KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Contoh KTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Contoh KTI. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

Congestive Heart Failure / gagal jantung


1. Pengertian
Congestive Heart Failure (CHF) adalah keadaan patofisiologis berupa
kelainan fungsi jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk
memenuhi kebutuhan metabolisme jaring an dan/atau kemampuannya hanya ada
kalau disertai peninggian volume diastolik secara abnormal (Mansjoer, 2001).
Menurut Brunner dan Suddarth (2002) CHF adalah ketidakmampuan
jantung untuk memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan
jaringan akan Oksigen dan nutrisi.
2. Etiologi
Menurut Hudak dan Gallo (1997) penyebab kegagalan jantung yaitu :
a. Disritmia, seperti: Bradikardi, takikardi, dan kontraksi premature yang sering
dapat menurunkan curah jantung.
b. Malfungsi katup, dapat menimbulkan kegagalan pompa baik oleh kelebihan
beban tekanan (obstruksi pada pengaliran keluar dari pompa ruang , seperti
stenosis katup aortik atau stenosis pulmonal), atau dengan kelebihan beban
volume yang menunjukan peningkatan volume darah ke ventrikel kiri.
c. Abnormalitas otot jantung, menyebabkan kegagalan ventrikel meliputi infark
miokard, aneurisme ventrikel, fibrosis miokard luas (biasanya dari
aterosklerosis koroner jantung atau hipertensi lama), fibrosis endokardium,
penyakit miokard primer (kardiomiopati), atau hipertrofi l uas karena hipertensi
pulmonal, stenosis aorta, atau hipertensi sistemik.
d. Ruptur miokard, terjadi sebagai awitan dramatik dan sering membahayakan
kegagalan pompa dan dihubungkan dengan mortalitas tinggi. Ini biasa terjadi
selama 8 hari pertama setelah infa rk.
Sedangkan menurut Brunner dan Suddarth (2002) penyebab gagal jantung
kongestif, yaitu: kelainan otot jantung, aterosklerosis koroner, hipertensi sistemik
atau pulmonal (peningkatan afterload) , peradangan dan penyakit miokardium
degeneratif, penyakit jantung lain, faktor sistemik
3. Klasifikasi
Menurut Mansjoer (2001) berdasarkan bagian jantung yang mengalami
kegagalan pemompaan, gagal jantung terbagi atas gagal jantung kiri, gagal
jantung kanan, dan gagal jantung kongestif. Menurut New York Heart
Association (Mansjoer, 2001) klasifikasi fungsional jantung ada 4 kelas, yaitu:
Kelas 1 : Penderita kelainan jantung tanpa pembatasan aktivitas fisik. Aktivitas
sehari-hari tidak menyebabkan keluhan.
Kelas 2 : Penderita dengan kelainan jantung yang mempunyai akti vitas fisik
terbatas. Tidak ada keluhan sewaktu istirahat, tetapi aktivitas sehari -
hari akan menyebabkan capek, berdebar, sesak nafas.
Kelas 3 : Penderita dengan aktivitas fisik yang sangat terbatas. Pada keadaan
istirahat tidak terdapat keluhan, tetapi ak tivitas fisik ringan saja akan
menyebabkan capek, berdebar, sesak nafas.
Kelas 4 : Penderita yang tidak mampu lagi mengadakan aktivitas fisik tanpa rasa
terganggu. Tanda-tanda dekompensasi atau angina malahan telah
terdapat pada keadaan istirahat.
4. Patofisiologi
Menurut Soeparman (2000) beban pengisian (preload) dan beban tahanan
(afterload) pada ventrikel yang mengalami dilatasi dan hipertrofi memungkinkan
adanya peningkatan daya kontraksi jantung yang lebih kuat, sehingga curah
jantung meningkat. Pembebanan jantung yang lebih besar meningkatkan
simpatis, sehingga kadar katekolamin dalam darah meningkat dan t erjadi
takikardi dengan tujuan meningkatkan curah jantung. Pembebanan jantung yang
berlebihan dapat mengakibatkan curah jantung menurun, maka akan terj adi
redistribusi cairan dan elektrolit (Na) melalui pengaturan cairan oleh ginjal dan
vasokonstriksi perifer dengan tujuan untuk memperbesar aliran balik vena
(Venous return) ke dalam ventrikel sehingga meningkatkan tekanan akhir
diastolik dan menaikkan kembali curah jantung. Dilatasi, hipertrofi, takikardi , dan
redistribusi cairan badan merupakan mekanisme kompensasi untuk
mempertahankan curah jantung dalam memenuhi kebutuhan sirkulasi badan.
Bila semua kemampuan mekanisme kompensasi jantung tersebut diata s sudah
dipergunakan seluruhnya dan sirkulasi darah dalam badan belum juga tepenuhi,
maka terjadilah keadaan gagal jantung. Gagal jantung kiri atau gagal jantung
ventrikel kiri terjadi karena adanya gangguan pemompaan darah oleh ventrikel
kiri sehingga curah jantung kiri menurun dengan akibat tekanan akhir diastol
dalam ventrikel kiri dan volume akhir diastole dalam ventrikel kiri meningkat.
Keadaan ini merupakan beban atrium kiri dalam kerjanya untuk mengisi ventrikel
kiri pada waktu diastolik, dengan akib at terjadinya kenaikan tekanan rata - rata
dalam atrium kiri. Tekanan dalam atrium kiri yang meninggi ini menyebabkan
hambatan aliran masuknya darah dari vena - vena pulmonal. Bila keadaan ini
terus berlanjut, maka bendungan akan terjadi juga dalam paru - paru dengan
akibat terjadinya edema paru dengan segala keluhan dan tanda - tanda akibat
adanya tekanan dalam sirkulasi yang meninggi. Keadaan yang terakhir ini
merupakan hambatan bagi ventrikel kanan yang menjadi pompa darah untuk
sirkuit paru (sirkulasi kecil). Bila beban pada ventrikel kanan itu terus bertambah,
maka akan merangsang ventrikel kanan untuk melakukan kompensasi dengan
mengalami hipertropi dan dilatasi sampai batas kemampuannya, dan bila beban
tersebut tetap meninggi maka dapat terjadi gagal jantung kanan, sehingga pada
akhirnya terjadi gagal jantung kiri - kanan. Gagal jantung kanan dapat pula terjadi
karena gangguan atau hambatan pada daya pompa ventrikel kanan sehingga isi
sekuncup ventrikel kanan tanpa didahului oleh gagal jantung kiri. De ngan
menurunnya isi sekuncup ventrikel kanan, tekanan dan volum akhir diastole
ventrikel kanan akan meningkat dan ini menjadi beban atrium kanan dalam
kerjanya mengisi ventrikel kanan pada waktu diastole, dengan akibat terjadinya
kenaikan tekanan dalam atr ium kanan. Tekanan dalam atrium kanan yang
meninggi akan menyebabkan hambatan aliran masuknya darah dalam vena
kava superior dan inferior ke dalam jantung sehingga mengakibatkan kenaikan
dan adanya bendungan pada vena -vena sistemik tersebut (bendungan pada
vena jugularis dan bendungan dalam hepar) dengan segala akibatnya (tekanan
vena jugularis yang meninggi dan hepatomegali). Bika keadaan ini terus
berlanjut, maka terjadi bendungan sistemik yang lebih berat dengan akibat
timbulnya edema tumit atau tungkai bawah dan asites.
5. Manifestasi Klinis
Menurut Hudak dan Gallo (1997) tanda dan gejala yang terjadi pada gagal
jantung kiri antara lain kongesti vaskuler pulmonal, dyspnea, ortopnea, dispnea
nokturnal paroksismal, batuk, edema pulmonal akut, penurunan curah jantung,
gallop atrial (S3), gallop ventrikel (S4), crackles paru, disritmia, bunyi nafas
mengi, pulsus alternans, pernafasan chey ne-stokes, bukti - bukti radiologi
tentang kongesti vaskuler pulmonal. Sedangkan untuk gagal j antung kanan
antara lain curah jantung rendah, peningkatan JVP, edema, disritmia, S3 dan S4
ventrikel kanan, hiperesonan pada perkusi.
6. Diagnosis
Menurut Framingham ( Mansjoer, 2001) kriterianya gagal jantung kongestif
ada 2 kriteria yaitu kriteria mayor dan kriteria minor.
a. Kriteria mayor terdiri dari:
1) Dispnea nokturnal paroksismal atau ortopnea
2) Peningkatan vena jugularis
3) Ronchi basah tidak nyaring
4) Kardiomegali
5) Edema paru akut
6) Irama derap S3
7) Peningkatan tekanan vena > 16 cm H2O
8) Refluks hepatojugular
b. Kriteria minor terdiri dari:
1) Edema pergelangan kaki
2) Batuk malam hari
3) Dyspnea
4) Hepatomegali
5) Efusi pleura
6) Kapasitas vital berkurang menjadi ? maksimum
7) Takikardi (>120 x/ menit)
Diagnosis ditegakkan dari dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dan dua
kriteria minor harus ada di saat bersama an.
7. Potensial Komplikasi
Menurut Brunner & Suddarth (2002) potensial komplikasi mencakup: syok
kardiogenik, episode tromboemboli, efus i perikardium, dan tamponade
perikardium.
8. Pemeriksaan penunjang
Menurut Dongoes (2000) pemeriksaan penunjang yang dapat d ilakukan
untuk menegakkan diagnosa CHF yaitu:
a. Elektro kardiogram (EKG)
Hipertropi atrial atau ventrikule r, penyimpangan aksis, iskemia, disritmia,
takikardi, fibrilasi atrial.
b. Skan jantung
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding .
c. Sonogram (ekocardiogram, ekokardiogram dopple)
Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam fungsi/
struktur katup, atau area penurunan kontraktili tas ventrikular.
d. Kateterisasi jantung
Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal
jantung kanan dan gagal jantung kiri dan stenosis katup atau insufisiensi.
e. Rongent dada
Dapat menunjukkan pembesaran jantung, bayangan mencerminkan dilatasi
atau hipertropi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah abnormal.
f. Enzim hepar
Meningkat dalam gagal / kongesti hepar.
g. Elektrolit
Mungkin berubah karena perpindahan cairan / penurunan fungsi ginjal, terapi
diuretik.
h. Oksimetri nadi
Saturasi Oksigen mungkin rendah terutama jika gagal jantung kongestif akut
menjadi kronis.
i. Analisa gas darah (AGD)
Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkaliosis respiratori ringan (dini) atau
hipoksemia dengan peningkatan PCO2 (akhir).
j. Blood ureum nitrogen (BUN) dan kreatinin
Peningkatan BUN menunjukkan penurunan fungsi ginjal. Kenaikan baik BUN
dan kreatinin merupakan indikasi gagal ginjal.
k. Pemeriksaan tiroid
Peningkatan aktifitas tiroid menunjukkan hiperaktifitas tiroid sebagai pre
pencetus gagal jantung kongestif.
9. Penatalaksanaan
Menurut Mansjoer (2001) prinsip penatalaksanaan Congestive Heart Failure
adalah:
a. Meningkatkan Oksigenasi dengan pemberian Oksigen dan menurunkan
konsumsi O2 melalui istirahat / pembatasan aktivitas.
b. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung
1) Mengatasi keadaan reversibel termasuk tirotoksikosis, miksedema dan
aritmia.
2) Digitalisasi, digoksin, condilamid.
c. Menurunkan beban jantung
1) Menurunkan beban awal dengan:
a) Diit rendah garam
b) Diuretik: furosemid ditambah kalium
c) Vasodilator: menghambat Angiotensin-converting enzyme (ACE),
Isosorbid dinitrat (ISDN), nitrogliserin, nitroprusid.
2) Menurunkan beban akhir dengan dilator arteriol.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Congestive Heart Failure / gagal jantung

Asuhan Keperawatan pada Tn. A dengan Gangguan Sistem Integumen : Nyeri Akibat Combustio di Ruang Gelatik Rumah Sakit CC

Asuhan Keperawatan pada Tn. A dengan Gangguan Sistem Integumen : Nyeri Akibat Combustio di Ruang Gelatik Rumah Sakit CC:

ABSTRAK


4 bab, 73 halaman, 2 lampiran

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka gangguan sistem integumen : nyeri akibat combustio di Ruang Gelatik Rumah Sakit CC yaitu sekitar 38,8%. Adapun tujuan yang ingin dicapai, yaitu dapat mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada Tn. A dengan gangguan sistem integumen : nyeri akibat combustio di Ruang Gelatik Rumah Sakit CC. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode studi kasus. Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi; juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah atau frostbite. Masalah keperawatan dalam teori adalah gangguan rasa nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit, resiko terjadinya infeksi, gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene, gangguan citra tubuh. Masalah keperawatan yang muncul pada Tn. A adalah gangguan rasa nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit, resiko terjadinya infeksi, gangguan pemenuhan ADL : Personal Hygiene. Intervensi yang direncanakan adalah atur posisi tidur yang nyaman sesuai dengan keinginan klien, tinggikan dan sokong ekstremitas yang mengalami fraktur dan dislokasi dengan menggunakan bantal dan selimut, anjurkan klien untuk melakukan teknik relaksasi : nafas dalam ketika rasa nyeri timbul. Kesimpulan yang diperoleh penulis setelah melakukan asuhan keperawatan secara langsung adalah pada pengkajian terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus Tn. A yaitu, riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik. Pada diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus Tn. A yaitu rasa nyaman nyeri, kerusakan integritas kulit, Resiko terjadinya infeksi, pemenuhan ADL : personal hygiene. Pada perencanaan terdapat diagnosa nyeri perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resti infeksi. Pelaksanaan yang ada ditahap perencanaan dilakukan tanpa ada hambatan. Semua diagnosa keperawatan yang muncul dapat teratasi. Saran untuk institusi pendidikan yaitu hendaknya pihak institusi pendidikan menyediakan buku-buku tentang combustio, sehingga penulis dapat menggunakan literatur tersebut, untuk perawat ruangan diharapkan dapat melengkapi alat-alat yang dibutuhkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien combustio, dan lebih ditingkatkan sistem pendokumentasian asuhan keperawatan. Untuk klien dan keluarga dapat lebih memahami cara perawatan luka yang baik agar bisa melakukan sendiri pada saat di rumah dengan cara, untuk siswa agar lebih ditingkatkan dalam hal pengkajian dan kemampuan membina hubungan saling percaya dengan klien.

Daftar pustaka : 11 buah ( 1999-2009 )



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan pada Tn. A dengan Gangguan Sistem Integumen : Nyeri Akibat Combustio di Ruang Gelatik Rumah Sakit CC

Asuhan Keperawatan Pada Ny. I dengan Gangguan Sistem Pencernaan : Nyeri Perut Kanan Bawah Akibat Apendikcitis Akut Di Ruang D3 Bedah RSU DD

Asuhan Keperawatan Pada Ny. I dengan Gangguan Sistem Pencernaan : Nyeri Perut Kanan Bawah Akibat Apendikcitis Akut Di Ruang D3 Bedah RSU DD: "ABSTRAK


4 bab, 65 halaman, 2 lampiran

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh tingginya angka kejadian gangguan sistem pencernaan : apendikcitis di Ruang D3 Bedah Rumah Sakit Umum Daerah DD yaitu sekitar 42,1%. Adapun tujuan yang ingin dicapai, yaitu mendapatkan gambaran tentang asuhan keperawatan pada Ny. I dengan gangguan sistem pencernaan nyeri perut kanan bawah akibat apendikcitis akut di Ruang D3 Bedah Rumah Sakit Umum DD. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan metode studi kasus. Apendikcitis adalah suatu peradangan yang mengenai semua lapisan dinding organ tersebut. Masalah keperawatan dalam teori adalah gangguan rasa nyaman nyeri, resiko tinggi terhadap infeksi, resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan, gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, gangguan istirahat tidur, intoleran aktivitas dan resiko terhadap konstipasi. Masalah keperawatan yang muncul pada Ny. I adalah nyeri, perubahan nutrisi kurang, gangguan perawatan kuku dan resiko terjadi infeksi. Intervensi yang direncanakan adalah ajarkan teknik relaksasi, menganjurkan klien makan sedikit tapi sering, mengajarkan tentang perawatan kuku dan merawat luka. Kesimpulan yang diperoleh penulis setelah melakukan asuhan keperawatan secara langsung adalah pada pengkajian terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus Ny. I yaitu, riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik. Pada diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan antara teori dengan kasus Ny. I yaitu resiko kekurangan cairan, gangguan istirahat tidur, intoleran aktivitas, dan resiko terhadap konstipasi. Pada perencanaan terdapat diagnosa nyeri perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan resti infeksi. Pelaksanaan yang ada ditahap perencanaan dilakukan tanpa ada hambatan. Semua diagnosa keperawatan yang muncul dapat teratasi. Saran untuk institusi pendidikan yaitu hendaknya pihak institusi pendidikan menyediakan buku-buku tentang apendiktomy, sehingga penulis dapat menggunakan literatur tersebut, untuk perawat ruangan diharapkan dapat melengkapi alat-alat yang dibutuhkan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien apendiktomy, dan lebih ditingkatkan sistem pendokumentasian asuhan keperawatan. Untuk klien dan keluarga dapat lebih memahami cara perawatan luka yang baik agar bisa melakukan sendiri pada saat di rumah dengan cara, untuk siswa agar lebih ditingkatkan dalam hal pengkajian dan kemampuan membina hubungan saling percaya dengan klien.

Daftar pustaka : 11 buah ( 1999-2009 )



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan Pada Ny. I dengan Gangguan Sistem Pencernaan : Nyeri Perut Kanan Bawah Akibat Apendikcitis Akut Di Ruang D3 Bedah RSU DD

ASKEP NY. W DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : STROKE ULANG KE-2 SAMA SISI e.c INFARK ATEROTROMBOLIK SISTEM KAROTIS KANAN FAKTOR RESIKO HYPERTENSI

ASKEP NY. W DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : STROKE ULANG KE-2 SAMA SISI e.c INFARK ATEROTROMBOLIK SISTEM KAROTIS KANAN FAKTOR RESIKO HYPERTENSI:
ABSTRAK



IV Bab, viii, 109 Halaman, 2 Tabel, 4 Gambar, 1 Skema, 5 Lampiran

Tingginya angka kejadian stroke yang mencapai 57,32 % (176 orang) yang merupakan prosentase paling tinggi dari seluruh kasus sistem persarafan di Ruang 19 A RS MM serta kompleks dan besarnya akibat yang ditimbulkan, hal ini yang melatarbelakangi penulis untuk melakukan asuhan keperawatan pada Ny. W. Tujuan pembuatan karya tulis ini adalah mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem persarafan : Stroke Ulang Ke-2 Sama Sisi e.c Infark Aterotrombolik Sistem Karotis Kanan Faktor Resiko Hipertensi dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan studi kasus. Stroke yaitu kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh terhentinya suplai darah kebagian otak. Masalah keperawatan yang timbul adalah gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, ganguan mobilitas fisik, gangguan komunikasi verbal, gangguan pemenuhan kebutuhan eliminasi BAB, gangguan pemenuhan kebutuhan ADL dan resiko terjadinya stroke ulang berlanjut. Perencanaan disusun bersama keluarga sesuai dengan kemampuan klien dan keluarga.
Pada pelaksanaan, tidak semua tindakan dapat dilakukan secara maksimal yaitu latihan pergerakan aktif dan pasif / ROM dikarenakan kurangnya motivasi dari klien. Setelah dilakukan intervensi selama 5 hari, pada akhir evaluasi keenam masalah tersebut dapat teratasi dengan baik sesuai dengan tujuan dan kriteria yang telah direncanakan, namun ada satu diagnosa yang harus dilakukan tindakan secara kontinyu yaitu diagnosa gangguan mobilitas fisik, karena hal ini perlu tindakan yang terus menerus dan berkesinambungan untuk menghindari dampak yang mungkin muncul seperti kontraktur bahkan kecacatan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan stroke latihan aktif dan pasif / ROM sangatlah penting sehingga tindakan yang kontinyu dan berkesinambungan sangat diperlukan, oleh karena itu penulis merekomendasikan untuk perawat ruangan agar lebih sabar dan terampil dalam melatih klien dengan stroke, sementara untuk klien dan keluarga penulis merekomendasikan agar tetap melakukan latihan ROM secara teratur, disiplin dalam minum obat, makan sesuai diet dan kontrol secara teratur.

Daftar pustaka : 25 buah (1983-2003).



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ASKEP NY. W DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : STROKE ULANG KE-2 SAMA SISI e.c INFARK ATEROTROMBOLIK SISTEM KAROTIS KANAN FAKTOR RESIKO HYPERTENSI

Sabtu, 11 September 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By Ny. W ( 29 Hari )BBLR dengan SEPSIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By Ny. W ( 29 Hari )BBLR dengan SEPSIS

ABSTRAK

Viii, 4 bab, 87 hal, 1 tabel, 3 lampiran.
Karya tulis ini dilatar belakangi oleh angka kejadian kasus BBLR dengan Sepsis di Ruang A1 Perjan Rumah Sakit dr. Hasan Sadikin Bandung pada 6 bulan terakhir periode februari s.d 12 agustus 2005 yang berjumlah 1 (2,38%). Hal ini merupakan jumlah yang sedikit tetapi menyebabkan dampak yang besar sehingga membutuhkan penanganan yang serius agar tidak menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi tersebut di masa yang akan datang. Adapun tujuan pembuatan Karya Tulis ini adalah mampu melakukan Asuhan Keperawatan dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan (pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi). Metode yang digunakan adalah deskriptif analisis yaitu metode untuk menggambarkan dan menganalisa kasus. BBLR adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram. Sedangkan Sepsis yaitu infeksi sistemik berat pada masa neonatal dengan tanda-tanda klinis minimal 4 gejala dan kultur/perbenihan darah didapatkan kuman (+). Menurut teori Diagnosa Keperawatan yang muncul secara konsep adalah : pola nafas tidak efektif, termoregulasi tidak efektif, Resiko tinggi infeksi, perubahan nutrisi, Resiko kekurangan atau kelebuhan cairan, Resiko tinggi gangguan integritas kulit, resiko tinggi cedera, Nyeri, Pertumbuhan dan perkembangan, perubahan proses keluarga, Antisipasi berduka. Intervensi yang telah dilakukan adalah : merawat bayi dalam inkubator, memberikan minum bayi sesuai kebutuhan, memberikan terapi antibiotik sesuai order medis, pemberian penkes. Kesimpulan yang dapat diambil dalam tahap pengkajian penulis dapat melakukan pengumpulan data secara akurat dan menyeluruh, dalam tahap perencanaan penulis harus melihat literatur yang sesuai dengan kasus. Dalam pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan, semua dapat dilakukansesuai dengan masalah keperawatan yang disesuaikan dengan kondisi klien. Pada tahap evaluasi masalah keperawatan dapat teratasi sebagian selama penulis merawat klien selama 5 hari, Selanjutnya klien memerlukan penanganan secara terus menerus dan berkelanjutan untuk mengatasi masalah yang belum teratasi dan melanjutkan follow up. Saran yang dapat penulis sampaikan : Perlu adanya penambahan buku sumber mengenai keperawatan anak.

Daftar Pustaka 20 buku ( 1991 – 2003 )


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN PADA By Ny. W ( 29 Hari )BBLR dengan SEPSIS

GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN: POST CRANIOTOMY DEKOMPRESI ATAS INDIKASI MODERAT HEAD INJURY DISERTAI SUBDURAL HEMATOMA FRONTO TEMPORO PARIETAL DEXTRA


ABSTRAK



vii, IV bab, 118 halaman, 1 tabel, 1 gambar, 3 lampiran

Penulisan karya tulis ini dilatar belakangi oleh kompleknya masalah dan dampak yang dapat terjadi pada klien dengan trauma kepala disamping tingginya angka kejadian trauma kepala (81,79%). Tujuan karya tulis ini adalah Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan pada klien gangguan persyarafan akibat trauma kepala dengan menggunakan teknik penulisan metode deskriptif berbentuk studi kasus, yang terdiri dari 4 BAB, yaitu: pendahuluan, tinjauan teoritis, tinjauan kasus dan pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.Trauma kepala adalah deformitas jaringan di kepala yang diakibatkan oleh suatu kekuatan mekanis. Pada kasus Tn.D berdasarkan hasil analisa data didapatkan masalah keperawatan yang muncul yaitu pola nafas tidak efektif, Resiko terjadinya peningkatan intrakranial, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, gangguan pemenuhan ADL, perubahan pola eliminasi: BAK, resiko terjadinya infeksi, resiko terjadinya injuri dan gangguan rasa nyaman: pusing. Fokus tindakan dilakukan untuk mencegah peningkatan intrakranial, pemenuhan kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya injuri. Hampir semua masalah yang muncul pada klien dapat teratasi kecuali masalah gangguan rasa nyaman: pusing, gangguan pemenuhan ADL dan resiko terjadinya infeksi hanya teratasi sebagian. Kesimpulan dari pelaksanaan asuhan keperawatan ini yaitu diperlukan keterlibatan dan kerjasama dengan keluarga klien dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami penurunan kesadaran yang disertai gelisah, untuk itu penulis merekomendasikan agar perawat dan keluarga klien dapat bekerjasama terutama dalam mencegah injuri serta ditunjang oleh sarana yang memadai, antara lain tersedianya bed plang.

Daftar Pustaka 17 buah (1995 – 2003)

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN: POST CRANIOTOMY DEKOMPRESI ATAS INDIKASI MODERAT HEAD INJURY DISERTAI SUBDURAL HEMATOMA FRONTO TEMPORO PARIETAL DEXTRA

Askep pada klien Ny. M dengan Gangguan system Endokrin akibat Diabetes Mellitus Type2 dan Ulkus Diabeticum di Ruang Anyelir RSUD CC

Askep pada klien Ny. M dengan Gangguan system Endokrin akibat Diabetes Mellitus Type2 dan Ulkus Diabeticum di Ruang Anyelir RSUD CC: "ABSTRACT




vii, IV Bab, 87 Halaman, 1 Tabel, 4 Gambar, 5 Lampiran

Kasus diabetes mellitus di Ruang Anyelir RSUD Bayu Asih Purwakarta merupakan peringkat ke-7, hal ini perlu mendapatkan perhatian besar karena bisa menyebabkan komplikasi seperti serangan jantung, payah ginjal, stroke dan gangren apabila penanganannya tidak tepat. Ini merupakan alasan utama yang melatarbelakangi pengambilan judul dalam karya tulis ilmiah ini. Tujuan karya tulis ini agar penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan pada klien diabetes mellitus meliputi pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Metoda yang digunakan adalah deskriptif berbentuk studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Diabetes mellitus adalah gangguan kronis yang ditandai dengan karbohidrat dan lemak yang ditandai dengan kekurangan insulin. Masalah keperawatan yang ditemukan pada Ny. M yaitu : Gangguan metabolisme karbohidrat, gangguan integritas jaringan, gangguan pemenuhan ADL (personal hygiene), ketidakmampuan, resiko tinggi injuri. Perencanaan ditujukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut seperti pemberian insulin, perawatan luka, pemenuhan ADL (personal hygiene), penyuluhan. Pelaksanaan yang dilakukan berupa membina hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga serta membantu mengatasi masalah yang ditemukan dan menindaklanjuti dari perencanaan keperawatan.

Evaluasi masalah keperawatan yang belum teratasi : gangguan integritas jaringan dan gangguan metabolisme karbohidrat, karena masih perlu memerlukan perawatan lebih lama serta penulis menyerahterimakan tugas kepada perawat ruangan. Kesimpulan askep yang dilakukan pada Ny. M mencakup perawatan luka, meningkatkan pengetahuan klien, pencegahan terjadi injuri, mengontrol gula darah. Tidak semua masalah keperawatan secara teoritis akan dapat ditemukan pada setiap klien, hal ini tergantung dari berat atau tidaknya kondisi klien tersebut. Rekomendasi untuk ruang Anyelir agar meningkatkan kerjasama dengan bagian farmasi dalam penyediaan obat-obatan sehingga dapat optimal dalam memberikan pelayanan.

Daftar Pustaka : 16 buah (1979-2001)



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Askep pada klien Ny. M dengan Gangguan system Endokrin akibat Diabetes Mellitus Type2 dan Ulkus Diabeticum di Ruang Anyelir RSUD CC

Asuhan Keperawatan pada klien An. S (5 ½ tahun) dengan MORBILI diruang Kemuning RSUD CC”

“Asuhan Keperawatan pada klien An. S (5 ½ tahun) dengan MORBILI diruang Kemuning RSUD CC”:

ABSTRAK



IV Bab, vii, 78 Halaman, 2 Tabel, 2 Gambar, 8 Lampiran

Asuhan keperawatan pada klien morbili dilatarbelakangi dengan jumlah anak yang menderita. Penyakit morbili yang berjumlah 27 orang (30,9 %) sehingga angka kejadian pada penyakit morbili diruang Kemuning RSUD Bayu Asih begitu tinggi dan terjadi hanya di Indonesia saja serta dapat menimbulkan komplikasi. Tujuan pembuatan karya tulis ini untuk memperoleh pengalaman belajar yang nyata dalam membuat asuhan keperawatan pada klien usia prasekolah dengan morbili secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan, pengkajian perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Morbili adalah suatu penyakit yang menular melalui droplet infection atau kontak langsung yang bersifat akut dan disebabkan oleh virus, ditandai dengan 3 stadium yaitu : stadium kataralis, stadium erupsi dan stadium konvalensi, tanda dan gejala sesuai dengan terjadinya stadium diantaranya : badan panas, timbul bintik-bintik merah mulai dari muka, lengan atas, dada, punggung dan perut, terakhir pada tungkai bawah. Masalah-masalah yang ditemukan pada klien dengan morbili yaitu gangguan keseimbangan suhu tubuh, pemenuhan nutrisi tidak adekuat, gangguan istirahat tidur, gangguan integritas kulit, gangguan rasa aman cemas pada anak, gangguan rasa aman cemas pada keluarga, resiko tinggi terjadinya komplikasi bronchopneumoni dapat diatasi dengan proses keperawatan yang komprehensif. Dirumah sakit umum klien dirawat selama 3 hari lalu pulang dengan izin dokter sehingga dilanjutkan dengan kunjungan rumah. Kondisi klien saat terakhir suhu 36,4oC, batuk hilang, bintik-bintik sudah hilang dan konjungtiva tidak hyperemis. Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada klien An. S usia 5 ½ tahun dengan morbili di ruang kemuning rumah sakit Bayu Asih Purwakarta, penulis dapat memberikan saran kepada perawat ruangan agar dapat bekerjasama dengan pihak farmasi untuk penyediaan obat-obatan diruangan dan agar dapat mengatur keberadaan penunggu klien dengan tertib, sedangkan untuk lembaga pendidikan agar melengkapi literatur yang telah ada dengan buku-buku sumber maupun jurnal keluaran tahun terbaru mengenai keperawatan anak.


Daftar pustaka : 12 buah (1994-2002)



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Asuhan Keperawatan pada klien An. S (5 ½ tahun) dengan MORBILI diruang Kemuning RSUD CC”

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. U DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : BPH DAN EPIDIDIMITIS DI RUANG C LANTAI II BEDAH UMUM PERJAN RUMAH SAKIT CC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. U DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : BPH DAN EPIDIDIMITIS DI RUANG C LANTAI II BEDAH UMUM PERJAN RUMAH SAKIT CC:

ABSTRAK



V Bab, viii, 87 Halaman, 1 Tabel, 4 Gambar, 1 Skema, 3 Lampiran

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh angka kejadian benigna prostat hiperplasia yaitu sebesar 25 % yang merupakan persentase paling tinggi dari seluruh kasus sistem perkemihan di Ruang C Lantai II Bedah Umum Perjan Rumah Sakit CC. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan penanganan yang komprehensif untuk mencegah terjadinya tahap penyakit yang lebih lanjut bahkan untuk mencegah kematian. Tujuan pembuatan karya tulis ini adalah mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem perkemihan : benigna prostat hiperplasia dan epididimitis dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. Metode penulisan yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Benigna prostat hiperplasia adalah suatu kondisi dimana kelenjar prostat mengalami pembesaran, memanjang keatas kedalam kandung kemih yang mengakibatkan tersumbatnya aliran urine dengan tertutupnya orifisium urethra dan biasa terjadi pada pria dengan usia diatas 50 tahun. Masalah keperawatan yang muncul berdasarkan teori adalah perubahan pola eliminasi BAK, gangguan rasa nyaman : nyeri, resiko kekurangan volume cairan, resiko infeksi, gangguan pemenuhan istirahat tidur, gangguan rasa aman : cemas dan kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan. Sedangkan masalah yang ditemukan pada Tn. U adalah gangguan rasa nyaman : nyeri, resiko tinggi terjadinya infeksi, gangguan pemenuhan kebutuhan ADL : personal hygiene, gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat tidur, perubahan pola eliminasi BAK dan gangguan rasa aman : cemas. Tidak semua masalah keperawatan secara teoritikal ditemukan pada kasus sehingga perlu dilakukan asuhan keperawatan yang lebih komprehensif dan tidak hanya disesuaikan dengan kerangka teori yang ada. Pada pelaksanaan, tidak semua tindakan dapat diaplikasikan. Hal tersebut diantaranya yaitu penggantian alat tenun setiap hari dan observasi keluaran urine dalam 24 jam. Masalah yang ditemukan pada klien Tn. U dapat teratasi seluruhnya dalam waktu lima hari sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Kesimpulan yang dapat diambil adalah dalam melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan benigna prostat hiperplasia dan epididimitis observasi pengeluaran urine sangat diperlukan, sehingga penulis merekomendasikan agar dibuatnya dokumentasi pengeluaran urine setiap shif pada klien dengan benigna prostat hiperplasia.

Daftar pustaka : 20 buah (1983-2003).


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/ "
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. U DENGAN GANGGUAN SISTEM PERKEMIHAN : BPH DAN EPIDIDIMITIS DI RUANG C LANTAI II BEDAH UMUM PERJAN RUMAH SAKIT CC

Selasa, 07 September 2010

Gambaran Kasus Kehamilan Ektopik Terganggu di RSUD "JJJ" Periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005

Gambaran Kasus Kehamilan Ektopik Terganggu di RSUD "JJJ" Periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005:
"ABSTRAK

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu.


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kasus kehamilan ektopik terganggu di RSUD JJJ periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005. Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif. Data dikumpulkan dengan melihat kembali semua catatan medik kasus kehamilan ektopik terganggu yang tercatat di bagian Rekam Medik RSUD JJJ. Data dikumpulkan dan diolah secara manual, kemudian disajikan dalam bentuk diagram dan tabel distribusi frekuensi.
Dari hasil penelitian diperoleh 7498 jumlah kebidanan termasuk 133 diantaranya adalah kehamilan ektopik terganggu (1,77%), Penderita kehamilan ektopik terganggu yang terbanyak terdapat pada umur 30-34 tahun (40,60%) dengan paritas penderita 1 sebanyak (35,34%). Lokasi kehamilan ektopik terganggu terbanyak adalah pada daerah ampula tuba (82,70%) dimana jumlah ibu yang meninggal (1,5%).

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Kasus Kehamilan Ektopik Terganggu di RSUD "JJJ" Periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005

ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM MATURUS DENGAN SECSIO SESARIA


ABSTRAK


ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M P2A1 POST PARTUM MATURUS DENGAN SEKSIO SESAREA ATAS INDIKASI CEFALO PELVIK DISPROPORTION HARI KE DUA S.D HARI KE TUJUH DI RUANG DEBORA
RUMAH SAKIT LLL

viii, 4 bab, 101 halaman, 4 lampiran

Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh cukup banyaknya jumlah ibu post partum dengan seksio sesarea atas indikasi CPD dirumah sakit immanuel, yaitu 17,5% dan kompleksnya masalah yang ditimbulkan oleh tindakan seksio sesarea terhadap ibu maupun janin. Tujuan penulisan karya tulis ini untuk memperoleh pengalaman nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien post partum maturus dengan seksio sesarea atas indikasi CPD secara komprehensif. Metode yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini adalah deskriptif berbentuk studi kasus. Saat pengkajian klien tidak kooperatif, namun penulis tidak bosan melakukan pendekatan yang akhirnya klien percaya dan ditemukan beberapa masalah, diantaranya: gangguan rasa nyaman: nyeri, resiko tinggi infeksi, resiko tinggi gangguan laktasi, gangguan pemenuhan ADL, dan ketidakmampuan klien memilih jenis kontrasepsi. Tindakan yang telah dilakukan: memberi penyuluhan, mengganti balutan, memberi motivasi, dan mendemonstrasikan cara perawatan payudara. Hasil yang sudah tercapai dalam memberikan asuhan keperawatan yaitu meningkatnya pengetahuan klien, keterampilan dalam perawatan payudara, dan perawatan luka, yang belum tercapai yaitu resiko infeksi, penulis memotivasi klien untuk tetap melakukan perawatan luka sampai sembuh dan mengidentifikasi adanya tanda-tanda infeksi. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah tidak semua diagnosa keperawatan yang ada dalam teori muncul pada kasus dilapangan, karena manusia adalah mahluk yang unik, sehingga respon yang timbul pada satu individu akan berbeda dengan individu yang lain. Saran bagi adik kelas, jangan bosan melakukan pendekatan dengan komunikasi terapeutik pada klien tidak kooperatif, untuk institusi, agar memperbanyak buku-buku literatur untuk bahan referensi sebagai acuan mahasiswa dalam proses belajar dan penyusunan karya tulis, serta bagi perawat agar selalu melengkapi pendokumentasian asuhan keperawatan ke dalam status klien sehingga data mudah didapat.

Kepustakaan 18 sumber (1986-2005)


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM MATURUS DENGAN SECSIO SESARIA

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK C DENGAN POST DEBRIDEMENT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK C DENGAN POST DEBRIDEMENT:

ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK C. (11TAHUN) DENGAN POST DEBRIDEMENT ATAS INDIKASI SKIN DEGLONING + CLOSE FRAKTUR METATARSAL I DAN III PEDIS DEXTRA DI RUANG CEMPAKA RUMAH SAKIT PERJAN HASAN SADIKIN BANDUNG

ix, 4 BAB, 91 Halaman, 3 Gambar, 1 Lampiran

Latar belakang dari penulisan karya tulis ini adalah adalah berdasarkan pada angka kejadian anak yang mengalami Fraktur dan Skin Degloving di ruang Cempaka RS Perjan Hasan Sadikin Bandung yang mengakibatkan kecacatan sehingga memerlukan perawatan khusus. Tujuan dari karya tulis ini adalah agar penulis mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien usia sekolah (11 tahun) dengan Post Debridement atas indikasi Skin Degloving dan Close Fraktur Metatarsal I dan III Pedis Dextra secara komprehensif meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik yang digunakan adalah wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, studi dokumentasi dan studi kepustakaan. Sistematika penulisan terdiri dari 4 Bab.
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan Skin Degloving adalah kehilangan jaringan kulit yang luas, dimana salah satu tindakan untuk mencegah terjadinya infeksi pada kasus tersebut, yaitu dengan Debridement.


Masalah yang mungkin muncul pada kasus ini adalah, Gangguan rasa nyaman nyeri, Gangguan personal hygiene, Keterbatasan mobilisasi fisik, Gangguan pemenuhan personal hygiene, Resiko tinggi infeksi, Resiko tinggi kerusakan integritas kulit. Masalah keperawatan yang muncul pada kasus: gangguan rasa nyaman nyeri, gangguan pemenuhan personal hygiene, resiko infeksi, Gangguan asupan makanan, resiko kontraktur .Setelah dilakukan intervensi dari masalah yang ada 3 masalah belum teratasi yaitu masalah gangguan rasa nyaman nyeri, resiko infeksi, dan gangguan asupan nutrisi. Kesimpulan yang dapat diambil oleh penulis dalam penanganan kasus ini adalah perlunya melibatkan keluarga secara aktif karena kasus ini memerlukan waktu yang lama untuk sembuh sehingga perlu perawatan yang lama. Saran ditujukan untuk keluarga, perawat dan pihak akademik


Daftar Pustaka : 23 buah (1983-2003)




http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK C DENGAN POST DEBRIDEMENT

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.W DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : AKIBAT MILD HEAD INJURY DISERTAI OPEN LINEAR FRAKTUR FRONTAL DEXTRA


ABSTRAK



vii, IV bab, 99 halaman, 1 tabel, 1 gambar, 3 lampiran

Penulisan karya tulis ini dilatar belakangi oleh kompleknya masalah dan dampak yang dapat terjadi pada klien dengan trauma kepala disamping tingginya angka kejadian trauma kepala yang dirawat di rumah sakit Hasan Sadikin Bandung (89,94%). Tujuan karya tulis ini adalah Penulis mampu melaksanakan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan pendekatan proses keperawatan pada klien gangguan persarafan akibat trauma kepala dengan menggunakan tekhnik penulisan metode deskriptif berbentuk studi kasus, yang terdiri dari 4 BAB, yaitu: pendahuluan, tinjauan teoritis, tinjauan kasus, pembahasan, kesimpulan dan rekomendasi.

Trauma kepala adalah deformitas jaringan di kepala yang diakibatkan oleh suatu kekuatan mekanis. Pada kasus Tn.W berdasarkan hasil analisa data didapatkan masalah keperawatan yang muncul yaitu ganggaun rasa nyaman nyeri, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, gangguan pemenuhan ADL, kebutuhan pengetahuan mengenai cara perawatan luka dan kecemasan keluarga. Fokus tindakan dilakukan untuk menanggulangi rasa nyaman nyeri, memenuhi kebutuhan nutrisi dan pemenuhan kebutuhan ADL. Semua masalah yang muncul pada klien dapat teratasi. Kesimpulan dari pelaksanaan asuhan keperawatan ini yaitu diperlukan keterlibatan dan kerjasama dengan keluarga klien dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, untuk itu penulis merekomendasikan agar perawat dan keluarga klien dapat bekerjasama terutama dalam membantu mengatasi masalah yang muncul pada klien yang ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.

Daftar Pustaka 14 buah (1994 – 2002)

http://askep-askeb-kita.blogspot.com/

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn.W DENGAN GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN : AKIBAT MILD HEAD INJURY DISERTAI OPEN LINEAR FRAKTUR FRONTAL DEXTRA

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. Y DENGAN POST STROKE PADA NY. I

SUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. Y DENGAN POST STROKE PADA NY. I DI RT 07 RW 12 KELURAHAN AA KECAMATAN BB WILAYAH KERJA PUSKESMAS CC
KOTA DD
Viii, 4 bab, 84 halaman, 1 tabel, 4 lampiran.

ABSTRAK
Karya tulis ini dilatarbelakangi oleh jumlah stroke yang menurut Yayasan Stroke Indonesia tahun 2004 selalu bertambah 500 ribu jiwa setiap tahunnya dan sekitar 25% atau 125 ribu meningggal, sisanya cacat ringan maupun berat, diperkirakan bahwa terserang dua jiwa dari 1000 jiwa yang berusia 55-64 tahun dalam setahun. Hipertensi merupakan salah satu faktor pencetus stroke, data dari Puskesmas periode Febuari sampai Juli 2004 menunjukan jumlah hipertensi sebesar 1443 jiwa. Berdasarkan data di atas maka diperlukan penanggulangan untuk mencegah timbulnya stroke. Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk memperoleh pengalaman nyata dalam asuhan keperawatan keluarga dengan stroke secara komprehensif meliputi bio-psiko-sosial dan spiritual. Metode yang digunakan dalam menyusun karya tulis ini adalah deskriptif berbentuk studi kasus. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Pada pengkajian ditemukan masalah dengan kerusakan mobilitas fisik dan resiko terjadinya stroke berulang. Tindakan yang telah di lakukan adalah memberikan penyuluhan, memberi motivasi dan mendemontrasikan penggunaan garam pada makanan dan mobilisasi pada klien. Hasil yang sudah tercapai dalam pembinaan keluarga adalah meningkatnya pengetahuan tentang stroke dan hipertensi juga dalam latihan mobilisasi, dan kemauan dalam mengambil keputusan yang tepat, dan keterampilan dalam merawat anggota keluarga yang sakit. Dalam merawat keluarga dengan stroke memerlukan kerjasama yang baik dengan semua pihak yang terkait, dengan demikian penanganan untuk selanjutnya diserahkan pada pihak keluarga dan Puskesmas.

Kepustakaan 16 buah (1989-2004)



http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA TN. Y DENGAN POST STROKE PADA NY. I

Minggu, 05 September 2010

KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

KTI KEBIDANAN :
HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP
RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang masalah
Menurut Hurlock (1980) sebelum memasuki usia lanjut, seorang wanita akan melewati masa usia madya. Garis batas antara usia madya dan usia lanjut adalah 60 tahun. Usia madya dibagi menjadi dua yakni usia madya dini yang membentang antara usia 40 hingga 50 tahun dan usia madya lanjut yang membentang antara usia 50 hingga 60 tahun. Seorang wanita dalam menghadapi usia madya akan melewati masa premenopause. Respon setiap wanita dalam menghadapi masa premenopause berbeda-beda.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan Usia Harapan Hidup orang Indonesia adalah 75 tahun pada tahun 2025 (Siagian, 2003). Meningkatnya usia harapan hidup wanita Indonesia berdampak pada meningkatnya jumlah wanita usia lanjut (lansia) di Indonesia. Pada tahun 1980 jumlah lansia hanya 7,9 juta orang. Pada tahun 2006 angkanya melejit hingga lebih dua kali lipat menjadi 19 juta orang. Pada tahun 2020 diperkirakan 28,8 juta atau 11 persen penduduk Indonesia (Anonim, 2008). Usia harapan hidup wanita Indonesia pada tahun 2006 adalah 67 tahun (Hanifa, 2008). Diharapkan para wanita usia lanjut tersebut tetap dapat mempertahakan kualitas hidupnya (Anonim, 2005).
Perilaku wanita premenopause dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Wanita yang banyak mengalami kekhawatiran berasal dari orang-orang yang berpendidikan tinggi dan perekonomian menengah ke atas (Nisaa, 2004:53). Wanita yang bekerja pun umumnya lebih siap menghadapi masa premenopause daripada yang tidak bekerja. Mungkin hal ini disebabkan mereka yang bekerja terbiasa menghadapi stress. Dengan demikian masa premenopause bagi mereka sama saja menghadapi stress yang memang sering mereka atasi dalam masalah-masalah pekerjaan (Simamora, 1996:229).
Sindrom menopause dialami oleh banyak wanita hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80% wanita Eropa, 60% di Amerika, 57% di Malaysia, 18% di Cina dan 10% di Jepang dan Indonesia (Urnobasuki, 2004). Hasil survey awal dari 10 wanita premenopause di Dusun Pucung Desa Dayu Kecamatan Godangrejo Kabupaten Karanganyar menunjukkan 40% wanita premenopause tidak bisa menerima premenopause dengan ciri-ciri sulit tidur, gelisah tanpa alasan, sering tersinggung dan tak mudah mengendalikan emosi.
Beberapa dampak premenopause yang sering terjadi di masyarakat adalah kecemasan, takut, lekas marah, ingatannya menurun, sulit konsentrasi, gugup, merasa tidak berguna, mudah tersinggung, stress bahkan depresi (Anonim, 2008). Para wanita usia lanjut tersebut juga rentan terhadap penyakit degeneratif misalnya osteoporosis, penyakit jantung koroner, kanker, darah tinggi dan Dimensia tipe alzheimer (Kasdu, 2002:40-74).
Upaya-upaya yang bisa dilakukan wanita di masa premenopause untuk mengurangi berbagai keluhan yang sedang dialaminya adalah dengan meningkatkan cara berfikir positif bahwa terjadinya premenopouse merupakan suatu proses alamiah yang harus diterima sebagai alur perjalanan hidup manusia, Terapi Sulih Hormon (TSH), olahraga, nutrisi yang cukup terutama dengan mengonsumsi makanan yang mengandung kedelai, gaya hidup sehat dengan tidak merokok dan minum minuman keras, pemeriksaan kesehatan secara berkala, meningkatkan kehidupan religi, menganjurkan para wanita premenopause untuk mengikuti posyandu lansia, seminar dan ceramah tentang menopause (Kasdu, 2002:84-124).
Berdasarkan hal-hal di atas peneliti ingin mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Premenopause adalah masa di mana tubuh mulai bertransisi menuju menopause. Masa ini bisa terjadi selama dua hingga delapan tahun ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause (Rahmi, 2008). Waktu premenopause usia 40-49 tahun (Anonim, 2008). Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa premenopause meliputi perubahan organ reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik dan psikologis. Perubahan organ reproduksi meliputi rahim yamg atropi, lipatan-lipatan saluran telur yang lebih pendek, ukuran indung telur mengecil, pengerutan dan pemendekan serviks, kontraktur vagina dan penipisan jaringan vulva. Perubahan hormon estrogen yang berkurang mengakibatkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang bahkan siklus haidnya mulai terganggu. Perubahan fisik meliputi gangguan haid, perasaan panas, keringat berlebihan, vagina kering, tidak dapat menahan air seni, kulit kering dan keriput, penambahan berat badan, gangguan mata, nyeri tulang dan sendi. Perubahan psikologis meliputi ingatan yang menurun, kecemasan, mudah tersinggung, stress, dan depresi. Respon wanita dalam menghadapi premenopause dibagi menjadi 2 yakni menerima dan menolak. Menurut Nisaa (2004) disebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi respon wanita dalam menghadapi premenopause adalah status marital, paritas, pekerjaan dan pendidikan. Sedangkan menurut http://www.medicastore.com/nutrifor/isi.php?isi=gejala faktor yang lain adalah psikis, sosial ekonomi, budaya dan lingkungan. Dalam penelitian ini akan diteliti hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah adakah hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause?
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause di Dusun Sumurbur, Desa Nglanduk, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi tingkat pendidikan wanita premenopause.
2. Mengidentifikasi pekerjaan wanita premenopause.
3. Diketahuinya respon wanita dalam menghadapi premenopause, baik yang menerima maupun yang menolak.
4. Menganalisa hubungan tingkat pendidikan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
5. Menganalisa hubungan pekerjaan terhadap respon wanita dalam menghadapi premenopause.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Terbuktinya teori bahwa tingkat pendidikan dan pekerjaan ada hubungannya dengan respon wanita dalam menghadapi premenopause diharapkan para wanita premenopause mempunyai koping yang positif dalam merespon perubahan-perubahan yang terjadi selam premenopause sehingga tetap dapat mempertahankan kualitas hidupnya.
1.5.2 Manfaat praktis
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah pengetahuan tentang premenopause, sebagai acuan bidan dalam mengatasi keluhan-keluhan wanita dalam menghadapi premenopause serta dapat menambah kepustakaan sebagai sarana memperkaya ilmu pengetahuan pembaca khususnya tentang premenopause.





BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian terdahulu
Menurut penelitian Astuti (2007) yang berjudul “Hubungan status marital dan paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause” di Dusun Ngronggi, Desa Grudi kec Ngawi kab Ngawi dengan besar sampel sebanyak 122 orang dan menggunakan teknik simple random sampling serta hasil korelasi menggunakan Spearman Rank dengan tingkat kesalahan 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara status marital dengan respon wanita dalam menghadapi menopause dengan nilai signifikasi sebesar 0,420. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian wanita dengan status marital menikah 44,3% memiliki respon menerima datangnya menopause, wanita dengan status marital menjanda 24,5% menerima datangnya menopause dan untuk wanita tidak menikah 5,7% menolak datangnya menopause. Sedangkan antara paritas dengan respon wanita dalam menghadapi menopause terdapat hubungan yang signifikan sebesar 0,005. Hal ini terbukti dari hasil penelitian yakni semakin banyak jumlah paritas wanita, semakin tinggi pula tingkat penerimaan wanita tersebut dalam menghadapi menopause.
2.2 Pendidikan
2.2.1 Pengertian
Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/pendidikan, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.2.2 Visi dan misi pendidikan nasional
Dalam rangka pembaharuan sistem pendidikan nasional dan strategi pendidikan nasional, pendidikan nasional mempunyai visi “Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua Warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah”.
Dengan visi pendidikan tersebut pendidikan nasional mempunyai misi:
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar.
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (Saefudin, 2003:viii-ix).

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - KTI KEBIDANAN : HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN TERHADAP RESPON WANITA DALAM MENGHADAPI PREMENOPOUSE

KTI KEBIDANAN : GAMBARAN RESPON PSIKOLOGIS WANITA MENOPAUSE DI DESA XXX

KTI KEBIDANAN
GAMBARAN RESPON PSIKOLOGIS WANITA MENOPAUSE DI DESA

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah
Keluarga memberikan wanita arena bermain dan jaminan keamanan untuk melaksanakan fungsi-fungsi kewanitaannya. Semakin mantap wanita itu memainkan berbagai peranan sosial dalam keluarga, semakin positif dan makin produktiflah dirinya. Oleh karena agar wanita mampu melaksanakan macam-macam peranannya itu diperlukan kedewasaan psikis.
edewasaan psikis mengandung pengertian memiliki emosi yang stabil, bisa mandiri menyadari tanggung jawab, mempunyai tujuan dan arah hidup yang jelas serta produktif kreatif. Melalui kedewasaan psikis tersebut akan tercapai kestabilan-keseimbangan jiwa dalam kebahagiaan hidupnya. Kedewasaan psikis diperlukan dalam setiap periode kehidupan wanita terutama pada periode dewasa dan tua karena pada periode ini terjadi perubahan-perubahan yang signifikan baik fisik maupun psikologisnya (Kartono, 1992 : 312). Pada periode ini diharapkan wanita telah mempunyai kedewasaan secara psikis yang mantap dalam arti memiliki respon yang positif dalam menjalani berbagai perannya.
Periode tua atau sering disebut periode terakhir dalam rentang kehidupan merupakan suatu periode di mana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu. Yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat (Hurlock, 1997 : 57). Pada wanita, periode ini disebut periode nenek-nenek yang ditandai dengan regresi-regresi atau kemunduran tertentu baik yang bersifat fisik maupun psikis (Kartono, 1992 : 317). Dari kemunduran-kemunduran ini kemudian timbul masalah kesehatan. Salah satu yang dialami nenek-nenek atau usia lanjut adalah menopause.
Menurut Pittsburg (1996) sebagian besar wanita menopause di dunia tidak mengetahui tentang menopause. Wanita menopause yang tidak mengetahui tentang menopause hampir 80,9%. Sebagian besar dari mereka berespon yang bermacam-macam terhadap datangnya masa ini, yaitu mengalami kecemasan, depresi, stres, mudah marah, daripada wanita yang mengetahui menopause (Wiknjosastro, 1997 :312). Studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti Desa xxx kecamatan xxx dari 25 orang menopause yang ditemui 15 orang diantaranya belum mengetahui tentang menopause. Keadaan ibu-ibu itu dalam kondisi cemas ditandai dengan ibu tampak gelisah, banyak bertanya keadaan dan kekhawatiran akan bahaya yang ditimbulkan menopause.
Fase menopause disebut pula sebagai periode klimakterium (climacter = tahun perubahan, pergantian tahun yang berbahaya). Pada saat ini terjadi banyak perubahan dalam fungsi-fungsi fisik dan diikuti dengan pergeseran dan perubahan psikis pribadi yang bersangkutan yang dimanifestasikan dalam simptom-simptom psikologis antara lain ialah : depresi-depresi (kemurungan), mudah tersinggung dan mudah menjadi marah, mudah curiga, diliputi banyak kecemasan, insomnia atau tidak bisa tidur karena sangat bingung atau gelisah (Kartono, 1992:318-319). Setiap wanita memiliki persepsi dan respon yang beragam mengenai menopause. Sebagian berpendapat bahwa menopause awal mengalami kemunduran fungsi kewanitaan secara keseluruhan bahkan ada yang berpendapat bahwa menopause sebagai bencana di usia senja, karena perubahan-perubahan sistem hormonal itu mempengaruhi segenap konstitusi psikosomatis atau rohani dan jasmani sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif menyeluruh dari individu yang bersangkutan.
Program pemerintah yang terkait dengan masalah ini adalah program posyandu lansia. Dalam pelaksanaannya ibu-ibu menopause diberi penyuluhan tentang menopause oleh tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat sehingga diharapkan ibu-ibu menopause dan pre menopause tidak cemas dalam menghadapi masa menopause (Anonim, 1991: 17).
Salah satu cara untuk mengatasi gangguan psikologis tentang menopause adalah dengan usaha resignasi (sumeleh, sumarah, tawakal) tanpa kompensasi untuk menghadapi situasi dan kondisi ketuaan, tanpa rasa kecemasan dan usaha resignasi ini merupakan usaha paling sulit bagi setiap manusia (resignasi = berusten = tawakal = menerima dengan hati sumarah). Selain itu banyak kemajuan di bidang kedokteran di kelak kemudian hari orang bisa mengurangi kesulitan-kesulitan fisik dan psikis periode klimakteris dengan memberikan pengaruh tertentu pada aparat endokrin. Namun untuk saat sekarang ini tidak ada jalan lain kecuali wanita setengah umur ini harus mau dan bisa menerima status quo (keadaan dirinya pada saat itu) yang mulai menjadi tua serta akan sangat bijaksanalah apabila wanita-wanita tersebut mampu melihat segi-segi positif dari pengalaman hidupnya sampai saat itu (Kartono, 1992: 334).
Dari sekilas gambaran pada latar belakang tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian yaitu untuk mengetahui lebih nyata gambaran respon psikologis pada ibu-ibu menopause Desa xxx kecamatan xxx.
1.2 Identifikasi faktor penyebab masalah
Periode klimakterium atau menopause merupakan periode kritis. Sebabnya ialah perubahan-perubahan dalam sistem hormonal itu mempengaruhi segenap konstitusi psikosomatis (rohani dan jasmani) sehingga berlangsung proses kemunduran yang progresif dan total oleh banyaknya perubahan dan kemunduran tersebut terjadilah krisis dalam kehidupan psikis pribadi yang bersangkutan. Dengan adanya perubahan-perubahan tersebut akan timbul masalah-masalah misal kurangnya pengetahuan dan informasi atau fakta-fakta yang dibutuhkan, kurangnya kemampuan untuk mengambil keputusan bagaimana harus bersikap terhadap perubahan, kekuatiran terhadap resiko yang mungkin ada pada tindakan yang diambil dan yang terakhir adalah kurangnya dukungan sosial ( Dannis dan D “Augelly (1982) dalam Niven (2000 : 150).
Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan adanya perubahan dalam diri individu tersebut akan muncul macam-macam respon dengan tahapan-tahapannya seperti yang dikemukakan oleh Hopson (1981) dan Hopson dan Scally (1992) dalam Niven (2000) halaman 158 menyatakan bahwa ada tujuh fase yang menyertai terjadinya perubahan. Siklus ini merupakan pola umum dan bukan rangkaian kejadian yang sifatnya kaku. Perjalanan melalui siklus ini tidak mulus dan terus menerus. Beberapa orang dapat terombang-ambing diantara tahap-tahap tersebut, yang lain membutuhkan jumlah waktu yang berbeda untuk menyelesaikan suatu perubahan sedang yang lainnya menjadi “terpaku” pada tahap tertentu dan tidak mampu melanjutkan lebih jauh. Tentunya perubahan suasana hati juga akan bervariasi dari satu keadaaan ke keadaan yang lain.
1.3 Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti dapat merumuskan masalah yaitu, “ Bagaimanakah gambaran respon psikologis pada wanita menopause Desa xxx kecamatan xxx ? ”.
1.4 Tujuan penelitian
1.4.1 Tujuan umum
Diketahuinya gambaran respon psikologis pada wanita menopause Desa xxx kecamatan xxx.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mengidentifikasi karakteristik umur, pendidikan dan pekerjaan responden.
2. Mengidentifikasi gambaran respon psikologis pada wanita menopause Desa xxx kecamatan xxx.
1.5 Manfaat penelitian
1.5.1 Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan teori yang ada tentang menopause.
1.5.2 Manfaat praktis
1. Bagi peneliti
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam bidang penelitian. Menambah wawasan peneliti mengenai gambaran psikologis pada wanita menopause.
2. Bagi petugas pelayanan kesehatan
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam memberikan asuhan pada wanita menopause agar dapat menjalani menopause tanpa ada cemas maupun depresi.
3. Bagi responden/masyarakat
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana informasi dan menambah pengetahuan tentang menopause.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini akan diuraikan konsep dasar yang melandasi judul penelitian yaitu tentang menopause dan respon psikologis.
2.1 Konsep dasar menopause
2.1.1 Pengertian menopause
Menopause berasal dari kata meno artinya bulan, pause, pausa, pasico artinya periode atau tanda berhenti. Jadi menopause artinya berhentinya secara degeneratif menstruasi. Menopause adalah berhentinya menstruasi, berhentinya ovulasi dengan disertai penurunan fungsi dari organ reproduksi dan akhirnya bagian-bagian dari tubuh perlahan-lahan menunjukkan tanda-tanda ketuaan (Kartono, 1992: 318). Menopause merupakan periode akhir dari menstruasi (kira-kira 1 tahun) pada wanita yang berumur 45-60 tahun.
International Menopause Society (IMS), pada tahun 1999, menyampaikan rekomendasi berdasarkan definisi WHO (1996). Menopause alamiah (natural menopause) adalah berhentinya menstruasi secara permanen sebagai akibat hilangnya aktivitas ovarium. Menopause alami ini dikenal bila terjadi amenorea selama 12 bulan berturut-turut, tanpa ditemukan penyebab patologi atau fisiologi yang jelas (Martaadisoebrata, 2005 : 56).

2.1.2 Pembagian masa menopause
Masa menopause menurut Kartono (1992), dibagi menjadi 2 :
1. Tahap awal
Tahun-tahun di mana saat haid/menstruasi sudah tidak teratur, sering terganggu atau sudah tidak sama sekali. Namun aparat endokrin seksual masih terus berfungsi. Periode ini disebut sebagai masa pra klimakteris.
2. Tahap kedua
Menampilkan gejala : berhentinya secara definitif organisme yang membentuk sel-sel telur, yaitu berhentinya organisme tersebut sebagai lembaga kehidupan tingkah laku seseorang. Pada periode ini sifatnya sering lucu dan aneh, janggal dan tidak pada tempatnya. Tingkah laku tersebut dimaksudkan untuk mengingkari ketuaannya dan ingin mengulangi kembali pola kebiasaan dimasa muda, menghiasi dirinya dengan pakaian dan perhiasan yang berlebihan agar kelihatan masih remaja.
2.1.3 Tanda-tanda menopause
Menurut Kartono (1992) menopause ditandai dengan menstruasi tidak lancar dan tidak teratur, biasanya datang dalam interval waktu lebih lambat atau lebih awal dari biasanya. Kotoran haid yang keluar banyak sekali ataupun sangat sedikit. Muncul gangguan-gangguan vasomotorik berupa penyempitan atau pelebaran pada pembuluh-pembuluh darah. Merasa pusing-pusing saja, disertai sakit kepala terus menerus. Berkeringat tidak hentinya. Neuralgia atau gangguan sakit saraf.
2.1.4 Perubahan pada masa menopause
1. Perubahan kejiwaan
Perubahan kejiwaan dialami menjelang menopause meliputi merasa tua, tidak menarik lagi, rasa tertekan karena takut menjadi tua, mudah tersinggung, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami, rasa takut suami akan menyeleweng, keinginan seksual menurun dan sulit mencapai orgasme, merasa tidak berguna, merasa memberatkan keluarga dan orang lain (Manuaba, 1999: 67).
Sebagian perempuan menganggap menstruasi secara fisik merusak dan melemahkan tubuh. Oleh karena itu, mereka ingin cepat tidak menstruasi lagi (menopause). Di samping itu, bagi perempuan muslim menstruasi dianggap sebagai mengganggu kegiatan ibadah (sholat, puasa). Akan tetapi sebagian lagi menginginkan makin bertambah usia, menstruasi akan terus berlangsung. Hal ini karena menstruasi dianggap vital bagi tubuh, dibutuhkan agar awet muda dan menjadi koreksi terhadap kelambanan akibat penuaan. Bagi golongan ini, menopause merupakan ancaman terhadap identitas keperempuanan (Martaadisoebrata, 2005: 56).
2. Perubahan fisik
Menurut Bromwich (1992) perubahan fisik wanita menopause meliputi :
a. Perubahan kulit
Lemak bawah kulit berkurang sehingga kulit menjadi kendor. Kulit mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi hitam.Pada kulit tumbuh bintik hitam. Otot bawah kulit muka mengendor sehingga jatuh dan lembek. Kelenjar kulit kurang berfungsi, sehingga kulit menjadi kering dan keriput.
b. Perubahan metabolisme
Ditandai dengan menurunnya pengeluaran hormon tiroksin dan insulin, pembakaran dan keperluan tubuh menjadi menurun. Bila pola makan tetap bebas seperti umur sakitar 30 tahun, maka kelebihan bahan nutrisi akan disimpan dalam bentuk lemak dan gula. Akibatnya akan terjadi kegemukan, dimana deposit lemak terdapat pada bokong, payudara dan perut. Kelebihan gula (makanan yang mengandung gula) dapat menyebabkan gangguan metabolisme gula yang akan menjurus pada penyakit kencing manis (diabetes melitus).
c. Perubahan kerja usus halus dan usus besar
Menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja halus. Kemampuan mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus halus dan besar yang lanbat menimbulkan gangguan buang air besar berupa obstipasi (sembelit).
d. Perubahan sistem jantung dan pembuluh darah
Terjadi karena adanya perubahan metabolisme, menurunnya estrogen, menurunnya pengeluaran hormon paratiroid. Hubungan emosi dengan sistem ini menimbulkan jantung mudah berdebar. Meningkatnya hormon FSH dan LH dan rendahnya estrogen dapat menimbulkan perubahan pembuluh darah. Melebarnya pembuluh darah pada wajah, leher dan tengkuk menimbulkan rasa panas yang disebut “hot flushes“. Penimbunan kolesterol pada pembuluh darah menimbulkan penyakit jantung koroner.
e. Perubahan pada organ reproduksi
Perubahan pada orang reproduksi, meliputi : (1) Uterus (kandungan-rahim), yaitu : uterus mengecil selain disebabkan oleh menciutnya selaput lendir rahim (atrofi endometrium) juga disebabkan hilangnya cairan dan perubahan bentuk jaringan ikat antar sel. Serabut otot rahim menebal, pembuluh darah otot rahim menebal dan menonjol ; (2) Tuba falopi, yaitu : lipatan-lipatan tuba menjadi pendek, menipis dan mengerut, endosalping menipis, mendatar serta rambut getar dalam tuba (silia) menghilang ; (3) Ovarium (indung telur), yaitu : wanita mempunyai 733.000-750.000 folikel primordial. Semakin tua, jumlah folikel primordial tersebut akan semakin berkurang. Siklus haid menjadi anovulasi, ovarium menciut, mengeras, tidak mengandung badan kuning (korpus luteum) dan selaput pembungkusnya (tunika albugenia) menebal ; (4) Serviks (leher rahim), yaitu : serviks akan mengerut sampai terselubung oleh dinding vagina, kripta servikal menjadi atropi, kanalis servikalis memendek, sehingga ukuran servik pada wanita dalam masa menopause menyerupai ukuran serviks fundus saat adolesen ; (5) Vagina (liang senggama), yaitu : terjadi penipisan dinding vagina yang menyebabkan hilangnya lipatan vagina, berkurangnya pembuluh darah yang menyuplai darah ke vagina, penurunan elastisitas, sekret vagina menjadi encer dan indek koriopiknotik menurun. Derajat keasamaan vagina meningkat sehingga mudah terjadi infeksi vagina ; (6) Vulva (mulut kemaluan), yaitu : jaringan vulva menipis karena jaringan lemak dan elastik berkurang. Lipatan vulva mengerut. Sering timbul pruritus atau rasa gatal pada vulva yang disebabkan atrofi dan hilangnya sekret kulit. Hal ini berhubungan dengan nyeri waktu senggama, mengerutnya introitus (lubang masuk kelamin) serta berkurangnya serabut pembuluh darah dan serabut elastik. Rambut pubis di mons pubis berkurang tebalnya ; (7) Dasar pinggul, yaitu : kekuatan dan elastisitas dasar pinggul menghilang karena terjadi penciutan (atrofi) dan melemahnya daya sokong akibat prolapsus uterovagina atau turunnya alat-alat kelamin bagian dalam.
f. Perubahan tubuh lainnya
Perubahan tubuh lainnya, meliputi : (1) Anus (lubang pelepasan) dan jaringan sekitarnya (perineum), yaitu : lemak di bawah kulit menghilang, tonus spinkter ani melemah dan terjadi inkontinentia alvi vagina ; (2) Vesika urinaria (kandung kemih), yaitu : aktivitas kendali sfingter dan otot kandung kencing hilang ; (3) Kelenjar payudara, yaitu : lemak subkutan diserap, parenkim atrofi, lobulus menciut, stroma jaringan ikat fibrosa menebal. Puting susu mengecil, kurang erectil, pigmentasi berkurang, payudara mendatar dan mengendor.
g. Perubahan pada susunan ekstragenital
Perubahan pada susunan ekstragenital, meliputi : (1) Adipositas (penimbunan lemak), yaitu : penyebaran lemak ada ditungkai atas, punggul,perut bawah dan lengan atas ; (2) Hipertensi (tekanan darah tinggi), yaitu : akibat gejolak panas, terjadi peningkatan tekanan darah. Dua pertiga penderita hipertensi esensial primer adalah wanita berusia 45-70 tahun ; (3) Hiperkolesterolemia (kolesterol darah tinggi), yaitu : penurunan estrogen menyebabkan peningkatan kolesterol dan penurunan lemak total, peningkatan kadar kolesterol merupakan faktor utama penyebab aterosklerotik ; (4) Aterosklerotik (perkapuran dinding pembuluh darah), yaitu : hipertensi dan peningkatan kolesterol menyebabkan meningkatnya resiko aterosklerotik. Perkapuran darah jantung dan kematian sel otot jantung, akan terjadi 1-2 kali lebih sering setelah kadar estrogen menurun ; (5) Variliasis (tumbuhnya rambut), yaitu : turunnya kadar hormon E2 dalam darah dan meningkatnya pembentukan estron (E1) yang memiliki efek androgen menyebabkan adanya tanda maskulinisasi, seperti mineral pertumbuhan rambut ; (6) Osteopenia (pengurangan kadar mineral tulang), yaitu : turunnya kadar estrogen, pematangan sel tulang terhambat, akibatnya tulang mudah patah.
2.1.5 Penatalaksanaan pada wanita menopause
Menurut Bromwich (1992) untuk mengatasi keluhan-keluhan yang ada, para wanita dalam menopause dapat datang ke dokter penyakit dalam untuk memeriksa kemungkinan terjadinya arteriosklerosis dan osteoporosis. Seorang ahli jiwa dapat membantu para wanita menyesuaikan diri pada perubahan-perubahan yang terjadi pada menopause. Kelainan pada alat kandungan dan payudara tentunya perlu dikonsultasikan pada dokter ahli kandungan. Bagaimanapun juga pengobatan secara dini akan jauh lebih berhasil daripada kelainan yang lebih lanjut. Secara medik dasar penatalaksanaan menopause meliputi :
1. Penatalaksanaan umum meliputi wawancara dan pendidikan.
Dalam langkah pertama ini perlu ditekankan pada penderita bahwa berlalunya masa ini dalam kehidupan tidak berarti berakhirnya kehidupan yang baru hubungan antara penderita dengan dokter yang saling percaya mempercayai akan dapat memberikan sokongan yang besar dalam mencegah terjadinya banyak salah paham sehubungan dengan masalah yang peka ini. Penanganan non spesifik lain dapat berupa psikoterapi pendidikan dan penyebarluasan pengetahuan tentang menopause ini bahwa menjadi tua adalah wajar.
2. Pengobatan gejala hormonal
Gejala-gejala menopause yang cukup berat harus diobati secara selektif dengan medika mentosa (obat-obatan) yang sesuai dengan keadaan perorangan. Dalam prakteknya pengobatan akan sangat ditunjang oleh latihan-latihan jasmani yang teratur. Istirahat yang cukup, serta diet yang sesuai. Pemberian obat penenang sebagai usaha mengatasi masalah tidak dianjurkan.
3. Pengobatan hormonal
Walaupun menopause merupakan peristiwa normal, namun merupakan pula suatu keadaan kekurangan hormon. Sasaran dalam pengobatan ini adalah mengembangkan keseimbangan hormonal oleh karena itu sebagai tambahan langkah pertama dan kedua kekurangan estrogen harus diperbaiki pula, obat-obatan yang dipakai tersedia dalam bentuk tablet.
4. Pembedahan
Sekitar 40-70% wanita yang mengalami perdarahan abnormal sebelum menopause akan sembuh dengan tindakan kureta sel (pengerokan selaput lendir rahim) dan tidak membutuhkan pengobatan hormon pengganti tergantung hasil pemeriksaan. Secara mikroskopis menunjang. Proses yang buruk kadang-kadang harus dilakukan pengangkatan rahim.
Ada atau tidak keluhan dalam menopause, hendaknya wanita merencanakan untuk diperiksa secara berkala, paling sedikit enam bulan sekali pemeriksaan ini penting sekali untuk mengetahui dan mengobati adanya kelainan yang mungkin terjadi pada usia 40 an, khususnya keganasan. Banyaknya kelainan-kelainan yang ada dapat disembuhkan dengan pengobatan sederhana, terutama bila diketahui dini (Bromwich, 1992 : 109).
2.2 Respon Psikologis
2.2.1 Pengertian
Menurut Purwodarminto (1989) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia respon adalah tanggapan, reaksi, jawaban sedangkan psikologis artinya bersifat kejiwaan. Jadi dapat di simpulkan bahwa respon psikologis adalah merupakan tanggapan, reaksi dari seseorang terhadap sesuatu.
Menurut Edwards (1957) dalam Azwar (2003) menurut pendekatan sikap, respon psikologis dapat didefinisikan sebagai derajat afek (penilaian) positif atau afek negatif terhadap suatu subyek psikologis.
2.2.2 Proses terjadinya respon psikologis
Menurut Walgito (1992) proses terjadinya respon psikologis adalah sebagai berikut,manusia akan selalu menerima rangsang atau stimulus baik dari lingkungan maupun dari dalam dirinya sendiri yang dapat menyebabkan manusia mengadakan respon terhadap stimulus yang mengenainya. Respon ada 2 macam yaitu : respon yang tergambar dalam ekspresi wajah individu dan respon psikologis. Secara skematis hal tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut :





Gambar 2.1 Proses terjadinya respon psikologis
St : Stimulus
SP : Struktur pribadi individu
Skema tersebut memberikan gambaran bahwa individu menerima bermacam-macam stimulus yang datang dari lingkungan. Tetapi tidak semua stimulus akan diperhatikan atau akan diberikan respon. Individu mengadakan seleksi terhadap stimulus yang mengenainya dan disini berperannya perhatian. Sebagai akibat dari stimulus yang pilihnya dan diterima oleh individu, individu menyadari dan memberikan respon sebagai reaksi terhadap stimulus tersebut.
Menurut Azwar (2003) salah satu karakteristik reaksi/respon perilaku manusia yang menarik adalah sifat deferensialnya. Maksudnya satu stimulus dapat menimbulkan lebih dari satu respon yang berbeda dan beberapa stimulus yang berbeda dapat saja menimbulkan satu respon yang sama. Secara ilustratif hal itu dapat digambarkan sebagai berikut:





Gambar 2.2 Reaksi/respon perilaku manusia
Dalam ilustrasi di atas, S melambangkan bentuk stimulus lingkungan yang diterima oleh individu I yang menimbulkan respon yang dilambangkan oleh R. Jadi, respon R3 dapat saja timbul dikarenakan stimulus S3 ataupun oleh stimulus S1 dan stimulus S2 dapat saja menimbulkan respon R2 ataupun respon R4.
Tidak semua stimulus akan direspon oleh organisme atau individu. Respon diberikan oleh individu terhadap stimulus yang ada persesuaian atau yang menarik perhatian individu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa yang dipersepsi individu selain tergantung pada stimulusnya juga tergantung pada keadaan individu yang bersangkutan. Stimulus yang mendapatkan pemilihan dari individu tergantung kepada bermacam-macam faktor, salah satunya adalah perhatian individu yang merupakan aspek psikologis individu dalam mengadakan respon.
Keadaan individu pada suatu waktu ditentukan oleh :
1. Sifat struktural dari individu, yaitu keadaan individu yang bersifat permanen. Ada individu yang suka memperhatikan suatu hal sekalipun hal itu kecil atau tidak berarti, tetapi sebaliknya ada individu yang mempunyai sifat acuh tak acuh terhadap keadaan yang ada disekitarnya.
2. Sifat temporer dari individu, yaitu keadaan individu pada suatu waktu. Orang yang sedang dalam keadaan marah misalnya akan lebih emosional daripada kalau dalam keadaan biasa, sehingga individu akan mudah sekali memberikan reaksi atau respon terhadap stimulus. Keadaan yang temporer ini erat sekali hubungannya dengan stemming atau suasana hati dari individu.
3. Aktifitas yang sedang berjalan pada individu. Suatu hal atau benda pada suatu waktu tidak menarik perhatian seseorang, tetapi pada waktu yang lain justru sebaliknya, oleh karena pada waktu itu aktifitas jiwanya sedang berhubungan dengan benda tersebut.
2.2.3 Tahap-tahap respon psikologis yang menyertai rentang kejadian atau perubahan dalam kehidupan menurut Hopson (1981) dan Hopson dan Scally (1991) dalam Niven (2000 :158)
1. Tahap 1 : Imobilisasi
Reaksi yang pertama timbul dari perubahan adalah timbul rasa tidak percaya, mati rasa bahwa hal seperti itu tidak mungkin terjadi pada dirinya. Syok ini sebanding dengan tingkat krisis yang dialami oleh individu.
2. Tahap 2 (i) : Reaksi kegembiraan atau kesedihan.
Syok menyebabkan perubahan besar pada suasana hati baik kegembiraan ataupun kesedihan, tergantung pada perubahan yang dialami. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tingkat perubahan suasana hati akan tergantung pada situasi khusus yang sedang terjadi.
3. Tahap 2 (ii) : Reaksi-Pengurangan
“Kegembiraan” atau “kesedihan” akan diikuti oleh pengulangan pengalian. Pada kejadian dalam kehidupan yang sifatnya positif mungkin diikuti kesadaran bahwa seseorang akan dipandang dengan cara berbeda oleh teman-temannya. Kejadian dalam kehidupan yang sifatnya negatif mungkin akan menjadi lebih baik, mereka mungkin akan mempertimbangkan diri mereka sendiri lebih beruntung dibandingkan orang lain.
4. Tahap 3 : Meragukan diri sendiri.
Pada mulanya Hopson dan Adams (1976) menyebut tahap ini sebagai tahap depresi, yang sesuai digunakan untuk beberapa kejadian dalam kehidupan yang sifatnya negatif. Bagaimanapun juga depresi tidak selalu menjadi karakteristik dari suasana hati seseorang setelah mengalami kejadian yang positif. Dengan kejadian yang sifatnya negatif tahap pengurangan mungkin tidak tampak nyata dan individu dapat berpindah dari tahap kesedihan ke keraguan tanpa menyadari adanya perubahan. Emosi yang dihubungkan dengan tahap ini adalah ansietas, kemarahan dan kadang-kadang kesedihan.
5. Tahap 4 : Melepaskan.
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting dalam keseluruhan siklus karena tahap ini menandai adanya perubahan atau transisi dari masa lalu ke masa yang akan datang. Sampai titik ini individu biasanya masih terikat pada masa lalu. Keterikatan ini harus diputuskan agar dapat mengembangkan keterikatan yang lama tanpa mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga tahap ini menggambarkan titik di mana individu dapat mengubah tragedi dan bencana dalam hidup mereka menjadi titik baru untuk bertumbuh.
6. Tahap 5 : Menguji
Tahap ini merupakan masa percobaan di mana individu mencoba pilihan-pilihan baru, identitas dan keterikatan afektif. Tahap ini diikuti dngan perubahan suasana hati sesuai dengan keberhasilan dan kegagalan yang dialami. Perlahan-lahan individu menyusun titik di dalam siklus ini dan bergerak maju ke depan.
7. Tahap 6 : Mencari makna.
Dalam satu masa individu harus melihat kembali pada perubahan atau krisis dan mencoba untuk menalarkan apa yang terjadi pada dirinya. Tahap ini menggambarkan pada suatu usaha untuk belajar dari pengalaman. Apa yang dilakukan bukanlah keadaan hidup di masa lalu, tetapi merupakan suatu usaha yang benar-benar dilakukan untuk mencari arti dari apa yang terjadi. Hal ini merupakan contoh dari berpikir reflektif yang baik sekali.
5. Tahap 7 : Integrasi
Tahap akhir menuntaskan proses perubahan. Individu sekarang merasa adanya perasaan integrasi antara gaya hidup yang baru dengan krisis itu sendiri. Orang yang mempunyai kecacatan menjadi orang yang cacat dalam satu bidang dan terampil di bidang yang lain. Perjalanan melalui seluruh siklus ini memampukan individu untuk menghadapi krisis dan perubahan yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dengan kepercayaan diri dan juga dengan pemahaman bahwa setelah mampu mengatasi situasi yang sulit, mereka mampu juga menghadapi situasi sulit yang lain.
Proses mengalami krisis atau perubahan dalam kehidupan menyebabkan orang untuk melihat hidup mereka sendiri dengan cara yang berbeda, cara yang menghalangi kembalinya seseorang ke perspektif lama. Model Hopson menggambarkan usaha yang sederhana untuk menjelaskan pengalaman orang yang mengalami krisis dan perubahan dalam kehidupan.
Dengan semakin majunya perkembangan zaman maka diikuti dengan semakin banyaknya persoalan-persoalan atau masalah-masalah yang dihadapi oleh manusia. Menurut Kartono (1980) dalam bukunya Mental Hygiene meyatakan bahwa manusia memerlukan adjusment atau penyesuaian diri terhadap masalah tersebut supaya tercapai satu integrasi atau keseimbangan atau equilibrium batin. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa adjusment adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungannya sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa terkikis habis. Bentuk-bentuk respon yang tidak sesuai diatas adalah bentuk respon pribadi untuk mengadakan adjusment.
Jika respon tadi tidak tepat, tidak efisien dan tidak sehat dalam artian detrimental atau merugikan bagi kepentingan dirinya sendiri dan orang lain atau bahkan mungkin patologi sifatnya maka respon semacam ini kita sebut sebagai mal adjusment. Oleh karena itu, adjusment ini dapat ditafsirkan atau dijabarkan sebagai berikut :
1. Adjusment berarti adaptasi atau penyesuaian diri
Dalam pengertian yang lebih luas dapat mempertahankan eksistensinya atau bisa survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah. Juga dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan-tuntuan sosial.
2. Adjusment bisa diartikan sebagai konformitas
Konform atau cocok, pas sesuai dengan norma-norma hati nurani sendiri dan norma-norma sosial dalam kehidupan dimasyarakat.
3. Adjusment bisa diartikan sebagai penguasaan
Yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisir respon-respon sedemikian rupa sehingga bisa menguasai atau menanggapi segala macam konflik, kesulitan masalah hidup dan frustasi-frustasi dengan cara yang efisien. Ini adalah semacam bentuk penguasaan diri sendiri sehingga semua dorongan, impuls-impuls, emosi-emosi dan kebiasaan hidup selalu bisa dikontrol dan diatur dengan baik.
4. Adjusment diinterpretasikan secara bervariasi antara lain diartikan sebagai : kemampuan untuk meredusir dorongan-dorongan dan tekanan-tekanan batin, kecakapan menghadapi frustasi, mekanisme yang sehat untuk menanggapi kesulitan hidup, mencegah simptom-simptom ketegangan, menyusun pola-pola tingkah laku untuk menghadapi saat kritis, mampu menyelesaikan konflik-konflik dengan cara yang efisien, memiliki kapasitas untuk afeksi yang murni (true love).
5. Adjusment diartikan sebagai hygiene phisik
Cukup beristirahat dan tidur guna meredusir segala kecapaian dan gangguan batin. Hidup teratur dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Misalnya makan, latihan badan, dan mengadakan eliminasi yang teratur.
6. Adjusment diartikan sebagai penguasaan dan kematangan emosional
Memiliki cukup emosi dan sentimen yang adekuat, selalu merasa sesuai dan cocok. Ada rasa kasih sayang, simpati, altruisme respek, kelembutan dan kesediaan untuk menolong tanpa ada rasa permusuhan, benci, dendam, iri hati, cemburu, rasa-rasa inferior atau komplek, tanpa diganggu oleh rasa-rasa tidak berharga, dengki, penolakan dan lain-lain.
2.3 Kerangka konseptual
Kerangka konseptual adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2002 : 69)
Kerangka konseptual pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - KTI KEBIDANAN : GAMBARAN RESPON PSIKOLOGIS WANITA MENOPAUSE DI DESA XXX

KTI KEBIDANAN : PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS X

KTI KEBIDANAN
PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR
2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS X


lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
KESEHATAN merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan dalam membangun unsur manusia agar memiliki kualitas seperti yang diharapkan, mampu bersaing di era yang penuh tantangan saat ini maupun masa yang akan datang.
Pembangunan Kesehatan ini menjadi perhatian serius dalam masa kepemimpinan Gubernur , dan bahkan sektor ini merupakan salah satu agenda prioritas pembangunan selain pembangunan bidang lainnya. Mencermati aspek kesehatan dalam arti luas, maknanya tidak hanya sehat secara fisik namun juga psikis, termasuk di dalamnya kesehatan mental yang direfleksikan dalam inidikator kemampuan atau kecerdasan intelektual, emosional dan spritual. Dalam konteks ini jelas, derajat kesehatan dapat memberikan pengaruh ke berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dan harus diakui, selama ini masih banyak permasalahan kesehatan, seperti masih rendahnya derajat kesehatan dari warga miskin, akibat rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, minimnya dana yang dialokasikan untuk menunjang program kesehatan, beberapa penyakit menular, yang dapat menjadi ancaman utama bagi masyarakat. Namun di masa kepemimpinan gubernur , atau selama rentang waktu 2 (dua) tahun terakhir, periode 2006 dan semester I 2007, secara bertahap permasalahan-permasalahan kesehatan tersebut sudah dapat diatasi, bahkan pembangunan dalam bidang kesehatan ini telah mengalami berbagai kemajuan yang sangat berarti.
Upaya untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia, Dinas Kesehatan telah melakukan langkah-langkah peningkatan pelayanan kesehatan secara menyeluruh, terpadu dan terjangkau dengan mengembangkan berbagai peningkatan sarana kesehatan
(Profil Kesehatan Propinsi, 2008).
DAPATKAN KTI KEBIDANAN Ini BAB 1,2,3,4,5 dengan harga terjangkau HUB : 085727707236

Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator yaitu angka kematian bayi (AKB) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian balita (AKABA) per 1000 kelahiran hidup, angka kematian pneumonia pada balita per 1000 balita, angka kematian diare pada balita per 1000 balita per 1000 balita dan Angka Kematian Ibu melahirkan (AKI) per 1000 kelahiran hidup (Profil Kesehatan Propinsi, 2008).
Menurut Susenas 2001 Angka Kematian Balita di Indonesia sebesar 68 per 1000 kelahiran hidup, maka 340 ribu anak meninggal pertahun sebelum usia lima tahun dan diantaranya 155 ribu adalah bayi sebelum berusia satu tahun. Dari seluruh kematian tersebut sebagian besar disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan akut, diare dan gangguan perinatal/neonatal (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1 Depkes RI, 2004).
Angka Kematian Bayi di propinsi periode tahun 1995-2000 di perkirakan 65 per 1000 kelahiran hidup. Pada tahun 2000 berdasarkan Proyeksi Penduduk BPS menjadi 49 per 1000 kelahiran hidup. Kemudian pada tahun 2001 menjadi 41 per 1000 kelahiran hidup. Tetapi pada tahun 2003 angka kematian bayi meningkat menjadi 55 per seribu kelahiran hidup. Hal ini menunjukan bahwa sistem pencatatan dan pelaporan sudah mengalami peningkatan/tercovernya kasus baik secara aktif maupun pasif. Hasil ini belum mencapai target 2003 yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup dan target Jawa Tengah sehat 2010 dan Indonesia sehat 2010 40 per 1000 KH (Profil Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2005).
Penyebab kematian bayi adalah pneumonia sebesar 34%, diare 15% dan lain-lain 51%.
Grafik 1.1 Kasus kematian bayi per 1000 KH menurut Kab./Kota di Propinsi Jawa Tengah tahun 2005.






Sumber : Profil Kesehatan Kab./Kota Tahun 2006
Berdasarkan grafik 1.1 di atas terlihat bahwa Kota Metro pada kasus kematian bayi per 1000 kelahiran hidup lebih besar jika dibandingkan dengan Kab./Kota lainnya.
Angka kematian balita (0-<5 tahun) menggambarkan tingkat permasalahan anak dan faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi, sanitasi penyakit infeksi dan kecelakaan. Hasil SDKI 2002-2003 Angka Kematian Balita: 64 angka ini belum mencapai target 58 per 1000 Kelahiran hidup. Jumlah balita mati di propinsi pada tahun 2003 sejumlah 130 kasus, terbesar di Kabupaten Tulang Bawang (57 kasus dari 13.640 kelahiran) dan terendah di Kabupaten Tanggamus dan Kota Metro (0 kasus). Pada tahun 2004 sejumlah 109 kasus, terbesar di Kota Metro (40 kasus) dan terendah di Kabupaten Jawa Tengah Barat (1 kasus). Pada tahun 2005 jumlah kasusnya 224 kasus per 165.347 KH. (Profil Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2005).
Berdasarkan data pra survei yang terdapat dalam hasil kegiatan program penanggulangan penyakit di Kota Metro tahun 2005 didapatkan:
Grafik 1.2: Prosentase Cakupan Ispa Pneumonia Balita di Kota Metro tahun 2005.





Sumber : Evaluasi Program Penanggulangan Penyakit di Kota Metro tahun 2005.
Dari grafik di atas incidents rate teringgi yaitu di Puskesmas Ganjar Agung (21%) sedangkan terendah di Puskesmas Bantul (0%). Insiden rate penyakit pneumonia di Kota Metro yaitu 10,7%.
Grafik 1.3 : Insiden Rate Penyakit Diare per 1000 Penduduk di Kota Metro tahun 2005.









Sumber : Evaluasi Program Penanggulangan Penyakit di Kota Metro tahun 2005.

Dari grafik di atas Incidents rate tertinggi yaitu di Puskesmas Bantul (40 per 1000 penduduk) sedangkan terendah terdapat di Puskesmas Ganjar Agung (14,6 per 1000 penduduk). Incidents rate penyakit diare di Kota Metro yaitu 26,5 per 1000 penduduk.
Adapun gambaran kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Metro selama 5 tahun yaitu sebagai berikut: tahun 2001 sebanyak 2 kasus, tahun 2002 sebanyak 4 kasus dan 2003 sebanyak 7 kasus, pada tahun 2004 meningkat menjadi 95 kasus serta tahun 2005 terdapat 37 kasus DBD di kota metro tahun 2004 yaitu 76 per 100.000 penduduk, sedangkan incident rate DBD tahun 2005 yaitu 29 per 100.000 penduduk. hal ini berarti terjadi penurunan angka IR penyakit DBD di Kota Metro yaitu 0%, berarti angka CFR penyakit DBD masih di bawah target nasional (<2,5% pertahun).
Untuk penyakit malaria pada tahun 2005 tidak ditemukan penderita malaria. Di Kota Metro bukan merupakan daerah endemik malaria. Dari penderita malaria yang datang berobat ke Puskesmas di Kota Metro berasal dari luar wilayah.
Tabel 1. Data Penyakit PD 31 Per Puskesmas Kota Metro Bulan Januari s/d Desember 2005

No Kecamatan Puskesmas Penyakit PD 31
Diptheri Pertusis Tetanus neonatorum Campak hepatitis
1 Metro Pusat Yoso Mulyo 0 0 0 31 3
Metro 0 0 0 57 0
2 Metro Timur Iring Mulyo 0 0 0 59 0
3 Metro Utara Banjarsari 0 0 0 25 2
4 Metro Barat Ganjar Agung 0 0 0 20 0
5 Metro Selatan SS Bantul 0 0 0 0 0
JUMLAH 0 0 0 192 5
Sumber : Laporan SST Dinkes Kota Metro tahun 2005.
Dari tabel di atas diketahui bahwa penyakit campak merupakan penyakit terbanyak diderita balita dari pada penyakit diptheri, pertusis, TN, dan hepatitis. Untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat campak paling efektif dengan imunisasi.



Untuk data tentang jumlah bayi yang di Bawah Garis Merah dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Rekapitulasi Data LB 3 tentang Program Perbaikan Gizi tahun 2006
No Puskesmas Sasaran Jml bayi dengan KMS Jml Bayi Ditimbang Jml Bayi naik timbangan Jumlah Bayi BGM Jml Anbal dengan KMS Jml Anbal ditimbang Jml Anbal naik timbangan Jml Anbal BGM
Bayi Anbal
1 Metro 244 616 244 166 118 5 616 431 169 11
2 Yoso Mulyo 442 1233 442 334 278 3 1223 827 588 16
3 Banjarsari 391 1612 390 312 238 5 1610 993 628 16
4 Iring Mulyo 631 2758 631 494 420 3 2758 1392 884 17
5 SS Bantul 164 701 164 146 115 0 701 434 259 2
6 Ganjaragung 404 1252 404 286 201 5 1251 831 376 10
Kota Metro 2.276 8172 2275 1741 1370 21 8168 4908 2904 72
Sumber : Evaluasi Program Penanggulangan Penyakit di Kota Metro tahun 2005.
Dari tabel atas diketahui bahwa jumlah anak balita dan bayi yang masih di bawah garis merah mencapai angka yang cukup tinggi, yaitu 21 untuk bayi dan 72 untuk anak balita.
Dari data hasil survei dapat digarisbawahi bahwa pneumonia, diare, malaria, campak dan gizi buruk merupakan masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan yang intensif. Dewasa ini cara-cara yang cukup efektif untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita akibat penyakit tersebut. WHO dan UNICEF memperkenalkan 1 set pedoman terpadu yang menjelaskan secara dini penanganan penyakit-penyakit tersebut. Selanjutnya dikembangkan paket pelatihan untuk melatih proses manajemen terpadu balita sakit kepada tenaga kesehatan yang bertugas menangani anak sakit. Metode ini dikenal dengan Manajemen Terpadu Balita Sakit (Manajemen Terpadu Balita Sakit Modul-1, 2004).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian identifikasi masalah di atas, yang menjadi permasalahan yang nantinya akan diteliti adalah bagaimana tinjauan pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit di Puskesmas Xxx tahun 2007 ?

C. Ruang Lingkup Penelitian
Jenis penelitian : Deskriptif
Subjek penelitian : Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit
Objek penelitian : Tenaga kesehatan
Lokasi penelitian : Puskesmas di Kota Metro-Jawa Tengah
Waktu Penelitian : Februari-Mei 2007
Alasan penelitian : Untuk mengetahui seberapa besar keefektifan pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit di Puskesmas Kota Metro, dalam rangka penurunan angka kematian bayi dan balita di Propinsi Jawa Tengah khususnya Kota Metro tahun 2007.

D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun oleh bidan di Puskesmas Xxx tahun 2007.



E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat:
1. Bagi Institusi Pendidikan Akademi Kebidanan Wira Buana Metro memberikan manfaat sebagai bahan bacaan tentang pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit dan sebagai perbandingan serta dokumen untuk penelitian selanjutnya.
2. Bagi Peneliti
Menambah pengetahuan wawasan penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah sebagai penerapan ilmu yang di dapat dengan proses pembelajaran secara nyata membuat karya tulis ilmiah tentang Manajemen Terpadu Balita Sakit.
3. Bagi Tenaga Kesehatan
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan bagi petugas kesehatan khususnya yang bekerja di puskesmas agar dapat memberikan pelayanan kesehatan pada balita sakit menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit.
4. Bagi Peneliti Lain
Membuka wawasan dan menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan penelitian-penelitian khususnya tentang Manajemen Terpadu Balita Sakit.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Pengertian Manajemen Terpadu Balita Sakit
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi upaya kuratif terhadap penyakit pneumonia, diare, campak, malaria, infeksi telinga, malnutrisi, dan upaya promotif dan preventif yang meliputi imunisasi, pemberian vitamin A dan konseling pemberian makan yang bertujuan untuk menurunkan angka kematian bayi dan anak balita serta menekan morbiditas karena penyakit tersebut (Pedoman Penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit di Puskesmas, Modul-7. 2004). Balita (bawah lima tahun) yaitu anak umur 0-5 tahun (tidak termasuk umur 5 tahun) (MTBS, Modul 1, 2004).

2. Sejarah Terbentuknya MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu pendekatan pelayanan terhadap balita sakit yang dikembangkan oleh WHO. Dengan MTBS dapat ditangani secara lengkap kondisi kesehatan balita pada tingkat pelayanan kesehatan dasar, yang memfokuskan secara integrative aspek kuratif, preventif dan promotif termasuk pemberian nasihat kepada ibu sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan anak. Pemberian antibiotika sangat selektif sesuai klasifikasi dan dapat dan dapat membatasi beberapa klasifikasi yang akhirnya dapat menekan biaya pengobatan. Melihat keunggulan tersebut maka dapatlah dimengerti mengapa Indonesia termasuk salah satu pengguna dini dari pendekatan MTBS ini, bahkan Indonesia sekarang sudah sampai tahap pemantapan implementasi.
Pendekatan MTBS mulai diluncurkan oleh WHO pada tahun 1994 yang merupakan hasil kerjasama WHO dengan UNICEF serta lembaga lainnya. Sebelum pendekatan MTBS ini dipakai setiap negara dianjurkan untuk melakukan adaptasi terhadap bahan dan metode pelatihan. WHO telah menerbitkan petunjuk pelaksanaan adaptasi agar negara pelaksana lebih mudah melaksanakannya. Secara umum digariskan oleh WHO agar adaptasi dilakukan menjamin semua penyakit yang paling sering diderita balita, maka petugas kesehatan terdepan harus dapat menanganinya. Begitu pula adaptasi tersebut harus sejalan dengan kebijakan nasional serta kebijakan program dan dapat diimplementasikan pada sistem kesehatan yang sudah ada. Negara pengguna pendekatan MTBS dibenarkan untuk melakukan adaptasi lokal demi efektifitas dan efisiensi tetapi sampai tingkat tertentu pendekatan MTBS ini terstandarisasi, mulai dari bahan, metode, perangkat pelatihan serta cara, alat, monitoring dan evaluasi. Pendekatan MTBS ini dirancang menurunkan angka kematian balita di negara sedang berkembang (www.geogle.com, 2006).

3. Persiapan Penerapan MTBS di Puskesmas
Persiapan yang perlu dilakukan oleh setiap puskesmas yang akan mulai menerapkan MTBS dalam pelayanan kepada balita sakit, meliputi:
a. Diseminasi Informasi MTBS Kepada Seluruh Petugas Puskesmas
Dari langkah-langkah yang diterapkan dalam MTBS, jelas bahwa keterkaitan peran dan tanggung jawab antar petugas di puskesmas sangat erat. Oleh karena itu seluruh petugas kesehatan di puskesmas perlu memahami MTBS. Kegiatan diseminasi informasi MTBS kepada seluruh petugas puskesmas dilaksanakan dalam satu pertemuan yang dihadiri oleh seluruh petugas puskesmas yang meliputi perawat, bidan, petugas gizi, petugas imunisasi, petugas obat, pengelola SP2TP, pengelola program P2M, petugas loket dan lain-lain. Diseminasi dilaksanakan oleh petugas yang telah dilatih MTBS, bila perlu dihadiri oleh supervisor dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (MTBS, Modul -7, 2004).
Informasi yang harus disampaikan:
1) Konsep umum MTBS
2) Peran dan tanggung jawab petugas puskesmas dalam penerapan MTBS


b. Penyiapan Logistik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menerapkan MTBS adalah:
1) Penyiapan obat dan alat
Sebelum mulai menerapkan MTBS, harus dilakukan penilaian dan pengamatan terhadap ketersediaan obat di puskesmas. Secara umum, obat-obatan yang digunakan dalam MTBS telah termasuk dalam daftar obat esensial nasional (LPLPO) yang digunakan di puskesmas.
Obat-obat yang diperlukan adalah:
 Kotrimoksazol tablet dewasa atau tablet atau sirup
 Sirup Amoksilin atau tablet Amoksilin
 Kaplet Ampisilin
 Kapsul Tetrasiklin
 Tablet asam nalidiksat
 Tablet Klorokuin
 tablet Primakuin
 Tablet Sulfaduksin pirimetamin (fansidar)
 Tablet kina
 Diazepam Suppositoria
 Suntikan Kloramfenikol
 Suntikan Gentamisin
 Suntikan Penisilin prokain
 Suntikan Ampisilin
 Suntikan Kinin
 Suntikan Fenobarbital
 Diazepam infeksi (5 mg dan 10 mg)
 Tablet Nistatin
 Tablet Parasetamol atau sirup
 Tetrasiklin atau Kloramfenikol salep mata
 Gentian violet 1% (sebelum digunakan, harus diencerkn menjadi 0,25% atau 0,5% sesuai kebutuhan)
 Sirup besi (Sulfat ferosus) atau tablet besi
 Vitamin A 200.000 IU dan 100.000 IU.
 Tablet pirantel pamoat
 Aqua bides untuk pelarut
 Oralit 200cc
 Cairan infuse : Ringer laktat, Dextrose 5% NaCl
 Alkohol 70%
 Glycerin
 Povidone
(MTBS, Modul -7, 2004)


Peralatan yang dipergunakan dalam penerapan MTBS adalah:
- Timer ispa atau arloji dengan jarum detik
- Tensimeter dan manset anak (bila ada)
- Gelas, sendok dan teko tempat air matang dan bersih (digunakan dipojok oralit)
- Infuse set dengan wing needles no 23 dan no 25
- Semprit dan jarum suntik : 1ml ; 2,5 ml ; 10 ml
- Timbangan bayi
- Thermometer
- Kasa/kapas
- Pipa lambung
- Alat penumbuk obat
- Alat penghisap lendir
(MTBS, Modul -7, 2004).

2) Penyiapan Formulir MTBS dan Kartu Nasihat Ibu
Penyiapan formulir manajemen terpadu balita sakit dan kartu nasihat ibu (KNI) perlu dilakukan untuk memperlancar pelayanan.
Langkah-langkah dalam penyiapan formulir MTBS dan KNI:
Pertama-pertama hitung jumlah kunjungan balita sakit perhari dan hitunglah kunjungan perbulan. Jumlah keseluruhan kunjungan balita sakit merupakan perkiraan kebutuhan formulir MTBS selama satu bulan. Formulir adalah untuk anak umur 2 bulan sampai 5 tahun, sedangkan kebutuhan formulir pencatatan untuk bayi muda, didasarkan pada perkiraan jumlah bayi baru lahir di wilayah kerja puskesmas, karena sasaran ini akan dikunjungi oleh bidan desa melalui kunjungan neonatal.
Untuk percetakan KNI hitunglah sebanyak jumlah kunjungan baru balita sakit dalam sebulan ditambah perkiraan jumlah bayi baru lahir dalam sebulan. Selama tahap awal penerapan MTBS, cetaklah formulir MTBS dan KNI untuk memenuhi kebutuhan 3 bulan pertama (MTBS, Modul -7, 2004).

3) Penyesuaian Alur Pelayanan
Salah satu konsekuensi penerapan MTBS di puskesmas adalah waktu pelayanan menjadi lebih lama. Untuk mengurangi waktu tunggu bagi balita sakit. Langkah-langkah tersebut adalah sejak penderita datang hingga mendapatkan pelayanan yang lengkap, meliputi:
a) Pendaftaran
b) Pemeriksaan dan konseling
c) Tindakan yang diperlukan di klinik
d) Pemberian obat atau
e) Rujukan bila diperlukan
(MTBS, modul -7, 2004)




4. Penerapan MTBS di Puskesmas
Dalam memulai penerapan MTBS di puskesmas, pertama kali harus dilakukan penilaian terhadap jumlah kunjungan balita sakit perhari. Seluruh balita sakit yang datang ke puskesmas diharapkan ditangani dengan pendekatan MTBS, bila jumlah kunjungannya tidak banyak (kurang dari 10 kasus perhari) akan tetapi bila perbandingan jumlah petugas kesehatan yang telah dilatih MTBS dan jumlah balita sakit perhari cukup besar maka penerapan MTBS di puskesmas di lakukan secara bertahap. Dalam memulai penerapan tidak ada patokan khusus besarnya presentase kunjungan balita sakit yang ditangani dengan pendekatan MTBS. Tiap puskesmas perlu memperkirakan kemamupanya mengenai seberapa besar balita sakit yang akan ditangani pada sat awal penerapan dan kapan dicapai cakupan 100%. Penerapan MTBS di puskesmas secara bertahap dilaksanakan sesuai dengan keadaan pelayanan rawat jalan ditiap puskesmas. (MTBS, Modul -7, 2004).
Sebagai acuan dalam pentahapan penerapan adalah sebagai berikut :
- Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit  10 orang perhari pelayanan MTBS dapat diberikan langsung kepada seluruh balita sakit.
- Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 11-20 orang perhari, berikanlah pelayanan MTBS kepada 50% kunjungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 6 bulan pertama diharapkan seluruh balita sakit mendapat pelayanan MTBS. MTBS
- Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 21-50 orang perhari, berikanlah pelayanan MTBS kepada 25% kunjungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 6 bulan pertama diharapkan seluruh balita sakit mendapat pelayanan MTBS (MTBS, Modul, 2004)

5. Pencatatan dan Pelaporan Hasil Pelayanan
Pencatatan dan pelaporan di puskesmas yang menerapkan MTBS sama dengan puskesmas yang lain yaitu menggunakan sistem pencatatan dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP). Dengan demikian semua pencatatan dan pelaporan yang digunakan tidak perlu mengalami perubahan . Perubahan yang perlu dilakukan adalah konversi klasifikasi MTBS kedalam kode diagnosis dalam SP2TP sebelum masuk kedalam sistem pelaporan. (MTBS, Modul -7, 2004).

a. Pencatatan Hasil
Pencatatan seluruh hasil pelayanan yaitu kunjungan, hasil pemeriksaan hingga penggunaan obat tidak memerlukan pencatatan khusus. Pencatatan yang telah ada di puskesmas digunakan sebagai alat pencatatan.
Alat pencatatan yang dapat digunakan adalah :
1) Register kunjungan
2) Register rawat jalan
3) Register kohort bayi
4) Register kohort balita
5) Register imunisasi
6) Register malaria, demam berdarah dangue, diare, ISPA, gizi dan lain-lain
7) Register obat

b. Pelaporan Hasil Pelayanan
Sebagaimana dengan pencatatan hasil pelayanan MTBS, pelaporan yang digunakan juga tidak memerlukan perubahan.
Pelaporan yang digunakan adalah :
1) Laporan bulanan 1/laporan bulanan data kesakitan (LB 1)
2) Laporan pemakaian dan lembar permintaan obat (LP LPO)
3) Laporan bulanan gizi, KIA, Imunisasi dan P2M (LB 3)
4) Laporan mingguan diare
5) Laporan kejadian luar biasa
(MTBS, Modul -7, 2004).

6. Penilaian dan Klasifiksi Anak Sakit dalam MTBS
Penilaian dan klasifikasi anak sakit dalam MTBS dikelompokkan dalam 2 kelompok umur yaitu :
- Penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun
- Penilaian dan klasifikasi anak sakit umur 1 hari sampai 2 bulan
Apabila anak umur 2 bulan sampai 5 tahun, pilih bagan “Penilaian dan Klasifikasi Anak Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun”. Sampai 5 tahun, berarti anak belum mencapai ulang tahunnya yang kelima. Kelompok umur ini termasuk balita umur 4 tahun 11 bulan, akan tetapi tidak termasuk anak yang sudah berumur 5 tahun. Apabila anak belum genap berumur 2 bulan, maka ia tergolong bayi muda. Gunakan bagan “Penilaian Klasifikasi dan Pengobatan Bayi Muda Umur 1 Hari Sampai 2 Bulan”. Khusus mengenai bayi muda, bagan berlaku untuk bayi muda sakit maupun sehat. (MTBS, Modul -1, 2004).

7. Proses Manajemen Kasus
Proses manajemen kasus disajikan dalam satu bagan yang memperlihatkan urutan langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanaanya.
Bagan tersebut menjelaskan langkah-langkah berikut ini :
 Menilai dan membuat klasifikasi anak sakit umur 2 bulan-5 tahun
 Menentukan tindakan dan memberi pengobatan
 Memberi konseling bagi ibu
 Memberi pelayanan tindak lanjut
 Manajemen terpadu bayi mud 1 hari sampai 2 bulan.

“Menilai anak” berarti melakukan penilaian dengan cara anamnesis dan pemeriksaan fisik.
“Membuat klasifikasi” berarti membuat sebuah keputusan mengenai kemungkinan penyakit atau masalah serta tingkat keparahanya. Klasifikasi merupakan suatu kategori untuk melakukan tindakan, bukan sebagai diagnosis spesifik penyakit.
“Menentukan tindakan dan memberi pengobatan “berarti menentukan tindakan dan memberi pengobatan di fasilitas kesehatan sesuai dengan setiap klasifikasi, memberi obat untuk diminum di rumah dan juga mengajari ibu tentang cara memberikan obat serta tindakan lain yang harus dilakukan di rumah.
“Memberi konseling bagi ibu” juga termasuk menilai cara pemberian makan anak, memberi anjuran pemberian makan yang baik untuk anak serta kapan harus membawa anaknya kembali ke fasilitas kesehatan.
“Tindak lanjut” berarti menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak untuk biaya ulang.
“Manajemen terpadu bayi muda” meliputi : menilai dan membuat klasifikasi, menentukan tindakan dan memberi pengobatan, konseling dan tindak lanjut pada bayi umur 1 hari sampai 2 bulan baik sehat maupun sakit. (MTBS, Modul -1, 2004).







8. Penilaian dan Klasifiksi Anak Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun
a. Memeriksa Tanda-Tanda Bahaya Umum
Tanyakan :
 Apakah anak bisa minum atau menetek ?
 Apakah anak selalu memuntahkan semuanya ?
 Apakah anak menderita kejang ?
Lihat :
 Apakah anak tampak letargis atau tidak sadar

b. Tanyakan Keluhan Utama
 Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas ?
Jika ya, tanyakan : berapa lama ?
lihat, dengar :
- Hitung napas dalam 1 menit
- Perhatikan adakah tarikan dinding dada kedalam
- Lihat dan dengar adanya staridor










Klasifikasi Batuk Atau Sukar Bernapas
Tabel 3. Klasifikasi Batuk Atau Sukar Bernapas
Gejala Klasifikasi Tindakan
 ada tanda bahaya umum atau
 tarikan dinding dada ke dalam atau
 stridor PNEUMONIA BERAT ATAU PENYAKIT SANGAT BERAT  beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
 rujuk segera
 napas cepat PNEUMONIA  beri antibiotic yang sesuai selama 5 hari
 beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman
 nasihati ibu kapan harus kembali segera
 kunjungan ulang setelah 2 hari
Tidak ada tanda-tanda pneumonia atau penyakit sangat berat BATUK BUKAN PNEUMONIA  jika batuk lebih dari 30 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
 beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman
 nasihati ibu kapan harus kembali segera
 kunjungan setelah 5 hari bila tidak ada perbaikan
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
c. Apakah anak diare ?
Jika ya, tanyakan :
- Sudah berapa lama ?
- Adakah darah dalam tinjau (beraknya berdarah) ?
Lihat dan raba :
- Lihat keadaan umum anak :
Apakah anak : letargis atau tidak sadar
gelisah atau rewel ? mudah marah ?
- Lihat apakah matanya cekung ?
- Beri anak minum : apakah anak : tidak bisa minum atau malas minum ?
haus, minum dengan lahap ?
- Cubit kulit perut untuk mengetahui turgor apakah kembalinya ?
Sangat lambat (lebih dari 2 detik) ?
Lambat ?

Klasifikasi Diare Untuk Dehidrasi
Tabel 4 . Klasifikasi Diare Untuk Dehidrasi
Gejala Klasifikasi Tindakan
Terdapat dua/lebih dari tanda-tanda berikut ini :
 letargis atau tidak sadar
 mata cekung
 tidak bisa minum atau malas minum
 cubitan kulit perut kembali sangat lambat DIARE :
DEHIDRASI BERAT  jika tidak ada klasifikasi berat lainnya : beri cairan untuk dehidrasi berat (rencana terapi c)
 jika anak mempunyai klasifikasi berat lainnya:
- rujuk segera dan selama perjalanan ibu di minta terus memberi larutan oralit sedikit demi sedikit
- anjurkan ibu agar tetap memberi asi
 jika ada kolera di daerah tersebut, beri obat antibiotika untuk kolera
Terdapat dua dua/lebih dari tanda-tanda berikut ini :
 gelisah, rewel/mudah marah
 mata cekung
 haus, minum dengan lahap
 cubitan kulit perut kembalinya lambat DIARE :
DEHIDRASI RINGAN/SEDANG  beri cairan dan makanan sesuai rencana terapi A
 nasihati ibu tentang kapan harus kembali segera
 kunjungan ulang setelah 5 hari bila tidak ada perbaikan
 tidak cukup tanda-tanda untuk di klasifikasikan dehidrasi berat atau ringan atau sedang DIARE :
TANPA DEHIDRASI  jika batuk lebih dari 30 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
 beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman
 nasihati ibu kapan harus kembali segera
 kunjungan setelah 5 hari bila tidak ada perbaikan
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004




Tabel 5. Jika diare 14 hari atau lebih
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada dehidrasi
DIARE :
PERSISTEN BERAT  atasi dehidrasi sebelum dirujuk, kecuali bila anak juga mempunyai klasifikasi berat lain.
 rujuk
 Tanpa dehidrasi

DIARE :
PERSISTEN  nasihati ibu tentang cara pemberian makan pada anak dengan diare persisten.
 kunjungan ulang setelah 5 hari
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Tabel 6. Jika ada darah dalam tinja

Gejala Klasifikasi Tindakan
 Darah dalam tinja (beraknya bercampur darah)
Disentri  beri antibiotik yang sesuai untuk shigela selama 5 hari
 kunjungan ulang setelah 2 hari
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

d. Apakah anak demam ?
(Pada anmnesis atau teraba panas atau suhu 37,50c atau lebih)
Jika ya :
Tentukan daerah resiko malaria : resiko tinggi, resiko rendah atau tanpa resiko malaria.
Jika daerah resiko rendah tanpa resiko malaria, tanyakan :
 Apakah anak dibawa berkunjung keluar daerah ini dalam 2 minggu terakhir ?
Jika, ya apakah dari daerah resiko tinggi atau resiko rendah malaria ?
Kemudian tanyakan :
 Sudah berapa lama anak demam ?
 Jika lebih dari 7 hari, apakah demam terjadi setiap hari ?
 Apakah pernah mendapat klorokuin dalam 2 minggu terakhir ?
 Apakah anak menderita campak dalam 3 bulan terakhir ?
Lihat dan raba :
 Llihat dan raba adanya kaku kuduk
 Lihat adanya pilek
Lihat adanya tanda-tanda campak :
 Ruam kemerahan dikulit yang menyeluruh dan
 Terdapat salah satu gejala berikut : batuk, pilek, atau mata merah
Jika anak menderita campak saat ini atau 3 bulan terakhir :
 Lihat adanya luka di mulut. apakah lukanya dalam atau luas?
 Lihat apakah matanya bernanah
 Lihat adakah kekeruhan pada kornea mata
Jika anak sakit campak saat ini atau dalam 3 bulan terakhir, klasifikasikan campak
Klasifikasikan demam untuk demam berdarah dangue (hanya jika demam kurang dari 7 hari)
Tanyakan :
 Apakah anak menglami perarahan dari hidung atau gusi yang berat?
 Apakah anak muntah? jika ya :
- Apakah sering ?
- Apakah muntah dengan darah atau seperti kopi ?
 Apakah berak berwarna hitam ?
 Apakah ada nyeri ulu hati atau anak gelisah ?
Lihat dan raba :
Periksa tanda-tadna syok :
 Ujung ekstermitas teras dingin dan nadi sangat lemah atau tidak teraba
Lihat adanya :
 Perdarahan dari hidung atau gusi yang berat
 Bintik perdarahan dikulit (potikie) jika ya dan tidak ada tanda lain dari DBD, lakukan uji torniket, jika mungkin.

Klasifikasi demam
Tabel 7. Daerah resiko tinggi malaria
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada tanda bahaya umum atau
 Kaku duduk
PENYAKIT BERAT DENGAN DEMAM  Beri dosis pertama kinin untuk malaria berat
 Beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
 Cegah agar gula darah tidak turun
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Rujuk segera
 Demam(pada anamnesis atau pada perabaan atau suhu 37,50C atau lebih) MALARIA  Beri obat antimalaria oral
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Jika anak pernah mendapat klorokuin 2 minggu terakhir, perlakukn sebagai kunjungan ulang.
 Ambil sediaan darah
 Nasihati ibu tentang kapan harus kembali
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam.
 Jika demam terjadi setiap hari selama lebih dari 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Tabel 8. Daerah resiko rendah malaria

Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada tanda bahaya umum atau
 Kaku duduk
PENYAKIT BERAT DENGAN DEMAM  Beri dosis pertama kinin untuk malaria berat
 Beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
 Cegah agar gula darah tidak turun
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Rujuk segera
 Tidak ada pilek dan tidak ada campak dan tidak ada penyebab lain dari demam MALARIA  Beri obat antimalaria oral
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Ambil sediaan darah
 Nasihati ibu tentang kapan harus kembali
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam.
 Jika demam terjadi setiap hari selama lebih dari 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
 Ada pilek atau
 Ada campak
 Ada penyebab laindari demam DEMAM MUNGKIN BUKAN MALARIA  Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Obati penyebab lain dari demam
 Nasehati ibu tentang kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
 Jika demam terjadi setiap hari selama lebih dari 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Tabel 9. Daerah tanpa resiko malaria dan tidak ada kunjungan ke daerah resiko malaria
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada tanda bahaya umum atau
 Kaku duduk
PENYAKIT BERAT DENGAN DEMAM  Beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
 Cegah agar gula darah tidak turun
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Rujuk segera
 Tidak ada tanda bahaya umum dan tidak ada kaku duduk DEMAM BUKAN MALARIA  Beri dosis pertama parasetamol di klinik, jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Obati penyebab lain dari demam
 Nasehati ibu tentang kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
 Jika demam terjadi setiap hari selama lebih dari 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
Tabel 10. Klasifikasi campak
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada tanda bahaya umum atau
 Kekeruhan pada kornea mata atau
 Luka di mulut yang dalam
CAMPAK DENGAN KOMPLIKASI BERAT  Beri vitamin A
 Beri dosis pertama antibiotic yang seuai
 Jika ada kekeruhan pada kornea atau mata bernanah, bubuhi salep mata tetrasiklin. kloranfenikol
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik jika demam tinggi (38,50C)
 Rujuk segera
 Mata bernanah
 Luka di mulut CAMPAK DENGAN KOMPLIKASI PADA MATA ATAU MULUT  Beri vitamin A
 Jika mata bernanah, bubuhi salep mata tetrasiklin. kloranfenikol
 Jika ada luka di mulut, ajari ibu untuk mengobati dengan gantian violet
 Kunjungan setelah 2 hari
 Rujuk segera
 Tidak ada tanda-tanda di atas CAMPAK  Beri vitamin A
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Tabel 11. Klasifikasi demam berdarah dangue
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Ada tanda-tanda syok : ekstremitas teraba dingin dan nadi lemah atau tak teraba atau
 Muntah bercampur darah atau
 Berak berwarna hitam atau
 Perdarahan dari hidung atau gusi yang berat atau
 Bintik perdarahan di kulit dan uji torniket positif atau
 Sering muntah, tanpa diare
DEMAM BERDARAH DANGUE  Jika ada syok, segera beri cairan intravena sesuai petunjuk pemberian cairan. para rujukan untuk DBD
 Jika tidak ada syok, beri tambahan cairan atau oralit sebanyak mungkin dalam perjalanan ke rumah sakit
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 rujuk segera
 Nyeri ulu hai atau gelisah atau
 Bintik perdarahan di kulit dan uji tornikel negatif MUNGKIN DBD  Beri dosis pertama di klinik jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Nasehati ibu untuk memberi anak lebih bnayk minum atau oralit
 Nasehati ibu kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
 Tidak ada satupun gejala di atas DEMAM MUNGKIN BUKAN DBD  Obati penyebab lain dari demam
 Beri dosis pertama Parasetamol di klinik jika demam tinggi (38,50C atau lebih)
 Nasehati ibu kapan harus kembali segera
 Kunjungan ulang setelah 2 hari jika tetap demam
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
e. Apakah anak mempunyai masalah telinga ?
Jika ya, tanyakan :
 Apakah telinganya sakit
 Adakah cairan/nanah keluar dari telinga ? Jika ya, berapa lama ?
Lihat dan raba :
 Lihat, adakah cairan/nanah keluar dari telinga ?
 Raba, adakah pembengkakan yang nyeri di belakang telinga ?

Tabel 12. Klasifikasi masalah telinga
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Pembengkakan yang nyeri di belakang telinga
MASTOIDITIS  Beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
 Beri dosis pertama parasetamol di klinik untuk mengatasi nyeri
 Rujuk segera
 Tampak cairan/nanah keluar dari telinga dan telah terjadi kurang dari 14 hari atau
 Nyeri telinga INFEKSI TELINGA AKUT  Beri antibiotic selama 5 hari
 Beri parasetamol untuk nyeri
 Keringkan telinga dengan kain/kertas penyerap
 Kunjungan ulang setelah 5 hari
 Tampak cairan/nanah keluar dari telinga dan telah terjadi selama dari 14 hari atau lebih INFEKSI TELINGA KRONIS  Keringkan telinga dengan kain/kertas penyerap
 Kunjungan ulang setelah 5 hari
 Tidak ada sakit telinga dan tidak ada nanah keluar dari telinga TIDAK ADA INFEKSI TELINGA Tidak perlu tindakan tambahan
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004






f. Memeriksa status gizi dan anemia
Lihat dan raba :
 Lihat apakah anak tampak sangat kurus ?
 Lihat tanda kepucatan pada telapak tangan, apakah :
- Sangat pucat ?
- Agak pucat
 Lihat dan raba adanya pembengkakan dikedua kaki
 Bandingkan berat badan menurut umur

Tabel 13. Klasifikasi status gizi
Gejala Klasifikasi Tindakan
 Badan tampak sangat kurus atau
 Bengkak pada kedua kaki atau
 Telapak tangan sangat pucat
GIZI BURUK DAN/ATAU ANEMIA BERAT  Beri vitamin A apabila anak tampak sangat kurus/atau bengkak pada kedua kaki
 Rujuk segera
 Telapak tanganagak pucat atau
 Berat badan menurut umur sangat rendah(bawah garis merah (BGM) BGM DAN/ATAU ANEMIA  Lakukan penilaian tentang cara pemberian makan pada anak dan nasehati ibu sesuai “Bagan Pemberian Makan Anak” pada bagan “Konseling bagi Ibu”.
Bila ada masalah pemberian makan, kunjungan ulang setelah 5 hari
 Jika anemia :
- Beri zat besi
- Jika daerah dengan resiko tinggi malaria beri anti malaria oral
- Beri pirantel pamoat (hanya jika anak berusia 4 bulan atau lebih dan belumpernah diberi selama 6 bulan terakhir, serta hasil pemeriksaan tinja positif)
- Kunjungan ulang setlah 4 minggu.
 Nasehati ibu kapan harus kembali segera
 Jika BGM, kunjungan ulang setelah 4 minggu
 Berat badan menurut umur tidak BGM dan tidak ditemukan ttanda-tanda lain dan malnutrisi dan anemia TIDAK BGM DAN TIDAK MALARIA  Jika anak berumur kurang dari 2 tahun lakukan penilaian tentang cara pemberian makan anak dan nasehati ibu sesuai “BAGAN PEMBERIAN MAKAN ANAK” pada bagan Konseling bagi Ibu”
 Jika ada masalah pemberian makan, kunjungan ulang setelah 5 hari
 Nasehati ibu kapan harus kembali segera
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

g. Memeriksa Status Imunisasi Anak

Umur Jenis Imunisasi
Jadwal Iminusasi : 0-7 hari
1 bulan
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan Hep B-1
BCG
Hep B-2
Hep B-3

Campak

Polio-1
Polio-2
Polio-3
Polio-4

DPT-1
DPT-2
DPT-3

h. Memeriksa Pemberian Vitamin A
Dosis pertama 100.000 IU pada umur 6 bulan sampai 1 tahun
Dosis berikutnya 200.000 IU setiap 6 bulan (sampai umur 5 tahun)


9. Pengobatan
Melakukan langkah-langkah dalam tindakan/pengobatan yang telah ditetapkan dalam bagan klasifikasi.
a. Beri Antibiotik oral yang sesuai
Untuk semua klasifikasi yang membutuhkan antibiotic yang sesuai :
Antibiotik pilihan pertama : Kotrimoksazol (Trimetroprim + Salfametoksazol)
Antibiotik pilihan kedua : Amoksilin
Tabel 14. Dosis antibiotik
Umur atau
Berat badan KOTRIMOKSAZOL
(Trimetoprim + Sulfametoksazol)
Beri 2 kali sehari selama 5 hari) AMOKSILIN
Beri 3 kali sehari untuk 5 hari
Tablet dewasa 80 mg Trimetoprim + 400 mg Sulfametoksazol Tablet anak
20 mg Trimetoprim + 100 mg Sulfametoksazol Sirup/per 5 ml
40 mg Trimetoprim + 200 mg Sulfametoksazol Sirup
125 mg
Per 5 ml
2 sampai 4 bulan
(4 - <6 kg) ¼ 1 2,5 ml 2,5 ml
4 sampai 12 bulan
(6 - < 10 kg) ½ 2 5 ml 5 ml
12 sampai 5 tahun
(10 - <19 kg) ¾ atau 1 3 7,5 ml 10 ml
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Untuk disentri : Beri antibiotic yang dianjurkan untuk Shigela selama 5 hari
Antibiotik pilihan pertama : Kotrimoksazol (Trimetroprim + Salfametoksazol)
Antibiotik pilihan kedua : Asam Nolidiksat
Tabel 15. Dosis antibiotik untuk disentri
Umur atau
Berat badan KOTRIMOKSAZOL
(Trimetoprim + Sulfametoksazol)
Beri 2 kali sehari selama 5 hari) ASAM NALIDIKSAT
Tablet 500 mg
Berikan 4 kali sehari selama 5 hari
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg) 1/8
4 sampai 12 bulan
(6 - < 10 kg) ¼
12 sampai 5 tahun
(10 - <19 kg) ½
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
Untuk kolera : beri antibiotic yang dianjurkan untuk kolera selam 3 hari
Antibiotik pilihan pertama : Kotrimoksazol (Trimetroprim + Salfametoksazol)
Antibiotik pilihan kedua : Tetrasiklin
Tabel 15. Dosis antibiotik untuk kolera
Umur atau
Berat badan KOTRIMOKSAZOL
(Trimetoprim + Sulfametoksazol)
Beri 2 kali sehari selama 3 hari) TETRASIKLIN
Tablet 500 mg
Berikan 4 kali sehari selama 3 hari
2 sampai 4 bulan
(4 - < 6 kg) Lihat dosis di atas Jangan diberi
4 sampai 12 bulan
(6 - < 10 kg) ½
12 sampai 5 tahun
(10 - <19 kg) 1
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

b. Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah
Ikuti pentunjuk di bawah ini untuk setiap obat oral yang harus diberikan di rumah. Ikuti juga petunjuk yang tercantum dalam tiap tablet dosis obat
- Tentukan obat-obatan dosis yang sesuai dengan umur dan berat badan anak
- Jelaskan kepada ibu alasan pemberian obat tersebut
- Peragakan cara, mengukur/membuat satu dosis
- Perhatikan cara ibu menyiapkan sendiri 1 dosis
- Mintalah ibu memberikan dosis pertama pada anak
- Terangkan dengan jelas cara memberikan obat, beri label dan bungkus obat
- Jelaskan bahwa semua obat-obatan tablet /sirup harus diberikan sesuai waktu yang dianjurkan, walaupun anak menunjukkan perbaikan
- Cek pemahaman ibu sebelum meninggalkan klinik
Beri obat anti malaria oral (berikan sesudah makan)
 Anti malaria pilihan pertama : klorokuin ditambah Primakuin (anak < 1 tahun : hanya kloro kuin).
 Anti malaria pilihan kedua untuk anak umur  tahun : sulfadoksin pirimitamin di tambah primakuin
 Anti malaria malaria pilihan kedua untuk anak umur < 1 tahun : tablet kina

Untuk klorokuin :
 Jelaskan kepada ibu agar mengamati anak selama 30 menit sesudah pemberian klorokuin. Jika dalam waktu 30 menit anak muntah, ulangi pemberian klorokuin dan ibu minta kembali ke klinik untuk mendapatkan tablet tambahan
 Jelaskan mungkin akan timbul gatal-gatal setelah pemberian obat, akan tetapi ini tidak berbahaya.
Tabel 16. Dosis obat anti malaria
KLOROKUIN
Beri selama 3 hari
Umur atau
berat badan Tablet
(150 mg basa) Tablet
(15 mg basa) Tablet
(500 mg sulfadoksin)
25 mg pirimetafin) Tablet
(200 mg)
Hari-1 Hari-1 Hari-1 Dosis tunggal di klinik Dosis tunggal di klinik 3 x sehari selama 7 hari
2 sampai 12 bulan
(4 - < 10 kg) ½ ½ ¼ Jangan diberi Jangan diberi 10 mg per kg BB setiap kali pemberian selama 7 hari
12 bulan sampai 5 tahun
(10 - < 19 kg) 1 1 ½ ¾ ¾ ½
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
Beri parasetamol untuk demam tinggi ( 38,50c) atau sakit telinga
Diberi setiap 6 jam sampai demam atau nyeri telinga hilang

Tabel 17 . Dosis pemberian parasetamol
PARASETAMOL
Umur atau berat badan Tablet (500mg) Tablet (100mg) Sirup (120mg/5ml)
2 sampai 6 bulan
(4-< 7 kg ) 1/8 1/2 2,5ml (1/2 sendok teh)
6 bulan sampai 3 tahun
(7 - <14kg) ¼ 1 5ml (1sendok teh)
3sampai 5 tahun
(14 - < 19 kg) 1/2 2 7,5 ml (1 ½ sendok teh)
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Beri vitamin A untuk pengobatan
Beri 1 dosis di klinik

Tabel 18. Dosis pemberian kapsul vitamin A
Umur Kapsul vitamin A
200.000 IU Kapsul vitamin A
6 – 11 Bulan ½ kapsul 1 kapsul
12 Bulan sampai 5 tahun 1 kapsul 2 kapsul
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
Beri zat besi untuk pengobatan
Beri tiap hari selama 4 minggu untuk anak umur 6 bulan sampai 5 tahun

Tabel 19. Dosis pemberian tablet zat besi
Umur atau berat badan Tablet besi/Folat Sulfat ferosus 200 mg + 250 mg Folat
Berikan 3 kali sehari Sirup Besi Sulfat ferosus 150 mg (30 mg elemental iron per 5 ml) berian 3 kali sehari

6 – 11 Bulan ¼ tablet 2,5 ml ( ½ sendok teh)
12 Bulan sampai 5 tahun ½ tablet 5 ml ( 1 sendok teh)
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

Beri Pirantel Pamoat
Jika anak dengan anemia berumur 4 bulan atau lebih dan belum pernah mendapat obat ini dalam 6 bulan terakhir dan hasil pemeriksaan tinjanya positif, beri pirantel pamoat di klinik sebagai dosis tunggal.
Tabel 20. Dosis pemberian Pirantel pamoat
Umur atau berat badan Piranter pamoat(125mg/tablet)
dosis tunggal
4 bulan sampai 9 bulan (6-<8kg) ½ tablet
9 bulan sampai 1tahun (8-<10kg) ¾ tablet
1 tahun sampai 3 tahun (10-<14kg) 1 tablet
3 tahun sampai 5 tahun (14-<19kg) 1 ½ tablet
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004

c. Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah
 Jelaskan kepada ibu tentang pengobatan yang diberikan dan alasannya
 Uraikan langkah-langkah pengobatan sebagaimana tercantum pada penjelasan berikut yang sesuai
 Amati cara ibu melakukan pengobatan ini di klinik (kecuali untuk batuk dan sakit tenggorokan)
 Jelaskan beberapa kali dia harus mengerjakannya di rumah
 Jika dibutuhkan untuk pengobatan di umah, beri ibu salep tetrasiklin/kloramfenikol atau botol kecil berisi gentian violet
 Cek pemahaman ibu sebelum meninggalkan klinik





 Mengobati infeksi mata dengan salep mata tetrasiklin
Bersihkan kedua mata 3 kali sehari
- Cuci tangan
- Mintalah anak untuk memejamkan mata
- Gunakan kain bersih dan air untuk membersihkan nanah dengan hati-hati
Kemudian oleskan salep mata tetrasiklin pada kedua mata 3 kali sehari
- Mintalah anak untuk melihat keatas
- Oleskan sejumlah kecil salep pada bagian dalam dari kelopak mata bawah
- Cuci tangan kembali
Obati sampai kemerahan hilang.
jangan menggunakan obat salep mata atau tetes mata yang lain atau memberi sesuatu apapun dimata.

 Mengeringkan telinga dengan kain/kertas penyerap
Keringkan telinga sekurang-kurangnya 3 kali sehari
- Gulung selembar kain penyerap bersih dan lunak atau kertas tissue yang kuat menjadi sebuah sumbu
- Masukan sumbu tersebut ke dalam telinga anak
- Keluarkan sumbu jika sudah basah
- Ganti sumbu dengan yang baru dan ulangi langkah-langkah diatas sampai kering


 Meredakan batuk dan melegakan tenggorokan dengan bahan yang aman
Bahan yang aman dianjurkan :
- ASI ekslusif untuk bayi sampai umur 4 bulan
- Kecap manis atau madu di campur di campur dengan air jeruk nipis
Obat yang tidak di anjurkan :
- semua jenis obat batuk yang di jual bebas yang mengandung codein
- obat-obatan dekongestan oral dan nasal

d. Pemberian pengobatan hanya di klinik
- Beri antibiotik intramuscular
Untuk anak yang harus segera di rujuk tetapi tidak dapat menelan obat oral
- Beri dosis pertama kloramfenikol intramuscular dan rujuk segera
Jika rujukan tidak memungkinkan :
- ulangi suntikan kloramfenikol setiap 12 jam selama 5 hari
- kemudian ganti dengan antibiotic yang sesuai, untuk Melengkapi 10 hari pengobatan
Tabel 21. Dosis antibiotik Kloramfenikol intramuskular
Umur atau berat badan KLORAMFENIKOL
Dosis : 40 mg per kg
Tambahkan 5,0 ml Aquadest sehingga menjadi 1000 mg = 5,6 ml atau180 mg/dl
2 sampai 4 bulan (4-<6kg) 1,0 ml = 180 mg
4 sampai 9 bulan (6-<8kg) 1,5 ml = 270 mg
9 sampai 12 bulan (8-<10kg) 2 ml = 360 mg
12 bulan sampai 3 tahun (10-<14kg) 2,5 ml = 450 mg
3 sampai 5 tahun (14-19kg) 3,5 ml = 630 mg
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
 Suntikan kinin untuk malaria berat
Untuk anak yang harus dirujuk karena penyakit berat dengan demam :
- Periksa formula kinin yang tersedia apakah kinin antipirin atau kinin HCL
- Beri dosis pertama suntikan kinin antipirin atau kinin HCL segera intramuscular dan dalam (masing-masing ½ dosis di paha kanan dan kiri
- Khusus suntikan kinin HCL 25% harus diencerkan dulu dengan larutan NaCl 0,9% untuk mendapatkan konsentrasi 60-1—mg/ml
- Di daerah resiko rendah malaria jangan beri kinin pada anak umur < 4 bulan, tetapi langsung dirujuk.

Tabel 22. Dosis pemberian Kina intramuskular
Umur atau berat badan KINA INTRAMUSKULAR
50 mg/ml (dalam ampul 2 ml)
2 sampai 4 bulan (4-<6kg) 0,2 ml
4 sampai 9 bulan (6-<8kg) 0,3 ml
9 sampai 12 bulan (8-<10kg) 0,4 ml
12 bulan sampai 3 tahun (10-<14kg) 0,5 ml
3 sampai 5 tahun (14-19kg) 0,6 ml
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
Jika rujukan tidak memungkinkan dan tidak ada dokter :
Beri dosis pertama kinin antipirin atau kinin HCL secara intramuscular dalam di paha
anak harus berbaring selama 1 jam
ulangi suntikan kinin setiap 8 jam sampai anak mampu menelan tablet kina
jangan lanjutkan suntikan kinin sampai lebih dari I minggu

pemberian suntikan kinin dilanjutkan dengan tablet kina sehingga (suntikan + tablet ) total 7 hari
jika digunakan kinin HCL, larutkan dulu sesuai penjelasan diatas
jika sudah memungkinkan, anak tetap harus di rujuk

Jika rujukan tidak memungkinkan dan ada dokter di puskesmas :
- Beri suntikan kinin HCL dalam drip sesuai program P2 malaria.

Mencegah agar gula darah tidak turun
 Jika anak masih bisa menetek :
 mintalah kepada ibu untuk memeteki anaknya
 Jika anak tidak bisa menetek tapi masih bisa menelan
 Beri perasaan ASI atau beri susu pengganti
 Jika keduanya tidak memungkinkan, beri air gula
 beri 30 – 50 ml susu atau air gula sebelum dirujuk

Cara membuat air gula : larutkan 4 sendok teh gula (20 garam) kedalam gelas yang berisi 200 ml air matang.
Jika anak tidak bisa menelan :
Beri 50 ml susu atau air gula melalui pipa nasogastrik, jika tidak tersedia pipa nasogastrik rujuk segera.




d. Pemberian Cairan Tambahan Untuk Diare Dan Melanjutkan Pemberian Makanan
Rencana terapi A : Penanganan diare di rumah
Jelaskan kepada ibu :
1. Beri Cairan Tambahan
- Jelaskan kepada ibu :
 Pada bayi muda pemberian ASI merupakan cara pemberian cairan tambahan yang utama
 beri ASI lebih sering dan lebih lama setiap kali pemberian
 jika anak memperoleh ASI ekslusif, berikan oralit atau air matang sebagai tambahan
 jika anak tidak memperoleh ASI ekslusif, berikan 1 atau lebih cairan berikut ini : oralit, larutan gula garam, cairan makanan (kuah sayur/air tajin) atau air matang
- Anak harus diberi oralit di rumah jika :
 anak telah di obati dengan rencana terapi B atau C dalam kunjungan ini
 anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah parah
- Ajari ibu cara mencampur dan memberi oralit
Beri 6 bungkus oralit (200 ml) untuk di gunakan di rumah
- Tunjukan kepada ibu berapa banyak cairan termasuk oralit yang harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairanya sehari-hari :

- sampai umur 1 tahun  50 sampai 100 ml setiap kali berak
- umur 1 sampai 5 tahun  100 sampai 200 ml setiap kali berak
Katakan kepada ibu :
 Agar meminumkan sedikit-sedikit tapi sering dari mangkuk/gelas
 Jika anak muntah, tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat
 Lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti
2. Lanjutkan Pemberian Makan/ASI
3. Kapan Harus Kembali

Rencana terapi B : Penanganan dehidrasi sedang/ringan dengan oralit.
Berikan oralit di klinik sesuai yang di anjurkan selama periode 3 jam

 Tentukan jumlah oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama
Umur : sampai 4 bulan, berat badan < 6 kg 200 – 400 ml
Umur/berat badan = 4 sampai 12 bulan/6 - < 10 kg 400 - 700
Umur/berat badan = 12 sampai 24 bulan/10 - < 12 kg 700 - 900
Umur/berat badan = 2 sampai 5 tahun/12 – 19 kg 900 – 1400 ml
- jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan
- untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang tidak menetek, berikan juga 100 – 200 ml air matang selama periode ini


 Tunjukan kepada ibu cara memberikan larutan oralit
- Minumkan sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir/mangkuk/gelas
- Jika anak muntah, tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi lebih lambat
- Lanjutkan ASI selama anak mau
Setelah 3 jam :
- Ulangi penilaian dan klasifikasikan kembali derajat dehidrasinya.
- Pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan
- Mulailah memberi makan anak berumur 6 bulan lanjutkan pemberian ASI

 Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai :
- Tunjukan cara menyiapkan cairan oralit di rumah
- Tunjukan beberapa banyak oralit yang harus diberikan diberikan dirumah untuk menyelesaikan 3 jam pengobatan
- Beri bungkus oralit yang cukup untuk dehidrasi juga beri 6 bungkus sesuai yang dianjurkan dalam rencana terapi A
- Jelaskan 3 aturan perawatan dirumah
1. Beri cairan tambahan lihat rencana terapi A :
2. Lanjutkan pemberian makan mengenai jumlah cairan dan lihat bagan
3. Kapan harus kembali konseling bagi ibu






Rencana terapi C : Penanganan dehidrasi berat dengan cepat
 Jika di klinik dapat segera memberikan cairan intravena
Beri cairan intravena secepatnya, jika anak bisa minum, beri oralit melalui mulut sementara infuse di persiapkan. Beri 100 ml/kg cairan Ringer laktat (jika tak tersedia gunakan cairan NACL) yang dibagi sebagai berikut :
- Dibawah umur 12 bulan : pemberian pertama 30 ml/kg selama 1 jam
pemberian berikut 70 ml/kg selama 5 jam
- 12 bulan sampai 5 tahun : pemberian pertama 30 ml/kg selama 30 menit
pemberian berikut 70 ml/kg selama 2 1/2jam

Ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tak teraba
- Periksa kembali anak setiap 1 – 2jam, jika status hidrasi belum membaik, beri tetesan intravena lebih cepat
- Juga beri oralit (kira-kira 5 ml/kg/jam) segera setelah anak mau minum : biasanya sesudah 3-4 jam (bayi)/1-2 jam (anak)
- Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3 jam klasifikasikan dehidrasi, kemudian pilih rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan

 Jika di klinik tidak bisa memberikan cairan intravena
- Rujuk segera untuk pengobatan intravena
- Jika anak bisa minum, bekali ibu larutan oralit dan tunjukan cara meminumkan pada anaknya sedikit demi sedikit selama dalam perjalanan
 Jika tidak ada fasilitas pengobatan intravena yang terdekat, dan petugas kesehatan di klinik terlatih menggunakan pipa nasogastrik
- Mulailah melakukan rehidrasi dengan oralit melalui pipa nasoggastrik atau mulut : beri 20 ml/kg/jam selama 6 jam (total 120 ml/kg)
- Periksa kembali anak setiap 1-2 jam :
Jika anak muntah terus menerus atau perut makin kembung, beri cairan lebih lambat.
Jika setelah 3 jam keadaan hidrasi tidak membaik, rujuk anak untuk pengobatan intravena.
- Sesudah 6 jam, periksa kembali anak klasifikasikan dehidrasi kemudian tentukan rencana terapi yang sesuai untuk melanjutkan pengobatan.

 Pemberian Cairan Pra Rujukan Untuk Demam Berdarah Dengue
- Jika ada tanda syok, atasi syok dengan segera, segera beri cairan intravena Ringer laktat atau NaCl : 20 ml/kg/dalam 30 menit.

Periksa kembali anak setelah 30 menit :
- Jika nadi teraba, beri cairan intravena dengan tetesan 10 ml/kg BB/jam dan rujuk segera ke rumah sakit.
- Jika nadi tidak teraba, beri cairan intravena dengan tetesan 20 ml/kg BB/jam dan rujuk segera ke rumah sakit.


- Jika tidak ada tanda syok :
bila anak masih bisa minum, beri minuman apa saja (air putih, teh, manis, sirup, jus buah, susu atau oralit) sebanyak mungkin dalam perjalanan ke tempat rujukan.
Catatan :
Jangan beri minuman yang berwarna merah atau coklat, karena sulit di bedakan jika ada perdarahan lambung.

 Pemberian Imunisasi Balita Sakit sesuai Kebutuhan
 Pemberian Suplemen Vitamin A sesuai Kebutuhan

10. Pemberian Pelayanan Tindak Lanjut
a. Pneumonia
Sesudah 2 hari :
- Periksa adanya tanda bahaya umum
- Lakukan penilaian untuk batuk/sukar bernapas
Tanyakan :
- Apakah anak bernapas lebih lambat ?
- Apakah nafsu makan anak membaik ?
Tindakan :
- Jika tanda bahaya umum atau tarikan dinding dada kedalam beri 1 dosis antibiotik pilihan kedua atau suntikan kloramfenikol selanjutnya rujuk segera
- Jika frekuensi nafas, atau nafsu makan anak tidak menunjukan perbaikan, gantilah dengan antibiotik pilihan kedua dan anjurkan ibu untuk kembali dalam 2 hari (atau rujuk), jika tidak ada obat pilihan kedua atau jika anak menderita campak dalam 3 bulan terakhir
- Jika nafas melambat, atau nafsu makannya membaik, lanjutkan pemberia antibiotik hingga seluruhnya 5 hari.

b. Diare Persisten
Sesudah 5 hari : Tanyakan apakah diare sudah berhenti ?
Tindakan :
- Jika diare belum berhenti, lakukan penilaian ulang lengkap pada anak
Berikan pengobatan yang diperlukan, selanjutnya rujuk.
- Jika diare sudah berhenti, katakana pada ibu untuk menerapkan anjuran pemberian makan yang sesuai dengan umur anak.

c. Disentri
Sesudah 2 hari : Periksa diare lihat bagan penilaian dan klasifikasi.
Tanyakan :
- Apakah beraknya berkurang ?
- Apakah jumlah darah dalam tinja berkurang ?
- Apakah nafsu makan anak membaik ?
Tindakan :
- Jika anak mengalami dehidrasi, atau dehidrasi
- Jika frekuensi berak, jumlah darah dalam tinja atau nafsu makan tetap atau memburuk : gantilah dengan antibiotic oral pilihan kedua untuk shigela. Berikan untuk 5 hari .
Anjurkan ibu untuk kembali dalam 2 hari
Pengecualian jika anak :
- Berumur kurang dari 12 bulan atau
- Mengalami dehidrasi pada kunjungan pertama atau Rujuk
- Menderita campak dalam 3 bulan terakhir
Jika beraknya berkurang, jumlah darah dalam tinja berkurang dan nafsu makan membai, lanjutkan pemberian antibiotic yang sama hingga selesai.

e. Malaria (Daerah Resiko Tinggi Dan Rendah Malaria)
Jika anak tetap demam sesudah 2 hari, atau demam lagi dalam 14 hari. Anak yang datang untuk kunjungan pertama, tetapi sudah mendapat klorokuin dalam 2 minggu terakhir, dianggap sebagai kunjungan ulang. Lakukan penilaian untuk gejala utama  lihat bagan penilaian dan klasifikasi
Cari penyebab lain dari demam .
Tindakan :
- Jika ada tanda bahaya umum atau kaku kuduk. Perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam.
- Jika ada penyebab lain dari demam selain malaria, beri pengobatan
- Jika tidak ada sediaan darah, beri tablet kina
- Jika malaria merupakan satu-satunya penyebab demam :
- Periksa hasil sediaan darah yang sudah diambil sebelumnya
Jika positif untuk falciparum atau ada infeksi campuran (mixed) beri obat anti malaria oral pilihan kedua. Jika tetap demam rujuk untuk pemerikasaan lebih lanjut.
Jika positif untuk vivak, beri tablet kina selama 7 hari ditambah primakulin ¼ tablet perhari selama 5 hari.
Jika hasil sediaan darah negatif, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut

f. Demam : Mungkin bukan malaria (daerah resiko rendah malaria)
Jika tetap demam sesudah 2 hari :
Lakukan penilaian untuk gejala utama  lihat bagan penilaian dan klasifikasi. Cari penyebab lain dari demam.
Tindakan :
- Jika ada tanda bahaya umum atau kaku kuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam
- Jika ada penyebab lain dari demam selain malaria, beri pengobatan
- Jika malaria merupakan satu-satunya penyebab demam :
 Ambil sediaan darah
 Beri obat anti malaria oral pilihan tanpa menunggu hasil sedian darah
 Nasihati ibu untuk kembali dalam 2 hari jika tetap demam
 Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

g. Demam : Bukan malaria (daerah resiko tanpa malaria dan tidak ada kunjungan ke daerah dengan resiko malaria)
Jika demam sesudah 2 hari :
Lakukan penilaian untuk gejala utama  lihat bagan penilaian dan klasifikasi. Cari penyebab lain dari demam.
Tindakan :
- Jika ada tanda bahaya umum atau kaku kuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam.
- Jika ada penyebab lain dari demam, beri pengobatan
- Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Jika tidak diketahui penyebab demam, anjurkan ibu untuk kembali lagi dalam 2 hari jika tetap demam pastikan anak mendapat tambahan cairan dan mau makan.

h. Mungkin demam berdarah dengue dan



i. Demam : Mungkin bukan demam berdarah dengue jika tetap dedam sesudah 2 hari.
Lakukan penilaian ulang secara lengkap  lihat bagan penilaian dan klasifikasi. Cari penyebab lain dari demam.
Tindakan :
- Jika ada tanda bahaya umum atau kaku kuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam.
- Jika ada penyebab lain dari demam selain DBD, berikan pengobatan.
- Jika ada tanda-tanda DBD, perlakukan sebagai DBD
- Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

j. Infeksi Telinga
Sesudah 5 hari:
Lakukakan penilaian ulang masalah telinga  lihat bagan penilaian dan klasifikasi. Ukur suhu tubuh anak
Tindakan :
- Jika ada pembengkakan yang nyeri dibelakang telinga atau demam tinggi (38,50< atau lebih) rujuk segera
- infeksi telinga akut : jika masih ada nyeri atau keluar cairan/nanah, obati dengan atibiotik yang sama selama 5 hari lagi. Lanjutkan mengeringkan telinga. Kunjungan ulang setelah 5 hari.
- Infeksi telinga kronis : perhatikan apakah cara ibu mengeringkan telinga anaknya sudah benar, anjurkan ibu untuk melanjutkan.
- Jika tidak ada nyeri telinga atau keluar cairan/nanah, dan ibu belum menyelesaikan pemberian antibiotik selama 5 hari, anjurkan untuk melanjutkannya sampai habis.

k. Campak dengan Komplikasi Pada Mata Atau Mulut
Setelah 2 hari :
- Perhatikan apakah matanya merah atau bernanah
- Perhatikan apakah ada luka dimulut ciumlah bau mulutnya.
Pengobatan infeksi mata :
- Jika mata masih bernanah, ibu di minta menjelaskan cara mengobati infeksi mata anaknya. Jika belum benar ajari ibu cara mengobati dengan benar
- Jika mata tidak bernanah dan merah, hentikan pengobatan.
Pengobatan luka dimulut :
- Jika luka di mulut makin memburuk atau tercium bau busuk dari mulut, rujuk
- Jika luka di mulut tetap atau membaik, lanjutkan pengobatan 0,25% gentian violet hingga seluruhnya 5 hari.

l. Masalah Pemberian Makan
Sesudah 5 hari :
Lakukan penilaian ulang tentang cara pemberian makan  lihat pertanyaan pada bagan konseling bagi ibu. Tanyakan masalah pemberian makan yang ditemukan saat kunjungan pertama.
- Nasihati ibu tentang semua masalah dalam pemberian makan yang masih ada atau yang baru di jumpai
- Jika berat badan anak menurut umur sangat rendah (BGM), ibu diminta untuk kembali 4 minngu sesudah kunjungan pertama guna mengukur penambahan berat anak

m. Anemia
Sesudah 4 minggu :
- Beri zat besi untuk 4 minggu berikutnya. Nasihati ibu untuk kembali 4 minggu kemudian
- Jika anak masih agak pucat sesudah 8 minggu, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
- Jika telapak tangan sudah tidak pucat sesudah 8 minggu, tak ada pengobatan tambahan.
- Berat badan menurut umur sangat rendah (BGM = bawah garis merah)
n. Berat Badan Menurut Umur Sangat Rendah (BGM = Bawah Garis Merah)
Sesudah 4 minggu :
Timbanglah anak dan tentukan apakah berta badanya masih sangat rendah. Lakukan penilaian ulang tentang cara pemberian makan  lihat pertanyaan pada bagan konseling bagi ibu.
Tindakan :
- Jika berat anak menurut umur sudah tidak BGM, pujilah ibu dan bangkitkan semangatnya untuk melanjutkan.
- Jika berat badan anak menurut umur masih BGM, nasihati ibu tentang setiap masalah pemberian makan yang dijumpai . Anjurkan ibu untuk kembali bersama anaknya setiap bulan sampai makanannya baik dan berat badanya meningkat secara teratur/sudah tidak BGM.
- Jika tidak ada perbaikan cara pemberian makan, atau berat badan anak terus menurun  Rujuk
- Jika masih di perlukan kunjungan ulang berdasarkan kunjungan pertama atau kunjungan saat ini, nasihati ibu tentang kunjungan berikutnya, juga nasihati ibu tentang kapan harus kembali segera.








11. Konseling Bagi Ibu
a. Makanan
Menilai cara pemberian makanan
Tanyakan :
Apakah ibu meneteki anak ini ?
- Berapa kali sehari ?
- Apakah ibu juga meneteki pada malam hari ?
Apakah anak mendapat makanan atau minuman lain ?
- Makanan atau minumam apa?
- Berapa kali sehari ?
- Alat apakah yang digunakan untuk memberi makan/minum anak ?
- Jika berat badan menurut umur sangat rendah /BGM :
Berapa banyak makan dan minum yang diberikan kepada anak ?
Apakah anak mendapat porsi sendiri ?
Siapa yang memberi makan anak dan bagaimana caranya ?
- Selama ia sakit ini, apakah pemberian makan anak diubah ?
Bila ya, bagaimana ?

b. Anjuran makanan selama anak sakit maupun dalam keadaan sehat
 Sampai umur 4 bulan :
- Beri ASI sesuai keinginan anak , paling sedikit 8 kali sehari
- Jangan diberi makan dan minuman lain selain ASI
(jika mungkin beri ASI eksklusif sempai anak umur 6 bulan)
 Umur 4 sampai 6 bulan :
- Beri ASI sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari
- Beri makanan pendampingASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan
- Pemberian makanan pendamping ASI dilakukan setelah pemberian ASI
- Makaan pendamping ASI adalah :
- bubur tim lumat ditambah kuning telur/ayam/tempe/tahu/daging sapi/wortel /bayam/dll.

 Umur 6 sampai 12 bulan
- Berikan ASI sesuai keinginan anak
- Berikan bubur nasi ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/ daging sapi/wortel /bayam/dll.
- Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari. setiap kali makan diberikan sebagai berikut :
Umur 6 bulan : 6 sendok makan
Umur 7 bulan : 6 sendok makan
Umur 8 bulan : 6 sendok makan
Umur 9 bulan : 6 sendok makan
Umur 10 bulan : 6 sendok makan
Umur 11 bulan : 6 sendok makan
- Beri juga makanan selingan 2 kali sehari seperti : bubur kacsmh hijsu, pisang, biscuit, nagasari, dsb.


 Umur 12 sampai 24 bulan
- Berikan ASI sesuai keinginan anak
- Berikan nasi lembek ditambah telur/ayam/ikan/tempe/tahu/ daging sapi/wortel /bayam/dll.
- Makanan tersebut diberikan 3 kali sehari.
- Beri juga makanan selingan 2 kali sehari seperti : bubur kacsmh hijsu, pisang, biscuit, nagasari, dsb.
 Umur 2 tahun atau lebih
- Beri makanan yang biasa dimakan oleh keluarga 3 kali sehariyg terdiri dari nasi, laukpauk, sayur dan buah.
- Beri juga makanan yang bergizi sebagai selingan 2 kali sehari seperti : bubur kacang hujau, biscuit , dsb.

Cucilah tangan sebelum menyiapkan makanan anak
Gunakan bahan makanan yang baik dan aman, peralatan masak yang bersih dan cara masak yang benar.

b. Anjurkan pemberian makan untuk anak dengan diare lebih dari 14 hari :
 Jika masih mendapatkan ASI berikan lebih sering dan lebih lama, pagi, siang dan malam
 Jika anak mendapatkan susu selain ASI:
- Gantikan dengan meningkatkan pemberian ASI atau
- Gantikan setengah bagian susu dengan bubur nasi ditambah temp
- Jangan diberi susu kental manis
 Untuk makanan lain, ikuti anjuran pemberian makan yang sesuai dengan umur anak

c. Menasehati ibu tentang masalah pemberian makan
Jika pemberian makan anak tidak mengikuti anjuran tersebut diatas, nesehati ibu sesuai dengan umur anak. Disamping itu :
 Jika ibu mengeluh ada kesulitan pemberian ASI, lakukan penilaian terhadap terhadap cara ibu meneteki
 Jika bayi berumur kurang dari 4 bulan dan mendapatkan makanan atau susu non-ASI :
- Bangkitkan rasa percaya diri ibu bahwa ia dapat memproduksi ASI sesuai dengan kebutuhan anaknya
- Anjurkan ibu untuk memberikan ASi lebih sering, lebih lama, pagi, siang maupun malam dan secara bertahap mengurangi pemberian susu atau makanan lain.

Jika pemberian susu non-ASI harus dianjurkan, nasehati ibu :
 Agar memberi ASI sesering mungkin, termasuk di malam hari
 Pastikan bahwa susu non-ASI tersebut mudah diperoleh, berikan hanya jika diperlukan.
 Pastikan bahwa susu non-ASI tersebut dipersiapkan secara benar, higienis dan dalam jumlah yang cukup
 Buatlah susu non-ASI hanya sejumlah yang dapat dihabiskan anak dalam waktu 1 jam, jika masih ada sisa, buang.

Jika ibu menggunakan botol untuk memberikan susu kepada anaknya :
 Anjurkan untuk menggantikan botol dengan cangkir/mangkuk/gelas
 Peragakan cara memberikan susu dengan cangkir/mangkuk/gelas

Jika anak tidak diberikan makan secara aktif, nasehati ibu untuk :
 Duduk disamping anak dan membujuk anak agar mau makan
 Memberi makanan dalam porsi yang cukup dengan piring atau mangkuk tersendiri
 Mengamati apak yang disukai anak dan mempertimbangkan hal ini pada waktu menyiapkan makanan anak.

Jika anak tidak diberi makanan yang baik selama sakit, nasehati ibu untuk :
 Memberi ASi lebih sering dan lebih lam, bila mungkin
 Memberi makanan yang lembek, bervariasi, menarik dan disukai anak, beri dalam porsi sedikit tapi sering
 Membersihkan hidungnya yang buntu/tersumbat, jika hal itu mempengaruhi makannya.
 Tetap mendorong anak untuk makan, karena nafsu makan menjadi lebih basik setelah keadananak membaik.
 Kunjungan ulang untuk masalah pemberian makan setelah 5 hari.
---
d. Menasehati ibu untuk meningkatkan pemberian cairan selama anak sakit :
 Untuk setiap anak sakit
- Berikan ASI lebih sering dan lebih lama setiap kali meneteki
- Tingkatkan pemberian cairan
 Untuk anak diare
- Pemberian cairan tambahan akan dapat menyelamatkan nyawa anak
- beri cairan sesuai rencana terapi A atau B pada bagan obat.

e. Menasehati ibu kapan harus kembali ke petugas kesehatan
Kunjungan ulang:
Menasehati ibu untuk datang kembali sesuai waktu yang paling awal untuk permasalahan anaknya
Tabel. 23 Jadwal Kunjungan Ulang
Anak dengan : Kunjungan ulang
Penumonia, Disentri, Malaria (jika masih demam), Demam-mungkin bukan malaria (jika masih demam)
Campak dengan komplikasi pda mata dan mulut,
Mungkin DBD (jika masih demam), Demam bungkin bukan DBD (jika masih demam) 2 hari
Diare persisten, Infeksi telinga kronis, masalah pemberian makan, Penyakit lain, jika tidak ada perdarahan. 5 hari
Anemia 4 minggu/1 bulan
Berat badan menurut umur sangat rendah (BGM) 4 minggu/1 bulan
Sumber : Buku Bagan MTBS, Depkes RI, 2004
 Kunjungan berikutnya untuk anak sehat:
Nasehati ibu kapan harus kembali untuk imunisasi dan vitamin A berikutnya sesuai jadwal yang ditetapkan

 Kapan harus kembali segera:
Nasehati ibu agar kembali segera bila ditemukan tanda-tanda sebagai berikut:
setiap anak sakit : - tidak bisa minum atau menetek
- Bertambah parah
- Timbul demam
 Anak dengan batuk bukan pneumonia, juga kembali jika:
- Napas cepat
- Sukar bernafas

 Jika anak : mungkin DBD atau demam-mungkin bukan DBD, juga harus kembali jika:
- Ada tanda-tanda perdarahan
- Ujung ekstremitas dingin
- Nyeri ulu hati atau gelisah
- Sering muntah
(Buku Bagan, Manajemen Terpadu Balita sakit, Depkes RI, 2004).



B. Kerangka Konsep
Berdasarkan telah pustaka yang ada, maka dapat dibuat kerangka konsep penelitian. Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap yang lainnya dari masalah yang ingin diteliti (Notoatmodjo, 2005).
Dalam pelaksanaan manajemen balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun petugas kesehatan/bidan harus mampu melakukan penilaian dan pemeriksaan sesuai dengan prosedur tetap MTBS. Berdasarkan hal tersebut kerangka konsep penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Gambar 1. Bagan Kerangka Konsep Pelaksanaan Manajemen Terpadu Balita Sakit Umur 2 Bulan Sampai 5 Tahun

C. Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional diperlukan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang di teliti atau diamati. Definisi operasional juga bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamatan terhadap variabel-variabel yang bersangkutan, serta pengembangan instrumen (alat ukur) (Notoatmodjo, 2005)
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun oleh tenaga kesehatan atau bidan di puskesmas tentang penilaian terhadap semua gejala yang ditemukan, memeriksa tanda bahaya umum, mengklasifikasikan gejala yang ditemukan, melakukan tindakan/pengobatan, memberikan konseling bagi ibu, dan mendokumentasikan temuan pada formulir tatalaksana balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun. Pelaksanaan adalah proses atau cara melakukan suatu kegiatan, dalam penelitian ini khususnya pada pelaksanaan manajemen terpadu balita sakit umur 2 bulan sampai 5 tahun.

lihat semua DAFAR KTI LENGKAP dalam DOKUMEN WORD (.doc)
KLIK DISINI
lihat artikel selengkapnya - KTI KEBIDANAN : PELAKSANAAN MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN DI PUSKESMAS X

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: