- Barang siapa yang memelihara mulutnya dan lidahnya maka ia telah melepaskan dirinya dari beberapa kesusahan.
- Barang siapa yang menyumbat telinganya akan tangisnya orang miskin, maka iapun kelak akan berteriak tetapi tiada yang mendengar akan suaranya.
- Barang siapa yang mengasihani orang meski, ia memberi pinjam kepada Tuhan,maka Tuhanpun akan membalas kebajikannya.
- Barang siapa yang menyembunyikan dengki dengan jalan berbohong dan siapa yang memasyurkan kabar busuk, ia itu bodoh dan jahat adanya.
- Bila pergi membawa bekal, dan bila mati membawa amal.
- Berpikirlah hari ini dan berbuatlah hari esok.
- Berjuanglah dengan orang lain menimbulkan parang tetapi berjuang diri sendiri menimbulkan perdamaian.
- Binatang hanya satu musim saja mengecap cinta, tapi manusia dapat mengecap nikmatnya cinta itu sepanjang waktu,hingga ia jadi tua bangka.
- Beroleh kemenangan lantaran bertambah seorang sahabat lebih berharga dari pada kemenangan cinta dari seorang perempuan.
- Bagi lelaki menerima sama dengan memberi, bagi wanita sama dengan mendapat.
- Betapapun bijaksananya mereka tetapi menjadi tolol dikala bercinta.
- Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik oleh kamu, dan boleh jadi kamu cintai, padahal jahat akibatnya.
- Berbuatlah, hanya dengan begitu kita dabat membuat mungkin apa yang tidak mungkin.
- Seperti anting-anting dijungur babi demikianlah seorang wanita cantik yang tidak bersusila.
- Bekerja, sekali lagi bekerjalah sebab bekerja adalah alat panentram, perangsang tempat pelarian, tempat latihan dan hiburan.
- Bila anda pernah patah hati, maka obat yang mujarab adalah mencintai orang yang pernah patah hati.
- Bila anda ingin jujur kepada orang lain, jujurlah terlebih dahulu terhadap diri sendiri.
- Bukalah lebar-lebar mata dan telinga tapi tutuplah mulut anda.
- Berikanlah senyum pada semua orang tetapi berikanlah cintamu kepada seorang saja.
- Bencilah seseorang itu sekedarnya saja karna suatu saat bisa jadi orang yang paling kamu cintai.
- Cintailah seseorang itu sekedarnya saja karna suatu saat bisa jadi orang yang paling kamu benci.
- Cinta asmara akan merayap dimana air tak bisa lalu.
- Cinta dan perang tidak beraturan.
- Cinta yang mengadakan pertemuan dan cinta pulalah yang membuat perpisahan.
- Cinta itu bermacam-macam tapi yang paling aman dan kekal adalah cinta yang melalui pintu kekasih
- Cinta yang dimulai bengan api semangat yang membakar, sering kali berakhir dingin dan beku.
- Cinta yang sejati tiba–tiba putus tak ubahnya seperti orang tua yang kehilangan tongkat.
- Cinta adalah noda yang menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan cinta tak dapat dirasakan betapa indahnya hidup ini.
- Cemburu adalah dinding antara cinta dan benci.
- Cinta hati itulah sekuat-kuat cinta, tetapi cinta mata tak dapat menahan panas dan hujan.
- Cinta membuat orang lemah menjadi kuat dan orang kuat menjadi lemah.
- Cinta adalah fajar perkawinan adalah senjata percintaan.
- Tangan yang lamban membuat miskin tapi orang yang rajin menjadikan ia kaya.
- Cinta itu adalah sesuatu yang aneh, jika manusia menggenggamnya terlalu longgar maka ia akan lari.
- Cinta menyebabkan si kikir menjadi royal,si pengecut akan lebih berani mati untuk orang yang dikasihi.
- Cinta itu bagaikan api, ia tidak boleh dipermainkan, bila ia dipermainkan dia akan membakar diri anda.
- Cinta itu bukan sumber bahagia,tetapi ketiadaan cinta adalah sumber derita.
- Cinta pada dasarnya memang benar-benar suci, akan tetapi pelaku-pelakunya selalu merusaknya dengan tidak menurutkan saling pengertian.
- Cinta yang paling sejati adalah cinta yang terdiri dari dua orang saja dan tidak ada tempat bagi orang ketiga.
- Cintailah kekasihmu selamanya, namun Tuhan jualah yang harus menumpahkan rasa kasih dan cinta selama kau hidup dan mati.
- Cinta adalah mahkota kehidupan, ia juga memahkotai mereka yang paling hina dina.
- Cinta itu indah, tetapi tidaklah setiap keindahan mengandung cinta.
- Cinta adalah perasaan tarik menarik di dalam hati dua manusia yang berlainan jenis untuk saling merasakan suka duka masing-masing.
- Cinta yang di tanam pada kewajiban yang lurus akan akan terus tumbuh walaupun kejelitaan telah berganti uban dan kekerasan telah menjadi renta.
- Cinta sejati itu seperti hantu, hampir semua orang membicarakannya tapi hanya sedikit orang yang benar-benar menjumpainya.
- Cintailah Tuhanmu dan ia akan tinggal denganmu, taatilah Tuhanmu dan ia akan memperlihatkan rahasia kebenaran yang sejati.
- Jangan menahan kebaikan kepada mereka yang menerimanya.
- Istri yang cakap adalah mahkota suami tapi istri yang membuat malu bagaikan penyakit yang membusukan tulang.
- Ciri-ciri orang yang beradap adalah ia sangat rajin dan suka sekali belajar dari orang-orang yang kedudukannya lebih rendah dari padanya.
- Cara baik untuk membuat anak- anak kita ialah membuat mereka bahagia.
- Diantara hal-hal yang diperjual belikan, cinta tiruan lebih mahal harganya.
- Didalam percintaan hanya permulaan yang menarik itulah sebabnya banyak orang yang sering memulainya kembali.
- Dari segala sesuatu didunia yang terbaik adalah istri yang mencintai dan kepadanya berikan perlakuan dan tempat tinggal yang baik.
- Godaan senantiasa menghalangi setiap orang untuk berbuat baik dari itu tajamkan diri dari tiap pengaruh.
- Gagal dalam perjuangan belum tentu berarti kemunduran.
- Hidup tak ada harganya bagi orang yang tak mempunyai seorang kawan sejati.
- harapan” saya tidak selalu terbukti, tetapi selalu saya mengharap.
- hanya penderitaan hidup yang dapat mengajarkan kepada manusia menghargai kebaikan dan keindahan hidup.
- dari perkataan ada yang lebih keras dari pada jarum dan lebih pahit dari pada empedu dan lebih panas dari pada bara.
- Hari bekarja untuk si pemalas adalah besok, hari liburnya adalah hari ini.
- Hidup tidak menghadiahkan barang sesuatupun kepada manusia tanpa kerja keras.
- Berbahagialah orang yang mendapat hikmah dan pengetahuan karena hal itu lebih berharga dari pada batu permata.
- Hati-hatilah dalam berjanji karena hal itu akan menjadi ukuran sampai dimana keluhuran budimu.
- Hidup miskin dan melarat adalah satu ujian bagi manusia yang ingin menaiki tangga sukses.
- Ilmu pengetahuan adalah mengetahui kedua-duanya,yaitu apa” yang diketahui orang dan apa” yang tidak diketahui orang.
- Ilmu yang tiada diamalkan adalah kosong dan pekerjaan yang tiada diselesaikan adalah sia”.
- Ingatlah! Bahwa yang hari ini anda tak mau mengerjakannya, besokpun anda belum tentu anda mau mengerjakannya.
- Jangan cepat” memberi maaf kepada orang yang melukai hatimu, apabila kau cepat memberinya maaf engkau akan di remehkan orang.
- Jangan hinakan usaha orang lemah, karena terkadang ular yang besar dapat mati dengan sengatan kala jengking saja.
- Jangan bersenang hati bila melihat orang yang membencimu mendapat kesusahan.
- Jika kita tidak memiliki apa yang kita sukai, kita mesti menyukai apa yang kita punyai.
- Jika kamu tak dapat mencapai tujuanmu melalui satu jalan, berusahalah mencarinya dengan jalan yang lain.
- Jikalau anda hendak menghilangkan kekikiran dan kerakusan, maka anda harus memusnahkan dulu ibunya, yaitu kemewahan.
- Jangan membuang waktu semenitpun untuk memikirkan orang” yang tidak kita sukai.
- Jangan anda mau digenggam oleh dunia hingga anda tenggelam didalam kesulitannya, akan tetapi letakkan dunia ditelapak tanganmu sehingga anda dapat menggoncangkan sesuka hatimu.
- Jadikanlah dirimu sebagai lautan yang luas, apapun kejadian itu harus diterima dengan tawakal dan iman yang tebal
- Sahabat yang sejati menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran.
- jangan bersusah hati karena yang tidak mengenalmu, berusahalah agar anda pantas dikenal.
- Jangan melupakan pengalaman” itu dapat menjadi penuntun dikemudian hari.
- Jangan cemas kalau baru gagal sekali, ALFA EDISON gagal 10.000 kali sebelum menyempurnakan bola lampu pijar.
- Jangan membeli teman” dengan hadiah, kalau anda berhenti memberi maka merekapun berhenti mencintai.
- Jangan katakan semua yang diketahui tetapi ketahuilah semua yang dikatakan.
- Jangan mengambil teladan dari orang lain sebagai alasan untuk membenarkan perbuatan anda yang salah.
- Jangan biarkan lidahmu memotong lehermu sendiri.
- Janganlah anda memegahkan dirimu esok hari karena engkau tiada mengetahui apa yang akan terjadi.
- Jawaban yang lemah lembut itu memadamkan kemarahan yang menyala-nyala, tetapi kata”yang tajam merangsang kemarahan.
- Kegagalan adalah celaka kecil dan putus asa adalah celaka besar.
- Kekurangan pengetahuan adalah ibarat malam gelap gulita untuk batin kita, sebagai juga malam yang tidak diterangi oleh bulan dan bintang.
- Kalau kehormatanmu ,menjadi pakaianmu,maka akan tahan seumur hidup, tetapi kalau pakaianmu itu menjadi kehormatanmu, maka akan lekas koyak.
- Kekalahan tidak perlu menyebabkan malu sebab kekalahan adalah suatu perkara biasa dalam menggali emas pribadi.
- Kegagalan dan kesengsaraan adalah guru yang sangat kejam,yang bekerja demi kepentingan kita, yang tahu segi mana yang baik dan sangat mencintai kita, melebihi kita sendiri.
- Kehilangan milik tak begitu penting, kehilangan kehormatan adalah lebih parah, tetapi lebih celaka lagi kehilangan keberanian.
- Keindahan adalah medan pertempuran dimana Tuhan dan setan mempertaruhkan manusia.
- Lebih baik muka buruk daripada buruk lidah mulut.
- Lebih baik melarat dengan terhormat daripada kaya terhina.
- Mengerti dan memaklumi segala-galanya membuat orang menjadi pemaaf dan penyatun.
- Mempunyai uang adalah baik tetapi lebih baik lagi mempunyai sesuatu yang tidak dapat diperoleh dengan uang.
- Orang miskin yang bertabiat dengan tulus hatinya adalah lebih baik daripada orang yang bercabang lidah walau kaya sekalipun.
- Orang baik ialah orang yang malu jika perkataannya melebihi perbuatnnya.
- Orang yang budiman ialah orang yang selalu tau apa yang salah pada dirinya sendiri dan bukan memikirkan apa yang terjadi pada orang lain.
- Obat yang paling mujarap untuk menghilangkan kecemasan adalah kepercayaan kepada agama.
- Perlakukanlah dengan baik orang yang pernah menyakitimu, niscaya pada suatu ketika ia akan minta maaf kepadamu .
- Peliharalah cita-citamu dengan baik karena bila cita- citamu sudah padam maka samalah artinya dengan mati.
- Perkataan yang menyenangkan bagaikan sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang
- Rambut putih itu suatu mahkota didapati kebajikan atau kebaikan dari orang itu.
- Suatu usaha yang anda mulai, janganlah anda hentikan sebelum hasilnya anda rasai.
- Tiap bertambah ilmuku, bertambah pula aku kenal kebodohanku.
- Tragedi paling besar dari hati manusia ialah bahwa ia tidak bisa benar–benar remuk redam sehingga kemampuanya untuk menderita tidak terbatas.
- Hati yang tenang menyegarkan tubuh,tapi iri hati membusukan tulang.
- Tidak ada usaha yang gagal, tetapi kegagalan adalah bekal untuk mencapai kemenangan
- Rahasia dari setiap keberhasilan adalah siap sedia menerkam kesempatan mana kala ada yang muncul.
- Setiap keterburu-buruan menimbulkan penyesalan dan setiap penyesalan betapapun kecilnya akan memedihkan hati
karya tulis ilmiah, kti kebidanan, contoh kti, kti keperawatan, judul kti kb, kumpulan kti kebidanan, kti kuliah bidan, contoh kti kebidanan, judul kti kebidanan, karya tulis ilmiah kebidanan, contoh skripsi kebidanan, contoh karya tulis ilmiah kebidanan, kti bidan, kti inisiasi menyusui dini, judul skripsi kebidanan, kti kebidanan pdf, kti kebidanan terbaru, kti kebidanan d3, kti 2009 2010, kti tentang imunisasi, kti komunitas, kti tentang kb, kti tentang keputihan, kti kesehatan reproduksi
KOTAK PENCARIAN:
Minggu, 22 Mei 2011
Kata-kata Mutiara
Sabtu, 21 Mei 2011
Mengenal Populasi dan Sampel
Populasi dan Sampel Secara umum dapat diartikan bahwa populasi adalah kumpulan semua individu dalam suatu batas tertentu. Kumpulan individu yang akan diukur atau diamati ciri-cirinya disebut populasi studi. Bila penelitian tidak dilakukan terhadap seluruh individu dalam populasi, tetapi hanya diambil sebagian maka bagian tersebut dinamakan sampel. Individu dalam populasi studi tersebut dinamakan unit dasar.
Populasi studi ditentukan berdasarkan kriteria yang sesuai dengan tujuan penelitian. Cara pengambilan sampel serta besarnya sampel sangat penting artinya dalam penelitian karena hasil pengamatan yang dilakukan pada individu dalam sampel digunakan untuk menafsirkan keadaan populasi dimana sampel tersebut diambil.
Berdasarkan besarnya, populasi dibagi menjadi populasi besar dan populasi kecil.
Populasi besar atau populasi tak terhingga adalah populasi yang memiliki jumlah individu sedemikian banyaknya sehingga sulit untuk tidak mungkin diketahui jumlahnya. Populasi dengan jumlah unit dasar yang tidak banyak hingga mudah untuk dihitung disebut kecil atau populasi terbatas. Untuk populasi kecil tidak terdapat suatu patokan yang baku. Untuk jelasnya dapat diberikan sebuah contoh sebagai berikut.
Bila kita akan mengadakan penelitian tentang pengalaman akseptor KB dalam pemakaian alat kontrasepsi di suatu Kabupaten, maka semua duduk dalam Kabupaten tersebut adalah populasi umum, sedangkan semua ibu-ibu pasangan usia subur peserta KB yang terdapat di Kabupaten tersebut adalah populasi studi. Bila kita ambil sebagian dari akseptor KB yang akan diteliti pengalaman pemakaian kontrasepsinya maka sebagian ibu-ibu tersebut disebut sampel dan ibu pasangan usia subur disebut sebagai unit dasar.
Hasil pengamatan pada sampel ini akan diekstrapolasikan kepada populasi studi, yaitu semua ibu-ibu pasangan usia subur yang akan menjadi akseptor KB di Kabupaten tersebut.
Karena pengamatan hanya dilakukan terhadap sebagian (sampel) dari populasi studi, maka hasilnya tidak sama dengan seluruh populai studi. Perbedaan ini disebut kesalahan sampling (sampling error). Jadi, yang dimaksud dengan kesalahan sampling ialah perbedaan antara hasil sampel dengan hasil sensus yang dilakukan dengan cara yang sama, pada populasinya yang sama, dan oleh pewawancara yang sama.
Kesalahan lain yang tidak berkaitan dengan pengambilan sampel disebut kesalahan tak sampling (non-sampling error). Hal ini berarti bahwa baik hasil sampel maupun sensus terdapat kesalahan yang sama. Hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan kesalahan tak sampling antara lain sebagai berikut:
1. Batasan unit dasar yang kurang tepat. Misalnya, pada suatu penelitian tentang obat untuk infark miokard, dimana orang dengan keluhan nyeri dada diambil sebagai unit sampel, meskipun kita ketahui bahwa tidak semua nyeri dada disebabkan infark miokard.
2. Jawaban responden yang salah (respons error) pada sampling survey dengan teknik wawancara atau angket. Hal ini dapat timbul secara tidak sengaja, misalnya mengisi umur anak 4,5 tahun dengan 45 tahun, tetapi hal ini kadang-kadang dilakukan serta sengaja dengan maksud tertentu. Misalnya, dengan sengaja tidak mengaku sebagai akseptor KB karena dilarang suaminya. Respons error dapat pula timbul karena kurangnya informasi tentang hal yang diteliti atau responden yang harus mengingat kejadian masa lampau, misalnya kapan bapak mulai merokok.
3. Kesalahan pada ruang lingkup karena kesalahan dalam batas dan lokasi. Misalnya, dipilih suatu Kecamatan padahal Kecamatan tersebut telah berubah karena sebgian desanya dikembangkan menjadi Kemantren.
4. Kesalahan dalam pengolahan data yang disebabkan human error dan lain-lain.
5. Kesalahan alat ukur yang digunakan dan lain-lain.
Penyimpangan atau kesalahan lain yang dapat timbul dalam suatu penelitian disebut bias. Bias ialah perbedaan antara hasil sesungguhnya dalam populasi dengan hasil semua sampel yang berasal dari populasi tersebut.
Hal-hal yang dapat menimbulkan bias adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan dalam pemilihan unit dasar, yaitu unit dasar yang berbeda dengan tujuan penelitian. Misalnya penelitian tentang pemilikan jamban keluarga, dengan unit sampel murid-murid sekolah. Kesalahan tersebut timbul karena ada keluarga yang memiliki seorang anak yang menjadi murid di sekolah tersebut, tetapi ada pula yang memiliki lebih seorang hingga memungkinkan terjadi estimasi yang berlebih (bias) karena setiap murid diperlakukan sama sebagai responden.
Ada dua cara untuk menghindari terjadinya hal tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. Mengambil kepala keluarga sebagai unit sampel
b. Mengambil murid yang merupakan anak pertama sebagai unit sampel
2. Untuk penelitian terhadap ciri individu dilakukan pengambilan sampel keluarga dan masing-masing keluarga diambil satu anggota keluarganya sebagai responden. Bias dapat timbul bila dalam suatu keluarga terdapat lebih dari satu orang dewasa, tetapi hanya satu yang diambil sebagai sampel. Misalnya, suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pendapat masyarakat tentang sistem pelayanan kesehatan di suatu daerah maka keluarga dengan lebih dari satu orang dewasa akan kurang terwakili dibandingkan dengan keluarga yang hanya memiliki seorang dewasa.
3. Bias dapat pula timbul bila kita mengambil unit terdekat sebagai pengganti non-respons karena ciri unit pengganti belum tentu sama dengan unit non-respons.
4. Non-respons pada pengumpulan data secara angket dianggap memiliki ciri yang sama dengan ciri responden yang mengembalikan angket.
5. Bias dapat pula timbul pada pengambilan sampel non-random.
6. Spesifikasi kurang jelas pada unit sampel, misalnya pendidikan anak antara 8-10 tahun. Disini tidak dijelaskan apakah umur 10 tahun itu termasuk populasi studi atau termasuk juga anak yang kebetulan berada di daerah tersebut.
Minggu, 16 Januari 2011
Proposal Penelitian Kualitatif

Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.
Format Proposal Penelitian Kualitatif
1. Konteks Penelitian atau Latar Belakang
Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian. (Lihat juga membuat pendahuluan skripsi )
2. Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah
Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.
Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan.
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.
4. Landasan Teori
Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.
5. Kegunaan Penelitian
Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.
6. Metode Penelitian
Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
a. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.
b. Kehadiran Peneliti
Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.
c. Lokasi Penelitian
Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.
d. Sumber Data
Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).
Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.
e. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.
f. Analisis Data
Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika. (lihat analisis )
g. Pengecekan Keabsahan Temuan
Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .
h. Tahap-tahap Penelitian
Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.
7. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.
Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:
1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,
2. tahun penerbitan
3. judul, termasuk subjudul
4. kota tempat penerbitan, dan
5. nama penerbit.
sumber: http://bascommetro.blogspot.com/
Proposal Penelitian Kuantitatif

Format Proposal Penelitian Kuantitatif
1. Latar Belakang Masalah
Di dalam bagian ini dikemukakan adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan, baik kesenjangan teoretik ataupun kesenjangan praktis yang melatarbelakangi masalah yang diteliti. Di dalam latar belakang masalah ini dipaparkan secara ringkas teori, hasil-hasil penelitian, kesimpulan seminar dan diskusi ilmiah ataupun pengalaman/pengamatan pribadi yang terkait erat dengan pokok masalah yang diteliti. Dengan demikian, masalah yang dipilih untuk diteliti mendapat landasan berpijak yang lebih kokoh. (lihat pendahuluan )
2. Rumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya. Perumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Rumusan masalah hendaknya disusun secara singkat, padat, jelas, dan dituangkan dalam bentuk kalimat tanya. Rumusan masalah yang baik akan menampakkan variabel-variabel yang diteliti, jenis atau sifat hubungan antara variabel-variabel tersebut, dan subjek penelitian. Selain itu, rumusan masalah hendaknya dapat diuji secara empiris, dalam arti memungkinkan dikumpulkannya data untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Contoh: Apakah terdapat hubungan antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam matapelajaran Matematika?. (Tips membuat rumusan masalah )
3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian mengungkapkan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian. Isi dan rumusan tujuan penelitian mengacu pada isi dan rumusan masalah penelitian. Perbedaannya terletak pada cara merumuskannya. Masalah penelitian dirumuskan dengan menggunakan kalimat tanya, sedangkan rumusan tujuan penelitian dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan. Contoh: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya hubungan antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam matapelajaran Matematika.
4. Hipotesis Penelitian (jika ada)
Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis penelitian. Penelitian kluantitatif yang bersifat eksploratoris dan deskriptif tidak membutuhkan hipotesis. Oleh karena itu subbab hipotesis penelitian tidak harus ada dalam skripsi, tesis, atau disertasi hasil penelitian kuantitatif. Secara prosedural hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang diperoleh dari kajian pustaka. Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya. Namun secara teknis, hipotesis penelitian dicantumkan dalam Bab I (Bab Pendahuluan) agar hubungan antara masalah yang diteliti dan kemungkinan jawabannya menjadi lebih jelas. Atas dasar inilah, maka di dalam latar belakang masalah sudah harus ada paparan tentang kajian pustaka yang relevan dalam bentuknya yang ringkas.
Rumusan hipotesis hendaknya bersifat definitif atau direksional. Artinya, dalam rumusan hipotesis tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antarvariabel, melainkan telah ditunjukan sifat hubungan atau keadaan perbedaan itu. Contoh: Ada hubungan positif antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam matapelajaran Matematika.
Jika dirumuskan dalam bentuk perbedaan menjadi: Siswa SMP yang tingkat kecerdasannya tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dalam matapelajaran Matematika dibandingkan dengan yang tingkat kecerdasannya sedang. Rumusan hipotesis yang baik hendaknya: (a) menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih, (b) dituangkan dalam bentuk kalimat pertanyaan, (c) dirumuskan secara singkat, padat, dan jelas, serta (d) dapat diuji secara empiris.
5. Kegunaan Penelitian
Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.
6. Asumsi Penelitian (jika diperlukan)
Asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berfikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian. Misalnya, peneliti mengajukan asumsi bahwa sikap seseorang dapat diukur dengan menggunakan skala sikap. Dalam hal ini ia tidak perlu membuktikan kebenaran hal yang diasumsikannya itu, tetapi dapat langsung memanfaatkan hasil pengukuran sikap yang diperolehnya. Asumsi dapat bersifat substantif atau metodologis. Asumsi substantif berhubungan dengan permasalahan penelitian, sedangkan asumsi metodologis berkenaan dengan metodologi penelitian.
7. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Yang dikemukakan pada bagian ruang lingkup adalah variabel-variabel yang diteliti, populasi atau subjek penelitian, dan lokasi penelitian. Dalam bagian ini dapat juga dipaparkan penjabaran variabel menjadi subvariabel beserta indikator-indikatornya. Keterbatasan penelitian tidak harus ada dalam skripsi, tesis, dan disertasi. Namun, keterbatasan seringkali diperlukan agar pembaca dapat menyikapi temuan penelitian sesuai dengan kondisi yang ada. Keterbatasan penelitian menunjuk kepada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari dalam penelitian. Keterbatasan yang sering dihadapi menyangkut dua hal. Pertama, keterbatasan ruang lingkup kajian yang terpaksa dilakukan karena alasan-alasan prosedural, teknik penelitian, ataupun karena faktor logistik. Kedua, keterbatasan penelitian berupa kendala yang bersumber dari adat, tradisi, etika dan kepercayaan yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk mencari data yang diinginkan.
8. Definisi Istilah atau Definisi Operasional
Definisi istilah atau definisi operasional diperlukan apabila diperkirakan akan timbul perbedaan pengertian atau kekurangjelasan makna seandainya penegasan istilah tidak diberikan. Istilah yang perlu diberi penegasan adalah istilah-istilah yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok yang terdapat di dalam skripsi, tesis, atau disertasi. Kriteria bahwa suatu istilah mengandung konsep pokok adalah jika istilah tersebut terkait erat dengan masalah yang diteliti atau variabel penelitian. Definisi istilah disampaikan secara langsung, dalam arti tidak diuraikan asal-usulnya. Definisi istilah lebih dititikberatkan pada pengertian yang diberikan oleh peneliti.
Definisi istilah dapat berbentuk definisi operasional variabel yang akan diteliti. Definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati. Secara tidak langsung definisi operasional itu akan menunjuk alat pengambil data yang cocok digunakan atau mengacu pada bagaimana mengukur suatui variabel. Contoh definisi operasional dari variabel “prestasi aritmatika” adalah kompetensi dalam bidang aritmatika yang meliputi menambah, mengurangi, mengalikan, membagi, dan menggunakan desimal. Penyusunan definisi operasional perlu dilakukan karena teramatinya konsep atau konstruk yang diselidiki akan memudahkan pengukurannya. Di samping itu, penyusunan definisi operasional memungkinkan orang lain melakukan hal yang serupa sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain. (Lihat Glossary)
9. Metode Penelitian
Pokok-pokok bahasan yang terdapat dalam bab metode penelitian paling tidak mencakup aspek (1) rancangan penelitian, (2) populasi dan sampel, (3) instrumen penelitian, (4) pengumpulan data, dan (5) analisis data.
a. Rancangan Penelitian
Penjelasan mengenai rancangan atau desain penelitian yang digunakan perlu diberikan untuk setiap jenis penelitian, terutama penelitian eksperimental. Rancangan penelitian diartikan sebagai strategi mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian. Dalam penelitian eksperimental, rancangan penelitian yang dipilih adalah yang paling memungkinkkan peneliti untuk mengendalikan variabel-variabel lain yang diduga ikut berpengaruh terhadap variabel-variabel terikat. Pemilihan rancangan penelitian dalam penelitian eksperimental selalu mengacu pada hipotesis yang akan diuji. Pada penelitian noneksperimental, bahasan dalam subbab rancangan penelitian berisi penjelasan tentang jenis penelitian yang dilakukan ditinjau dari tujuan dan sifatnya; apakah penelitian eksploratoris, deskriptif, eksplanatoris, survai, atau penelitian historis, korelasional, dan komparasi kausal. Di samping itu, dalam bagian ini dijelaskan pula variabel-variabel yang dilibatkan dalam penelitian serta sifat hubungan antara variabel-variabel tersebut. (Lihat beberapa kesalahan dalam desain penelitiian)
b. Populasi dan Sampel
Istilah populasi dan sampel tepat digunakan jika penelitian yang dilakukan mengambil sampel sebagai subjek penelitian. Akan tetapi jika sasaran penelitiannya adalah seluruh anggota populasi, akan lebih cocok digunakan istilah subjek penelitian, terutama dalam penelitian eksperimental. Dalam survai, sumber data lazim disebut responden dan dalam penelitian kualitatif disebut informan atau subjek tergantung pada cara pengambilan datanya. Penjelasan yang akurat tentang karakteristik populasi penelitian perlu diberikan agar besarnya sampel dan cara pengambilannya dapat ditentukan secara tepat. Tujuannya adalah agar sampel yang dipilih benar-benar representatif, dalam arti dapat mencerminkan keadaan populasinya secara cermat. Kerepresentatifan sampel merupakan kriteria terpenting dalam pemilihan sampel dalam kaitannya dengan maksud menggeneralisasikan hasil-hasil penelitian sampel terhadap populasinya. Jika keadaan sampel semakin berbeda dengan kakarteristik populasinya, maka semakin besar kemungkinan kekeliruan dalam generalisasinya. Jadi, hal-hal yang dibahas dalam bagian Populasi dan Sampel adalah (a) identifikasi dan batasan-batasan tentang populasi atau subjek penelitian, (b) prosedur dan teknik pengambilan sampel, serta (c) besarnya sampel.
c. Instrumen penelitian
Pada bagian ini dikemukakan instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Sesudah itu barulah dipaparkan prosedur pengembangan instrumen pengumpulan data atau pemilihan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Dengan cara ini akan terlihat apakah instrumen yang digunakan sesuai dengan variabel yang diukur, paling tidak ditinjau dari segi isinya. Sebuah instrumen yang baik juag harus memenuhi persyaratan reliabilitas. Dalam tesis, terutama disertasi, harus ada bagian yang menjelaskan proses validasi instrumen. Apabila instrumen yang digunakan tidak dibuat sendiri oleh peneliti, tetap ada kewajiban untuk melaporkan tingkat validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan. Hal lain yang perlu diungkapkan dalam instrumen penelitian adalah cara pemberian skor atau kode terhadap masing-masing butir pertanyaan/pernyataan. Untuk alat dan bahan harus disebutkan secara cermat spesifikasi teknis dari alat yang digunakan dan karakteristik bahan yang dipakai.
Dalam ilmu eksakta istilah instrumen penelitian kadangkala dipandang kurang tepat karena belum mencakup keseluruhan hal yang digunakan dalam penelitian. Oleh karena itu, subbab instrumen penelitian dapat diganti dengan Alat dan Bahan.
d. Pengumpulan Data
Bagian ini menguraikan (a) langkah-langkah yang ditempuh dab teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, (b) kualifikasi dan jumlah petugas yang terlibat dalam proses pengumpulan data, serta (c) jadwal waktu pelaksanaan pengumpulan data. Jika peneliti menggunakan orang lain sebagai pelaksana pengumpulan data, perlu dijelaskan cara pemilihan serta upaya mempersiapkan mereka untuk menjalankan tugas. Proses mendapatkan ijin penelitian, menemui pejabat yang berwenang, dan hal lain yang sejenis tidak perlu dilaporkan, walaupun tidak dapat dilewatkan dalam proses pelaksanaan penelitian.
e. Analisis Data
Pada bagian ini diuraikan jenis analisis statistik yang digunakan. Dilihat dari metodenya, ada dua jenis statistik yang dapat dipilih, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dalam statistik inferensial terdapat statistik parametrikdan statistik nonparametrik. Pemilihan jenis analisis data sangat ditentukan oleh jenis data yang dikumpulkan dengan tetap berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai atau hipotesis yang hendak diuji. Oleh karena itu, yang pokok untuk diperhatikan dalam analisis data adalah ketepatan teknik analisisnya, bukan kecanggihannya. Beberapa teknik analisis statistik parametrik memang lebih canggih dan karenanya mampu memberikan informasi yang lebih akurat jika dibandingkan dengan teknik analisis sejenis dalam statistik nonparametrik. Penerapan statistik parametrik secara tepat harus memenuhi beberapa persyaratan (asumsi), sedangkan penerapan statistik nonparametrik tidak menuntut persyaratan tertentu.
Di samping penjelasan tentang jenis atau teknik analisis data yang digunakan, perlu juga dijelaskan alasan pemilihannya. Apabila teknik analisis data yang dipilih sudah cukup dikenal, maka pembahasannya tidak perlu dilakukan secara panjang lebar. Sebaliknya, jika teknik analisis data yang digunakan tidak sering digunakan (kurang populer), maka uraian tentang analisis ini perlu diberikan secara lebih rinci. Apabila dalam analisis ini digunakan komputer perlu disebutkan programnya, misalnya SPSS for Windows.
(lihat analisis )
10. Landasan
Teori Dalam kegiatan ilmiah, dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu masalah haruslah menggunakan pengetahuan ilmiah (ilmu) sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh jawaban yang dapat diandalkan. Sebelum mengajukan hipotesis peneliti wajib mengkaji teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang diteliti yang dipaparkan dalam Landasan Teori atau Kajian Pustaka. Untuk tesis dan disertasi, teori yang dikaji tidak hanya teori yang mendukung, tetapi juga teori yang bertentangan dengan kerangka berpikir peneliti. Kajian pustaka memuat dua hal pokok, yaitu deskripsi teoritis tentang objek (variabel) yang diteliti dan kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi atas hipotesis yang telah diajukan Bab I.
Untuk dapat memberikan deskripsi teoritis terhadap variabel yang diteliti, maka diperlukan adanya kajian teori yang mendalam. Selanjutnya, argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagai landasan penelitian dengan hasil kajian mengenai temuan penelitian yang relevan. Pembahasan terhadap hasil penelitian tidak dilakukan secara terpisah dalam satu subbab tersendiri. Bahan-bahan kajian pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber seperti jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar dan diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Akan lebih baik jika kajian teoretis dan telaah terhadap temuan-temuan penelitian didasarkan pada sumber kepustakaan primer, yaitu bahan pustaka yang isinya bersumber pada temuan penelitian. Sumber kepustakaan sekunder dapat dipergunakan sebagai penunjang. Untuk disertasi, berdasarkan kajian pustaka dapatlah diidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas serta sumbangan yang mungkin dapat diberikan kepada perkembangan ilmu pengetahuan terkait. Pada bagian akhir kajian pustaka dalam tesis dan disertasi perlu ada bagian tersendiri yang berisi penjelasan tentang pandangan atau kerangka berpikir yang digunakan peneliti berdasarkan teori-teori yang dikaji. Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, yakni (1) prinsip kemutakhiran (kecuali untuk penelitian historis) dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran penting karena ilmu berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya. Dengan prinsip kemutakhiran, peneliti dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu itu dipandang paling representatif. Hal serupa berlaku juga terhadap telaah laporan-laporan penelitian. Prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti.
11. Daftar Rujukan
Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat penerbitan, dan 5. nama penerbit.
sumber: http://bascommetro.blogspot.com/
Selasa, 10 Agustus 2010
Pengaruh Umur, Depresi dan Demensia Terhadap Disabilitas Fungsional Lansia (Adaptasi Model Sistem Neuman)
Method The study design was a cross-sectional. 70 elderly was choosen as a subject at Panti Sosial Tresna Werdha Abiyoso and Budi Dharma Province D.I. Yogyakarta. Depression was assessed using the Geriatric Depression Scale 15-Item (GDS-15), dementia was assessed using the Mini-Mental State Examination (MMSE), and functional disability was assessed using the Groningen Activity Restriction Scale (GARS).
Results The mean age was 70.59 (95%CI, 68.97–72.27); 44.3% severe-moderate depressed; 55.7% mild depressed; 11.4% cognitive impairment; 90.0% with activities of daily living (ADL) independently and 10.0% with ADL fully independently but with some difficulty. The correlation analysis at α=0.05 showed that age (r=0.426; r2=18.2%; p=0.000), depression (r=0.313; r2=9.8%; p=0.008), and dementia (r=-0.512; r2=26.2%; p=0,000) had the significant relationship with functional disability of elderly. The multiple linear regressions at α=0.05 showed that regression model was functional disability = 16.906 + 0.223*Age + 0.443*[GDS-15] scores – 0.499*MMSE scores (r=0.609; r2=37.1%; p=0.000).
Conclusions Age, depression and dementia had significant influence to functional disability among elderly. Age, depression and dementia that caused functional disability impairment among elderly can be described as an intra-personal environment that acts like a stressor. Nursing intervention methods that can help prevent depression and dementia need to be established. Furthermore, a comprehensive study on NSM testing is needed.
Key words: age, depression, dementia, functional disability, elderly, Neuman Systems Model
1. Pendahuluan
Kelompok lansia dipandang sebagai kelompok masyarakat yang berisiko mengalami gangguan kesehatan. Masalah keperawatan yang menonjol pada kelompok tersebut adalah meningkatnya disabilitas fungsional fisik. Disabilitas fungsional pada lansia merupakan respons tubuh sejalan dengan bertambahnya umur seseorang dan proses kemunduran yang diikuti dengan munculnya gangguan fisiologis, penurunan fungsi, gangguan kognitif, gangguan afektif, dan gangguan psikososial.
Lansia yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-harinya (Miller, 1995; Lueckenotte, 2000; Hall & Hassett, 2002), sedangkan lansia yang mengalami demensia dilaporkan juga memiliki defisit aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dan aktivitas instrument kehidupan sehari-hari (AIKS) (Jorm, 1994). Sebaliknya, keterbatasan lansia dalam memenuhi aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) dapat menjadi salah satu faktor penyebab munculnya depresi (Eliopoulos, 1997; Roberts, Kaplan, Shema & Strawbridge, 1997).
Disabilitas fungsional lansia sebagai efek dari perubahan fisiologis (umur depresi dan demensia) memungkinkan untuk dijelaskan melalui Model Sistem Neuman (MSN). Dalam kerangka pikir MSN, realitas seseorang, keluarga, atau komunitas dipandang sebagai subyek yang memiliki aspek multidimensional dan bersifat unik. Sehingga, proses penuaan lansia banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis, psikologis, perkembangan, sosiobudaya dan spiritual (Reed, 1993).
Beberapa penelitian telah mencoba mengaplikasikan kerangka konseptual keperawatan MSN (Lowry & Anderson,1993; Gigliotti,1999; Stepans & Fuller,1999; Villarruel, Bishop, Simpson, Jemmott, & Fawcett, 2001; Fawcett & Gigliotti, 2001; Stepans & Knight; 2002) dalam beberapa kondisi dengan struktur konseptual-teori-empiris. MSN memiliki banyak interrelasi konsep sehingga derivasi teori konseptual tersebut lebih bersifat kontekstual. Oleh karenanya, peneliti mencoba mengintegrasikan proses perubahan disabilitas fungsional lansia dengan MSN sebagai salah satu teori dasar keperawatan komunitas sehingga dapat digunakan sebagai studi pendahuluan terhadap penelitian-penelitian mengenai disabilitas fungsional yang lebih kompleks.
2. Metodologi
Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh umur, depresi dan demensia terhadap disabilitas fungsional lansia dalam perspektif MSN. Disabilitas fungsional lansia difokuskan pada keterbatasan lansia dalam pemenuhan kebutuhan AKS dan atau AIKS. Peneliti mencoba memprediksi pengaruh variabel umur sebagai salah satu faktor endogen pada proses penuaan, depresi dan demensia sebagai faktor eksogen terhadap perubahan variabel disabilitas fungsional lansia dengan menggunakan uji regresi linear berganda.
Populasi terjangkau adalah lansia yang rentan mengalami keterbatasan fungsional di panti werdha. Sampel diambil secara acak di dua panti werdha, yaitu: PSTW Abiyoso dan PSTW Budhi Dharma Propinsi D.I. Yogyakarta. Kriteria inklusi responden, yaitu: (1) lansia berusia di atas atau sama dengan 60 tahun; (2) lansia tidak dalam kondisi sakit parah / terminal; dan (3) lansia bersedia menjadi responden. Penentuan besar sampel dilakukan dengan perhitungan pengujian hipotesis untuk sebuah rata-rata populasi (Lemeshow, Hosmer, Klar & Lwanga, 1990) sehingga didapatkan besar sampel 70 responden.
Instrumen Skala Depresi Geriatri/Geriatric Depression Scale 15-Item (GDS-15) (Cordingley, Challis, Mozley, Bagley, Price, Burns, & Huxley, 2000) dan Set Data Minimal Untuk Skala Depresi/Minimum Data Set-based Depression Rating Scale (MDSDRS) (Burrows, Morris, Simon, Hirdes, & Phillips, 2000) digunakan untuk mengukur status depresi lansia, instrumen Penilaian Status Mental Mini/Mini-Mental State Examination (MMSE) (Yellowlees, 2002) dan Kuesioner Singkat Untuk Status Mental/Short Portable Mental Status Questionnaire (SPMSQ) (Roccaforte, Burke, Bayer, & Wengel, 1994) digunakan untuk mengukur status demensia lansia, serta instrumen Skala Keterbatasan Aktivitas Groningen/Groningen Activity Restriction Scale (GARS) (Suurmeijer, Doeglas, Briançon, Krol, Sanderman, Guillemin, Bjelle, & Heuvel, 1994) khusus untuk mengukur disabilitas fungsional lansia.
Berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian, diketahui uji reliabilitas interrater Kappa-Cohen menunjukkan semua alat ukur memiliki kesepatan yang sama (p=0,000). Untuk pengukuran status depresi, peneliti memilih menggunakan GDS-15 (sensitivitas 88,9%; spesifisitas 47,8%) karena memiliki tingkat akurasi (sensitivitas dan spesifisitas maksimum) lebih tinggi dibanding MDSDRS (sensitivitas 42,9%; spesifisitas 100,0%). Peneliti memilih alat ukur MMSE (sensitivitas 100,0%; spesifisitas 90,0%) untuk mengukur status demensia lansia karena akurasinya lebih tinggi dibanding alat ukur SPMSQ (sensitivitas 85,0%; spesifisitas 75,0%). Sedangkan alat ukur GARS tidak menggunakan alat ukur pembanding sehingga peneliti memilih GARS untuk mengukur status disabilitas fungsional lansia.
Berdasarkan hasil uji statistik, peneliti selanjutnya melakukan analisis deskriptif untuk menjelaskan disabilitas fungsional lansia sebagai mekanisme respons perubahan variabel umur, depresi, dan demensia dalam perspektif MSN. Interpretasi interaksi antara lansia dengan lingkungannya dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) menyusun model teoritis hubungan stresor (umur, status depresi, dan status demensia) dan respons (disabilitas fungsional), dan (2) menyusun matriks proses keperawatan berdasarkan kerangka kerja MSN.
3. Hasil dan Pembahasan
3.1. Karakteristik Responden
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia memiliki umur paling rendah 60 tahun dan maksimum berusia 90 tahun. Rata-rata umur responden di kedua panti wredha adalah 70,59 tahun (interval kepercayaan 95%: 68,97 – 72,27). Sebagian besar (55,7%) responden berjenis kelamin perempuan sedangkan sisanya (44,3%) adalah lansia pria. Sebagian besar (48,4%) responden tidak pernah mengenyam bangku sekolah di tingkat mana pun sedangkan 42,9% lainnya hanya mengenyam pendidikan sampai setingkat sekolah dasar atau sekolah rakyat. Sebagian kecil dari responden yang memiliki pendidikan terakhir setingkat SLTP. Status janda memiliki proporsi terbesar (50,0%) diantara responden di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma. Persentase lansia duda hanya 40,0%, namun ada sebagian kecil (10,0%) dari mereka yang sama sekali belum menikah.
Berdasarkan observasi di lokasi penelitian diketahui bahwa sebagian besar (67,1%) lansia belum memiliki keterbatasan fisik namun sudah dijumpai sebagian kecil responden mengalami keterbatasan fisik. Dua puluh tiga responden yang mengalami keterbatasan fisik umumnya menggunakan alat bantu, yaitu : tongkat 69,6%, kacamata 21,7%, kruk 4,3%, dan tripod 4,3%. Setelah disabilitas fungsional lansia diukur menggunakan Skala GARS dengan rentang nilai 17-68, maka hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 17 dan nilai maksimum 36 dengan rata-rata skor sebesar 21,89 (IK95%: 20,55-23,23).
Status depresi lansia diukur oleh peneliti dengan menggunakan instrumen terstruktur GDS-15 dengan rentang nilai 0 s.d. 15. Hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 0 dan nilai maksimum 9, dari rentang tersebut diketahui rata-rata skor yang didapatkan adalah 3,63 (IK95%: 3,03-4,22). Status demensia lansia diukur menggunakan instrumen MMSE dengan rentang nilai 0 - 30. Hasil pengukuran didapatkan nilai minimum 14 dan nilai maksimum 30, dari rentang tersebut diketahui rata-rata skor yang didapatkan adalah 24,84 (IK95%: 23,83-25,86).
3.2. Hubungan variabel depresi, umur, dan demensia dengan disabilitas fungsional
Berdasarkan hasil analisis statistik ternyata kombinasi umur, status depresi dan status demensia memiliki pengaruh yang kuat (r=0,609) terhadap disabilitas fungsional. Variabel demensia menyumbang variasi disabilitas fungsional lansia tertinggi (Beta standardized = -0,378) dibanding variabel umur (Beta standardized = 0,272), dan variabel depresi (Beta standardized = 0,196). Perhitungan determinasi koefisien korelasi (r2) model regresi menghasilkan nilai 0,371 sehingga dapat dikatakan bahwa model regresi memberikan sumbangan efektif terhadap variasi skor GARS lansia sebesar 37,1% sedangkan sisanya (62,9%) merupakan kontribusi faktor-faktor lainnya, yaitu : perilaku tak sehat, dukungan sosial kurang, dan peningkatan risiko morbiditas secara fisik (Lenze, et al., 2001).
Pembahasan berikut adalah keterkaitan kombinasi ketiga variabel terhadap disabilitas fungsional lansia. Pertama, status demensia merupakan faktor utama pada kasus disabilitas fungsioanal lansia. Temuan tersebut sejalan dengan studi McGuire, Ford, dan Ajanivi(2006), bahwa gangguan fungsi kognitif memiliki risiko yang lebih berat dibanding gangguan fungsi afektif. Fungsi kognitif ditemukan sebagai indikator mortalitas dan terdapat pada banyak kasus disabilitas fungsional. Perubahan fungsi kognitif terlihat sebagai gejala awal faktor neurologis dan medis sebelum manifestasi gangguan perilaku sosial muncul (gangguan AKS, gangguan perilaku okupasional, dan gangguan partisipasi sosial)
Kedua, proses penuaan secara normal (penuaan primer) berhubungan dengan kemunduran kapasitas fisiologis, misalnya kekuatan otot, kapasitas aerobik, koordinasi neuromotorik, dan fleksibilitas. Peningkatan disabilitas fungsional yang terkait dengan usia tersebut memiliki risiko terhadap aktivitas fisik yang terbatas. Namun beberapa penelitian Lunney, Lynn & Hogan, 2002; Lunney, Lynn, Foley, Lipson & Guralnik, 2003; Leon, Glass, & Berkman, 2003, menegaskan bahwa proses penuaan sekunder (faktor eksogen) lebih mempercepat proses disabilitas fungsional lansia dibanding penuaan primer (faktor endogen).
Ketiga, relevan dengan penelitian Lenze et al. (2001) serta Penninx, Guralnik, Ferrucci, Simonsick, Daeg dan Wallace (1998) bahwa mekanisme pengaruh depresi terhadap disabilitas fisik dapat dibagi menjadi dua penyebab, yaitu : (1) depresi menyebabkan peningkatan risiko disabilitas fisik dan (2) disabilitas fisik menyebabkan depresi. Depresi di kalangan lansia yang tinggal di panti wredha cenderung mengarah pada kondisi yang kronis, karena potensi diri dan dukungan sosial dari lingkungannya kurang adekuat untuk mengembalikan pada kondisi semula. Pada akhirnya, depresi kronis menyebabkan terganggunya fungsi organ sehingga muncul disabilitas fungsional.
Peneliti menemukan beberapa keterbatasan fisik yang berisiko menimbulkan gejala depresi, misalnya: gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, gangguan mobilisasi, kesulitan berpakaian, berjalan terganggu, kesulitan toileting, kesulitan mandi, kesulitan merapikan diri, pola tidur terganggu, kelemahan otot ekstrimitas bawah, dan kelemahan otot ekstrimitas atas (lihat Tabel 2). Ketidaksesuaian antara keinginan dengan fungsi psikomotor dapat mengakibatkan depresi.
Akhirnya, kombinasi ketiga variabel bebas tersebut di atas akan bersifat sinergis terhadap munculnya gejala disabilitas fisik lansia. Model regresi tersebut konsisten dengan temuan berbagai studi Harris, Kovar, Suzman, Kleinman, dan Feldman, 1989; Guralnik, La Croix, dan Abbott, 1993; Rozzini, Frisoni, Ferrucci, Barbisoni, Bertozzi, dan Trabucchi, 1997; Andersen-Ranberg, Christensen, Jeune, Skytthe, Vasegaard, dan Vaupel, 1999; Lee dan Shinkai, 2003; Jitapunkul, Kunanusont, Phoolcharoen, Suriyawongpaisal, dan Ebrahim, 2003; Gool, Kempen, Penninx, Deeg, Beekman, dan Eijk 2003; Furner, Giloth, Arguelles, Miles dan Goldberg, 2004. Dari uraian tersebut kiranya dapat dikatakan bahwa kombinasi umur, status depresi, dan status demensia telah terbukti memiliki hubungan yang bermakna (F=12,997; p=0,000) dengan disabilitas fungsional lansia di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma. Artinya skor GARS atau tingkat disabilitas lansia dapat diprediksi melalui formula : Disabilitas Fungsional Lansia = 16,906 + 0,223*Umur + 0,443*Skor [GDS-15] - 0,499*Skor MMSE.
3.3. Hubungan stresor depresi, umur, dan demensia dengan respons disabilitas fungsional
Urutan besar pengaruh stresor demensia, umur, dan depresi terhadap disabilitas fungsional direpresentasikan dengan besar ukuran panah ketika mempenetrasi ke dalam garis pertahanan klien (Skema 1). Masing-masing garis pertahanan memiliki variabel-variebel fisiologis, psikologis, sosio-budaya, spiritual, dan perkembangan. Demensia, umur dan depresi dalam konteks penelitian ini, memainkan peran penting dalam perubahan variabel fisiologis lansia.
Model teoritis hubungan stresor demensia, depresi dan umur
dengan respons disabilitas fungsional pada lansia
Pertahanan berikutnya berada pada Garis Pertahanan Normal (GPN) yang didukung oleh sistem tubuh yang berfungsi secara normal, yaitu: sistem persyarafan, respirasi, kardiovaskuler, perkemihan, integumen, gastrointestinal, muskuloskeletal, penginderaan. Apabila upaya pemulihan (rekonstitusi) sistem klien berhasil mempertahankan diri dari penetrasi stresor maka klien akan kembali kepada kondisi sebelumnya dan kembali memiliki kapasitas fungsional yang sehat.
Apabila GPN tidak bisa membendung penetrasi stressor maka Garis Perlawanan (GP) melakukan aktifasi mekanisme keseimbangan (kompensatori) dan atau perubahan fungsi sistem. Apabila mekanisme kompensatori GP tidak berhasil, maka akan muncul respon disabilitas fungsional pada lansia.
3.4. Matriks proses keperawatan
Matriks proses keperawatan disusun berdasarkan integrasi MSN ke dalam proses keperawatan dengan tetap berpedoman pada model teoritis (Skema 1). Fawcett (2004) menegaskan MSN dapat diaplikasikan pada berbagai area keperawatan dan pemanfaatannya masih bersifat kontekstual sehingga masih diperlukan interpretasi lebih lanjut.
Keterbatasan dan Implikasi Penelitian
Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan, sebagai berikut : (1) Peneliti tidak dapat mengambil variabel-variabel yang kemungkinan memiliki keterkaitan dengan disabilitas fungsional lansia secara komprehensif sehingga peneliti hanya memanfaatkan data penelitian yang telah dikumpulkan dari tahap pre-test; (2) Penelitian ini hanya menggambarkan karakteristik lansia yang tinggal di panti wredha sehingga kurang menggambarkan karakteristik populasi lansia secara keseluruhan; dan (3) Instrumen GARS belum dilakukan uji validitas muka kepada ahli atau uji re-translate.
Penelitian ini memiliki implikasi yang penting bagi ranah pelayanan, pendidikan dan penelitian keperawatan. Perawat perlu mengaplikasikan model konseptual MSN dalam proses keperawatan sesuai dengan ranah pelayanannya (individu, keluarga, atau komunitas). Perawat perlu mengembangkan instrumen pengukuran berdasarkan konsep MSN dengan memperhatikan aspek kesederhanaan, kemudahan, akurasi (valid dan reliabel), serta cocok untuk diaplikasikan sesuai dengan kondisi setempat. Intervensi keperawatan merupakan upaya fasilitasi perawat terhadap klien untuk mengembalikan keseimbangan dalam dirinya (rekonstitusi) sehingga perawat perlu menggunakan pendekatan prevensi primer, sekunder dan tersier. Peneliti keperawatan perlu meningkatkan kemampuan diri dalam menganalisis model konseptual keperawatan. Mengingat, mengadaptasi MSN sebagai grand theory untuk menjelaskan konsep-konsep yang umum digunakan dalam dunia keperawatan, perlu diderivasi dengan menggunakan teori-teori lain (middle range theory) dan diterjemahkan melalui instrumen empiris.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan tentang pengaruh umur, status depresi dan status demensia terhadap disabilitas fungsional lansia di PSTW Abiyoso dan PSTW Budi Dharma dapat disimpulkan bahwa : (1) kombinasi umur, status depresi dan status demensia dapat digunakan untuk memprediksi disabilitas fungsional lansia dengan persamaan regresi, sebagai berikut : Disabilitas Fungsional Lansia (Skor GARS) = 16,906 + 0,223*Umur + 0,443*Skor GDS15 - 0,499*Skor MMSE; (2) kontribusi terbesar variabel bebas terhadap variasi disabilitas fungsional lansia berturut-turut adalah demensia, umur dan depresi. Temuan penelitian sejalan dan memperkuat berbagai studi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap disabilitas fungsional pada lansia; dan (3) dalam perspektif MSN, penyebab penurunan disabilitas fungsional: status demensia, umur, dan status depresi dapat dijelaskan sebagai stresor. Respon terhadap stresor diartikan sebagai proses rekonstitusi. Intervensi untuk membantu lansia memperbaiki dan mengoptimalkan disabilitas fungsional fisiknya dikategorikan sebagai upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier.
Peneliti mengharapkan perawat dapat menggunakan proses keperawatan berdasarkan aplikasi MSN di semua area keperawatan, baik pada tataran pelayanan individu, keluarga, kelompok khusus maupun komunitas. Perawat perlu melakukan upaya-upaya prevensi untuk mengurangi risiko disabilitas fisik pada lansia, sebagai berikut: (1) Prevensi primer dengan memperkuat GPF atau memberikan pendidik-an kesehatan kepada lansia dan keluarga tentang: menurunkan risiko stress, latihan kebugaran secara rutin dan teratur, latihan Gerak Latih Otak (GLO), mengaktifkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial ke-masyarakatan, mencari teman berdiskusi atau mengobrol, meman-faatkan pelayanan kesehatan, memanfaatkan asuransi kesehatan/ jaminan sosial, meningkatkan praktek ibadah sehari-hari; (2) Prevensi sekunder dengan memperkuat GP internal atau melakukan intervensi keperawatan dengan penemuan kasus secara dini dan penatalaksanaan gejala awal demensia dan depresi yang muncul; dan (3) Prevensi tersier dengan melindungi upaya rekonstitusi lansia, yaitu: mendorong lansia untuk patuh mengikuti program pengobatan dan rehabilitasi, pendidikan kesehatan kepada lansia dan keluarga untuk mencegah kasus terulang dan melihara stabilitas klien.
Pengelola panti wredha perlu memberikan Senam Gerak Latih Otak, terapi lingkungan (milleu therapy), terapi perilaku (Cognitive Behavior Therapy) untuk memulihkan daya ingat lansia, sedangkan psikoterapi untuk memulihkan status depresinya. Organisasi profesi keperawatan perlu menyusun kompetensi profesi perawat komunitas dan perawat gerontik serta mengembangkan program pendidikan berkelanjutan bagi perawat profesional untuk meningkatkan kompetensi perawat komunitas dalam perawatan lansia.
CATATAN:
1. Halaman Depan
2. BAB I
3. BAB II
4. BAB II (Kerangka Teori)
5. BAB III
6. BAB IV
7. BAB V
8. BAB VI
9. BAB VII
10. Daftar Pustaka
11. Lampiran
12. Publikasi
13. My CV
Kepustakaan :
- Andersen-Ranberg, K., Christensen, K., Jeune, B., Skytthe, A., Vasegaard, L., & Vaupel, J.W. (1999). Declining Physical Abilities with Age: a Cross-sectional Study of Older Twins and Centenarians in Denmark. Age and Ageing, 28: 373-377.
- Burrows, A.B., Morris, J.N., Simon, S.E., Hirdes, J.P., & Phillips, C. (2000). Development of a Minimum Data Set-based depression rating scale for use in nursing homes. Age and Ageing, 29: 165-172.
- Eliopoulos, C. (1997). Gerontological Nursing, Philadelphia: Lippincott-Raven Pub.
- Fawcett, J. (2004). Conceptual Models of Nursing: International in Scope and Substance? The Case of the Neuman Systems Model. Nursing Science Quarterly, 17(1): 50-54.
- Fawcett, J. & Gigliotti, E. (2001). Using Conceptual Models of Nursing to Guide Nursing Research: The Case of the Neuman Systems Model. Nursing Science Quarterly, 14(4): 339-345.
- Furner, S.E., Giloth, B.E., Arguelles, L., Miles, T.P., & Goldberg, J.H. (2004). A Co-Twin Control Study of Physical Function in Elderly African American Women. Jou Aging and Health, 16(1): 28-43.
- Gigliotti, E. (1999). Women’s Multiple Role Stress: Testing Neuman’s Flexible Line of Defense. Nursing Science Quarterly, 12(1): 36-44.
- Gool, C.H., Kempen, G.I.J.M., Penninx, B.W.J.H., Deeg, D.J.H., Beekman, A.T.F., & van Eijk, J.T.M. (2003). Relationship between changes in depressive symptoms and unhealthy lifestyles in late middle aged and older persons: results from the Longitudinal Aging Study Amsterdam. Age and Ageing, 32: 81-87.
- Guralnik, JM., La Croix, A., & Abbott, RD. (1993). Maintaining Mobility in Late Life. Demographic Characteristics and Chronic Conditions. Am J Epidemiol, 137:845-857.
- Harris, T., Kovar, M.G., Suzman, R., Kleinman, J.C., & Feldman, J.J. (1989). Longitudinal Study of Physical Ability in the Oldest-old. Am J Public Health, 79: 698-702.
- Hall, K.A. & Hassett, A.M. (2002). MJA Practice Essentials — Mental Health : 13. Assessing and managing old age psychiatric disorders in community practice, Med. Jou. of Australia. http://www.mja.com.au. Diunduh pada tanggal 14 November 2003.
- Jitapunkul, S., Kunanusont, C., Phoolcharoen, W., Suriyawongpaisal, P., & Ebrahim, S. (2003). Disability-free life expectancy of elderly people in a population undergoing demographic and epidemiologic transition. Age and Ageing, 32: 401-405.
- Jorm, A.F. (1994). Disability in dementia: assessment, prevention, and rehabilitation. Disabil Rehabil., 16: 98–109.
- Lee, Y. & Shinkai, S. (2003). A comparison of correlates of self-rated health and functional disability of older persons in the Far East: Japan and Korea. Archives of Gerontology and Geriatrics, 37(1): 63-76.
- Lemeshow S., Hosmer Jr. D.W., Klar J., & Lwanga S.K. (1990). Adequacy of Sample Size in Health Studies. Chichester : John Wiley & Sons Ltd.
- Lenze, E.J., Rogers, J.C., Martire, L.M., Mulsant, B.H., Rollman, B.L., Dew, M.A., Schulz, R., & Reynolds III, C.F. (2001).
- The Association of Late-Life Depression and Anxiety With Physical Disability A Review of the Literature and Prospectus for Future Research. Am J Geriatr Psychiatry, 9:113–135.
- Leon, C.F.M., Glass, T.A., & Berkman, L.F. (2003). Social Engagement and Disability in a Community Population of Older Adults. Am J Epidemiol, 157(7):633–642.
- Lowry, L.W. & Anderson, B. (1993). Neuman's Framework and Ventilator Dependency: A Pilot Study. Nursing Science Quarterly, 6(4): 195-200.
- Lueckenotte, A.G. (2000). Gerontologic Nursing. St. Louis: Mosby-Year Book Inc.
- Lunney, JR., Lynn, J., Foley, DJ., Lipson, S., & Guralnik, JM. (2003). Patterns of Functional Decline at the End of Life. JAMA, 289(18): 2387-2392.
- Lunney, J.R., Lynn, J., & Hogan, C. (2002). Profiles of Older Medicare Decedents. J Am Geriatr Soc, 50: 1108-1112.
- McGuire, L.C., Ford, E.S., & Ajani, U.A. (2006). Cognitive Functioning as a Predictor of Functional Disability in Later Life. Am J Geriatr Psychiatry, 14(1): 36-42.
- Miller, C.A. (1995). Nursing Care of Older Adults Theory and Practice (2nd ed.). Philadelphia : JB. Lippincott Co.
- Neuman, B. & Fawcett, J. (2002). The Neuman systems model (4th ed.). Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
- Penninx, B.W.J.H., Guralnik, J.M., Ferrucci, L., Simonsick, Daeg, & Wallace. (1998). Depressive Symptoms and Physical Decline in Community-Dwelling Older Persons. JAMA, 279(21): 1720-1726.
- Reed, K.S. (1993). Adapting the Neuman System Model for Family Nursing. Nursing Science Quarterly, 6: 93-97.
- Roberts, R.E., Kaplan, G.A., Shema, S.J., & Strawbridge, W.J. (1997). Does growing old increase the risk for depression?. Am J Psychiatry, 154(10):1384-1390.
- Roccaforte, W.H., Burke, W.J., Bayer, B.L., & Wengel, S.P. (1994). Reliability and validity of the Short Portable Mental Status Questionnaire administered by telephone. J Geriatr Psychiatry Neurol, 7(1): 33-38.
- Rozzini, R., Frisoni, G.B., Ferrucci, L., Barbisoni, P., Bertozzi, B., & Trabucchi, M. (1997). The effect of chronic diseases on physical function. Comparison between activities of daily living scales and the Physical Performance Test. Age and Ageing, 26: 281-287.
- Stepans, M.B.F. & Fuller, S. G. (1999). Measuring infant exposure to environmental tobacco smoke. Clinical Nursing Research, 8(3): 198-218.
- Stepans, M.B.F. & Knight, J.R. (2002). Application of Neuman’s Framework: Infant Exposure to Environmental Tobacco Smoke. Nursing Science Quarterly, 15(4): 327-334.
- Sutcliffe, C., Cordingley, L., Challis, D., Mozley, C., Bagley, H., Price, L., Burns, A., & Huxley P. (2000). A new version of the geriatric depression scale for nursing and residential home populations: The Geriatric Depression Scale (Residential) (GDS-12R). International Psychogeriatrics, 12: 173-181.
- Suurmeijer, Th.B.P.M, Doeglas, D.M., Mourn T., Briançon, S., Krol, B., Sanderman, R., Guillemin, F., Bjelle, A., & Heuvel, W.J.A. (1994). The Groningen Activity Restriction Scale for measuring disability: Its utility in international comparisons. Am J Public Health, 84: 1270-1273.
- Villarruel, A.M., Bishop, T.L., Simpson, E.M., Jemmott, L.S., & Fawcett, J. (2001). Borrowed Theories, Shared Theories, and the Advancement of Nursing Knowledge. Nursing Science Quarterly, 14(2): 158-163.
- Yellowlees, P. (2002). MJA Practice Essentials — Mental Health : 1. Psychiatric assessment in community practice, Med. Jou. of Australia. http://www.mja.com.au. Diunduh pada tanggal 14 November 2003.
Penyusunan Tinjauan Pustaka
Guna mendukung penetapan masalah penelitian dan pembahasan yang akan diungkapkan, maka diperlukan tinjauan pustaka atau teori yang adekuat. Sebab tinjauan pustaka atau teori akan mendasari pengungkapan masalah dan pembahasan hasil penelitian yang menyeluruh. Tinjauan literatur mencakup dua hal yaitu:
1. Tinjauan teori yang terkait dengan masalah yang akan diteliti
2. Tinjauan hasil penelitian terkait yang pernah dilakukan.
A. Tujuan Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka diperlukan dalam sebuah penelitian dengan tujuan untuk:
1. Mengetahui apakah penelitian yang akan dilaksanakan pernah dilakukan orang lain sehingga tidak terjadi duplikasi.
2. Mengetahui hasil penelitian orang lain dalam bidan yang sama, sehingga dapat memperluas wacara pembahasan penelitian nantinya.
3. Mempertajam penguasaan teori yang terkait dengan penelitian yang akan dilakukan.
4. Memperoleh informasi rancangan penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti lain.
Dengan melakukan tinjauan pustaka maka diperoleh keuntungan beberapa hal penting berikut ini:
1. Mengarahkan pemahaman masalah penelitian, sehingga rumusan masalah penelitian dapat disusun dengan baik.
2. Membantu menentukan rancangan penelitian yang tepat, sehingga penelitian valid dan bermakna.
3. Menghindari pengutipan pndapat orang lain yang tidak tepat.
4. Membantu menyusun kerangka kerja penelitian
B. Tahapan Tinjauan Pustaka
1. Penelusuran Awal
Melakukan pemeriksaan sepitas terhadap sumber pustaka yang tersedia dan dikaitkan dengan masalah penelitian yang akan diteliti. Dengan penelusuran awal ini, bila diperoleh banyak sumber pusataka yang relevan dan mendukung penelitian.
2. Penelusuran Sekunder
Penelusuran dilakukan terhadap sumber pustaka secara lebih mendalam dan kritis dan relevan dengan masalah penelitian. Sumber pustaka yang diperoleh diharapkan yang terbaru dan komprehensif baik berupa buku bacaan rujukan maupun laporan riset.
3. Penelusuran komputer dan manual
Tinjauan pustaka teori dapat telusuri dan disusun dan berbagai sumber lain yang dapat diakses melalui:
a. Komputer, yaitu sumber pustaka yang berasal dari data base perpustakaan maupun dari website yang menyediakan jurnal-jurnal penelitian.
b. Cara manual, yaitu menelusuri pustaka dengan menggunakan indeks dan abstrak penelitian serta katalog buku perpustakaan.
C. Jenis Pustaka
Penelitian yang baik pada dasarnya didukung oleh bahan pustaka yang memadai. Sehingga seseorang yang akan melakukan penelitian harus akrab dengan pustaka. Bahan pustaka tersebut dapat digunakan digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu:
1. Buku
Buku yang diterbitkan dan terdaftar pada katalog perpustakaan nasional
2. Penerbitan berkala: majalah, jurnal, buletin
3. Harian atau surat kabar yang memuat artikel terkait topik penelitian.
4. Karangan ilmiah yang tidak diterbitkan seperti makalah ilmiah, skripsi, thesis dan disertasi.
5. Laporan penelitian (LIPI, Litbangkes, Lembaga Riset) .
6. Laporan isnstansi resmi (Profil Kesehatan Provinsi atau Kabupaten, SP2TP Puskesmas).
D. Penulisan Tinjauan Pustaka
Setelah bahan pustaka diperoleh, langkah selanjutnya adalah menyusun dan menulis tinjauan pustaka atau landasan teori. Tinjauan pustaka disusun dan ditulis dengan menggunakan beberapa kaidah seperti kaidah menulis dan mengutip.
Uraian dan contoh penulisan serta pengutipannya sebagai berikut:
1. Mengutip dan menulis rujukan
a. Cara mengutip langsung dan menyebutkan rujukannya.
Kutipan yang berjumlah kurang dari 40 kata, maka harus dicantumkan tanda kutip diawal dan diakhir kutipan.
Contoh: Potter menjelaskan bahwa “berat badan merupakan salah satu indikator keadaan gizi seseorang”, (1998 hal 12)
Apabila kutipan berjumlah lebih dari 40 kata tidak perlu menggunakan tanda kutip dan halam rujukan penulis diakhir kutipan.
Contoh:
Menurut Rahardjo (1992) salah satu cara pemantauan DJJ dapat dilakukan dengan….dst (hal 76).
b. Mengutip tidak langsung dan menyebutkan rujukannya
1) Rujukan yang ditulis oleh satu orang penulis
Apabila penulis menyimpulkan tulisan penulis lain, maka nama akhir atau keluarga penulis yang dikutip ditempatkan dalam kurung pada akhir tulisan disertai dengan tahun penerbitannya.
Contoh: Pengukuran tekanan darah yang dilakukan selama ini masih merupakan cara yang … dst (Kozier, 1996).
Atau menulis nama penulis dan tahun penerbitannya dalam kurung kemudian kesimpulan tulisan.
Contoh: Kozier (1996) menyimpulkan bahwa, pengukuran tekanan darah yang dilakukan selama ini masih merupakan … dst.
2) Rujukan yang ditulis oleh dua orang atau lebih
Tulis kedua nama akhir atau keluarga para penulis tersebut dengan menggunakan simbol “&” atau menggunakan kata “dan”.
Contoh:
a) Penggunaan alkohol pada tali pusat hingga saat ini …dst (Machmud & Brastito, 1995)
b) Machmud dan Brastito (1995) menyatakan bahwa penggunaan alkohol pada tali pusat hingga saat ini … dst.
Atau menulis nama penulis dan tahun penerbitannya dalam kurung kemudian kesimpulan tulisan.
Contoh: Kozier (1996) menyimpulkan bahwa, pengukuran tekanan darah yang dilakukan selama ini masih merupakan … dst.
3) Rujukan yang ditulis tiga sampai dengan lima orang penulis
Untuk pertama kali mengutip tulisan, nama akhir atau keluarga semua penulis ditulis.
Contoh: Erlangga, Prayudi dan Gilrandy (1999) menyimpulkan bahwa …dst
Selanjutnya bila kita mengutip dari rujukan tersebut lagi, maka cukup ditulis nama akhir/keluarga penulis pertama saja ditambah et.al.
Contoh: Erlangga et.al (1999) menyimpulkan bahwa … dst.
4) Rujukan yang ditulis lebih dari lima orang penulis
Sejak pertama kali digunakan sebagai rujukan hanya nama akhir atau keluarga penulis pertama saja yang ditulis ditambah et.al.
Contoh: Sebuah buku dikarang oleh Ananto, Wibowo, Sutopo, Sumpeno, Kartini, dan Anas, maka cara menulis sumber rujukannya adalah: Ananto et.al (1989) menyimpulkan bahwa permasalahan tersebut…dst.
Bila beberapa tulisan dari pengaran yang berbeda digunakan dalam satu bahasan, maka urutan penulisan para pengarang tersebut mengikuti abjad.
Contoh: Beberapa ahli (Abdullah, 1999; Hamzah, 1987; Kartono, 2001) dapat menyimpulkan tentang batasan kepuasan pasien yaitu sebuah ungkapan…dst.
5) Menyebutkan nama penulis yang dikutip oleh penulis buku yang sedang kita rujuk.
Contoh: Suhardi dalam Monica (1997) menyatakan bahwa keterbatasan gerak yang dilakukan oleh pasien pasca Sectio diakibatkan oleh adanya …dst.
2. Menulis Daftar Pustaka
Pengetikan daftar pustaka dengan urutan sebagai berikut: Nama akhir atau keluarga penulis, tahun terbit, judul kota penerbit dan penerbit. Lebih terinci cara penulisannya sebagai berikut:
a. Penulis buku satu orang
Contoh: Sugiyono (1999). Statistik untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung.
b. Penulis dua atau tiga orang
Contoh: Aronaga, Kartini & Abdulah (1994). Madu dan Kandungan manfaatnya. Yogyakarta; Andi (Offset).
c. Penulis lebih dari satu orang
Contoh: Nettina et.al (2001). Manual nursing practice. (Second Edition). New York; Mc. Graw Hill.
d. Terjemahan
Contoh: Brockopp (1999). Riset dan aplikasinya. Diterjemahkan oleh Asih. Jakarta; EGC.
e. Buku dengan Editor
Contoh: Tapen (Ed) (2001). Management Concept and leadership. London’ Lippincott.
f. Dokumen
Contoh: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Permenkes RI Nomor 1239/Permenkes/III/2001. Tentang Praktek Keperawatan. Jakarta.
g. Karya Ilmiah (Thesis, skripsi dan sejenisnya)
Contoh: Saputra (2003). Perbedaan tekanan darah yang diukur berdiri dan berbaring ditempat tidur. Karya tulis ilmiah tidak diterbitkan. Poltekkes Tanjungkarang. Bandar Lampung.
h. Laporan
Contoh: Suyanto (2003). Faktor penghambat dan pendukung penyusunan KTI mahasiswa. Laporan penelitian Poltekkes Tanjungkarang. Bandar Lampung.
i. Buku Tahunan
Contoh: Dinas Kesehatan Provinsi Lampung (2003). Profil Kesehatan Provinsi Lampung tahun 2003. Bandar Lampung.
j. Hasil Seminar/Simposium/Konferensi
Contoh: Setiawan. Seminar Sehari; Perawatan pasien Eklampsia 27 Juli 1996. Bandar Lampung.
k. Karangan dalam majalah/buletin/surat kabar
Contoh: Wahid (1999). Citra Bidan dan Perawat di Kalangan profesi kesehatan. Buletin Medika 5 (2). 34-37.
l. Internet
Contoh:
http://www.nursingcentre.com.Job on Vacancy. Week26.2000.
Sumber: Suyanto & Salamah, Riset Kebidanan. 2008.