KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Gadar-kegawatdaruratan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gadar-kegawatdaruratan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Agustus 2010

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Penumothorak

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Penumothorak: "Definisi
Pneumothorax adalah adanya udara dalam rongga pleura. Pneumothorak dapat terjadi secara spontan atau karena trauma. (British Thoracic Society 2003). Tension pneumothorax disebabkan karena tekanan positif pada saat udara masuk ke pleura pada saat inspirasi. Pneumothorak dapat menyebabkan cardiorespiratory distress dan cardiac arrest.

Tanda dan Gejala
Pasien dengan pneumo thorak memiliki gejala sebagai berikut:
nyeri dada – biasanya hanya terjadi pada satu sisi yang terkena
napas pendek
tachycardia

Gambaran Ancaman Terhadap Kehidupan
pada pasien ekstrim – pertimbangkan tension penumotorak
napas pendek
hypotensi
tachykardi
trachea berubah

ASSESSMENT
Pengkajian selalu menggunakan pendekatan ABCDE.
Airway
kaji dan pertahankan jalan napas
lakukan head tilt, chin lift jika perlu
gunakan alat bantu jalan napas jika perlu
petimbangkan untuk merujuk ke ahli anestesi untuk dilakukan intubasi jika tidak mampu mempertahankan jalan napas

Breathing
kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, pertahankan saturasi >92%
berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath mask
pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask ventilation
periksakan gas darah arteri untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
kaji respiratory rate
periksa system pernapasan
cari tanda deviasi trachea, deviasi trachea merupakan tanda tension pneumothorak.

Circulation
kaji heart rate dan rhytem
catat tekanan darah
lakukan pemeriksaan EKG
lakukan pemasangan IV akses
lakukan pemeriksaan darah vena untuk pemeriksaan darah lengkap dan elektrolit.

Disability
a. lakukan pengkajian tingkat kesadaran dengan menggnakan pendekatan AVPU
b. penurunan kesadaran merupakan tanda pertama pasien dalam perburukan dan membutuhkan pertolongan di ICU

Exposure
a. pada saat pasien stabil kaji riwayat kesehatan scara detail dan lakukan pemeriksaan fisik lainnya
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Penumothorak

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Gastroenteritis

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Gastroenteritis:

"Definisi

Gastroenteritis adalah diare dengan atau tanpa muntah yang disebabkan masuknya bakteri, virus atau toksin. Penyebabnya biasanya tidak. Akan tetapi makanan dan minuman yang terkontaminasi merupakan sumber utama infeksi. Beberapa organime yang memaikan peranan adalah:

  1. staphylococcus aureus – dari makananan dan minuman yang terkontaminasi dengan masa inkubasi 2–4 jam
  2. E coli – berasal dari daging dan susu dengan masa inkubasi 12 – 48 jam
  3. campylobacter jejuni – berasal dari daging dan susu dengan masa inkubasi 48 – 96 jam
  4. salmonella spp – berasal dari daging dan telur dengan masa inkubasi 12 – 48 jam
  5. rotavirus – mungkin disebabrkan dari makanan dan cairan dengan masasi 1 – 7 hari

Tanda dan Gejala

Tanda umum pada gastroenteritis adalah:

  1. diare
  2. muntah
  3. mual
  4. kram perut
  5. kelemahan
  6. demam

Pengkajian

Selalu menggunakan pendekatan ABCDE.

Airway

  1. pantikan kepatenan jalan napas
  2. siapkan alat bantu untuk menolong jalan napas jika perlu
  3. jika terjadi perburukan jalan napas segera hubungi ahli anestesi dan bawa ke ICU

Breathing

  1. kaji respiratory rate
  2. kaji saturasi oksigen
  3. berikan oksigen jika ada hypoksia untuk mempertahankan saturasi > 92%
  4. auskultasi dada
  5. lakukan pemeriksaan rontgent

Circulation

  1. kaji denyut jantung
  2. monitor tekanan darah
  3. kaji lama pengisian kapiller
  4. pasang infuse, berikan ciaran jika pasien dehidrasi
  5. periksakan dara lengkap, urin dan elektrolit
  6. catat temperature
  7. lakukan kultur jika pyreksia
  8. lakukan monitoring ketat
  9. berikan cairan per oral
  10. jika ada mual dan muntah, berikan antiemetik IV.


Disability

  1. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU

Exposure

  1. kaji riwayat sedetil mungkin
  2. kaji makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelumnya
  3. kaji tentang waktu sampai adanya gejala
  4. kaji apakah ada anggota keluarga atau teman yang terkena
  5. apakah sebelumnya baru mengadakan perjalanan?
  6. Lakukan pemeriksaan abdomen
  7. Lakukan pemeriksaan roentgen abdominal
  8. Ambil samper feses untuk pemeriksan mikroskopi, kultur dan sensitivitas
  9. Berikan anti diare seperi codein atau loperamide sampai hasil kultur diketahui
  10. Jangan dulu berikan antibiotic sampai dengan hasil kultur diketahui
  11. Laporkan jika mengalami keracunanan makanan
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Gastroenteritis

Jumat, 27 Agustus 2010

Keperawatan Gawat Darurat Pada Asthma

Keperawatan Gawat Darurat Pada Asthma:

"Asthma merupakan inflamasi kronis pada saluran pernapasan.

Asthma mengancam kehidupan jika:

  1. Peak Expiratory Flow (PEF) <33% prediksi yang paling baik
  2. SpO2 <92%
  3. PaO2 <8 kPa
  4. normal PaCO2
  5. silent chest
  6. sianosis
  7. feeble respiratory effort
  8. bradycardia
  9. dysrhythmia
  10. hypotension
  11. kelelahan
  12. bingung
  13. coma

Asthma akut berat

  1. EF 33–50%
  2. respiratory rate ≥25 per menit
  3. heart rate ≥110 denyut per menit
  4. tidak mampu menyelesaikan satu kalimat dalam satu helaan napas

Exasebasi Asthma Moderat

  1. gejala meningkat
  2. PEF >50–75%
  3. Tidak ada tanda asthma akut berat

Pengkajian

Airway

  1. kaji dan pertahankan jalan napas
  2. lakukan head tilt, chin lift jika perlu
  3. gunakan bantuan untuk memperbaiki jalan napas jika perlu
  4. pertimbangkan untuk di rujuk ke anesthetist untuk dilakukan intubasi jika tidak mampu untuk menjaga jalan napas atau pasien dalam kondisi terancam kehidupannya atau pada asthma akut berat
  5. jika pasien menunjukan gejala yang mengancam kehidupan, yakinkan mendapat pertolongan medis secepatnya.

Breathing

  1. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, dengan tujuan mempertahankan saturasi oksigen >92%
  2. berikan aliran oksigen tinggi melalui non re-breath mask
  3. pertimbangkan untuk menggunakan bag-valve-mask-ventilation
  4. ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk menkaji PaO2 dan PaCO2
  5. kaji respiratory rate
  6. jika pasien mampu, rekam Peak Expiratory Flow dan dokumentasikan
  7. periksa system pernapasan – cari tanda:
    1. cyanosis
    2. deviasi trachea
    3. kesimetrisan pergerakan dada
    4. retraksi dinding dada
  8. dengarkan adanya:
    1. wheezing
    2. pengurangan aliran udara masuk
    3. silent chest
  9. berikan nebuliser bronchodilator melalui oksigen – salbutamol 5 mg dan ipratropium 500mcg
  10. berikan prednisolon 40 mg per oral atau hydrocortisone 100 mg IV setiap 6 jam
  11. lakukan thorak photo untuk mengetahui adanya pneumothorak

Circulation/Sirkulasi

a. kaji denyut jantung dan rhytme

b. catat tekanan darah

c. Lakukan EKG

d. Berikan akses IV dan pertimbangkan pemberian magnesium sulphat 2 gram dalam 20 menit

e. Kaji intake output

f. Jika potassium rendah makan berikan potassium

Disability

  1. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
  2. penurunan tingkat kesadran merupakan tanda ekstrim pertama dan pasien membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive

Exposure

  1. pada saat pasien stabil dapat di tanyakan riwayat dan pemeriksaan lainnya.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Keperawatan Gawat Darurat Pada Asthma

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Chronic Obstructive Pulmonal Disease (COPD)

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Chronic Obstructive Pulmonal Disease (COPD):

"COPD merupakan penyakit yang ditandai dengan obstuksi aliran napas yang tidak penuh bisa sembuh kembali. Keterbatasan aliran udara biasanya meningkat dan berhubungan dengan respon inflamasi abnormal paru sebagai respon terhadap partikel dan gas yang berbahaya. Berat ringan COPD dapat digolongkan menjadi 4 yaitu:

Tahap 0 – Resiko

  1. batuk kronis dan sputum produktif
  2. fungsi paru normal

Tahap 1 – COPD Ringan

  1. Forced Expiratory Volume dalam 1 detik (FEV1) ≥80%
  2. Keterbatasan aliran udara ringan
  3. Batuk kronis dan sputum produktif

Tahap 2 – COPD Moderat

  1. FEV1 <80%
  2. Ketebatasan aliran udara tambah buruk
  3. Gejala bertambah
  4. Napas pendek

Tahap 3 – COPD Berat

  1. FEV1 <30%
  2. Keterbatasan aliran udara berat
  3. Gagal napas
  4. Tanda klinis gagal jantung kanan
  5. Qualitas hidup menurun
  6. Jika berulang mengancam kehidupan

Tanda dan Gejala

Pasien dengan exaserbasi COPD ditemukan gejala sebagai berikut:

  1. napas pendek meningkat
  2. wheezing
  3. peningkatan produksi sputum dan batuk
  4. pyreksia
  5. malaise dan kelemahan
  6. bingung
  7. penurunan toleransi aktivitas

Tanda Ancaman Terhadap Kehidupan

  1. tidak ada perbaikan kondisi/tidak ada respon terhadap pengobatan
  2. bingung
  3. letargi
  4. coma
  5. hyposemia memburuk

Pengkajian

Airway

  1. kaji dan pertahankan jalan napas
  2. lakukan head tilt, chin lift jika perlu
  3. gunakan bantuan jalan napas jika perlu
  4. pertimbangkan untuk segera merujuk ke ahli anaestesi

Breathing

  1. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter
  2. lakukan pemeriksaan arterial gas darah untuk mengkaji pH, PaCO2 and PaO2
  3. jika pH arteri <7.2, pasien lebih menguntungkan menggunakan non-invasive ventilation (NIV) dan rujukan harus dibuat sesuai dengan kebijakan setempat
  4. kontrol terapi oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen >92%
  5. monitoring secara ketat PaCO2
  6. berikan nebuliser salbutamol 5 mg dan ipratropium 500 mcg melalui oksigen
  7. berikan prednisolone 30 mg per oral atau hydrocortisone 100 mg IV setiap 6 jam.
  8. Catat temperature
  9. Lakukan pemeriksaan untuk mencari tanda:
    1. Sianosis
    2. Clubbing
    3. pursed lip breathing
    4. kesimetrisan pergerakan
    5. retraksi interkosta
    6. deviasi trachea
  10. Dengarkan adanya:
    1. Wheezing
    2. Crackles
    3. Penurunan aliran udara
    4. Silent chest
  11. Lakukan pemeriksaan torak untuk melihat
    1. Pneumothorak
    2. Konsolidasi
    3. Tanda gagal jantung
  12. Jika ada bukti infeksi biasanya disebabkan oleh bakteri pathogen diantaranya:
    1. streptococcus pneumoniae
    2. haemophilus influenzae
    3. moraxella catarrhalis

Circulation

  1. kaji heart rate dan ritme
  2. catat tekanan darah
  3. periksa EKG
  4. lakukan intake output, dan pemeriksaan darah lengkap
  5. lakukan pemasangan IV akses
  6. jika potassium rendah maka berika cairan potassium
  7. lakukan pembatasan cairan
  8. pertimbangkan pemberian heparin subkutan

Disability

  1. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
  2. penurunan kesadaran menunjukan pasien membutuhkan pertolongan medis dengan segera dan dikirim ke ICU

Exposure

  1. jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lainnya

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Chronic Obstructive Pulmonal Disease (COPD)

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pulmonary Embolism (Emboli Paru)

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pulmonary Embolism (Emboli Paru):
"Pulmonary embolism (PE) biasanya secara klinis sulit ditemukan. Pasien dengan emboli paru biasanya dyspnea dan nyeri dada.
Tanda dan Gejala
Tanda umum adalah:
a. dyspnoea – tiba-tiba dan ada pada 90% kasus
b. nyeri dada pleuritik
c. haemoptisis
d. pingsan
e. tachikardia > 100/menit
f. tachipnoe > 20/menit
g. demam

Tanda Klinis (Skor)
Gejala DVT dengan tanda bengkak pada kaki dan nyeri pada perabaan vena (3)
Denyut jantung > 100 per menit (1,5)
Bedrest > 3 hari atau pembedahan dalam 4 minggu yang lalu (1,5)
Sebelumya menderita DVT atau PE (1,5)
Haemoptisis (1,0)
PE ditemukan pada pemeriksaan poto thorak dan EKG (3,0)

Skor Total Test Kemungkinan
<2>6,0 Tinggi


Tanda Ancaman Kehidupan

Gejala PE:
a. dyspnea berat
b. nyeri dada
c. peningkatan tekanan vena
d. ada bukti gagal jantung kanan
e. hypotensi
f. shock

Pengkajian
Pengkajian dengan pendekatan ABCD.

Airway

a. kaji dan pertahankan jalan napas
b. lakukan head tilt, chin lift jika perlu
c. gunakan alat batu untuk jalan napas jika perlu
d. pertimbangkan untuk merujuk ke ahli anestesi untuk dilakukan intubasi jika tidak dapat mempertahankan jalan napas

Breathing

a. kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, untuk mempertahankan saturasi >92%.
b. Berikan oksigen dengan aliran tinggi melalui non re-breath mask.
c. Pertimbangkan untuk mendapatkan pernapasan dengan menggunakan bag-valve-mask ventilation
d. Lakukan pemeriksaan gas darah arterial untuk mengkaji PaO2 dan PaCO2
e. Kaji jumlah pernapasan
f. Lakukan pemeriksan system pernapasan
g. Dengarkan adanya bunyi pleura
h. Lakukan pemeriksaan foto thorak – mungkin normal, tapi lihat untuk mendapatkan:
a. Bukti adanya wedge shaped shadow (infarct)
b. Atelektaksis linier
c. Effuse pleura
d. Hemidiaphragm meningkat
e. Jika tanda klinis menunjukan adanya PE, lakukan ventilation perfusionscan (VQ) atau CT Pulmonary Angiogram (CTPA) sesuai kebijakan setempat

Circulation

a. Kaji heart rate dan ritme, kemungkinan terdengan suara gallop
b. Kaji peningkatan JVP
c. Catat tekanan darah
d. Pemeriksaan EKG mungkin menunjukan:
a. Sinus tachikardi
b. Adanya S1 Q3 T3
c. right bundle branch block (RBBB)
d. right axis deviation (RAD)
e. P pulmonale
e. Lakukan IV akses
f. Lakukan pemeriksaan darah lengkap
g. Jika ada kemungkina PE berikan heparin
h. Jika pasien mengalami thrombolisis, alteplase direkomendasikan sebagai obat pilihan. Berikan 50 mg IV dengan bolus. Jika pasien tidak berespon terhadap trombolisis, segera dirujuk ke speialis untuk dilakukan thromboembolectomy.

Disability
a. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU
b. penurunan kesadaran menunjukan tanda awal pasien masuk kondisi ekstrim dan membutuhkan pertolongan medis segera dan membutuhkan perawatan di ICU.

Exposure
a. selalu mengkaji dengan menggunakan test kemungkinan PE
b. jika pasien stabil lakukan pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik lainnya.
c. Jangan lupa pemeriksaan untuk tanda DVT

Faktor Resiko terjadinya PE
a. DVT ada pada 50% pasien
b. Pembedahan sebelumnya
c. Trauma sebelumnya
d. Imobilisasi untuk berbagai alas an
e. Keganasan
f. Pasien mengkonsumsi kontrasepsi oral
g. Pasien mendapatkan terapi hormone
h. Kehamilan lama
i. Obesitas
j. Pasien mendapatkan Selective Estregen Receptor Modulator therapy (SERM)
k. Syndrome hyperviskositas
l. Nipas
m. Nepritik sindrom
n. Defisiensi antitrombin III
o. Defisiensi protein C dan S
p. Antikoagulan lupus

Perawatan PE
Sejak didiagnosa PE maka pasein harus mendapatkan antikoagulan. Heparin dengan berat molekul ringan harus diberikan sebagai prioritas. Walfarin diberikan dalam 2 hari.
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pulmonary Embolism (Emboli Paru)

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Sepsis dan Shock Sepsis

Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Sepsis dan Shock Sepsis: "
Sepsis dan shock septis mengancam kehidupan. Mortalitas kasus ini sekitar 25% sampai dengan 90%.

Definisi
Sepsis merupakan respon sistemik terhadap bakteriemia. Pada saat bakteriemia menyebabkan perubahan dalam sirkulasi menimbulkan penurunan perfusi jaringan dan terjadi shock sepsis. Sekitar 40% pasien sepsis disebabkan oleh mikroorganisme gram-positive dan 60% disebabkan mikroorganisme gram-negative. Pada orang dewasa infeksi saluran kencing merupakan sumber utama terjadinya infeksi. Di rumah sakit kemungkinan sumber infeksi adalah luka dan kateter atau kateter intravena. Organisme yang paling sering menyebabkan sepsis adalah staphylococcus aureus dan
pseudomonas sp.

Tanda dan Gejala
Pasien dengan sepsis dan shock sepsis merupakan penyakit akut. Pengkajian dan pengobatan sangat diperlukan. Pasien dapat meninggal karena sepsis. Gejala umum adalah:
a. demam
b. berkeringat
c. sakit kepala
d. nyeri otot

Cari tahu sumber infeksi utama. Pertimbangkan sumber infeksi berikut:
a. infeksi saluran kencing
b. infeksi saluran pernapasan
c. infeksi kulit
d. meningitis
e. endokarditis
f. infeksi intra abdomen
g. osteomyelitis
h. penyakit inflamasi pelvis
i. penyakit menular seksual

Pada pasien sepsis kemungkinan ditemukan:
a. perubahan sirkulasi
b. penurunan perfusi perifer
c. tachycardia
d. tachypnea
e. pyresia atau temperature <36oC
f. hypotensi

Pengkajian Selalu menggunakan pendekatan ABCDE.

Airway
a. yakinkan kepatenan jalan napas
b. berikan alat bantu napas jika perlu (guedel atau nasopharyngeal)
c. jika terjadi penurunan fungsi pernapasan segera kontak ahli anestesi dan bawa segera mungkin ke ICU

Breathing
a. kaji jumlah pernasan lebih dari 24 kali per menit merupakan gejala yang signifikan
b. kaji saturasi oksigen
c. periksa gas darah arteri untuk mengkaji status oksigenasi dan kemungkinan asidosis
d. berikan 100% oksigen melalui non re-breath mask
e. auskulasi dada, untuk mengetahui adanya infeksi di dada
f. periksa foto thorak

Circulation
a. kaji denyut jantung, >100 kali per menit merupakan tanda signifikan
b. monitoring tekanan darah, tekanan darah < 90 mmHg merupakan prognosis jelek
c. periksa waktu pengisian kapiler
d. pasang infuse dengan menggunakan canul yang besar
e. berikan cairan koloid – gelofusin atau haemaccel
f. pasang kateter
g. lakukan pemeriksaan darah lengkap
h. siapkan untuk pemeriksaan kultur
i. catat temperature, kemungkinan pasien pyreksia atau temperature kurang dari 36oC
j. siapkan pemeriksaan urin dan sputum
k. berikan antibiotic spectrum luas sesuai kebijakan setempat.

Disability
Bingung merupakan salah satu tanda pertama pada pasien sepsis padahal sebelumnya tidak ada masalah (sehat dan baik).
a. kaji tingkat kesadaran dengan menggunakan AVPU.

Exposure
Jika sumber infeksi tidak diketahui, cari adanya cidera, luka dan tempat suntikan dan tempat sumber infeksi lainnya.

Tanda ancaman terhadap kehidupan
Sepsis yang berat didefinisikan sebagai sepsis yang menyebabkan kegagalan fungsi organ. Jika sudah menyembabkan ancaman terhadap kehidupan maka pasien harus dibawa ke ICU, adapun indikasinya sebagai berikut:
a. penurunan fungsi ginjal
b. penurunan fungsi jantung
c. hyposia
d. asidosis
e. gangguan pembekuan
f. acute respiratory distress syndrome (ARDS) – tanda cardinal oedema pulmonal.
Shock septic didefinisikan sebagai sepsis yang berat dengan tekanan darah sistolik <90 mmHg.
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Sepsis dan Shock Sepsis

Kamis, 26 Agustus 2010

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT: "

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

  1. Askep peritonitis ruptur hepar
  2. Askep Syock
  3. Askep truma thoraks
  4. Askep trauma tusuk abdomen
  5. Askep gagal nafas anak
  6. Askep fraktur cervical
  7. Askep cedera otak berat
  8. Askep Chest Pain
  9. Askep gagal nafas
  10. Askep hipoglikemia
  11. Askep intoksikasi organo fosfat
  12. Askep klien dengan CVP
  13. Askep Payah jantung

"
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: