KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Farmakologi (Farmasi). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Farmakologi (Farmasi). Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

CARA PEMBERIAN OBAT

 CARA PEMBERIAN OBAT: "
n PEMBERIAN OBAT

PENDAHULUAN
n PERAWAT BERTANGGUNGJAWAB DALAM PEMBERIAN OBAT
n HARUS SELALU MEMPERHATIKAN REFERENSI : BUKU & सद्म

6 HAL BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT
n KLIEN BENAR
n OBAT BENAR
n DOSIS BENAR
n WAKTU BENAR
n RUTE BENAR
n DOKUMENTASI BENAR
KLIEN YG BENAR
n PERIKSA GELANG IDENTITAS & SEBUT NAMA SENDIRI
n IMPLIKASI :
PERIKSA GELANG IDENTIFIKASI
BEDAKAN KLIEN DG NAMA YG SAMA
OBAT YG BENAR
n CEK RESEP & LEMBAR INSTRUKSI DOKTER
n KOMPONEN INSTRUKSI :
TANGGAL & JAM
NAMA OBAT
DOSIS OBAT
RUTE PEMBERIAN
FREKWENSI
TANDA TANGAN
n IMPLIKASI :
INSTRUKSI LENGKAP & SAH?
MENGAPA KLIEN MENERIMA
RESEP TSB?
LABEL DIBACA 3 KALI
n 4 KATEGORI PERINTAH PEMBERIAN OBAT :
PERINTAH TETAP
PERINTAH SATU KALI
PERINTAH JIKA PERLU
PERINTAH SEGERA
DOSIS YG BENAR
n PERTIMBANGKAN KETERSEDIAAN & DOSIS
n IMPLIKASI :
HITUNG DOSIS DG BENAR
LIHAT REFERENSI

WAKTU YG BENAR
n SAAT HARUS DIBERIKAN
n IMPLIKASI :
SAAT KHUSUS
TERPENGARUH OLEH MAKANAN
IRITASI LAMBUNG
KONTRA INDIKASI OBAT
PERIKSA KADALUWARSA
ANTIBIOTIK SELANG WAKTU SAMA
RUTE YG BENAR
n ORAL, SUBLINGUAL, TOPIKAL, INHALASI, INSTILASI, PARENTERAL
n IMPLIKASI :
KEMAMPUAN MENELAN

PARENTERAL HARUS STERIL

BERIKAN PADA TEMPAT YG BENAR

TETAP DG KLIEN SAMPAI OBAT DITELAN
DOKUMENTASI YG BENAR
n NAMA OBAT, DOSIS, RUTE, WAKTU, TANGGAL, INISIAL/TANDATANGAN, RESPON KLIEN
HAK-HAK KLIEN
n HAK MENGETAHUI ALASAN PEMBERIAN OBAT
n HAK MENOLAK PENGOBATAN
n FAKTOR2 YG MENGUBAH RESPON TERHADAP OBAT
Absorbsi
Distribusi
Metabolisme
Ekskresi
Usia
Berat badan
Toksisitas
Farmakogenetik
Rute pemberian
Saat pemberian
Faktor emosional
Adanya penyakit
Riwayat obat
Toleransi
Efek penumpukan
Interaksi obat
BENTUK & RUTE PEMBERIAN OBAT
TABLET & KAPSUL
TDAK DIBERIKAN BILA MUNTAH, REFLEK MUNTAH (-), KOMA
KAPSUL, ENTERIC COATED, TIMED RELEASE, HRS DITELAN UTUH
SUBLINGUAL ATAU BUKAL, DIBIARKAN SAMPAI HABIS
CAIRAN
PERLU PENGENCERAN ATAU PENGOCOKAN?
PERHATIKAN DOSIS
BIASANYA PERLU DISIMPAN DI LEMARI ES
TRANSDERMAL
TERSIMPAN DALAM PATCH, DITEMPELKAN PADA KULIT
TOPIKAL
DIBERIKAN PADA KULIT
GUNAKAN SARUNG TANGAN, SPATEL LIDAH, APLIKATOR
INSTILASI
OBAT CAIR DALAM BENTUK TETES
SUPOSITORIA
REKTAL
SIMPAN DALAM LEMARI ES
GUNAKAN SARUNG TANGAN
BERI PELUMAS
KLIEN MIRING
DIAM 20 MENIT
AJARI KLIEN CARANYA
VAGINAL
TETES DAN SEMPROT HIDUNG
AEROSOL (INHALASI)
PARENTERAL
INTRADERMAL
STERILKAN
REGANGKAN KULIT
TUSUKKAN JARUM
MASUKKAN OBAT
ANGKAT JARUM
JANGAN GOSOK
SUBKUTAN
STERILKAN
CUBIT KULIT
TUSUKKAN JARUM
LEPASKAN KULIT
ASPIRASI
MASUKKAN OBAT
ANGKAT JARUM
GOSOK DG LEBUT
INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
n INTRAMUSKULAR
INTRAVENA
TEKNIK :
PASANG TORNIKET
STERILKAN
MASUKKAN JARUM,LEPAS TORNIKET
STABILKAN JARUM
PERHATIKAN KECEPATAN ALIRAN, LOKASI&SEKITARNYA
IMPLIKASI KEPERAWATAN
JELASKAN APA YG HENDAK DILAKUKAN
TUNJUKKAN PERHATIAN
HILANGKAN KECEMASAN
POSISI SENYAMAN MUNGKIN
ALAT YG SESUAI
BERIKAN SESUAI RUTE YG DIPERINTAHKAN
KULIT TIDAK BOLEH RADANG
PADA ANAK HINDARI DORSOGLUTEAL
AMATI REAKSI

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - CARA PEMBERIAN OBAT

Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan: "

Secara ideal angka ketersediaan obat adalah 120% dengan perincian 100% dipergunakan untuk keperluan dan sisanya sebanyak 20% adalah untuk cadangan misalnya di situasi khusus oleh karena adanya bencana atau wabah. Jumlah cadangan biasanya bervariasi berkisar antara 20% - 50%. Jumlah ini tergantung pada situasi tertentu misalnya saat terjadi wabah ataupun bencana alam.


Tabel 44 dan 45 menunjukkan persentase ketersediaan obat baik generic maupun essensial yaitu 298,56% (> 100%). Jumlah yang melebihi ini pada umumnya adalah karena adanya dropping obat bersumber dari pusat yang tidak sesuai permintaan dan kebutuhan. Namun secara umum jika persentase rata- rata ketersediaan obat mendekati ataupun melebihi 100%, maka diartikan keadaan stok obat cukup aman.


Rata- rata persentase penulisan resep obat di sarana kesehatan baik pemerintah ataupun swasta telah mencapai 93,33% (tabel 46). Dengan perincian di sarana kesehatan pemerintah 98,69% dan di sarana kesehatan swasta 54,07%.


Di sarana kesehatan pemerintah memang dianjurkan untuk menggunakan obat generik, sehingga penulisan resep obat generik di sarana kesehatan pemerintah sudah mencapai target 80%, sedangkan untuk sarana kesehatan swasta persentase masih rendah

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat

Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat: "

Pedagang Besar Farmasi (PBF) tidak boleh lagi mengimpor obat dari luar negeri. Registrasi obat impor hanya boleh dilakukan industri farmasi dalam negeri yang mendapat persetujuan tertulis dari industri farmasi di luar negeri. Ketentuan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI 1010/MENKES/PER/XI/2008 tanggal 3 November 2008 tentang Registrasi Obat.


Hal itu disampaikan Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) dalam wawancara dengan Majalah TRUST dan Reuters berkaitan dengan penolakan Gabungan Perusahaan Farmasi Internasional (IPMG) terhadap Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008 di Jakarta tanggal 26 November 2008.


Menurut Menkes, dalam keputusan sebelumnya yakni Keputusan Menkes No. 1191 Tahun 2002, Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah perusahaan yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi. Penanggung jawabnya seorang apoteker dan dibantu asisten apoteker.


Pada Keputusan Menteri Kesehatan No. 1010/MENKES/ PER/XI/2008, PBF yang mempunyai kompetensi seperti itu tidak layak mengimpor obat dari luar negeri. Yang boleh mengimpor obat dari luar negeri adalah industri farmasi karena obat impor harus diregistrasi lagi di Indonesia untuk menjamin keamanan, khasiat dan mutunya sampai dengan pasca pemasaran, ujar dr. Siti Fadilah Supari.


Sistem organisasi PBF anggota IPMG tidak memenuhi syarat ketentuan sebagaimana diatur dalam Kepmenkes No. 1010 Tahun 2008, yakni tidak memiliki fasilitas produksi di Indonesia. ”Itu sangat merugikan. Seharusnya obat diimpor oleh industri obat. Kalau PBF bisa begitu, semua memilih menjadi PBF saja dan para investor di sini bisa lari semua. Justru dengan Keputusan Menkes No. 1010 Tahun 2008 ini diharapkan investor datang ke Indonesia”, ungkap Menkes.


”Saya menginginkan keadilan. Saya tidak anti bekerja sama dengan asing. Tetapi saya ingin bekerja sama dengan adil. Indonesia punya pangsa pasar paling besar di ASEAN, mungkin terbesar setelah India dan China. Penduduk Indonesia 220 juta, sementara 30% dari jumlah itu masih membeli obat yang mahal. Bangunlah pabrik di Indonesia agar keuntungannya mengalir ke rakyat, karena bisa mengurangi pengangguran”, ujar Dr. Siti Fadilah Supari.


Berdasarkan Permenkes No. 1010 Tahun 2008 tentang registrasi obat, registrasi obat baik produksi dalam negeri, obat impor, obat khusus untuk ekspor, maupun obat yang dilindungi paten hanya bisa dilakukan industri farmasi. Impor obat diutamakan untuk obat program kesehatan masyarakat, obat penemuan baru dan obat yang dibutuhkan tetapi tidak dapat diproduksi di dalam negeri, ujar Menkes.


Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Setjen Depkes RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi telp./fax. 52921669 atau email puskom.publik@yahoo.co.id.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Pedagang Besar Farmasi Tidak Boleh Impor Obat

Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan

Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan: "


obatObat merupakan sesuatu yang umumnya dikonsumsi saat seseorang sakit. Saat menderita flu, batuk, sakit maag atau sakit kepala (pusing), kebanyakan orang mengobatinya dengan mengkonsumsi obat bebas yang dapat dibeli di warung, toko atau apotik. Hal ini disebabkan karena penyakit tersebut umumnya cepat sembuh dan dianggap tidak berbahaya. Tetapi, ada hal yang perlu diperhatikan saat Anda mengkonsumsi obat bebas atau antibiotik.


Obat Bebas


Obat bebas adalah obat yang dapat dibeli secara bebas atau tidak membutuhkan resep dokter. Obat bebas cukup aman dikonsumsi bila mengikuti aturan pakai dan dosis yang tercantum dalam kemasan. Anda juga harus memastikan apakah obat bebas tersebut benar-benar obat bebas yang aman, bukan obat yang membutuhkan resep dokter tetapi dapat dibeli secara bebas.


Sesuaikan obat yang akan dikonsumsi dengan penyakit yang diderita. Misalnya, saat Anda batuk, perhatikan apakah batuk tersebut termasuk jenis batuk kering atau batuk berdahak. Batuk kering biasanya disebabkan karena adanya iritasi. Sedangkan batuk berdahak karena masuknya virus atau bakteri sehingga tubuh mengeluarkan lendir untuk melawannya.


Atau bila Anda menderita flu, dapat dideteksi apakah flu disebabkan virus atau bakteri. Flu yang disebabkan virus biasanya mengeluarkan cairan encer yang sebenarnya bisa disembuhkan dengan cukup beristirahat, minum banyak air, dan makan makanan bergizi dan mengandung vitamin khususnya vitamin C, tanpa perlu mengkonsumsi obat. Sebaliknya, bila cairan kental berarti flu disebabkan oleh bakteri yang perlu diatasi dengan mengkonsumsi obat atau dengan pergi ke dokter untuk mendapatkan antibiotik.


Anda perlu mengetahui apa kandungan yang terdapat dalam obat bebas dan memastikan agar Anda atau orang yang akan mengkonsumsi obat tersebut tidak memiliki alergi terhadap kandungan obat. Hindari mengkonsumsi kandungan tertentu dari obat dikonsumsi dengan dosis dua kali lipat atau lebih. Hal ini dimungkinkan apabila seseorang mengkonsumsi obat flu dan obat sakit kepala bersamaan sehingga kandungan parasetamol yang terdapat dalam kedua obat tersebut masuk ke tubuh dengan dosis ganda.


Berikut ini tabel kandungan yang umumnya terdapat dalam obat bebas dan kegunaannya.






























































Obat untuk PenyakitKandungan dalam ObatManfaat
Flu atau PilekParasetamol

(Asetaminofen)
Penurun panas (antipiretik) dan meredakan nyeri otot dan sendi (amalgesik)
Klorpeniramin atau Difenhidramin atau Feniramin atau Tripolidin

(Antihistamin)
Mengatasi alergi dan meredakan bersin.
Pseudoefedrin atau Efedrin atau Fenilefrin atau Fenilpropanolamin

(Dekongestan)
Melegakan tenggorokan dan melonggarkan saluran pernapasan dengan cara mengurangi lendir.
Batuk KeringDextromethorpan

(DMP)
Meredakan batuk kering.
ParasetamolMenurunkan panas dan meredakan nyeri otot dan sendi.
Dextromethorphan

(Antitusif)
Meredakan refleks batuk secara langsung dengan cara menekan pusat batuk baik yang berada di sumsum sambungan (medulla) atau pada pusat saraf (otak).
Batuk BerdahakGuaifenesin dan garam ammonium guaicol

(Ekspetoran)
Mengeluarkan cairan encer sehingga dahak menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan.
Ambroxol dan Bromexin

(Mukolitik)
Mengurangi kekentalan cairan lendir.
Sakit Kepala atau PusingParasetamol atau Asam Mefenamat atau Asam Asetil SalisilatMenurunkan panas dan meredakan nyeri otot dan sendi.
Sakit Lambung atau Sakit MaagAluminium hidroksida dan Magnesium HidroksidaMengurangi nyeri lambung dengan menetralkan asam lambung.
DiareAttapulgite dan PectinMengurangi pergerakan usus.

Efek samping yang dapat terjadi bila kelebihan dosis (over dosis) obat adalah nyeri lambung, jantung berdebar, gelisah, kejang atau hilang kesadaran. Dampak terburuknya dapat mengakibatkan kematian.


Antibiotik


Bila Anda tidak kunjung sembuh setelah mengkonsumsi obat bebas, sebaiknya Anda segera pergi ke dokter agar dapat diberikan obat yang tepat. Untuk penyakit yang menyangkut infeksi, umumnya dokter akan memberikan antibiotik, walaupun dalam banyak kasus ada yang dapat disembuhkan tanpa mengkonsumsi antibiotik. Maka, tidak ada salahnya Anda menanyakan jenis serta kegunaan obat yang diberikan dokter.


Antibiotik yang dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka pendek dapat menyebabkan alergi seperti gatal-gatal, nyeri lambung, mual atau bengkak pada bibir, kelopak mata, dan bagian tubuh lainnya. Dampak lainnya adalah bakteri menjadi kebal, sehingga apabila bakteri yang sama menyerang tubuh diperlukan antibiotik dengan dosis yang lebih banyak atau antibiotik yang lebih berat untuk melawannya.


Karena itu jika Anda sakit tidak terlalu parah, sebaiknya hindari penggunaan antibiotik, karena dapat membuat bakteri dalam tubuh lebih kebal. Di negara-negara maju, penggunaan antibiotik dibatasi dan tidak mudah diberikan kepada pasien. Dokter biasanya akan memberikan resep dengan obat non antibiotik kecuali kondisi infeksi atau penyakit pada pasien sudah tergolong parah.



Kapan Saat yang Tepat untuk Minum Obat?


Mengkonsumsi obat, baik obat bebas atau obat dengan resep dokter termasuk antibiotik sebaiknya tidak dilakukan saat perut dalam keadaan kosong karena dapat menyebabkan efek yang buruk. Selalu gunakan air putih bukan kopi, susu atau teh saat minum obat. Dan yang terpenting selalu ikuti anjuran pemakaian agar terhindar dari efek samping yang berbahaya.


Gunakan obat dengan bijak, dan rasakan manfaatnya. Sebaiknya Anda menjaga kondisi kesehatan tubuh Anda. Namun jika Anda sakit, gunakan dan pilihlah obat dengan tepat. Semoga cepat sembuh!



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Gunakan Obat dengan tepat dan sesuai aturan

Minggu, 22 Agustus 2010

ANALGESIK

A N A L G E S I k

PENDAHULUAN
NARKOTIK & NON NARKOTIK
MEREDAKAN NYERI
RINGAN SAMPAI SEDANG NON NARKOTIK
SEDANG SAMPAI BERAT NARKOTIK
KLASIFIKASI & JENIS NYERI
NYERI AKUT (RINGAN,SEDANG,BERAT)
NYERI KRONIK
NYERI SUPERFISIAL
NYERI SOMATIK (TULANG,OTOT RANGKA,SENDI)
NYERI VISERAL (NYERI DALAM)
ANALGESIK NON NARKOTIK
TIDAK ADITIF,KURANG KUAT DIBANDING NARKOTIK
NYERI RINGAN SAMPAI SEDANG
DIJUAL BEBAS
SEBAGIAN ANALGESIK JUGA ANTIPIRETIK
ASPIRIN SBG ANALGESIK, ANTI INFLAMASI, ANTIKOAGULAN
SALISILAT & AINS
ASPIRIN: ANALGESIK, ANTI KOAGULAN & ANTIPIRETIK
ASPIRIN TAK BOLEH UTK DEMAM ANAK < narkotik ="AGONIS">

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ANALGESIK

ANESTESI

A N E S T E S I: "
A N E S T E S I

PENDAHULUAN
ARTINYA TIDAK ADA RASA SAKIT
ADA 2 :
ANESTESI UMUM : HILANG RASA SAKIT DISERTAI HILANG KESADARAN
ANESTESI LOKAL : HILANG RASA SAKIT TANPA HILANG KESADARAN
ANESTESI UMUM
STADIUM :
STD I (ANALGESIA) : SAAT PEMBERIAN OBAT SAMPAI HILANG KESADARAN.RASA SAKIT HILANG,MASIH BISA IKUTI PERINTAH
STD II (DELIRIUM/EKSITASI) : SAAT HILANG KESADARAN SAMPAI STD PEMBEDAHAN
STD III (PEMBEDAHAN) : SAAT NAPAS TERATUR SAMPAI NAPAS SPONTAN HILANG

STADIUM III DIBAGI 4 TINGKAT
TK 1 : NAPAS TERATUR SPONTAN,GERAK MATA TAK BERATURAN,MIOSIS,NAPAS DADA & PERUT SEIMBANG,RELAKS OTOT LURIK BLM SEMPURNA
TK 2 : NAPAS TERATUR TP KURANG DALAM DIBANDING TK 1, MATA TAK GERAK,PUPIL MULAI LEBAR,REFLEK LARING (-) è INTUBASI
TK 3 : NAPAS PERUT LBH NYATA DARI DADA, RELAKS OTOT LURIK SEMPURNA, PUPIL LBH LEBAR TP BLM MAKSIMAL
TK 4 : NAPAS PERUT SEMPURNA, TEK DARAH MULAI TURUN, PUPIL SANGAT LEBAR, REFLK CAHAYA HILANG
STADIUM IV (PARALISIS MEDULA OBLONGATA) : NAPAS PERUT MELEMAH DIBANDING STD III TK 4, TEK DARAH TAK DAPAT DIUKUR, DENYUT JANTUNG HILANG è †
DERAJAT RASA SAKIT :
KUAT : MEMOTONG KULIT, MANIPULASI PERITONEUM, KORNEA, MUKOSA URETRA
SEDANG : MANIPULASI FASIA, OTOT, JAR LEMAK
RINGAN : MEMOTONG & MENJAHIT USUS, MEMOTONG OTAK
EFEK SAMPING OBAT ANESTESI UMUM
ANESTESI INHALASI: DELIRIUM,ASPIRASI (INDUKSI&PEMULIHAN),DEPRESI MIOKARD (ENFLURAN&HALOTAN),TAKIKARDI(ENFLURAN,ISOFLURAN,N2O),DEPRESI NAPAS, GANGG HEPAR,OLIGURI,HIPOTERMI, HIPERTERMI MALIGNA,TIK (ENFLURAN, N2O,HALOTAN,ISOFLURAN),TERATOGENIK (ENFLURAN,HALOTAN,N2O),PERDARAHAN POST SC
ANESTESI PARENTERAL: BARBITURAT SEBABKAN KANTUK,BATUK,DEPRESI NAPAS,EKSITASI, MENGGIGIL, DELIRIUM, NYERI POST OP
FARMAKOKINETIK ANESTESI INHALASI
DALAMNYA ANESTESI UMUM TERGANTUNG TEK PARSIAL ZAT ANESTESI DALAM OTAK. KEC INDUKSI&PEMULIHAN TERGANTUNG TEK TSB.
FAKTOR YG TENTUKAN TEK PARSIAL ANESTESI DLM ARTERI & OTAK: 1.TEK PARSIAL ANESTESI YG DIHIRUP, 2.VENTILASI PARU,3.PEMINDAHAN GAS DARI ALVEOLI KE ALIRAN DARAH,4.PEMINDAHAN GAS DARI DARAH KE JARINGAN
CARA PEMBERIAN ANESTESI
INHALASI
OPEN DROP METHOD,SEMIOPEN DROP METHOD,SEMICLOSED METHOD,CLOSED METHOD
PEMBERIAN IV & IM
IV : TIOPENTAL, IM/IV : KETAMIN
MEDIKASI PREANESTETIK
TUJUAN: MENGURANGI CEMAS,MEMPERLANCAR INDUKSI, CEGAH KEGAWATAN,CEGAH HIPERSALIVASI, BRADIKARDI,MUNTAH
OBAT PREMED: 1.ANALGESIK NARKOTIK (MORFIN),2.BARBITURAT(PENTOBARBITAL.SEKOBARBITAL),3.SEDATIF NON BARBITURAT(ETINAMAT,GLUTIMIT,KLORALHIDRAT),4.ANTIKOLINERGIK(ATROPIN), 5.TRANQUILLIZER(FENOTIAZIN)
OBAT ANESTESI UMUM
ADA 3 GOL: 1. ANESTESI GAS (N2O,SIKLOPORAN),2.ANESTESI MENGUAP (GOL ETER-DIETILETER,ENFLURAN & GOL HIDROKARBON HALOGEN-HALOTAN, METOKSIFLURAN),3.ANESTESI PARENTERAL
ANESTESI PARENTERAL
U/ : 1.INDUKSI ANESTESI,2.INDUKSI & PEMELIHARAN ANESTESI BEDAH SINGKAT, 3.HIPNOSIS PADA ANESTESI/ANALGESI LOKAL,4.SEDASI PD BEBERAPA TINDAKAN MEDIK
ANESTESI IV IDEAL:1.EFEK CEPAT,2.EFEK ANALGESI,3.AMNESIA PASCA ANESTESI,4.DAMPAK NEGATIF MUDAH DIHILANGKAN,5.CEPAT DIELIMINASI TUBUH,6.DEPRESI NAPAS&JANTUNG MINIM,7.TDK TERGANTUNG DISFUNGSI ORGAN
PEMILIHAN SEDIAAN
TERGANTUNG PD: KEADAAN PASIEN, SIFAT ANESTESI UMUM, JENIS OPERASI, ALAT&OBAT YG TERSEDIA
OBAT ANESTESI YG IDEAL: MUDAH DIDAPAT,MURAH,CEPAT LEWATI STD II,TANPA EFEK SAMPING,TDK MUDAH TERBAKAR,STABIL,CEPAT ELIMINASI,ANALGESIK,RELAKSASI BAIK,CEPAT SADAR è SULIT !!!!
ANESTESI LOKAL
OBAT YG MENGHAMBAT HANTARAN SYARAF BILA DIKENEKAN SECARA LOKAL PD JARINGAN SYARAF DG DOSIS YG CUKUP
PERTAMA KALI DIGUNAKAN: KOKAIN
SIFAT ANESTESI LOKAL YG IDEAL
TIDAK MENGIRITASI & TIDAK MERUSAK JARINGAN SYARAF SCR PERMANEN,BATAS KEAMANAN HRS LEBAR,MULA KERJA SINGKAT,MASA KERJA LAMA,LARUT DALAM AIR,STABIL DALAM LARUTAN,DISTERILKAN TAK ALAMI PERUBAHAN
MEKANISME KERJA
MENCEGAH PEMBENTUKAN&KONDUKSI IMPULS SARAF.TEMPAT KERJA DI MEMBRAN SEL
BEDA SENSITIVAS SERAT SARAF
SERABUT KECIL/HALUS LBH PEKA THD ANESTESI LOKAL,TAPI PEMULIHAN LBH LAMBAT DARIPADA SERABUT BESAR
PENGARUH Ph
BENTUK BASA BEBAS SEDIKIT LARUT&TAK STABIL.BTK GARAM MUDAH LARUT
PERPANJANGAN EFEK O/ VASOKONSTRIKTOR
KOKAIN DPT SEBABKAN VASOKONSTRIKSI, PENYERAPAN LAMBAT,EFEK LEBIH LAMA
VASOKONSTRIKTOR:EPINEFRIN,NOREPINEFRIN,FENILEFRIN
VASOKONSTRIKTOR MENGURANGI KCEPATAN ABSORBSI, MENGURANGI TOKSISITAS
FARMAKODINAMIK
DAPAT MERANGSANG SSP, SEBABKAN GELISAH & TREMOR
PENGARUHI SAMBUNGAN SARAF – OTOT è BERKURANGNYA RESPON OTOT
PENGARUHI MIOKARD è KECEPATAN KONDUKSI & KONTRAKSI BERKURANG
MENYEBABKAN SPASMOLITIK OTOT POLOS
MENYEBABKAN ALERGI
KOKAIN
FARMAKODINAMIK
PERANGS KORTEKS YG KUAT,BYK BICARA,GELISAH,EUFORIA,KEKUATAN MENTAL +,KERJA OTOT MENUNGKAT
DOSIS KECIL MELAMBATKAN DENYUT JANTUNG,DOSIS SEDANG MEMPECEPAT, DOSIS TINGGI PAYAH JANTUNG è †
MENINGKATKAN SUHU BADAN
MERANGSANG SARAF SIMPATIS
BLOKADE KONDUKSI SARAF
FARMAKOKINETIK
KECEPATAN ABSORBSI MELEBIHI KEC DETOKSIKASI & EKSKRESI è SGT TOKSIK
DOSIS FATAL 1,2 GR,DOSIS TOKSIK 20 MG
GEJL:MUDAH TERANGSANG, GELISAH,BAYAK BICARA,CEMAS, BINGUNG,REFLEK MENINGKAT,SKT KPL,NADI CPT,NAPAS TAK TERATUR,SUHU NAIK,MIDRIASIS, EKSOFTALMUS,GGG CERNA, KESEMUTAN, DELIRIUM,SESAK,KEJANG,HENTI NAPAS & JANTUNG è †

ANESTESI LOKAL SINTETIS
PROKAIN PERTAMA KALI DIGUNAKAN
LIDOKAIN
FARMAKODINAMIK
LBH CEPAT,KUAT,LAMA,EKSTENSIF
FARMAKOKINETIK
MDH DISERAP DI TMPT SUNTIKAN,DPT LEWATI SAWAR DARAH OTAK & PLASENTA
EFEK SAMPING
GGG SSP:PUSING,NGANTUK,PARESTESI,GGG MENTAL,KOMA
INDIKASI
INFILTRASI,BLOKADE SARAF,ANESTESI EPIDURAL,ANESTESI KAUDAL,ANESTESI U/ SELAPUT LENDIR
ANESTESI LOKAL LAIN
DIBUKAIN
MEPIVAKAIN
PIPEROKAIN HCL
TETRAKAIN
PRILOKAIN
BENZOKAIN
TEKNIK ANESTESI LOKAL
1.ANESTESI PERMUKAAN
2.ANESTESI INFILTRASI
3.ANESTESI BLOK
ANESTESI SPINAL
ANESTESI EPIDURAL
ANESTESI KAUDAL

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ANESTESI

ANTIHISTAMIN

A N T I H I S T A M I N: "
A N T I H I S T A M I N

PENDAHULUAN
HISTAMIN BERPERAN PENTING DALAM FENOMENA FISIOLOGIS & PATOLOGIS TERUTAMA PADA ANAFILAKSIS, ALERGI,TRAUMA,SYOK,SEKRESI ASAM LAMBUNG,REGRESI MIKROSIRKULASI, FUNGSI SSP
ANTIHISTAMIN
EPINEFRIN,OBAT PERTAMA YG DIGUNAKAN UTK MELAWAN FUNGSI HISTAMIN
ANTIHISTAMIN SECARA KOMPETITIF MENGHAMBAT INTERAKSI HISTAMIN DG RESEPTOR HISTAMIN
ANTIHISTAMIN:
PENGHAMBAT RESEPTOR H1 (AH1)
PENGHAMBAT RESEPTOR H2 (AH2)
AH 1
EFEK
OTOT POLOS PADA BRONKUS: MENGHAMBAT BRONKOKONSTRIKSI
HAMBAT PENGKATAN PERMEABILITAS KAPILER & EDEM AKIBAT HISTAMIN
REAKSI ANAFILAKSI & REAKSI ALERGI LAIN
TAK DAPAT MENGHAMBAT SEKRESI CAIRAN LAMBUNG
MERANGSANG SSP: INSOMNIA, GELISAH,EKSITASI
MENGHAMBAT SSP: KANTUK, KEWASPDAAN KURANG,REAKSI LAMBAT
ANESTESI LOKAL (PROMETAZIN & PIRILAMIN)
ANTIKOLINERGIK: MULUT KERING KESUKARAN MIKSI,IMPOTEN
SISTEM KARDIOVASKULER (DOSIS BESAR)
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI BAIK, TIMBUL EFEK 15-30’
LAMA KERJA DOSIS TUNGGAL 1-2 JAM
DIFENHIDRAMIN KADAR MAKSIMAL DALAM DARAH 2 JAM,T ½
KADAR TERTINGGI DI PARU
METABOLISME DI HATI
EFEK SAMPING
SEDASI,VERTIGO,TINITUS,LELAH,PENAT,INKOORDINASI,PENGLIHATAN KABUR,DIPLOPI,EUFORIA,GELISAH,INSOMNIA,TREMOR,NAFSU MAKAN BERKURANG,MUAL,MUNTAH,GANGG CERNAMULUT KERING,DISURIA, PALPITASI,HIPOTENSI,SAKIT KEPALA, RASA BERAT&LEMAH PD TANGAN
INTOKSIKASI AKUT
DOSIS BERLEBIHAN (BUNUH DIRI)
OBAT PERSEDIAAN RUMAH TANGGA è HATI2 PD ANAK2
20-30 TABLET è DOSIS LETHAL
INDIKASI
MENGOBATI ALERGI. PADA KRISIS ALERGI OBAT PILIHAN EPINEFRIN KARENA: 1. LEBIH EFEKTIF,2. EFEKNYA LBH CEPAT,3. ANTAGONIS FISIOLOGIK DARI HISTAMIN
ANTI VERTIGO,MUAL,MUNTAH
PENGGOLONGAN AH1
ETANOLAMIN
DIFENHIDRAMIN HCl
DIMENHIDRINAT
KARBINOKSAMIN MALEAT
ETILENDIAMIN
TRIPELENAMIN
PIRILAMIN MALEAT
ALKILAMIN
KLORFERINAMIN MALEAT
DEKBROMFENIRAMIN MALEAT
PIPERAZIN
KLOKSIKLIZIN
SIKLIZIN
FENOTIAZIN
PROMETAZIN
METDILAZIN
PIPERIDIN (NON SEDATIF)
TERFENADIN
ASTEMIZOL
LORATADIN
LAIN –LAIN
AZATIDIN
SIPROHEPTADIN
MEBHIDROLIN NAPADISILAT
AH 2
RESEPTOR HISTAMIN H2 BERPERAN DALAM EFEK HISTAMIN PADA SEKRESI CAIRAN LAMBUNG,PERANGSANGAN JANTUNG
BEBERAPA OTOT POLOS PEMBULUH DARAH MEMILIKI RESEPTOR H1 &H2
SIMETIDIN & RANITIDIN
MENGHAMBAT RESEPTOR H2 SECARA SELEKTIF & REVERSIBEL
SIMETIDIN & RANITIDIN MENGHAMBAT SEKRESI CAIRAN LAMBUNG
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI 70%,DIPERLAMBAT OLEH MAKANAN è PEMBERIAN SAAT MAKAN ATAU SGR STLH MAKAN è MEMEPRPANJANG EFEK
METABOLISME DI HATI,EKSKRESI DI URIN
EFEK SAMPING
JARANG TERJADI
NYERI KEPALA,PUSING,MALAISE, MIALGIA,MUAL,DIARE,KONSTIPASI, RUAM KULIT,PRURITUS,KEHILANGAN LIBIDO,IMPOTEN
INTERAKSI OBAT
MENURUNKAN ALIRAN DARAH HATI è MENGHAMBAT BERSIHAN OBAT LAIN
ANTASID,METOKLORPRAMID, KETOKONAZOL è MENGURANGI EFEK è DIBERI JARAK 1-2 JAM
INDIKASI
TUKAK PEPTIK
FAMOTIDIN
MIRIP SIMETIDIN & RANITIDIN TAPI LEBIH POTEN
INDIKASI
SAMA DG SIMETIDIN & RANITIDIN
EFEK SAMPING
RINGAN & JARANG
SAKIT KEPALA,PUSING,KONSTIPASI, DIARE
PEMILIHAN SEDIAAN
PERHATIKAN POTENSI,EFEK SAMPING, SEDIAAN YG ADA,VARIASI ANTAR INDIVIDU
PILIH EFEK TERAPI PALING BESAR,EFEK SAMPING MINIMAL è SULIT
ANTI-ALERGI LAIN
NATRIUM KROMOLIN
DAPAT MENGHAMBAT PENGLEPASAN HISTAMIN DR SEL MAST PARU-PARU & TEMPAT2 TERTENTU YG DIINDUKSI OLEH ANTIGEN
FARMAKODINAMIK
KROMOLIN TAK MERELAKSASI BRONKUS / OTOT POLOS LAIN
MENGHAMBAT PENGLEPASAN HISTAMIN PADA PROSES ALERGI è HINDARI BRONKOSPASME
FARMAKOKINETIK
PADA PEMBERIAN ORAL ABSORBSI SANGAT BURUK è INHALASI (UTK ASMA BRONKIAL)
TAK DIMETABOLISME,EKSKRESI DI URIN & EMPEDU
TOKSISITAS
JARANG TERJADI
BATUK,KONGESTI HIDUNG,IRITASI, WHEEZING,PUSING,DISURI,BENGKAK,NYERI SENDI&KEPALA,MUAL,RUAM KULIT
INDIKASI
TERAPI PROFILAKTIK ASMA BRONKIAL,TAK EFEKTIF UTK TERAPI ASMA BRONKIAL & STATUS ASMATIKUS
ALERGI HIDUNG & MATA
KETOTIFEN
BERSIFAT ANTIANAFILAKTIK,HAMBAT PRODUKSI HISTAMIN
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI BAIK DI SAL CERNA, EKSKRESI DI URIN & TINJA
EFEK SAMPING
SAMA SEPERTI AH1
INDIKASI
PROFILAKSIS ASMA BRONKIAL
lihat artikel selengkapnya - ANTIHISTAMIN

OBAT-OBAT ANTI KANKER

OBAT-OBAT ANTI KANKER: "
OBAT-OBAT ANTI KANKER


PENDAULUAN
ANTIKANKER = ANTINEOPLASTIK = AGEN KEMOTERAPI
TUJUAN : MENYEMBUHKAN, MENENDALIKAN, MENCEGAH
TUNGGAL ATAU KOMBINASI DG RADIASI & BEDAH
SIKLUS SEL & TAHAP2NYA
G1: PRODUKSI ENZIM UNTUK DNA
S: SINTESIS & REPLIKASI DNA
G2: RNA & SINTESIS PROTEIN
M (MITOSIS): PEMBELAHAN SEL
G0: ISTIRAHAT
SIKLUS SEL KANKER LEBIH CEPAT
ANTIKANKER MENGHAMBAT SEMUA TAHAP ATAU TAHAP TERTENTU
ADA 2 JENIS ANTIKANKER :
1. NON SPESIFIK SIKLUS SEL (NSSS) BEKERJA PADA SEMUA FASE, EFEKTIF MELAWAN PERTUMBUHAN CEPAT SEL KANKER – ALKILASI, ANTIBIOTIK ANTI TUMOR, HORMON
2.SPESIFIK SIKLUS SEL (SSS) BEKERJA PADA FASE TERTENTU – ANTIMETABOLIT, ALKALOID VINKA
FAKTOR PENENTU RESPON SEL KANKER THD ANTIKANKER:
FRAKSI PERTUMBUHAN – PRESENTASE
SEL KANKER YG AKTIF MEMBELAH.
FRAKSI PERTUMBUHAN TINGGI PD SEL CEPAT MEMBELAH. FRAKSI PERTUMBUHAN RENDAH, LAMBAT MEMBELAH
ANTIKANKER EFEKTIF PD FRAKSI TINGGI
WAKTU PENGGANDAAN – WAKTU YG DIBUTUHKAN SEL KANKER UNTUK MENCAPAI MASA 2 KALI LEBIH BESAR. JK TUMOR LANJUT&MEMBESAR FRAKSI PERTUMBUHAN TURUN,WAKTU PENGGANDAAN BESAR
KOMBINASI NSSS & SSS :
MENGURANGI RESISTENSI
MEMPERSINGKAT&MENINGKATKAN EFEK TERAPEUTIK OBAT
DOSIS DPT DITURUNKAN, TOSISITAS BERKURANG
EFEK SINERGIS
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
TERJADI PD SEL2 YG TUMBUH DG CEPAT (DARAH & RAMBUT)
SUPRESI SSM TULANG (LEKOPENIA, TROMBOSITOPENI)
SAL CERNA (ANOREKSI,MUAL MUNTAH, DIARE)
LAIN2 (STOMATITIS, ALOPESIA, INFERTILITAS)
OBAT2 ALKILASI
TERMASUK GOL NSSS
EFEKTIF PD BERBAGAI KANKER
ADA 4 KELOMPOK:
1.MUSTRAD NITROGEN (MEKLORETAMIN,SIKLOFOSFAMID,KLORAMBUSIL,IFOSFAMID MEFALAN)
2.NITROSUREA (LOMUSTIN,KARMUSTIN,SEMUSTIN,STREPTOZOSIN)
3.ALKIL SULFONAT (BUSULFAN)
4.OBAT2 SEPERTI ALKILASI (SISPLATIN,KARBOPLASTIN)
REAKSI YG MERUGIKAN, SAMA SEPERTI PD UMUMNYA
SIKLOFOSFAMID
HIDRASI HARUS BAIK, MENCEGAH SISTITIS HEMORAGIS
SUPRESI SUMSUM TULANG,ALOPESIA
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI DI SAL CERNA DG BAIK
METABOLISMA DI HATI,EKSKRESI DI URIN
FARMAKODINAMIK
MULA KERJA BEBERAPA JAM,EFEK YG DIINGINKAN BEBERAPA HARI
PEMBERIAN IV & ORAL
INTERAKSI DG TIAZID & ALOPURINOL MENAMBAH SUPRESI SSM TULANG. EFEK DIGOXINBERKURANG. EFEK INSULIN MENINGKAT(HIPERGLIKEMI).FENOBARBITAL+RIFAMPIN MENAMBAH TOKSIK.
ANTIMETABOLIT
GOL SSS PENGARUH PD FASE S
DIBAGI MENJADI:
ANTAGONIS AS FOLAT (METOTREKSAT)
ANALOG PIRIMIDIN (5-FU, FLOKSURIDIN, SITABIRIN)
ANALOG PURIN (6-MERKAPTOPURIN, TIOGUANIN)
MTX BEKERJA SBG PENGGANTI AS FOLAT, UTK PEMBENTUKAN DNA
5-FU & FLOKSURIDIN TERMASUK DLM GOL NSSS & SSS
5-FU BISA TUNGGAL & KOMBINASI
ESO: SUPRESI SSM TULANG, STOMATITIS, ALOPESIA
ANTIBIOTIK ANTITUMOR
BLEOMISIN,DAKTINOMISIN,DAUNORUBISIN,DOKSORUBISIN,MITOMISIN,PLIKAMISIN) MENGHAMBAT SINTESIS PROTEIN & DNA
TERMASUK GOL NSSS KEC BLEOMOISIN (EFEK PD G2)
FARMAKOKINETIK
DOKSORUBISIN & PLIKAMISIN SECARA IV
DOKSORUBISIN METABOLISME DI HATI MENJADI METABOLIT AKTIF & INAKTIF
WAKTU PARUH TAHAP MULA 12 MENIT, TAHAP PERTENGAHAN 3,5 JAM, TAHAP AKHIR 30 JAM
FARMAKODINAMIK
EFEK DOKSORUBISIN & PLIKAMISIN BERBEDA
DOKSORUBISIN DIKOMBINASI UTK CA PAYUDARA,OVARIUM, PARU,KANDUNG KEMIH,LEKEMI,LIMFOMA
PLIKAMISIN DIKOMBINASI UTK CA TESTES
SIKLOFOSFAMID + DOKSORUBISIN MENINGKATKAN KEJADIAN SISTITIS HEMORAGIS
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
SEPERTI PD UMUMNYA
VESIKASI/MELEPUHNYA JARINGAN (KEC BLEOMISIN & PLIKAMISIN
BLEOMISIN TOKSIK PD PARU
DAUNORUBISIN,DOKSORUBISIN, IDARUBISIN TOKSIK PD JANTUNG
ALKALOID VINKA
VINKRISTIN & VINBLASTIN
GOL SSS PD FASE M
REAKSI MERUGIKAN SPT LAINNYA
NEUROTOKSIK (KEKUATAN OTOT LEMAH, KONSTIPASI, PTOSIS, SERAK, INSTABILITAS MOTORIK
HORMON & ANTAGONIS HORMON
DIKELOMPOKKAN MENJADI
KORTIKOSTEROID
MENEKAN PROSES INFLAMASI,MENEKAN LEKOSIT(PD LEKEMI & LIMFOMA),MENEKAN EDEM SEREBRAL PD TUMOR OTAK,MEBUAT NYAMAN
ESTROGEN
UTK PALIATIF CA PROSTAT 7 CA MAMAE POSTMENOPAUSE
PROGESTIN
UTK CA MAMAE, ENDOMETRIUM, GINJAL
MENGECILKAN JARINGAN KANKER
ESO: RETENSI CAIRAN & GANGGUAN TROMBOSIS
ANDROGEN
UTK CA MAMAE PRAMENOPAUSE
MENINGKATKAN REGRESI TUMOR
PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
CEK TANDA VITAL UTK PERBANDINGAN
KAJI KELUARAN URIN,KIMIA LAB,DARAH LENGKAP
PERENCANAAN
KLIEN BEBAS ESO
INTERVENSI
PANTAU TANDA VITAL
PANTAU KELUARAN URIN
HINDARI KONTAK KULIT LANGSUNG DG ANTIKANKER
LAB ABNORMAL,LAPORKAN
PERIKSA TANDA2 PERDARAHAN
BILA MUAL HINDARI MAKANAN &MINUMAN DARI PRODUK SUSU & LEMAK
PERIKSA TANDA2 HEPATOTOKSIK
PENYULUHAN
JAGA KEBERSIHAN MULUT
TUNDA KEHAMILAN (2 THN)
HINDARI ORANG ISPA
JAGA ASUPAN GIZI
EVALUASI
LAPORKAN JIKA ADA एसो

lihat artikel selengkapnya - OBAT-OBAT ANTI KANKER

ANTIBIOTIK

A N T I B I O T I K: "

A N T I B I O T I K

PENDAHULUAN
SUBSTANSI YG MENGHAMBAT PERTUMBUHAN ATAU MEMBUNUH BAKTERI ATAU MIKROORGANISMA LAIN
BAKTERIOSTATIK : HAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI
BAKTERISIDAL : BUNUH BAKTERI
ANTIBAKTERIAL
PENGELOMPOKAN :
PENISILIN, SEFALOSPORIN, MAKROLID, TETRASIKLIN, LINKOSAMID, AMINOGLIKOSIDA, KLORAMFENIKOL, PEPTIDA, SULFONAMID & VANKOMISIN
MEKANISMA KERJA ANTIBAKTERIAL :
HAMBAT SINTESIS DINDING SEL BAKTERI
UBAH PERMEABILITAS KAPILER
HAMBAT SINTESIS PROTEIN
GANGGU METABOLISME DI DALAM SEL
PERTAHANAN TUBUH & ANTIBAKTERIAL BEKERJA SAMA MENGHENTIKAN PROSES INFEKSI
FAKTOR-FAKTOR YG MEMPENGARUHI PERTAHAN TUBUH: UMUR, GIZI, IMUNOGLOBULIN, SEL DARAH PUTIH, FUNGSI ORGAN & SIRKULASI
RESISTENSI TERHADAP ANTIBAKTERIAL
ALAMI (INHEREN)
DIDAPAT
RESISTENSI ALAMI :
TERJADI TANPA DIDAHULUI PAPARAN, MISAL: PSEUDOMONAS AERUGINOSA RESISTEN TERHADAP PENISILIN G
RESISTENSI DIDAPAT :
TERJADI KARENA PEMAJANAN TERHADAP ANTIBAKTERIAL, MISAL: STAPHYLOCOCCUS AUREUS PERNAH SENSITIF PENISILIN, SEKARANG RESISTEN
PENISILINASE (ENZIM YG DIHASILKAN BAKTERI) PENYEBAB RESISTENSI OBAT
INFEKSI NOSOKOMIAL : INFEKSI YG DIDAPAT KETIKA KLIEN DIRAWAT DI RS
RESISTENSI SILANG : TERJADI ANTARA OBAT2 ANTIBAKTERI YG MEMILIKI KERJA SERUPA
PEMBIAKAN & SENSITIVITAS UNTUK KETAHUI KEPEKAAN ATAU RESISITENSI MIKROORGANISME TERHADAP ANTIBAKTERI
REAKSI YG MERUGIKAN :
REAKSI ALERGI (HIPERSENSITIVITAS)
SUPERINFEKSI
TOKSISITAS ORGAN
ANTIBIOTIK SPEKTRUM SEMPIT & LUAS
ANTIBIOTIK SPEKTRUM SEMPIT : EFEKTIF MELAWAN 1 JENIS ORGANISME. MISAL: PENISILIN & ERTROMISIN U/ BAKT GRAM POSITIF
ANTIBIOTIK SPEKTRUM LUAS :EFEKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF. MISAL: TETRASIKLIN & SEFALOSPORIN
PENISILIN
DARI JAMUR PENISILIUM
STRUKTUR β LACTAM PENISILIN MENGHAMBAT SINTESIS DINDING SEL BAKTERI è LISIS SEL
PENISILIN SPEKTRUM LUAS
U/ BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF
CO: AMPISILIN,AMOKSISILIN,BEKAMSILIN, SIKLASILIN
PENISILIN RESISTEN PENISILINASE
U/ MENGOBATI STAFILICOCCUS AUREUS YG MENGHASILKAN PENISILINASE
ORAL: KLOKSASILIN, DIKLOKSASILIN
INJEKSI: NAFSILIN, OKSASILIN
FARMAKOKINETIK
AMOKSISILIN DIABSORBSI BAIK DI SAL CERNA, KLOKSASILIN SEBAGIAN SAJA
AMOKSISILIN IKATAN DG PROTEIN 20%, KLOKSASILIN > 90%
WAKTU PARUH PENDEK
AMOKSISILIN EKSKRESI LEWAT URIN
KLOKSASILIN EKSKRESI LEWAT EMPEDU & URIN
FARMAKODINAMIK
AMOKSISILIN & KLOKSASILIN DERIVAT PENISILIN, MELISISKAN DINDING SEL BAKTERI
AMOKS + AS KLAVULANAT, CEGAH PEMECAHAN AMOKS è MENAMBAH EFEK AMOKS
ASPIRIN/PROBENESID + AMOKS/KLOKSA è MENINGKATKAN KADAR BAKTERI SERUM
AMOKS/KLOKSA+ERITROMISIN/TETRASIKLIN è EFEK BERKURANG
PENISILIN ANTIPSEUDOMONAS
EFEKTIF MELAWAN PSEUDOMONAS AERUGINOSA
BISA U/ MELAWAN GRAM NEGATIF LAIN
KERJA FARMAKOLOGI MIRIP AMINOGLIKOSIDA.TP KURANG TOKSIK
EFEK SAMPING DAN REAKSI MERUGKAN
HIPERSENSITIVITAS, SUPERINFEKSI, MUAL, MUNTAH ,DIARE
SEFALOSPORIN
AB SEMISINTETIK, AKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM POSITIF & NEGATIF, RESISTEN TERHADAP β LAKTAMASE
CARA KERJA SEPERTI PENISILIN
TARDAPAT 3 GENERASI SEFALOSPORIN
SEBAGIAN YG ALERGI PENISILIN JUGA ALERGI SEFALOSPORIN KRN STRUKTUR MOLEKULNYA SERUPA
GENERASI 1, CO: SEFADRIN, SEFADROKSIL, SEFAZOLIN
GENERASI 2, CO: SEFAKLOR, SEFAMANDOL, SEFUROKSIM
GENERASI 3, CO:SEFOTAKSIM,SEFTRIAKSON, SEFAZIDIM

FARMAKOKINETIK
SEFAZOLIN & SEFAMANDOL IM & IV
T ½ PENDEK DIEKSKRESIKAN TANPA PERUBAHAN KE URIN
FARMAKODINAMIK
EFEK BAKTERISIDAL è MELISIS DINDING
SELPROBENESID MENURUNKAN EKSKRESI è EFEK MENINKAT
MEYEBABKAN + PALSU PROTEINURI (DOSIS BESAR)
EFEK SAMPING & REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN CERNA, PERDARAHAN (DOSIS BESAR), NEFROTOKSIK (PD PENDERITA SAKIT GINJAL)
INTERAKSI OBAT
ALKOHOL : FLUSHING, PUSING, SAKIT KEPALA, MUAL, MUNTAH, KRAM OTOT
MAKROLID, LINKOSAMID, VANKOMISIN
EFEKTIVITAS SAMA DG PENISILIN
DIPAKAI PD PENDERITA ALERGI PENISILIN
MAKROLID : ERITROMISIN
CARA KERJA: HAMBAT SINTESIS PROTEIN
DOSIS RINGAN, SEDANG : BAKTERIOSTATIK
TINGGI : BAKKTERISIDAL
EFEKTIF PD KUMAN GRAM + (KECUALI S. AUREUS) & BBRP GRAM -
FARMAKOKINETIK
ORAL: ABSORBSI BAIK DI SAL CERNA
IV : HARUS DIENCERKAN UNTUK MENCEGAH FLEBITIS/RASA TERBAKAR
T ½ SINGKAT
EKSKRESI : EMPEDU, FESES, SEBAG URIN
FARMAKODINAMIK
MENEKAN SINTESIS PROT BAKT
MULA KERJA ORAL 1 JAM, WAKT PUNCAK 4 JAM, LAMA KERJA 6 JAM
EFEK SAMPING/REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN ALAT CERNA, HEPATOTOKSIK, REAKSI ALERGI JARANG TERJADI
TAK BOLH BERSAMA KLINDAMISIN, LINKOMISIN
LINKOSAMID
KLINDAMISIN, LINKOMISIN
LINKOSAMID
KLINDAMISIN, LINKOMISIN
EFEK SEPERTI ERITROMISIN
KLINDAMISIN LEBIH SERING DIPAKAI DARI PADA LINKOMISIN KRN LBH EFEKTIF & KURANG TOKSIK
REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN SAL CERNA, RUAM KULIT, SYOK
INTERAKSI OBAT
MELEMAH JIKA BERSAMA AMINOFILIN, FENITOIN, BARBITURAT, AMPISILIN
VANKOMISIN
EFEKTIF PADA INFEKSI STAPHYLOCOCCUS AUREUS
BERSIFAT NEFROTOKSIK OTOTOKSIK
PEMAKAIAN HRS DIPANTAU KETAT
TETRASIKLIN
EFEKTIF MELAWAN BAKTERI GRAM + & -, SERTA MIKROORGANISME LAIN
HAMBAT SINTESIS PROTEIN BAKTERI, EFEK BAKTERIOSTATIK
TAK EFEKTIF U/ S. AUREUS, PSEUDOMONAS
BISA U/ MELAWAN M. PNEUMONIAE
PREPARAT YG LBH BARU ( DOKSISIKLIN, MINOSIKLIN) ;LBH CEPAT & LENGAKAP DIABASORBSI
ANTASID, SUSU, BESI, Ca HAMBAT ABSORBSI TERTRASIKLIN
MINUM 1 JAM SBLM MAKAN/2 JAM SESUDAH MAKAN (KECUALI DOKSISIKLIN & MINOSIKLIN)
EFEK SAMPING/REAKSI MERUGIKAN
GANGGUAN SAL CERNA,FOTOSENSTIVITAS, TERATOGENIK, PERUBAHAN WARNA GIGI, NEFROTOKSIK, OTOTOKSIK

AMINOGLIKOSIDA
HAMBAT SINTESIS PROTEIN BAKTERI
U/ MELAWAM BAKT GRAM – (E. COLI, PROTEUS SPP, PSEUDOMONAS SPP)
STREPTOMISIN U/ TBC, OTOTOKSIK
GENTAMISIN, TOBRAMISIN, AMIKASIN, NETILMISIN è PSEUDOMONAS AERUGINOSA
FARMAKOKINETIK
NETILMISIN IM ATAU IV, T ½ 2-3 JAM
EKSKRESI URIN
FARMAKODINAMIK
NETILMISIN HAMBAT SINTESIS PROTEIN & BAKTERISIDAL
MULA KERJA SEGERA, ABSORBSI SAL CERNA BURUK
REAKSI MERUGIKAN
OTOTOKSIK, NEFROTOKSIK, SUPERINFEKSI
QUINOLON
HAMBAT ENZIM GIRASE DNA (U/ SINTESIS DNA BAKTERI), BAKTERISIDAL
U/ BAKT GRAM + & -, P. AERUGINOSA
AS NALIDIKSAT & SINOSAKSIN è QUINOLON PERTAMA U/ ISK KRN E. COLI
SIPROFLOKSASIN & NORFLOKSASIN è SINTETIK DARI AS NALIDIKSAT
FARMAKOKINETIK
SIPROFLOKSASIN ABSORBSI DI SAL CERNA 70% , T ½ 3 - 4 JAM, EKSKRESI DI URIN
FARMAKODINAMIK
MENGHAMBAT GIRASE DNA
SEBAIKNYA SEBELUM MAKAN,ABSORBSI LBH BAIK
MULA KERJA 0,5 – 1 JAM, KADAR PUNCAK 1 -2 JAM
PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
APAKH PERNAH MENERIMA SUATU AB SEBELUMNYA. JIKA BARU PERTAMA HATI2
ADAKAH RIWAYAT ALERGI
KELUARAN URIN
PERENCANAAN
INFEKSI HILANG
INTERVENSI KEPERAWATAN
UMUM
PEMBIAKAN & UJI KEPEKAAN
TANDA2 SUPERINFEKSI?
ENCERKAN ANTIBIOTIK YG TEPAT BILA INJEKSI
PENYULUHAN
MENYELESAIKAN TERAPI AB
BILA ALERGI HRS SEGERA BERHENTI. LAPOR DOKTER
PENISILIN
BERIKAN 1 JAM SBLM ATAU 2 JAM SESUDAH MAKAN
PENISILIN DPT MENGANGGAU PEMBEKUAN DARAH JK DOSIS TINGGI è PANTAU TANDA2 PERDARAHAN
SIAPKAN EPINEFRIN JK SYOK
PENYULUHAN
JK ALERGI, HINDARI !!!!!!!!!
MAKROLID
PANTAU TANDA2 KERUSAKAN HEPAR
AMINOGLIKOSIDA
PANTAU TANDA2 OTOTOKSISITAS & NEFROTOKSISITAS. LAPORKAN DOKTER JK ADA
HIDRASI HARUS TERJAGA. MINUM LBH BANYAK
PENYULUHAN KEPADA KLIEN
PAKAI SEMUA AB YG DIRESEPKAN
TAMBAH MASUKAN AIR,KECUALI JK ADA KONTRA INDIKASI
JANGAN PAKAI AB YG TERSISA YG PERNAH DIRESEPKAN
SEFALOSPORIN
IV DIBERIKAN PELAN2 U/ CEGAH IRITASI
PENYULUHAN PD KLIEN
KONSUMSI YOGURT U/ CEGAH SUPERINFEKSI
PD PASIEN DM BISA POSITIF PALSU
TETRASIKLIN
PANTAU FUNGSI GINJAL & HEPAR
PENYULUHAN
HINDARI SUSU/ANTASID
GUNAKAN TABIR SURYA
PERHATIKAN TGL ED
JGN DIBERIKAN PD ♀ YG HAMIL, DIDUGA HAMIL,MENYUSUI,ANAK2
HINDARKAN OBAT DR PANAS/MATAHARI
EVALUASIAPAKAH INFEKSI SDH TERATASI ATAU TERJADI EFEK SAMPING
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ANTIBIOTIK

Sabtu, 21 Agustus 2010

Efek Samping Obat

A. Masalah dan Kejadian Efek Samping Obat
Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh karena seperti halnya efek farmakologik, efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang kompleks antara molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh. Kalau suatu efek farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan menimbulkan pengaruh buruk terhadap sistem biologik tubuh.
Pengertian efek samping dalam pembahasan ini adalah setiap efek yang tidak dikehendaki yang merugikan atau membahayakan pasien (adverse reactions) dari suatu pengobatan. Efek samping tidak mungkin dihindari/dihilangkan sama sekali, tetapi dapat ditekan atau dicegah seminimal mungkin dengan menghindari faktor-faktor risiko yang sebagian besar sudah diketahui. Beberapa contoh efek samping misalnya:
  • reaksi alergi akut karena penisilin (reaksi imunologik),
  • hipoglikemia berat karena pemberian insulin (efek farmakologik yang berlebihan),
  • osteoporosis karena pengobatan kortikosteroid jangka lama (efek samping karena penggunaan jangka lama),
  • hipertensi karena penghentian pemberian klonidin (gejala penghentian obat - withdrawal syndrome),
  • fokomelia pada anak karena ibunya menggunakan talidomid pada masa awal kehamilan (efekteratogenik), dan sebagainya.
Masalah efek samping obat dalam klinik tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh karena kemungkinan dampak negatif yang terjadi, misalnya:
  • Kegagalan pengobatan,
  • Timbulnya keluhan penderitaan atau penyakit baru karena obat (drug-induced disease atau iatrogenic disease), yang semula tidak diderita oleh pasien,
  • Pembiayaan yang harus ditanggung sehubungan dengan kegagalan terapi, memberatnya penyakit atau timbulnya penyakit yang baru tadi (dampak ekonomik).
  • Efek psikologik terhadap penderita yang akan mempengaruhi keberhasilan terapi lebih lanjut misalnya menurunnya kepatuhan berobat, dll.
B. Pembagian Efek Samping Obat
Efek samping obat dapat dikelompokkan/diklasifikasi dengan berbagai cara, misalnya berdasarkan ada/tidaknya hubungan dengan dosis, berdasarkan bentuk-bentuk manifestasi efek samping yang terjadi, dsb. Namun mungkin pembagian yang paling praktis dan paling mudah diingat dalam melakukan pengobatan adalah pembagian berikut:
1. Efek samping yang dapat diperkirakan
a. Efek farmakologik yang berlebihan
Terjadinya efek farmakologik yang berlebihan (disebut juga efek toksik) dapat disebabkan karena dosis relatif yang terlalu besar bagi pasien yang bersangkutan. Keadaan ini dapat terjadi karena dosis yang diberikan memang besar, atau karena adanya perbedaan respons kinetik atau dinamik pada kelompok-kelompok tertentu, misalnya pada pasien dengan gangguan faal ginjal, gangguan faal jantung, perubahan sirkulasi darah, usia, genetik dsb., sehingga dosis yang diberikan dalam takaran lazim, menjadi relatif terlalu besar pada pasien-pasien tertentu (Pemakaian obat pada kelompok khusus: anak, usia lanjut, kehamila, dan modul Farmakokinetika klinik dan dasar-dasar pengaturan dosis obat dalam klinik). Selain itu efek ini juga bisa terjadi karena interaksi farmakokinetik maupun farmakodinamik antar obat yang diberikan bersamaan, sehingga efek obat menjadi lebih besar. Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat, obat-obat pemacu jantung, antihipertensi dan hip oglikemika/antidiabetika. Beberapa contoh spesifik dari jenis efek samping ini misalnya:
  • Depresi respirasi pada pasien-pasien bronkitis berat yang menerima pengobatan dengan morfin atau benzodiazepin.
  • Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark miokard atau kegagalan ginjal pada pasien yang menerima obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi.
  • Bradikardia pada pasien-pasien yang menerima digoksin dalam dosis terlalu tinggi.
  • Palpitasi pada pasien asma karena dosis teofilin yang terlalu tinggi.
  • Hipoglikemia karena dosis antidiabetika terlalu tinggi.
  • Perdarahan yang terjadi pada pasien yang sedang menerima pengobatan dengan warfarin, karena secara bersamaan juga minum aspirin, dll.
Semua pasien mempunyai risiko untuk mendapatkan efek samping karena dosis yang terlalu tinggi ini, dan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal, penurunan fungsi hepar, bayi dan usia lanjut). Selain itu riwayat pasien dalam pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu diperhatikan.

b. Gejala penghentian obat
Gejala penghentian obat (= gejala putus obat, withdrawal syndrome) adalah munculnya kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat, karena penghentian pengobatan. Contoh yang banyak dijumpai misalnya:
  • agitasi ekstrim, takikardi, rasa bingung, delirium dan konvulsi yang mungkin terjadi pada penghentian pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat, benzodiazepin dan alkohol,
  • krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid,
  • hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik yang berlebihan karena penghentian terapi klonidin,
  • gejala putus obat karena narkotika, dsb.
Reaksi putus obat ini terjadi, karena selama pengobatan telah berlangsung adaptasi pada tingkat reseptor. Adaptasi ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik obat, sehingga umumnya pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar (sebagai contoh berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin, sehingga dosis perlu diperbesar agar serangan tetap terkontrol). Reaksi putus obat dapat dikurangi dengan cara menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan penurunan dosis secara berangsur-angsur, atau dengan menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang poten, dengan gejala putus obat yang lebih ringan.

c. Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama
Efek-efek samping yang berbeda dari efek farmakologik utamanya, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Efek-efek ini umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Sedangkan efek samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan setelah obat dipakai dalam populasi yang lebih luas. Data efek samping berbagai obat dapat ditemukan dalam buku-buku standard, umumnya lengkap dengan perkiraan angka kejadiannya. Sebagai contoh misalnya:
  • Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan pedih, mual dan muntah pada obat-obat kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika, teofilin, eritromisin, rifampisin, dll.
  • Rasa ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan (motionsickness).
  • Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin.
  • Efek teratogenik obat-obat tertentu sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan pada wanita hamil.
  • Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin, sehingga memperpanjang waktu pendarahan.
  • Ototoksisitas karena kinin/kinidin, dsb.
2. Efek samping yang tidak dapat diperkirakan
a. Reaksi alergi
Alergi obat atau reaksi hipersensitivitas merupakan efek samping yang sering terjadi, dan terjadi akibat reaksi imunologik. Reaksi ini tidak dapat diperkirakan sebelumnya, seringkali sama sekali tidak tergantung dosis, dan terjadi hanya pada sebagian kecil dari populasi yang menggunakan suatu obat. Reaksinya dapat bervariasi dari bentuk yang ringan seperti reaksi kulit eritema sampai yang paling berat berupa syok anafilaksi yang bisa fatal. Reaksi alergi dapat dikenali berdasarkan sifat-sifat khasnya, yaitu:
  • gejalanya sama sekali tidak sama dengan efek farmakologiknya,
  • seringkali terdapat tenggang waktu antara kontak pertama terhadap obat dengan timbulnya efek,
  • reaksi dapat terjadi pada kontak ulangan, walaupun hanya dengan sejumlah sangat kecil obat,
  • reaksi hilang bila obat dihentikan,
  • keluhan/gejala yang terjadi dapat ditandai sebagai reaksi imunologik, misalnya rash (=ruam) di kulit, serum sickness, anafilaksis, asma, urtikaria, angio-edema, dll.
Dikenal 4 macam mekanisme terjadinya alergi, yakni:
Tipe I. Reaksi anafilaksis: yaitu terjadinya interaksi antara antibodi IgE pada sel mast dan leukosit basofil dengan obat atau metabolit, menyebabkan pelepasan mediator yang menyebabkan reaksi alergi, misalnya histamin, kinin, 5-hidroksi triptamin, dll. Manifestasi efek samping bisa berupa urtikaria, rinitis, asma bronkial, angio-edema dan syok anafilaktik. Syok anafilaktik ini merupakan efek samping yang paling ditakuti. Obat-obat yang sering menyebabkan adalah penisilin, streptomisin, anestetika lokal, media kontras yang mengandung jodium.
Tipe II. Reaksi sitotoksik: yaitu interaksi antara antibodi IgG, IgM atau IgA dalam sirkulasi dengan obat, membentuk kompleks yang akan menyebabkan lisis sel, Contohnya adalah trombositopenia karena kuinidin/kinin, digitoksin, dan rifampisin, anemia hemolitik karena pemberian penisilin, sefalosporin, rifampisin, kuinin dan kuinidin, dll.
Tipe III. Reaksi imun-kompleks: yaitu interaksi antara antibodi IgG dengan antigen dalam sirkulasi, kemudian kompleks yang terbentuk melekat pada jaringan dan menyebabkan kerusakan endotelium kapiler. Manifestasinya berupa keluhan demam, artritis, pembesaran limfonodi, urtikaria, dan ruam makulopapular. Reaksi ini dikenal dengan istilah "serum sickness", karena umumnya muncul setelah penyuntikan dengan serum asing (misalnya anti-tetanus serum).
Tipe IV. Reaksi dengan media sel: yaitu sensitisasi limposit T oleh kompleks antigen-hapten-protein, yang kemudian baru menimbulkan reaksi setelah kontak dengan suatu antigen, menyebabkan reaksi inflamasi. Contohnya adalah dermatitis kontak yang disebabkan salep anestetika lokal, salep antihistamin, antibiotik dan antifungi topikal.
Walaupun mekanisme efek samping dapat ditelusur dan dipelajari seperti diuraikan di atas, namun dalam praktek klinik manifestasi efek samping karena alergi yang akan dihadapi oleh dokter umumnya akan meliputi:
1) Demam.
Umumnya demam dalam derajad yang tidak terlalu berat, dan akan hilang dengan sendirinya setelah penghentian obat beberapa hari.
2) Ruam kulit (skin rashes).
Ruam dapat berupa eritema, urtikaria, vaskulitis kutaneus, purpura, eritroderma dan dermatitis eksfoliatif, fotosensitifitas, erupsi, dll.
3) Penyakit jaringan ikat.
Merupakan gejala lupus eritematosus sistemik, kadang-kadang melibatkan sendi, yang dapat terjadi pada pemberian hidralazin, prokainamid, terutama pada individu asetilator lambat.
4) Gangguan sistem darah.
Trombositopenia, neutropenia (atau agranulositosis), anemia hemolitika, dan anemia aplastika merupakan efek yang kemungkinan akan dijumpai, meskipun angka kejadiannya mungkin relatif jarang.
5) Gangguan pernafasan:
Asma akan merupakan kondisi yang sering dijumpai, terutama karena aspirin. Pasien yang telah diketahui sensitif terhadap aspirin kemungkinan besar juga akan sensitif terhadap analgetika atau antiinflamasi lain.

b. Reaksi karena faktor genetik
Pada orang-orang tertentu dengan variasi atau kelainan genetik, suatu obat mungkin dapat memberikan efek farmakologik yang berlebihan. Efek obatnya sendiri dapat diperkirakan, namun subjek yang mempunyai kelainan genetik seperti ini yang mungkin sulit dikenali tanpa pemeriksaan spesifik (yang juga tidak mungkin dilakukan pada pelayanan kesehatan rutin).

c. Reaksi idiosinkratik
Istilah idiosinkratik digunakan untuk menunjukkan suatu kejadian efek samping yang tidak lazim, tidak diharapkan atau aneh, yang tidak dapat diterangkan atau diperkirakan mengapa bisa terjadi. Untungnya reaksi idiosinkratik ini relatif sangat jarang terjadi. Beberapa contoh misalnya:
  • Kanker pelvis ginjal yang dapat diakibatkan pemakaian analgetika secara serampangan.
  • Kanker uterus yang dapat terjadi karena pemakaian estrogen jangka lama tanpa pemberian progestogen sama sekali.
  • Obat-obat imunosupresi dapat memacu terjadinya tumor limfoid.
  • Preparat-preparat besi intramuskuler dapat menyebabkan sarkomata pada tempat penyuntikan.
  • Kanker tiroid yang mungkin dapat timbul pada pasien-pasien yang pernah menjalani perawatan iodium-radioaktif sebelumnya.
C. Faktor-Faktor Pendorong Terjadinya Efek Samping Obat
Faktor-faktor yang dapat mendorong terjadinya efek samping obat. Faktor-faktor tersebut ternyata meliputi:
1. Faktor bukan obat
Faktor-faktor pendorong yang tidak berasal dari obat antara lain adalah:
a) Intrinsik dari pasien, yakni umur, jenis kelamin, genetik, kecenderungan untuk alergi, penyakit, sikap dan kebiasaan hidup.
b) Ekstrinsik di luar pasien, yakni dokter (pemberi obat) dan lingkungan, misalnya pencemaran oleh antibiotika.

2. Faktor obat
a) Intrinsik dari obat, yaitu sifat dan potensi obat untuk menimbulkan efek samping.
b) Pemilihan obat.
c) Cara penggunaan obat.
d) Interaksi antar obat.

E. Bagaimana Efek Samping Suatu Obat Ditemukan
Dalam pengembangan suatu obat, calon obat mengalami serangkaian uji/penelitian yang sistematis dan mendalam, untuk mendukung keamanan dan kemungkinan kemanfaatan kliniknya sebelum digunakan pada manusia. Dalam tahap praklinik ini, penelitian-penelitian toksikologik, farmakokinetik dan farmakodinamik mutlak harus dilakukan secara mendalam, untuk menangkap setiap kemungkinan efek samping yang dapat terjadi. Bila efek samping terlalu berat relatif terhadap manfaat yang diharapkan, maka calon obat ini dibatalkan. Efek samping yang terdeteksi pada uji praklinik dan dalam batas yang masih bisa ditolerir, merupakan pegangan pada waktu melakukan uji klinik. Namun pada waktu melakukan uji klinik, masih ada kemungkinan untuk menemukan efek samping lain, yang tidak dapat terdeteksi pada uji sebelumnya, misalnya keluhan mual, gangguan konsentrasi, dll mungkin tidak akan bisa terdeteksi dari hewan percobaan. Dari penelitian-penelitian praklinik dan penelitian klinik tahap awal, umumnya akan terdeteksi jenis-jenis efek samping yang angka kejadiannya cukup tinggi.
Identifikasi efek samping dari suatu obat tidak akan pernah berhenti, walaupun obat telah diijinkan dipakai pada pasien. Pemakaian dalam pengobatan harus selalu diikuti dengan studi-studi maupun cara-cara tertentu untuk menjaring setiap kemungkinan kejadian efek samping. Cara-cara ini terutama digunakan untuk mencari efek samping yang jarang namun bisa fatal, yang hanya dapat dideteksi dari populasi pemakai obat yang lebih besar. Berbagai cara/studi tersebut antara lain adalah:
 Penelitian kohort:
Pengamatan dilakukan secara terus menerus terhadap sekelompok pasien yang sedang menjalani pengobatan, untuk mengevaluasi efek samping yang mungkin terjadi setelah pemaparan terhadap obat.
  • Laporan spontan terhadap kecurigaan terjadinya efek samping: Laporan ini dibuat oleh dokter, apabila mereka menjumpai efek samping atau kemungkinan efek samping. Laporan dikirim ke Tim khusus yang menangani masalah efek samping (di Indonesia kepada Tim Monitoring Efek Samping Obat - Departemen Kesehatan RI), yang akan mengumpulkan dan menganalisis laporan tersebut.
  • Penelaahan terhadap statistik vital:Penelaahan dilakukan oleh ahli epidemiologi, untuk melihat apakah ada data yang ganjil pada pola epidemiologi penyakit.
  • Penelitian 'case-control':Merupakan penelitian retrospektif untuk mengetahui besarnya faktor resiko paparan pemakaian obat dengan kejadian efek samping obat. Dalam penelitian ini individu-individu dengan efek samping tertentu yang diteliti, dan individu-individu dari kelompok kontrol, dibandingkan secara retrospektif riwayat penggunaan obat yang dicurigai. Masing-masing cara mempunyai keunggulan dan kelemahan, namun hasil dari berbagai macam studi tersebut akan saling melengkapi satu sama lain.
F. Upaya Pencegahan dan Penanganan Efek Samping
Saat ini sangat banyak pilihan obat yang tersedia untuk efek farmakologik yang sama. Masing-masing obat mempunyai keunggulan dan kekurangan masing-masing, baik dari segi manfaat maupun kemungkinan efek sampingnya. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, jangan terlalu terpaku pada obat baru, di mana efek-efek samping yang jarang namun fatal kemungkinan besar belum ditemukan. Sangat bermanfaat untuk selalu mengikuti evaluasi/penelaahan mengenai manfaat dan risiko obat, dari berbagai pustaka standard maupun dari pertemuan-pertemuan ilmiah. Selain itu penguasaan terhadap efek samping yang paling sering dijumpai atau paling dikenal dari suatu obat akan sangat bermanfaat dalam melakukan evaluasi pengobatan.

9. Upaya pencegahan
Agar kejadian efek samping dapat ditekan serendah mungkin, selalu dianjurkan untuk melakukan hal-hal berikut:
  • Selalu harus ditelusur riwayat rinci mengenai pemakaian obat oleh pasien pada waktu-waktu sebelum pemeriksaan, baik obat yang diperoleh melalui resep dokter maupun dari pengobatan sendiri.
  • Gunakan obat hanya bila ada indikasi jelas, dan bila tidak ada alternatif non-farmakoterapi.
  • Hindari pengobatan dengan berbagai jenis obat dan kombinasi sekaligus.
  • Berikan perhatian khusus terhadap dosis dan respons pengobatan pada: anak dan bayi, usia lanjut, dan pasien-pasien yang juga menderita gangguan ginjal, hepar dan jantung. Pada bayi dan anak, gejala dini efek samping seringkali sulit dideteksi karena kurangnya kemampuan komunikasi, misalnya untuk gangguan pendengaran.
  • Perlu ditelaah terus apakah pengobatan harus diteruskan, dan segera hentikan obat bila dirasa tidak perlu lagi.
  • Bila dalam pengobatan ditemukan keluhan atau gejala penyakit baru, atau penyakitnya memberat, selalu ditelaah lebih dahulu, apakah perubahan tersebut karena perjalanan penyakit, komplikasi, kondisi pasien memburuk, atau justru karena efek samping obat.
10. Penanganan efek samping
Tidak banyak buku-buku yang memuat pedoman penanganan efek samping obat, namun dengan melihat jenis efek samping yang timbul serta kemungkinan mekanisme terjadinya, pedoman sederhana dapat direncanakan sendiri, misalnya seperti berikut ini:
  1. Segera hentikan semua obat bila diketahui atau dicurigai terjadi efek samping. Telaah bentuk dan kemungkinan mekanismenya. Bila efek samping dicurigai sebagai akibat efek farmakologi yang terlalu besar, maka setelah gejala menghilang dan kondisi pasien pulih pengobatan dapat dimulai lagi secara hati-hati, dimulai dengan dosis kecil. Bila efek samping dicurigai sebagai reaksi alergi atau idiosinkratik, obat harus diganti dan obat semula sama sekali tidak boleh dipakai lagi. Biasanya reaksi alergi/idiosinkratik akan lebih berat dan fatal pada kontak berikutnya terhadap obat penyebab. Bila sebelumnya digunakan berbagai jenis obat, dan belum pasti obat yang mana penyebabnya, maka pengobatan dimulai lagi secara satu-persatu.
  2. Upaya penanganan klinik tergantung bentuk efek samping dan kondisi penderita.Pada bentuk-bentuk efek samping tertentu diperlukan penanganan dan pengobatan yang spesifik. Misalnya untuk syok anafilaksi diperlukan pemberian adrenalin dan obat serta tindakan lain untuk mengatasi syok. Contoh lain misalnya pada keadaan alergi, diperlukan penghentian obat yang dicurigai, pemberian antihistamin atau kortikosteroid (bila diperlukan), dll. Petunjuk-petunjuk penanganan klinik untuk efek samping masing-masing obat juga dapat dibaca dalam buku Meyler's Side Effects of Drugs (editor: Dukes).

G. Tindak Lanjut Sesudah Menghadapi Kasus Efek Samping Obat
  1. Jika anda menghadapi suatu kasus efek samping obat dan sudah anda tangani secara medis sebagaimana mestinya, masih diperlukan langkah-langkah tindak lanjut. Dibuat laporan dokumentasi lengkap mengenai kasus efek samping yang bersangkutan dan dilaporkan ke lembaga yang berwenang, yakni ke Panitia MESO (Monitoring Efek Samping Obat) di Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Ada formulir khusus (form kuning) yang tersedia dan dapat diperoleh.
  2. Jika anda bekerja di rumah sakit cobalah bahas di Panitia Farmasi dan Terapi rumah sakit. Dengan mengacu ke sumber-sumber referensi, dicari kemungkinan faktor risiko terhadap kasus efek samping tersebut. Apakah faktor risiko ini kemudian dapat dihindari? Tergantung kepada faktor risikonya. Jika salah dosis maka mungkin penentuan dosis dapat lebih di cermati.
  3. Langkah-langkah koreksi dalam upaya pengelolaan resiko efek samping obat mencakup hal-hal berikut,
  • Membatasi indikasi pemakaian obat yang bersangkutan. Beberapa obat sering dipakai tidak pada indikasi yang benar.
  • Memperluas/mempertegas kontraindikasi.
  • Mempertegas cara pemakaian obat (pemberian, dosis, lama dan lain-lain).
  • Mengeluarkan obat dari formularium rumah sakit atau anda tidak memakai obat yang bersangkutan jika ada alternatif yang lebih aman.

lihat artikel selengkapnya - Efek Samping Obat

Jumat, 20 Agustus 2010

Obat Doping Agar Kecanduan Belajar

Sydney, Kegiatan belajar bagi banyak siswa, mahasiswa atau karyawan mungkin terasa cukup sulit terutama mereka yang punya kemampuan otak di bawah rata-rata. Jika sudah begitu, mungkin perlu ada obat yang bisa membuat kecanduan belajar. Peneliti pun sudah merancangnya.

Dalam Journal of Medical Ethics, psikolog dari University of Sydney, Australia mengatakan bahwa obat doping belajar yang disebut 'nootropik' bisa saja dibuat dan didesain untuk membantu orang-orang yang punya masalah kognitif (pemahaman) dan juga meningkatkan performa akademis.

Namun obat itu masih menjadi kontroversi di kalangan peneliti karena dikhawatirkan dapat membahayakan fisik, mental, membuat pemakai kecanduan dan konsumsi yang tidak terkontrol. Peneliti mengkhawatirkan efek samping tersebut lebih besar daripada tujuan utama penggunaan obat itu sendiri.

Menurut survei, sepertiga pelajar di Amerika saat ini menggunakan obat-obatan penguat daya otak seperti Amphetamines dan Methylphenidates yang dikenal dengan nama dagang Dexedrine and Ritalin. Mereka percaya kemampuan akademisnya bisa meningkat dengan mengonsumsi obat tersebut.

Namun obat doping akademis yang rencananya dibuat oleh peneliti itu sebenarnya lebih ditujukan pada orang-orang yang memiliki gejala hiperaktif atau ADHD (Attention-Deficit Hyperactivity Disorder) dan juga orang-orang yang punya kebiasaan tidur yang berlebih (tidak terkontrol) agar mereka bisa lebih fokus belajar.

Obat yang mengandung modafinil dan dikenal dengan Progivil itu bisa meningkatkan memori, sama halnya dengan obat-obatan yang digunakan untuk membantu penderita penyakit Alzheimer, yaitu galantamine (Reminyl), piracetam (Nootropil) dan selegiline (Deprenyl).

"Kemungkinan membeli 'obat pintar' itu tidak hanya untuk penderita ADHD atau kelebihan tidur, tapi juga untuk para pelajar dengan kemampuan belajar di bawah standar," ujar Cakic, seorang peneliti yang mengembangkan obat tersebut seperti dilansir Health24, Jumat (2/10/2009).

Namun kemunculan obat dopping tersebut tetap saja perlu diwaspadai, mengingat obat dopping untuk olahraga juga tidak baik untuk kesehatan. Lagipula jika pemakaian obat tersebut tidak dibatasi, bisa-bisa pelajar bodoh bisa disulap menjadi pelajar jenius.

"Bisa muncul keganjilan dimana semua cum laude adalah hasil dari pemakaian obat modafinil, tapi di satu sisi para cum laude itu menderita gangguan mental akibat efek sampingnya yang berbahaya. Jadi perlu rekomendasi khusus untuk obat tersebut," ujar Cakic
(sumber: detik.com)
lihat artikel selengkapnya - Obat Doping Agar Kecanduan Belajar

OBAT-OBAT SARAF OTONOM

OBAT-OBAT SARAF OTONOM: "
n OBAT-OBAT
n SARAF OTONOM

SISTEM SARAF
SISTEM SARAF PUSAT : OTAK & MEDULA SPINALIS
SISTEM SARAF TEPI : OTONOM & SOMATIK
SISTEM SARAF OTONOM (SSO)
SISTEM VISERAL, BEKERJA PADA OTOT POLOS & KELENJAR
SSO : SISTEM INVOLUNTER
SOMATIK : VOLUNTER (PADA OTOT RANGKA)
NEURON KOMPONEN OTONOM :
AFEREN (SENSORIK) – MENGIRIM IMPULS KE SSP
EFEREN (MOTORIK) – MENERIMA IMPULS DARI OTAK, MENERUSKAN IMPULS MELALUI MEDULA SPINALIS KE SEL2 ORGAN EFEKTOR
JALUR EFEREN SSO :
SARAF SIMPATIS & PARASIMPATIS
BEKERJA PADA ORGAN YG SAMA TAPI RESPON BERBEDA UNTUK MENCAPAI HOMEOSTASIS
DAPAT BERUPA RESPON YG MERANGSANG ATAU MENEKAN
SISTEM SARAF
SIST SARAF PUSAT SIST SARAF TEPI
OTAK MED SPINALIS OTONOM SOMATIK
SIMPATIS PARASIMPATIS
A. SISTEM SARAF SIMPATIS
DIKENAL SEBAGAI SISTEM ADRENERGIK, SEKARANG NOREPINEFRIN
OBAT YG MENYERUPAI EFEKNYA : OBAT ADRENERGIK / SIMPATOMIMETIK / AGONIS ADRENERGIK MEMULAI RESPON
PENGHAMBATNYA DISEBUT SIMPATOLITIK / ANTAGONIS ADRENERGIK MENCEGAH RESPON
EFEK SIMPATIS PD JARINGAN TUBUH
MATA DILATASI PUPIL
PARU DILATASI BRONKUS
JANTUNG DENYUT MENINGKAT
PEMBULUH DARAH KONSTRIKSI
SAL CERNA RELAKSASI
KANDUNG KEMIH RELAKSASI
UTERUS RELAKSASI
SALIVA MENURUN
RESEPTOR ADRENERGIK :
ALFA 1, ALFA 2, BETA 1, BETA 2
NOREPINEFRIN DILEPASKAN DARI UJUNG SARAF TERMINAL & MERANGSANG RESEPTOR SEL UNTUK MENGHASILKAN RESPON
EFEK ADRENERGIK PD RESEPTOR
ALFA 1 TINGKATKAN KONTRAKSI JANTUNG, VASOKONSTRIKSI, MIDRIASIS, SALIVA BERKURANG
ALFA 2 HAMBAT NOREPINFRIN, DILATASI PEMBULUH DARAH, HIPOTENSI
BETA 1 TINGKATKAN DENYUT & KONTRAKSI JANTUNG
BETA 2 DILATASI BRONKIOLUS, RELAKSASI SAL CERNA & UTERUS
OBAT SIMPATOMIMETIK :
BEKERJA LANGSUNG : OBAT BEKERJA LANGSUNG PD RESEPTOR
BEKERJA TAK LANGSUNG : OBAT MERANGSANG UJUNG SARAF MELEPASKAN NOREPINEFRIN UNTUK DITANGKAP RESEPTOR
CAMPURAN
KATEKOLAMIN
STRUKTUR KIMIA YG MENGHASILKAN RESPON SIMPATOMIMETIK
ENDOGEN : EPINEFRIN, NOREPINEFRIN, DOPAMIN
SINTETIK : ISOPROTERENOL, DOBUTAMIN
NONKATEKOLAMIN
KERJA LEBIH LAMA, MISAL: FENILEFRIN, METAPROPERENOL, ALBUTEROL
EPINEFRIN (ADRENALIN)
DIANGGAP NON SELEKTIF (TIDAK MEMPUNYAI SELEKTIVITAS)TERHADAP RESEPTOR
BEKERJA PADA RESEPTOR ALFA 1, BETA 1, BETA 2
UNTUK PENANGANAN SYOK
FARMAKOKINETIK
DIBERIKAN MELALUI PARENTERAL, TOPIKAL, INHALASI
KADAR YG BERIKATAN DG PROTEIN & WAKTU PARUH TAK DIKETAHUI
METABOLISME DI HATI, EKSKRESI LEWAT URIN
FARMAKODINAMIK
MERUPAKAN OBAT INOTROPIK (DAYA KONTRAKSI OTOT)KUAT, TIMBULKAN KONSTRIKSI PEMBULUH DARAH TINGKATKAN DENYUT JANTUNG DILATASI BROKIAL
DOSIS TINGGI SEBABKAN ARITMIA JANTUNG, VASOKONSTRIKSI GINJAL
MULA KERJA & KONSENTRASI PUNCAK
CEPAT
ISOPROTERENOL HCl
AKTIVASI BETA 1, BETA 2
ALBUTEROL SULFAT
SELEKTIF UNTUK ADRENERGIK BETA 2, SERING DIGUNAKAN UNTUK ASMA
FARMAKOKINETIK
DIABSORBSI SALURAN CERNA
METABOLISME DI HATI, EKSKRESI URIN
WAKTU PARUH ORAL 2,5 JAM, INHALASI 4 JAM
FARMAKODINAMIK
UNTUK BRONKOSPASME/ASMA
MULA KERJA INHALASI LEBIH CEPAT DARI PADA ORAL TAPI LAMA KERJANYA SAMA
EFEK SAMPING TREMOR, GELISAH, GUGUP
PROSES KEPERAWATAN OBAT ADRENERGIK
PENGKAJIAN
PERIKSA TANDA-TANDA VITAL,LAPORKAN JIKA ADA KELAINAN
PERENCANAAN
TANDA VITAL DIPANTAU KETAT, USHAKAN TETAP DALAM BATAS NORMAL
INTERVENSI
PANTAU TANDA VITAL SESERING MUNGKIN (TIAP 3-5 MENIT), LAPORKAN JIKA TIDAK NORMAL
LAPORKAN JIKA ADA EFEK SAMPING
PERIKSA KELURAN URIN
SERINGKALI PERIKSA TEMPAT SUNTIKAN
BATASI MAKANAN UNTUK MENCEGAH MUAL / MUNTAH
PENYULUHAN
BACA LABEL SEMUA OBAT FLU YG DIJUAL BEBAS, KARENA BANYAK YG MENGANDUNG OBAT SIMPATOMIMETIK
AJARI PENGGUNAAN OBAT DG BENAR
JANGAN GUNAKAN SEMPROT BRONKODILATOR BERLEBIHAN
PENGGUNAAN SEMPROT/TETES HIDUNG YG MENGANDUNG BRONKODILATOR SECARA TERUS MENERUS AKAN SEBABKAN REBOUND
JANGAN BERIKAN PADA IBU MENYUSUI KARENA DAPAT MASUK ASI
EVALUASI
RESPON TERHADAP OBAT ADRENERGIK
TERUS PANTAU TANDA-TANDA VITAL
LAPORKAN HASIL YG ABNORMAL
PENGHAMBAT ADRENERGIK
CARA KERJA :
LANGSUNG – DG CARA MENEMPATI RESEPTOR ALFA ATAU BETA
TAK LANGSUNG – DG CARA MENGHAMBAT PELEPASAN NEUROTRANSMITER, NREPINEFRIN, EPINEFRIN
PENGHAMBAT ADRENERGIK ALFA
MENYEBABKAN VASODILATASI PEMBULUH DARAH
JIKA BERLANGSUNG TERUS AKAN MENYEBABKAN HIPOTENSI
UNTUK TERPAI PENYEMPITAN PEMBULUH DARAH TEPI
CONTOH OBAT TOLAZOLIN
PENGHAMBAT BETA
MENYEBABKAN TERJADI PENURUNAN DENYUT JANTUNG, TEKANAN DARAH, BRONKOKONSTRKSI
CONTOH OBAT – PROPRANOLOL
FARMAKOKINETIK
PROPRANOLOL DIABSORBSI DI SAL CERNA DAPAT MENEMBUS OTA, PLASENTA, ASI
METABOLISME DI HATI, t ½ 3-6 JAM
FARMAKODINAMIK
BEKERJA DG CRA MENGHAMBAT RESEPTO BETA 1 DAN BETA 2
SEDIAAN TABLET, KAPSUL SUSTAINED RELEASE, INTRA VENA
EFEK SAMPING
ANTI ALFA – ARITMIA, HIPOTENSI, TAKIKARDI
ANTI BETA _ BRADIKARDI, PUSING, HIPOTENSI, SAKIT KEPALA
PENGHAMBAT NEURON ADRENERGIK
MENGHAMBAT PELEPASAN NOREPINEFRIN DARI UJUNG SARAF SIMPATIS
UNTUK MENURUNKAN TEKANAN DARAH
CONTOH OBAT GUANETIDIN MONOSULFAT DAN GUANADREL SULFAT
PROSES KEPERAWATAN ANTI ADRENERGIK
PENGKAJIAN
PERIKSA TANDA VITAL
HATI-HATI PASIEN YG MENGALAMI MASALAH NAPAS, ASMA, PPOM – HARUS MEMAKAI ANTI BETA 1 (METOPROLOL), HINDARI ANTI BETA NON SELEKTIF (PROPRANOLOL)
PERENCANAAN
TANDA VITAL DLAM BATAS YG DIINGINKAN
HINDARI EFEK SAMPING, EFEK SAMPING SEMINIMAL MUNGKIN
INTERVENSI
PANTAU TANDA VITAL,LAPOR JIKA TAK NORMAL
LAPOR JIKA PUSING BERLEBIHAN
LAPOR JIKA ADA SUMBATAN HIDUNG
PENYULUHAN
AJARI PASIEN & KELUARGA MENGUKUR NADI & TENSI
BERI TAHU CARA MENGHINDARI HIPOTENSI MISAL BANGKIT PELAN2
HATI2 BAGI PENDERITA DIABET
PERUBAHAN EMOSI BILA MEMAKAI OBAT BETA BLOCKER
KOMPLIKASI IMPOTENSI
KONSULTASI DG DOKTER BILA HENDAK MENGHENTIKAN OBAT
EVALUASI
TERHADAP AKTIVITAS ANTI ADRENERGIK
TANDA VITAL HARUS SELALU STABIL
B. SISTEM SARAF PARASIMPATIS
DIKENAL SEBAGAI SISTEM KOLINERGIK, NEUROTRANSMITERNYA PADA UJUNG NEURON YG MENSARAFI OTOT ADALAH ASETILKOLIN
OBAT YG MENYERUPAI EFEKNYA : OBAT KOLINERGIK / PARASIMPATOMIMETIK / AGONIS KOLINERGIK MEMULAI RESPON
PENGHAMBATNYA DISEBUT PARASIMPATOLITIK / ANTIKOLINERGIK / ANTAGONIS / KOLINERGIK MENGHAMBAT EFEK ASETILKOLIN
EFEK PARASIMPATIS PD JARINGAN TUBUH
MATA KONSTRIKSI PUPIL
PARU KONSTRIKSI BRONKIOLUS
JANTUNG DENYUT JANTUNG MENURUN
PEMB DARAH DILATASI
SAL CERNA PERISTALTIK MENINGKAT
KAND KEMIH KONTRAKSI
SALIVA BERTAMBAH
ADA 2 RESEPTOR KOLINERGIK
1. MUSKARINIK : MERANGSANG OTOT
POLOS & MELAMBATKAN DENYUT JANTUNG
2. NIKOTIKNIK : MEMPENGARUHI OTOT RANGKA
CARA KERJA
LANGSUNG - BEKERJA PD RESEPTOR MENGAKTIVASI RESPON
TAK LANGSUNG – MENGHAMBAT ENZIM KOLINESTERASE (ASETILKOLINESTERASE)
YG BEKERJA LANGSUNG
BETANEKOL KLORIDA – UNTUK TINGKATKAN BERKEMIH
FARMAKOKINETIK
ABSORBSI BURUK DI SAL CERNA
KADAR IKATAN DG PROTEIN & t ½ TAK DIKETAHUI
KEMUNGKINAN EKSKRESI LEWAT URIN
FARMAKODINAMIK
MENINGKATKAN BERKEMIH, PERISTALTIK SAL CERNA
KENCING TERJADI ± 30 MNT – 1,5 JAM SETELAH MINUM BETANEKOL, SUBKUTAN 15 MNT
DIMINUM SAAT LAMBUNG KOSONG, TAK BOLEH IM/IV
LAMA KERJA ORAL 4-6 JAM, SUBKUTAN 2 JAM
YG BEKERJA TAK LANGSUNG
REVERSIBEL
UNTUK KONSTRIKSI PUPIL & MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT PD MIASTENIA GRAVIS
CONTOH OBAT : NEOSTIGMIN, PIRIDOSTIGMIN BROMIDA, AMBENIUM KLORIDA, ENDROFONIUM KLORIDA
IREVERSIBEL
AGEN KUAT KARENA EFEK JANGKA PANJANG
DIGUNAKAN UNTUK KONSTRIKSI PUPIL & INSEKTISIDA ORGANOFOSFAT
CONTOH OBAT: DEMEKARIUM, EKOTIOFAT, ISOFLUROFAT
EFEK SAMPING OBAT KOLINERGIK
MUAL, MUNTAH, DIARE,KEJANG ABDOMEN, BANYAK KERINGAT, SALIVASI, SEKRESI BRONKIAL, HIPOTENSI
PROSES KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
PERIKSA TANDA VITAL
GALI RIWAYAT KESEHATANNYA, MIS TUKAK PEPTIK, OBSTRUKSI URIN, ASMA YG DAPAT DIPERBERAT OLEH OBAT KOLINERGIK
PERENCANAAN
TONUS KANDUNG KEMIH & GASTROINTESTINAL BERTAMBAH
KEKUATAN NEUROMUSKULER BERTAMBAH
INTERVENSI KEPERAWATAN
KERJA LANGSUNG
PANTAU TANDA VITAL,NADI & TENSI AKAN TURUN JIKA DOSIS TINGGI
AMATI EFEK SAMPING
LAPORKAN JIKA PERISTALTIK HIPERAKTIF ATAU BERKURANG
LAPOR JIKA URIN BERKURANG
LAPORKAN JIKA ADA RONKI PADA PARU
UNTUK MENGHINDARI MUNTAH, OBAT DIBERIKAN 1 JAM SEBELUM MAKAN ATAU 2 JAM SSUDAH MAKAN
SEDIA SULFAS ATROPIN SEBAGAI ANTIDOTUM
LAPORKAN JIKA KERINGAT BERLEBIHAN
BEKERJA TAK LANGSUNG
LAPORKAN JIKA ADA KRISIS KOLINERGIK(OTOT LEMAH, SALIVASI BERTAMBAH)

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - OBAT-OBAT SARAF OTONOM

• FARMAKOLOGI KEPERAWATAN

• FARMAKOLOGI KEPERAWATAN: "
• FARMAKOLOGI KEPERAWATAN

• Fase kerja obat
• Farmasetik à Farnakokinetik à farmakodinamik
• Farmasetik
• Terdiri dari fase disintegrasi dan disolusi
• Disintegrasi pemecahan à partikel yang lebih kecil.
• Disolusi à melarutnya partikel yang kecil dari obat untuk diabsorbsi
• Farmakokinetik
1. absorbsi
2. distribusi
3. metabolisme /biotranformasi
4. eskresi
• Absorbsi
• Pergerakan partikel obat dari saluran GI ke dalam cairan tubuh melalui absorbsi , aktif , pasif dan pinositosis.
• Absorbsi pasif : pergerakan konsentrasi tinggi ke rendah / difusi .
• Absorbsi aktif : membutuhkan karier / pembawa , untuk menembus membran semi permiable .sebagai karier enzim/protein.
• Pinositosis : membawa obat menembus membran dgn proses menelan.
• Notes : obat tidak langsung msuk ke sirkulasi sistemik setelah diabsorbsi àlumen usus à hati melalui vena porta à dimetabolisme àbentuk tidak aktif untuk diekskresikan “Fist Pass Hepatik “
• Contoh Warfarin,caumadin,morfin.
• Distribusi à proses obat menjadi berada di dalam cairan tubuh dan jaringan tubuh
• Metabolisme /biotransformasi à tempat utama metabolisme \; hati
• Obat di inaktifkan di hati
• Diubah / ditransformaskan menjadi metabolit inaktif / zat yang larut dalam air untuk diekskresi .
• Waktu paruh t ½
• Waktu yang dibutuhkan oleh separuh konsentrasi obat untuk dieliminasi.
• Ekskresi à rute utama ekresi melalui ginjal , rute yang lain , feses, paru –paru .saliva , keringat ,ASI.
• Farmakokinetik
• Efek obat terhadap fisiologi dan biokimia selular dan mekanisme kerja obat à efek primer ,efek sekunder
• Contoh obat flu dan batuk yang mengandung acetaminofen bisa mengatasi alergi sehingga batuk berkurang .efeknya jadi ngantuk.
• Hak –hak klien dalam pemberian obat
• Tahu alasan pemberian obatà sebelum menanda tangani inform concent.
• Hak klien untuk menolak pengobtan .
• Standart dan Undang –Undang Obat
• Standart : international pharmacophei (WHO 1951)
• Dasar dari standart untuk kekuatan dan komposisi obat dalam penggunaan di dunia .
• Undang –Undang
1. FDA Food and Drug Administrasion 1983 àmemantau , mengendalikan ,pembuatan dan pemasaran obat.
2. Amandemen durham humprey untuk UU th 1938, th 1952
membedakan obat yang dijual tanpa resep dan menggunakan resep .
3. Amandemen Cefauver harrisà untuk UU th 1938, 1962
tragedi talidomit .proses penarikan obat –obatan yang telah disetujui jika keefektifannya diragukan .
• UU th 1970 pencegahan dan penyalahgunaan obat C S A à controlled substances act.
• 6 benar dalam pemberian obat
• 1. benar klien
• 2. benar obat
• 3. benar doses
• 4. benar cara pemberian
• 5. benar waktu pemberian
• 6. benar cara pendokumentasian .
• Jenis obat
• Serbuk .kapsul
Salep .dsb
• Gel
• Tablet
• Kaplet
• Cair
• suspensi
• Rute pemberian obat
• Oral
• Bukal
• Sub lingual
• Topical
• Inhalasi
• Instilasi
• Parenteral à IM,IV,Sc,
• Nama obat
• Nama generik
• Nama kimia
• Nama dagang
• Kategori perintah pemberian obat
1.Perintah tetap /standing order
contoh : digoksin 0,2 mg qd.
2.Perintah satu kali ( single order )
contoh : versed 2 mg IM pada pukul 7 pagi
3. Perintah PRN (bila perlu )
contoh : tylenol 650 mg setiap 3-4 jam
PRN untuk sakit kepala.
4. Perintah STAT / segera
contoh : morfin sulfat 2 mg IV STAT

• Sistem pengukuran obat
• Sistem metrik
• Sistem rumah tangga
• Sistem farmasi
• Metode penghitungan obat
• Rumus dasar
D X V = A
H
• Contoh penggunaan rumus dasar
• Perintah : ampicilin (policilin) 0,5 g tersedia lbel obat policilin 250 mg / kapsul
• D X V = A à 500 mg X 1 kapsul = 2 kaps
H 250 mg
• Perintah : heparin 2500 U, sub cutan.tersedia heparin 10000 U/ml dalam vial.
• D X V = 2500 U X 1 ml =0,25 ml
• H 10000 U
• Contoh aplikasi
• Gentamicin (garamicin ) 3 X 50 mg, IM.tersedia gentamicin 80 mg / 2 ml dalam vial .
• D X V = 50 X 2 = 1,25 ml
• H 80
• Bila menggunakan spuit 3 cc, maka 1 cc terdiri dari 10 strip, à
• 1 cc = 10 strip = 40 mg.
• 1 strip = 4 mg , bila dibutuhkan dosis 50 mg maka 50 = 12,5 strip identik dengan
4
• 1 cc plus 2,5 strip .
• Penghitungan dengan BB
• Konversi pounds menjadi kg jika perlu
• Tentukan dosis obat per berat badan
• Dosis obat x BB = dosis klien / hari
• Ikuti rumus dasar.
• Contoh ; fluorourasil 12 mg /kg / hari IV.
• BB 132 lb àI kg = 2,2 lb à 60 kg
• 12 x 60 = 720 mg /hari bila diberikan 3 x /hari maka à 240 mg.
• Rekonstitusi obat bubuk
• Jumlah pelarut sudah ada dalam label .
• Perintah ; penisilin akueus 250.000 U IM.tersedia penisilin akueus 5000000U.obat dalam bentuk di dalam vial. Label obat menyatakan ;
• Bubukl setara 2 ml . Pelarut yang ditambahkan -- .
• Karena dosis 250000 U maka pelarut 18 ml , ditambah bubuk setara 2 ml menjadi 20 ml .
• 250000 X 20 ml = 1 ml

5000000
• Metode luas permukaan tubuh
• Untuk bayi , anak, usila .
• Kalikan dosis yang deiminta dgn angka meter persegi à gunakan NOMOGRAM
• Perintah ; siklofosfamid ( cytoxan ) 100 mg/m2/hari .TB 70 inci BB ; 160 lb.
• Luas permukaan tubuh tubuh ; 1,97 m 2
• 100 mg x 1,97 = 197 mg
• Jawab ; 200 mg/ hari.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - • FARMAKOLOGI KEPERAWATAN

DASAR-DASAR FARMAKOTERAPI

DASAR-DASAR FARMAKOTERAPI: "
DASAR-DASAR FARMAKOTERAPI


n PENDAHULUAN
FARMAKOTERAPI :
n Mempelajari efektivitas obat pada manusia
n Mencakup juga tiga pendekatan thd penelitian medis dan pendidikan, yi :
Studi farmakologi pada manusia ( farmakokinetik dan farmakodinamik ).
Studi aksi obat untuk menyelidiki pato fisiologi penyakit pada sistem organ ttt.
Dokumentasi ttg keamanan dan daya guna obat pada manusia.
n Beberapa hal yg dipelajari dalam farmakoterapi :
Pemilihan Obat
Pengembangan Obat
Interaksi Obat
Efek Samping Obat
Terapi Obat Rasional
Keputusan Klinik
Pengobatan Sendiri
n I. Pemilihan obat
Syarat-syarat pemilihan obat yg rasional :
1. Diagnosis yg tepat.
2. Pengetahuan yg berhubungan dg patofisiologi suatu penyakit.
3. Pengetahuan farmakologi dasar, biokimia obat dan metabolitnya, kinetika senyawa pada orang normal dan sakit.
4. Kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu dalam praktek.
5. Tindakan yg beralasan dalam menghubungkan patofisiologi dan farmakologi hingga bisa di dapat hasil pengobatan yg dikehendaki.
6. Rencana untuk melakukan evaluasi dan pengukuran spesifik yg dapat menggambarkan daya guna dan toksisitas serta merancang terapi selanjutnya.
n Respon pasien thd obat
Merupakan resultan dari berbagai faktor :
Efek farmakodinamik obat dan interaksinya dg obat yg telah didapat pasien.
Farmakokinetik obat dan modifikasinya berkaitan dg faktor genetik,penyakit dan obat lain.
Kondisi fisiologis organ akhir, apakah dlm keadaan lebih atau kurang aktif.
Aksi pengobatannya, termasuk rute pemberian obat.
Perasaan dokter ,kepribadian, sikap dan kepercayaan.
Perasaan pasien, kepribadian, sikap dan kepercayaan.
Apa yang telah dikatakan dokter pada pasien.
Pengalaman pasien terhadap dokter.
Dugaan pasien tentang apa yg telah diterima dan hasil apa yang akan terjadi.
Lingkungan sosial, baik yg mendorong maupun yg melemahkan semangat.
n Beberapa penyebab ketidakpatuhan pasien terhadap obat :
Pasien tdk puas thd dokter
Motivasi rendah
Lupa
Kesengajaan
Informasi kurang, t.u info ttg efek samping obat
Frekuensi dan kompleksitas aturan minum regimen obat.
n II. Pengembangan Obat
Beberapa tahap untuk pengembangan obat baru :
Ide / hipotesis
Rancangan bahan sintesisnya.
Studi pada jaringan dan hewan (uji praklinik)
Studi pada manusia (uji klinik)
Hak paten
Studi pasca pasar ttg keamanan dan perbandingan dengan obat lain.
n Tes pada uji praklinik
Farmakodinamik
Farmakokinetik
Toksikologi, yg mencakup studi studi mutagenitas dan karsinogenitas.
n Uji klinik
Ada 4 tahap uji klinik :
Farmakologi klinik dan toksisitas
Penelitian klinis awal untuk efek pengobatan
Evaluasi lengkap pengobatan
Survei pasca pemasaran
Tahap 1 :
n Pengujian pd manusia sehat.
n Yg diutamakan adalah keamanan obat, bukan efikasi.
n Ditentukan dosis tunggal yg tepat tanpa menimbulkan efek samping yg serius.
n Diteliti juga metabolisme dan bioavailabilitas obat.
n Selanjutnya dosis ganda juga diberikan untuk menentukan skedul pemberian dosis.
n Memerlukan 20 – 80 subyek.
Tahap 2 :
n Pengujian pada manusia sakit / pasien.
n Yg diteliti efektifitas dan keamanan obat dg pemantauan ketat.
n Pd tahap ini merupakan uji klinik scr terbuka ( open trial / uncontroled trial )
n Diperlukan sampel 100 – 200 pasien.
Tahap 3 :
n Tahap terpenting dari uji klinik.
n Membandingkan obat yg baru dg obat baku.
n Memakai uji klinis terkendali / controlled trial
n Sampel harus sesuai dg rancangan penelitian.
Tahap 4 ( post marketing surveillance ):
n Pemantauan efek samping dan penelitian yg luas ttg morbiditas dan mortalitas.
n Tahap ini biasanya dimanfaatkan untuk promosi luas di kalangan praktisi medis.
n Penelitian pd tahap ini mempunyai nilai ilmiah terbatas.
n III. Interaksi Obat
Berbagai tingkat interaksi obat :
Interaksi absorbsi
Cont : Antasida dpt mengurangi absorbsi fenitoin, barbiturat dan sejuml. Benzodiazepin.
Interaksi ikatan protein plasma
fenilbutazon,sulfarazol,asam salisilat, diazoksid, asam valproat,tolbutamid, halofenat dapat mendesak fenitoin dari tempat ikatan protein plasma.
Inhibisi metabolisme
INH mampu menghambat metabolisme fenitoin.
Induksi metabolisme
n Fenitoin,fenobarbital,pirimidon dan karbamazepin mampu menginduksi ensim mikrosomal hati.
n Obat yg kemudian terpengaruh akan turun steady state nya.
Obat yg mempengaruhi ekskresi renal.
n Obat yg membuat suasana alkalis urin dpt mengurangi reabsorbsi tubuler dari fenobarbital dan menaikkan kecepatan ekskresinya dlm urin.
n Cont : pada over dosis barbiturat, penderita dpt diberi Natrium bicarbonat.
Interaksi farmakodinamik
n Interaksi dpt terjadi pada tingkat reseptor.
n Cont : Obat anti epilepsi mrpk juga depresan SSP. Dan ini akan berpotensiasi bila bersama-sama diberikan dengan Diazepam atau fenobarbital shg dpt menyebabkan henti napas ( depresi pernapasan ).
n IV. Efek Samping Obat
n Mencakup setiap pengaruh obat yg tdk dikehendaki atau yg merugikan/ membahayakan pasien dlm dosis terapeutik untuk pencegahan maupun pengobatan.
n Insiden antara 10 – 20 persen.
n Faktor predisposisi tjdnya ESO :
Ras
Kelainan genetis
Jenis kelamin
Usia
Riwayat alergi, gangguan fs ginjal dan hati.
Ditinjau dari aspek patologi, ESO dpt dibagi :
1. Tipe A
n Tjd akibat aksi farmakologis yg normal, dpt diperkirakan dr aksi farmakologisnya yg biasa dan umumnya tergtg dosis.
n Insiden dan morbiditasnya tinggi, tp mortalitas rendah.
n Cont. : Mengantuk setelah minum CTM.
2. Tipe B
n ESO tdk berkaitan dg aksi farmakologis yg biasa.
n Timbulnya tdk dapat diduga.
n Insiden dan morbiditasnya rendah, namun mortalitasnya tinggi.
n Cont : Reaksi imunologik.
n V. Terapi Obat Rasional
Enam langkah farmakoterapi yg rasional :
Menentukan diagnosis yg tepat.
Memahami patofisiologi penyakit dan peluang untuk intervensi obat.
Memahami farmakologi obat yg dapat dipakai sbg pilihan farmakoterapi thd penyakit tsb.
Seleksi obat dan dosis yg paling optimal utk pasien yg paling spesifik.
Seleksi efikasi dan toksisitas yg perlu dipantau.
Membina hubungan baik dg pasien.
n VI. Keputusan Klinik
Faktor yg berperan dlm proses pengambilan keputusan klinik :
Bukti ilmiah atau medik yg valid (mis. Uji klinik).
Faktor pasien (mis. Kepercayaan pasien).
Faktor Dokter (mis. Pengalaman / mutu).
Paksaan (mis. Asuransi).
=====è Dipengaruhi paradigma yg dianut oleh dokter.
Paradigma Lama :
n Memakai intuisi, pengalaman klinis yg tidak sistematis, dan pendekatan patofisiologi yg berasal dari hewan percobaan.
Paradigma Baru :
n Evidence Based Medicine ( EBM ).
n Lewat pelacakan kepustakaan, baik lewat CD-ROM, Internet, maupun publikasi ilmiah.
n VII. Pengobatan Sendiri
Dapat dilakukan untuk hal berikut :
n Penghilangan simptom jangka pendek, untuk penyakit yg diagnosis akuratnya tidak diperlukan.
n Kasus penyakit kronik atau kambuhan tanpa komplikasi.
Keamanan pengobatan sendiri tergantung pada :
Obat :
n Kandungan obat, dosis dan lama pengobatan, serta kemungkinan ketergantungannya.
Formulasi obat, sebaiknya dosis rendah saja.
Informasinya ( biasanya sdh ada dalam kemasan obat ).
Kepatuhan pasien.
n Pemantauan Farmakoterapi
n Variabel Farmakokinetik :
Absorbsi
Klirens
Volume distribusi
Waktu paruh
n Variabel Farmakodinamik :
Efek Maksimum
Kepekaan / Sensitivitas.

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - DASAR-DASAR FARMAKOTERAPI

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: