KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Reproduksi (Kespro). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Reproduksi (Kespro). Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2010

Remaja Berkepribadian Lemah dan Narkoba

Remaja Berkepribadian Lemah dan Narkoba: "

Anjuran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui pesan layanan singkat (SMS) untuk menghentikan penyalahgunaan dan kejahatan narkoba membuat orangtua harus meningkatkan kewaspadaan terhadap remaja yang rentan penyalahgunaan narkoba.

Masalah pokok remaja berpangkal pada pencarian identitas diri. Mereka mengalami krisis identitas karena untuk dikelompokkan ke dalam kelompok anak-anak merasa sudah besar, namun kurang besar untuk dikelompokkan dalam kelompok dewasa. Identitas diri adalah kepastian posisi sosial dalam lingkup pergaulan di mana seseorang berada.


Sejauh mana remaja mampu meraih identitas dirinya, tergantung dari sejauh mana remaja mampu mengendalikan luapan emosi saat merasa tersinggung oleh seseorang di sekitarnya; menempatkan diri dengan wajar dalam relasinya dengan teman sebaya; memperoleh tokoh idola untuk pencapaian identitas diri yang mantap, baik dalam kelompok rekan sebaya (peer) atau dalam keluarga; menerima diri apa adanya; mengendalikan intensitas emosi yang kurang menguntungkan karena keterbatasan tersebut dengan mengompensasi melalui pencapaian prestasi sekolah/sosialnya.


Selain itu sejauh mana mampu mengendalikan melambungnya ambisi dan angan-angan karena meningkatnya kebutuhan perkembangan sosialisasi; mengenali dan mendapat peluang melatih pengendalian kebutuhan biologis baru, dalam hal ini dorongan seksual, tanpa mengurangi pemanfaatan lingkungan pergaulan guna mencapai kemampuan sosialisasi seoptimal mungkin; serta merasa memperoleh pengertian dan dukungan orangtua dan keluarga dalam kondisi kerentanan oleh krisis identitas tersebut.


Bila jawaban atas pertanyaan tersebut meragukan, maka remaja akan terjebak dalam perkembangan pribadi yang ”lemah” dan rentan penyalahgunaan narkoba.


Hambatan proses sosialisasi bisa disebabkan faktor internal (psikis) maupun faktor eksternal (fisik).


Hambatan dalam proses sosialisasi merupakan manifestasi kelemahan fungsi kepribadian yang menyebabkan labilitas emosional sehingga tingkat toleransi stres pun relatif rendah. Ia mudah menyerah, kurang memiliki daya juang, dan rendah ketekunannya dalam belajar mengatasi masalah. Remaja tipe ini rentan terhadap pengaruh penyalahgunaan narkoba.


Penyebab lain


Beberapa penyebab lain adalah dinamika relasi khas antara faktor psikis dan fisik yang kurang menguntungkan remaja. Misalnya, badan terlampau gemuk atau kurus, sikap tertutup, teman terbatas, prestasi belajar antara sedang ke kurang, dan kurang berani menghadapi tantangan


Anak tipe ini biasanya kurang percaya diri sehingga rawan pemerasan/pemalakan. Awalnya dipaksa menyerahkan uang jajan sampai akhirnya dipaksa mencuri di rumah.


Hasil pemerasan langsung dibelikan narkoba dan sering terjadi anak dipaksa mencoba minuman keras atau narkoba yang dibeli dari hasil rampasan/pemerasan tadi.


Terbentuk pula kedekatan emosional anak dengan anggota geng lain dan jadilah ia anggota walaupun hanya anak bawang. Karena merasa harus diterima dalam lingkungan pergaulan, sikap loyal terhadap geng semakin kuat. Apa pun yang diminta rekan satu geng akan dipenuhi, apa pun korbannya. Kondisi ini diikuti peningkatan frekuensi bolos sekolah dan barang berharga di rumah menjadi kurang aman.


Beberapa faktor internal mirip hal di atas, tetapi keanggotaan terhadap geng diperoleh dengan pendekatan lebih luwes. Misalnya, anak diajak naik motor, diajari naik motor atau main gitar, untuk kemudian dijadikan obyek pemerasan. Karena khawatir kehilangan teman bermain, segala yang diminta pimpinan geng akan ia penuhi, termasuk merokok dan kemudian menggunakan narkoba.


Remaja yang sejak awal pubertas menunjukkan kurang suka belajar, sering bolos, dan menyukai permainan seperti pachinko atau permainan lain yang mengandung unsur perjudian biasanya mengalami ketidakpuasan emosional di rumah dan tidak mampu mengatasi permasalahan remaja dan gejolak jiwa remajanya. Ia frustrasi dan gelisah.


Keadaan ini sering dilatari sikap keluarga yang kurang sempat memerhatikan anak remajanya dan kurang memberi dukungan kasih serta perhatian bagi anak remaja untuk menyelesaikan masalah remaja tersebut. Keadaan frustrasi ini membuka peluang penggunaan narkoba sebagai cara remaja menyelesaikan masalahnya. Bila akhirnya keluarga mengetahui, reaksi lanjut pihak keluarga biasanya lebih tidak menguntungkan. Artinya, remaja semakin tenggelam dalam penggunaan narkoba sebagai jalan keluar masalahnya.


Remaja yang pada dasarnya memiliki predisposisi kondisi mental psikopat, artinya dari sejak usia 10-11 tahun sudah melakukan perjalanan jauh sendiri tanpa direncanakan, sering ”kabur” dari rumah, pergi tanpa pamit, menghamburkan uang saku, dan biasanya mendapat uang itu sebagai hasil curian. Manakala uang habis, ia akan kembali ke rumah dengan air muka seolah tidak bersalah.


Remaja dengan kecenderungan fungsi kepribadian psikopat tidak segan melakukan kekerasan dan mengancam. Remaja tipe ini pun rawan penyalahgunaan narkoba karena di bawah pengaruh narkoba remaja merasa keberaniannya bertindak antisosial dan agresi semakin meningkat.


Karena itu, waspadalah orangtua dan keluarga. Beri dukungan, kasih, dan pengertian yang pas kepada remaja kita agar tidak terjebak lingkup perkembangan pribadi yang lemah dan rentan penyalahgunaan narkoba.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Remaja Berkepribadian Lemah dan Narkoba

Jangan Buru-buru Cium Gue…

Jangan Buru-buru Cium Gue…: "

Jangan keburu grusa-grusu dulu. Kalimat di atas bukan judul sekuel kedua film Buruan Cium Gue yang dikoyak-koyak dari peredaran beberapa waktu lalu. Melainkan sari berita baik dan buruk tentang dunia cium-mencium.


Boleh percaya boleh tidak, fakta di balik ciuman ternyata lebih bikin deg-degan ketimbang fimnya!


Berita baiknya dulu, silakan catat, ciuman bisa membuat pelakunya lebih sehat, secara fisik maupun psikis. Artinya, di samping untuk memuaskan hasrat, ciuman memang punya manfaat nyata. Tapi, ada tapinya lo, ciuman itu ternyata bisa juga menjadi vektor (perantara) menularnya penyakit-penyakit tertentu. Yang kalau disepelekan, dampaknya bisa menyeramkan.


Bahaya pakai lidah



  • Ciuman, apa pun gayanya, tentu melibatkan kontak bibir. Kecuali ciuman jarak jauh, atau cium kangen yang dititipkan pada surat cinta atau angin puting beliung.


Saat kontak bibir itulah, proses penularan sejumlah penyakit sangat mungkin terjadi. Memang prosesnya tidak bisa disamaratakan untuk semua penyakit. Namun, tetap saja harus membuat siapa pun orangnya, berhati-hati sebelum mencium.


Misalnya, saat mencium orang yang riwayat kesehatannya belum diketahui secara pasti, seperti pacar baru, calon pacar, kenalan di bioskop, teman lama yang telah 15 tahun tak bertemu, dan sejenisnya. Kalau nekat, apalagi dilakukan di depan umum, bukan cuma da’i kondang Aa Gym yang bakal tidak setuju, drg. Sunarso B., M.Sc., ahli mikrobilogi oral dari Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia pun geleng-geleng kepala.


Menurut Sunarso, penularan penyakit lewat ciuman memang kerap ditanyakan awam. Pertanyaan yang paling sering diajukan, apakah ciuman bisa menularkan virus HIV/AIDS? Masih kata Sunarso, hingga saat ini kalangan dokter baru meyakini empat media penularan HIV/AIDS. Yakni lewat hubungan seksual (heteroseksual maupun homoseksual), tranfusi

darah, pemakaian jarum suntik secara bersama-sama, dan lewat plasenta (dari ibu ke bayi yang dikandung).


Transmisi HIV lewat ciuman sampai saat ini belum bisa dibuktikan. Barangkali, karena jumlah virus HIV di dalam air ludah relatif lebih kecil ketimbang di dalam darah, air mani, atau cairan vagina. Selain itu, air ludah mengandung bahan-bahan penghambat pertumbuhan mikroorganisme, seperti enzim lisosim dan laktoperosidase, serta sekretori imunoglobulin-A. Sebab lainnya, virus HIV hanya bermarkas di dalam sel limfosit-T, yang daerah kekuasaannya ada di dalam darah.


Menurut Sunarso, jika ciuman hanya berupa cipok, ciuman ringan, kecupan sayang, cium kening, pipi, atau bibir luar saja, HIV diyakini tidak menular. Tetapi jika aksinya menjurus pada french kissing yang penuh birahi dan menyertakan lidah sebagai faktor penambah nikmat, sehingga terjadi pertukaran cairan mulut, maka bisa saja HIV bermigrasi. Lebih-lebih jika terdapat luka di mulut, baik berupa lecet ringan, seriawan, maupun radang.


Celakanya, keberadaan luka kadang tidak disadari. Bisa karena begitu kecil, sehingga tidak dirasa sama sekali. Namun, karena ukuran virus atau bakteri jauh lebih renik, maka luka sekecil apa pun tetap bisa menjadi jalan masuk bagi makhluk-makhluk tak kasat mata telanjang ini.


Di luar HIV, masib ada sederet lagi penyakit infeksi yang bisa menular lewat french hissing. Dari deretan virus, misalnya, terdapat hepatitis (A, B, maupun C), dan herpes labialis. Balikan menurut Sunarso, keduanya memiliki risiko penularan lebih tinggi daripada HIV. Dari kelompok bakteri, ada sifilis, gonore (GO), dan tuberkulosis. Sedangkan dari kelas jamur ada Candida albicans.


Romantis tapi mematikan



  • Umumnya penyakit yang menular lewat ciuman adalah penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan infeksi.


Hal ini wajar, karena makhluk-makhluk “halus” itu memang suka sekali keluyuran dari satu korban ke korban lain dengan cara menumpang cairan tubuh. Namun, meski tak ada riwayat infeksi, setiap orang tetap harus berhati-hati, terutama mereka yang alergi terhadap makanan tertentu.


David Steensma, dokter ahli hematologi di RS Mayo Clinic, Amerika Serikat, pernah melaporkan sebuah kasus unik.


Dia menangani seorang wanita muda (20 tahun) yang masuk instalasi rawat darurat akibat terlalu hot berciuman, dan jelas bukan sembarang ciuman. Ternyata, satu jam sebelum masuk rumah sakit, si cewek mendapat kado dari kekasihnya.Kadonya begitu istimewa, ciuman selamat malam yang sangat menggairahkan.



Namun, selang satu menit kemudian, muncul reaksi alergi di bibirnya, yang makin lama makin parah. Disusul kulit memerah, perut kram, tenggorokan bengkak, dan saluran napas menyempit sehingga dia susah bernapas. Kepada Steensma, si cewek mengaku punya riwayat alergi udang dan kerang-kerangan. Usut punya usut akhirnya ketahuan, ciuman fantastis itulah biang keladinya. Karena “kado mematikan” itu dihadiahkan kurang dari satu jam setelah si cowok makan udang.



Lewat kontak mulut, bahan alergen dari udang tampaknya ngelencer dari mulut si cowok ke mulut pacarnya. Kasus ini sekaligus membuktikan, pengidap alergi makanan wajib waspada tidak hanya terhadap apa yang dimakan, tapi juga berhati-hati terhadap orang yang menciumnya. Kecuali memang ingin berurusan dengan selang infus rumah sakit.


Namun, seperti dibilang Bryant Stamford, Ph.D., profesor dan direktur Health Promotion Center di University of Louisville, dampak ciuman tak 100% menakutkan. Soalnya, pada saat melakukan ciuman, kecepatan metabolisme meningkat dua kali lipat. Artinya, pembakaran kalori juga meningkat. Meski demikian, Stamford mengingatkan, ciuman belum cukup dijadikan sebagai pengganti joging atau olahraga kardiovaskuler lainnya. “Semua hal bisa mempercepat detak jantung. Itu hanya masalah adrenalin,” tandasnya.


Sementana Joy Davidson, Ph.D., psikolog dan seksolog di Seattle mengatakan, “Ciuman adalah meditasi sensual yang bisa meredakan ketegangan pikiran.” Ketika seseorang melakukannya dengan orang yang ia cintai, suami atau istrinya, tubuhnya akan mengalami perubahan fisiologis yang mirip ketika melakukan meditasi. Jika dilakukan secara rutin, tradisi sun sing suwe yang dilandasi kasih sayang bisa membuat pelakunya lebih berdaya tahan, awet muda, dan panjang umur.


Jelas sudah, berciuman memang tidak bisa dilakukan sembarangan. Yang paling penting, pastikan yang Anda cium bukan pacar, istri, atau suami orang!

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Jangan Buru-buru Cium Gue…

JENIS-JENIS NARKOBA DAN BAHAYANYA

JENIS-JENIS NARKOBA DAN BAHAYANYA: "

Ancaman bahaya Narkoba memang tidak pandang usia, bahkan sampai saat ini telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat termasuk dilingkungan TNI. Untuk itu perlunya langkah dan tindakan untuk memeranginnya yang salah satu diantaranya masyarakat harus mengenali jenis-jenis narkoba agar dapat melakukan tindakan pencegahannya yang tepat, baik terhadap peredaran maupun pencegahan agar tidak mejadi korban keganasan narkoba.


2


Namun sebelum kita dapat melakukan tindakan pencegahan, terlebih dahulu perlunya pemahaman yang benar terhadap apa itu Nakoba. Pengertian narkoba (narkotika dan bahan adiktif) menurut Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama (Bersama) terbitan 2005 adalah merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan . Mengingat banyaknya jenis narkoba baik yang berasal dari tumbuhan maupun bahan kimia sintetis dan semi sintetis, maka masing-masing keluarga perlu mengetahui jenis-jenis narkoba yang banyak beredar di masyarakat.


Jenis-jenis narkoba.


Secara umum jenis narkoba itu dapat dikelompokan dalam tiga golongan yaitu : Bahan berbahaya, Psikotropika dan narkotika. Berbagai jenis narkoba yang perlu kita waspadai dan telah banyak beredar dipasaran meliputi :


1. Bahan berbahaya. Adalah zat atau bahan yang berasal dari bahan kimia atau biologi, baik dalam bentuk tunggal maupun campuran yang dapat membahayakan kesehatan tubuh dan lingkungan hidup. Yang termasuk dalam golongan bahan berbahaya ini adalah :


• Minuman keras. Adalah semua jenis mengadung alcohol yang kadar prosentasenya berkisar antara 1 % – 50 % . Jenis minuman yang banyak beredar dipasaran antara lain : Bir dan Green sand ( kadar alakoholnya 1% -5 %), Martini dan Wine atau anggur (kadarnya antara 5 % – 20 %),sedang Whisky brandy kadar alkoholnya antara 20 % – 50%.


• Nikotin. Adalah merupakan bahan adiktif seperti k0okain dan heroin. Yang paling umum terdapat pada tembakau yang dihsap dalam bentuk rokok maupun cerutu. Nikotin sangat beracun (toksik) yang dalam dosis 60 mg pada orang dewasa dapat mematikan karena kegagalan pernafasan.


• Volatile solvent atau inhalensia. Adalah zat adiktif yang pada umumnya berbentuk cairan yang mudah menguap diudara terbuka. Uapnya ini yang membahayakan dan contoh yang banyak beredar dipasaran seperti : lem uhu, acetone,aica aibon, castol dan dan premix.


• Dan zat desainer. Adalah obat ramuan jalanan yang dapat menimbulkan kecanduan. Misalnya : speed ball, peace pills, crystal, angle dust, rocketfuel dll.


2. Psikotropika. Adalah obat baik alamiah atau sintetis yang bersifat psikoaktif yang melalui pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktifis mental dan perilaku. Bahan ini dapat menimbulkan depresi mental, merangsang (stimulasi) gangguan syaraf dan menimbulkan halusinasi atau daya khayalan tentang kindahan yang luar biasa. Jenis-jenis psikotropika yang populer dan banyak beredar di masyarakat serta dikonsumsi oleh para remaja adalah :


• Ecstacy : zat ini juga dikenal dengan XTC yang nama kimianya adalah 3-4 Methylene Dioxy Vethil Amphetainine. Yang mengkonsumsi barang ini seluruh tubuhnya terasa melayang-layang dan menghilangkan perasaan malu,sehingga berani tampil percaya diri . Yang ada dibnaknya hanyalah pikiran yang kosong, rilex dan bayangan yang indah-indah.




• Shabu-shabu : adalah jenis narkoba yang juga banyak dikonsumsi oleh masyarakat, bentuknya kristal berwarna putih.Cara memakainya dengan dibakar di atas kertas aluminium foil yang asapnya dihirup dengan menggunakan bong (alat penghisap). Efek dari bahan ini dapat menimbulkan paranoid atau rasa takut yang belebihan dan menjadi lebih sensitive serta mudah tersinggung. Contoh yang dapat menimbulkan dipresi mental misalnya pil BK,Magadon, Valium, mandrake dan rohypnol. Sedang yang dapat menimbulkan halusinasi ialah LSD (Licercik acid dhietilamide).


3. Narkotika. Yang termasuk dalam kelompok narkotika pada umumnya berasal dari berbagai jenis tumbuhan seperti :


a. Opiod. Kata ini berasal dari tumbuhan opium yang banyak mengandung alkaloid opium termasuk morfin. Contoh yang banyak beredar dipasaran adalah candu, morfin, heroin atau putauw, codein, Demerol dan methadone. Efek terhadap kesehatan tubuh adalah kekacauan dalam bicara, rabun dimalam hari, merusak liver dan ginjal, resiko HIV tinggi, kematian bila overdisis.

b. Kokain . zat ini juga berasal dari tumbuhan liar Erythroxylon coca . Nama lain yang sering kita dengar adalah snow, coke, girl,lady dan crack. Efek yang menonjol dari kokain ini apabila terjadi putus kokain maka akan timbul kinginan bunuh diri.

c. Kanabis atau ganja. Ini adalah sejenis tanaman yang nama latinnya Cannabis sativa dan masyarakat sudah banyak yang mengenalnya. Karena tanaman ini termasuk dalam jenis narkoba ,maka peredarannyapun juga dilarang, karena dapat menimbulkan gangguan pada syaraf.


Tindakan Pencegahan.


Pengenalan jenis-jenis narkoba itu bukan dimaksudkan untuk promosi agar menjadi pecandu narkoba, akan tetapi dengan mengingat bahaya yang ditimbulkan agar masyarakat termasuk TNI lebih berhati-hati dan waspada dalam menjaga keluarganya. Lingkungan kerluarga mempunyai peran yang sangat penting dalam tindakan pencegahan terhadap jeratan narkoba. Karena itu stiap keluarga harus membentengi keluarganya dengan bekal keimanan yang kuat kepada keluarga agar tidak mudah terkena bujuk rayu dari lingkungan yang sudah tebiasa mengkonsumsi narkoba. Berikan pemahaman yang benar akan bahayanya narkoba dan dampaknya terhadap masa depan. Oleh karena itu katakan tidak pada narkoba atau bahasa populernya “ say no to drug ” seperti slogan anti narkoba yang sering kita lihat atau baca selama ini.




http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - JENIS-JENIS NARKOBA DAN BAHAYANYA

Remaja dan Kontrasepsi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan kehendak-Nyalah makalah yang berjudul “Remaja dan Kontrasepsi” ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak menemukan kesulitan yang disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat dorongan dan bimbingan berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari, sebagai seorang mahasiswa yang pengetahuannya belum seberapa dan masih perlu banyak belajar dalam penulisan makalah ini, bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang positif dan bersifat membangun agar makalah ini memiliki daya guna di masa yang akan datang.
Harapan penulis, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan rekan mahasiswa.


Padang Februari 2009

Penulis








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDUHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Rumusan masalah............................................................................. 1
1.3 Tujuan.............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian ....................................................................................... 3
2.2 Perkembangan remaja ..................................................................... 4
2.3 Kontrasepsi untuk remaja................................................................. 5
2.4 Masalah-masalah remaja.................................................................. 9
2.5 Kehamilan Tidak Diinginkan............................................................. 10
2.6 Aborsi.............................................................................................. 12
2.7 Pembinaan pengetahuan bagi remaja................................................. 13
2.8 Peran petugas................................................................................... 14
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................... 16
3.2 Saran............................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN










BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masa remaja merupakan masa transisi yang unik dan ditandai oleh berbagai perubahan fisik, emosi, dan psikis.
Remaja secara umum dianggap mencakup individu berusia antara 10-19 tahun, sehingga kesehatan reproduksi remaja memperhatikan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional kaum muda.
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, bersifat sementara, dan dapat pula bersifat permanen.
Remaja memiliki masalah yang berbeda dari orang dewasa, sehingga program kesehatan seksual dan keluarga berencana yang ditujukan kepada kaum muda harus dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan bukan diadaptasi dari program yang sudah ada yang ditujukan kepada orang dewasa. Kaum muda perlu mengumpulkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan agar mereka dapat terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan, terlindung dari IMS, dan dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat secara seksual.
Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alat kontrasepsi, tetapi pada beberapa kasus dimana terjadi remaja telah seksual aktif , maka diperlukan konseling tentang kontrasepsi secara dini pada remaja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada remaja.
Karena kurangnya pengetahuan remaja tentang kontrasepsi inilah, maka penulis tertarik untuk membahas masalah remaja dan kontrasepsi ini.

1.2 Rumusan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah mengenai remaja dan kontrasepsi, serta kasus-kasus yang berhubungan dengan remaja dan kontrasepsi.



1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar kita mengetahui tentang remaja dan kontrasepsi, serta masalah-masalah dalam kehidupan remaja yang berhubungan dengan kontrasepsi.
2. Mengetahui tentang kasus-kasus serta data-data terbaru tentang remaja dan kontrasepsi
3. Memenuhi tugas Pelayanan KB

























BAB II
ISI

2.1 Pengertian
Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10-19 tahun, sehingga kesehatan reproduksi remaja memperhatikan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional kaum muda.
Masa remaja ialah periode waktu individu beralih dari fase anak ke fase dewasa.
Secara biologik sebagian besar remaja sudah matang, tetapi secara sosial, mental, dan emosional belum. Akibatnya dapat terjadi masalah-masalah remaja seperti kehamilan diluar nikah, abortus dan ketergantungan obat.
Remaja memiliki masalah yang berbeda dari orang dewasa, sehingga program kesehatan kesehatan seksual dan keluarga berencana yang ditujukan kepada kaum muda harus dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan bukan diadaptasi dari program yang sudah ada yang ditujukan kepada orang dewasa. Kaum muda perlu mengumpulkan pengetahuan dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan agar mereka dapat terhindar dari kehamilan yang tidak diinginkan, terlindung dari IMS, dan dapat tumbuh menjadi orang dewasa yang sehat secara seksual.
Masa remaja dalam perjalanan hidup kita adalah suatu periode transisi yang memiliki rentang dari masa kanak-kanak yang bebas dari tanggung jawab sampai pencapaian tanggung jawab pada masa dewasa.
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan, bersifat sementara, dan dapat pula bersifat permanen.
Alat kontrasepsi digunakan pada program keluarga berencana untuk menunda, mengatur jarak, dan mencegah terjadinya kehamilan. Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alat kontrasepsi, tetapi pada beberapa kasus dimana terjadi remaja telah seksual aktif, bahkan kadang-kadang pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling, dapat diketahui prilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk dihentikan aktivitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alat kontrasepsi.

2.2 Perkembangan Remaja
Tahap perkembangan remaja ada 3, yaitu :
1) Remaja tahap awal (usia 10-14 tahun)
a. Berpikir konkret
b. Ketertarikan utama adalah pada teman sebaya dengan jenis kelamin sama, disisi lain ketertarikan pada lawan jenis dimulai
c. Mengalami konflik dengan orang tua
d. Remaja berprilaku sebagai seorang anak pada waktu tertentu dan sebagai orang dewasa pada waktu selanjutnya
2) Remaja tahap menengah (15-16 tahun)
a. Penerimaan kelompok sebaya merupakan isu utama dan seringkali menentukan harga diri
b. Remaja mulai melamun, berfantasi dan berpikir tentang hal-hal magis
c. Remaja berjuang untuk mandiri/bebas dari orang tuanya
d. Remaja menunjukkan prilaku idealis dan narsistik
e. Remaja menunjukkan emosi yang labil, sering meledak-ledak dan mood sering berubah
f. Hubungan heteroseksual merupakan hal yang penting
3) Remaja tahap akhir (17-21 tahun)
a. Remaja mulai berpacarandengan lawan jenisnya
b. Remaja mengembangkan pemikiran abstrak
c. Mulai mengembangkan rencana untuk masa depan
d. Berusaha untuk mandiri secara emosional dan finansial dari orangtua
e. Cinta adalah bagian dari hubungan heteroseksual yang intim
f. Kemampuan untuk mengambil keputusan telah berkembang
g. Perasaan kuat bahwa dirinya adalah seorang dewasa yang berkembang



Perubahan fisik pada remaja antara lain :
1) Tanda-tanda seks primer, yaitu yang berhubungan langsung dengan organ seks, yaitu :
a. Menarche pada remaja putri
b. Mimpi basah pada remaja pria
2) Tanda-tanda seks sekunder, yaitu :
a. Pada remaja laki-laki terjadi perubahan suara, tumbuhnya jakun, penis dan buah zakar bertambah besar, terjadinya ereksi dan ejakulasi, dada lebih lebar, badan berotot, tumbuhnya kumis, jambang dan rambut disekitar kemaluan dan ketiak
b. Pada remaja putri, pinggul melebar, pertumbuhan rahim dan vagina, payudara membesar, tumbuhnya rambut diketiak dan sekitar kemaluan (pubis)

Perubahan kejiwaan pada remaja
Proses perubahan kejiwaan berlangsung lebih lambat dibandingkan perubahan fisik, yang meliputi :
1. Perubahan emosi, sehingga remaja menjadi :
a. Sensitive (mudah menangis, cemas, frustasi dan tertawa)
b. Agresive dan mudah bereaksi terhadap rangsangan luar yang berpengaruh
2. Perkembangan intelegensia, sehingga remaja menjadi :
a. Mampu berpikir abstrak, senang memberikan kritik
b. Ingin mengetahui hal-hal baru sehingga muncul prilaku ingin mencoba-coba

2.3 Kontrasepsi untuk Remaja
Sebagian besar kaum muda akan aktif secara seksual pada masa-masa remaja mereka. Selama empat dekade terakhir, usia median saat melakukan hubungan intim pertama kali telah turun menjadi 17 tahun bagi kedua jenis kelamin. Dengan demikian, remaja memiliki kebutuhan yang lebih besar dari sebelumnya untuk akses ke bentuk-bentuk kontrasepsi yang dapat diterima dan handal, apabila mereka ingin menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.
Remaja yang aktif secara seksual juga beresiko terjangkit IMS, terutama infeksi klamidia, dan para penyedia layanan kontrasepsi harus mempertimbangkan hal ini saat memberikan saran. Tidak ada satupun metode kontrasepsi yang dapat memberi proteksi maksimum terhadap kehamilan yang tidak diinginkan, dan mungkin diperlukan kombinasi metode. Tidak ada metode satupun yang cocok untuk semua remaja, dan dengan demikian anjuran dan pilihan kontrasepsi seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing remaja.
1. Kontrasepsi Oral Kombinasi
Kontrasepsi Oral Kombinasi (KOK) adalah bentuk kontrasepsi yang sangat handal, dan metode ini sering menjadi pilihan bagi wanita muda dengan proteksi terhadap kehamilan yang tidak diinginkan merupakan hal yang sangat penting. Namun, efektivitas metode ini bergantung pada kemampuan wanita untuk ingat minum pil secara teratur dan benar serta menyadari situasi-situasi yang efektivitas kontrasepsinya mungkin hilang. Sebagian wanita muda menjalani gaya hidup tidak teratur yang tidak kondusif untuk minum pil secara teratur. Pada keadaan seperti ini, dianjurkan unutk pindah ke metode yang tidak terlalu bergantung pada pemakai. Kehamilan yang tidak diinginkan sering terjadi pada permulaan suatu hubungan baru, sebelum digunakannya kontrasepsi yang handal. Sering kali wanita sudah mengkonsumsi KOK sebelumnya, namun berhenti saat hubungan yang terakhir,berakhir, dan belum kembali menggunakan KOK. Wanita muda dapat didorong untuk terus menggunakan pil diantara dua hubungan. Kekhawatiran mengenai kesehatan sering menyebabkan wanita ”beristirahat” dari pil. Pada masa inilah dapat terjadi kehamilan yang tidak diinginkan.
Wanita muda mungkin enggan menggunakan KOK karena takut akan pertambahan berat badan. Namun, mereka dapat diberi anjuran mengenai diet yang sehat dan regimen olahraga untuk memastikan bahwa hal ini tidak menjadi masalah. Juga timbul kekhawatiran mengenai resiko kanker payudara apabila mereka memakai KOK pada awal masa reproduksi, yaitu pada tahun-tahun antara menarche dan kelahiran anak pertama.
KOK memberikan banyak manfaat nonkontraseptif, yaitu terjadi pengurangan perdarahan menstruasi dan dismenorhea. Juga terjadi penurunan insiden anemia yang dianggap penting di negara berkembang. KOK akan memberikan manfaat bagi wanita muda yang memiliki jerawat, dan dapat mengurangi hirsutisme. Selain itu, KOK memiliki efek proteksi terhadap kista ovarium fungsional, penyakit payudara jinak, dan keganasan ovarium. Remaja yang menggunakan metode ini harus diberi anjuran mengenai strategi lain untuk mencapai seks yang aman.

2. Kondom
Kondom pria merupakan yang paling penting pada praktik seks yang aman, dan para remaja, walaupun sedang menggunakan metode kontrasepsi yang lain harus didorong untuk juga menggunakannya (pendekatan ”Double Dutch”). Kondom memiliki keuntungan yaitu mudah diperoleh ditoko-toko obat, dipasar swalayan, dan dari mesin kondom. Kondom memiliki angka kegagalan yang tinggi pada remaja yang kurang pengalaman pemakaiannya.
Seperti kondom pria, kondom wanita juga memberi perlindungan terhadap HIV dan IMS lain, dan tersedia dipusat layanan keluarga berencana dan dari toko komersial.

3. Metode Barier lainnya
Diafragma dan topi (cap) serviks sangat jarang digunakan oleh remaja. Bagi kelompok pemakai usia remaja, metode-metode ini kurang memberikan perlindungan yang memadai terhadap kehamilan atau IMS.
4. Pil Progesteron
Pil progesteron memiliki angka kegagalan yang lebih tinggi pada pemakai remaja dibandingkan pada pemakai yang lebih tua, an memerlukan tingkat kedisiplinan yang tinggi dalam meminum pil secara teratur.

5. Metode Progesteron kerja lama
Depot medroksiprogesteron asetat (DMPA;Depoprovera) populer diantara remaja putri. Metode ini lebih efektif terhadap kehamilan yang tidak direncanakan dibandingkan dengan KOK, dan ideal bagi mereka yang sering lupa minum pil. DMPA dapat menyebabkan penambahan BB dan jerawat bagi sebagian pemakai, yang menyebabkan DMPA kurang diterima. Seperti KOK, DMPA tidak memberikan perlindungan terhadap IMS, dan para pemakai seharusnya dianjurkan juga untuk menggunakan kondom.
Implant progesteron 5 tahun, Norplant adalah metode yang relatif populer diantara remaja yang tidak memiliki rencana untuk hamil dalam waktu dekat. Implant ini seharusnya menjadi metode yang dapat diterima oleh banyak remaja, setelah mereka mendapat konseling pra pemasangan yang adekuat.

6. AKDR
AKDR kecil kemungkinannya menjadi metode kontrasepsi yang cocok bagi remaja. Remaja cenderung memiliki hubungan yang lebih singkat, sehingga lebih besar kemungkinannya memiliki banyak pasangan seksual dalam rentang usia suatu AKDR.
AKDR kadang-kadang perlu dipasang sebagai metode kontrasepsi pasca koitus bagi para remaja. Wanita muda mungkin memutuskan untuk meneruskan pemakaian AKDR sebagai metode kontrasepsinya, dan pasangan tersebut perlu didorong untuk menggunakan kondom.

7. Kontrasepsi Darurat
Remaja akan lebih memerlukan kontrasepsi darurat apabila mereka telah melakukan hubungan intim tanpa perlindungan, atau saat metode kontrasepsi yang biasa digunakan diketahui gagal.

Ada beberapa hal mengapa remaja tidak dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi, yaitu :
Ø Peraturan Perundang-undangan di Indonesia tidak memperbolehkan penggunaan alat kontrasepsi bagi remaja yang belum menikah
Ø Ada jenis alat kontrasepsi tertentu, misalnya IUD tidak boleh digunakan pada rahim yang belum pernah hamil karena dapat merusak dinding rahim
Ø Selain itu secara mental remaja yang menggunakan alat kontrasepsi akan merasa bahwa dia dapat berprilaku seksual aktif tanpa resiko kehamilan dalam arti dia akan permisif terhadapa prilaku tersebut dan akan sangat mudah terjadi gonta-ganti pasangan, padahal semua alat kontrasepsi tetap punya angka kegagalan dan hubungan seksual tidak hanya berakibat kehamilan tetapi juga terkena PMS (Penyakit Menular Seksual)
Metode KB yang tepat bagi remaja ialah :
v Pendidikan seks yang sehat, sehingga dapat menghindari kehamilan dan penyakit hubungan seksual
v Kondom merupakan pilihan utama karena efek sampingnya tidak ada dan dapat dipergunakan untuk menghindari PMS
v Pil dapat dibenarkan karena efek sampingnya ringan dan tidak banyak mempengaruhi alat genitalia
v Suntikan KB masih dapat dipakai karena pengaruhnya kecil terhadap perubahan hormonal
v AKDR pilihan yang paling akhir bila metode lainnya sulit diterima mengingat pengaruhnya terhadap alat genital
v Bila berhadapan dengan kehamilan yang tidak diinginkan, maka upaya gugur kandung masih dipertimbangkan karena berkaitan dengan UU Kesehatan no.30/tahun 1992 tetapi bertentangan dengan filsafat dan dasar negara pancasila

2.4 Masalah-masalah Remaja
Banyak masalah-masalah yang dihadapi oleh para remaja pada saat ini. Hal ini disebabkan karena pengaruh globalisasi yang tak terkendali yang tidak diiringi oleh pendidikan agama.
Adapun masalah-masalah yang berkaitan dengan remaja adalah sebagai berikut :
v Informasi mengenai masalah seksual dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang tidak memadai
v Tidak ada atau sangat sedikit akses pelayanan bagi remaja yang bersifat youth friendly dan tidak menghakimi
v Masih kurangnya pengetahuan dan pengalaman petugas untuk mengatasi masalah kesehatan reproduksi remaja
v Remaja masih merupakan kelompok yang dimarginalkan untuk mendapat pelayanan kesehatan reproduksi
v Masyarakat cenderung menganggap aib remaja yang tidak mengikuti norma susila yang berlaku
v Terdapat peningkatan prevalensi remaja yang aktif menjalankan kegiatan seksual /berhubungan seks diluar nikah dengan akibat :
o Sekitar 12,2% remaja berusia 15-19 tahun sudah pernah atau sedang hamil
o HIV positif (44% dari penderita berumur 15-22 tahun)
o IMS tertinggi terdapat pada usia 15-23 tahun
o Sebanyak 9,1% perempuan usia 15-19 tahun termasuk kelompok unmet need
o Kehamilan Tidak Diinginkan yang diakhiri dengan aborsi 2,4 juta jiwa/tahun, diantaranya 700 ribu adalah remaja
Dalam makalah ini akan dibahas masalah-masalah pada remaja yang berkaitan dengan Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan Aborsi yang sesuai dengan contoh kasus yang dilampirkan pada akhir makalah ini.

2.5 Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD)
Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja umumnya terjadi karena :
ü Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang prilaku seksual yang dapat menyebabkan kehamilan
ü Tidak menggunakan alat kontrasepsi
ü Kegagalan alat kontarasepsi akibat remaja menggunakan alat konttasepsi tanpa disertai pengetahuan yang cukup tentang metode kontrasepsi yang benar
ü Akibat pemerkosaan diantaranya pemerkosaan oleh teman kencannya (date rape)
Banyak kasus KTD pada remaja yang ditangani secara diam-diam (bukan lewat proses medis/sepengetahuan orang tua) karena hukuman dari orang tua dan masyarakat sekitar lebih menakutkan mereka daripada kekhawatiran terhadap tubuhnya sehingga banyak dari mereka yang mengalami KTD memilih mengakhiri kehamilannya karena takut hukuman dari orang tua dan masyarakat.
Karena alasan itu pula orang pertama yang diberi tahu akan kehamilannya bukanlah orang tua remaja putri tetapi pacarnya. Mereka berharap sang pacar mau bertanggung jawab atau ikut mencarikan solusi akan kehamilannya.
Ketakutan akan konsekuensi psikologis (malu dan tertekan) dan sosial ekonomi, reaksi awal mereka pada umumnya adalah keinginan dan usaha untuk aborsi. Usaha aborsi awal itu menggunakan cara-cara yang bervariasi, mulai dari self-treatment sampai meminta bantuan tenaga medis.
Berdasarkan hasil penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial (B2P3KS), Departemen Sosial Republik Indonesia (Depsos RI) yang bertajuk ”Kehamilan Tidak Diinginkan pada Remaja Tahun 2007” yang dilakukan disebuah kota di pulau Jawa, ditemukan fakta bahwa remaja yang mengalami KTD terbanyak adalah yang memiliki pendidikan perguruan tinggi alias mahasiswa (59,22%), remaja yang berpendidikan SMU (17,70%) dan yang paling kecil SMP (1,63%). Secara keseluruhan, remaja yang hamil diluar nikah terbesar terjadi pada tahun 2002 (640 kasus). Kemudian tahun 2004 sebanyak 560 kasus dan tahun 2005 (551 kasus).(Sabili, No.14 Th.XI 24 Januari 2008)
Menelusuri motif dibalik tingginya kasus KTD dikalangan orang yang mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi diungkapkan oleh Yusnar. Menurut kepala B2P3KS itu, pendidikan (sekuler) justru memicu remaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan hamil diluar nikah. Dari 59,22% responden mahasiswi yang mengalami KTD, mereka memiliki alasan :
· Ingin melakukan tes kehamilan, apakah dirinya bisa hamil atau tidak, karena jika tidak bisa hamil akan dicerai oleh suaminya
· Pergaulan bebas sebuah demokrasi
· Nilai agama tidak kuat lagi membentengi pergaulan remaja

Strategi untuk mengurangi kehamilan remaja
1) Mengurangi Kemiskinan
Angka kehamilan remaja paling tinggi terdapat di daerah-daerah yang keadaan sosial ekonominya kurang. Strategi yang menurunkan kemiskinan dan memperbaiki prospek sosial ekonomi keluarga muda ini besar kemungkinannya akan menurunkan angka kehamilan remaja.
2) Memperbaiki penyediaan kontrasepsi
Layanan yang menawarkan kontrasepsi sebaiknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan kaum muda, disertai ekspansi lokal fasilitas-fasilitas yang ditujukan bagi mereka. Kontrasepsi darurat harus lebih mudah diperoleh, dan para remaja harus diberi tahu mengenai pengggunaannya. Harus disediakan suatu layanan terpadu yang menawarkan layanan kesehatan umum dan seksual bagi kaum muda, dan layanan tersebut harus diberitahukan secara luas.
3) Mengincar kelompok beresiko tinggi
Kelompok-kelompok tertentu kaum muda lebih besar kemungkinannya hamil pada usia remaja, sehingga mereka dapat dipilih untuk menjadi sasaran. Kelompok ini mungkin mencakup remaja yang diasuh oleh negara, remaja yang tidak memiliki rumah, remaja yang tinggal dilingkungan yang sosial ekonominya lemah, dan remaja yang mereka sendiri adalah anak dari orangtua remaja.
4) Meningkatkan pendidikan
Pendidikan seks di sekolah berperan penting dalam menurunkan kehamilan remaja. Program pendidikan seks lebih besar kemungkinannya berhasil apabila terdapat pendekatan terpadu antara sekolah dan layanann kesehatan.

2.6 Aborsi
Aborsi adalah suatu tindakan yang disengaja dan direncanakan (abortus provokatus).
Di Indonesia terdapat dua jenis aborsi yang direncanakan. Bila dilakukan tanpa indikasi medis yang jelas, maka disebut abortus provokatus kriminalis, yang tidak sah menurut hukum dan pelakunya diancam hukuman pidana penjara. Aborsi boleh dilakukan bila ada indikasi medis yang jelas dan disebut abortus provokatus terapetikus. Adapun kehamilan yang hilang secara alami dan bukan karena tindakan disengaja disebut keguguran (abortu spontaneous).
Meskipun peraturan perundang-undangan mengenai aborsi telah jelas, tetapi tindakan aborsi secara diam-diam tetap dilakukan. Diseluruh dunia, dimana peraturan hukum aborsi sangat beragam, hampir 55 juta tindakan aborsi dilakukan setiap tahunnya.
Yang paling memprihatinkan adalah akibat terhadap kelangsungan hidup dan kesehatan wanita. Indonesia merupakan negara denagn tingkat kematian ibu yang paling tinggi diantara negara-negara Asia Tenggara. Diperkirakan bahwa komplikasi tindakan aborsi yang tidak aman menyumbang hampir 3% dari kematian ibu di Indonesia.
Usaha aborsi yang sering digunakan oleh remaja-remaja yang telah hamil ini adalah dengan usaha self treatment, seperti dengan mencoba minum jamu-jamu tradisional pelancar haid yang dijual bebas di pasaran umum dengan dosis tinggi, dengan meminum ramuan tradisional yang diracik sendiri seperti ragi tape dan air perasan buah nanas muda, mencoba datang ke dukun paraji atau tukang urut tradisional atau menenggak minuman keras dan obat-obatan tanpa resep dengan dosis tinggi.

2.7 Pembinaan Pengetahuan bagi Remaja
Pembinaan bagi remaja bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, disamping menangani masalah yang ada.
Pembekalan pengatahuan yang diperlukan remaja meliputi :
1) Perkembangan fisik, kejiwaan, dan kematangan seksual remaja
Pembekalan pengetahuan tentang perubahan yang terjadi secara fisik, kejiwaan dan kematangan seksual akan memudahkan remaja untuk memahami serta mengatasi berbagai keadaan yang membingungkannya. Informasi tentang alat reproduksi remaja laki-laki dan perempuan, serta tentang kontrasepsi perlu diperoleh setiap remaja.
2) Proses reproduksi yang bertanggung jawab
Manusia secara biologis mempunyai kebutuhan seksual. Remaja perlu mengendalikan naluri seksualnya dan menyalurkannya menjadi kegiatan yang positif, seperti olahraga, dan mengembangkan hobi yang membangun.
3) Pergaulan yang sehat
Remaja memerlukan pembekalan tentang kiat-kiat untuk mempertahankan diri secara fisik maupun psikis dan mental dalam menghadapi berbagai godaan, seperti ajakan untuk melakukan hubungan seksual dan penggunaan NAPZA
4) Persiapan Pra nikah
Diperlukan agar calon pengantin lebih siap secara mental dan emosional dalam memasuki kehidupan keluarga
5) Kehamilan dan persalinan serta cara pencegahannya

Agar masa transisi seksual dari anak menjadi dewasa berhasil, para remaja perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan pada beberapa area penting dalam kesehatan reproduksi :
· Hubungan, baik sosial maupun seksual
· Negosiasi dalam suatu hubungan, termasuk ”hak untuk mengatakan tidak”
· Seks dan prilaku seks
· Bertanggung jawab atas kesehatan mereka sendiri, dan ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan orang lain
· Kesuburan dan kontrasepsi
· Kehamilan, termasuk segala akibat dan pilihannya
· IMS
· Praktik seks yang lebih aman
· Keterampilan menjadi orang tua

2.8 Peran Petugas
o Sebelum memutuskan memberi pelayanan kontrasepsi pada remaja, perlu diperhatikan undang-undang serta peraturan yang berlaku (KUHP dan Undang-undang nomor 10 tahun 1992), serta aspek-aspek sosial dan budaya masyarakat yang ada
o Petugas perlu memahami prilaku seksual remaja serta upaya pemberian kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dan IMS, dan kemungkinan kembalinya kesuburan
o Konseling memegang peranan sangat penting untuk membantu remaja agar memiliki pengetahuan, sikap, dan prilaku yang bertanggung jawab dalam kehidupan seksual mereka





























BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia antara 10-19 tahun, sehingga kesehatan reproduksi remaja memperhatikan kebutuhan fisik, sosial, dan emosional kaum muda.
Sebagian besar kaum muda akan aktif secara seksual pada masa-masa remaja mereka. Dengan demikian, remaja memiliki kebutuhan yang lebih besar dari sebelumnya untuk akses ke bentuk-bentuk kontrasepsi yang dapat diterima dan handal, apabila mereka ingin menghindari Kehamilan yang Tidak Diinginkan hingga terjadinya abortus seperti yang terjadi pada Sita, yaitu gadis remaja 17 tahun dengan 7 orang anak, yang pernah melakukan aborsi dan melahirkan anak diluar nikah dengan 3 orang laki-laki yang berbeda-beda, yang menjurus pada terjadinya KTD.
Remaja sebenarnya tidak membutuhkan alat kontrasepsi, tetapi pada beberapa kasus dimana terjadi remaja telah seksual aktif , bahkan kadang-kadang pernah melakukan aborsi biasanya dilakukan konseling untuk mencari jalan keluarnya. Setelah melalui proses konseling, dapat diketahui prilaku remaja tersebut dan bila memang sulit untuk dihentikan aktivitas seksualnya dan tidak/belum mau menikah maka dapat dipertimbangkan konseling untuk penggunaan alat kontrasepsi.
Oleh karena itu, peran petugas kesehatan sangat penting seperti memberikan pembinaan bagi remaja yang bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, memberi pelayanan kontrasepsi, disamping menangani masalah yang ada.






3.2 Saran
Saran yang dapat penulis sampaikan melalui makalah ini adalah:
a) Kepada setiap remaja agar mempunyai pengetahuan dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan agar mereka dapat terhindar dari masalah-masalah pada remaja, contohnya KTD dan aborsi
b) Kepada setiap orang tua diharapkan dapat selalu mengontrol apa saja kegiatan anak-anak mereka, baik didalam maupun diluar rumah, serta selalu menyediakan waktu untuk dapat berdiskusi tentang masalah-masalah yang dihadapi oleh sang anak.
c) Kepada petugas kesehatan untuk memberikan pembinaan bagi remaja yang bertujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan yang berhubungan dengan prilaku hidup sehat bagi remaja, memberi pelayanan kontrasepsi, disamping menangani masalah yang ada pada remaja tersebut.



















DAFTAR PUSTAKA

Affandi, Biran,dkk, 2003.
Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Burns, August,dkk, 2000.
Pemberdayaan Wanita dalam Bidang Kesehatan. Yayasan Essentia Medica: Yogyakarta.

Depkes RI, 2004.
Asuhan Persalinan Normal. Depkes RI : Jakarta.

Glasier, anna, dkk,
Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi. Jakarta : EGC.

Manuaba, Ida Bagus Gde,
Memahami Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : EGC.

Winiastri, Virnye, dkk. 2002.
Pengalaman Materi Membantu Remaja Mengatasi Dirinya. Deputi Bidang KB dan Kespro BKKBN: Jakarta.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Remaja dan Kontrasepsi

Pubertas

Pengertian


Beberapa pengertian mengenai pubertas yaitu:



  1. Menurut Prawirohardjo (1999: 127) pubertas merupakan masa peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa.

  2. Menurut Soetjiningsih (2004: 134) pubertas adalah suatu periode perubahan dari tidak matang menjadi matang.

  3. Menurut Monks (2002: 263) pubertas adalah berasal dari kata puber yaitu pubescere yang artinya mendapat pubes atau rambut kemaluan, yaitu suatu tanda kelamin sekunder yang menunjukkan perkembangan seksual.

  4. Menurut Root dalam Hurlock (2004) Pubertas merupakan suatu tahap dalam perkembangan dimana terjadi kematangan alat–alat seksual dan tercapai kemampuan reproduksi.


Perubahan Fisik


Selama pertumbuhan pesat masa puber, terjadi empat perubahan fisik penting dimana tubuh anak dewasa: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, perkembangan ciri-ciri seks primer dan perkembangan ciri-ciri seks sekunder (Hurlock, 2004: 188).



  1. Perubahan primer

  2. Perubahan sekunder


Perubahan primer pada masa puber

Perubahan primer pada masa pubertas adalah tanda-tanda/perubahan yang menentukan sudah mulai berfungsi optimalnya organ reproduksi pada manusia.



  1. Pada pria – Gonad atau testis yang terletak di skrotum, di luar tubuh, pada usia 14 tahun baru sekitar 10% dari ukuran matang. Kemudian terjadi pertumbuhan pesat selama 1 atau 2 tahun, setelah itu pertumbuhan menurun, testis sudah berkembang penuh pada usia 20 atau 21 tahun. Kalau fungsi organ-organ pria sudah matang, maka biasanya mulai terjadi mimpi basah.

  2. Pada wanita - Semua organ reproduksi wanita tumbuh selama masa puber, meskipun dalam tingkat kecepatan yang berbeda. Berat uterus anak usia 11 atau 12 tahun berkisar 5,3 gram, pada usia 16 rata-rata beratnya 43 gram. Tuba falopi, telur-telur, dan vagina juga tumbuh pesat pada saat ini. Petunjuk pertama bahwa mekanisme reproduksi anak perempuan menjadi matang adalah datangnya menstruasi.


(Hurlock, 2004: 210).


Perubahan sekunder pada masa pubertas

Perubahan sekunder pada masa pubertas adalah perubahan-perubahan yang menyertai perubahan primer yang terlihat dari luar.



  1. Pada perempuan: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; pertumbuhan payudara; tumbuh bulu-bulu halus disekitar ketiak dan vagina; panggul mulai melebar; tangan dan kaki bertambah besar; tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar; vagina mengeluarkan cairan; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak; pantat bertambah lebih besar.

  2. Pada pria: lengan dan tungkai kaki bertambah panjang; tangan dan kaki bertambah besar; pundak dan dada bertambah besar dan membidang; otot menguat; tulang wajah memanjang dan membesar tidak tampak seperti anak kecil lagi; tumbuh jakun; tumbuh rambut-rambut di ketiak, sekitar muka dan sekitar kemaluan; penis dan buah zakar membesar; suara menjadi besar; keringat bertambah banyak; kulit dan rambut mulai berminyak.


(Sarlito, 2009: 1).


Perubahan Emosional/Psikologis

Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan Tekanan”, sesuatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu (Hurlock, 2004: 212-213).

Masa remaja merupakan “badai dan tekanan”, masa stress full karena ada perubahan fisik dan biologis serta perubahan tuntutan dari lingkungan, sehingga diperlukan suatu proses penyesuaian diri dari remaja.

Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namum benar benar juga bila sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan sosial yang baru. (Nurfajriyah, 2009: 1).


Penyebab Perubahan Pubertas



  1. Peran Kelenjar Pituitary – Kelenjar pituitary mengeluarkan dua hormon yaitu hormon pertumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu, dan hormon gonadotrofik yang merangsang gonad untuk meningkatkan kegiatan. Sebelum masa puber secara bertahap jumlah hormon gonadotrofik semakin bertambah dan kepekaan gonad terhadap hormon gonadotrofik dan peningkatan kepekaan juga semakin bertambah, dalam keadaan demikian perubahan-perubahan pada masa puber mulai terjadi.

  2. Peran Gonad- Dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad, organ-organ seks yaitu ciri-ciri seks primer : bertambah besar dan fungsinya menjadi matang, dan ciri-ciri seks sekunder, seperti rambut kemaluan mulai berkembang.

  3. Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad – Hormon yang dikeluarkan oleh gonad, yang telah dirangsang oleh hormon gonadotrofik yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary, selanjutnya bereaksi terhadap kelenjar ini dan menyebabkan secara berangsur-angsur penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang dikeluarkan sehingga menghentikan proses pertumbuhan, interaksi antara hormon gonadotrofik dan gonad berlangsung terus sepanjang kehidupan reproduksi individu, dan lambat laun berkurang menjelang wanita mendekati menopause dan pria mendekati climacteric.


(Hurlock, 2004 : 196).


Bahaya Pada Masa Puber



  1. Bahaya Fisik

  2. Bahaya Psikologis


Bahaya Fisik


Meskipun sebagian besar anak puber secara fisik tidak merasa normal, namun penyakit yang aktual tidak banyak dialami anak dalam periode ini dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Bahaya fisik utama masa puber disebabkan kesalahan fungsi kelenjar endokrin yang mengendalikan pertumbuhan pesat dan perubahan seksual yang terjadi pada periode ini.


Bahaya Psikologis

Terhadap banyak bahaya psikologis pada masa puber yang akibat panjangnya lebih penting dari pada akibat berlangsungnya.

Beberapa bahaya psikologis yang adalah sebagai berikut :



  1. Konsep diri yang kurang baik – Ada banyak hal yang menyebabkan perkembangan konsep diri kurang baik selama masa puber, beberapa diantaranya alasan pribadi dan alasan lingkungan. Anak yang mengembangkan konsep diri kurang baik pada masa remaja cenderung menguatkan konsep tersebut dengan perilaku yang tidak sosial, dan bukan memperbaikinya. Akibatnya, dasar-dasar untuk kompleks rendah diri semakin tertanam dan kecuali dilakukan langkah-langkah perbaikan, maka cenderung akan menetap dan mewarnai mutu perilaku individu sepanjang hidupnya.

  2. Prestasi Rendah – Cepatnya pertumbuhan Fisik maka tenaga menjadi melemah, ini mengakibatkan keseganan untuk bekerja dan bosan pada tiap kegiatan yang melibatkan usaha individu.

  3. Kurangnya persiapan untuk menghadapi masa puber – Anak puber tidak diberitahu atau secara psikologis tidak dipersiapkan tentang perubahan fisik dan psikologis yang terjadi pada masa puber, pengalaman akan perubahan itu dapat merupakan pengalaman traumatis.

  4. Menerima tubuh yang berubah – Diantara tugas perkembangan masa puber yang penting adalah menerima kenyataan bahwa tubuhnya mengalami perubahan. Hanya sedikit anak puber yang mampu menerima kenyataan ini, sehingga mereka tidak puas dengan penampilannya.

  5. Menerima peran seks yang diharapkan – Sama halnya menerima tubuh yang berubah, menerima peran seks anak puber yang diharapkan mendekati peran seks orang dewasa merupakan tugas perkembangan utama pada tingkat usia ini. Terjadinya kematangan seksual atau waktu yang diperlukan untuk pematangan.

  6. Penyimpangan dalam pematangan sosial – Salah satu bahaya psikologis selama masa puber yang paling serius adalah penyimpangan dalam usia terjadinya kematangan seksual atau waktu yang diperlukan untuk pematangan.

  7. Anak yang matang lebih awal – Anak yang matang terlalu dini dapat menunjukkan kesulitan pribadi. Kesulitan ini timbul karena anak matang lebih awal yang kelihatannya lebih tua dari usianya, biasanya diharapkan bertindak sesuai dengan penampilannya dan bukan dengan usianya


(Hurlock, 2004 : 196-199).


Referensi

Devi, N. 2009. Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Pubertas Pada Siswi Kelas VII Di SMP N 2 Sidoharjo Sragen. Karya Tulis Ilmiah. Surakarta: AKBIDMUS

Hurlock. 2004. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan Edisi Kelima. Yogyakarta : Erlangga.

Monks. 2002. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta : UGM.

Narendra. 2002. Buku Ajar I Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. FKUI : Jakarta.

Nurfajriyah. 2009. Psikologi Remaja. ririrenata.multiply.com/ journal/item/2/psikologi_remaja, 27 April 2009 jam 13.25 WIB.

Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : CV. Sagung Seto.

Sarlito. 2009. Perubahan Fisik Remaja. e-psikologi.com Tanggal 20 Maret 2009 Jam 16.35 WIB.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Pubertas

Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Terbukti 95% wanita yang terdiagnosis pada tahap awal kanker payudara dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun setelah terdiagnosis sehingga banyak dokter yang merekomendasikan agar para wanita menjalani ‘sadari’ (periksa payudara sendiri – saat menstruasi – pada hari ke 7 sampai dengan hari ke 10 setelah hari pertama haid) di rumah secara rutin dan menyarankan dilakukannya pemeriksaan rutin tahunan untuk mendeteksi benjolan pada payudara. Pemeriksaan payudara sendiri dapat dilakukan pada usia 20 tahun atau lebih. Bagi wanita usia lebih dari 30 tahun dapat melakukan pemeriksaan payudara sendiri maupun ke bidan atau dokter untuk setiap tahunnya.

Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin dan melihat perubahan bentuk payudara dengan cara berbaring. Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan melihat perubahan di hadapan cermin dan melihat perubahan bentuk payudara dengan cara berbaring.



  1. Melihat Perubahan Di Hadapan Cermin.

    Lihat pada cermin , bentuk dan keseimbangan bentuk payudara (simetris atau tidak). Cara melakukan :

    • Tahap 1

    • Gambar SADARI berdiri 1

      Melihat perubahan bentuk dan besarnya payudara, perubahan puting susu, serta kulit payudara di depan kaca. Sambil berdiri tegak depan cermin, posisi kedua lengan lurus ke bawah disamping badan.


    • Tahap 2

    • Gambar SADARI berdiri 2

      Periksa payudara dengan tangan diangkat di atas kepala. Dengan maksud untuk melihat retraksi kulit atau perlekatan tumor terhadap otot atau fascia dibawahnya.


    • Tahap 3

    • Gambar SADARI berdiri 3

      Berdiri tegak di depan cermin dengan tangan disamping kanan dan kiri. Miringkan badan ke kanan dan kiri untuk melihat perubahan pada payudara.


    • Tahap 4

    • Gambar SADARI berdiri 4

      Menegangkan otot-otot bagian dada dengan berkacak pinggang/ tangan menekan pinggul dimaksudkan untuk menegangkan otot di daerah axilla.



  2. Melihat Perubahan Bentuk Payudara Dengan Berbaring.

    • Tahap 1. Persiapan

    • Gambar SADARI berbaring 1

      Dimulai dari payudara kanan. Baring menghadap ke kiri dengan membengkokkan kedua lutut Anda. Letakkan bantal atau handuk mandi yang telah dilipat di bawah bahu sebelah kanan untuk menaikan bagian yang akan diperiksa. Kemudian letakkan tangan kanan Anda di bawah kepala. Gunakan tangan kiri Anda untuk memeriksa payudara kanan .Gunakan telapak jari-jari Anda untuk memeriksa sembarang benjolan atau penebalan. Periksa payudara Anda dengan menggunakan Vertical Strip dan Circular.


    • Tahap 2. Pemeriksaan Payudara dengan Vertical Strip Gambar SADARI berbaring 2

      Memeriksa seluruh bagian payudara dengan cara vertical, dari tulang selangka di bagian atas ke bra-line di bagian bawah, dan garis tengah antara kedua payudara ke garis tengah bagian ketiak Anda. Gunakan tangan kiri untuk mengawali pijatan pada ketiak. Kemudian putar dan tekan kuat untuk merasakan benjolan. Gerakkan tangan Anda perlahan-lahan ke bawah bra line dengan putaran ringan dan tekan kuat di setiap tempat. Di bagian bawah bra line, bergerak kurang lebih 2 cm kekiri dan terus ke arah atas menuju tulang selangka dengan memutar dan menekan. Bergeraklah ke atas dan ke bawah mengikuti pijatan dan meliputi seluruh bagian yang ditunjuk.

    • Tahap 3. Pemeriksaan Payudara dengan Cara Memutar.

    • Gambar SADARI berbaring 3

      Berawal dari bagian atas payudara Anda, buat putaran yang besar. Bergeraklah sekeliling payudara dengan memperhatikan benjolan yang luar biasa. Buatlah sekurang-kurangnya tiga putaran kecil sampai ke puting payudara. Lakukan sebanyak 2 kali. Sekali dengan tekanan ringan dan sekali dengan tekanan kuat. Jangan lupa periksa bagian bawah areola mammae.


    • Tahap 4. Pemeriksaan Cairan Di Puting Payudara.

    • Gambar SADARI berbaring 4

      Menggunakan kedua tangan, kemudian tekan payudara Anda untuk melihat adanya cairan abnormal dari puting payudara.


    • Tahap 5. Memeriksa Ketiak

    • Gambar SADARI berbaring 5

      Letakkan tangan kanan Anda ke samping dan rasakan ketiak Anda dengan teliti, apakah teraba benjolan abnormal atau tidak.




Referensi

Ris_Kan_Payudara_01 (Converted).pdf. Kanser Payudara. Kesan Awal Dengan Pemeriksaan Sendiri Payudara (PSP). Oktober, 2004

Brosur Yayasan Kanker Indonesia. Deteksi Dini Kanker Payudara.

http://askep-askeb.cz.cc/

lihat artikel selengkapnya - Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI)

Senin, 20 Desember 2010

Tinjauan Umum Kesehatan Reproduksi Remaja

Tinjauan Umum Kesehatan Reproduksi Remaja: "

Seksualitas dan kesehatan reproduksi remaja didefinisikan sebagai keadaan sejahtera fisik dan psikis seorang remaja, termasuk keadaan terbebas dari kehamilan yang tak dikehendaki, aborsi yang tidak aman, penyakit menular seksual (PMS) ter-masuk HIV/AIDS, serta semua bentuk kekerasan dan pemaksaan seksual (FCI, 2000).


Mengapa Kesehatan Reproduksi Remaja Sangat Penting?


Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa ini sebagai masa kritis.


Di negera-negara berkembang masa transisi ini berlangsung sangat cepat. Bahkan usia saat berhubungan seks pertama ternyata selalu lebih muda daripada usia ideal menikah (Kiragu, 1995:10, dikutip dari Iskandar, 1997).


Pengaruh informasi global (paparan media audio-visual) yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang berisiko tinggi, karena

kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi, termasuk kontrasepsi.


Kebutuhan dan jenis risiko kesehatan reproduksi yang dihadapi remaja mempunyai ciri yang berbeda dari anak-anak ataupun orang dewasa. Jenis risiko kesehatan reproduksi yang harus dihadapi remaja antara lain adalah kehamilan, aborsi, penyakit menular seksual (PMS), ke-kerasan seksual, serta masalah keterbatasan akses terhadap informasi dan pelayanan kesehatan. Risiko ini dipe-ngaruhi oleh berbagai faktor yang saling

berhubungan, yaitu tuntutan untuk kawin muda dan hubungan seksual, akses terhadap pendidikan dan pekerjaan, ketidaksetaraan jender, kekerasan seksual dan pengaruh media massa maupun gaya hidup.


Khusus bagi remaja putri, mereka kekurangan informasi dasar mengenai keterampilan menegosiasikan hubungan seksual dengan pasangannya. Mereka juga memiliki kesempatan yang lebih kecil untuk mendapatkan pendidikan formal dan pekerjaan yang pada akhirnya akan mempengaruhi kemampuan pengambilan keputusan dan pemberdayaan mereka untuk menunda perkawinan dan kehamilan serta mencegah kehamilan yang tidak dikehendaki (FCI, 2000). Bahkan pada remaja putri di pedesaan, haid

pertama biasanya akan segera diikuti dengan perkawinan yang menempatkan mereka pada risiko kehamilan dan persalinan dini (Hanum, 1997:2-3).


Kadangkala pencetus perilaku atau kebiasaan tidak sehat pada remaja justru adalah akibat

ketidak-harmonisan hubungan ayah-ibu, sikap orangtua yang menabukan pertanyaan anak/remaja tentang fungsi/proses reproduksi dan penyebab rangsangan seksualitas (libido), serta frekuensi tindak kekerasan anak (child physical abuse).


Mereka cenderung merasa risih dan tidak mampu untuk memberikan informasi yang memadai mengenai alat reproduksi dan proses reproduksi tersebut. Karenanya, mudah timbul rasa takut di kalangan orangtua dan guru, bahwa pendidikan yang menyentuh isu perkembangan organ reproduksi dan fungsinya justru malah mendorong remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah (Iskandar, 1997).


Kondisi lingkungan sekolah, pengaruh teman, ketidaksiapan guru untuk memberikan pendidikan kesehatan reproduksi, dan kondisi tindak kekerasan sekitar rumah tempat tinggal juga berpengaruh (O’Keefe, 1997: 368-376).


Remaja yang tidak mempu-nyai tempat tinggal tetap dan tidak mendapatkan perlin-dungan dan kasih sayang orang tua, memiliki lebih banyak lagi faktor-faktor yang berkontribusi, seperti: rasa kekuatiran dan ketakutan yang terus menerus, paparan ancaman sesama remaja jalanan, pemerasan, penganiayaan serta tindak kekerasan lainnya, pelecehan seksual dan perkosaan (Kipke et al., 1997:360-367). Para remaja ini berisiko terpapar pengaruh lingkungan yang tidak sehat, termasuk penyalahgunaan obat, minuman

beralkohol, tindakan kriminalitas, serta prostitusi (Iskandar, 1997).


Pelayanan Kesehatan Reproduksi bagi Remaja


Pilihan dan keputusan yang diambil seorang remaja sangat tergantung kepada kualitas dan kuantitas informasi yang mereka miliki, serta ketersediaan pelayanan dan kebijakan yang spesifik untuk mereka, baik formal maupun informal (Pachauri, 1997).


Sebagai langkah awal pencegahan, peningkatan pengetahuan remaja mengenai kesehatan reproduksi harus ditunjang dengan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) yang tegas tentang penyebab dan konsekuensi perilaku seksual, apa yang harus dilakukan dan dilengkapi dengan informasi mengenai saranan pelayanan yang bersedia menolong seandainya telah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan atau tertular ISR/PMS. Hingga saat ini, informasi tentang kesehatan reproduksi disebarluaskan dengan pesan-pesan yang samar dan tidak fokus, terutama bila mengarah pada perilaku seksual (Iskandar, 1997).


Di segi pelayanan kesehatan, pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana di Indonesia hanya dirancang untuk perempuan yang telah menikah, tidak untuk remaja. Petugas kesehatan pun belum dibekali dengan kete-rampilan untuk melayani kebutuhan kesehatan reproduksi para remaja (Iskandar, 1997).


Jumlah fasilitas kesehatan reproduksi yang menyeluruh untuk remaja sangat terbatas. Kalaupun ada, pemanfaatannya relatif terbatas pada remaja dengan masalah kehamilan atau persalinan tidak direncanakan. Keprihatinan akan jaminan kerahasiaan (privacy) atau kemampuan membayar, dan kenyataan atau persepsi remaja terhadap sikap tidak senang yang ditunjukkan oleh pihak petugas kesehatan, semakin membatasi akses pelayanan lebih jauh, meski pelayanan itu ada. Di samping itu, terdapat pula hambatan legal yang berkaitan dengan pemberian pelayanan dan informasi kepada kelompok remaja (Outlook, 2000).


Karena kondisinya, remaja merupakan kelompok sasaran pelayanan yang mengutamakan privacy dan confidentiality (Senderowitz, 1997a:10). Hal ini menjadi penyulit, mengingat sistem pelayanan kesehatan dasar di Indonesia masih belum menempatkan kedua hal ini sebagai prioritas dalam upaya perbaikan kualitas pelayanan yang berorientasi pada klien

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Tinjauan Umum Kesehatan Reproduksi Remaja

Penyebab Jerawat & Cara Mengobati/Membersihkan Jerawat Di Wajah/Muka Kita Yang Berjerawat

Penyebab Jerawat & Cara Mengobati/Membersihkan Jerawat Di Wajah/Muka Kita Yang Berjerawat: "


A. Arti Definisi / Pengertian Jerawat by Organisasi.Org


Jerawat adalah suatu kondisi kulit yang tidak normal di mana terjadi infeksi dan radang pada kelenjadi minyak pada kulit manusia. Jerawat bentuknya memang tidak sedap dipandang mata, mengganggu dan membuat kita tidak pede di depan umum. Jerawat pun juga terkadang berasa sakit jika disentuh sehingga kita ingin segera sembuh dari serngan jewarat. Jerawat tidak boleh kita sepelekan agar tidak menjadi parah.


B. Sumber Penyebab Timbul Penyakit Jerawat Pada Kulit


Jerawat biasanya dapat timbul dan terjadi karena hal-hal seperti :

1. Adanya sumbatan lapisan kulit mati pada pori-pori yang terinfeksi.

2. Kelenjar minyak yang diproduksi terlalu berlebih.

3. Karena faktor genetik turunan orangtua.

4. Faktor hormon seperti pada saat pubertas menginjak belia.

5. Adanya iritasi kulit.

6. Gaya hidup stres.

7. Pil KB.

8. dan lain sebagainya.


Biasanya minyak dan lapisan kulit mati yang tidak dibersihkan akan menyumbat pori-pori dan membentuk komedo. Komedi dapat menjadi radang jika terkontaminasi bakteri propionibacterium acnes atau p acnes. Radang itulah yang disebut jerawat. Setiap orang memiliki ketahanan masing-masing terhadap bakteri p acnes tersebut. Jerawat tidak hanya bisa muncul di wajah saja namun juga bagian lain seperti punggung, dada, lengan, kaki, pantat, dll.


C. Tips Cara Mambersihkan dan Menyembuhkan Jerawat Wajah


1. Rajin Membersihkan Wajah / Muka


Rawat wajah kita sebaik mungkin dengan membuatnya tetap bersih. Kenali jenis kulit kita sebelum memilih sabun dan pembersih wajah. Sering membersihkan wajah akan sangat baik sekali tertama setelah bepergian ke tempat yang berudara kotor debu dan polusi. Bila ada dana ekstra jangan sungkan untuk facial.


Untuk perangkat pembersih muka ada baiknya memilih sabun yang khusus untuk kulit wajah yang kemudian dilanjutkan dengan lotion/cairan pembersih wajah dengan PH normal / PH balanced agar dapat mengangkat kotoran wajah dan minyak yang menempel erat. Dibandingkan kapas, kain lap akan jauh lebih baik dalam hal membersihkan kotoran yang menymbat pori-pori kulit muka.


Jerawat memang menggemaskan dan membuat malu. Tapi kita harus tetap menyikapi jrawat dengan kepala dingin dan tegar. Jangan pernah memijit atau memencet jerawat agar tidak terkena kotoran dan kuman yang menempel di tangan kita serta jerawat tidak infeksi. Biarkan jerawat pecah sendiri. Jerawat bisa semakin parah jika tidak disikapi dan ditanggulangi dengan baik.


2. Gaya Hidup Sehat


Makanlah makanan yang bergizi dan tidak berlebihan terutama makanan yang mengandung banyak minyak, banyak pengawet, berpenyedap rasa kuat, pedas, dsb. Hindarilah makanan dan minuman yang mengandung banyak lemak dan kolesterol serta makanan yang dapat memicu jerawat seperti keju, susu full cream, gorengan, dll.


Olahraga yang teratur, tidak begadang, tidak merokok, tidak mengkonsumsi narkoba, dll untuk membantu tubuh kita tetap memiliki pertahanan tubuh yang baik dan maksimal. Hindari zat radikal bebas yang dapat ditemukan dimana-mana serta menghadang dampak radikal bebas dengan minum teh atau lainnya yang mengandung antioksidan.


3. Obati Jerawat Yang Tidak Kunjung Sembuh Ke Dokter Spesialis Kulit


Jika jerawat terus membandel tidak mau hilang setelah melakukan berbagai tindakan pengobatan sendiri, maka sebaiknya kita konsultasi dengan dokter spesialis kulit untuk mendiskusikan jerawat yang kita miliki. Dokter akan membantu menghilangkan jerawat serta meminimalisir terbentuknya flek noda hitam pada wajah bekas jerawat.


Biasanya dokter akan memberikan obat antobiotik jika jerawat kita meradang dan bernanah. Ikuti petunjuk dokter dengan baik agar antibiotik tidak malah membuat kuman jerawat menjadi kebal obat-obatan. Jangan menggunakan obat jerawat sembarangan karena dapat memperparah keadaan jerawad.


- Semoga Lekas Sembuh Dengan Sukses -

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Penyebab Jerawat & Cara Mengobati/Membersihkan Jerawat Di Wajah/Muka Kita Yang Berjerawat

Amenore

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam masa kanak-kanak ovarium boleh dikatakan masih dalam keadaan istirahat, belum menunaikan faalnya dengan baik. Baru jika terjadi pubertas ( akil balig ), maka terjadilah perubahan-perubahan dalam ovarium yang mengakibatkan pula perubahan-perubahan besar pada seluruh badan wanita tersebut.
Pubertas tercapai pada umur 12-16 tahun dan dipengaruhi oleh keturunan, bangsa, iklim, dan lingkungan.
Kejadian yang terpenting dalam pubertas ialah timbulnya haid yang pertama kali ( menarche ). Walaupun begitu menarche merupakan gejala pubertas yang lambat. Paling awal terjadi pertumbuhan payudara ( thelarche ), kemudian tumbuh rambut kemaluan ( pubarche ), disusul dengan tumbuhnya rambut di ketiak. Setelah tu barulah terjadi menarche, dan sesudah itu haid datang secara siklik.
Haid ( menstruasi ) adalah perdarahan yang siklik dari uterus sebagai tanda bahwa alat kandungan menunaikan faalnya. Secara fisiologis menstruasi adalah proses hormonal dalam tubuh wanita sebagai hasil dari pelepasan ovum. Pelepasan itu terjadi ketika ovum yang ada di ovarium tidak dibuahi.
Amenore adalah absennya perdarahan menstruasi. Amenore normal terjadi pada wanita prepubertal, kehamilan, dan postmenopause. Pada wanita usia reproduktif, yang harus diperhatikan pertama kali dalam mendiagnosa etiologi dari amenore adalah kehamilan. Apabila tidak ada kehamilan, barulah kita harus mencari alternatif lain untuk mencari etiologi dari amenore itu sendiri.
Amenore primer : Ketika wanita 16 tahun dengan pertumbuhan seksual sekunder normal atau 14 tahun tanpa adanya pertumbuhan seksual sekunder; tidak mendapatkan menstruasi
Diagnosa yang terjadi pada amenore primer termasuk diantaranya vaginal agenesis, sindroma insensitifitas androgen, sinroma Turner. Diagnosa yang lain tergantung pada pemeriksaan yang lain.

























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Amenore dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
1. Amenore primer : Ketika wanita 16 tahun dengan pertumbuhan seksual sekunder normal atau 14 tahun tanpa adanya pertumbuhan seksual sekunder; tidak mendapatkan menstruasi.
2. Amenore sekunder : Ketika wanita yang pernah mendapatkan menstruasi, tidak mendapatkan menstruasi.
Diagnosa yang terjadi pada amenore primer termasuk diantaranya vaginal agenesis, sindroma insensitifitas androgen, sinroma Turner. Diagnosa yang lain tergantung pada pemeriksaan yang lain.

2.2 ANAMNESIS

Anamnesis yang akurat berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan sejak kanak-kanak, termasuk tinggi, berat badan dan usia saat pertama kali mengalami pertumbuhan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan.
Dapatkan pula informasi anggota keluarga yang lain (ibu dan saudara wanita) mengenai usia mereka pada saat menstruasi pertama, karena biasanya antara ibu dan anak-anaknya pertama kali mendapatkan menstruasi hanya berselang 1 tahun.
Informasi tentang banyaknya perdarahan, lama menstruasi, dan periode menstruasi terakhir juga perlu untuk ditanyakan.
Riwayat penyakit kronis yang pernah diderita, trauma, operasi, dan pengobatan juga penting untuk ditanyakan.
Kebiasaan-kebiasaan dalam kehidupan seksual, penggunaan narkoba, olahraga, diet, situasi di rumah dan sekolah, dan kelainan psikisnya juga penting untuk ditanyakan.
Gejala-gejala klinis yang lain seperti gejala vasomotor, panas badan, galactorrhea, nyeri kepala, lemah badan, pendengaran berkurang, perubahan pada penglihatan juga harus ditanyakan.

2.3 PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik, yang pertama kali diperiksa adalah tanda vital, termasuk tinggi badan, berat badan dan perkembangan seksual. Pemeriksaan fisik yang lain adalah sebagai berikut :
• Keadaan umum :
o Anoreksia-cacheksia, bradikardi, hipotensi, dan hipotermi.
o Tumor hipofise-perubahan pada funduskopi, gangguan lapang pandang, dan tanda-tanda saraf kranial.
o Sindroma polikistik ovarium-jerawat, akantosis, dan obesitas.
o Inflammatory bowel disease-Fisura, skin tags, adanya darah pada pemeriksaan rektal.
o Gonadal dysgenesis ( sindroma Turner )- webbed neck, lambatnya perkembangan payudara.
• Keadaan payudara
o Galactorrhea-palpasi payudara.
o Terlambatnya pubertas- diikuti oleh rambut kemaluan yang jarang.
o Gonadal dysgenesis (sindroma Turner )- tidak berkembangnya payudara dengan normalnya pertumbuhan rambut kemaluan.
• Keadaan rambut kemaluan dan genitalia eksternal
o Hiperandrogenisme- distribusi rambut kemaluan dan adanya rambut di wajah.
o Sindroma insensitifitas androgen- Tidak ada atau jarangnya rambut ketiak dan kemaluan dengan perkembangan payudara.
o Terlambatnya pubertas- tidak disertai dengan perkembangan payudara.
o Tumor adrenal atau ovarium- clitoromegali, virilisasi.
o Massa pelvis- kehamilan, massa ovarium, dan genital anomali.
• Keadaan vagina
o Imperforasi himen- menggembung atau edema pada vagina eksternal.
o Agenesis ( Sindroma Rokitansky-Hauser )- menyempitnya vagina tanpa uterus dan rambut kemaluan normal.
o Sindroma insensitifitas androgen- menyempitnya vagina tanpa uterus dan tidak adanya rambut kemaluan.
• Uterus : Bila uterus membesar, kehamilan bisa diperhitungkan.
• Cervix : Periksa lubang vagina, estrogen bereaksi dengan mukosa vagina dan sekresi mukus. Adanya mukus adalah tanda bahwa estradiol sedang diproduksi oleh ovarium. Kekurangan mukus dan keringnya vagina adalah tanda bahwa tidak adanya estradiol yang sedang diproduksi.


2.4 PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pertimbangkan untuk melakukan tes laboratorium : CBC, erithrocyte sedimentation rate ( ESR ), thyroid- stimulating hormone ( TSH ), boneage, FSH dan LH, fungsi hati, BUN, kreatinin, urinalisis ( UA ), urin HCG, karyotyping, dehydroepiandrosterone sulfat ( DHEAS ), androstenedione, testosterone, adrenal suppresion test untuk 17- hydroxyprogesterone, pelvic ultrasound, MRI, dan kemungkinan radiograf untuk melihat sella turcica. Yang terakhir ini dapat mendeteksi lesi hipofise di dasar kelenjar hipofise dan dapat mengganggu sella itu sendiri. Banyak ahli yang lebih memilih MRI daripada radiograf untuk melihat sella apabila mencari CNS penyebab amenore.

2.5 ETIOLOGI AMENORE

• Keterlambatan pubertas umum
o Keterlambatan konstitusional
o Hipergonadotropik hipogonadisme
 Sindroma Turner
 Gonadal dysgenesis dengan karyotype mosaic
 Gonadal dysgenesis murni ( Sindroma Perrault, Sindroma Swyer )
 Gonadotropin-resistant ovary syndrome
 Penyebab yang didapat ( alkylating chemotherapy dosis tinggi, radiasi pelvis, oophoritis autoimun )
o Hipogonadotropik hipogonadisme
 Kondisi kronis ( kelaparan, olahraga yang berlebihan, depresi, stress psikologis, penggunaan mariyuana, Crohn disease, fibrosis kistik, sickle cell disease, talasemia mayor, infeksi HIV, penyakit ginjal, penyakit tiroid, diabetes melitus, anorexia nervosa )
 Lambatnya pertumbuhan tumor central nervous system ( CNS ) ( adenoma, craniofaringioma, meningioma, microadenoma hipofise )
 Abnormalnya perkembangan hipotalamus ( Sindroma Kallman, Sindroma Prader-Willi, dan Sindroma Laurence-Moon-Biedl )
 Kelainan lain yang didapat ( kelainan infiltrasi [ sarcoidosis, histiositosis sel Langerhans, sifilis, tuberculoma], kelainan iskemik [ disebabkan oleh trauma, aneurisma, obstruksi pada duktus Sylvius ], dan destruksi [ radiasi dosis tinggi] )
• Pubertas normal
o Berhubungan dengan hiperandrogenisitas ( sindroma polikistik ovarii, terlambatnya onset defisiensi 21-hydroylase [hiperplasia adrenal kongenital nonklasik], tidak matangnya hypothalamic-pituitary-ovarian axis, Cushing disease, androgen-producing ovarian, atau adrenal tumor, hipertropi stromal ovarii )
o Berhubungan dengan tidak adanya hirsutisme atau virilisasi ( tidak matangnya hypothalamic-pituitary-ovarian-axis, kehamilan )
o Hipergonadotropik hipogonadisme ( gagal ovarium, kemoterapi alkilating dosis tinggi, radiasi pelvis, oophoritis autoimun )
• Traktus genital anomali
o Mullerian agenesis ( sindroma Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser )
o Obstruksi anatomi kongenital atau didapat ( imperforasi himen, transverse vaginal septum, sindroma Asherman, destruksi endometrial karena infeksi )

2.6 HIPERGONADOTROPIK HIPOGONADISME

Pubertas dikatakan terlambat, bila tidak ada perkembangan payudara pada umur 13,5 tahun, tidaka ada rambut kemaluan pada umur 14 tahun, dan tidak mendapatkan menstruasi pada umur 16 tahun. Penyebab yang paling sering dari keterlambatan pubertas adalah keterlambatan konstitusional. Penyebab tersering yang lain adalah kegagalan ovarium, yang mana termasuk diantaranya hipergonadotropik hipogonadisme. Peningkatan nilai dari FSH dan LH pada hipergonadotropik hipogonadisme disertai dengan menurunnya produksi dari estrogen.
Salah satu contoh yang paling sering terjadi pada keadaan hipergonadotropik hipogonadisme adalah pada sindroma Turner, yang mana disebabkan oleh 45,X karyotype. Gejala klinis yang khas dari sindroma Turner adalah leher webbed, stature pendek, dada seperti perisai, aurikel anomalous, dan hipoestrogenemia sebagai hasil dari tidak matangnya seksual. Gonadal disgenesis biasanya ditandai dengan FSH yang tinggi, LH dan estradiol yang rendah. Gonadal disgenesis disebabkan oleh karyotype mosaik dengan abnormalnya kromosom X atau dengan karyotype normal ( 46,XX). Pasien dengan sindroma Perrault memiliki disgenesis gonadal, karyotype normal, dan tuli saraf. Sindroma Sawyer diilustrasikan sebagai wanita yang belum dewasa dengan kariotipe 46,XY tanpa faktor testis determinan pada kromosom Y. Penyebab hipergonadotropik hipogonadisme jarang lainnya adalah sindroma ovarii gonadotropin-resistant, yang mana ditandai dengan FSH-resistant ovarii.
Penyebab hipergonadotropik hipogonadisme yang didapat dapat terjadi akibat dari kemoterapi alkylating dosis tinggi dan terapi radiasi pada pelvis. Peningkatan ESR dan anti-ovarian antibodi dapat mengakibatkan oophoritis autoimun, tapi tes yang lain jarang diperlukan. Oophoritis autoimun adalah diagnosis yang tidak bisa diperbaiki, seperti juga semua bentuk hipergonadotropik hipogonadisme yang lain.

2.7 HIPOGONADOTROPIK HIPOGONADISME

Hipogonadotropik hipogonadisme dapat terjadi ketika nilai FSH dan LH rendah. Penyebab yang paling sering terjadi pada keadaan hipogonadotropik hipogonadisme termasuk diantaranya penyakit kronis, kelaparan, olahraga yang berlebihan, anoreksia nervosa, depresi, stress, dan penggunaan mariyuana. Hipogonadotropik hipogonadisme menyebabkan lambatnya pelepasan GnRH yang disebabkan oleh komponen multifaktor dari menurunnya lemak tubuh dan peningkatan β endhorphins.
Penyakit kronis dapat mempengaruhi perkembangan pubertas dengan cara mengganggu metabolisme lewat malabsorbsi dan nutrisi buruk ( Crohn disease, diabetes mellitus, hipotiroid, hipertiroid, fibosis kistik, anorexia nervosa, olahraga yang berlebihan.
Tumor di CNS dapat mengkompresi vena porta dan menghambat alur GnRH dari hipotalamus ke kelenjar hipofise. Hipofise adenoma, craniofaringioma, dan meningioma, adalah contoh dari tumor slow-growing nonmetastase, sebagai penyebab yang jarang dari hipogonadotropik hipogonadisme. Prolaktinoma hipofise anterior dapat melepas hormon prolaktin adalah tumor hipofise tersering yang menjadi penyebab hipogonadotropik hipogonadisme.
Kelainan didapat yang lain dapat mengganggu fungsi dari hipofise dengan menghancurkan sesuatu, seperti iskemik, infiltrasi, dan obstruksi. Trauma kepala, kranial aneurisma, dan proses infiltrasi ( sarcoidosis, sifilis, tuberculomas ) adalah contoh dari kondisi yang dapat mengganggu fungsi hipofise.
Perkembangan abnormal dari hipotalamus dapat terjadi karena hipogonadotropik hipogonadisme. Sindroma Kallman ditandai dengan anosmia, lambatnya pubertas, dan respon normal terhadap eksogenous gonadotropin dari embrio yang kekurangan kode protein dari gene KAL 1, yang bisa mencegah produksi sel GnRH dari migrasinya area olfaktori ke hipotalamus. Sindroma lain yang dihubungkan dengan disfungsi hipotalamus termasuk diantaranya sindroma Prader-Willi dan sindroma Laurence-Moon-Biedl.
Biasanya, amenore dengan perkembangan pubertas yang normal dihubungkan dengan hirsutisme. Penyebab tersering adalah sindroma ovarii polikistik (PCO). Sindroma PCO ditandai dengan anovulasi, hirsutisme dan obesitas. Selain anovulasi, tanda-tanda lain tidak harus selalu ada. Ovarian hipertekosis adalah asil dari hiperandrogenisitas, yang mana adalah bukti dari tanda-tanda hirsutisme, jerawat, dan obesitas dan bisa dihubungkan dengan diabetes mellitus tipe 2 dan akantosis nigrikans. Hipertekosis dapat juga menyebabkan virilisasi yang dapat dilihat pada kasus clitoromegali, botak pada bagian temporal kepala, dan perubahan pada suara.
Kasus lain dari hirsutisme adalah defisiensi late-onset 21-hidroksilase, yang dapat menyebabkan mutasi gen 21-hidroksilase, sebagai hasil dari 17-hidroxilase. Kasus lain dari hiperandrogenisme termasuk diantaranya Cushing disease, hipertropi stromal ovarii, dan androgen-producing tumor ovarii dan kelenjar adrenal. Penggunaan anabolik steroid juga bisa dipertimbangkan pada pembeda dengan amenore hiperandrogenik.
Anovulasi masih menjadi penyebab utama terjadinya amenore di kategori nonvirilisasi. Anovulasi disebabkan oleh tidak dewasanya hipothalamic-pituitary-ovarian axis, yang bisa terpisah setelah diskontinuasi dari variasi pengobatan kontrasepsi hormon dan bisa menyebabkan absennya menstruasi dalam beberapa bulan. Prematur idiopatik menopause pada 1% dari wanita dibawah 40 tahun. Kegagalan ovarium prematur dapat idiopatik, sekunder dari kemoterapi atau terapi radiasi, ataupula autoimun.
Hiperprolaktinemia adalah penyebab hipofise dari amenore pada keadaan pubertas normal. Hiperprolaktinemia dapat terjadi sebagai konsekuensi dari breastfeeding, mikroadenoma hipofise, dan penggunaan obat-obat psikoaktif ( haloperidol, phenothiazin, amitriptylin, benzodiazepin, kokain, mariyuana. )
Amenore dapat disebabkan oleh kelainan tiroid, termasuk diantaranya hipertiroid, dan hipotiroid. Hipogonadotropik hipogonadisme dapat terjadi karena kasus yang sama dengan kasus lambat pubertas. Untuk tambahan, sindroma Sheehan, yang dihasilkan dari panhipohipofisesme setelah infark hipofise dari hemorrhage atau shock post partum dapat berkembang menjadi pubertal amenore.
Amenore sebagai akibat dari anomali traktus genitalis dapat terjadi dari absennya organ reproduksi. Sindroma Mayer-Rokitansky-Hauser adalah anomali dari traktus genital yang disebabkan oleh vaginal agenesis. Uterus biasanya tidak ada, dan vagina biasanya menyempit. Karene fungsi ovarium normal dan memproduksi estradiol, maka bentuk dan besar payudara normal pula. Pubarche juga biasanya normal pada penderita pasien ini, sehingga rambut kemauan pun normal juga. Sindroma Mayer-Rokitansky-Hauser tercatat ada 15% dari penyebab amenore primer, yang ternyata merupakan penyebab tertinggi kedua amenore primer setelah sindroma Turner.
Sindroma insensitifitas androgen (ditandai dengan adanya wanita dengan hormon testicular), tercatat kurang lebih 10% dari pasien yang datang dengan kluhan amenore. Sindroma insensitifitas androgen disebabkan oleh abnormalnya reseptor androgen. Gonad adalah testikel yang memproduksi testosteron; tetapi testosteronnya tidak menimbulkan efek apapun karena reseptor androgennya tidak berfungsi. Gambaran fenotipe dari pasien dengan kondisi ini adalah wanita, tetapi sirkulasi pola hormonalnya adalah pria. Sindroma insensitifitas androgen termasuk penyakit maternal-X linked yang resesif yang mana testes tetap intraabdominal atau, dan rambut kemaluan jarang.
Regresi testikuler spontan adalah pola kelainan genetik pria yang jarang, sehingga menyebabkan terjadinya fenotipe wanita, dengan tidak adanya uterus. Untuk tambahan, beberapa defiiensi enzim mempengaruhi produksi androgen, sehingga menyebabkan pseudohermaprodit pada pria. Semua kelainan yang berupa fenotipe wanita tapi kromosomnya pria, harus dipindahkan gonadnya untuk mencegah bahaya kanker.
Amenore primer dapat terjadi karena imperforasi himen, yang ditandai dengan membesarnya uterus dan nyeri perut siklik. Sindroma Asherman terjadi setelah kuretase yang terlalu kuat, sehingga menghasilkan adhesi atau sinekia (perlengketan) dapat mencegah endometrium untuk merespon estradiol. Infeksi signifikan yang menhancurkan jalur endometrium juga dapat berakibat pada amenore primer atau sekunder.

2.7 ALGORITMA UNTUK MENGEVALUASI AMENORE DENGAN PUBERTAS LAMBAT

Dapatkan hasil laboratorium berikut : tes fungsi tiroid, pertumbuhan tulang , dan nilai prolactin, LH, FSH.
• Bila nilai FSH memanjang dan nilai tiroksin (T4) menurun, penyebabnya adalah hipotiroid.
• Bila pertumbuhan tulangnya yang lambat, maka penyebabnya adalah kelambatan konstitusional.
• Bila nilai LH dan FSHnya memanjang, dapatkan kariotipe.
o Bila kariotipenya 45,XO, maka penyebabnya adalah disgenesis gonadal ( sindroma Turner). Amenore juga bisa terjadi apabila salah satu dari dua kromosom X abnormal , seperti cincin kromosom atau hilangnya sebagian dari lengan X kromosom p atau q.
o Bila kariotipenya 46,XX, penyebab utamanya adalah kegagalan ovarium. Dapatkan pemeriksaan autoimun. Pikirkan etiologi oophoritis autoimun, efek dari terapi radiasi atau kemoterapi, defisiensi 17-ά-hidroksilase, atau sindroma ovarium resisten.
• Bila LH dan FSH menurun atau dalam batas normal, dapatkan MRI kepala.
o Bila pada pemeriksaan MRI abnormal, maka penyebabnya adalah tumor hipofise, hancurnya hipofise, atau penyakit hipotalamus.
o Bila nilai prolactin memanjang, dapatkan MRI kepala.
 Apabila pada paemeriksaan MRI abnormal, penyebabnya adalah tumor hipofise atau lesi otak yang mengganggu keseimbangan hipofise. Bila pada pemeriksaan MRI normal maka penyebabnya kemungkinan penggunaan mariyuana atau obat-obat psikiatri, khususnya dopamine antagonist, yang mana bisa mengurangi faktor penghambat prolaktin dan peningkatan berkala pada nilai serum prolactin.
 Bila pada pemeriksaan MRI normal dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang normal pula, maka etiologinya bisa karena penggunaan obat, gangguan pola makan, atletikisme, atau stress psikososial.
 Bila pada pemeriksaan MRI abnormal tetapi pada evaluasi klinis dan pemeriksaan fik abnormal, maka penyakit kronis bisa termasuk didalamnya.



2.8 ALGORITMA UNTUK EVALUASI AMENORE DENGAN PUBERTAS NORMAL

Periksa tes kehamilan.
• Apabila tes kehamilan positif, maka rujuklah pasien ke spesialis.
• Apabila tes kehamilan negatif, periksa nilai TSH dan prolactin.
• Apabila nilai TSH dan prolaktin dalam batas normal, lakukan pemeriksaan progestinnya.
o Apabila ada perdarahan , pikirkan siklus annovulatory untuk memasukkan sindroma PCO.
o Apabila tidak ada perdarahan dan E2/ pemeriksaan progestin negatif, pikirkanlah sindroma Asherman atau obstruksi outlet.
o Apabila ada perdarahan setelah pemeriksaan E2/ progestin dan pada pemeriksaan uterus dan vagina normal, periksa nilai FSH dan LH.
 Bila nilai FSH dan LH menurun atau dalam batas normal, periksa MRI kepala.
 Apabila pada pemeriksaan MRI abnormal, pikirkan penyakit hipotalamus, hancurnya hipofise, atau tumor hipofise.
 Apabila pada pemeriksaan MRI normal, maka lanjutkan dengan evaluasi klinis untuk menyingkirkan penyakit kronis, anorexia nervosa, penggunaan mariyuana atau kokain, atletikisme, atau stress psikososial.
 Bila nilai FSH dan LH meningkat, periksa kariotipe.
 Bila pada pemeriksaan kariotipe, pikirkan mosaik Turner atau mixed gonadal dysgenesis.
 Bila kariotipenya abnormal (46,XX), penyebabnya kegagalan ovarium. Periksa sistem autoimun. Pikirkan oophoritis autoimun; kegagalan ovarium prematur, penggunaan terapi radiasi dan kemoterapi, atau sindroma ovarium resisten.
• Bila nilai TSH dan prolaktin memanjang, penyebabnya hipotiroidisme dan hiperprolaktinemia.
Periksa testosteron dan nilai DHEAS pada pasien dengan hirsutisme.
• Bila nilai testosteron lebih dari 90 mcg/mL dan nilai DHEAS lebih dari 700 ng/mL, pikirkan PCOS, hiperplasia adrenal kongenital, hipertekosis, atau tumor sekret androgen.
• Bila nilai testosteron dan DHEAS dalam batas normal atau sedikit meningkat, lakukan pemeriksaan progestin. Bila ada perdarahan, maka diagnosisnya adalah PCOS



BAB III
KESIMPULAN


Amenore dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu :
3. Amenore primer : Ketika wanita 16 tahun dengan pertumbuhan seksual sekunder normal atau 14 tahun tanpa adanya pertumbuhan seksual sekunder; tidak mendapatkan menstruasi.
4. Amenore sekunder : Ketika wanita yang pernah mendapatkan menstruasi, tidak mendapatkan menstruasi.


"
lihat artikel selengkapnya - Amenore

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: