KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Sistem Neurologis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Neurologis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Mei 2011

Encephalitis (Radang Otak)

Radang otak biasanya berada diberbagai tempat. Radang otak ini bisa sembuh dengan tidak meninggalkan parut, tetapi kadang-kadang dapat menyebabkanpengkisutan. Radang ini menular ke tempat yang berada di dekatnya melalui aliran darah dengan gejala-gejala demam, muntah-muntah, letargi, neuralhia, lumpuh, dan sebagainya. Gejala ini tergantung pada sarang radang di dalam otak.

Macam-macam Enchapalis :
  1. Acute disseminate Encephalitis
  2. Economo’s Encephalitis
  3. Equine Encephalitis
  4. Hemorrharic Encephalitis
  5. Encephalitis dimana jadi radang otak dengan bercak-bercak perdarahan dan eksudat perivaskular.
  6. Herpes Encephalitis, Disebabkan oleh virus herpes yang ditandai oleh nekrosis hemorogik lobus temporal dan frontalis.
  7. HIV Encephalitis
  8. Japanese Encephalitis, penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh orbo virus yang ditularkan oleh binatang melalui gigitan nyamuk dan menimbulkan ganguan pada susunan syaraf pusat yaitu pada otak, sum-sum tulang belakang dan selaput otak.
  9. La Crosse Encephalitis, disebabkan oleh virus La Crosse, ditularkan aedestriseriatus terutama pada anak-anak.
  10. Lead Encephalitis
  11. Post Infection Encephalitis
  12. Post Vaccinal Encephalitis
  13. St Lois Encephalitis, penyakit virus yang pertama kali di Illinois pada tahun 1932, biasanya ditularkan melalui nyamuk
  14. Letharagic Encephaliti, bentuk Encephalitis endemic yang ditandai dengan peningkatan kelesuan, apatis dan rasa nyantuk.
  15. Tickborre Encephalitis
Bentuk Encephalitis epedimika yang biasanya disebarkan melalui gigitan sengkenit yang terinfeksi plavirus, kadang-kadang disertai dengan perubahan degeneratif pada orang lain.

Encephalitis Acuta Pada Anak-Anak
Penyakit ini –biasanya menyerang anak yang berumur antara 1-4 tahun , dengan gejala pusing, tidak enak badan dan demam. Kadang-kadang yang disertai dengan muntah-muntah dan kejang. Keadaan ini berlangsung kadang-kadang dampai 3 minggu. Sesudah itu demamnya hilang tetapi ia menjadi lumpuh. Biasanya angota gerak itu panjang sebelah dengan lengannya lebih panjang dari tungkainya. Pergerakannya sedikit saja dan tubuhnya tertinggal, reflek urat tinggi dankadang-kadang kelihatan kontraktur. Otot-otot lisut, perasaannya tidak tergangu. Kalu anak-anak itu berjalan, kelihatan ia menggerakkan lengan yang panjang itu tidak berketentuan. Anak-anak itu kelak sering mendapatkan penyakit sawam. Keadaan yang seperti ini kelihatan juga sesudah campak, scarlatina, pneumia, influenza, batuk rejan.

Encephalitis Epidemica
Pada zaman dahulu penyakit ini dinamakan Encephalitis lethargica. Hama penyakit ini belum diketahui, tetapi mungkin disebabkan melalui kelinci dan tikus. Virus ini mempunyai daya tahan yang sangat besar danterdapat dalam jaringan otak, liquor cerebrospinalis, dalam selaput rongga hidung dan tekak serta air ludah. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia denganmelalui selaput hidung dan tekak. Penyakit dimulai dengan adanya demam, sakit pada sendi, sakit kepala. Pusing, mengigil. Setelah itu timbul tanda-tanda sakit otak, yang salah satunya adalah tagih tidur (letargi). Selain itu juga terjadi ptosis (kelopak mata atas jatuh ke bawah oleh sebab terlalu panjang), pergerakan biji mata terganggu dan nystagmus (matanya bergetar).
Terkadang pikiran orang tersebut kacau dan gelisah.lama penyakit ini sampai berbulan-bulan dankadang-kadang bertambah parah yang disebabkan oleh pneumia atau keadaan badanya yang bertambah lemah, sehingga penyakit ini bisa menahun. Sesudah masa latergi maka terjadi masa parkinsonisme, dengan ciri-ciri pergerakan sedikit danlambat, badannya menyondong, hipersalivasi, penglihatan terganggu dan lain-lain.

Encephalitis haemorrhagica acuta pada orang dewasa.
Penyakit ini banyak dijumpai pada wabah influenza. Dengan tanda-tanda sakit kepala, pinsan, sewaktu demam tinggi serta bisa meninggal. Selain itu juga pikirannya kacau, buta sebelah, tetapi hanya beberapa hari/minggu, setelah itu keadaanya baik kembali.

Japanese Encephalitis
Yaitu penyakit akut ygdisebabkan oleh arbovirus yang ditularkan oleh binatang melalui gigitan nyamuk dan menimbulkan gangguan pada susunan syaraf pusat yaitu pada otak, sumsum tulang dan selaput otak. Penyebab penyakit ini adalah virus Japanese Encephalitis (Virus JE) yaitu flavirus yang termasuk arbovirus grup B sehingga tergolong dalam virus RNA yang mempunyai selubung (enveloped virus) berukuran 35-40 m dan dapat dibiakkan di dalam berbagai macam kultur jaringan misalnya embrio anak ayam, jaringan kelinci, tikus, manusia dan kera.
Virus JE merupakan penyebab penyakit zoonosis yang terutama menginfeksi binatang akan tetapi dapat ditularkan pada manusia. Babi merupakan sumber utama penularan meskiupun kuda, sapi, kerbau, anjing dan burung mungkinjuga berperan dalam penularan JE manusia.

Penyakit zoonosis yang sumber utamanya adalah babi, yang ditularkan dari babi dan dari babi ke manusia oleh nyamuk Culex Tritaeniorhynchus dan Culex Vishraei serta nyamuk Culex Gelidus, nyamuk tersebut berkembang biak di sawah-sawah dan kolam yang dangkal. Nyamuk ini sesudah menghisap darah binatang yang mengandung virus akan berkembang menjadi infektif dalam waktu 9-12 hari. Di Indonesia ketika spesies nyamuk tersebut yang senang menghisap darah manusia di sampingdarah babi. Penyakit ini teruama menyerang anak-anak usia sekolah terutama anak umur 2-5 tahun, meskipun orang dewasa juga dapat diserang.

Penyebab
Encephalitis disebabkan oleh virus berikut ini :
1. virus arbo (arthropod-borne) yang mencakup virus equine dan west niie
2. enterovirus yang mencakup ECHO, COMCACHIE A dan B serta poliovirus.
3. Paramyxovirus (mumps)
4. Herpes virus
5. virus rabies

Gejala
1. Demam
2. Muntah-muntah
3. Enek
4. Susah tidur
5. heuralgia
6. Lumpuh
Gejala-gejala ini bergantung pada sarang radang di otak (lihat hal 280-285 dari a-d (a-c)) (Buku Ilmu Penyakit).

Patologi
Hasil bedah jenasah pada penderita yang menderita serangan akut menunjukkan terjadinya endema yang difus dan kongesti vaskuler dari selaput otak dan jaringan otak. Selain itu pada infeksi yang berat akan dijumpai pula petekia, pada selaput otak disertai dengan meningkatnya jumlah cairan serebrospinal meskipun warnanya tetap jernih. Perubahan yang khas pada JE adalah terjadinya degenerasi neuron terutama pada substansi nigra, thalamus, basal nucleus, serebelum dan korna anterior medulla spinalis serta korteks serebelum. Juga di serebelum akan dijumpai kerusakan sel-sel puekinye. Pada system retikula-endotel didapatkan hiperplasma dari sel-sel hati. Limpa dan sel linfa.

Gambaran Klinik
Masa Inkubasi
Masa inkubasi sukar ditentukan, mungkin berlangsung antara 5-15 hari.

Perjalanan Penyakit :
Dibagi 3 stadium :
1. Stadium Prodromal
Yaitu waktu yang berlangsung sebelum timbulnya gejala-gejala akibat gangguan pada susunan saraf pusat. Penyakit yang timbul dengan mendadak ini selalu diawali dengan demam kemudian diikuti oleh sakit kepala yang berat, malaise dan kekakuan serta kerap kali disertai dengan mual-mual dan muntah. Stadium prodromal berlangsung antara 1 sampai 14 hari tetapi pad umumya kurang dari 6 hari

2. Stadium ensefalitis akut
Pada stadium ini telah tampak tanda-tanda yang spesifik penting :
a. Tanda-tanda neurologis
b. Panas tinggi terus menerus sampai lebih dari 400C
c. Bradikardi yang relatif
d. Wajah tampak datar, dull, seperti topeng

3. Stadium akhir dengan sequelae
Pada saat keradangan menghilang, suhu badan dan hematokrit menjadi normal, stadium ketiga ini dimulai.tanda-tanda neurologis dapat menetap atau membaik. Bila stadium ensefalitis berlangsung lama, maka penyebuhan berjalan lambat. Sequele yang sering dijumpai adalah gangguan mental, emosi tidak stabil, perubahan kepribadian, dan paralysis motor neuron.prognosis menjadi lebih buruk jika demam berlangsung lama, terjadi gangguan jalan nafas, kejang berulang dan lama, terjadi albuminaria berat dan kadar protein cairan serebbrospunal meningkat. Angka kematian berkisar antara 20-58% akibat edema paru. Bila penderita mendapatkan perawatan yang sangat baik, penderita dapat sembuh sempurna terhadap sequele.

Diagnosis
Diagnosis JE ditegakkan atas dasar gejala-gejala klinis yang didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorium yaitu :
1. Gejala-gejala Klinis
  • Panas tinggi dan terus menerus > 400C
  • Sakit kepala yang berat terutama di dahi atau diseluruh kepala.
  • Terdapat gangguan kesadaran samapi koma.
  • Kejang-kejang dengangerakan klonik dan pada anak dapat timbul kejang umum.
  • Terdapat gerakan-gerakan yang abnormal.
  • Kaku kuduk kerap dijumpai.
  • Tanda kernig positif
2. Pemeriksaaan Laboratorium
  • Lekositosis darah antara 10.000-35.000/mm dengan neutrofil 50-90%
  • Cairan serebiospinal menunjukkan pleositosis dan peningkatan kadar protein.
Diagnosis Pembanding
  • Meningitis Tuberkulosa.
  • Malaria serebral
  • Penyakit virus lainnya : rabies, poliomyelitis, campak, herpes, parotitis dan penyakit oleh arbovirus lainnya yang menimbulkan ensefalopati.
  • reye’s syndrome
  • Ensefalopati akibat keracunan.
Pengobatan
1. Perawatan yang baik banyak menurunan angka kematian
2. Obat-obatan diberikan sesuai dengan gejala yang timbul pad masing-masing stadium.
  • Anti Konvulsan : Diazepam 0,3 mg/kg berat badan intravena atau fenobarbital 10% intramaskuler dengan dosis 0,5 cc sampai 1 cc.
  • Antipiretika : diberikan per oral atau per rectal aspirin. Dapat dibantu dengan kompres dingin
  • Cairan Elektrolit, Infus dengan glukosa 5% dalam larutan garam faali
  • Suntkan IV glukosa hipertonis, mannitol atau dekstran untuk mencegah edema cerebral.
  • Oksigen : diberikan bila ada tanda-tanda hipoksia. Jalan nafas hendaknya selalau dibersihkan untuk mencegah pneumonia.
  • Antobiotik : untuk mencegah infeksi sekunder pada paru dan saluran kemih.
Rehabilitasi
Untuk mengembalikan fungsi otot-otot ygterganggu akibat terjadinya sequele neurologis perlu dilakukan rehabilitasi yang bisa dikerjakan di rumah penderita.

Pencegahan
Tindakan pencegahan dilakukan baik terhadap vektornya, sumber penularan (babi), manusia dan lingkungan hidup.
1. Terhadap vector (Nyamuk)
  • Insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa maupun larvanya.
  • Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu atau repellent
2. Terhadap Sumber penularan (Babi)
  • vaksinasi babi muda
  • Kandang babi sebaiknya bebas nyamuk dengan disemprot insektisida atau diberi kawat kasa. Peternakan babi harus jauh dari pemukiman penduduk.
3. Terhadap Manusia
Vaksinasi merupakan tindakan yang sebaiknya dulakukan satu bulan sebelum masa penularan, dan ditujukan kapda orang-orang yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan infeksi virus ini, misalnya karyawan peternakan babi. Vaksinasi tidak diberikan pada bayi berumur <>
  • Isolasi virus dengan inokulasi intrasereberal pada tikus atau biakanpada kultur sel.
  • Pemeriksan adanya antigen virus dengan FAT ( Fluorescent Antibody Tehnic) terhadap jaringan otak dan CFT (Complement Fixation Test)
  • Pemeriksaan antobodi terhadap virus JE, misalnya tes HI (Haemaglutination Inhibitions) atau tes neutralisasi pada tikus yang lebih spesifik dari pad tes HI.
  • lihat artikel selengkapnya - Encephalitis (Radang Otak)

    ENCEPHALITIS

    Radang otak biasanya berada diberbagai tempat. Radang otak ini bisa sembuh dengan tidak meninggalkan parut, tetapi kadang-kadang dapat menyebabkanpengkisutan. Radang ini menular ke tempat yang berada di dekatnya melalui aliran darah dengan gejala-gejala demam, muntah-muntah, letargi, neuralhia, lumpuh, dan sebagainya. Gejala ini tergantung pada sarang radang di dalam otak.

    Macam-macam Enchapalis :
    1.Acute disseminate Encephalitis
    2.Economo’s Encephalitis
    3.Equine Encephalitis
    4.Hemorrharic Encephalitis
    Encephalitis dmn jadi radang otak dengan bercak-bercak perdarahan dan eksudat perivaskular.
    5.Herpes Encephalitis
    Disebabkan oleh virus herpes yang ditandai oleh nekrosis hemorogik lobus temporal dan frontalis.
    6.HIV Encephalitis
    7.Japanese Encephalitis
    Penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh orbo virus yang ditularkan oleh binatang melalui gigitan nyamuk dan menimbulkan ganguan pada susunan syaraf pusat yaitu pada otak, sum-sum tulang belakang dan selaput otak.
    8.La Crosse Encephalitis
    Disebabkan oleh virus La Crosse, ditularkan aedestriseriatus terutama pada anak-anak.
    9.Lead Encephalitis
    10.Post Infection Encephalitis
    11.Post Vaccinal Encephalitis
    12.St Lois Encephalitis
    Penyakit virus yang pertama kali di Illinois pada tahun 1932, biasanya ditularkan melalui nyamuk
    13.Letharagic Encephalitis
    Bentuk Encephalitis endemic yang ditandai dengan peningkatan kelesuan, apatis dan rasa nyantuk.
    14.Tickborre Encephalitis
    Bentuk Encephalitis epedimika yang biasanya disebarkan melalui gigitan sengkenit yang terinfeksi plavirus, kadang-kadang disertai dengan perubahan degeneratif pada orang lain.

    Encephalitis Acuta Pada Anak-Anak
    Penyakit ini –biasanya menyerang anak yang berumur antara 1-4 tahun , dengan gejala pusing, tidak enak badan dan demam. Kadang-kadang yang disertai dengan muntah-muntah dan kejang. Keadaan ini berlangsung kadang-kadang dampai 3 minggu. Sesudah itu demamnya hilang tetapi ia menjadi lumpuh. Biasanya angota gerak itu panjang sebelah dengan lengannya lebih panjang dari tungkainya.
    Pergerakannya sedikit saja dan tubuhnya tertinggal, reflek urat tinggi dankadang-kadang kelihatan kontraktur. Otot-otot lisut, perasaannya tidak tergangu. Kalu anak-anak itu berjalan, kelihatan ia menggerakkan lengan yang panjang itu tidak berketentuan. Anak-anak itu kelak sering mendapatkan penyakit sawam. Keadaan yang seperti ini kelihatan juga sesudah campak, scarlatina, pneumia, influenza, batuk rejan.

    Encephalitis Epidemica
    Pada zaman dahulu penyakit ini dinamakan Encephalitis lethargica. Hama penyakit ini belum diketahui, tetapi mungkin disebabkan melalui kelinci dan tikus. Virus ini mempunyai daya tahan yang sangat besar danterdapat dalam jaringan otak, liquor cerebrospinalis, dalam selaput rongga hidung dan tekak serta air ludah. Virus ini masuk ke dalam tubuh manusia denganmelalui selaput hidung dan tekak.
    Penyakit dimulai dengan adanya demam, sakit pada sendi, sakit kepala. Pusing, mengigil. Setelah itu timbul tanda-tanda sakit otak, yang salah satunya adalah tagih tidur (letargi). Selain itu juga terjadi ptosis (kelopak mata atas jatuh ke bawah oleh sebab terlalu panjang), pergerakan biji mata terganggu dan nystagmus (matanya bergetar).
    Terkadang pikiran orang tersebut kacau dan gelisah.lama penyakit ini sampai berbulan-bulan dankadang-kadang bertambah parah yang disebabkan oleh pneumia atau keadaan badanya yang bertambah lemah, sehingga penyakit ini bisa menahun. Sesudah masa latergi maka terjadi masa parkinsonisme, dengan ciri-ciri pergerakan sedikit danlambat, badannya menyondong, hipersalivasi, penglihatan terganggu dan lain-lain.

    Encephalitis haemorrhagica acuta pada orang dewasa.
    Penyakit ini banyak dijumpai pada wabah influenza. Dengan tanda-tanda sakit kepala, pinsan, sewaktu demam tinggi serta bisa meninggal. Selain itu juga pikirannya kacau, buta sebelah, tetapi hanya beberapa hari/minggu, setelah itu keadaanya baik kembali.

    Japanese Encephalitis
    Yaitu penyakit akut ygdisebabkan oleh arbovirus yang ditularkan oleh binatang melalui gigitan nyamuk dan menimbulkan gangguan pada susunan syaraf pusat yaitu pada otak, sumsum tulang dan selaput otak.
    Penyebab penyakit ini adalah virus Japanese Encephalitis (Virus JE) yaitu flavirus yang termasuk arbovirus grup B sehingga tergolong dalam virus RNA yang mempunyai selubung (enveloped virus) berukuran 35-40 m dan dapat dibiakkan di dalam berbagai macam kultur jaringan misalnya embrio anak ayam, jaringan kelinci, tikus, manusia dan kera.



    Virus JE merupakan penyebab penyakit zoonosis yang terutama menginfeksi binatang akan tetapi dapat ditularkan pada manusia. Babi merupakan sumber utama penularan meskiupun kuda, sapi, kerbau, anjing dan burung mungkinjuga berperan dalam penularan JE manusia.

    Penyakit zoonosis yang sumber utamanya adalah babi, yang ditularkan dari babi dan dari babi ke manusia oleh nyamuk Culex Tritaeniorhynchus dan Culex Vishraei serta nyamuk Culex Gelidus, nyamuk tersebut berkembang biak di sawah-sawah dan kolam yang dangkal. Nyamuk ini sesudah menghisap darah binatang yang mengandung virus akan berkembang menjadi infektif dalam waktu 9-12 hari. Di Indonesia ketika spesies nyamuk tersebut yang senang menghisap darah manusia di sampingdarah babi. Penyakit ini teruama menyerang anak-anak usia sekolah terutama anak umur 2-5 tahun, meskipun orang dewasa juga dapat diserang.

    Penyebab
    Encephalitis disebabkan oleh virus berikut ini :
    1.virus arbo (arthropod-borne) yang mencakup virus equine dan west niie
    2.enterovirus yang mencakup ECHO, COMCACHIE A dan B serta poliovirus.
    3.Paramyxovirus (mumps)
    4.Herpes virus
    5.virus rabies

    Gejala
    1.Demam
    2.Muntah-muntah
    3.Enek
    4.Susah tidur
    5.heuralgia
    6.Lumpuh
    Gejala-gejala ini bergantung pada sarang radang di otak (lihat hal 280-285 dari a-d (a-c)) (Buku Ilmu Penyakit).
    Patologi
    Hasil bedah jenasah pada penderita yang menderita serangan akut menunjukkan terjadinya endema yang difus dan kongesti vaskuler dari selaput otak dan jaringan otak. Selain itu pada infeksi yang berat akan dijumpai pula petekia, pada selaput otak disertai dengan meningkatnya jumlah cairan serebrospinal meskipun warnanya tetap jernih.
    Perubahan yang khas pada JE adalah terjadinya degenerasi neuron terutama pada substansi nigra, thalamus, basal nucleus, serebelum dan korna anterior medulla spinalis serta korteks serebelum.
    Juga di serebelum akan dijumpai kerusakan sel-sel puekinye. Pada system retikula-endotel didapatkan hiperplasma dari sel-sel hati. Limpa dan sel linfa.

    Gambaran Klinik

    Masa Inkubasi
    Masa inkubasi sukar ditentukan, mungkin berlangsung antara 5-15 hari.

    Perjalanan Penyakit :
    Dibagi 3 stadium :
    ~Stadium prodromal
    ~Stadium ensefalitis akut
    ~Stadium akhir dengan sequelae

    1.Stadium Prodromal
    Yaitu waktu yang berlangsung sebelum timbulnya gejala-gejala akibat gangguan pada susunan saraf pusat. Penyakit yang timbul dengan mendadak ini selalu diawali dengan demam kemudian diikuti oleh sakit kepala yang berat, malaise dan kekakuan serta kerap kali disertai dengan mual-mual dan muntah. Stadium prodromal berlangsung antara 1 sampai 14 hari tetapi pad umumya kurang dari 6 hari
    2.Stadium ensefalitis akut
    Pada stadium ini telah tampak tanda-tanda yang spesifik penting :
    a.Tanda-tanda neurologis
    b.Panas tinggi terus menerus sampai lebih dari 400C
    c.Bradikardi yang relatif
    d.Wajah tampak datar, dull, seperti topeng

    3.Stadium akhir dengan sequelae
    Pada saat keradangan menghilang, suhu badan dan hematokrit menjadi normal, stadium ketiga ini dimulai.tanda-tanda neurologis dapat menetap atau membaik. Bila stadium ensefalitis berlangsung lama, maka penyebuhan berjalan lambat. Sequele yang sering dijumpai adalah gangguan mental, emosi tidak stabil, perubahan kepribadian, dan paralysis motor neuron.prognosis menjadi lebih buruk jika demam berlangsung lama, terjadi gangguan jalan nafas, kejang berulang dan lama, terjadi albuminaria berat dan kadar protein cairan serebbrospunal meningkat. Angka kematian berkisar antara 20-58% akibat edema paru. Bila penderita mendapatkan perawatan yang sangat baik, penderita dapat sembuh sempurna terhadap sequele.

    Diagnosis
    Diagnosis JE ditegakkan atas dasar gejala-gejala klinis yang didukung oleh hasil pemeriksaan laboratorium yaitu :
    1.Gejala-gejala Klinis
    a.Panas tinggi dan terus menerus > 400C
    b.Sakit kepala yang berat terutama di dahi atau diseluruh kepala.
    c.Terdapat gangguan kesadaran samapi koma.
    d.Kejang-kejang dengangerakan klonik dan pada anak dapat timbul kejang umum.
    e.Terdapat gerakan-gerakan yang abnormal.
    f.Kaku kuduk kerap dijumpai.
    g.Tanda kernig positif

    2.Pemeriksaaan Laboratorium
    a.Lekositosis darah antara 10.000-35.000/mm dengan neutrofil 50-90%
    b.Cairan serebiospinal menunjukkan pleositosis dan peningkatan kadar protein.

    Diagnosis Pembanding
    1.Meningitis Tuberkulosa.
    2.Malaria serebral
    3.Penyakit virus lainnya : rabies, poliomyelitis, campak, herpes, parotitis dan penyakit oleh arbovirus lainnya yang menimbulkan ensefalopati.
    4.reye’s syndrome
    5.Ensefalopati akibat keracunan.

    Pengobatan
    1.Perawatan yang baik banyak menurunan angka kematian
    2.Obat-obatan diberikan sesuai dengan gejala yang timbul pad masing-masing stadium.
    a.Anti Konvulsan : Diazepam 0,3 mg/kg berat badan intravena atau fenobarbital 10% intramaskuler dengan dosis 0,5 cc sampai 1 cc.
    b.Antipiretika : diberikan per oral atau per rectal aspirin. Dapat dibantu dengan kompres dingin
    c.Cairan Elektrolit
    Infus dengan glukosa 5% dalam larutan garam faali
    d.Suntkan IV glukosa hipertonis, mannitol atau dekstran untuk mencegah edema cerebral.
    e.Oksigen : diberikan bila ada tanda-tanda hipoksia. Jalan nafas hendaknya selalau dibersihkan untuk mencegah pneumonia.
    f.Antobiotik : untuk mencegah infeksi sekunder pada paru dan saluran kemih.

    3.Rehabilitasi
    Untuk mengembalikan fungsi otot-otot ygterganggu akibat terjadinya sequele neurologis perlu dilakukan rehabilitasi yang bisa dikerjakan di rumah penderita.

    Pencegahan
    Tindakan pencegahan dilakukan baik terhadap vektornya, sumber penularan (babi), manusia dan lingkungan hidup.
    1.Terhadap vector (Nyamuk)
    a.Insektisida untuk membunuh nyamuk dewasa maupun larvanya.
    b.Mencegah gigitan nyamuk dengan menggunakan kelambu atau repellent
    2.Terhadap Sumber penularan (Babi)
    a.vaksinasi babi muda
    b.Kandang babi sebaiknya bebas nyamuk dengan disemprot insektisida atau diberi kawat kasa. Peternakan babi harus jauh dari pemukiman penduduk.

    3.Terhadap Manusia
    Vaksinasi merupakan tindakan yang sebaiknya dulakukan satu bulan sebelum masa penularan, dan ditujukan kapda orang-orang yang mempunyai resiko tinggi untuk mendapatkan infeksi virus ini, misalnya karyawan peternakan babi. Vaksinasi tidak diberikan pada bayi berumur <>
    lihat artikel selengkapnya - ENCEPHALITIS

    Ishialgia atau Sciatica













    Memang kata sciatica belum lazim ato umum digunakan di Indonesia. Di indonesia sakit nyeri di pangkal paha sering disebut Ishialgia.

    DEFINISI


    19503uv8 Kedua syaraf sciatic (n. Ischiadicus) adalah syaraf terbesar dan terpanjang pada tubuh. masing-masing hampir sebesar jari. Pada setiap sisi tubuh, syaraf sciatic menjalar dari tulang punggung bawah ,dibelakang persendian pinggul, turun ke bokong dan dibelakang lutut. Disana syaraf sciatic terbagi dalam beberapa cabang dan terus menuju kaki. Ketika syaraf sciatic terjepit, meradang, atau rusak, nyeri-sciatica-bisa menyebar sepanjang panjnag syaraf sciatic menuju kaki. Sciatica terjadi sekitar 5% pada orang Sciatica


    PENYEBAB

    Pada beberapa orang, tidak ada penyebab yang bisa dikenali. Sebaliknya, penyebab tersebut kemungkinan sebuah piringan yang hernia, proyeksi tidak teratur pada tulang, atau pembengkakan disebabkan persendian yang keseleo. Jarang, spinal tenosis, penyakit paget, kerusakan syaraf disebabkan diabetes (diabetic neuropathy), sebuah tumor, atau gumpalan darah menyebabkan sciatica. Beberapa orang tampak mudah terkena sciatica.


    GEJALA

    Sciatica biasanya mengenai hanya salah satu sisi. Yang bisa menyebabkan rasa seperti ditusuk jarum, sakit nagging, atau nyeri seperti ditembak. Kekakuan kemungkinan dirasakan pada kaki. Berjalan, berlari, menaiki tangga, dan meluruskan kaki memperburuk nyeri tersebut, yang diringankan dengan menekuk punggung atau duduk.


    PEMERIKSAAN


    Untuk mengetahui seorang pasien mengalami ishialgia ato tidak biasanya ahli fisioterapi memberikan beberapa tes salah satunya terapis mengagkat kaki yang mengalami nyeri jika nyeri dirasakan bertambah hebat pada sudut 60 – 70 derajat orang tersebut dikatakjan positif ischialgia. Tes ini disebut Straight Leg Rising. Dan masih ada tes tes yang lain bisa dikonsultasi dengan Kang Arjuno disini.



    PENGOBATAN

    Seringkali, nyeri tersebut hilang dengan sendirinya. Istirahat, tidur diatas kasur yang keras, menggunakan obat-obatan OTC anti peradangan nonsteroidal (NSAIDs), dan mengompres panas dan dingin kemungkinan pengobatan yang cukup. Untuk banyak orang, tidur pada sisi mereka dengan lutut ditekuk dan sebuah bantal diantara lutut menghadirkan keringanan. Meluruskan otot yang lumpuh secara pelan-pelan setelah pemanansan bisa membantu. Peran fisioterapi pada kasus ischialgia ini dapat membantu meringankan nyeri yang dirasakan. Modalitas yang digunakan bisa efektif dengan heating yakni SWD (short Wave Diathermi),bisa juga ditambah TENS untuk membantu memblokir nyerinya.


    From. Medicastore.com


    Fisioterapi oleh Kang Arjuno


    beda sciatica dan ischialgia, fisioterapi pada ischialgia, nervus ishiadicus, nyeri menjalar dari tulang punggung sampai kaki, pengertian ischialgia, pengobatan ischialgia, penyebab ischialgia, straight leg rising, tanda dan gejala ischialgia
    lihat artikel selengkapnya - Ishialgia atau Sciatica

    Senin, 02 Mei 2011

    Penyakit bagi yang internet mania

    anda pernah mendengar "Carpal Tunnel Syndrom bagi Pekerja IT"? asing? tentu saja. ini adalah satu penyakit yang suka Online berat. simak posting berikut

    Carpal tunnel syndrome (CTS) Adalah sebuah penyakit yang disebabkan karena terganggunya Saraf tengah karena tekanan yang terjadi pada bagian pergelangan tangan hal ini menimbulkan rasa sakit, nyeri dan melemahnya otot otot pada bagian pergelangan tangan. Gambarnya Anatomi nya kayak gini


    carpaltunnelanatomy


    Yup penyakit ini sifatnya akumulasi akan kita rasakan di hari tua nanti, hehehe, jadi menurutku ada baiknya kalo kita menjaga organ tubuh ini tetap sehat khusus nya menjaga pergelangan tangan dan organ organ yang sering kita pakai untuk kerja sehari hari, seperti mata dan tulang punggung, kalau menurutku olah raga yang paling cocok untuk para pekerja IT adalah Badminton dan Basket, karna olah raga tersebut menggunakan pergelangan tangan sebagai gerakan utamanya, memegang raket dan mengontrol bola basket membutuhkan pergelangan tangan yang kuat dan terlatih, otomatis relaksasi tangan pun jadi terbantu dengan olah raga ini, ini bukan kata dokter sih, cuman kataku aja waktu jebolan smu yang dapat pelajaran biologi.


    Selain itu posisi kenyamanan dan bagaimana cara kita memegang mouse itu adalah hal yang penting kenyamanan beberapa hal yang perlu di perhatikan adalah:


    1. Mouse Grip

    Menggunakan mouse yang kecil mungkin terlihat imut imut bagi anda, tapi mouse yang kecil sering membuat kita lelah, karena bentuknya yang kecil seluruh permukaan telapak tangan kita tidak menyentuh punggung mouse hal ini menyebabkan jari jari kita cepat lelah dan pegal, karna jempol dan kelingking menahan dan menggerakan mouse, pilihlah mouse yang nyaman untuk di pegang, dimana seluruh permukaan tangan kita dapat memegang bersandar dan kita menggerakanya pun lebih mudah

    2. Pergerakan Mouse dari siku

    Memang kalau diterapkan ini sangat susah untuk kita tapi menggerakan mouse denga menggaunakan suku adalah baik untuk kita, dimana semua pergerakan di titik tumpukan melalui siku tangan kita, ini akan meringankan pergelangan tangan kita dalam bekerja.

    3. Posisi Mouse yang optimal

    aturlah tempat duduk anda senyaman mungkin untuk memegang mouse, bentuk posisi yang nyaman adalah tangan kita sejajar atau sedikit berada di atas meja posisinya daripada dengan mouse sehingga dengan begitu kita tidak menggantung tangan kita dengan meja dan menghindari tangan kita untuk menekuk secara terus menerus contoh posisi yang nyaman untuk bekerja dengan mouse dapat dilihat di site ini (Humanscale, Proformix, Flexrest, 3M)

    4. Jaga pergelangan tangan anda

    Coba anda letakan pergelangan tangan ada di sebuah meja yang datar, anda akan melihat setelah bagian telapak tangan anda di bagian pergelangan tangan akan anda temukan sebuah lekukan kecil yang tembus cahaya ataupun anda bisa selipkan sebuah pensil disitu, ini menyatakan bahwa areal sekitar pergelangan tangan anda membutuhkan sebuah areal yang bebas dari sentuhan ataupun tekanan.

    5. Jaga sirkulasi peredaran darah Hal ini perlu diperhatikan juga, segala sesuatu penyakin kebanyakan disebabkan karna sirkulasi di dalam tubuh kita tidak benar, untuk itu kita harus selalu menjaganya dengan minum air yang banyak dan olah raga (badminton, bola basket dan olah raga yang lebih banyak menggerakan pergelangan tangan) tentunya, seperti yang kita ketahui kita banyak nadi nadi utama yang bergerak dari pergelangan tangan sehingga ini menjadi semakin penting.


    6. Jangan pakai Sandaran pergelangan tangan

    Menggunakan sandaran untuk pergelangan tangan anda, apalagi yang keras, sama saja artinya anda memberi tekanan 2x lipat pada carpal tunnel di dalam pergelangan tangan anda sehingga ini menyebabkan terjadi penyempitan pada bagian pembuluh pembuluh darah maupun syaraf hingga dengan adanya ini malah bisa mempercepat anda terkena carpal tunnel syndrome (CTS). Hindari pergerakan tangan yang tidak bebas Biasanya kursi kursi yang terdapat rest arm nya memiliki karakteristik untuk meng lock tangan kita, sehingga hal ini menyebabkan kita akan lebih sering menggunakan pergelangan tangan kita untuk menggerakan mouse. Refleksi Menggunakan mouse dan pc secara intens memang bukanlah hal yang baik tapi ada baiknya jika anda melatih agar anda dapat memberi istirahat untuk tangan anda sekitar 2 menit untuk melakukan streching untuk tidak menyentuh mouse, ada juga software remindernya yang akan merekam penggunaan mouse dan kibor anda disini Magnitude ErgoManager, Break reminder

    7.Bentuk mouse

    Carilah mouse yang hampir berbentuk Flat dan memiliki ukuran yang hampir sama dengan tangan kita seperti mouse dari vendor ini Whale mouse atau Perfit mouse karena mouse ini lebih memacu anda untuk menggerakan tangan anda daripada pergelangan tangan anda.

    berikut beberapa latihan bagi penderita Carpal Tunnel Syndrome :





    Carpal Tunnel Syndrom bagi Pekerja IT
    lihat artikel selengkapnya - Penyakit bagi yang internet mania

    Jumat, 01 April 2011

    ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

    ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK: "ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

    n INFEKSI OTAK
    n Jaringan otak Bakteri
    n Selaput otak virus
    n Medula spinalis Jamur

    Meningitis
    Encephalitis
    Abses otak
    n MENINGITIS
    n Radang pd meningen
    n Disebabkan oleh virus, bakteri dan jamur
    n Meningitis : asepsis, sepsis, & tuberkulosa
    n M. aseptic
    salah satu meningitis virus, disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah di ruang sub arakhnoid
    n M. sepsis
    disebabkan oleh meningokokus, stafilokokus atau basilus influensa
    n M.tuberkulosa
    disebabkan oleh basilus tuberkel
    n MENINGITIS BAKTERI
    n Paling signifikan. 75 % kasus
    n Neiserria meningitis / m. meningokokus
    n Streptococcus pneumoniae : pd dws
    n Haemophilus influenzae : anak2 & dws muda
    n Penularan mll ; droplet & sekret dr hidung & tenggorok
    n Insiden tertinggi : bakteri gram negatif
    n Patofisiologi
    n Infeksi orofaring
    n Organisme msuk dlm alirah darah & menyebabkan reaksi radang dlm meningen & di bwh daerah korteks
    n Trombus & penurunan alirah darah serebral
    n Gg metabolisme akibat eksudat meningen, vaskulitis, & hipoperfusi
    n Eksudat menyebar sampai dasar otak & medula spinalis
    n Manifestasi Klinis
    n Sakit kepala & demam
    n Perub. Tingkat kesadaran
    n Tanda iritasi meningen
    n Fotofobia
    n Kejang & peningkatan TIK
    n Ruam
    n Infeksi fulminating
    n Tanda iritasi meningen
    n Rigiditas nukal : spasme otot2 leher
    n Tanda Kernig (+) : ps dibaringkan dgn paha fleksi ke arah abdomen, kaki tdk dpt diekstensikan sempurna
    n Tanda Brudzinski : leher ps di fleksikan, dihasilkan fleksi lutut & pinggul; bl dilakukan fleksi pasif pd ekstremitas bwh pd salah satu sisi, gerakan yg sama terlihat pd sisi yg lain
    n Infeksi fulminating
    n Pd m. meningokokus
    n Tanda septikemia : demam tinggi tiba2, lesi purpura menyebar (wajah & ekstremitas), syok,& tanda2 koagulopati intravaskuler diseminata
    n Pemeriksaan Diagnostik
    n Kultur CSS
    n Kultur darah
    n CIE (Counterimmunoelectrophoresis) : deteksi antigen bakteri pd cairan tubuh ( CSS & urin)
    n Penatalaksanaan
    n Antibiotik
    n Cairan
    n Anti kejang
    n Diuretik osmotik
    n ABSES OTAK
    n Kumpulan unsur2 infeksius dlm otak
    n Tjd mll invasi otak langsung dr trauma intrakranial / pembedahan,
    n Mll penyebaran infeksi dr daerah lain spt sinus, telinga, gigi
    n Mll penyebaran infeksi dr organ lain : abses paru, endokarditis
    n Komplikasi beberapa bentuk meningitis
    n Manifestasi klinik
    n Dr perubahan dinamika intrakranial (edema, pergeseran otak), infeksi, atau lokasi abses
    n Sakit kepala, muntah
    n Tanda neurologik fokal; kelemahan ekstremitas, penurunan penglihatan (tgt tempat abses)
    n Perubahan status mental; letargi, peka, disorientasi
    n Pemeriksaan Diagnostik
    n Pengkajian neurologik
    n CT Scan
    n Penatalaksanaan
    n Menghilangkan abses; antimikroba, pembedahan/aspirasi
    n Menuruknan radang edema otak : kortikosteroid
    n Anti konfulsan
    n ENCEPHALITIS
    n Peradangan otak
    n Diagnosisnya dpt ditegakkan mll px. mikroskopis jaringan otak

    n Etiologi
    n Bakteri
    n Cacing
    n Jamur
    n Virus : terpenting & tersering
    n Klasifikasi virus
    n Epidemik :
    Gol enterovirus : poliomyelitis, virus echo
    Gol arbo virus : western equine encephalitis, eastern equine encephalitis
    n Sporadik : rabies, herpes simplek, herpes zooster, limfogranuloma, mumps, chorio meningitis
    n Pasca infeksi : morbili, varisela, rubella, mononukleosis infeksius, infeksi traktus respiratorius
    n Manifestasi Klinis
    n Demam
    n Sakit kepala
    n Pusing
    n Muntah
    n Nyeri tenggorokan
    n Malaise
    n Nyeri ekstremitas
    n Pucat
    n Tergantung distribusi & luas lesi pd neuron
    n Gelisah, iritabel, screaming attack, perubahan perilaku, gg kesadaran, kejang
    n Tanda neurologis : afasia, hemiparesis, hemiplegi, ataksia & paralysis saraf otak
    n Patofisiologi
    n Virus masuk mll kulit, sal nafas & sal cerna
    n Menyebar dlm sistem limfatik & msk aliran darah
    n Infasi ke dlm susunan saraf pusat
    n Respon imun & peradangan menyebabkan edema & peningkatan TIK
    n Destruksi jaringan saraf, kerusakan pembuluh darah & perivaskular
    n Pemeriksaan Diagnostik
    n Analisa CSS
    n CT Scan
    n MRI
    n EEG (electro ensefalografi)
    n Darah
    n Penatalaksanaan
    n Anti konfulsan
    n Antipiretik
    n Kortikosretoid : utk edema otak
    n PROSES KEPERAWATAN
    n Pengkajian
    n Analisa data
    n Diagnosa keperawatan
    n Perencanaan
    n Implementasi
    n Evaluasi
    n Pengkajian
    n Aktifitas / istirahat
    Malaise, ataksia, kelumpuhan, gerakan involunter
    n Sirkulasi
    Riwayat kardiopatologi, tekanan darah meningkat, takikardi, disritmia
    n Eliminasi
    Inkontinensia atau retensi
    n Makanan / cairan
    Kehilangan nafsu makan, kesulitan menelan, anoreksia, muntah, turgor jelek, membran mukosa kering
    n Higiene
    Ketergantungan keb. perawtan diri
    n Neurosensori
    Sakit kepala, parestesia, kehilangan sensasi, kejang, gg penglihatan, letargi, afasia, hemiparese/hemiplegi, tanda brudzinski, tanda kernig, rigiditas nukal
    n Kenyamanan
    Sakit kepala, kaku leher, fotosensitifitas, nyeri tenggorok,
    n Pernafasan
    Riwayat infeksi sinus /paru, perub. mental & gelisah
    n Keamanan
    Riwayat infeksi nafas, telinga & gigi, pembedahan, imunisasi, terpajan campak, herpes simpleks,peningkatan suhu, ada ras, kelemahan umum . Gg sensasi
    n Diagnosa Keperawatan
    n Resiko tinggi infeksi b.d diseminata hematogen dr patogen
    n Resiko tinggi Perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral
    n Resiko tinggi trauma b.d kelemahan umum
    n Gg rasa nyaman : nyeri b.d proses inflamasi
    n Kerusakan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuskuler
    n Perubahan persepsi sensori : ….. B.d perubahan resepsi sensori, transmisi / integrasi
    n Ansietas b.d krisis situasi
    n Kurang pengetahuan b.d kurang pemajanan, kesalahan interpretasi
    n Resiko tinggi infeksi b.d diseminata hematogen dr patogen
    Intervensi :
    n Berikan tindakan isolasi sbg tindakan pencegahan
    n Pertahankan teknik aseptik & teknik cuci tangan yg tepat baik ps, pengunjung, maupun staf. Pantau & batasi pengunjung/ staf ss kebutuhan
    n Pantau suhu secara teratur. Catat munculnya tanda2 klinis dr proses infeksi
    n Teliti adanya keluhan nyeri dada, disritmia, demam yg terus menerus
    n Auskultasi suara nafas. Pantau kecepatan & usaha pernafasan
    n Ubah posisi ps dgn teratur & anjurkan utk melakukan nafas dlm
    n Catat karakteristik urin
    n Identifikasi kontak yg beresiko thd perkembangan proses infeksi serebral
    n Kelola pemberian terapi antibiotika IV ss indikasi
    n Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan serebral b.d edema serebral
    Intervensi :
    n Pertahankan tirah baring dgn posisi kepala datar & pantau tanda vital ss indikasi
    n Pantau status neurologis dgn teratur & bandingkan dgn keadaan normalnya
    n Kaji adanya rigiditas nukal, gemetar, kegelisahan yg meningkat, peka rangsang & adanya kejang
    n Pantau tanda vital
    n Pantau frekuensi/irama jantung
    n Pantau pernafasan, catat pola & irama pernafasan
    n Pantau suhu & atur suhu lingkungan ss kebutuhan
    n Pantau masukan & haluaran. Catat karakteristik urin, turgor kulit & keadaan membran mukosa
    n Bantu ps utk berkemih/ membatasi batuk, muntah, mengejan.
    n Berikan tindakan yg menimbulkan rasa nyaman, spt masase punggung, lingkungan yg tenang
    n Berikan waktu istirahat antara aktifitas perawatan
    n Tinggikan kepala tempat tidur 15-45 derajad ss indikasi. Jaga posisi kepala tetap pd posisi netral
    n Kelola pemberian vairan IV
    n Pantau BGA
    n Kelola pemberian medikasi
    n Resiko tinggi trauma b.d kelemahan umum
    Intervensi :
    n Pantau adanya kejang pd tangan, kaki & wajah
    n Berikan keamanan pd ps dgn memberi bantalan penghalang tempat tidur
    n Pasang jalan nafas buatan
    n Pertahankan tirah baring selama fae akut
    n Kolaborasi & kelola pemberian anti konvulsan
    n Gg rasa nyaman : nyeri b.d prose inflamasi
    Intervensi :
    n Berikan lingkungan yg tenang
    n Tingkatkan tirah baring, bantu kebutuhan perawatan diri
    n Kompres dingin kepala & mata
    n Dukung ps utk posisi yg nyaman
    n Berikan latihan rentang gerak aktif/pasif scr tepat & masase otot daerah bahu/leher
    n Kolaborasi pemberian anlgesik
    n Ansietas b.d krisis situasi
    Intervensi :
    n Kaji status mental & tingkat ansietas dr ps/klg
    n Berikan penjelasan
    n Hubungan antara proses penyakit & gejalanya
    n Jelaskan & persiapkan utk tindakan prosedur sblm dilakukan
    n Berikan kesempatan ps utk mengungkapkan isi pikiran & perasaan takutnya
    n Libatkan ps/klg dlm perawatan
    n Berikan dukungan thd perencanaan gaya hidup ss kemampuan ps
    n Berikan petunjuk sumber2 penyokong yg ada, spt klg, konselor profesional
    n Lindungi privasi ps
    n Kurang pengetahuan b.d kurang pemajanan
    Intervensi :
    n Berikan informasi yg singkat & sederhana
    n Diskusikan mengenai kemungkinan proses penyembuhan yg lama
    n Berikan informasi mengenai kebutuhan diet TKTP utk proses penyembuhan
    n Instruksikan utk terus latihan rentang gerakscr bertahap
    n Diskusikan pentingnya istirahat yg adekuat
    n Kaji ulang pengobatan yg diberi & tekankan utk mengkonsultasikan kesehatannya
    n Diskusikan pencegahan proses penyakit ss kebutuhan
    n Berikan penjelasan ulang mengenai timbulnya tanda & gejala yg membutuhkan penanganan medis segera
    n Tekankan pentingnya evaluasi ulang & terapi rawat jalan secara rutin
    n Identifikasi sumber2 penyokong yg ada di masyarakat
    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - ASKEP PD KLIEN DGN INFEKSI OTAK

    Kamis, 31 Maret 2011

    ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI

    ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI: "

    ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI


    1. Askep Stroke non hemorhagic
    2. Askep stroke hemorhagic
    3. Askep tumor medula spinalis
    4. Askep otak
    5. Askep cefalgia
    6. Askep hnp (hernia nukleus purposus)
    7. Askep low back pain
    8. Askep meningitis
    9. Askep migrain
    10. Askep penurunan kesadaran
    11. Askep sol


    "
    lihat artikel selengkapnya - ASUHAN KEPERAWATAN SARAF/ NEUROGI

    Selasa, 22 Maret 2011

    Askep Cedera Kepala

    Asuhan Keperawatan Cedera Kepala

    ASKEP CEDERA KEPALA

    A. PENGERTIAN
    Cidera kepala yaitu adanya deformasi berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi - decelerasi ) yang merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada percepatan faktor dan penurunan kecepatan, serta notasi yaitu pergerakan pada kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan pencegahan.

    B. PATOFISIOLOGI
    Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan didalam sel-sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan oksigen sebagai bahan bakar metabolisme otak tidak boleh kurang dari 20 mg %, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 % akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi cerebral.
    Pada saat otak mengalami hipoksia, tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. Pada kontusio berat, hipoksia atau kerusakan otak akan terjadi penimbunan asam laktat akibat metabolisme anaerob. Hal ini akan menyebabkan asidosis metabolik.
    Dalam keadaan normal cerebral blood flow (CBF) adalah 50 - 60 ml / menit / 100 gr. jaringan otak, yang merupakan 15 % dari cardiac output.
    Trauma kepala meyebabkan perubahan fungsi jantung sekuncup aktivitas atypical-myocardial, perubahan tekanan vaskuler dan udem paru. Perubahan otonom pada fungsi ventrikel adalah perubahan gelombang T dan P dan disritmia, fibrilasi atrium dan vebtrikel, takikardia.
    Akibat adanya perdarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler, dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi . Pengaruh persarafan simpatik dan parasimpatik pada pembuluh darah arteri dan arteriol otak tidak begitu besar.


    Cedera kepala menurut patofisiologi dibagi menjadi dua :

    1. Cedera kepala primer
    Akibat langsung pada mekanisme dinamik (acelerasi - decelerasi rotasi ) yang menyebabkan gangguan pada jaringan.
    Pada cedera primer dapat terjadi :
    1. Gegar kepala ringan
    2. Memar otak
    3. Laserasi
    2. Cedera kepala sekunder
    1. Pada cedera kepala sekunder akan timbul gejala, seperti :
    2. Hipotensi sistemik
    3. Hipoksia
    4. Hiperkapnea
    5. Udema otak
    6. Komplikasi pernapasan
    7. infeksi / komplikasi pada organ tubuh yang lain

    C. PERDARAHAN YANG SERING DITEMUKAN
    1. Epidural Hematoma
    Terdapat pengumpulan darah di antara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah / cabang - cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1-2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu di lobus temporalis dan parietalis.

    Gejala-gejala yang terjadi :
    Penurunan tingkat kesadaran, Nyeri kepala, Muntah, Hemiparesis, Dilatasi pupil ipsilateral, Pernapasan dalam cepat kemudian dangkal irreguler, Penurunan nadi, Peningkatan suhu
    2. Subdural Hematoma
    Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena / jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam - 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
    Tanda-tanda dan gejalanya adalah : nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan udem pupil
    Perdarahan intracerebral berupa perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri; kapiler; vena.
    Tanda dan gejalanya :
    Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegia kontra lateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital
    3. Perdarahan Subarachnoid
    Perdarahan di dalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pad cedera kepala yang hebat.
    Tanda dan gejala :
    Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk

    ASUHAN KEPERAWATAN

    A. PENGKAJIAN
    Pengumpulan data klien baik subyektif atau obyektif pada gangguan sistem persarafan sehubungan dengan cedera kepala tergantung pada bentuk, lokasi, jenis injuri dan adanya komplikasi pada organ vital lainnya. Data yang perlu didapati adalah sebagai berikut :

    1. Identitas klien dan keluarga (penanggung jawab): nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat, golongan darah, pengahasilan, hubungan klien dengan penanggung jawab.

    2. Riwayat kesehatan :
    Tingkat kesadaran/GCS (< 15), konvulsi, muntah, dispnea / takipnea, sakit kepala, wajah simetris / tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi sekret pada saluran napas, adanya liquor dari hidung dan telinga dan kejang
    Riwayat penyakit dahulu haruslah diketahui baik yang berhubungan dengan sistem persarafan maupun penyakit sistem sistemik lainnya. demikian pula riwayat penyakit keluarga terutama yang mempunyai penyakit menular.
    Riwayat kesehatan tersebut dapat dikaji dari klien atau keluarga sebagai data subyektif. Data-data ini sangat berarti karena dapat mempengaruhi prognosa klien.

    3. Pemeriksaan Fisik
    Aspek neurologis yang dikaji adalah tingkat kesadaran, biasanya GCS < 15, disorientasi orang, tempat dan waktu. Adanya refleks babinski yang positif, perubahan nilai tanda-tanda vital kaku kuduk, hemiparese.
    Nervus cranialis dapat terganggu bila cedera kepala meluas sampai batang otak karena udema otak atau perdarahan otak juga mengkaji nervus I, II, III, V, VII, IX, XII.

    4. Pemeriksaan Penujang
    • CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) : mengidentifikasi luasnya lesi, perdarahan, determinan ventrikuler, dan perubahan jaringan otak. Catatan : Untuk mengetahui adanya infark / iskemia jangan dilekukan pada 24 - 72 jam setelah injuri.
    • MRI : Digunakan sama seperti CT-Scan dengan atau tanpa kontras radioaktif.
    • Cerebral Angiography: Menunjukan anomali sirkulasi cerebral, seperti : perubahan jaringan otak sekunder menjadi udema, perdarahan dan trauma.
    • Serial EEG: Dapat melihat perkembangan gelombang yang patologis
    • X-Ray: Mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur), perubahan struktur garis(perdarahan/edema), fragmen tulang.
    • BAER: Mengoreksi batas fungsi corteks dan otak kecil
    • PET: Mendeteksi perubahan aktivitas metabolisme otak
    • CSF, Lumbal Punksi :Dapat dilakukan jika diduga terjadi perdarahan subarachnoid.
    • ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan (oksigenisasi) jika terjadi peningkatan tekanan intrakranial
    • Kadar Elektrolit : Untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai akibat peningkatan tekanan intrkranial
    • Screen Toxicologi: Untuk mendeteksi pengaruh obat sehingga menyebabkan penurunan kesadaran.

    Penatalaksanaan
    Konservatif:
    • Bedrest total
    • Pemberian obat-obatan
    • Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran)

    Prioritas Perawatan:
    1. Maksimalkan perfusi / fungsi otak
    2. Mencegah komplikasi
    3. Pengaturan fungsi secara optimal / mengembalikan ke fungsi normal
    4. Mendukung proses pemulihan koping klien / keluarga
    5. Pemberian informasi tentang proses penyakit, prognosis, rencana pengobatan, dan rehabilitasi.
    Tujuan:
    1. Fungsi otak membaik : defisit neurologis berkurang/tetap
    2. Komplikasi tidak terjadi
    3. Kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sendiri atau dibantu orang lain
    4. Keluarga dapat menerima kenyataan dan berpartisipasi dalam perawatan
    5. Proses penyakit, prognosis, program pengobatan dapat dimengerti oleh keluarga sebagai sumber informasi.

    B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
    Diagnosa Keperawatan yang biasanya muncul adalah:
    1. Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
    2. Tidakefektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
    3. Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
    4. Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma)
    5. Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya sirkulasi perifer.

    C. INTERVENSI

    Tidak efektifnya pola napas sehubungan dengan depresi pada pusat napas di otak.
    Tujuan :
    Mempertahankan pola napas yang efektif melalui ventilator.
    Kriteria evaluasi :
    Penggunaan otot bantu napas tidak ada, sianosis tidak ada atau tanda-tanda hipoksia tidak ada dan gas darah dalam batas-batas normal.
    Rencana tindakan :
    • Hitung pernapasan pasien dalam satu menit. pernapasan yang cepat dari pasien dapat menimbulkan alkalosis respiratori dan pernapasan lambat meningkatkan tekanan Pa Co2 dan menyebabkan asidosis respiratorik.
    • Cek pemasangan tube, untuk memberikan ventilasi yang adekuat dalam pemberian tidal volume.
    • Observasi ratio inspirasi dan ekspirasi pada fase ekspirasi biasanya 2 x lebih panjang dari inspirasi, tapi dapat lebih panjang sebagai kompensasi terperangkapnya udara terhadap gangguan pertukaran gas.
    • Perhatikan kelembaban dan suhu pasien keadaan dehidrasi dapat mengeringkan sekresi / cairan paru sehingga menjadi kental dan meningkatkan resiko infeksi.
    • Cek selang ventilator setiap waktu (15 menit), adanya obstruksi dapat menimbulkan tidak adekuatnya pengaliran volume dan menimbulkan penyebaran udara yang tidak adekuat.
    • Siapkan ambu bag tetap berada di dekat pasien, membantu membarikan ventilasi yang adekuat bila ada gangguan pada ventilator.

    Tidak efektifnya kebersihan jalan napas sehubungan dengan penumpukan sputum.
    Tujuan :
    Mempertahankan jalan napas dan mencegah aspirasi
    Kriteria Evaluasi :
    Suara napas bersih, tidak terdapat suara sekret pada selang dan bunyi alarm karena peninggian suara mesin, sianosis tidak ada.
    Rencana tindakan :
    • Kaji dengan ketat (tiap 15 menit) kelancaran jalan napas. Obstruksi dapat disebabkan pengumpulan sputum, perdarahan, bronchospasme atau masalah terhadap tube.
    • Evaluasi pergerakan dada dan auskultasi dada (tiap 1 jam ). Pergerakan yang simetris dan suara napas yang bersih indikasi pemasangan tube yang tepat dan tidak adanya penumpukan sputum.
    • Lakukan pengisapan lendir dengan waktu kurang dari 15 detik bila sputum banyak. Pengisapan lendir tidak selalu rutin dan waktu harus dibatasi untuk mencegah hipoksia.
    • Lakukan fisioterapi dada setiap 2 jam. Meningkatkan ventilasi untuk semua bagian paru dan memberikan kelancaran aliran serta pelepasan sputum.


    Gangguan perfusi jaringan otak sehubungan dengan udem otak
    Tujuan :
    Mempertahankan dan memperbaiki tingkat kesadaran fungsi motorik.
    Kriteria hasil :
    Tanda-tanda vital stabil, tidak ada peningkatan intrakranial.
    Rencana tindakan :
    Monitor dan catat status neurologis dengan menggunakan metode GCS.
    Refleks membuka mata menentukan pemulihan tingkat kesadaran.
    Respon motorik menentukan kemampuan berespon terhadap stimulus eksternal dan indikasi keadaan kesadaran yang baik.
    Reaksi pupil digerakan oleh saraf kranial oculus motorius dan untuk menentukan refleks batang otak.
    Pergerakan mata membantu menentukan area cedera dan tanda awal peningkatan tekanan intracranial adalah terganggunya abduksi mata.

    Monitor tanda-tanda vital tiap 30 menit.
    Peningkatan sistolik dan penurunan diastolik serta penurunan tingkat kesadaran dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Adanya pernapasan yang irreguler indikasi terhadap adanya peningkatan metabolisme sebagai reaksi terhadap infeksi. Untuk mengetahui tanda-tanda keadaan syok akibat perdarahan.

    Pertahankan posisi kepala yang sejajar dan tidak menekan.
    Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulkan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak, untuk itu dapat meningkatkan tekanan intrakranial.

    Hindari batuk yang berlebihan, muntah, mengedan, pertahankan pengukuran urin dan hindari konstipasi yang berkepanjangan.
    Dapat mencetuskan respon otomatik penngkatan intrakranial.

    Observasi kejang dan lindungi pasien dari cedera akibat kejang.
    Kejang terjadi akibat iritasi otak, hipoksia, dan kejang dapat meningkatkan tekanan intrakrania.
    Berikan oksigen sesuai dengan kondisi pasien.
    Dapat menurunkan hipoksia otak.

    Berikan obat-obatan yang diindikasikan dengan tepat dan benar (kolaborasi).
    Membantu menurunkan tekanan intrakranial secara biologi / kimia seperti osmotik diuritik untuk menarik air dari sel-sel otak sehingga dapat menurunkan udem otak, steroid (dexametason) untuk menurunkan inflamasi, menurunkan edema jaringan. Obat anti kejang untuk menurunkan kejang, analgetik untuk menurunkan rasa nyeri efek negatif dari peningkatan tekanan intrakranial. Antipiretik untuk menurunkan panas yang dapat meningkatkan pemakaian oksigen otak.

    Keterbatasan aktifitas sehubungan dengan penurunan kesadaran (soporos - coma )
    Tujuan :
    Kebutuhan dasar pasien dapat terpenuhi secara adekuat.
    Kriteria hasil :
    Kebersihan terjaga, kebersihan lingkungan terjaga, nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan, oksigen adekuat.
    Rencana Tindakan :
    Berikan penjelasan tiap kali melakukan tindakan pada pasien.
    Penjelasan dapat mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerja sama yang dilakukan pada pasien dengan kesadaran penuh atau menurun.
    Beri bantuan untuk memenuhi kebersihan diri.
    Kebersihan perorangan, eliminasi, berpakaian, mandi, membersihkan mata dan kuku, mulut, telinga, merupakan kebutuhan dasar akan kenyamanan yang harus dijaga oleh perawat untuk meningkatkan rasa nyaman, mencegah infeksi dan keindahan.

    Berikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
    Makanan dan minuman merupakan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi untuk menjaga kelangsungan perolehan energi. Diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien baik jumlah, kalori, dan waktu.

    Jelaskan pada keluarga tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga lingkungan yang aman dan bersih.
    Keikutsertaan keluarga diperlukan untuk menjaga hubungan klien - keluarga. Penjelasan perlu agar keluarga dapat memahami peraturan yang ada di ruangan.

    Berikan bantuan untuk memenuhi kebersihan dan keamanan lingkungan.
    Lingkungan yang bersih dapat mencegah infeksi dan kecelakaan.

    Kecemasan keluarga sehubungan keadaan yang kritis pada pasien.
    Tujuan :
    Kecemasan keluarga dapat berkurang
    Kriteri evaluasi :
    Ekspresi wajah tidak menunjang adanya kecemasan
    Keluarga mengerti cara berhubungan dengan pasien
    Pengetahuan keluarga mengenai keadaan, pengobatan dan tindakan meningkat.
    Rencana tindakan :
    • Bina hubungan saling percaya.
    Untuk membina hubungan terpiutik perawat - keluarga.
    Dengarkan dengan aktif dan empati, keluarga akan merasa diperhatikan.
    • Beri penjelasan tentang semua prosedur dan tindakan yang akan dilakukan pada pasien.
    Penjelasan akan mengurangi kecemasan akibat ketidak tahuan.
    • Berikan kesempatan pada keluarga untuk bertemu dengan klien.
    Mempertahankan hubungan pasien dan keluarga.
    • Berikan dorongan spiritual untuk keluarga.
    Semangat keagamaan dapat mengurangi rasa cemas dan meningkatkan keimanan dan ketabahan dalam menghadapi krisis.

    Resiko tinggi gangguan integritas kulit sehubungan dengan immobilisasi, tidak adekuatnya sirkulasi perifer.
    Tujuan :
    Gangguan integritas kulit tidak terjadi
    Rencana tindakan :
    • Kaji fungsi motorik dan sensorik pasien dan sirkulasi perifer untuk menetapkan kemungkinan terjadinya lecet pada kulit.
    • Kaji kulit pasien setiap 8 jam : palpasi pada daerah yang tertekan.
    • Berikan posisi dalam sikap anatomi dan gunakan tempat kaki untuk daerah yang menonjol.
    • Ganti posisi pasien setiap 2 jam
    • Pertahankan kebersihan dan kekeringan pasien : keadaan lembab akan memudahkan terjadinya kerusakan kulit.
    • Massage dengan lembut di atas daerah yang menonjol setiap 2 jam sekali.
    • Pertahankan alat-alat tenun tetap bersih dan tegang.
    • Kaji daerah kulit yang lecet untuk adanya eritema, keluar cairan setiap 8 jam.
    • Berikan perawatan kulit pada daerah yang rusak / lecet setiap 4 - 8 jam dengan menggunakan H2O2.

    DAFTAR KEPUSTAKAAN

    Doenges M.E. (1989) Nursing Care Plan, Guidlines for Planning Patient Care (2 nd ed ). Philadelpia, F.A. Davis Company.

    Long; BC and Phipps WJ (1985) Essential of Medical Surgical Nursing : A Nursing Process Approach St. Louis. Cv. Mosby Company.

    Asikin Z (1991) Simposium Keperawatan Penderita Cedera Kepala. Panatalaksanaan Penderita dengan Alat Bantu Napas, Jakarta.

    Harsono (1993) Kapita Selekta Neurologi, Gadjah Mada University Press
    lihat artikel selengkapnya - Askep Cedera Kepala

    Senin, 21 Maret 2011

    ASKEP CEDERA KEPALA

    ASUHAN KEPERAWATAN CEDERA KEPALA

    CIDERA KEPALA
    PENGERTIAN
    Cidera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai atau tanpa disertai perdarahan interstiil dalam substansi otak tanpa diikuti terputusnya kontinuitas otak.

    PATOFISIOLOGI
    Cidera kepala TIK - oedem
    - hematom
    Respon biologi Hypoxemia

    Kelainan metabolisme
    Cidera otak primer Cidera otak sekunder
    Kontusio
    Laserasi Kerusakan Sel otak 


    Gangguan autoregulasi  rangsangan simpatis Stress

    Aliran darah keotak   tahanan vaskuler  katekolamin
    Sistemik & TD   sekresi asam lambung

    O2   ggan metabolisme  tek. Pemb.darah Mual, muntah
    Pulmonal

    Asam laktat   tek. Hidrostatik Asupan nutrisi kurang

    Oedem otak kebocoran cairan kapiler

    Ggan perfusi jaringan oedema paru  cardiac out put 
    Cerebral
    Difusi O2 terhambat Ggan perfusi jaringan

    Gangguan pola napas  hipoksemia, hiperkapnea
    Cidera otak primer:
    Adalah kelainan patologi otak yang timbul segera akibat langsung dari trauma. Pada cidera primer dapat terjadi: memar otak, laserasi.
    Cidera otak sekunder:
    Adalah kelainan patologi otak disebabkan kelainan biokimia, metabolisme, fisiologi yang timbul setelah trauma.
    Proses-proses fisiologi yang abnormal:
    - Kejang-kejang
    - Gangguan saluran nafas
    - Tekanan intrakranial meningkat yang dapat disebabkan oleh karena:
    • edema fokal atau difusi
    • hematoma epidural
    • hematoma subdural
    • hematoma intraserebral
    • over hidrasi
    - Sepsis/septik syok
    - Anemia
    - Shock
    Proses fisiologis yang abnormal ini lebih memperberat kerusakan cidera otak dan sangat mempengaruhi morbiditas dan mortalitas.

    Perdarahan yang sering ditemukan:
    • Epidural hematom:
    Terdapat pengumpulan darah diantara tulang tengkorak dan duramater akibat pecahnya pembuluh darah/cabang-cabang arteri meningeal media yang terdapat di duramater, pembuluh darah ini tidak dapat menutup sendiri karena itu sangat berbahaya. Dapat terjadi dalam beberapa jam sampai 1 – 2 hari. Lokasi yang paling sering yaitu dilobus temporalis dan parietalis.
    Tanda dan gejala:
    penurunan tingkat kesadaran, nyeri kepala, muntah, hemiparesa. Dilatasi pupil ipsilateral, pernapasan dalam dan cepat kemudian dangkal, irreguler, penurunan nadi, peningkatan suhu.

    • Subdural hematoma
    Terkumpulnya darah antara duramater dan jaringan otak, dapat terjadi akut dan kronik. Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah vena/jembatan vena yang biasanya terdapat diantara duramater, perdarahan lambat dan sedikit. Periode akut terjadi dalam 48 jam – 2 hari atau 2 minggu dan kronik dapat terjadi dalam 2 minggu atau beberapa bulan.
    Tanda dan gejala:
    Nyeri kepala, bingung, mengantuk, menarik diri, berfikir lambat, kejang dan edema pupil.
    • Perdarahan intraserebral
    Perdarahan di jaringan otak karena pecahnya pembuluh darah arteri, kapiler, vena.
    Tanda dan gejala:
    Nyeri kepala, penurunan kesadaran, komplikasi pernapasan, hemiplegi kontralateral, dilatasi pupil, perubahan tanda-tanda vital.
    • Perdarahan subarachnoid:
    Perdarahan didalam rongga subarachnoid akibat robeknya pembuluh darah dan permukaan otak, hampir selalu ada pada cedera kepala yang hebat.
    Tanda dan gejala:
    Nyeri kepala, penurunan kesadaran, hemiparese, dilatasi pupil ipsilateral dan kaku kuduk.

    Penatalaksanaan:
    Konservatif
    • Bedrest total
    • Pemberian obat-obatan
    • Observasi tanda-tanda vital dan tingkat kesadaran.
    lihat artikel selengkapnya - ASKEP CEDERA KEPALA

    Minggu, 06 Maret 2011

    Gangguan Miksi

    Gangguan Miksi: "MANIFESTASI NEUROLOGIS GANGGUAN MIKSI


    I. PENDAHULUAN
    Fungsi kandung kencing normal memerlukan aktivitas yang terintegrasi antara sistim saraf otonomi dan somatik. Jaras neural yang terdiri dari berbagai refleks fungsi destrusor dan sfingter meluas dari lobus frontalis kemedula spinalis bagian sakral, sehingga penyebab neurogenik dari gangguan kandung kencing dapat diakibatkan oleh lesi pada berbagai derajat.

    II. ANATOMI DAN FISIOLOGI
    A. Struktur otot detrusor dan sfingter
    Susunan sebagian besar otot polos kandung kencing sedemikian rupa sehingga bila berkontraksi akan menyebabkan pengosongan kandung kencing. Pengaturan serabut detrusor pada daerah leher kandung kencing berbeda pada kedua jenis kelamin, pria mempunyai distribusi yang sirkuler dan serabut-serabut tersebut membentuk suatu sfingter leher kandung kencing yang efektif untuk mencegah terjadinya ejakulasi retrograd sfingter interna yang ekivalen.
    Sfingter uretra (rhabdosfingter) terdiri dari serabut otot luruk berbentuk sirkuler. Pada pria, rhabdosfingter terletak tepat di distal dari prostat sementara pada wanita mengelilingi hampir seluruh uretra. Rhabdosfingter secara anatomis berbeda dari otot-otot yang membentuk dasar pelvis. Pemeriksaann EMG otot ini menunjukkan suatu discharge tonik konstan yang akan menurun bila terjadi relaksasi sfingter pada awal proses miksi

    B. Persarafan dari kandung kencing dan sfingter
    1. Persarafan parasimpatis (N.pelvikus)
    Pengaturan fungsi motorik dari otot detrusor utama berasal dari neuron preganglion parasimpatis dengan badan sel terletak pada kolumna intermediolateral medula spinalis antara S2 dan S4. Neuron preganglionik keluar dari medula spinalis bersama radiks spinal anterior dan mengirim akson melalui N.pelvikus ke pleksus parasimpatis pelvis. Ini merupakan suatu jaringanhalus yang menutupi kandung kencing dan rektum. Serabut postganglionik pendek berjalan dari pleksus untuk menginervasi organorgan pelvis. Tak terdapat perbedaan khusus postjunctional antara serabut postganglionik danotot polos dari detrusor. Sebaliknya, serabut postganglionik mempunyai jaringan difus sepanjang serabutnya yang mengandung vesikel dimana asetilkolin dilepaskan. Meskipun pada beberapa spesies transmiter nonkolinergik nonadrenergik juga ditemukan, keberadaannya pada manusia diragukan

    2. Persarafan simpatis (N.hipogastrik dan rantai simpatis sakral)
    Kandung kencing menerima inervasi simpatis dari rantai simpatis torakolumbal melalui a hipogastrik. Leher kandung kencing menerima persarafan yang banyak dari sistem saraf simpatis dan pada kucing dapat dilihat pengaturan parasimpatis oleh simpatis, sedangkan peran sistim simpatis pada proses miksi manusia tidak jelas. Simpatektomi lumbal saja tidak berpengaruh pada kontinens atau miksi meskipun pada umumnya akan menimbulkan ejakulasi retrograd. Leher kandung kencing pria banyak mengandung mervasi noradrenergik dan aktivitas simpatis selama ejakulasi menyebabkan penutupan dari leher kandung kencing untuk mencegah ejakulasi retrograde





    3. Persarafan somantik (N.pudendus)
    Otot lurik dari sfingter uretra merupakan satu-satunya bagian dari traktus urinarius yang mendapat persarafan somatik. Onufrowicz menggambarkan suatu nukleus pada kornu ventralis medula spinalis pada S2, S3, dan S4. Nukleus ini yang umumnya dikenal sebagai nukleus Onuf, mengandung badan sel dari motor neuron yang menginnervasi baik sfingter anal dan uretra. Nukleus ini mempunyai diameter yang lebih kecil daripada sel kornu anterior lain, tetapi suatu penelitian mengenai sinaps motor neuron ini pada kucing menunjukkan bahwa lebih bersifat skeletomotor dibandingkan persarafan perineal parasimpatis preganglionik. Serabut motorik dari sel-sel ini berjalan dari radiks S2, S3 dan S4 ke dalam N.pudendus dimana ketika melewati pelvis memberi percabangan ke sfingter anal dan cabang perineal ke otot lurik sfingter uretra. Secara elektromiografi, motor unit dari otot lurik sfingter sama dengan serabut lurik otot tapi mempunyai amplitudo yang sedikit lebih rendah.

    4. Persarafan sensorik traktus urinarius bagian bawah
    Sebagian besar saraf aferen adalah tidak bermyelin dan berakhir pada pleksus suburotelial dimana tidak terdapat ujung sensorik khusus. Karena banyak dari serabut ini mengandung substansi P, ATP atau calcitonin gene-related peptide dan pelepasannya dapat mengubah eksitabilitas otot, serabut pleksus ini dapat digolongkan sebagai saraf sensorik motorik daripada sensorik murni. Ketiga pasang saraf perifer (simpatis torakolumbal, parasimpatis sakral dan pudendus) mengandung serabut saraf aferen. Serabut aferen yang berjalan dalam n.pelvikus dan membawa sensasi dari distensi Bandung kencing tampaknya merupakan hal yang terpenting pada fungsi kandung kencing yang normal. Akson aferen terdiri dari 2 tipe, serabut C yang tidak bermyelin dan serabut Abermyelin kecil. Peran aferen hipogastrik tidak jelas tetapi serabut ini mungkin menyampaikan beberapa sensasi dari distensi kandung kencing dan nyeri. Aferen somatik pudendal menyalurkan sensasi dari aliran urine, nyeri dan suhu dari uretra dan memproyeksikan ke daerah yang serupa dalam medula spinalis sakral sebagai aferen kandung kencing. Hal ini menggambarkan kemungkinan dari daerah-daerah penting pada medula spinalis sakral untuk intergrasi viserosomatik. Nathan dan Smith (1951) pada penelitian pasien yang telah mengalami kordotomi anterolateral, menyimpulkan bahwa jaras asending dari kandung kencing dan uretra berjalan di dalam traktus spiotalamikus. Serabut spinobulber pada kolumna dorsalis mungkin juga berperan pada transmisi dari informasi aferen.

    C. Hubungan dengan susunan saraf pusat
    1. Pusat Miksi Pons
    Pons merupakan pusat yng mengatur miksi melalui refleks spinal-bulberspinal atau long loop refleks. Demyelinisasi Groat (1990) menyatakan bahwa pusat miksi pons merupakan titik pengaturan (switch point) dimana refleks transpinal-bulber diatur sedemikian rupa baikuntuk pengaturan pengisian atau pengosongan kandung kencing. Pusat miksi pons berperansebagai pusat pengaturan yang mengatur refleks spinal dan menerima input dari daerah lain di otak

    2. Daerah kortikal yang mempengaruhi pusat miksi pons
    Beberapa penelitian menunjukkan bahwa lesi pada bagian anteromedial dari lobus frontal dapat menimbulkan gangguan miksi berupa urgensi, inkontinens, hilangnya sensibilitas kandung kemih atau retensi urine. Pemeriksaan urodinamis menunjukkan adanya kandung kencing yang hiperrefleksi.


    D. Fisiologi pengaturan fungsi sfingter kandung kencing
    1. Pengisian urine
    Pada pengisian kandung kencing, distensi yang timbul ditandai dengan adanya aktivitas sensor regang pada dinding kandung kencing. Pada kandung kencing normal, tekanan intravesikal tidak meningkat selama pengisian sebab terdapat inhibisi dari aktivitas detrusor dan active compliance dari kandung kencing. Inhibisi dari aktivitas motorik detrusor memerlukan jaras yang utuh antara pusat miksi pons dengan medula spinalis bagian sakral. Mekanisme active compliance kandung kencing kurang diketahui namun proses ini juga memerlukan inervasi yang utuh mengingat mekanisme ini hilang pada kerusakan radiks s2-S4. Selain akomodasi kandung kencing, kontinens selama pengisian memerlukan fasilitasi aktifitas otot lurik dari sfingter uretra, sehingga tekanan uretra lebih tinggi dibandingkan tekanan intravesikal dan urine tidak mengalir keluar

    2. Pengaliran urine
    Pada orang dewasa yang normal, rangsangan untuk miksi timbul dari distensi kandung kencing yang sinyalnya diperoleh dari aferen yang bersifat sensitif terhadap regangan. Mekanisme normal dari miksi volunter tidak diketahui dengan jelas tetapi diperoleh dari relaksasi oto lurik dari sfingter uretra dan lantai pelvis yang diikuti dengan kontraksi kandung kencing. Inhibisi tonus simpatis pada leher kandung kencing juga ditemukan sehingga tekanan intravesikal diatas/melebihi tekanan intra uretral dan urine akan keluar. Pengosongan kandung kemih yang lengkap tergantung adri refleks yang menghambat aktifitas sfingter dan mempertahankan kontraksi detrusor selama miksi.

    III. PATOLOGI GANGGUAN MIKSI
    Gangguan kandung kencing dapat terjadi pada bagian tingkatan lesi. Tergantung jaras yang terkena, secara garis besar terdapat tiga jenis utama gangguan kandung kemih:

    1. Lesi supra pons
    Pusat miksi pons merupakan pusat pengaturan refleks-refleks miksi dan seluruh aktivitasnya diatur kebanyakan oleh input inhibisi dari lobus frontal bagian medial, ganglia basalis dan tempat lain. Kerusakan pada umumnya akan berakibat hilangnya inhibisi dan menimbulkan keadaan hiperrefleksi. Pada kerusakan lobus depan, tumor, demyelinisasi periventrikuler, dilatasi kornu anterior ventrikel lateral pada hidrosefalus atau kelainan ganglio basalis, dapat menimbulkan kontraksi kandung kemih yang hiperrefleksi. Retensi urine dapat ditemukan secara jarang yaitu bila terdapat kegagalan dalammemulai proses miksi secara volunter

    2. Lesi antara pusat miksi pons dansakral medula spinalis
    Lesi medula spinalis yang terletak antara pusat miksi pons dan bagian sakral medula spinalis akan mengganggu jaras yang menginhibisi kontraksi detrusor dan pengaturan fungsi sfingter detrusor. Beberapa keadaan yang mungkin terjadi antara lain adalah:

    a. Kandung kencing yang hiperrefleksi
    Seperti halnya lesi supra pons, hilangnya mekanisme inhibisi normal akan menimbulkan suatu keadaan kandung kencing yang hiperrefleksi yang akan menyebabkan kenaikan tekanan pada penambahan yang kecil dari volume kandung kencing.


    b. Disinergia detrusor-sfingter (DDS)
    Pada keadaan normal, relaksasi sfingter akan mendahului kontraksi detrusor. Pada keadaan DDS, terdapat kontraksi sfingter dan otot detrusor secara bersamaan. Kegagalan sfingter untuk berelaksasi akan menghambat miksi sehingga dapat terjadi tekanan intravesikal yang tinggi yang kadang-kadang menyebabkan dilatasi saluran kencing bagian atas. Urine dapat keluar dri kandung kencing hanya bila kontraksi detrusor berlangsung lebih lama dari kontraksi sfingter sehingga aliran urine terputus-putus

    c. Kontraksi detrusor yang lemah
    Kontraksi hiperrefleksi yang timbul seringkali lemah sehingga pengosongan kandung kencing yang terjadi tidak sempurna. Keadaan ini bila dikombinasikan dengan disinergia akan menimbulkan peningkatan volume residu paska miksi

    d. Peningkatan volume residu paska miksi
    Volume residu paska miksi yang banyak pada keadaan kandung kencing yang hiperrefleksi menyebabkan diperlukannya sedikit volume tambahan untuk terjadinya kontraksi kandung kencing. Penderita mengeluh mengenai seringnya miksi dalam jumlah yang sedikit.

    3. Lesi Lower Motor Neuron (LMN)
    Kerusakan pada radiks S2-S4 baik dalam kanalis spinalis maupun ekstradural akan menimbulkan gangguan LMN dari fungsi kandung kencing dan hilangnya sensibilitas kandung kencing. Proses pendahuluan miksi secara volunter hilang dan karena mekanisme untuk menimbulkan kontraksi detrusor hilang, kandung kencing menjadi atonik atau hipotonik bila kerusakan denervasinya adalah parsial. Compliance kandung kencing juga hilang karena hal ini merupakan suatu proses aktig yang tergantung pada utuhnya persarafan. Sensibilitas dari peregangan kandung kencing terganggu namun sensasi nyeri masih didapatkan disebabkan informasi aferen yang dibawa oleh sistim saraf simpatis melalui n.hipogastrikus ke daerah torakolumbal. Denervasi otot sfingter mengganggu mekanisme penutupan namunjaringan elastik dari leher kandung kencing memungkinkan terjadinya kontinens. Mekanisme untuk mempertahankan kontinens selama kenaikan tekanan intra abdominal yang mendadak hilang, sehingga stress inkontinens sering timbul pada batuk atau bersin.

    IV. GEJALA GANGGUAN DISFUNGSI MIKSI
    Gejala-gejala disfungsi kandung kencing neurogenik terdiri dari urgensi, frekuensi, retensi dan inkontinens. Hiperrefleksi detrusor merupakan keadaan yang mendasari timbulnya frekuensi, urgensi dan inkontinens sehingga kurang dapat menilai lokasi kerusakan (localising value) karena hiperrefleksia detrusor dapat timbul baik akibat kerusakan jaras dari suprapons maupun suprasakral. Retensi urine dapat timbul sebagai akibat berbagai keadaan patologis. Pada pria adalah penting untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan urologis seperti hipertrofi prostat atau striktur. Pada penderita dengan lesi neurologis antara pons dan med spinalis bagiansakral, DDS dapat menimbulkan berbagai derajat retensi meskipun pada umumnya hiperrefleksia detrusor yang lebih sering timbul.




    Retensi dapat juga timbul akibat gangguan kontraksi detrusor seperti pada lesi LMN. Retensi juga dapat timbul akibat kegagalan untuk memulai refleks niksi seperti pada lesi susunan saraf pusat.Meskipun hanya sedikit kasus dari lesi frontal dapat menimbulkan retensi, lesi pada pons juga dapat menimbulkan gejala serupa. Inkontenensia urine dapat timbul akibat hiperrefleksia detrusor pada lesi suprapons dan suprasakral. Ini sering dihubungkan dengan frekuensi dan bila jaras sensorik masih utuh, akan timbul sensasi urgensi. Lesi LMN dihubungkan dengan kelemahan sfingter yang dapat bermanifestasi sebagai stress inkontinens danketidakmampuan dari kontraksi detrusor yang mengakibatkan retensi kronik dengan overflow

    V. EVALUASI DAN PENATALAKSANAAN
    1. Evaluasi
    Pendekatan sistematis untuk mengetahui maslah gangguan miksi selama rehabilitasi pasien dengan cedera medula spinalis merupakan hal yang penting karena penatalaksanaan yang baik sejak awal akan mencegah komplikasi urologis dan kerusakan ginjal permanen. Pemeriksaan meliputi penilaian saluran kencing bagian atas, penilaian pengosongan kandung kencing dan deteksi hiperrefleksia detrusor

    a. Penilaian saluran kencing bagian atas
    Meskipun jarang didapatkan masalah pada saluran kencing bagian atas, gangguan ginjal merupakan hal yang potensial mengancam penderita. Penilaian ditujukan untuk menilai fungsi ginjal dandeteksi hidronefrosis. Pemeriksaan radiologis harus meliputi urografi intravena dan voiding cystourethrogram untuk menilai saluran bagian atas dan menyingkirkan kemungkinan adanya refluks vesikoureteral.

    b. Penilaian pengosongan kandung kencing
    Penilaian sisa urine dapat dilakukan dengan katerisasi pada saat pertama pemeriksaan meupun dengan menggunakan USG. Residu urine lebih dari 100 ml dikatakanbermakna









    c. Deteksi hiperrefleksia detrusor
    Pemeriksaan CMG dan EMG dari sfingter uretral eksterna akan membantu menentukan disfungsi neurogenik dan adanya suatu DDS yang signifikan. Kontraksi abnormal dari otot detrusor dapat dideteksi dengan baik dengan menggunakan filling cystometrogram (CMV). Pada orang normal, kandung kencing dapat mengakomodasi pengisian kandung kencing bahkan pada kecepatan pengisian yang tinggi sedangkan pada penderita dengan hiperrefleksia kandung kencing, terjadi peningkatan tekanan yang spontan pada pengisian

    d. Pemeriksaan neurologis
    Pemeriksaan neurologis harus meliputi pemeriksaan sensibilitas perianal untuk mengetahui ada tidaknya sacral sparing. Adanya tonus anal, refleks anal dan refleks bulbokavernosus hanya menandakan utuhnya konus danlengkung refleks lokal. Didapatkannya kontraksi volunter sfingter anal menunjukkan uthunya kontrol volunter dan pada kasus kuadriplegia, ini menandakan lesi medula spinalis yang inkomplit. Pada lesi medula spinalis, dalam hari pertama sampai 3 atau 4 minggu berikutnya seluruh refleks dalam pada tingkat di bawah lesi akan hilang. Hal ini biasanya dihubungkan dengan fase syok spinal. Dalam periode ini, kandung kencing bersifat arefleksi dan memerlukan drainase periodik atau kontinu yang cermat dan tes provokatif dengan menggunakan 4 oz air dingin steril suhu 4oC tidak akan menimbulkan aktifitas refleks kandung kencing.
    Tes air es dikatakan positif bila pengisian dengan air dingin segera diikuti dengan pengeluaran air kateter dari kandung kencing. Drainase kandung kencing yang adekuat selama fase syok spinal akan dapat mencegah timbulnya distensi yang berlebih dan atoni dari kandung kencing yang arefleksi.

    2. Penatalaksanaan
    Dasar dari penatalaksanaan dari disfungsi kandung kemih adalah untuk mempertahankan fungsi gunjal dan mengurangi gejala.

    a. Penatalaksanaan gangguan pengosongan kandung kemih dapat dilakukan dengan cara
    o Stimulasi kontraksi detrusor, suprapubic tapping atau stimulasi perianal
    o Kompresi eksternal dan penekanan abdomen, crede’s manoeuvre
    o Clean intermittent self-catheterisation
    o Indwelling urethral catheter

    b. Penatalaksanaan hiperrefleksia detrusor
    o Bladder retraining (bladder drill)
    o Pengobatan oral, Propantheline, imipramine, oxybutinin

    c. Penatalaksanaa operatif
    Tindakan operatif berguna pada penderita usia muda dengan kelainan neurologis kongenital atau cedera medula spinalis.



    Bladder training
    Adalah salah satu upaya untuk mengembalikan fungsi kandung kencing yang mengalami gangguan ke keadaan normal atau ke fungsi optimal neurogenik (UMN atau LMN), dapat dilakukan dengan pemeriksaan refleks-refleks:

    1. Refleks otomatik
    Refleks melalui saraf parasimpatis S2-3 dansimpatis T12-L1,2, yang bergabung menjadi n.pelvikus. Tes untuk mengetahui refleks ini adalah tes air es (ice water test). Test positif menunjukkan tipe UMN sedangkan bila negatif (arefleksia) berarti tipe LMN.





    2. Refleks somatis
    Refleks melalui n.pudendalis S2-4. Tesnya berupa tes sfingter ani eksternus dan tes refleks bulbokarvernosus. Jika tes-tes tersebut positif berarti tipe UMN, sedangkan bila negatif berarti LMN atau tipe UMN fase syok spinal

    Langkah-langkah Bladder Training:
    1. Tentukan dahulu tipe kandung kencing neurogeniknya apakah UMN atau LMN
    2. Rangsangan setiap waktu miksi

    3. Kateterisasi:
    a. Pemasangan indwelling cathether (IDC)=dauer cathether
    IDC dapat dipasang dengan sistem kontinu ataupun penutupan berkala (clamping). Dengan pemakaian kateter menetap ini, banyak terjadi infeksi atau sepsis. Karena itu kateterisasi untuk bladder training adalah kateterisasi berkala. Bila dipilh IDC, maka yang dipilih adalah penutupan berkala oleh karena IDC yang kontinu tidal fisiologis dimana kandung kencing yang selalu kosong akan mengakibatkan kehilangan potensi sensasi miksi serta terjadinya atrofi serta penurunan tonus otot kk


    b. Kateterisasi berkala
    Keuntungan kateterisasi berkala antara lain:
    o Mencegah terjadinya tekanan intravesikal yang tinggi/overdistensi yang mengakibatkan aliran darah ke mukosa kandung kencing dipertahankan seoptimal mungkin
    o Kandung kencing dapat terisi dan dikosongkan secara berkala seakan-akan berfungsi normal
    o Bila dilakukan secara dini pada penderita cedera medula spinalis, maka penderita dapat melewati masa syok spinal secara fisiologis sehingga fedback ke medula spinalis tetap terpelihara
    o Teknik yang mudah dan penderita tidak terganggu kegiatan sehariharinya

    4. Penatalaksanaan gangguan fungsi miksi pada lesi medula
    a. Lesi kauda Ekuina
    Penatalaksanaan pada pasien dengan lesi kauda ekuina memerlukan perhatian khusus. Pada umumnya ditemukan kandung kencing yang arefleksi (nonkontraktil) dan miksi dilakukan dengan bantuan manipulasi Crede atau Valsava. Lesi umumnya inkomplit atau tipe campuran dan berpotensi untuk mengalami penyembuhan. Pemeriksaan urodinamik mungkin menunjukkan sfingter uretral eksternal yang utuh danps demikian dengan lesi suprakonus mungkin mengalami kesulitan dalam miksi kecuali bila terdapat tekanan intravesikal yang penuh yang dapat mengakibatkan refluksi vesikoureteral. Pada pasien ini didapatkan kerusakan pada persarafan parasimpatis dengan persarafan simpatis yang utuh atau mengalami reinervasi dimana leher kandung kencing mungkin tidak dapat membuka dengan baik pada waktu miksi.

    b. Sindroma Medula Spinalis Sentral
    Neurogenic bladder akibat lesi inkomplit seperti lesi medula spinalis sentral dapat Diperbaiki pada lebih dari 50% pasien. Disamping disfungsi neurologis yang berat dalam minggu-minggu pertama, pemulihan fungsi kandung kencing dapat terjadi terutama karena serabut kandung kencing terletak perifer pada medula spinalis. Penatalaksanaan biasanya dgnkateterisasi intermiten danobat-obatan. Keadaan inkontinens dapat ditimbulkan dengan reseksi sfingter transuretral dini. DDS yang menetap, spastisitas yang berat dan hidronefrosis merupakan indikasi untuk tindakan sfingtertomi transuretral setalh mencoba penggunaan penghambat alfa, antikolinergik dan pelemas otot skelet seperti baclofen. Penatalaksanaan neurogenic bladder pada pasien wanita dengan lesi medula spinalis (UMN) adalah sulit, namun penatalaksanaan lesi konus dankauda (LMN) adalah mudah dengan menggunakan manuver Crede/Valsava.




    Kateterisasi intermiten dimulai setiap 4 sampai 6 jam dan dengan restriksi cairan sampai 1,5 liter perhari pada umunya memerlukan kateterisasi 3 kali perhari. Pada lesi suprakonus dengan kandung kencing hiperrefleks, untuk mengurangi inkontinens antara kateterisasi, dapat diberikan antikolinergik seperti oxybutinin 1-2 kali 5 mg perhari. Iritabilitas kandung kencing meningkat dengan adanya infeksi sehingga pengobatan infeksi adalah penting. Profilaksis jangka panjang untuk infeksi saluran kencing sangat direkomendasikan. Pasien dilatih untuk mengosongkan kandung kencing dengan menggunakan suprapubic tapping dan manuver Valsava secara periodik. Kegagalan dalam kateterisasi berkala biasanya memerlukan tindakan indwelling cathether jangka panjang. Tindakan bedah saraf seperti blok radis sakral dapat diindikasikan untuk mengubah keadaan reflex (contractile) bladder menjadi keadaan areflexic bladder yang penatalaksanaannya lebih mudah dengan tindakan Crede/Valsava. Implant radix sakral untuk merangsang miksi baru dicoba pada pasien paraplegi dengan contactile bladder.




    DAFTAR PUSTAKA
    Chancellor MB. Practical neuro-urology, genitourinary complications in neurologic disease. Boston: Butterworth, 1995: 9-21, 99-190, 239-306
    Duus P. Topical diagnosis in neurology.3rd ed. New York: George Thieme, 1983:293-305
    Fowler CJ. Bladder dysfunction inneurologic disease, In Asbury. Disease of the nervous system, clinical neurobiology. 2nd ed, vol.1, Philadelphia: WB Sounders, 1992:512-526
    Fowler CJ. Neurogenic bladder dysfunction and its management, In Greenwood R et al. Neurological rehabilitation. New Tork : Churchil Livingstone, 1993:269-276
    Lindsay KW. Neurology and neurosurgery illustrated. 3rd ed. New York: Churcill Livingstone, 1997: 445-446
    Marotta JT. Spinal injury, In Rowland LP. Merritt’s texybook of neurology. 9th ed. Philadelphia : Williams & Wilkins, 1995:440-446
    Perkash I. Management of neurogenic bladder dysfunction of the bladder and bowel, In Kottke FJ, Krusen’s handbook of physical medicine and rehabilitaion. 4th ed. Philadelphia: WB Sounders, 1990:810-831
    Snell RS. Neuroanatomi klinik, Jakarta : EGC, 1996:504-506 Swash M. The conus medullaris and sphincter control, in Critchley E. A Spinal cord disease, basic science, diagnosis and management. London : springer-Verlag, 1997: 403-412"
    lihat artikel selengkapnya - Gangguan Miksi

    Selasa, 01 Maret 2011

    OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT

    OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT: "

    OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT

    SUSUNAN SARAF PUSAT
    Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain : mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
    SUSUNAN SARAF PUSAT
    OTAK DEPAN
    Kortek serebrum
    Ø Untuk menentukan perilaku yang bertujuan dan beralasan
    Ø lobus frontalis : pusat berfikir, berperilaku, penentuan keputusan
    Ø lobus parietalis : pusat pendengaran dan perabaan
    Ø lobus oksipitalis : pusat asosiasi visual
    Ø lobus temporalis : pusat auditorik
    Diencefalon
    Ø Thalamus : menerima semua informasi sensorik
    Ø Hipothalamus : Endokrin, mengarahkan informasi mengenai suhu, rasa lapar, aktivitas susunan saraf otonom,status emosi
    BATANG OTAK
    Ø terdiri dari : pons, medula oblongata, mesensefalon
    Ø terdapat neuron-neuron yang mengatur fungsi sistem kardiovaskuler dan respirasi
    SEREBELUM
    Ø Membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab bagi respon otak
    OTAK BESAR
    OTAK BESAR
    OTAK BESAR
    OTAK BESAR
    POTONGAN SAGITAL OTAK
    OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT
    1. AMFETAMIN
    Ø Indikasi : untuk narkolepsi, gangguan penurunan perhatian
    Ø Efek samping : Euforia dan kesiagaan, tidak dapat tidur, gelisah, tremor, iritabilitas dan beberapa masalah kardiovaskuler (Tachicardia, palpitasi, aritmia, dll)
    AMFETAMIN
    AMFETAMIN

    Ø Farmakokinetik : waktu paruh 4-30 jam, diekskresikan lebih cepat pada urin asam daripada urin basa
    Ø Reaksi yang merugikan : menimbulkan efek- efek yang buruk pada sistem saraf pusat, kardiovaskuler, gastroinstestinal, dan endokrin.
    Ø dosis : Dewasa : 5-20 mg
    Anak > 6 th : 2,5-5 mg/hari
    2. METILFENIDAT
    Ø indikasi : pengobatan depresi mental, pengobatan keracunan depresan SSP, syndrom hiperkinetik pada anak
    Ø efek samping : insomnia, mual, iritabilitas, nyeri abdomen, nyeri kepala, Tachicardia
    Ø Kontraindikasi : hipertiroidisme, penyakit ginjal.
    METILFENIDAT
    Ø Farmakokinetik : diabsorbsikan melalui saluran cerna dan diekskresikan melalui urin, dan waktu paruh plasma antara 1-2 jam
    Ø Farmakodinamik : mula- mula :0,5 – 1 jam P : 1 – 3 jam, L : 4-8 jam.
    Ø Reaksi yang merugikan : takikardia, palpitasi, meningkatkan hiperaktivitas.
    Ø dosis pemberian :
    Anak : 0.25 mg/kgBB/hr
    Dewasa : 10 mg 3x/hr
    3. KAFEIN
    Ø indikasi : menghilangkan rasa kantuk, menimbulkan daya pikir yang cepat, perangsang pusat pernafasan dan fasomotor, untuk merangsang pernafasan pada apnea bayi prematur
    Ø efek samping : sukar tidur, gelisah, tremor, tachicardia, pernafasan lebih cepat
    Ø Kontraindikasi : diabetes, kegemukan, hiperlipidemia, gangguan migren, sering gelisah (anxious ).
    KAFEIN
    KAFEIN
    Ø Farmakokinetik : kafein didistribusikan keseluruh tubuh dan diabsorbsikan dengan cepat setelah pemberian, waktu paruh 3-7 jam, diekskresikan melalui urin
    Ø Reaksi yang merugikan : dalam jumlah yang lebih dari 500 mg akan mempengaruhi SSP dan jantung.
    Ø dosis pemberian : apnea pada bayi : 2.5-5 mg/kgBB/hr, keracunan obat depresan : 0.5-1 gr kafein Na-Benzoat (Intramuskuler)
    4. NIKETAMID
    Ø Indikasi : merangsang pusat pernafasan
    Ø efek samping : pada dosis berlebihan menimbulkan kejang
    Ø farmakokinetik : diabsorbsi dari segala tempat pemberian tapi lebih efektif dari IV
    Ø dosis : 1-3 ml untuk perangsang pernafasan
    NIKETAMID
    5. DOKSAPRAM
    Ø Indikasi : perangsang pernafasan
    Ø Efek samping : hipertensi, tachicardia, aritmia, otot kaku, muntah
    Ø farmakokinetik : mempunyai masa kerja singkat dalam SSP
    Ø Dosis : 0.5-1.5 mg/kgBB secara IV
    DOXAPRAM
    DOXAPRAM
    PROSES KEPERAWATAN PERANGSANG SSP
    Ø Pengkajian
    Tentukan apakah ada riwayat penyakit jantung, hipertensi, hipertiroidisme, atau glaukoma.
    Periksa tanda-tanda vital.
    Ø Perencanaan : klien akan diberikan perangsang SSP yang diresepkan dan tidak akan mengalami efek samping.
    Ø Intervensi keperawatan
    Periksa denyut jantung dan tekanan darah, laporkan jika terdapat takikardia, denyut jantung yang iregular atau peningkatan tekanan darah.
    Berikan amfetamin dan obat-obatan yang menimbulkan anoreksia kira-kira 6-8 jam sebelum tidur.
    Periksa efek samping dari perangsang SSP.

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - OBAT PERANGSANG SUSUNAN SARAF PUSAT

    Senin, 28 Februari 2011

    •OBAT PENEKAN SUSUNAN SARAF PUSAT

    •OBAT PENEKAN SUSUNAN SARAF PUSAT: "
    •OBAT PENEKAN SUSUNAN SARAF PUSAT


    • 0bat yang bekerja langsung pada sistem susunan saraf pusat
    • SUSUNAN SARAF PUSAT
    • Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain : mengkoordinasi, menafsirkan dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.
    • SUSUNAN SARAF PUSAT
    • OTAK DEPAN
    • Kortek serebrum
    Ø Untuk menentukan perilaku yang bertujuan dan beralasan
    Ø lobus frontalis : pusat berfikir, berperilaku, penentuan keputusan
    Ø lobus parietalis : pusat pendengaran dan perabaan
    Ø lobus oksipitalis : pusat asosiasi visual
    Ø lobus temporalis : pusat auditorik
    • Diencefalon
    Ø Thalamus : menerima semua informasi sensorik
    Ø Hipothalamus : Endokrin, mengarahkan informasi mengenai suhu, rasa lapar, aktivitas susunan saraf otonom,status emosi
    • BATANG OTAK
    Ø terdiri dari : pons, medula oblongata, mesensefalon
    Ø terdapat neuron-neuron yang mengatur fungsi sistem kardiovaskuler dan respirasi
    • SEREBELUM
    Ø Membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab bagi respon otak
    • OTAK BESAR
    • OTAK BESAR
    • OTAK BESAR
    • OTAK BESAR
    • POTONGAN SAGITAL OTAK
    • Obat penekan susunan saraf pusat
    Ø Sedatif-hipnotik
    Ø Anestesik umum dan lokal
    Ø Analgesik
    Ø Analgesik narkotik
    Ø Antikonvulsi
    Ø Antipsikotik
    Ø Anti depresan
    • 1. SEDATIF - HIPNOTIK
    • Obat yang dapat mengakibatkan hilangnya respon fisik dan mental namun tidak mempengaruhi kesadaran
    • Obat yang mengurangi ketegangan dan kecemasan ( ansietas )
    • Macam sedatif hipnotik : Barbiturat, benzodiazepin, piperidinedione
    • Masa kerja hipnotik :
    Masa kerja singkat
    Masa kerja sedang
    • BARBITURAT
    • Pertama kali diperkenalkan pada awal 1900-an
    • Klasifikasi :
    Ø Masa kerja panjang, meliputi : fenobarbital, mefobarbital, dan metarbital yang dipakai untuk mengandalikan kejang pada epilepsi.
    Ø Masa kerja sedang, meliputi : amobarbital ( amytal ), aprobarbital ( alurate ), butabarbital ( butisol ) dipakai untuk mempertahankan tidur dalam waktu yang lama.
    Ø Masa kerja cepat, meliputi : sekobarbital (seconal), pentobarbital (nembutal), dipakai untuk obat tidur.
    Ø Masa kerja sangat singkat, meliputi :natrium tiopental (penthotal), yang dipakai untuk anestesi umum.
    • Dalam penggunasnnya, barbiturat harus dibatasi karena karena banyak efek samping.
    • Indikasi
    Untuk mengobati insomnia,sedasi, medikasi pra bedah.
    • Kontra indikasi
    depresi pernafasan, penyakit hati yang berat, kehamilan
    • Efek samping
    letih, mengantuk, hang over, pusing, mual, muntah,diare.
    • Reaksi yang merugikan
    depresi pernafasan, ketergantungan obat, dan toleransi.
    • Farmakokinetik
    absorbsi P.O : 90%
    ditribusi : PP 35 - 45%
    metabolisme : t½: 4 jam (tahap I), 30-50 jam (tahap II)
    eliminasi : urin sebagai metabolit
    • BENZODIAZEPIN
    • Sedatif-hipotonik yang menimbulkan tidur
    • Mengakibatkan mimpi buruk dan mimpi yang tidak jelas.
    • Meliputi : flurazepam (dalmane), temazepam, triazora.
    • Indikasi : insomnia
    • Kontra indikasi : kehamilan, hipersensitifitas terhadap benzodiazepin.
    • Efek samping : hangover, sakit kepala, mengantuk, mual, muntah, diare, bingung, depresi mental.
    • Farmakokinetik
    absorbsi : P.O : F&T diabsorbsi dengan baik.
    distribusi : PP (F)=97%, T=96%
    metabolisme : t½ : F 2-3 jam, T =10-20 jam
    eliminasi :ginjal sebagai metabolik aktif
    • Farmakodinamik
    F =mula:15-45 menit, P=30-60 menit, L=7-10 jam
    T=mula:30 menit, P=2-3 jam, L=10-18 jam

    • Piperidinedione
    • Peertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an, berupa glutetimid, metiprilon, yang mempunyai efek seperti barbiturat dengan masa kerja singkat.
    • Dipasarkan sebagai non adiktif
    • Dapat menimbulkan reaksi merugikan yang serius
    • Sudah jarang dipakai
    • Piperidinedione
    • Kloral hidrat
    • Etklorvinol (placydil), kloral hidrat, paral dehid
    • Efektif pada lansia
    • Hati-hati pada penderita gangguan hati berat
    • Iritasi lambung sering terjadi
    • 2. Anestetik
    • Anestesi umum dan lokal
    • Mengurangi nyeri, menyebabkan hilangnya kesadaran
    • anestesi seimbang, suatu kombinasi obat-obatan yang sering dipakai dalam anestesi umum, meliputi :
    Hipnotik diberikan semalam sebelumnya
    Premedikasi
    Barbiturat dengan masa kerja singklat, seperti natrium tiopenal
    Has inhalan, seperti nitrous oksida dan oksigen
    Pelemas otot jika diperlukan

    • Anestesi lokal
    • Anaestesi lokal menghilangkan sakit pada tempat dimana obat diberikan, dan kesadaran tetap dipertahankan, pertama kali menggunakan kokain hidroklorida
    • Sekarang menggunakan lidokain hirdroklorida yang mempunyai kerja cepat dan masa kerja lama, lebih stabil dalam larutan, lebih sedikit menimbulkan reaksi hipersensitifitas dari pada prokain.
    • 3. Analgesik narkotik dan non narkotik
    • Diresepkan untuk meredakan nyeri, nyeri yang ringan sampai sedang dari otot rangka dan sendi seringkali diredakan dengan analgesik nonnarkotik. Nyeri yang sedang sampai berat pada otot polos, organ dan lainnya biasanya menggunakan analgesik narkotik
    • Kasifikasi dan jenis nyeri :
    Nyeri akut, yang dapat ringan sedang atau berat
    Nyeri kronik
    Nyeri superfisial
    Nyeri somatik (tulang, otot rangaka, dan sendi)
    Nyeri viseral (nyeri dalam)
    • Analgesik nonnarkotik.
    • Salisilat dan obat antiinflamasi nonsteroid
    v Aspirin (ASA) adalah suatu salisilat analgesik nonnarkotik tertua yang masih dipakai
    v Aspirin dijual bebas, contoh :buferin ecotrin, anacin yang mengandung kafein, dan alka seltzer.
    v Efek utama : meredakan nyeri, antipiretik
    v Kontra indikasi :anak yang mengalami demam, usia>12 tahun
    v Efek samping: iritasi pada lambung
    v P.O. :325-650 mg, 3x sehari (sakit kepala, pegal, nyeri otot). 1 gram 4-6x/hari (untuk inflmasi)
    • Asetaminoven
    • Dijual bebas umumnya dipakai untuk analgesik dan antipiretik pada semua usia
    • Jenis : Tylenol, tempra, panadol, datril
    • Kontraindikasi :penyakit hati / ginjal yang berat
    • Efek samping : anoreksia, muntah diaforesis
    • Reaksi yang merugikan: hipoglikemia berat, perdarahan, oligouria, anemia hemolitik, lekopenia.
    • Dosis : P.O. : 325-650 mg 4x sehari
    • Pemakaian dalam jangka waktu yang lama kan menimbulkan nekrosis hati
    • Farmako dinamik : asetamenoven menghambat sintesis prostaglandin yang mengurangi rasa nyeri, efektif untuk mengurangi rasa nyeri sedang dab ringan.
    • Asetamenoven diabsorbsi baik oleh gastro interstinal, karena waktu paruh yang pendek asetaminoven dapat diberikan setiap 4 jam sekali, dengan dosis max.2,5-4g/hari.
    • Dosis tinggi dapat menjadi toksik bagi sel-sel hati
    • Meperidin (Demerol)
    • Mempunyai kerja yang lebih singkat dari pada morfin.
    • Dapat diberikan peroral, intramuskular, dan intravena, dan merupakan narkotik yang paling banyak dipakai untuk meredakan nyeri pascapembedahan.
    • Farmakokinetik : biasa diberikan intramuskular untuk nyeri pascabedah karena diabsorbsi lebih cepat dari pada peroral, diekskresikan dalam urine,t½ sedang dan dapat diberikan beberapa kali perhari.
    • Meperidin (Demerol)
    • Meperidin (Demerol)
    • Meperidin (Demerol)
    • Farmakodinamik : tidak boleh dipakai bersama alkohol, atau hipnotik-sedatif karena dapat mengakibatkan depresi SSP aditif.
    • Indikasi : meredakan nyeri sedang sampai berat.
    • Kontraindikasi : alkoholisme, trauma kepala, peningkatan TIK, penyakit hati, ginjal hati dan paru.
    • Efek samping : mual, muntah, konstipasi, hipotensi, bradikardi, sedasi, kekacauan mental.
    • Reaksi yang merugikan : distres pernafasan, hipotensi berat, ketergantungan.
    • Dosis :P.O.,IM :50-100mg, setiap 3-4 jam jika perlu.
    • Pentazosin (Talwin)
    • Indiaksi : untuk nyeri sedang dan berat.
    • Kontra indikasi : alkoholisme, trauma kepala, penyakit hati, ginjal,paru yang berat.
    • Farmakokinetik : P.O diabsorbsi dengan baik,PP=60%, metabolisme :t½ 2-3 jam, eliminasi :ginjal, sebagian dieliminasi tanpa perubahan.
    • Efek samping : pusing, euforia, mual, muntah, sakit kepla, konstipasi, sedasi, kekacauan mental
    • Pentazosin (Talwin)
    • Pentazosin (Talwin)
    • Antikonvulsi (anti epilepsi)
    • Obat yang digunakan untuk epilepsi
    • Bekerja menekan impuls listrik abnormal dari pusat serangan kejang kedaerah korteks lainnya, sehingga mencegah serangan kejang, namun tidak menghilangkan penyebab serangan kejang.
    • Jenis antikonvulsi
    Ø Hidantoin
    Ø Barbiturat
    Ø Suksinimid
    Ø Oksazolidon / oksazolidindion
    Ø Benzodiazepin
    Ø Iminostilben
    Ø valproat
    • ANTIPSIKOTIK, ANTIANSIETAS DAN ANTIDEPRESI
    • ANTIPSIKOTIK
    • Merupakan kelompak obat terbesar yang dipakai untuk mengobati gangguan mental.
    • Antipsikotik dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok :
    fenotiazin
    nonfenotiazin
    • Fenotiazin
    Fenotiazin Alifatik
    Obat yang termasuk alifatif adalah klorpromazin (thorazin)
    Ø Indikasi : mengobati psikosis, (mania, skizoprenia), cegukan yang tidak mau berhenti.
    Ø Kontra indikasi : gangguan hati, penyakit koroner, insufisiensi cerebral, hipotensi berat.
    Ø Dosis : 25 mg, max 1000mg /hari
    Ø Farmakokinetik :
    • Absoebsi oral bervariasi
    • Berikatan dengan protein sangat kuat
    • t½ : 30 jam
    • Diekskresikan sebagai metabolit dalam urin.
    Ø Efek samping : sedasi, EPS, hipotensi, konstipasi, sakit kepala, retensi urine, mulut dan mata kering.
    Ø Farmakodinamik : mula kerja P.O, IM, IV, adalah sama, preparat sustained-release memperpanjang masa kerja menjadi 10-12 jam.
    2. Fenotiazin Piperazin
    oabat yang termasuk piperazin salah satunya adalah : proklorperazine (compazine)
    Ø Indikasi : mengobati mual, muntah, pemakaian sekunder adalah untuk psikosis.
    Ø Kontraindikasi :
    • Fenotiazin piperazin
    Ø Obat yang termasuk piperazin salah satunya adalah : proklorperazine (compazine)
    Ø Indikasi : mengobati mual dan muntah, pemakaian sekunder adalah untuk psikosis.
    Ø Kontraindikasi : penyakit kardiovaskuler, gangguan hati yang berat, depresi su-sum tulang belakang, glaukoma sudut sempit, serangan kejang.
    Ø Farmakokinetik : absorbsi oral bervariasi, diekskresikan sebagai metabolit dalam urin.
    Ø Farmakodinamik :
    • Mula kerja : Oral, IM, IV sama.
    • Preparat SR memeperopanjang lama kerja menjadi 10-12 jam.
    Ø Dosis : dewasa : P.O : IM 5 mg tidak melebihi 40 mg perhari.
    • Fenotiazin preparadin
    Ø Mempunyai : efek sedatif yang kuat, tidak mempunyai efek anti emetik.
    Ø Obat yang termasuk pipwradin adalah :
    • Tioridazin (mellaril), Dosis dewasa : P.O=50-100mg
    • Mezoridazin besilat (serentil), Dosis dewasa : P.O : 50 mg
    • Non fenotiazin
    Ø Nonfenotiazin yang sering diresepka adalah butirofenon haloperidol (haldol)
    Ø Indikasi : mengobati psikosi akut dan kronik.
    Ø Kontra indikasi : glaukoma sudut sempit, penyakit hati, kardiovaskuler yang berat, depresi sum-sum tulang belakang.
    Ø Dosis : dewasa : P.O = 1,5 mg
    Ø Efek samping : sedasi, EPS, fotosensitifitas, ruam kulit, mulut kering, penglihatan kabur, dan retensi urin.
    • 2. Ansiolitik
    Ø Merupakan obat ansietas yang disebut juga sebagai agen sedatif-hipnotik
    Ø Kelompok dari ansiolitik adalah benzodiazepin (kelompok transquilizer)
    • Benzodiazepin
    Meliputi :
    Ø Klordiazepoksid (librium)
    Ø Diazepam (valium)
    Ø Klorazepat Dipotasium
    Ø Oksazepam (serax)
    Ø Lorazepam (Ativan)
    Ø Halazepam (paxipam)
    Ø Alprazolam (xanax)
    Ø Prazepam (Centlax)
    Ø Indikasi : benzodiazepin merupakan banyak kegunaan, seperti antikonvulsi, antihipertensi, sedatif-hipotonik, obat-obat preoperasi, dan antiansietas.
    Ø Kontraindikasi : kehamilan
    Ø Efek samping : efek sedasi, pusing, sakit kepala, mulut kering, penglihatan kabur, konstipasi, kadang-kadang inkontinensia urine.
    Ø Dosis : sesuai jenis obat, dosis tidak sama.
    • Antidepresi
    Antidepresi Trisiklik (ATS)
    Ø Nertriptilin (Aventyl) termasuk dalam kelompok trisiklik.
    Ø ATS menghambat pengambilan neuro transmiter norepinefrin dan seronin dalam otak.
    Ø Indikasi : mengobati berbagai bentuk depresi
    Ø Kontra indikasi : serangan kejang, glaukoma sudut sempit, hipertrofi prostat.
    Ø Dosis: dewasa : P.O=25 mg- 100mg/hari, t½=18-28 jam,diekskresikan melalui urin.
    Ø Efek samping : sedasi, mengantuk, hipertensi, mulut dan mata kering, penglihatan kabur, retensi urin, konstipasi, EPS.
    2. Antidepresi generasi kedua.
    Ø Jenis : Amoksapin (A) (Asendin)
    Ø Indikasi : mengobati depresi yang disertai ansietas
    Ø Kontra indikasi : serangan kejang, glaukoma sudut sempit, depresi berat dengan kecenderungan bunuh diri, penyakit hati berat.
    Ø Dosis : dewasa P.O : 50mg, naikkan dosis bertahap samapai <300 o ="10" o =" 15" o =" 600-1200" o ="mula">

    http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
    lihat artikel selengkapnya - •OBAT PENEKAN SUSUNAN SARAF PUSAT

    TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: