberikan penanganan secara tepat dan benar akan membahayakan bagi sipenderita itulah yang melatarbelakangi pembuatan makalah ini.
(Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)
B.Tujuan
1. Agar mahasiswi dapat mengetahui dan memahami tanda dan gejala kehamilan ektopik
2. dapat mengetahui cara-cara penanganan kehamilan ektopik.
3. Untuk mengatahui sebab dan faktor pencetusnya.
C.Manfaat
Sebagai bacaan bagi mahasiswi agar dapat menambah pengetahuan mengenai kehamilan ektopik.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
1.KONSEP DASAR
A.pengertian
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan implantasi terjadi diluar rongga uterus ,tuba falopii merupakan tempat tersering untuk terjadinya implantasi kehamilan ektopik,sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba,jarang terjadi implantasi pada ovarium,rongga perut,kanalis servikalis uteri,tanduk uterus yang rudimenter dan divertikel pada uterus.
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara
20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun,frekwensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%-14,6%.
(Sarwono Prawiroharjho, Ilmu Kebidanan, 2005)
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavum uteri.
(kapita selekta kedokteran,2001)
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan ovum yang dibuahi,berimplantasi dan tumbuh tidak di tempat yang normal yakni dalam endometrium kavum uteri.
Istilah kehamilan ektopik lebih tepat daripada istilah ekstrauterin yang sekarang masih juga dipakai,oleh karena terdapat beberapa jenis kehamilan ektopik yang berimplantasi dalam uterus tetapi tidak pada tempat yang normal.
(Sarwono prawirohardjo,ilmu kandungan,2005)
B.etiologi
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki,tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui.
faktor-faktor yang memegang peranan dalam hal ini ialah sebagai berikut :
• Faktor tuba,yaitu salpingitis,perlekatan tuba,kelainan konginetal tuba,pembedahan sebelumnya,endometriosis,tumor yang mengubah bentuk tuba dan kehamilan ektopik sebelumnya.
• Kelainan zigot,yaitu kelainan kromosomdan malformasi.
• Faktor ovarium,yaitu migrasi luar ovum dan pembasaran ovarium.
• Penggunaan hormone eksogen.
• Faktor lain,antara lain aborsi tuba dan pemakaian IUD
( Dr.Rustam Mochtar, sinopsis Obstetri, 2000).
C.tanda dan gejala
Gambaran kehamilan ektopik yang belum terganggu tidak khas dan penderita maupun dokter biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan.
Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-grjala sebagai berikut:
AmenorhoeØ
Nyeri perut bagian bawah
Ø
Gejala kehamilan muda
Ø
Level HCG rendah
Ø
Perdarahan pervaginam berwarna coklat tua
Ø
Pada pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks
Ø
Digoyangkan dan kavum douglasi menonjol karena ada pembekuan darah.
(Kapita selekta kedokteran, 2001)
Gejala dan tanda kehamilan ektopik sangat berbeda-beda dari perdarahan banyak tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala tidak jelas ,sehingga sukar membuat diagnosisnya,gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik,abortus atau
rupture tuba,tuanya kehamilan,derajat perdarahan yang terjadi dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
(Dr.rustam mochtar,synopsis obstetri,2000)
D.patofisiologi
Karena tuba bukan tempat untuk pertumbuhan hasil kosepsi tidak mungkin janin tumbuh secara utuh seperti dalam uterus.sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6-10 minggu.
Mengenai nasib kehamilan tuba terdapat beberapa kemungkinan,
Yaitu:
1.Hasil kosepsi mati dan diresorbsi
pada implantasi secara kolumner,ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang dan dengan mudah terjadi resorbsi total.dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2.abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh darah oleh villi koriales pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut sama-sama dengan robeknya pseudokapsularis.pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya tergantung pada derajat perdarahan perdarahan yang timbul.
3.ruptur dinding tuba
Rupture tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya ada kehamilan muda,sebaiknya rupture pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut.faktor utama yang menyebabkan rupture ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke perineum.
Rupture dapat terjadi secara spontan atau karena trauma ringan seperti coitus dan pemeriksaan vaginal.
(Sarwono Prawirohardjo,ilmu kebidanan, 2005)
E.Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparatomi,dalam tindakan demikian beberapa hal harus diperhatikan dan dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita pada saat itu,keinginn penderita akan fungsi reproduksinya,lokasi kehamilan ektopik,kondisi anatomic organ pelvic,kemampuan teknik bedah mikro,dokter operator dan kemampuan teknologi fertilisasi invitro setempat.hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba,atau dapat dilakukan pembedahan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi.
Apabila keadaan penderita buruk,misalnya dalam keadaan syok,lebih baik dilakukan salpingektomi.pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum pecah pernah dicoba ditangani dengan menggunakan kemoterapi untuk menghindari tindakan pembedahan.
Criteria khusus yang diobati dengan cara ini adalah :
• Kehamilan di pars ampullaris tuba belum pecah
• Diameter kantong gestasi ≤ 4cm;
• Perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml
• Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan ialah methotrexate 1 mg/kg IV dan citrovorum factor 0,1 mg/kg 1 M berselang seling setiap hari selama 8 hari.dari seluruh 6 kasus yang di obati,satu kasus dilakukan salpingektomia pada hari ke-12 karena gejala abdomen akut,sedangkan 5 kasus berhasil diobati dengan baik.
2APLIKASI DALAM MANAJEMEN KEBIDANAN
I. pengumpulan data
Data subjektifÄ
Mengalami mual dan muntah
v
Nyeri perut bagian bawah
v
Terjadi perdarahan berwarna coklat tua
v
haid tidak teratur
v
Data objektifÄ
pemeriksaan servik menyebabkan rasa nyeri
v
suhu kadang-kadang naik kadang-kadang turun
v
pada kasus ini mendadak biasanya ditemukan anemia
v
tanda vital dapat baik sampai buruk
v
Saat pemeriksaan adneksa dengan vaginal touché, ada nyeri bila porsio digerakkan (nyeri goyang porsio).
v
Pemeriksaan penunjang diagnostik : urine B-hCG (+),
v
kuldosentesis (ditemukan darah di kavum Douglasi), USG
v
II. Diagnosa/masalah
Kehamilan ektopik.
III. Masalah potensial
IV. Tindakan segera
V. Perencanaan
Perbaiki keadaan umum ibu misalnya berikan infus, transfusi darah,oksigen,v
Mengontrol TD, nadi, dan suhu satu jam sekali
v
Beri tahu pada ibu kemungkinan yang bisa terjadi
v
anjurkan pada ibu untuk tidak hamil dulu
v
Beri tahu ibu tentang pemeriksaan tidakan lanjut.
v
VI.Pelaksanaan
• Berikan Diberikan cairan infus 10 unit oksitosin dalam cairan RL dengan kecepatan 40-60 tetes / menit
• Dikontrol TTV yaitu: TD 140/90 mmHg, Nadi 80 kali/I dan suhu 370
• Memberi tahu ibu tentang pemeriksaan tindak lanjut dengan :
a. Laparatomi
b. Salpingektomi/salpingostomi/reanostomis tuba
c. Kemotrapi dengan metotreksat 1 mg/kg intravena dan faktor sitrovorum 0.1 mg/kg intramuscular berselang-seling selama 8 hari bila kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah,diameter kantong gestasi kurang atau sama dengan 4 cm,perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100ml dan tanda vital baik.
VII.Evaluasi
a. Keadaan umum ibu sudah mulai membaik
b. TTV ibu masih dalam batas normal
c. Ibu mengerti dengan pejelasan dokter
d. Ibu bisa faham dengan penjelasan dari dokter
e. Ibu mengerti dan dapat mengulang apa yang disampaikan oleh dokter
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Anamnesa
Tanggal anamnesa : 10 juni 2007
Nama : Ny. Rahma
Umur : 33 tahun
Suku : minang
Agama : islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT
1. Alasan kunjungan : ada keluhan
2. Keluhan-keluhan :- Mengalami perdarahan sedikit dan berwarna kecoklatan
- Haid tidak teratur
- Nyeri pada perut bagian bawah
HPHT : 25 maret 2007
B.Pemeriksaan fisik
1. Kesadaran : Samolen
2. TTV :
-TD : 120/ 80 mmHg
-DN : 78 kali/I
-R : 24 kali/I
-S : 370 C
3.Muka : pucat
4.Abdomen :
1. Inspeksi
Pembesaran perut : sesuai dengan usia kehamilan
Acites : tidak ada
2. Palpasi :
a. Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri
b. Uterus diraba maka teraba sedikit membesar
c. Kavum douglas yang menonjol.
3. Auskultasi :
-Tidak terdengar DJJ
C. Askeb dalam SOAP
a.Data Sujektif
- Mengalami perdarahan sedikit dan berwarna kecoklatan
- Haid tidak teratur
- Nyeri pada perut bagian bawah
-HPHT : 25 maret 2007.
b.Data objektif
- pemeriksaan servik menyebabkan rasa nyeri
- suhu kadang-kadang naik kadang-kadang turun
- tanda vital dapat baik sampai buruk
- Saat pemeriksaan adneksa dengan vaginal touché, ada nyeri bila porsio digerakkan
- Pemeriksaan penunjang diagnostik : urine B-hCG (+),
- kuldosentesis (ditemukan darah di kavum Douglasi), USG
c.Assesment
Kehamilan ektopik
d.planning
- Perbaiki keadaan umum ibu misalnya berikan infus, transfusi darah,oksigen,
- Mengontrol TD, nadi, dan suhu satu jam sekali
- Beri ibu makanan yang bergizi
- Beri tahu pada ibu kemungkinan yang bisa terjadi
- anjurkan pada ibu untuk tidak hamil dulu
- Beri tahu ibu tentang pemeriksaan tidakan lanjut.

BAB IV
PEMBAHASAN
Pembahasan yang dimaksud disini adalah kesenjangan dan kesamaan yang ada diantara konsep teoritis tentang KEHAMILAN EKTOPIK. Dalam hal ini penulis menemukan beberapa kesenjangan dan kesamaan antara lain :
A.Pengkajian
Secara teoritis penulis melakukan pengkajian pada pasien dengan kasus kehamilan ektopik,dimana pada kasus ini biasanya terjadi gejala kehamilan muda seperti mual dan muntah.
B.identifikasi masalah/diagnosa
Setelah dilakukan pengkajian pada Ny.Rahma kemudian data itu dapat di interpretasikan menjadi diagnosa dan masalah
A.diagnosa
Kehamilan ektopik
B.Masalah
- cemas
- kurang nafsu makan dikarenakan mual dan muntah
C.masalah potensial
Penulis tidak menemukan masalah potensial
D.tindakan segera
Tidak perlu ada tindakan segera
E.menyusun rencana tindakan
- Perbaiki keadaan umum ibu misalnya berikan infus, transfusi darah,oksigen,
- Mengontrol TD, nadi, dan suhu satu jam sekali
- Beri ibu makanan yang bergizi
- Beri tahu pada ibu kemungkinan yang bisa terjadi
- anjurkan pada ibu untuk tidak hamil dulu
- Beri tahu ibu tentang pemeriksaan tidakan lanjut.
F.pelaksanaan tindakan
• Berikan Diberikan cairan infus 10 unit oksitosin dalam cairan RL dengan kecepatan 40-60 tetes / menit
• Dikontrol TTV yaitu: TD 140/90 mmHg, Nadi 80 kali/I dan suhu 370
• Memberi ibu makanan yang bergizi
• Memberi tahu ibu tentang pemeriksaan tindak lanjut dengan :
a. Laparatomi
b. Salpingektomi/salpingostomi/reanostomis tuba
c. Kemotrapi dengan metotreksat 1 mg/kg intravena dan faktor sitrovorum 0.1 mg/kg intramuscular berselang-seling selama 8 hari bila kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah,diameter kantong gestasi kurang atau sama dengan 4 cm,perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100ml dan tanda vital baik.
G.evaluasi
• Keadaan umum ibu sudah mulai membaik
• TTV ibu masih dalam batas normal
• Ibu mengerti dengan pejelasan dokter
• Ibu bisa faham dengan penjelasan dari dokter
• Ibu mengerti dan dapat mengulang apa yang disampaikan oleh dokter.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavun uteri.hamil ini ditandai dengan amenore,gejala kehamilan muda dan perdarahan yang berwarna cokelat dan pemeriksaan vagina terdapat nyeri goyang bila serviks digoyangkan,nyeri pada perabaan dan kavum douglasi menonjol karena ada pembekuan darah.pada kasus seperti ini perlu segera ditangani dan di ambil tindakan.
B. SARAN
1. Diharapkan kepada kita semua tenega kesehatan apabila merasakan dan mengetahui gejala seperti yang telah di jelaskan / dituliskan oleh pembuat makalah ini agar segera menanganinya dengan cepat jangan di tunda karena dapat menimbulkan resiko tinggi.
2. Diharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
lihat artikel selengkapnya - Askeb Kehamilan Ektopik

Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi Ny ”M” Bayi Baru Lahir dengan BBLR Di Covise RS. Dr. M. Djamil Padang

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY ”M” BAYI BARU LAHIR DENGAN BBLR DI COVISE RS. DR. M. DJAMIL PADANG
TANGGAL 30-31 OKTOBER 2008














Oleh :


LISA ERVINA
06042562











POLITEKNIK KESEHATAN PADANG
DEPARTEMENT KESEHATAN RI
PADANG
2008

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT karena atas karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan maklah yang berjudul ‘’MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY ‘M’ DENGAN BBLR DI RUANG COVISE RSUP M DJAMIL PADANG TANGGAL 30 – 31 OKTOBER 2008 ‘ ini.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bu widdefrita selaku pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan petunjuk dalam pembuatan makalah ini.
2. Bu Rika Hardi Amd.keb yang telah memberikan kesempatan bagi penulis dan telah membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini.
3. Keluarga Misdawati dan bayinya yang telah bersedia membantu dalam kelancaran pembuatan makalah ini.
4. Seluruh staf di ruang covise RSUP M DJAMIL PADANG dan juga teman-teman yang banyak membantu.
i
Penulis menyadari dalm pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dalam pembuatan makalah ini lebih baik selanjutnya.
Penulis berharap dengan adanya makalh ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi semua pembaca dan dapat bermanfaat.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.


Wassalam

Penulis








ii


BAB I
PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) maupun bayi kurang bulan (BKB ) merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia.
BBLR sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia, karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Menurut SKRT 2001, 29 % kematian neonatal karena BBLR.
Masalah yang sering timbul sebagai penyulit BBLR adalah hipotermi, hiperbilirubinemia, hipoglikemi, infeksi / sepsis dan ganguan minum. Dengan banyaknya penyulit pada BBLR, kita harus dapat mencegahnya mulai dari meningkatkan pengetahuan ibu tentang BBLR dan langkah – langkah untuk mencegah hal tersebut.

I.2 TUJUAN
TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu :
v Menjelaskan tentang penyebab dan komplikasi BBLR
v Melakukan manajemen BBLR dengan berbagai penyulitnya sesuai dengan fasilitas yang tersedia.

TUJUAN KHUSUS
Mahasiswa memiliki kemampuan untuk :
v Menjelaskan beberapa penyebab dan factor predisposisi BBLR
v Mengidentifikasikan BBLR menurut masa gestasi
v Melakukan manajemen BBLR
v Melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan kemudian dianalisa dan ditentukan diagnosa kebidanan dengan menentukan prioritas masalah
v Menyusun rencana asuhan selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan klien sesuai dengan prioritas
v Melaksanakan dan menerapkan rencana yang telah ditentukan
v Mengevaluasi keefektifan semua rencana asuhan yang telah ditetapkan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

I. DEFENISI
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir ( BBL) dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram.
Berat lahir ( BL ) / Birth weight adalah berat badan bayi baru lahir yang di timbang sejak 0-24 jam setelah lahir.
Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR) / Very low birth weight infant adalah BBL dengan berat lahir kurang dari 1500 gram sampai 1000 gram.
Bayi berat lahir amat sangat rendah / BBLASR adalah BBL dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.
Bayi kurang bulan (BKB ) adalah BBL dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu (< 259 Hari).
Bayi imatur adalah BBL dengan usia kehamilan < 28 minggu.
Bayi cukup bulan ( BCB ) adalah BBL dengan usia kehamilan 37-42 minggu.
Bayi lebih bulan (BLB ) adalah BBL dengan usia kehamilan > 42 minggu .
BBLR dapat dikelompokan menjadi:
ü BBLR, BCB, SMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan.
ü BBLR, BCB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, kecil masa kehamilan.
ü BBLR, BKB, BMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, besar masa kehamilan.
ü BBLR, BKB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan.
ü BBLR, BLB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi lebih bulan, kecil masa kehamilan.

II. ETIOLOGI
Penyebab kelahiran bayi kurang bulan ( BKB ) sebagian besar belum diketahui. BKB pada kasus BBLR berhubungan dengan kondisi sebagai berikut:
· Ras
· Status social ekonomi
· Usia ibu
· Aktifitas ibu
· Ibu menderita penyakit akut / kronis
· Kehamilan multiple
· Kehamilan sebelumnya jelek
· Factor – factor kebidanan
· Kelahiran dini
· Factor janin
BBLR dapat disebabkan karena
· Persalinan kurang bulan / premature
Bayi lahir pada umur kehamilan antara 28- 36 minggu. Pada umumnya bayi kuragng bulan disebabkan karena tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang/ permatur.
· Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
Bayi lahir kecil untuk masa kehamilannya karena ada hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan ( janin tumbuh lambat). Retardasi pertumbuhan intrauterine berhubungan dengan keadaan yang mengganggu sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu. Keadaan ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan nutrisi secara kronik dalam waktu yang lam untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kematangan fungsi organ tergantung pada usia kehamilan walaupun berat lahirnya kecil
Etiologi BBLR, KMK :
a) Factor ibu
· Genetic
· Usia
· Ras
· Diluar pernikahan
· Sebelumnya BBLR
· Penyakit kronis factor yang mempengaruhi dan oksigenasi plasenta yaitu penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi/ HDK / REB.
· Merokok
· Kelainan eritrosit
· Penyakit paru – paru
· Penyakit kolagen vaskuler
· DM
· Lebih bulan
· Kehamilan multiple
· Anomaly rahim
· Penyakit vaskuler ibu
· Antibody anti fosfolipid
b) Lesi plasenta
· Skunder terhadap penyakit vaskuler ibu
· Kembar
· Malformasi
· tumor
c) Factor janin
· Konstitusi, normal ukuran bayi kecil genetic
· Kromosom abnormal
· Infeksi congenital ( TORCH)
· Rubella : 60% bayi KMK
· CMV : 40% bayi KMK
· Malformasi
· Kembar



III. KOMPLIKASI BBLR
Komplikasi penyakit BBLR sangat tergantung dari klasifikasi BBLR tersebut apakah:
a. BBLR, kurang bulan
b. BBLR, kecil masa kehamilan
c. BBLR, besar masa kehamilan

BBLR, BKB :
Pada bayi kurang bulan , system fungsi dan struktur organ tubuh masih sangat muda belum berfungsi optimal, sehingga akan muncul komplikasi / penyakit lain sbb:
· Asfiksia perinatal
· Susunan syaraf pusat
· Koplikasi pada saluran per nafasan
· Themoregulasi dan sumber panas
· Koplikasi pada kardiovaskuler
· Komplikasi saluran pencernaan
· Metabolisme
· Komplikasi hematologist
· Imunologis
· Penyakit ginjal
· Opthalmologis

BBLR, KMK :
· Depresi perinatal
· Aspirasi mekonium
· Perdarahan paru- paru
· Hipertensi paru- paru persisten
· Hipoksemia
· Hipoglikemia
· Hipokalsemia
· Hiponatremia
· Polisitemia





Table Gambaran tentang komplikasi BBLR
Anamnesis
Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang
Kemungkinan diagnosis
Bayi terpapar dengan suhu lingkungan yang rendah,waktu timbulnya kurang 2 hari







Kejang timbul saat lahir sampai dengan hari ke 3
Riwayat ibu diabetes
Menangis lemah
Kurang aktif
Malas minum
Kulit teraba dingin
Kulit mengeras kemerahan
Frekuensi jantung kurang 100 kali permenit
Nafas pelan dan dalam

Kejang, tremor, letargi atau tidak sadar
Suhu tubuh kurang 36,5 C











Kadar glucose darah kurang 45 mg/dl
Hipotermi












hipoglikemia
Ikterik
Timbul saat lahir sampai dengan hari ke 3
Berlangsung lebih dari 3 minggu
Riwayat infeksi maternal
Riwayat ibu pengguna obat
Riwayat ikterik pada bayi yang lahir sebelumnya
Kulit, konjungtiva berwarna kuning
pucat

Ikterus / hiperbilirubinemia
Ibu tidak dapat / tidak berhasil menyusui
Malas atau tidak mau minum
Waktu timbul sejak lahir

Kenaikan berat badan bayi < 20 gram/hr selama 3 hari
Masalah pemberian minum
Ibu demam sebelum dan selama persalinan
KPD
Persalinan dengan tindakan
Timbul asfiksia pada saat lahir
Bayi malas minum
Timbul pada saat lahir sampai 28 hari

Bila ditemukan beberapa dari temuan ganda:
Bayi malas minum
Demam tinggi
Bayi letargi kurang aktif
Gangguan nafas
Sklereman/ skleredema/
kejang
Laboratorium darah
Infeksi / curiga sepsis
Bayi KMK / lebih bulan
Air ketuban bercampur mekonium
Lahir dengan riwayat asfiksia
Lahir dengan asfiksia
Air ketuban bercampur mekonium
Tali pusat berwarna kuning kehijauan
Bila bersedia : pemeriksaan radiology dada
Sindroma aspirasi mekonium



IV. DIAGNOSA BBLR
Menentukan usia kehamilan berdasarkan :
· Perhitungan HPHT : tanggal +7, bulan -3, tahun +1
· Maturitas fisik dan neurologist bayi paska natal dengan skor dubowitz, ballard maupun simplified dubowitz.

DIAGNOSTIK
Anamnesis :
· Umur ibu
· Riwayat persalinan sebelumnya
· Jumlah paritas, jarak kelahiran sebelumnya
· Kenaikan BB selama hamil
· Aktivitas
· Penyakit yang diderita selama hamil
· Obat- obatan yang diminium selam hamil
Pemeriksaan fisik:
· Berat lahir < 2500 gram
· Untuk BBLR kurang bulan

Tanda permaturitas :
ü Tulang rawan telinga belum terbentuk
ü Masih terdapat lanugo
ü Refleks masih lemah
ü Alat kelamin luar : pada perempuan labium mayus belum menutup labium minus. Pada laki-laki belum terjadi penurunan testis dan kulit testis rata ( rugae testis belum terbentuk )
· Untuk BBLR kecil untuk masa kehamilan
Tanda janin tumbuh lambat :
ü Tidak dijumpai tanda prematuritas
ü Kulit keriput
ü Kuku lebih panjang
V. PENGELOLAAN BBLR
Meliputi tiga tahap :
· Ante / intrapartum
· Di kamar bersalin
· Pengelolaan dikamar bayi

1. Pengelolaan ante / intrapartum
Setiap kehamilan di pertahankan sampai aterm.
Apabila ada gawat janin, kehamilan dipertahankan paling tidka sampai maturitas janin optimal setelah usia kehamilan lewat 35 mg, dimana organ tubuh dapat berfungsi optimal di luar rahim.
Karena kendala utama perawtan bayi kurang bulan di negara berkembang adalah adanya komplikasi penyakit membran hyalin.
a.Jika terjadi gawat janin
- Dilakukan resusitasi intrauterine
- Kehamilan dicoba dipertahankan dengan pemberian tokalitik dan mencegah infeksi dengan antibiotik yang aman buat bayi
b. Kehamilan < 35 mg dan tidak dapat dipertahankan untuk mempercepat pemasangan paru-paru janin, ibu diberi kotrikosteroid dosis tunggal
c.Beberapa jam sebelum persalinan di mulai

- Bagian UPF anak diberi informasi bahwa akan lahir bayi BKB/ BBLR serta akan lahir dari ibu-ibu dengan resiko seperti:
KPD
Ibu HDK
PEB
Dekomposisi cordis
TBC infeksi TORCH
2. Dikamar bersalin
Sebelum bayi lahir yang harus dilakukan adalah:
a) Menyiapkan alat-alat resusitasi
- Paramedis menyiapkan aat resusitasi dan fasilitas perawatan bayi apakah lengkap/ tidak dan berfungsi / tiak
- Meja resusitasi, lampu penghangat dan penerang
- Pengisap lendir disposable dan suction pump bayi
- Ambulans incubator
- O2 dengan flow meter
- Status, tanda identitas bayi-ibu
- Informasikan ke perawatan intensif akan ada BKB/ BBLR untuk perawatan bayi
Dokter anak mencek semua persiapan
Tim resusitasi sudah siap
b) Resusitasi
- Agak berbeda resusitasi BKB dan BCB
BKB memerlukan:
Intervensi lebih cepat dan proaktif
Stabilisasi suhu dan oksigenasi
- Lakukan resusitasi
- Tentukan apgar skor dan prognosis bayi
c) Paska resusitasi
- Lakukan pemeriksan fisik diagnostik
- Tentukan masa gestasi berdasarkan skor Dubowita/ modifikasi
- Tentukan pertumbuhan janin berdasarkan kurva lubchenco
- Lakukan diagosa kerja
- Lakukan perawtan talipusat dengan antibiotik
- Tetes maya yang mencegah infeksi go
- Vitamin K
- Beri indentifikasi pada ibu dan bayi
d) Indikasi perawatan BKB, BBLR sesuai masa gestasi, berat lahir dan klinis kondisi BKB/ BBLR, bayi dirawat dalam 3 tempat perawatan.
- Perawatan I/ raawt gabung/ rooming in
- BBLR sampai 2250 gr, sehat tanpa komplikasi dirawat gabung
- Perawatan II
- BBLR-BBLSR è perawawatan khusus
- Perawatan III/ intensiv

Secara umum perawatan BKB BBLR sebagai berikut:
1) Mempertahankan suhu tubuh optimal
2) Memenuhi kebutuhan O2
3) Memenuhi kebutuhan Nutrisi
4) Mengatasi hiperbilirubinemia
5) Memenuhi kebutuhan psikologis
6) Mencegah dan mengatasi timbulnya PDA
7) Melibatkan perawatan kedua orang tua
8) Progam imunisasi

Kotak suhu inkubator berdasarkan BB dan umur
BB
Suhu Inkubator
35oC
34oC
33oC
32oC
< 1500 gr
1500-2000 gr
2100-2500
> 2500
1 – 10 hr
11 – 13 mg
1 – 10 hr
1 – 2 hr
3 – 5 mg
11 hr – 4 mg
3 hr – 3 mg
1 – 2 hr
> 5 mg
> 4 mg
> 3 mg
> 2 hr

VI. MANAJEMEN UMUM
Setiap menemukan BBLR, lakukan manajemen umum sebagai berikut:
- Stabilisasi suhu, jaga bayi tetap hangat
- Jaga jalan napas tetap bersih dan terbuka
- Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vitalnya: pernapasan, denyut jantung, warna kulit dan aktifitasnya
- Bila bayi mengalami gangguan napas, dikelola gangguan napas
- Bila bayi kejang, potong kejang dengan anti konvulsna
- Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi i.v.
- Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi i.v.
- Kelola sesuai dengan kondisi spesifik atau komplikasinya

Pemberian minum
- Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara papaun
- Periksa apakah bayi puas setelah menyusu
- Catat jumlah urine setiap bayi kencing untuk menilai kecukupan minum (paling kurang 6 kali sehari)
- Timbang bayi setiap hari, hitung penambahan/ pengurangan berat, sesuaikan pemberian cairan dan susu, serta catat hasilnya.
- Bayi dengan berat 1750-2500 gr tidak boleh kehilangan berat lebih 10 % dari berat lahirnya pada 1-5 hari pertama
- Apabila bayi telah menyusu ibiu, perhatikan cara pemberian ASI dan kemampuan bayi mengisap paling kurang sehari sekali
- Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/ hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.

Berta lahir 1750-2500 gram
Bayi sehat
- Biarkan bayi menyusu ke ibu semau bayi ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering (misal setiap 2 jam) bila perlu.
- Patau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektivitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat mengisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bayi sakit
- Bila BB 1750-2000 gram atau lebih dengan gangguan napas, kejang dan gangguan minum segera dirujuk
- Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat
- Apabila bayi memerlukan cairan IV:
- Hanya berikan cairan IV selama 24 jam pertama
- Mulai berikan munum per oral pada hari 2 segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusui.
- Berikan cairan IV dan Asi menurut umur, lihat tabel
- Beirkan munum 8 kali dalam 24 jam (misal 3 jam sekali), apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/ kg berat badan per hari tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum.
- Biarkan bayi menyusui apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
Pemantauan
1. Kenaikan berat badan dan pemberian munum seteah umur 7 hari
- Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama. Bayi berat lahir > 1500 g dapat kehilangan BB sampai 10 % dari berat lahir. Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi.
- Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berta badan selama tiga bulan seharusnya.
150-200 g seminggu untuk bayi < 1500 g (mislanya 20-30 g/ hari)
200-250 g seminggu untuk bai 1500-2500 g (misalnya 30-35 g/ hari)
- Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat) dan telah berusia lebih dari 7 hari.
Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 ml/ kg/ hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari.
Tingkatkan jumlah ASI sesuai kenaikan berat badan bayi agar jumlah pemberian Asi tetap 180 ml/kg/hari
Apabila kenaikan berat tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 ml/kg/hari
Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah disebutkan di atas dlaam waktu lebih seminggu padahal bayi sudah mendapa ASI 200 ml/ kg BB per hari, tangani sebagai kemungkinan kenaikan bera badan tidak adekuat.
2. Tanda kecukupan pemberian ASI
- Kencing minimal 6 kai dalam 24 jam
- Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI
- Peningkatan berat bada setelah 7 hari pertama sebanyak 20 gram setiap hari.
Pemulangan penderita:
- Bayi suhu stabil
- Toleransi munum per oral baik, diutamakan pemberian ASI, bila tidak bisa diberikan ASI dengan cara menetek dapat diberikan dengan alternatif cara pemberian minum yang lain
- Ibu sanggup meraawt BBLR di rumah.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY “ M “
B A Y I B A R U L A H IR D E N G A N B B L R
DI COVISE RS DR M DJAMIL PADANG
TANGGAL 30 – 31 OKTOBER 2008

I. PENGUMPULAN DATA
A. IDENTITAS / BIODATA
Nama bayi : bayi ny “ M”
Umur : 8 hari
Jenis kelamin : perempuan
Tanggal lahir : 22 oktober 2008
Jam lahir : 17.05 wib
BB : 1400 gr
PB : 40 cm

Nama ibu : ny “M”
Umur : 36 th
Agama : islam
Suku : minang
Bangsa : indonesia
Pendidikan : SMU
Pekerjaan : IRT
Alamat : kapalo koto pauh no. 29

Nama suami : tn “Z “
Umur : 36 th
Agama : islam
Suku : minang
Bangsa : indonesia
Pendidikan : SMU
Pekerjaan : swasta
Alamat : kapalo koto pauh no. 29

B. DATA SUBJEKTIF
Tanggal : 30 oktober 2008
Pukul : 14.00 wib
1. Riwayat penyakit kehamilan
· perdarahan : tidak ada
· pereklamsi : ada
· eklamsi : tidak ada
· lain-lain : tidak ada
2. kebiasaan waktu hamil
· makan : tidak ada
· obat / jamu : tidak ada
· merokok : tidak ada
· lain-lain : tidak ada
3. riwayat persalinan sekarang
· jenis persalinan : SC
· di tolong oleh : dokter
· lama persalinan
Ø kala I : -
Ø kala II : -
Ø kala III : -
Ø kala IV : -
· ketuban pecah
· komplikasi persalinan
Ø ibu :ada
Ø Bayi :-

· keadaan BBL
apgar skor : 5/6
4. resusitasi
· pembersihan jalan nafas : ada
· ambu : tidak ada
· masase jantung : tidak ada
· intubasi endotrakeal : tidak ada
· oksigen : ada

C. DATA OBJEKTIF
KU : baik
Nadi : 122 X/ menit
Suhu : 36,8 C
Nadi : 50 x/mnt
BB : 1400 gram
PB : 40 cm
Pemeriksaan fisik secara sistematik :
· Kepala : tidak ada kelainan
· Ubun – ubun : datar
· Muka : tidak oedema
· Mata : konjungtiva tidak anemis,
sclera tidak ikterik
· Telinga : tidak ditemukan
kelainan,telinga
masih lunak bila diraba
· Mulut : normal dan tidak ada kelainan, daya isap bayi normal.
· Hidung : tidak ditemukan adanya
kelainan
· Leher : tidak pembesaran kelenjar
tiroid dan kelenjar limfe
· Dada : simetris, putting susu ada
· Tali pusat : tidak ditemukan adanya tanda infeksi
· Punggung : tidak ada kelainan, tulang punggung teraba lurus
· Extremitas : jumlah jari cukup, tidak ada
ditemukan kelainan.
· Genitalia : tidak ada kelainan
· Anus : ada
Reflek :
· Reflek moro : +
· Reflek rooting : +
· Reflek grasping : +
· Reflek sucking : +
· Reflek tonick neck : +

Antropometri
· Lingkar kepala : 23,5 cm
· Lingkar dada : 23 cm
· Lingkar lengan atas : 13 cm
Eliminasi
· Miksi : +
· Mekonium : +



MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY “ M”
B A Y I B A R U L A H I R D E N G A N B B L R
DI COVISE RS DR. M DJAMIL PADANG
TANGGAL 30-31 OKTOBER 2008


DATA DASAR
INTER PRETASI DATA
ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
TINDAKAN SEGERA

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

EVALUASI
Tanggal :30 oktober2008
Pukul : 14.00 wib

DS :
Ø Keluarga mengatakan ibu bayi sudah meninggal
Ø Keluarga mengatakan bayi lahir dengan operasi
Ø Berat lahir 1400 gram.

DO :
Ø Keadaan cukup aktif
Ø Nadi 122 x/i
Ø Suhu 36,8 c
Ø Nafas 50 x/i
Ø Sesak tidak ada
Ø Kejang tidak ada
Ø Kepala : UUB datar
Ø Muka : tidak odema
Ø Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Ø Leher : tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan kelenjar limfe
Ø Dada : simetris, putting susu ada
Ø Extermitas : tidak ada kelainan
Ø Anus : ada
Diagnosa :
Bayi baru lahir dengan BBLR, ku sedang.

Dasar :
Ø Berat lahir 1400 gr
Ø Keadaan cukup aktif
Ø Suhu 36,8 c
Ø Nafas 50x /i
Ø Nadi 122x/i

Masalah :
ASIuntuk bayi

Dasar

Keluarga mengatakan ibu bayi sudah meninggal


Diagnosa potensial :
Terjadi komplikasi seperti hipotermi, ikterus, aspiksia dll
Kolaborasi dengan dokter anak dalam menghadapi permasalahan yang ada pada bayi dan dalam peresepan obat.
1. Beritahu keluarga tentang keadaan bayi berdasarkan hasil pemeriksaan










2. beri penjelasan Pada keluarga mengenai masalah yang dihadapi bayinya kini







3. hangatkan tubuh bayi di dalam incubator








4. beri bayi minum










5. beri terapi






6. jaga personal hygiene bayi





7. cegah terjadinya infeksi pada bayi monitor TTV










8. kolaborasi dengan dokter anak


1. memberitahukan keluarga mengenai keadaan bayinya saat ini bahwa keadaan anaknya sudah membaik.
Bayinya sudah cukup aktif
Nadi 122x/i
Suhu 36,8 c
Nafas 50x/i
Berat badan bayi masih kurang dari normal.
2.memberi panjelasan pada keluarga mengenai masalah yang dihadapi bayinya kini adalah BBLR yaitu berat badan lahir rendah. Hal ini jika tidak cepat di tangani akan dapat menimbulkan komplikasi.
3.menghangatkan tubuh bayi dalam incubator dengan suhu yang sudah di atur yaitu 35 c sesuai dengan suhu incubator berdasarkan berat badan dan umur.


4.Memberi bayi minum dengan ASI donor yang di antar oleh keluarga setiap waktu pemberian melalui sonde sesuai takaran yang ditentukan dan sesuai dengan waktunya.
5.memberi terapi obat- obatan pada bayi yaitu :
Ampisilin 2x25 gr
Gentamisin 1x 7gr
Apyalis 1x 0,3 cc
OMz 1x 0,6 cc
6.menjaga personal hygiene bayi dengan membersihkan dan mengganti pempers yang terkena BAB dab BAK
7.mencegah terjadi nya infeksi pada bayi dengan:
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
- Mmebatasi pengun jung masuk ke tempat bayi
- Memastikan ruang an bayi selalu bersih
Kolaborasi dengan dokter anak dan memonitor TTV bayi dengan meng ukur suhu, nadi, nafas


Keluarga terlihat agak senang mendengar perkembagan anaknya











Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan









Bayi sudah dihangat kan di dalam inkubator









Bayi sudah diberi minum









Obat-obatan sudah diberikan





Pempers ada diganti tiap BAB dan penuh tiap BAK




Pencegahan infeksi ada dilakukan











Pukul 18.00 WIB
Nadi: 121 x/mnt
Nafas: 50 x/mnt
Irama jantung teratur
Suhu : 36,5 oC
Sianosis tidak ada
Sesak tidak ada
Tanggal 31-11-2008
Pukul 14.00 WIB

Ds:
- Bayi tampak tenang
- Sesak nafas (-)
- Demam tidak ada
- Kejang (-)

Do:
- Keaan cukup aktif
- Nadi: 120 x/mnt
- Suhu : 37oC
- Nafas: 46 x/mnt
- Mata: tidak anemis, tidak ikterik
- Extremitas: akral hangat
- BB: 1100 gr



1. Beritahu keluarga tentang kedaan bayinya berdasarkan hasl pemeriksaan









2. Beritahu keluarga tentang masalah yang dihdapi bayinya











3. Beri bayi minum









4. Hangatkan tubuh bayi





5. Beri bayi terapi












6. Jaga personal Hygiene bayi








7. Cegah terjadinya infeksi pada bayi







8. Pantau TTV




9. Kolaborasi dengan dokter anak


1. Memberitahu kan keluarga mengenal keadaan bayinya saat ini bahwa anaknya sudah membaik dan cukup aktif
Nadi: 120 x/mnt
Suhu: 37oC
Nafas: 46 x/mnt
Bayi tidak sesak

2. Memberitahu keluarga tentang masalah yang dihadapi bayinya yaitu berat badan kurang dari berat badan lahir. Hal ini jika tidak ditangani akan dapat menimbulkan komplikasi

3. Memberikan ASI donor/ SF pada bayi melalui sonde sesuai akaran yang ditentukan dan sesuai dengan waktunya

4. Menghangatkan bayi di dalam inkubator dengan suhu yang sudah diatur

5. Memberikan terapi obat-obatan pada bayi

Ampisilin 2 x 25 gr
Gentamisin 1 x 7 gr
Apyalis 1 x 0,3 cc
OMZ 1 x 06 gr

6. Menjaga personal higiene bayi dnegan membersihkan dan mengganti pempers yang terkena BAB dan BAK


7. Mencegah terjadinya infeksi pada bayi dengan cara mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi

8. Memantau TTV bayi



9. Kolaborasi dengan dokter anak untuk pemantauan perkembangan anak dan dalam pemberian resep obat
Keluarga terlihat agak senang mendengar perkembangan anaknya










Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan












Bayi sudah diberi minum








Bayi sudah dihangat kan dibawah alat pemancar panas




Obat-obatan sudah diberikan











Pempers ada diganti tiap BAB dan penuh tiap BAK







Pencegahan infeksi ada dilakukan







Pukul 18.00 WIB
Suhu 36,7 o C
Nadi: 120 x/ mnt
Nafas 47 x/mnt

Kolaborasi dilakukan


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
- BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB lahir < 2500 gr
- Etiologinya berhubungan dengan kondisi sebagai berikut:
· Sosial ekonomi rendah
· Ras
· Usia
· Aktivitas
· Ibu menderita penyakit akut/ kronis
· Kehamilan multipel
· Kehamilan sebelumnya jelek
· Faktor-faktor kebidanan
· Faktor janin
· Kelahiran dini
- Etologinya ada 3 faktor yaitu
- Faktor ibu
- Lesi plasenta
- Faktor janin
- Komplikasi BBLR tergantung dari klasifikasi BBLR
- Pengelolaan BBLR meliputi 2 tahap yaitu
- Ante/ intrapartum
- Dikamar bersalin
- Pengelolaan dikamar bayi

3.2. Saran
Dengan adanya makalah tentang BBLR ini diharapkan pada petugas dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan prinsip pengelolaan BBLR. Pada keluarga pasien setelah pulang ke rumah dapat memantau perkembangan bayinya, terutama penambahan berat badan bayinya.
lihat artikel selengkapnya - Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi Ny ”M” Bayi Baru Lahir dengan BBLR Di Covise RS. Dr. M. Djamil Padang

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: