KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Terkini Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Agustus 2010

Demam Berdarah & Flu Burung

Demam Berdarah & Flu Burung: "

Musim kemarau telah berlalu dan kita memasuki musim penghujan. Di beberapa daerah di Indonesia dilaporkan curah hujan cukup deras bahkan diantaranya hingga menimbulkan banjir yang meresahkan. Selain bahaya banjir yang mengancam, kita harus bersikap waspada terhadap penyakit. Kekebalan tubuh cenderung menurun di tengah musim hujan karena tubuh harus melakukan adaptasi terhadap perubahan suhu dan kelembaban udara. Penurunan kekebalan tubuh ini menyebabkan kita menjadi lebih rentan terhadap penyakit yang sering muncul di musim hujan seperti demam berdarah dan flu burung (bird flu).


Demam Berdarah


Demam berdarah atau DBD adalah penyakit akibat virus Dengue yang ditularkan melalui perantara nyamuk Aedes aegypti. Pada saat ini, pasien penderita demam berdarah terus meningkat secara signifikan bahkan di propinsi DKI Jakarta tercatat 1.752 penderita-8 diantaranya meninggal-yang dirawat akibat demam berdarah sejak awal Januari lalu. Penyakit ini jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan komplikasi yang serius bahkan berakhir pada kematian.


Seseorang dapat tertular penyakit DBD akibat terjangkit virus melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang memiliki ciri-ciri berbadan hitam dengan bintik-bintik putih dan menggigit pada siang hari. Nyamuk ini tinggal di dalam dan di sekitar rumah serta bersarang/bertelur di genangan air yang bersih/jernih, senang hinggap pada pakaian yang bergantungan di kamar. Nyamuk bertelur di permukaan air lalu berkembang menjadi jentik, pupa, akhirnya menjadi nyamuk dewasa dalam waktu kira-kira 10 hari.


Gejala biasanya dirasakan oleh penderita dalam waktu 7 hari setelah virus masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk berupa :


o Panas tinggi yang mendadak 2-7 hari

o Sakit kepala

o Mual

o Nyeri ulu hati

o Tanda-tanda perdarahan seperti :

o Bintik-bintik merah di kulit yang tidak hilang dengan penekanan

o Perdarahan dari hidung/mimisan

o Gusi berdarah

o Berak darah, muntah darah

o Pada kasus berat, kesadaran penderita semakin menurun, sesak nafas, tangan dan kaki berkeringat dingin.


Bila ditemukan gejala-gejala tersebut, segera lakukan pertolongan pertama pada penderita yang mungkin menderita penyakit demam berdarah seperti :


o Memberi minum sebanyak mungkin

o Obat penurun panas, dapat dibantu dengan kompres

o Selanjutnya penderita segera di bawa ke dokter/Puskemas yang terdekat untuk diperiksa. Bila diduga menderita Demam Berdarah, penderita akan dikirim ke RS untuk dirawat.


Mengingat demam berdarah merupakan penyakit yang dapat berakibat fatal, upaya pencegahan memegang peranan yang sangat penting. Pencegahan dilakukan dengan melakukan tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tindakan PSN adalah cara yang terbaik, ampuh, murah, mudah dan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :


o Gerakan 3 M “Menguras, Menutup, Mengubur”

o Menguras. Bersihkan (kuras) tempat penyimpanan air (bak mandi, drum,dll) sekurang-kurangnya 1x/minggu. Gantilah air di vas kembang, tempat minum burung, perangkap semut dll sekurang-kurangnya 1x/minggu.

o Menutup. Tutuplah rapat-rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum dll agar nyamuk tidak masuk dan berkembang biak di tempat itu.

o Mengubur. Kubur/buanglah barang-barang bekas seperti kaleng, ban, botol dll yang dapat menampung air hujan agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

o Untuk tempat yang tidak mungkin atau sulit dikuras, dapat dilakukan abatisasi setiap 2-3 bulan sekali dengan menggunakan bubuk ABATE untuk membunuh jentik-jentik nyamuk.

o Cara Penggunaan : Larutkan bubuk ABATE (dengan takaran 10 liter air = 1 gram bubuk ABATE) dalam genangan air.

o Selama 3 bulan bila tempat penampungan air akan dibersihkan/diganti airnya, hendaknya dinding tempat penampungan air tidak disikat.

o Air yang telah dibubuhi bubuk ABATE dengan takaran yang benar, tidak membahayakan dan tetap aman bia air itu diminum.

o Penyemprotan/fogging untuk membunuh nyamuk dewasa


Flu burung


Flu burung/bird flu (avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus pada burung/unggas. Virus ini dapat ditemukan pada air liur, sekresi pernafasan dan kotoran burung/unggas. Terdapat 15 subtipe virus flu burung namun penyakit yang sering dibicarakan pada saat ini yang berasal dari infeksi virus H5N1. Tingkat kematian akibat flu burung yang disebabkan virus ini pada manusia sangat tinggi. Berdasarkan penelitian WHO yang dilakukan di Vietnam, dari 10 penderita flu burung, 8 orang meninggal, 1 orang sembuh dan 1 dalam kondisi kritis. Sampai saat ini manusia terjangkit melalui unggas dan belum ada bukti penularan antar manusia. Namun tidak tertutup kemungkinan bahwa virus flu burung dapat bermutasi menjadi varian baru sehingga virus dapat menular melalui antar manusia dan menjadi wabah di dunia.


Manusia dapat tertular flu burung jika terkena kontak dengan burung & unggas yang sakit. Penyebaran penyakit flu burung jelas melintasi batas Negara (pandemi). Kasus flu burung akibat infeksi virus H5N1 dilaporkan di Indonesia pada bulan Agustus 2003. Sampai saat ini total kasus infeksi di Indonesia akibat flu burung pada manusia mencapai 80 kasus dan 62 diantaranya menyebabkan kematian. Selama musim hujan seperti sekarang, masyarakat diharapkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus flu burung. Hal ini disebabkan daya tahan virus H5N1 pada musim hujan/musim dingin meningkat sedangkan daya tahan tubuh manusia pada musim hujan akan turun sehingga mudah terinfeksi.


Flu burung banyak menyerang anak-anak <12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum kuat. Gejala flu burung pada manusia menyerupai gejala flu pada umumnya seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan dan batuk tetapi kondisi penderita sangat cepat menurun drastis akibat peradangan di paru-paru (pneumonia). Pada keadaan berat, kesadaran penderita semakin menurun, sesak nafas yang bila berlanjut menjadi gagal nafas yang menyebabkan kematian.


Gejala yang terjadi pada manusia yang menderita flu burung :


-Demam (suhu badan diatas 38 C)

-Nyeri otot

-Lemas

-Tidak nafsu makan, muntah, diare, nyeri perut

-Sakit kepala

-Infeksi mata

-Batuk dan nyeri tenggorokan

-Peradangan paru-paru (pneumonia)


Sampai saat ini belum ditemukan obat yang spesifik untuk flu burung. Terapi yang diberikan berupa anti virus seperti oseltamivir (Tamiflu©), antibiotik dan obat-obatan yang bersifat suportif meredakan gejala batuk, sakit kepala dll. Upaya pencegahan penularan harus dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi kotoran dan sekret unggas mengingat belum ada obat yang spesifik untuk penyakit ini. Para peneliti sedang mengembangkan vaksin yang dapat melindungi kita dari flu burung sementara itu kita harus melakukan tindakan pencegahan seperti :


o Diri sendiri

o Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan istirahat cukup.

o Mengolah produk unggas/burung dengan memasak sampai matang (goreng, rebus, panggang) karena virus H5N1 mati pada suhu tinggi tersebut.

o Rajin cuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik

o Bersihkan permukaan dengan deterjen, cairan alkohol 70%, pemutih/khlorin 0.5%

o Gunakan penutup mulut dan hidung, sarung tangan dan sepatu boot bila memasuki daerah yang telah terjangkit virus flu burung

o Amati dengan teliti kesehatan anda apabila telah melakukan kontak dengan unggas/burung. Segera pergi ke pusat kesehatan terdekat bila timbul gejala demam, infeksi mata, dan/atau kesulitan bernafas.

o Lingkungan

o Menjaga kebersihan lingkungan (khususnya kandang unggas dan burung)

o Menjauhkan kandang unggas (ayam, itik, dll) dari tempat tinggal

o Gunakan penutup hidung dan sarung tangan bila akan mengolah tanaman dengan pupuk kandang

o Jangan membuang kotoran (jeroan, bulu ayam, dll) sembarangan tetapi dibungkus plastik serta dibuang di tempat yang aman.

o Bersihkan makanan ternak/burung yang tercecer di tanah/lantai agar tidak mengundang burung liar dating


dr. Sheila Agustini

Citraland Medical Center


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Demam Berdarah & Flu Burung

ANALISIS MASALAH KESEHATAN

ANALISIS MASALAH KESEHATAN: "

ANALISIS MASALAH KESEHATAN 1. Tentukan masalah kesehatan yang akan dipecahkan? 50% ibu hamil anemia di Kecamatan B 2. Tentukan penyebab masalah (yang bukan perilaku) Kurangnya zat besi (defisiensi Fe) 3. Tentukan sifat masalah : a. Beratnya : 50 dari 100 ibu hamil sebagian ibu hamil di kecamatan B mengalami Anemia atau kekurangan zat besi (Fe). Anemia dapat menimbulkan menurunnya asupan oksigen sehingga dapat membahayakan karena dapat menyebabkab keterhambatan pertumbuhan janin dalam kandungan bahkan dapat pula berahir dengan kematian janin ataupun pada ibu hamil yang mengalami anemia. b. Luasnya : Kelompok yang rentan terkena anemia defisienmsi Fe adalah ibu hamil. Ibu menyusui, wanita usia subur yang mengalami menstruasi dan bayi / balita. c. Bermusim atau yang lain : Pada ibu hamil di usia kehamilan 32 sampai 34 minggu adalah puncaknya terjadi pengenceran (hemodilusi) dengan peningkatan volume 30% – 40% sehingga relatif terjadi anemia pada kehamilan. Pada wanita hamil kebutuhan akan zat besi meningkat sehingga perlu pemberian prefarat Fe, Anemia dapat terjadi pada ibu hamil yang tidak mendapatkan atau tidak mengkonsumsi tambahan zat besi yang cukup. 4. Tentukan epidemilogi masalah : Pada ibu hamil kebutuhan akan zat besi (Fe) meningkat, jika kebutuhan Fe ini tidak terpenuhi dengan pemberian atau konsumsi preforat Fe dan gizi yang seimbang maka ibu hamil tersebut akan mengalami anemia yang akan memperburuk kondisi kesehatan dirinya dan janin yang berada didalam kandungannya. Ibu hamil yang mengalami anemia pada proses persalinan juga akan lebih beresiko tinggi terhadap terjadinya perdarahan pasca melahirkan. ANALISIS MASALAH PERILAKU 1. Tentukan perilaku ideal (dijabarkan dalam tindakan-tindakan spesifikasi dan jelas) Ibu hamil hendaknya – Melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin ke tempat pelayanan kesehatan sesuai anjuran agar mendapatkan informasi yang cukup tentang masalah yang dapat timbul pada masa kehamilan dan memperoleh preforat zat besi yang cukup – Ibu hamil hendaknya mendapatkan dukungan sosial dalam masa kehamilan termasuk mengontrol ibu hamil untuk mengkonsumsi zat besi atau tablet tambah darah yang diberikan oleh tenaga kesehatan – Mengkonsumsi prefarat zat besi yang diberikan oleh tenaga kesehatan dan makanan yang bergizi seperti sayur-sayuran dan ikan 2. Tentukan perilaku sekarang (dijabarkan dalam tindakan-tindakan yang spesifik dan jelas) – Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan bila mengalami keluhan saja bila tidak mengalami keluhan kehamilan dianggap hal yang biasa- biasa saja yang tidak perlu perhatian khusus – Ibu hamil yang sudah memeriksakan kehamilan sesuai anjuran dari tenaga kesehatan dan telah mendapatkan prefarat zat besi tetapi tidak diminum – Rasa takut terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan karena trauma masa lalu – Jauhnya jarak yang harus ditempuh ibu hamil untuk mendapatkan pelayanan kesehatan 3. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku ideal : Antara lain : • Dampak terhadap masalah kesehatan • Hasil dari melakukan perilaku • PErasaan (emotion) yang timbul • Ongkos dari perilaku (ekonomi maupun sosial) • Dukungan sosial • Harga diri • Keterampilan yang dibutuhkan • Kepercayaan diri yang diperlukan • Perilaku yang bertentangan • Perilaku lain yang serupa • Frekuensinya • Lamanya • Pengalaman mengenai pengalaman kesehatan • Pengetahuan Rumusan – Kurangnya dukungan sosial pada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan sedini mungkin dan teratur sesuai anjuran dari tenaga kesehatanANC – Kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang dampak yang dapat ditimbulkan akibat kurang darah atau Anemia – Jauhnya jarak tempat mendapatkan pelayanan kasehatan sehingga memerlukan ongkos atau biaya dan waktu yang tidak sedikit untuk mencapainya. – Masih adanya anggapan masyarakat bahwa tenaga kesehatan selalu mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawa ibu hamil atau melahirkan, sedangkan dukun atau paraji tidak seperti itu – Kurang percayanya (rasa ragu) masyarakat kepada pelayanan kesehatan yang diberikan tenaga kesehatan. 4. Analisis untung rugi (dari persepsi sasaran) misalnya : Rugi : Ekonomis (waktu, ongkos, pelayanan, peralatan) yang harus dikorbankan untuk mendapatkan pelayanan pemerikaan kehamilan dan mendapatkan tablet tambah darah Sosial adanya perasaan takut, malu, dan masih adanya anggapan bahwa tenaga kesehatan kesehatan hanya melayani orang yang berkelas sosial menengah keatas. Untung : Ekonomi : Tablet tambah darah (zat besi) dapat diperoleh ditempat pelayanan kesehatan dengan harga murah dan bahkan gratis Sosial : Dapat memperoleh informasi tentang masalah yang dapat saja terjadi pada ibu yang sedang hamil termasuk bahaya anemia dan masalah kesehatan lainnya dari tenaga kesehatan Terciptanya hubungan yang baik dan tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang sesungguhnya tidak menakutkan ataupun membahayakan tapi justru sebalikya yaitu pelayanan yang aman dan nyaman. 5. Analisis faktor-faktor yang melatarbelakangi perilaku : Kurangnya dukungan sosial kepada ibu hamil untuk mendapatkan dan mengkonsumsi tablet penambah darah melalui pemeriksaan kehamilan secara teratur ke tempat pelayanan kesehatan Banyaknya biaya atau ongkos dan waktu yang dikorbankan untuk mencapai pelayanan kesehatan Kurangnya pengetahuan atau infomasi yang didapatkan ibu hamil tentang bahaya yang dapat timbul akibat anemia dalam kehamilan 6. Analisis tahap-tahap adopsi perilaku (sasaran sudah ditingkat mana) Rumusan : Sasaran (ibu Hamil) berada pada tahap mempertimbangkan (contempcation) 7. Skala analisis perilaku : a. Dampak Anemia dapat berdampak buruk terhadap ibu dan janin yakni terhambatnya pertumbuhan janin bahkan dapat juga berahir pada kematian janin ataupun ibu hamil yang mengalami anemia b. Cost Biaya dan waktu yang harus dikorbankan tidak seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari kunjungan ibu hamil ketempat pelayanan kesehatan 8. Tentukan perilaku yang diharapkan? (Feasible) dijabarkan dalam tindakan-tindakan yang spesifik dan jelas. – Angka kejadian Anemia pada ibu hamil turun menjadi 10 % dengan pemenuhan kebutuhan zat besi atau tablet tambah darah pada ibu hamii dan pemenuhan gizi seimbang. 9. Analisis  Yang diperlukan untuk perilaku yang diharapkan  Yang dapat dimanfaatkan untuk perilaku yang diharapkan. a) Dari pemerintah – Adanya kebijakan dari pemerintah dalam usaha menurunkan angka kejadian Anemia pada ibu hamil berupa peraturan dan Anggaran Dana bagi pemenuhan kebutuhan tablet Fe berupa penberian tablet Fe gratis dan Gizi yang seimbang dengan pemberian makanan tambahan pada ibu hamil di kabupaten B b) Dari lembaga swadaya masyarakat Dukungan sosial dan moral dari Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) untuk mengurangi angka kejadian Anemia pada ibu hamil di kabupaten B. Seperti : Pendataan jumlah ibu hamil dan pemantauan kunjungan rutin yang teratur ketempat pelayanan kesehatan serta kecukupan gizinya c) Dari Masyarakat – Keluarga dan suami turut berperan dalam membantu dan memantau ibu hamil agar tetap selalu menkonsumsi Fe (Zat Besi) yan didapatkan dari tenaga kesehatan secara rutin – Toma / Toga → memberikan motivasi pada ibu hamil dan keluarganya agar terhindar dari masalah gizi dan Anemia. d) Lain-lain – Tenaga kesehatan memberikan KIE pada ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur. – Mengatasi masalah yang mungkin dapat timbul akibat Anemia pada ibu hamil. 10. Tentukan pokok-pokok strategi perubahan perilaku untuk mencapai perilaku yang diharapkan – Menurunkan Angka kejadian Anemia pada ibu hamil, dalam waktu yang singkat dan dengan biaya yang tersedia – Meningkatkan dukungan sosial dan keluarga agar berperan serta dalam menurunkanangka kejadian anemia pada ibu hamil disekitar tempat tinggal mereka. – Meningkatkan kesadaran dan pengetauhan ibu hamil dan masyarakat mengenai Anemia serta dampak yang ditimbulkan karena Anemia pada kehamilan MENETAPKAN SASARAN 1. Sasaran primer (yang terkena masalah dan/atau memperoleh manfaat yang paling besar) dengan segmen-segmen yang spesifik dan jelas. a. Berdasar kategori umur adalah → Wanita usia subur (WUS) khususnya ibu yang sedang hamil b. Berdasarkan tahap perkembangan produksi → Ibu Hamil yaitu ibu yang sedang dalam masa kehamilan sejak diketahiu hamil sedini mungkin c. Berdasarkan Geografi → Masyarakat pedesaan yang jauh dari jangkauan tenaga kesehatan ataupun pelayanan kesehatan 2. Sasaran sekunder (yang berpengaruh langsung atau disegani oleh saasran primer) dengan segmen-segmen yang spesifik dan jelas. a) * Kepala Keluarga atau suami dari ibu yang sedang hamil * Keluarga yang berpengaruh atau busa mengambil keputusan terhadap kehamilan siibu hanil tersebut b) * Petugas kesehatan yang bisa memberi pengaruh kepada ibu hamil dan keluarganya * Toma / toga yang berpenagruh dalam pengambilan keputusan bagi warga disekitarnya c) * Pemuka masyarakat yang berpengaruh kepada ibu hamil dan keluarganya MENETAPKAN PESAN POKOK 1. Tujuan yang diharapkan – Menurunnya angka kejadian Anemia pada ibu hamil sampai dengan 70 % di kecamatan B. 2. Prilaku yang diharapkan – Ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilannya secara teratur sehingga terhindar dari kejadian anemia. 3. Keuntungan bagi sasaran – ibu hamil terbebas / terhindar dari kejadian Anemia yang dapat membahayakan / mengancam kesehatan ibu dan janin yang berada dalam kandungannya 4. Alasannya Karena Anemia dapat menyebabkan kematian baik bagi ibu ataupun bayi / janin. 5. Contoh Pesan Pokok -“ Tablet tambah darah membebaskan anda dari anemia” -“ Dapatkan tablet tambah darah di posyandu atau puskesmas terdekat”


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - ANALISIS MASALAH KESEHATAN

FAKTA FLU BABI

FAKTA FLU BABI: "

20090421084532pig_66Para pakar pengendali penyakit masih berupaya mencari jalan dalam mengatasi wabah flu babi di Meksiko dan Amerika Serikat, dan dugaan kasus ini di negara lain.


Apakah flu babi?

Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi. Disebabkan oleh influenza tipe A, wabah penyakit ini pada babi rutin terjadi dengan tingkat kasus tinggi namun jarang menjadi fatal.


Penyakit ini cenderung mewabah di musim semi dan musim dingin tetapi siklusnya adalah sepanjang tahun. Ada banyak jenis flu babi dan seperti flu pada manusia penyakit ini secara konstan berubah.


Apakah manusia bisa terjangkit flu babi?

Flu babi biasanya tidak menjalar pada manusia, meski kasus sporadis juga terjadi dan biasanya pada orang yang berhubungan dengan babi. Catatan mengenai kasus penularan dari manusia ke manusia juga sangat jarang.


Penularan manusia pada manusia flu babi diperkirakan menyebar seperti flu musiman – melalui batuk dan bersin. Dalam wabah yang kini terjadi belum jelas apakah penyakit itu ditularkan dari manusia ke manusia.


Gejala flu babi pada manusia tampaknya serupa dengan gejala-gejala flu musiman manusia.


Apakah ini jenis baru flu babi?

Badan Kesehatan Dunia, WHO, membenarkan bahwa setidaknya sejumlah kasus adalah versi H1N1 influenza tipe A yang tidak pernah ada sebelumnya.


H1N1 adalah virus yang menyebabkan flu musiman pada manusia secara rutin. Namun versi paling baru H1N1 ini berbeda: virus ini memuat materi genetik yang khas ditemukan dalam virus yang menulari manusia, unggas dan babi.


Virus flu memiliki kemampuan bertukar komponen genetik satu sama lain, dan besar kemungkinan versi baru H1N1 merupakan hasil perpaduan dari berbagai versi virus yang berbeda yang terjadi di satu binatang sumber.


Apakah aman makan daging babi?

Tidak ada bukti flu babi menular lewat konsumsi daging binatang yang terjangkit. Namun, daging itu harus dimasak matang, suhu 70C akan membunuh virus itu.


Apakah warga harus khawatir?

Saat muncul jenis baru flu yang memiliki kemampuan menyebar dari manusia ke manusia pihak berwenang mengawai dengan seksama untuk melihat apakah memiliki potensi menyebabkan pandemi.


WHO memperingatkan kasus-kasus di Meksiko dan Amerika Serikat berpotensi menyebabkan pandemi global dan menegaskan situasi ini serius.


Akan tetapi, WHO mengatakan masih terlalu dini untuk menilai situasi ini secara akurat. Saat ini, WHO mengatakan dunia hampir mendekati situasi pandemi flu dibandingkan tahun-tahun sejak 1968 – tingkat ancamannya adalah tiga dari skala enam.


Tidak ada yang tahu dampak pandemi penyakit ini sepenuhnya, namun para pakar memperingatkan korban tewas bisa mencapai jutaan orang di seluruh dunia. Pandemi flu Spanyol, yang dimulai tahun 1819 dan juga disebabkan oleh virus H1N1, menewaskan jutaan orang.


Fakta bahwa kasus-kasus di Amerika Serikat sejauh ini memperlihatkan gejala-gejala ringan merupakan berita baik. Sementara parahnya wabah di Meksiko kemungkinan disebabkan oleh faktor wilayah yang tidak biasa yang kecil kemungkinan terjadi wilayah lain di dunia.


Akan tetapi, fakta bahwa sebagian besar korban berusia muda menunjukkan satu hal yang tidak baisa. Biasanya flu musiman cenderung melanda kaum berusia tua.


Bagaimana dengan pengobatan dan vaksin?

Pemerintah Amerika mengatakan dua obat yang biasa digunakan untuk mengobati flu, Tamiflu dan Relenza, tampaknya efektif dalam mengatasi kasus-kasus yang terjadi sejauh ini. Belum jelas keefektifan vaksin flu yang kini ada dalam melindungi manusia dari virus baru ini, karena secara genetik berbeda dengan jenis flu lain.


Ilmuwan Amerika telah mengembangkan satu vaksin baru, namun diperlukan waktu untuk menyempurnakannya dan juga memproduksi dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan.


Bagaimana dengan flu burung?

Jenis flu burung yang menyebabkan kematian di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ini berbeda dengan jenis flu babi yang kini mewabah. Bentuk baru flu babi ini adalah H1N1 jenis baru, sementara flu burung adalah H5N1.


Para pakar khawatir H5N1 berpotensi menyebabkan pendemi karena kemampuannya bermutasi secara cepat. Akan tetapi hingga sekarang penyakit itu masih merupakan penyakit unggas.


Mereka yang terjangkit adalah mereka yang berhubungan dengan unggas dan kasus penularan dari manusia ke manusia sangat jarang – tidak ada tanda-tanda bahwa H5N1 sudah bisa menular dari manusia ke manusia dengan mudah.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - FAKTA FLU BABI

Depkes Waspadai Flu Babi

Depkes Waspadai Flu Babi: "

0853325pGuna mengantisipasi munculnya kasus flu babi, Departemen Kesehatan mengirimkan surat edaran kewaspadaan dini kepada jajaran dinas kesehatan dan kantor kesehatan pelabuhan di seluruh provinsi di Indonesia.


Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan (Dirjen P2PL Depkes) Tjandra Yoga Aditama, Minggu (26/4), di Jakarta.


Ketua Komisi Teknis Kesehatan Dewan Riset Nasional Prof Amin Soebandrio, menjelaskan, flu babi adalah penyakit pernapasan babi yang disebabkan virus influenza tipe A yang sering menyebabkan wabah influenza di babi, dengan angka kematian rendah. Sebagian besar wabah terjadi pada akhir musim dingin dan bulan-bulan di mana juga terjadi wabah flu pada manusia.


Sementara itu, Tjandra Yoga menyatakan pihaknya telah mengirimkan surat edaran kewaspadaan dini ke dinkes dan kantor kesehatan pelabuhan di seluruh provinsi di Indonesia. “Kami telah mengumpulkan jajaran kantor kesehatan pelabuhan se-Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan. Kebetulan semua sedang berkumpul di Makassar untuk mengikuti simulasi pandemi flu burung di Makassar,” ujarnya.


Simulasi episenter pandemi yang dilaksanakan di Makassar pada 25-26 April juga merupakan salah satu upaya persiapan Depkes dan lintas sektor terkait dalam menghadapi berbagai kemungkinan kejadian luar biasa, kata Tjandra Yoga menegaskan


Sejauh ini, pihaknya tengah mengumpulkan data dan kajian ilmiah mengenai penyakit itu dari berbagai sumber dan terus berkoordinasi dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk memantau perkembangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat keganasan flu babi dan apa bentuk penanganan paling tepat menghadapi ancaman flu babi di Indonesia.


“Kami juga tengah mempersiapkan kemungkinan pemeriksaan laboratorium untuk flu babi ini,” ujarnya menambahkan. Depkes juga berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian untuk merumuskan langkah-langkah dan membentuk tim zoonosis bersama.


http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Depkes Waspadai Flu Babi

UPAYA PROMOSI KESEHATAN BERDASARKAN STRATEGI GLOBAL DAN STRATEGI PIAGAM OTTAWA

UPAYA PROMOSI KESEHATAN BERDASARKAN STRATEGI GLOBAL DAN STRATEGI PIAGAM OTTAWA

"Promosi kesehatan adalah salah satu bentuk upaya pelayanan kesehatan yang berorientasi pada penyampaian informasi tentang kesehatan guna penanaman pengetahuan tentang kesehatan sehingga tumbuh kesadaran untuk hidup sehat. Penerapan promosi kesehatan di lapangan biasanya melalui pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan.
Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni, yakni praktisi atau aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung oleh adanya promosi kesehatan.
Promosi kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat.

Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan :
“Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve, their health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being, an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment“. (Ottawa Charter,1986).
Jadi, dapat disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
Selanjutnya, Australian Health Foundation merumuskan batasan lain pada promosi kesehatan sebagai berikut : “Health promotion is programs are design to bring about “change”within people, organization, communities, and their environment”.
Artinya bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya.
Dengan demikian bahwa promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan dan peraturan perundangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan (Green dan Ottoson,1998). Promosi kesehatan merupakan proses pemberdayaan masyarakat agar mampu memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Proses pemberdayaan tersebut dilakukan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat; Artinya proses pemberdayaan tersebut dilakukan melalui kelompok-kelompok potensial di masyarakat, bahkan semua komponen masyarakat. Proses pemberdayaan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan pendekatan sosial budaya setempat. Proses pembelajaran tersebut juga dibarengi dengan upaya mempengaruhi lingkungan, baik lingkungan fisik termasuk kebijakan dan peraturan perundangan.
Konsep Promosi Kesehatan
• Proses untuk meningkatkan kemampuan orang dalam mengendalikan dan meningkatkan kesehatannya. Untuk mencapai keadaan sehat, seseorang atau kelompok harus mampu mengidentifikasi dan menyadari aspirasi, mampu memenuhi kebutuhan dan merubah atau mengendalikan lingkungan (Piagam Ottawwa, 1986)

• Promosi Kesehatan merupakan program yang dirancang untuk memberikan perubahan terhadap manusia, organisasi, masyarakat dan lingkungan.

Adapun visi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
2. Pendidikan kesehatan disemua program kesehatan, baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya dan bermuara pada kemampuan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan individu, kelompok, maupun masyarakat.


Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu upaya yang harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah “ Misi ”. Misi promosi kesehatan merupakan upaya yang harus dilakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian suatu visi.

Misi Promosi Kesehatan
• Advokat (advocate)
Ditujukan kepada para pengambil keputusan atau pembuat kebijakan. Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada para penentu kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik. Dalam hal ini kegiatan advokasi merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat keputusan (decission maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa program kesehatan yang ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan-keputusan.

• Menjembatani (mediate)
Menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor yang terkait dengan kesehatan. Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu kerjasama dengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang terkait. Untuk itu perlu adanya suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan (partnership) dengan berbagai program dan sektor-sektor yang memiliki kaitannya dengan kesehatan. Karenanya masalah kesehatan tidak hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut. Oleh karena itu promosi kesehatan memiliki peran yang penting dalam mewujudkan kerjasama atau kemitraan ini.

• Memampukan (enable)
Agar masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara mandiri. Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian keterampilan kepada masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan keluarga sehingga diharapkan dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.

Strategi Promosi Kesehatan Global (WHO, 1984)
• Advokasi (advocacy)
Advokasi terhadap kesehatan merupakan sebuah upaya yang dilakukan orang-orang di bidang kesehatan, utamanya promosi kesehatan, sebagai bentuk pengawalan terhadap kesehatan. Advokasi ini lebih menyentuh pada level pembuat kebijakan, bagaimana orang-orang yang bergerak di bidang kesehatan bisa memengaruhi para pembuat kebijakan untuk lebih tahu dan memerhatikan kesehatan. Advokasi dapat dilakukan dengan memengaruhi para pembuat kebijakan untuk membuat peraturan-peraturan yang bisa berpihak pada kesehatan dan peraturan tersebut dapat menciptakan lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku sehat dapat terwujud di masyarakat (Kapalawi, 2007). Advokasi bergerak secara top-down (dari atas ke bawah). Melalui advokasi, promosi kesehatan masuk ke wilayah politik. Agar pembuat kebijakan mengeluarkan peraturan yang menguntungkan kesehatan. Advokasi adalah suatu cara yang digunakan guna mencapai suatu tujuan yang merupakan suatu usaha sistematis dan terorganisir untuk mempengaruhi dan mendesakkan terjadinya perubahan dalam kebijakan public secara bertahap maju. Misalnya kita memberikan promosi kesehatan dengan sokongan dari kebijakan public dari kepala desa sehingga maksud dan tujuan dari informasi kesehatan bias tersampaikan dengan kemudahan kepada masyarakat atau promosi kesehatan yang kita sampaikan dapat menyokong atau pembelaan terhadap kaum lemah (miskin)

• Dukungan Sosial (social support)
Agar kegiatan promosi kesehatan mendapat dukungan dari tokoh masyarakat. Dukungan social adalah ketersdiaan sumber daya yang memberikan kenyamanan fisik dan psikologis sehingga kita dapat melaksanakan kehidupan dengan baik, dukungan social ini adalah orang lain yang berinteraksi dengan petugas. Contoh nyata adalah dukungan sarana dan prasarana ketika kita akan melakukan promosi kesehatan atau informasi yang memudahkan kita, atau dukungan emosional dari masyarakat sehingga promosi yang diberikan lebih diterima.

• Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)
Di samping advokasi kesehatan, strategi lain dari promosi kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat di dalam kegiatan-kegiatan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan lebih kepada untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Jadi sifatnya bottom-up (dari bawah ke atas). Partisipasi masyarakat adalah kegiatan pelibatan masyarakat dalam suatu program. Diharapkan dengan tingginya partisipasi dari masyarakat maka suatu program kesehatan dapat lebih tepat sasaran dan memiliki daya ungkit yang lebih besar bagi perubahan perilaku karena dapat menimbulkan suatu nilai di dalam masyarakat bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan tersebut itu dari kita dan untuk kita (Kapalawi, 2007). Dengan pemberdayaan masyarakat, diharapkan masyarakat dapat berperan aktif atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Sebagai unsur dasar dalam pemberdayaan, partisipasi masyarakat harus ditumbuhkan. Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan pada dasarnya tidak berbeda dengan pemberdayaan masyarakat dalam bidang-bidang lainnya.
Partisipasi dapat terwujud dengan syarat (Tawi, 2008):
1. Adanya saling percaya antaranggota masyarakat
2. Adanya ajakan dan kesempatan untuk berperan aktif
3. Adanya manfaat yang dapat dan segera dapat dirasakan oleh masyarakat
4. Adanya contoh dan keteladanan dari tokoh/pemimpin masyarakat.
Partisipasi itu harus didukung oleh adanya kesadaran dan pemahaman tentang bidang yang diberdayakan, disertai kemauan dari kelompok sasaran yang akan menempuh proses pemberdayaan. Dengan begitu, kegiatan promosi kesehatan akan berlangsung dengan sukses. Agar masyarakat mempunyai kemampuan untuk meningkatkan kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat adalah suatu bentuk upaya melibatkan peran serta dari masyarakat ketika kita melakukan promosi kesehatan. Sebagai contoh yaitu pemanfaatan kader yang telah dilatih atau anggota masyarakat yang mempunyai kemampuan dalam memberikan promosi kesehatan.

Strategi Promkes (Piagam Ottawa, 1986)
WHO, lewat Konferensi Internasional Pertama tentang Promosi Kesehatan di Ottawa pada tahun 1986, telah merumuskan sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh setiap negara untuk menyelenggarakan promosi kesehatan. Berikut akan disediakan terjemahan dari Piagam Ottawa pada bagian yang diberi subjudul Health Promotion Action Means. Menurut Piagam Ottawa, kegiatan-kegiatan promosi kesehatan berarti:
1. Membangun kebijakan publik berwawasan kesehatan (build healthy public policy)
Promosi kesehatan lebih daripada sekadar perawatan kesehatan. Promosi kesehatan menempatkan kesehatan pada agenda dari pembuat kebijakan di semua sektor pada semua level, mengarahkan mereka supaya sadar akan konsekuensi kesehatan dari keputusan mereka dan agar mereka menerima tanggung jawab mereka atas kesehatan.
Kebijakan promosi kesehatan mengombinasikan pendekatan yang berbeda namun dapat saling mengisi termasuk legislasi, perhitungan fiskal, perpajakan, dan perubahan organisasi. Ini adalah kegiatan yang terkoordinasi yang membawa kepada kesehatan, pendapatan, dan kebijakan sosial yang menghasilkan kesamaan yang lebih besar. Kegiatan terpadu memberikan kontribusi untuk memastikan barang dan jasa yang lebih aman dan lebih sehat, pelayanan jasa publik yang lebih sehat dan lebih bersih, dan lingkungan yang lebih menyenangkan. Kebijakan promosi kesehatan memerlukan identifikasi hambatan untuk diadopsi pada kebijakan publik di luar sektor kesehatan, serta cara menghilangkannya. Hal ini dimaksudkan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat dan lebih mudah untuk pembuat keputusan. Kebijakan Berwawasan Kesehatan artinya setiap keputusan pimpinan selalu memandang atau mempunyai cara pandang tentang kresehatan. Contoh sederhana ketika camat mengeluarkan ijin mendirikan bangunan maka harus ada ketentuan bahwa yang membuat bangunan harus membangun bangunan dengan didukung sarana kesehatan seperti jamban keluarga..
2. Menciptakan lingkungan yang mendukung (create supportive environments)
Masyarakat kita kompleks dan saling berhubungan. Kesehatan tidak dapat dipisahkan dari tujuan-tujuan lain. Kaitan yang tak terpisahkan antara manusia dan lingkungannya menjadikan basis untuk sebuah pendekatan sosio-ekologis bagi kesehatan. Prinsip panduan keseluruhan bagi dunia, bangsa, kawasan, dan komunitas yang serupa, adalah kebutuhan untuk memberi semangat pemeliharaan yang timbal-balik —untuk memelihara satu sama lain, komunitas, dan lingkungan alam kita. Konservasi sumber daya alam di seluruh dunia harus ditekankan sebagai tanggung jawab global. Perubahan pola hidup, pekerjaan, dan waktu luang memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan. Pekerjaan dan waktu luang harus menjadi sumber kesehatan untuk manusia. Cara masyarakat mengatur kerja harus dapat membantu menciptakan masyarakat yang sehat. Promosi kesehatan menciptakan kondisi hidup dan kondisi kerja yang aman, yang menstimulasi, memuaskan, dan menyenangkan.
Penjajakan sistematis dampak kesehatan dari lingkungan yang berubah pesat.—terutama di daerah teknologi, daerah kerja, produksi energi dan urbanisasi–- sangat esensial dan harus diikuti dengan kegiatan untuk memastikan keuntungan yang positif bagi kesehatan masyarakat. Perlindungan alam dan lingkungan yang dibangun serta konservasi dari sumber daya alam harus ditujukan untuk promosi kesehatan apa saja. Lingkungan yang Mendukung adalah lingkungan dimana kita akan menjadikan contoh yang baik tentang kesehatan lingkungan ketika kita akan melakukan promosi kesehatan. Contoh adanya sekolah sehat yang mempunyai lingkungan yang sehat.
3. Memerkuat kegiatan-kegiatan komunitas (strengthen community actions)
Promosi kesehatan bekerja melalui kegiatan komunitas yang konkret dan efisien dalam mengatur prioritas, membuat keputusan, merencanakan strategi dan melaksanakannya untuk mencapai kesehatan yang lebih baik. Inti dari proses ini adalah memberdayakan komunitas –-kepemilikan mereka dan kontrol akan usaha dan nasib mereka. Pengembangan komunitas menekankan pengadaan sumber daya manusia dan material dalam komunitas untuk mengembangkan kemandirian dan dukungan sosial, dan untuk mengembangkan sistem yang fleksibel untuk memerkuat partisipasi publik dalam masalah kesehatan. Hal ini memerlukan akses yang penuh serta terus menerus akan informasi, memelajari kesempatan untuk kesehatan, sebagaimana penggalangan dukungan. Gerakan Masyarakat merupakan suatu partisifasi masyarakat yang menunjang kesehatan. Contoh gerakan Jum’at bersih.
4. Mengembangkan keterampilan individu (develop personal skills)
Promosi kesehatan mendukung pengembangan personal dan sosial melalui penyediaan informasi, pendidikan kesehatan, dan pengembangan keterampilan hidup. Dengan demikian, hal ini meningkatkan pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk melatih dalam mengontrol kesehatan dan lingkungan mereka, dan untuk membuat pilihan yang kondusif bagi kesehatan.
Memungkinkan masyarakat untuk belajar melalui kehidupan dalam menyiapkan diri mereka untuk semua tingkatannya dan untuk menangani penyakit dan kecelakaan sangatlah penting. Hal ini harus difasilitasi dalam sekolah, rumah, tempat kerja, dan semua lingkungan komunitas. Keterampilan Individu adalah kemapuan petugas dalam menyampaikan informasi kesehatan dan kemampuan dalam mencontohkan (mendemostrrasikan). Contoh sederhana ketika petugas memberikan promosii kesehatan tentang pembuatan larutan gula garam, maka petugas harus mampu membuatnya dan bias mencontohkannya.
5. Reorientasi pelayanan kesehatan (reorient health services)
Tanggung jawab untuk promosi kesehatan pada pelayanan kesehatan dibagi di antara individu, kelompok komunitas, profesional kesehatan, institusi pelayanan kesehatan, dan pemerintah.
Mereka harus bekerja sama melalui suatu sistem perawatan kesehatan yang berkontribusi untuk pencapaian kesehatan. Peran sektor kesehatan harus bergerak meningkat pada arah promosi kesehatan, di samping tanggung jawabnya dalam menyediakan pelayanan klinis dan pengobatan. Pelayanan kesehatan harus memegang mandat yang meluas yang merupakan hal sensitif dan ia juga harus menghormati kebutuhan kultural. Mandat ini harus mendukung kebutuhan individu dan komunitas untuk kehidupan yang lebih sehat, dan membuka saluran antara sektor kesehatan dan komponen sosial, politik, ekonomi, dan lingkungan fisik yang lebih luas.
Reorientasi pelayanan kesehatan juga memerlukan perhatian yang kuat untuk penelitian kesehatan sebagaimana perubahan pada pelatihan dan pendidikan profesional. Hal ini harus membawa kepada perubahan sikap dan pengorganisasian pelayanan kesehatan dengan memfokuskan ulang kepada kebutuhan total dari individu sebagai manusia seutuhnya. Reorientasi Pelayanan Kesehatan artinya setiap kegiatan promosi kesehatan diorientasikan bagaimana pelayanan kesehatan yang seharusnya dan dapat terjangkau. Contoh adalah pemanfaatan sarana kesehatan terdekat sebagai wadah informasi dan komunikasi tentang kesehatan.
6. Bergerak ke masa depan (moving into the future)
Kesehatan diciptakan dan dijalani oleh manusia di antara pengaturan dari kehidupan mereka sehari-hari di mana mereka belajar, bekerja, bermain, dan mencintai. Kesehatan diciptakan dengan memelihara satu sama lain dengan kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat kontrol terhadap kondisi kehidupan seseorang, dan dengan memastikan bahwa masyarakat yag didiami seseorang menciptakan kondisi yang memungkinkan pencapaian kesehatan oleh semua anggotanya.
Merawat, kebersamaan, dan ekologi adalah isu-isu yang penting dalam mengembangkan strategi untuk promosi kesehatan. Untuk itu, semua yang terlibat harus menjadikan setiap fase perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan promosi kesehatan serta kesetaraan antara pria dan wanita sebagai acuan utama.


Sasaran Promosi Kesehatan
• Sasaran Primer
Sesuai misi pemberdayaan. Misal : kepala keluarga, ibu hamil/menyusui, anak sekolah

• Sasaran Sekunder
Sesuai misi dukungan sosial. Misal: Tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama

• Sasaran Tersier
Sesuai misi advokasi. Misal : Pembuat kebijakan mulai dari pusat sampai ke daerah


Sumber :
www.yulidadewioktafina.blogspot.com/2009/10/sejarah-promosi-kesehatan-masy
www.bermenscholl.wordpres.com/2009/01/04/promosi.kesehatnan.
http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - UPAYA PROMOSI KESEHATAN BERDASARKAN STRATEGI GLOBAL DAN STRATEGI PIAGAM OTTAWA

Rapid Health Assessment (RHA) Pasca Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul, Yogyakarta

Gempa tektonik telah mengguncang wilayah Propinsi D.I. Yogyakarta dan sekitarnya pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 pukul 5:53:58. Menurut laporan National Earthquake Information Center, United States Geological Survey (USGS), gempa berkekuatan 5,9 SR tersebut terletak di wilayah daratan Kabupaten Bantul (25 km arah Timur Laut Kota Yogyakarta) pada 7,962°LS dan 110,458°BT di kedalaman 10 km.

Peristiwa tersebut memiliki dampak yang cukup signifikan bagi status kesehatan masyarakat di wilayah gempa terutama Kabupaten Bantul. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya penanggulangan masalah kesehatan melalui langkah-langkah tanggap darurat. Salah satu upaya tersebut adalah dilaksanakannya penilaian cepat (rapid health assessment/RHA) untuk mengetahui besaran masalah kesehatan yang dihadapi dan kebutuhan pelayanan kesehatan di daerah bencana. Hasil penilaian cepat ini dapat digunakan untuk memantapkan berbagai upaya kesehatan pada tahap tanggap darurat.

Sebagai wujud tanggap darurat terhadap bencana ini, Politeknik Kesehatan Yoyakarta beserta relawan dari Politeknik Kesehatan dan jajaran kesehatan yang lainnya mengambil inisiatif penanggulangan dalam bentuk mendirikan posko kesehatan, imunisasi TT massal dan penilaian cepat. Kegiatan ini dimulai pada tanggal 29 Mei s.d. 15 Juni 2006.

Penilaian cepat kesehatan dilakukan pada tanggal 15 Juni 2006 hanya di lima kecamatan terpilih di wilayah Bantul yaitu : Kecamatan Pleret, Banguntapan, Jetis, Pundong, dan Sewon. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengetahui besar masalah kesehatan dan risiko penyakit yang akan datang sebagai akibat bencana gempa. Kajian assesmen kesehatan akibat bencana di Provinsi DIY melipui aspek keadan umum dan lingkungan, derajad kesehatan, sarana kesehatan dan bantuan kesehatan. Hasil kajian ini diharapkan dapat digunakan oleh berbagai pihak terkait dalam upaya bersama memulihkan sistem kesehatan di Provinsi DIY khususnya.
Tercatat 55,6% Puskesmas Induk dan Perawatan dari 27 unit yang ada di Kabupaten Bantul mengalami kerusakan berat, begitu juga dengan kondisi Puskesmas Pembantu (53,6%) dan Rumah Dinas Dokter dan Paramedis (64,8%).

Rerata umur responden 28 tahun (IK95% : 26 – 30). Sebagian besar responden adalah perempuan (52,9%) dan sebagai ibu rumah tangga (73,3%). Hampir sepertiga responden pernah mengenyam pendidikan SD (31,9%) dan SLTP (31,4%).

Responden yang memiliki anggota keluarga cedera akibat gempa bumi sebesar 40,0% (IK95%: 29,26 - 50,74). Sebagian besar letak cedera korban bencana gempa bumi berada di daerah kepala (15,7%; IK95% : 5,13 - 26,28), tangan (11,3%; IK95% 4,85 - 17,66) dan kaki (11,1%; IK95% : 8,01 - 14,26). Pada saat survei dilakukan 3,4% (IK95% : 1,33 - 5,56) anggota keluarga yang cedera mengalami infeksi dan perlu penanganan perawatan luka yang lebih adekuat.

Survei memperlihatkan masih banyak masyarakat yang mengobati dirinya sendiri di rumah (30,2%; IK 95% : 3,80 - 56,57) atau bahkan luka didiamkan saja (6,6%; IK 95% : 2,95 - 10,26). Anggota keluarga responden yang sedang menjalani rawat inap di fasilitas kesehatan sebesar 7,7% (IK 95% : 2,93 - 12,54), anggota keluarga yang menjalani rawat jalan di fasilitas kesehatan sebesar 13,8% (IK 95% : 8,61 - 18,93).

Keluarga yang memiliki ibu hamil pada saat survei dilakukan sebesar 29,1% (IK 95%: 25,09 – 34,07) dengan rata-rata usia ibu hamil 29,4 tahun (IK 95%: 25,87 - 32,85). Mereka memiliki rata-rata umur kehamilan 21,4 bulan (IK 95%: 16,93 -25,87). Terdapat 16,0%( IK 95%:13,49 - 18,51) ibu hamil yang menderita status gizi kurang (KEK).

Keluarga yang memiliki ibu baru melahirkan hanya 5,24% (IK95%: 2,31 - 8,17), dimana waktu bersalin sebagian besar ditolong oleh dokter (72,73%; IK95% : 70,35 - 75,11) di rumah sakit (72,73%; IK95% : 70,36 - 75,10).

Sebagian besar responden memiliki anak balita (63,55%; IK95%: 2,31 - 8,17), dengan rata-rata usia balita 28,9 bulan. Namun terdapat anak balita yang menderita gizi kurang (20,8%;IK95%:19,99 - 21,64) dan buruk (4,6%; IK95%: 3,74 - 5,40) yang perlu mendapat perhatian dan monitoring lebih besar bagi petugas kesehatan.
Pada saat survei dilakukan, ketersediaan cadangan bahan makanan pokok masih bisa mencukupi kebutuhan keluarga untuk 14,1 hari (IK95%: 7,53 - 20,63), sedangkan bahan makanan lain masih bisa mencukupi untuk kebutuhan selama satu minggu kecuali buah-buahan (3,0 hari;IK95%: 0,75 - 5,17).

Gempa bumi dahsyat telah menghancurkan sebagian besar rumah penduduk di lokasi survei atau 81,8% (IK95%: 48,55 - 114,99). Bahkan tidak ada rumah yang tidak rusak meskipun hanya rusak ringan (3,1%; IK95% : -1,30 – 7,44).

Sebagian besar penduduk masih mengandalkan sumber air bersih dari sumur (70,4%; IK95% : 44,74 - 96,03), meskipun ada sebagian kecil penduduk dengan kualitas fisik sumur yang tidak memenuhi syarat kesehatan (4,8%; IK95% : -14,63 - 24,16).

Hampir dua minggu setelah kejadian gempa bumi tanggal 27 Mei 2006, sudah banyak lingkungan responden yang telah mendapatkan bantuan kesehatan dari berbagai instansi atau LSM namun bantuan pengasapan (fogging) untuk mengurangi populasi nyamuk baru 47,6% (IK95% : 39,71-55,53), penyemprotan (spraying) untuk membunuh bibit penyakit berbahaya 20,0% (IK9%% : 2,71-37,29), dan upaya pengolahan air hanya 21,9% (IK95% : -5,00-48,81).

Dari data di lapangan maka perlu disusun rekomendasi sebagai berikut :

Pelayanan Kesehatan Masyarakat
  1. Merencanakan kegiatan Puskesmas keliling atau perawat keliling (mobile nursing) untuk kurun waktu tertentu sebagai dukungan sementara terpenuhinya pelayanan kesehatan masyarakat.
  2. Perlu tenaga fisioterapi untuk memberikan pelayanan perawatan pemulihan bagi penduduk pasca cedera.
  3. Perlu pemenuhan ketersediaan bahan pangan bagi penduduk kelompok berisiko terkena masalah kesehatan, khusunya program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dan ibu hamil.
  4. Revitalisasi pelayanan Bidan di Desa untuk mendukung program Kesehatan Ibu dan Anak.
  5. Revitalisasi tenaga Higien Sanitasi untuk menangani sanitasi lingkungan yang tidak sehat.
  6. Perlu penanganan psikiatri bagi masyarakat yang mengalami trauma.

Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular

  1. Melaksanakan tindak lanjut asesmen kesehatan dengan melakukan surveilans penyakit menular untuk memperkuat sistem surveilans rutin.
  2. Mempertimbangkan langkah antisipasi munculnya penyakit diare, typhus abdominalis, DHF, campak, dan tetanus mengingat sanitasi lingkungan yang kurang higienis.

Kemampuan sumber daya kesehatan untuk mendukung tahap rehabilitasi, revitalisasi dan rekonstruksi bidang kesehatan

  1. Membangun kembali dan merenovasi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang hancur dan rusak.
  2. Melengkapi Puskesmas dan Puskesmas Pembantu dengan peralatan yang sesuai standard.
lihat artikel selengkapnya - Rapid Health Assessment (RHA) Pasca Gempa Bumi 27 Mei 2006 di Kabupaten Bantul, Yogyakarta

Pemberdayaan Suami Melalui Reorientasi - Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu

Pembedayaan Suami Melalui Reorientasi & Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu

Pemerintahan yang lalu telah mencanangkan Gerakan Sayang Ibu (GSI) pada tanggal 22 Desember 1996. Dengan gerakan tersebut diharapkan Angka Kematian Ibu (AKI) yang pada akhir pelita keenam sebesar 225 per 100.000 kelahiran hidup menurun menjadi 80 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2018 atau pada akhir Pembangunan Jangka Panjang Kedua (Abdullah Cholil et al, 1998).

GSI bermaksud untuk memberdayakan masyarakat dan pemerintah agar ikut berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup wanita terutama dalam percepatan penurunan angka kesakitan dan kematian ibu yang selanjutnya sebagai investasi untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih sehat dan berkualitas.

Seperti halnya gerakan-gerakan yang telah banyak dicanangkan selama ini, setelah kurang lebih 4 tahun berjalan, ternyata gaung gerakan tersebut kian melemah dan akhirnya mati. Nampaknya, semua gerakan tersebut, termasuk GSI merupakan kegiatan yang bersifat top down, berorientasi pada proyek dan kurang aspiratif pada kebutuhan masyarakat lokal atau dapat dikatakan kurang menyentuh dan menjawab persoalan mendasar yang lebih dianggap sebagai prioritas kebutuhan masyarakat setempat. Sehingga dalam perjalanannya tidak panjang dan langgeng. Oleh karena itu kegiatan yang telah ada perlu dilakukan reorientasi dan revitalisasi agar GSI dapat berlanjut dan langgeng.

Perkembangan program perlindungan kesehatan reproduksi wanita tidak lepas dari peranan sang suami oleh karena itu target utama GSI di tingkat keluarga adalah pemberdayaan suami agar lebih perhatian terhadap istri. Upaya untuk meningkatkan partisipasi suami tersebut perlu dicari terobosan baru dengan memperhatikan faktor-faktor spesifik yang mempengaruhinya sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan kemauan dari para suami untuk lebih memberdayakan dirinya dalam berbagi tanggung jawab (sharing responsibility) hal-hal yang biasa dilakukan oleh istrinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi partisipasi suami dalam perlindungan kesehatan reproduksi istri (ibu), antara lain adalah :

Budaya

Di berbagai wilayah di Indonesia terutama di dalam masyarakat yang masih tradisional (patrilineal) menganggap istri adalah konco wingking, yang artinya bahwa kaum wanita tidak sederajat dengan kaum pria, dan wanita hanyalah bertugas untuk melayani kebutuhan dan keinginan suami saja. Anggapan seperti ini mempengaruhi perlakuan suami terhadap kesehatan reproduksi istri, misal : suami lebih dominan dalam mengambil keputusan dan tidak berbagi tanggung jawab dalam ber-KB; kualitas dan kuantitas makanan yang lebih baik dibanding istri maupun anak karena menganggap suamilah yang mencari nafkah dan sebagai kepala rumah tangga sehingga asupan zat gizi mikro untuk istri kurang; suami tidak empati dan peduli dengan keadaan ibu yang sedang hamil maupun menyusui anak, dan lain-lain.

Menurut penulis ada beberapa cara untuk merubah budaya tersebut, yaitu antara lain :

Persepsi mengenai kesetaraan gender perlu diberikan dan disosialisasikan sejak dini melalui lembaga formal (sekolah) maupun non formal (kelompok masyarakat), dan diaplikasikan ke dalam praktek kehidupan sehari-hari.
Penyuluhan pada sarana maupun tempat dimana pria sering berkumpul dan berinteraksi (misal : tempat kerja, club, tukang cukur, dan lain-lain).
Berikan informasi sesering mungkin dengan stimulus yang menarik perhatian.
Masyarakat Indonesia pada umumnya masih mempunyai perasaan malu dan sungkan kepada lingkungan sekitar, oleh karena itu dalam pelaksanaan GSI perlu dipikirkan sesuatu aturan atau kegiatan yang dapat memotivasi kepala keluarga untuk segera merealisasikan kepedulian pada istrinya. Satgas GSI di tingkat desa perlu membuat tanda sedemikian rupa yang berwarna merah, kuning atau hijau serta diletakkan di atas pintu depan sebagai isyarat bahwa keluarga tersebut memiliki ibu hamil yang sehat, perlu perhatian ataupun perlu kewaspadaan. Diharapkan apabila tanda berwarna merah ataupun kuning suami sebagai kepala keluarga akan mempunyai beban psikologis untuk segera memeriksakan istrinya yang hamil ke petugas kesehatan.
Pendapatan

Pada masyarakat kebanyakan, 75% - 100% penghasilannya dipergunakan untuk membiayai keperluan hidupnya bahkan banyak keluarga rendah yang setiap bulan bersaldo kurang. Persoalan ekonomi keluarga merupakan prioritas utama dalam pemenuhannya sehingga semua krisis yang seharusnya ditanggulangi di tingkat keluarga pada akhirnya kalah dengan prioritas kebutuhan hidupnya sehari-hari, misalnya ibu hamil tidak diperiksakan ke pelayanan kesehatan karena tidak mempunyai kemampuan untuk membayar.

Atas dasar faktor tersebut di atas maka prioritas kegiatan GSI di tingkat keluarga dalam pemberdayaan suami tidak hanya terbatas pada kegiatan yang bersifat anjuran (advocacy) saja seperti yang ada selama ini, akan tetapi lebih bersifat holistik. Kegiatan tersebut diharapkan tidak saja menjawab permasalahan kesehatan ibu secara Nasional akan tetapi yang lebih penting dapat menyentuh dan ikut menyelesaikan persoalan mendasar di tingkat keluarga yaitu ekonomi sehingga gerakan tersebut bukan hanya sebagai keinginan tetapi lebih sebagai kebutuhan karena ikut membantu meningkatkan ekonomi keluarga.

Secara konkrit dapat dikemukakan bahwa pemberdayaan suami perlu dikaitkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga sehingga kepala keluarga tidak mempunyai alasan untuk tidak memperhatikan kesehatan istrinya karena permasalahan keuangan. Pemberdayaan ekonomi keluarga dengan jalan membentuk kelompok usaha yang didasarkan pada sumber daya yang tersedia di sekitarnya serta mencari solusi pemasarannya sekaligus (misal : kelompok usaha gula merah, alat rumah tangga, pertanian, perkebunan, dan lain-lain).

Tingkat pendidikan

Tingkat pendidikan akan mempengaruhi wawasan dan pengetahuan suami sebagai kepala rumah tangga. Semakin rendah pendidikan suami maka akses terhadap informasi kesehatan istrinya akan berkurang sehingga suami akan kesulitan untuk mengambil keputusan secara efektif.

Akhirnya, pandangan baru yang perlu diperkenalkan dan lebih disosialisasikan kembali untuk memberdayakan kaum suami mendasarkan pada pengertian bahwa :

Suami memainkan peranan yang sangat penting, terutama dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan kesehatan reproduksi pasangannya.
Suami sangat berkepentingan terhadap kesehatan reproduksi pasangannya.
Saling pengertian serta kesetimbangan peranan antara kedua pasangan dapat membantu meningkatkan perilaku yang kondusif terhadap peningkatan kesehatan reproduksi.
Pasangan yang selalu berkomunikasi tentang planning keluarga maupun kesehatan reproduksi antara satu dengan lainnya akan mendapatkan keputusan yang lebih efektif dan lebih baik.
Semarang, Maret 2000

KEPUSTAKAAN:

Abdullah Cholil, Meiwita B. Iskandar, Rosalia Sciortino, “The Life Saver : The Mother Friendly Movement in Indonesia”, The State Ministry for the Role of Women, Republic of Indonesia and the Ford Foundation, Jakarta, 1998.
http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Pemberdayaan Suami Melalui Reorientasi - Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu

Program KB di Indonesia

Pengertian KB

  • Upaya peningkatkan kepedulian masyarakat dalam mewujudkan keluarga kecil yang bahagia sejahtera (Undang-undang No. 10/1992).

  • Keluarga Berencana (Family Planning, Planned Parenthood) : suatu usaha untuk menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.

  • WHO (Expert Committe, 1970), tindakan yg membantu individu/ pasutri untuk: Mendapatkan objektif-obketif tertentu, menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kehamilan dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.


Tujuan Program KB



  • Tujuan umum adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekutan sosial ekonomi suatu keluarga dengan cara pengaturan kelahiran anak, agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.

  • Tujuan lain meliputi pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan, peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

  • Kesimpulan dari tujuan program KB adalah: Memperbaiki kesehatan dan kesejahteraan ibu, anak, keluarga dan bangsa; Mengurangi angka kelahiran untuk menaikkan taraf hidup rakyat dan bangsa; Memenuhi permintaan masyarakat akan pelayanan KB dan KR yang berkualitas, termasuk upaya-upaya menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan anak serta penanggulangan masalah kesehatan reproduksi.


Tujuan KB berdasar RENSTRA 2005-2009 meliputi:



  1. Keluarga dengan anak ideal

  2. Keluarga sehat

  3. Keluarga berpendidikan

  4. Keluarga sejahtera

  5. Keluarga berketahanan

  6. Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya

  7. Penduduk tumbuh seimbang (PTS)


Sasaran Program KB


Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:



  1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per tahun.

  2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.

  3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6 persen.

  4. Meningkatnya pesertaKB laki-laki menjadi 4,5persen.

  5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.

  6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.

  7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.

  8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.

  9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.


Ruang Lingkup KB


Ruang lingkup KB antara lain: Keluarga berencana; Kesehatan reproduksi remaja; Ketahanan dan pemberdayaan keluarga; Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas; Keserasian kebijakan kependudukan; Pengelolaan SDM aparatur; Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan; Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.


Strategi Program KB


Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:



  1. Strategi dasar

  2. Strategi operasional


Strategi dasar



  • Meneguhkan kembali program di daerah

  • Menjamin kesinambungan program


Strategi operasional



  • Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional

  • Peningkatan kualitas dan prioritas program

  • Penggalangan dan pemantapan komitmen

  • Dukungan regulasi dan kebijakan

  • Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan


Dampak Program KB


Program keluarga berencana memberikan dampak, yaitu penurunan angka kematian ibu dan anak; Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi; Peningkatan kesejahteraan keluarga; Peningkatan derajat kesehatan; Peningkatan mutu dan layanan KB-KR; Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM; Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam penyelenggaraan kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.


Referensi


Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005.

BKKBN, 1999. Kependudukan KB dan KIA. Bandung, Balai Litbang.

NRC-POGI, 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana.

Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

www. bkkbn.go.id

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Program KB di Indonesia

Perkembangan KB di Indonesia

Latar Belakang


Dasar pemikiran lahirnya KB di Indonesia adalah adanya permasalahan kependudukan. Aspek-aspek yang penting dalam kependudukan adalah :



  1. Jumlah besarnya penduduk

  2. Jumlah pertumbuhan penduduk

  3. Jumlah kematian penduduk

  4. Jumlah kelahiran penduduk

  5. Jumlah perpindahan penduduk


Teori Malthus

Malthus adalah orang pertama yang mengemukakan tentang penduduk. Dalam “Essay on Population”, Malthus beranggapan bahwa bahan makanan penting untuk kelangsungan hidup, nafsu manusia tak dapat ditahan dan pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan.

Menurut pendapatnya, faktor pencegah dari ketidakseimbangan penduduk dan manusia antara lain Preventive checks (penundaan perkawinan, mengendalikan hawa nafsu dan pantangan kawin); Possitive checks (bencana alam, wabah penyakit, kejahatan dan peperangan).


Kontroversi Teori Malthus

Salah sama sekali, karena mengabaikan peningkatan teknologi, penanaman modal dan perencanaan produksi. Pengikut Malthus (Neo Malthusionism), berpendapat: untuk mencegah laju cepatnya peningkatan penduduk dilakukan Methode Birth Control dengan menggunakan alat kontrasepsi.


Pengikut Malthus


Pengikut teori Malthus antara lain Francis Flace (1771 – 1854) : menulis buku yang berjudul “Illustration And Proofs of The Population” atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Richard Callihie (1790 – 1843) : menulis buku “What’s love ?” (Apakah Cinta Itu?).

Any C. Besant (1847-1933) : menulis buku berjudul “Hukum Penduduk, Akibatnya dan Artinya Terhadap Tingkah Laku dan Moral Manusia”.

dr. George Drysdale : keluarga berencana dapat dilakukan tanpa merugikan kesehatan dan moral.


Sejarah Lahirnya Keluarga Berencana

Sebelum abad XX, di negara barat sudah ada usaha pencegahan kelangsungan hidup anak karena berbagai alasan. Caranya adalah dengan membunuh bayi yang sudah lahir, melakukan abortus dan mencegah/ mengatur kehamilan. KB di Indonesia dimulai pada awal abad XX.


Di Inggris, Maria Stopes.

Upaya yg ditempuh u/ perbaikan ekonomi keluarga buruh dg mengatur kelahiran. Menggunakan cara-cara sederhana (kondom, pantang berkala).


Amerika Serikat, Margareth Sanger.

Memperoleh pengalaman dari Saddie Sachs, yang berusaha menggugurkan kandungan yang tidak diinginkan. Ia menulis buku “Family Limitation” (Pembatasan Keluarga). Hal tersebut merupakan tonggak permulaan sejarah berdirinya KB.


Perkembangan KB di Indonesia



  1. Periode Perintisan dan Peloporan

  2. Periode Persiapan dan Pelaksanaan


Periode Perintisan dan Pelaporan



  1. Sebelum 1957 – Pembatasan kelahiran secara tradisional (penggunaan ramuan, pijet, absistensi/ wisuh/ bilas liang senggama setelah coitus).

  2. Perkembangan birth control di daerah – Berdiri klinik YKK (Yayasan Kesejahteraan Keluarga) di Yogyakarta. Di Semarang : berdiri klinik BKIA dan terbentuk PKBI tahun 1963. Jakarta : Prof. Sarwono P, memulai di poliklinik bagian kebidanan RSUP. Jawa dan luar pulau Jawa (Bali, Palembang, Medan).


Periode Persiapan dan Pelaksanaan

Terbentuk LKBN (Lembaga Keluarga Berencanan Nasional) yang mempunyai tugas pokok mewujudkan kesejahteraan sosial, keluarga dan rakyat. Bermunculan proyek KB sehingga mulai diselenggarakan latihan untuk PLKB (Petugas Lapangan keluarga Berencana).


Organisasi KB



  1. PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)

  2. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)


PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia)

Terbentuk tanggal 23 Desember 1957, di jalan Sam Ratulangi No. 29 Jakarta. Atas prakarsa dari dr. Soeharto yang didukung oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, dr. H.M. Judono, dr. Hanifa Wiknjosastro serta Dr. Hurustiati Subandrio.

Pelayanan yang diberikan berupa nasehat perkawinan termasuk pemeriksaan kesehatan calon suami isteri, pemeriksaan dan pengobatan kemandulan dalam perkawinan dan pengaturan kehamilan.


Visi PKBI

Mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui keluarga.


Misi PKBI

Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program, pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum, dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.


BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional)

Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 tentang pembentukan badan untuk mengelola program KB yang telah dicanangkan sebagai program nasional.

Penanggung jawab umum penyelenggaraan program ada pada presiden dan dilakukan sehari-hari oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat yang dibantu Dewan Pembimbing Keluarga Berencana.


Dasar pertimbangan pembentukan BBKBN

1) Program keluarga berencana nasional perlu ditingkatkan dengan jalan lebih memanfaatkan dan memperluas kemampuan fasilitas dan sumber yang tersedia. 2) Program perlu digiatkan pula dengan pengikut sertaan baik masyarakat maupun pemerintah secara maksimal. 3) Program keluarga berencana ini perlu diselenggarakan secara teratur dan terencana kearah terwujudnya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.


Tugas pokok BBKBN

1) Menjalankan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi terhadap usaha-usaha pelaksanaan program keluarga berencana nasional yang dilakukan oleh unit-unit pelaksana. 2) Mengajukan saran-saran kepada pemerintah mengenai pokok kebijaksanaan dan masalah-masalah penyelenggaraan program Keluarga Berencana Nasional. 3) Menyusun Pedoman Pelaksanaan Keluarga Berencana atas dasar pokok-pokok kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah. 4) Mengadakan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara asing maupun badan-badan internasional dalam bidang keluarga berencana selaras dengan kepentingan Indonesia dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. 5) Mengatur penampungan dan mengawasi penggunaan segala jenis bantuan yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah.


Pelita I yaitu tahun 1969-1974 daerah program Keluarga Berencana meliputi 6 propinsi yaitu Jawa Bali (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali). Merupakan daerah perintis dari BKKBN.

Tahun 1974 muncul program-program integral (Beyond Family Planning) dan gagasan tentang fase program pencapaian akseptor aktif.

Berdasar Keppres 38 tahun 1978 BKKBN bertambah besar jangkauan programnya tidak terbatas hanya KB tetapi juga program Kependudukan.



Perkembangan BBKBN dimasa sekarang


VISI : keluarga berkualitas 2015.

MISI: Membangun setiap keluarga Indonesia untuk memiliki anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya melalui pengembangan kebijakan, penyediaan layanan promosi, fasilitasi, perlindungan, informasi kependudukan dan keluarga, serta penguatan kelembagaan dan jejaring KB.

Tugas pokok: Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.



Landasan hukum


TAP MPR No. IV/1999 ttg GBHN; UU No. 22/1999 ttg OTODA; UU No. 10/1992 ttg PKPKS; UU No. 25/2000 ttg PROPENAS; UU No. 32/2004 ttg PEMERINTAHAN DAERAH; PP No. 21/1994 ttg PEMBANGUNAN KS; PP No. 27/1994 ttg PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN; KEPPRES No. 103/2001; KEPPRES No. 110/2001; KEPPRES No. 9/2004; KEPMEN/Ka.BKKBN No. 10/2001; KEPMEN/Ka.BKKBN No. 70/2001


Filosofi BBKBN adalah menggerakkan peran serta masyarakat dalam keluarga berencana.

Grand Strategi: 1) Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program KB; 2) Menata kembali pengelolaan program KB; 3) Memperkuat SDM operasional program KB; 4) Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB; 5) Meningkatkan pembiayaan program KB.


Nilai-nilai yang terkandung dalam grand strategi adalah integritas, energik, profesional kompeten, partisipatif, konsisten, organisasi pembelajaran, kreatif/ inovatif


Kebijakan dari adanya grand strategi adalah pndekatan pemberdayaan, pendekatan desentralisasi, pendekatan kemitraan, pendekatan kemandirian, pendekatan segmentasi sasaran, pendekatan pemenuhan hak (rightbased), pendekatan lintas sektor.


Strategi



  1. Re-Establishment adalah mmbangun kembali sendi-sendi pogram KB nasional sampai ke tingkat lini lapanngan pasca penyerahan kewenangan.

  2. Sustainability adalah memantapkan komitmen program dan kesinambungan dukungan oleh segenap stakeholders dari tingkat pusat sampai dengan tingkat daerah.


Tujuannya adalah : 1) Keluarga dengan anak ideal; 2) Keluarga sehat; 3) Keluarga berpendidikan; 4) Keluarga sejahtera; 5) Keluarga berketahanan; 6) Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya; 7) Penduduk tumbuh seimbang (PTS )


Program KB

http://askep-askeb.cz.cc/

  1. Keluarga berencana

  2. Kesehatan reproduksi remaja

  3. Ketahanan dan pemberdayaan keluarga

  4. Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas

  5. Keserasian kebijakan kependudukan

  6. Pengelolaan SDM aparatur

  7. Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan

  8. Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara


Referensi

Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005.

Pusat Pendidikan dan Pelatihan BKKBN. Sejarah Perkembangan Keluarga Berencana dan Program Kependudukan. Jakarta, 1981.

Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

www.bkkbn.go.id

http://askep-askeb.cz.cc/


Related Posts

  1. Program KB di Indonesia


"
lihat artikel selengkapnya - Perkembangan KB di Indonesia

Sabtu, 07 Agustus 2010

INDONESIA SEHAT TAHUN 2010, APAKAH HANYA MIMPI ?

INDONESIA SEHAT TAHUN 2010, APAKAH HANYA MIMPI ?
Kita telah memasuki tahun 2010, tahun yang penuh tantangan bagi pembangunan kesehatan di Indonesia karena pada tahun ini telah ditetapakan sebagai suatu bentuk perwujudan yang nyata dari pembangunan kesehatan yaitu Indoneseia Sehat.V isi pembangunan kesehatan yang direfleksikan dalam bentuk motto yang berbunyi “Indonesia Sehat Tahun 2010”, diharapkan akan mencapai tingkat kesehatan tertentu yang ditandai oleh penduduknya yang (1) hidup dalam llingkungan yang sehat, (2) mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta (3) mampu menyediakan dan memanfaatkan (menjangkau) pelayanan keehatan yang bermutu, sehingga (4) memiliki derajat kesehatan yang tinggi. Sedangkan misi yang telah dirumuskan adalah (1) menggerakan pembangunan nasionala berwawasan kesehatan; (2) mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat ; (3) memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatn yang bermutu, merata dan terjangkau; serta (4) memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat termasuk lingkungannya.



Pembangunan kesehatan yang telah berjalan sejak dicanangkannya visi Indonesia Sehat Tahun 2010 pada tahun 1999 mengacu pada 50 indikator sebagai indikator dari kretaria keberhasilan pencapaian cita-cita Indonesia Sehat tahun 2010 yang lengkat dengan target-target. Indikator tersebut adalah indikator minimal yang diterapkan untuk tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan desa.
Pertanyaannya, apakah semua indikator telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan ? Sudahkah terwujud harapan dari Visi dan misi Indonesia Sehat ?
Selama ini pemerintah Indonesia telah melaksanakan pembangunan di bidang kesehatan dengan bergagai upaya guna meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Berbagai model pembiayaan kesehatan, sejumlah intervensi pada berbagai program teknis bidang kesehatan, serta perbaikan organisasi dan berbagai model manajemen telah diperkenalkan.
Walaupun demikian, kalau dibanding dengan Negara lain maka Indonesia masih tertinggal dalam pembangunan kesehatan. Masih tingginya angka kematian bayi merupakan contoh nyata bahwa Indonesia berada pada urutan atas di antara Negara-negara anggota South East Asia Medical Information Center (SEAMIC). Pada sebagaian besar masyarakat Indonesia masih sulit mendapkan pelayanan kesehatan yang disebabkan oleh berbagai fektor, seperti faktor teknis, keadaan geografi, soial dan ekonomi.
Permasalahan kesehatan yang muncul tampaknya terletak pada kenyataan bahwa pembangunan kesehatan belum berada pada jalur utama pembangunan Nasional. Anggaran pembangunan kesehatan masih sangatlah kecil disbanding dengan yanglainnya. Akibatnya banyak program-program pembangunan kesehatan yang harus tertunda atau bahkan dibatalkan dan sebagian yang telah dilaksanakan tidak mendapat pembiayaan yang mencukupi.
Hal lain yang juga mempengaruhi adalah tidak adanya/kurang adanya dukungan sektor-sektor lain dalam mendukung terwujudnya peningkatan derajat kesehatan yang lebih baik. Kadangkala kebijakan dan kegiatan yang dilaksanakan sektor lain berdampak negatif terhadap kesehatan masyarakat.
Derajat kesehatan di Indonesia telah mengalami kemajuan yang bermakna. Hal ini ditandai dengan menurunnya angka kematian bayi (AKB), dari 46 (SDKI 1997) menjadi 35 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003), dan angka kematian ibu melahirkan (AKI) dari 334 (SDKI 1997) menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Meskipun sudah menurun, namun bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga, maka angkaangka tersebut masih belum menggembirakan.
Umur Harapan Hidup (UHH) waktu lahir dalam tiga dekade cenderung meningkat dari 41 tahun pada (1960) menjadi 66,2 tahun (Susenas 2003). AKB, AKI, dan UHH tersebut masih terdapat ketimpangan, terutama di wilayah KTI, serta penduduk dengan strata ekonomi dan pendidikan rendah.
Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37,5% (1989) menjadi 24,6% (2000) dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. Saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) sedikit merebak, karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi, serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat.
Saat ini di setiap kecamatan telah ada paling sedikit sebuah Puskesmas, data tahun 2000 terdapat 7.237 Puskesmas, 21.267 Puskesmas Pembantu, dan 6.392 Puskesmas Keliling. Hampir di setiap ibu kota provinsi dan kabupaten/kota telah tersedia rumah sakit milik pemerintah. Permasalahan yang dirasakan tentang sarana kesehatan tersebut terutama di daerah-daerah pemekaran. Namun demikian pelayanan kesehatan masih dirasakan belum mencukupi, baik dari segi keterjangkauan, maupun kualitasnya.
Keadaan geografi negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang terpencar-pencar, merupakan salah satu tantangan dalam upaya pembangunan nasional terutama dalam pembangunan kesehatan.
Pembangunan Kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi tingginya. Selain itu pembangunan Kesehatan juga merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan sesuai dengan amanat Undang Undang Dasar 1945 dan Undang Undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Keadaan lain di Negara Indonesia yang masih merupakan masalah yang harus dihadapi dalam permasalahan Bidang Kesehatan meliputi :
1. Masih cukup tingginya disparitas status kesehatan antar tingkat sosial ekonomi.
Permasalahan pembangunan sosial dan budaya yang menjadi perhatian utama antara lain adalah masih rendahnya derajat kesehatan dan status gizi serta tingkat kesejahteraan sosial masyarakat; masih rentannya ketahanan budaya dan belum diberdayakannya kesenian dan pariwisata secara optimal; masih rendahnya kedudukan dan peranan perempuan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan; masih rendahnya partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan nasional, belum membudayanya olahraga dan masih rendahnya prestasi olahraga.
Berbagai permasalahan tersebut akan diatasi melalui pelaksanaan berbagai program pembangunan yang mengacu pada arah kebijakan sosial dan budaya yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999–2004. Strategi yang digunakan dalam melaksanakan pembangunan bidang sosial dan budaya adalah desentralisasi; peningkatan peran masyarakat termasuk dunia usaha; pemberdayaan masyarakat termasuk pemberdayaan perempuan dan keluarga; penguatan kelembagaan termasuk peningkatan koordinasi antarsektor dan antarlembaga.
Lingkungan sosial budaya yang erat kaitannya dengan masalah kesehatan harus dilihat dari segi kehidupan masyarakat secara luas. Faktor-faktor keasyarakatan tersebuit antara lain struktur sosial, ekonomi dan budaya. Ini meliputi kecerdasan rakyat, kesadaran rakyat untuk memlihara kesehatan dirinya sendiri.
Makin bertambah tinggi tingkat pendidikan masyarakat kan tercipta perilaku dan sikap yang baik terhadapa hidup sehat yang menguntungkan upaya kesehatan. Masyarakat agraris pada umumnya lebih lamban menanggapi perubahan nilai sosila budaya termasuk ekonomi, hingga sulit mengatasi masalah kemiskinan maupun pengembangan sosial dan budaya, yang justru berpengaruh pada sikap dan perilaku hidup sehat.
2. Mobilitas penduduk yang cukup tinggi ;
Upaya pengendalian pertumbuhan telah berhasil dengan baik terutama melalui gerakan Keluarga Berencana. Namun pertambahan jumlah penduduk dan perbandingan penduduk usia muda yang masih besar, serta penyebaran peduduk yang masih belum merata, menimbulkan masalah. Perbandingan jumlah penduduk wanita dan pria, tidak akan banyak berubah dari keadaan sekarang, yaitu 100 orang wanita terhadap 96,8 pria. Jumlah penduduk berusia 40 tahun keatas, secara relatif akan bertambah. Ini berarti perlunya peningkatan pelayanan untuk penyakit-penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung, dan penyakit degeneratif lainnya yang biasa diderita oleh penduduk berusia 40 tahun keatas, yang relatif lebih mahal pelayanannya dibandingkan dengan penyakit menular.
Dengan demikian ciri kependudukan di Indonesia sampai sekarang masih cenderung bergerak lamban dari penduduk usia muda ke arah penduduk usia tua. Karena itu upaya kesehatan masih ditujukan terutama kepada penyakit-penyakit yang banyak dideriita oleh anak-anak di bawah usia 5 tahun, dengan tidak melupakan pula berbagai penyakit yang lazim diderita oleh golongan umur produktif yang makin besar jumlahnya serta perubahan ciri-ciri penyakit di masa akan datang
3. kondisi kesehatan lingkungan masih rendah;
Pencemaran lingkungan dewasa ini selain terutama disebabkan karena kebiasaan membuang kotoran yang tidak semestinya juga disebabkan oleh pencemaran air dan tanah serta udara karena bahan buangan industri, limbah pertanian dan pertambangan serta pencemaran udara karena kenderaan bermotor.
Pencemaran makanan dan minuman dapat terjadi karena hygiene dan sanitasi yang belum memadai, pemakaian bahan tambahan, pemakaian pestisida untuk menyelamatkan produksi pangan dan keadaan lingkungan yang makin tercemar.
Mengenai perumahan, bahwa dewasa ini masih banyak penduduk menempati rumah dan pemukiman yang tidak layak, yang merugikan kondisi kesehatan diri sendiri dan lingkungan.

4. perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah;
Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut, maka perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. dari batasan ini, perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok.
Tidak merokok. merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia seolah-olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok. bahkan dari hasil suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah merokok. inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
Tidak minum-minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minuman keras dan mengkonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya lainnya) juga cenderung meningkat. Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah mempunyai kebiasaan minuman keras ini.
Istirahat cukup. dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk penyesuaian lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras dan berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. hal ini dapat juga membahayakan kesehatan.
Mengendalikan stres. Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya bermacam-macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stres akan meningkat pada setiap orang. stres tidak dapat kita hindari, maka yang penting agar stres tidak menyebabkan gangguan kesehatan, kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stres dengan kegiatan-kegiatan yang positif.
Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya : tidak berganti-ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaian diri kita dengan lingkungan, dan sebagainya
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yaitu Upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenali dan mengetahui masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
5. Keterbatasan pelayanan kesehatan ;
Dalam rangka pemerataan pengembangan dan pembinaan kesehatan masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, telah dibangun Pusat-Pusat Kesehatan Masyarakat. Dewasa ini seluruh kecamatan sudah mempunyai sekurang-kurangnya sebuah Puskesmas serta beberapa Puskesmas Pembantu. Jangkauan upaya pelayanan Puskesmas dan Puskemsas pemantu masih belum memadai terutama di daerah pedesaan yang sulit perhubungannya atau daerah terpencil. Untuk mengatasi itu diadakan Puskesmas Keliling dan Polindes untuk membantu memberiakan pelayanan kepeda penduduk. Namun belum semua desa bisa terjangkau.
Upaya pelayanan kesehatan yang mmenyeluruh dan terpadu hanya mungkin diwujudkan jika sistem rujukan dikembangkan dengan meningkatkan sarana dalam arti luas, yakni pengembangan rumah sakit yang memenuhi syarat medis teknis serta kejelasan tanggung jawab antara Puskesmas dan Rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta.,
6. Jumlah tenaga kesehatan masih kurang merata, masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya, masih rendahnya kinerja SDM Kesehatan.
Secara umum dapat dikatakan bahwa baik tenaga medis maupun tenaga paramedis jumlah dan mutunya serta pemerataannya masih belum memadai. Hampir seluruh dokter dan sebagian besar tenaga paramedis adalah pegawai negeri, sedangkan banyak tenaga medis merangkap melayani usaha kesehatan swasta. Hal ini dapat mengurangi mutu pelayanan kesehatan-kesehatan pemerintah. Perbandingan jumlah dokter dan paramedis serta tenaga kesehatan lainnya terhadap jumlah penduduk masih jauh dari memuaskan. Pola ketenagaan untuk unit-unit pelayanan kesehatan serta pendidikan dan latihannya masih perlu dimantapkan.
Sistem pengelolaan tenaga kesehatan yang baru dirintis belum sepenuhnya memungkinkan pembinaan tenaga kesehatan berdasarkan sistem karier dan prestasi kerja.
Dengan meningkatnya kecepatan pembangunan bidang kesehatan sebagi bagian dari pembangunan nsional, kiranya masalah ketenagaan tersebut juga akan cenderung meningkat pula. Karena itu masalah ketenagaan perlu mendapatkan prioritas penggarapan baik untuk jangka pendek maupun menengah dan jangka panjang.
7. Pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada belum optimal ;
Pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. tindakan atau perilaku ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
Fasilitas kesehatan sebagi salah satu sumber daya kesehatan sampai dewasa ini telah dikembangkan tahap demi tahap sesuai dengan keperluan. Jumlah dan fungsi rumah sakit baik pemerintah maupun swasta telah pula ditingkatkan. Peningkatan rumah sakit ini merupakan salah satu kegiatan dari peningkatan upaya kesehatan rujukan, yang dimaksudkan untuk lebih menunjang upaya kesehatan Puskesmas. Demikian pula fasilitas kesehatan lainnya seperti laboratorium , kantor, perumahan dinas, fasilitas pendidikan dan latihan dan yang lainnya telah pula ditingkatkan. Namun pamanfaatan terhadap fasiltas tersebut masih belum optimal, hal ini dapat kita lihat dari sedikitnya jumlah kunjungan rawat jalan di Puskesmas dibandingkan dengan kunjungan ke praktek pribadi medis maupun paramedis. Selain itu masih adanya pemanfaatan pengobatan pada praktik perdukunan pada sebagain masyarakat di pedesaan.
8. Akses masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan yang ada belum optimal.
Akses yang dimaksud adalah sarana pendukung seperti sarana jalan dan transfortasi yang masih belum baik dan kurang. Di daerah terbelakang dan terpencil sampai saat ini untuk sarana jalan dan transfortasi dapat dikatakan kurang mendukung. Untuk mencapai fasilitas kesehatan terkadang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk mengobati sakit sanak keluarga masyarakat di desa terpencil tersebut. Permasalah ini tidak lepas juga dengan letak geografis darah tersebut. Selain itu tidak semua desa tertinggal atau terpencil ditempatkan petugas kesehatan dikarenakan masih kurangnya tenaga kesehatan.
9. Peran lintas sektor dalam bidang kesehatan belum optimal.
Di antara faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam pembangunan antara lain adalah kertja sama lintas sektor. Kerja sama yang dimaksud adalkah kerja sama berbagai sektor pembangunan, kerjasama pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta. Yang masih perlu ditingkatkan adalah kerja sama lintas sektor yang diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta, baik dari segi teknis opersional maupun administratif, ketengaan dan kejelasan mekanisme kerja bahkan termasuk aspek-aspek hukum yang dapat memantapkan kerja sama secara luas
Kerja sama lintas sektor sering sukar diwujudkan jika kerja sama tersebut tidak didasari oleh saling pengertian dan keterbukaan yang mendalam antara komponen yang terlibat serta tidak ada kejelasan tentang tujuan bersama. Peran yang harus dilakukan oleh masing-masing komponen dalam kerja sama itu dan mekanisme kerjanya perlu dirumuskan.
Selain dari permasalahan di atas mungkin banyak hal lain lagi yang menjadi masalah kalau dilihat dari faktor-faktor lain seperti budaya, dan keberagaman masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai pulau dan daerah yang berbeda. Permasalahan di atas adalah permasalahan yang pada umumnya kita temukan di dalam melaksanakan pembangunan kesehatan.
Permasalahan-permasalah tersebut menjawab apakah sudah terwujud harapan dari Visi dan misi Indonesia Sehat. Tentunya dari kenyataan yang ada harapan tersebut masih belumlah tercapai dan barangkali perlu waktu lagi untuk mewujudkannya serta upaya yang lebih optimal dari kita semua insan kesehatan dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Menjawab apakah semua indikator telah tercapai sesuai dengan target yang telah ditentukan, maka dapat dilihat dari keberhasilan pencapaian indikator. Mungkin akan terlihat cukup jelas bahwa target-target yang telah ditentukan dari ke lima puluh indikator pencapaian Indonesia Sehat Tahun 2010 hanya sebagian yang tercapai dan mungkin sebagian besar tidak tercapai karena adanya berbagai macam permasalahan di atas.
Pembangunan Kesehatan terus berjalan, dan Indoneseia Sehat Tahun 2010 masih menyisakan kurang lebih 1 tahun lagi, namun permasalahan yang dihadapi teruslah ada dan berkembang. Hal tersebut tidak lepas dari geografis Indonesia itu sendiri dan era globalisasi dunia yang sangat mempengaruhinya. Memang dilihat dari permasalahan tersebut kita seakan pesimis bahwa Indonesia sehat 2010 akan tercapai dan barangkali hanya menjadi mimpi saja, tetapi diharapkan dengan semangat dan tanggungjawab kita semua maka tujuan tersebut bisa tercapai.
Sumber :
www.keperawatankomunitas.blogspot.com
Depkes RI, Jakarta, 2003, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 1202/ Menkes/SK/VIII/2003 tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat
http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - INDONESIA SEHAT TAHUN 2010, APAKAH HANYA MIMPI ?

Info tentang Flu Babi atau Swine Influenza

Influenza, biasanya dikenal dengan sebutan FLU, merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus RNA famili Orthomyxoviridae (virus influenza), yang menyerang unggas dan mamalia. Swine influenza virus (SIV) merupakan Orthomyxovirus yang bersifat endemik pada populasi babi.

Swine Influenza (flu babi) adalah penyakit saluran pernafasan akut pada babi yang disebabkan oleh virus influensa tipe A. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), secara umum penyakit ini mirip influenza dengan gejala demam, batuk, pilek, sesak nafas, nyeri tenggorokan, lesu, letih dan mungkin disertai mual, muntah dan diare. Penyakit ini dengan sangat cepat menyebar ke dalam kelompok ternak dalam waktu 1 minggu, umumnya penyakit ini dapat sembuh dengan cepat kecuali bila terjadi komplikasi dengan bronchopneumonia (radang paru-paru), akan berakibat pada kematian.

Penyakit virus flu babi pertama dikenal sejak tahun 1918, pada saat itu didunia sedang terdapat wabah penyakit influenza secara pandemik pada manusia yang menelan korban sekitar 21 juta orang meninggal dunia. Kasus tersebut terjadi pada akhir musim panas. Pada tahun yang sama dilaporkan terjadi wabah penyakit epizootik pada babi di Amerika tengah bagian utara yang mempunyai kesamaan gejala klinis dan patologi dengan influensa pada manusia. Karena kejadian penyakit ini muncul bersamaan dengan kejadian penyakit epidemik pada manusia, maka penyakit ini disebut flu pada babi.

EPIDEMIOLOGI (Penyebaran Penyakit)

Penyebaran virus influenza dari babi ke babi dapat melalui kontak moncong babi, melalui udara atau droplet. Faktor cuaca dan stres akan mempercepat penularan. Virus tidak akan tahan lama di udara terbuka. Penyakit bisa saja bertahan lama pada babi breeder atau babi anakan. Kekebalan maternal dapat terlihat sampai 4 bulan tetapi mungkin tidak dapat mencegah infeksi, kekebalan tersebut dapat menghalangi timbulnya kekebalan aktif.

Transmisi inter spesies dapat terjadi, sub tipe H1N1 mempunyai kesanggupan menulari antara spesies terutama babi, bebek, kalkun dan manusia, demikian juga sub tipe H3N2 yang merupakan sub tipe lain dari influensa A. H1N1, H1N2 dan H3N2 merupakan ke 3 subtipe virus influenza yang umum ditemukan pada babi yang mewabah di Amerika Utara, tetapi pernah juga sub tipe H4N6 diisolasi dari babi yang terkena pneumonia di. Manusia dapat terkena penyakit influenza secara klinis dan menularkannya pada babi. Kasus infeksi sudah dilaporkan pada pekerja di kandang babi di Eropa dan di Amerika. Beberapa kasus infeksi juga terbukti disebabkan oleh sero tipe asal manusia.

Penyakit pada manusia umumnya terjadi pada kondisi musim dingin. Transmisi kepada babi yang dikandangkan atau hampir diruangan terbuka dapat melalui udara seperti pada kejadian di Perancis dan beberapa wabah penyakit di Inggris. Babi sebagai karier penyakit klasik di Denmark, Jepang, Italia dan kemungkinan Inggris telah dilaporkan.

ETIOLOGI (Penyebab Penyakit)

Penyebab influenza yang ditemukan pada babi, bersamaan dengan penyakit yang langsung menyerang manusia. Pertama kali, virus influenza babi diisolasi tahun 1930, sudah banyak aspek dari penyakit tersebut yang diungkapkan, antara lain meliputi tanda klinis, lesi (luka pada saluran pernafasan), imunitas, transmisi, adaptasi virus terhadap hewan percobaan dan hubungan antigenik dengan virus influenza lainnya serta kejadian penyakit di alam.

Flu babi merupakan penyakit yang disebabkan virus influenza Famili Orthomyxoviridae tipe A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan oleh binatang, terutama babi, dan ada kemungkinan menular antarmanusia.

Virus ini erat kaitannya dengan penyebab swine influenza, equine influenza dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80-120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan C yang juga sudah dapat diisolasi dari babi.


Sedangkan 2 tipe virus influenza pada manusia adalah tipe A dan B. Kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenik yang sangat dramatik sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenik tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemik dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia.

Ketiga tipe virus yaitu influensa A, B, C adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop elektron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga tipe virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen haemagglutinin (H) dan enzim neuraminidase (N).

Peranan haemaglutinin adalah sebagai alat melekat virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim neurominidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibodi terhadap haemaglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung haemaglutinin yang sama. Antibodi juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan infeksi.

Influensa babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influensa A H1N1, sedangkan di banyak negara Eropa termasuk Inggris, Jepang dan Asia Tenggara disebabkan oleh influensa A H3N2. Banyak isolat babi H3N2 dari Eropa yang mempunyai hubungan antigenik sangat dekat dengan A/Port Chalmers/1/73 strain asal manusia. Peristiwa rekombinan dapat terjadi, seperti H1N2 yang dilaporkan di Jepang kemungkinan berasal dari rekombinasi H1N1 dan H3N2.

Peristiwa semacam ini juga dilaporkan di Italia, Jepang, Hongaria, Cekoslowakia dan Perancis. BEVERIDGE (1977) melaporkan bahwa pada tahun 1935, WILSON MITH menemukan virus influenza yang dapat ditumbuhkan dengan cara menginokulasikannya pada telor ayam berembrio umur 10 hari. Setelah diuji dalam 2 hari, cairan alantoisnya mengandung virus sebanyak 10.000 juta (1010) partikel karena virus tersebut dapat menyebabkan aglutinasi sel darah merah, maka dari kejadian tersebut dikembangkan uji HA dan HI.

Teknik ini kemudian digunakan sebagai cara yang termudah untuk digunakan di laboratorium. Setelah penemuan tersebut banyak para peneliti tertarik untuk mempelajari virus influenza. Oleh sebab itu, sekarang banyak ilmu pengetahuan mengenai virus influeza telah diungkapkan dibandingkan dengan virus lainnya yang menyerang manusia. Virus influenza selain dapat ditumbuhkan dalam telur berembrio juga dapat ditumbuhkan pada sejumlah biakan jaringan (sel lestari) seperti chicken embryo fibroblast (CEF), canine kidney (CK), Madin-Darby canine kidney (MDCK).

KEJADIAN PENYAKIT

Pada kejadian wabah penyakit, masa inkubasi sering berkisar antara 1-2 hari, tetapi bisa 2-7 hari dengan rata-rata 4 hari. Penyakit ini menyebar sangat cepat hampir 100% babi yang rentan terkena, dan ditandai dengan apatis, sangat lemah, enggan bergerak atau bangun karena gangguan kekakuan otot dan nyeri otot, eritema pada kulit, anoreksia, demam sampai 41.8oC. Batuk sangat sering terjadi apabila penyakit cukup hebat, dibarengi dengan muntah eksudat lendir, bersin, dispnu diikuti kemerahan pada mata dan terlihat adanya cairan mata. Biasanya sembuh secara tiba-tiba pada hari ke 5-7 setelah gejala klinis. Terjadi tingkat kematian tinggi pada anakanak babi yang dilahirkan dari induk babi yang tidak kebal dan terinfeksi pada waktu beberapa hari setelah dilahirkan. Tingkat kematian pada babi tua umumnya rendah, apabila tidak diikuti dengan komplikasi. Total kematian babi sangat rendah, biasanya kurang dari 1%. Bergantung pada infeksi yang mengikutinya, kematian dapat mencapai 1-4%.

Beberapa babi akan terlihat depresi dan terhambat pertumbuhannya. Anak-anak babi yang lahir dari induk yang terinfeksi pada saat bunting, akan terkena penyakit pada umur 2-5 hari setelah dilahirkan, sedangkan induk tetap memperlihatkan gejala klinis yang parah. Pada beberapa kelompok babi terinfeksi bisa bersifat subklinis dan hanya dapat dideteksi dengan sero konversi. Wabah penyakit mungkin akan berhenti pada saat tertentu atau juga dapat berlanjut sampai selama 7 bulan. Wabah penyakit yang bersifat atipikal hanya ditemukan pada beberapa hewan yang mempunyai manifestasi akut. Influensa juga akan menyebabkan abortus pada umur 3 hari sampai 3 minggu kebuntingan apabila babi terkena infeksi pada pertengahan kebuntingan kedua. Derajat konsepsi sampai dengan melahirkan selama tejadi wabah penyakit akan menurun sampai 50% dan jumlah anak yang dilahirkan pun menurun.

FLU BABI PADA MANUSIA

Orang yang bekerja dengan unggas dan babi memiliki resiko yang tinggi untuk terpapar penyakit infeksi menular antara hewan dan manusia (zoonosis). Pernah dilaporkan kejadian transmisi influenza dari babi ke pekerja, pada tahun 2004 oleh Universiti of Iowa. Kejadian wabah pada tahun 2009 ini merupakan reassortment nyata pada beberapa strain influeanza A subtipe H1N1, termasuk strain endemik pada manusia dan dua strain endemik pada babi, seperti avian influenza.

CDC melaporkan bahwa gejala dan transmisi flu babi dari manusia ke manusia terjadi seperti kejadian flu musiman, demam seperti biasa, kehilangan nafsu makan, keletihan dan batuk. Beberapa mengalami sakit tenggorokan, mual, muntah dan diare. Penyakit bisa menular dari leleran yang tersebar melalui bersin, batuk dari penderita.

Flu babi tidak dapat menyebar melalui produk-produk babi, artinya tidak ditularkan melalui makanan. Flu babi pada manusia paling berpeluang menular pada 5 - 10 hari pertama setelah terinfeksi, terutama pada anak-anak dan pada saat kondisi tubuh lemah.

PENCEGAHAN

Untuk pencegahan infeksi, direkomendasikan untuk mencuci tangan sesering mungkin dengan menggunakan sabun sanitizer berbahan dasar alkohol, terutama jika bepergian di tempat umum. Hindari menyentuh mata, hidung, mulut sebelum membersihkan tangan terlebih dahulu. Jika batuk, tutup dengan tissue dan buang segera ke tempat sampah, dan cuci tangan kembali.

Virus flu babi rentan terhadap obat-obat seperti amantadine, rimantadine, oseltamivir dan zanamivir, namun untuk wabah 2009 ini, direkomendasikan pengobatan menggunakan oseltamivir dan zanamivir. Vaksin untuk manusia H1N1 tidak efektif melindungi terhadap H1N1 flu babi, walaupun strain virusnya sama, namun secara antigentik berbeda.

:: Dikutip dari berbagai sumber nsharmoko.blogspot.com

lihat artikel selengkapnya - Info tentang Flu Babi atau Swine Influenza

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: