KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Ibu Menyusui (untuk UMUM). Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Desember 2010

Masalah Menyusui Pada Keadaan Khusus

Masalah yang timbul pada periode ini adalah :

  1. Ibu melahirkan dengan bedah sesar.

  2. Ibu sakit.

  3. Ibu penderita hepatitis (HbsAg +) dan ibu penderita HIV/AIDS (+).

  4. Ibu penderita TBC paru.

  5. Ibu penderita diabetes.

  6. Ibu yang memerlukan pengobatan.

  7. Ibu hamil.


Ibu Melahirkan dengan Bedah Sesar

Meskipun seorang ibu menjalani persalinan sesar tetapi ada juga yang mempunyai keinginan kuat untuk tetap memberikan ASI pada bayinya. Namun demikian, ada beberapa keadaan yang dapat mempengaruhi ASI baik langsung maupun tidak langsung antara lain: pengaruh pembiusan saat operasi, psikologi ibu.

Ibu dengan pasca persalinan sesar tetap dapat memberikan ASI nya. Hal yang perlu diperhatikan pada kondisi ini adalah :



  1. Mintalah segera mungkin untuk dapat menyusui.

  2. Cari posisi yang nyaman untuk menyusui seperti : lying flat on your back, clutch (football) hold, side lying, cross cradle (transition) hold.

  3. Mintalah dukungan dari keluarga.

  4. Berdoa dan yakinlah bahwa ibu dapat memberikan ASI.


Ibu Sakit

Ibu sakit bukan merupakan alasan untuk berhenti menyusui. Justru dengan tetap menyusui, ASI akan melindungi bayi dari penyakit. Perlu diperhatikan, pada saat ibu sakit diperlukan bantuan dari orang lain untuk mengurus bayi dan rumah tangga. Dengan harapan, ibu tetap mendapatkan istirahat yang cukup.

Periksalah ke tenaga kesehatan terdekat, untuk mendapatkan pengobatan yang tidak mempengaruhi ASI maupun bayi.


Ibu Penderita HIV/AIDS (+) dan Hepatitis (HbsAg +)

Masih ada perbedaan pandangan mengenai penularan penyakit HIV/AIDS atau Hepatitis melalui ASI dari ibu penderita kepada bayinya. Ada yang berpendapat bahwa ibu penderita HIV/AIDS atau Hepatitis tidak diperkenankan untuk menyusui. Namun demikian, WHO berpendapat: ibu penderita tetap dianjurkan memberikan ASI kepada bayinya dengan berbagai pertimbangan. Antara lain: alasan ekonomi, aspek kesehatan ibu.


Ibu Penderita TBC Paru

Pada ibu penderita TBC paru tetap dianjurkan untuk menyusui, karena kuman TBC tidak ditularkan melalui ASI. Ibu tetap diberikan pengobatan TBC paru secara adekuat dan diajarkan cara pencegahan pada bayi dengan menggunakan masker. Bayi diberikan INH sebagai profilaksis. Pengobatan pada ibu dilakukan kurang lebih 3 bulan kemudian dilakukan uji Mantoux pada bayi. Bila hasil negatif terapi INH dihentikan dan imunisasi bayi dengan vaksinasi BCG.


Ibu Penderita Diabetes

Bayi tetap diberikan ASI, namun kadar gula darahnya tetap dimonitor.


Ibu yang Memerlukan Pengobatan

Banyak dijumpai pada ibu menyusui yang meminum obat-obatan dikarenakan sakit menghentikan pemberian ASI nya. Dengan alasan, obat-obatan yang ibu minum mengganggu bayi dan kadar ASI. Namun demikian, ada jenis obat-obatan tertentu yang sebaiknya tidak diberikan pada ibu menyusui. Apabila ibu memerlukan obat, berikan obat yang masa paruh obat pendek dan mempunyai rasio ASI-plasma kecil atau dicari obat alternatif yang tidak berakibat pada bayi maupun ASI.


Ibu Hamil

Pada saat ibu masih menyusui, terkadang hamil lagi. Dalam hal ini tidak membahayakan bagi ibu maupun bayi, asalkan asupan gizi pada saat menyusui dan hamil terpenuhi. Namun demikian, perlu dipertimbangkan adanya hal-hal yang dapat dialami antara lain: puting susu lecet, keletihan, ASI berkurang, rasa ASI berubah dan dapat terjadi kontraksi uterus dari isapan bayi.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 52-55).

hariansumutpos.com/2009/10/menyusui-pasca-sesar.html 2009. Menyusui Pasca Sesar. Diunduh 19 November 2009 – 08:59 PM.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 5-9)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Masalah Menyusui Pada Keadaan Khusus

Masalah Menyusui Masa Pasca Persalinan Lanjut

Masalah yang timbul pada periode ini adalah :

  1. Sindrom ASI kurang.

  2. Ibu bekerja.


Sindrom ASI Kurang


Masalah sindrom ASI kurang diakibatkan oleh kecukupan bayi akan ASI tidak terpenuhi sehingga bayi mengalami ketidakpuasan setelah menyusu, bayi sering menangis atau rewel, tinja bayi keras dan payudara tidak terasa membesar. Namun kenyataannya, ASI sebenarnya tidak kurang. Sehingga terkadang timbul masalah bahwa ibu merasa ASInya tidak mencukupi dan ada keinginan untuk menambah dengan susu formula. Kecukupan ASI dapat dinilai dari penambahan berat badan bayi secara teratur, frekuensi BAK paling sedikit 6 kali sehari.


Cara mengatasi masalah tersebut, sebaiknya disesuaikan dengan penyebabnya. Hal yang dapat menyebabkan sindrom kekurangan ASI antara lain:



  1. Faktor teknik menyusui, antara lain masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol, tidak mengosongkan payudara.

  2. Faktor psikologis: ibu kurang percaya diri, stress.

  3. Faktor fisik, antara lain: penggunaan kontrasepsi, hamil, merokok, kurang gizi.

  4. Faktor bayi, antara lain: penyakit, abnormalitas, kelainan kongenital.


Oleh karena itu, diperlukan kerjasama antara ibu dan bayi sehingga produksi ASI dapat meningkat dan bayi dapat memberikan isapan secara efektif.


Ibu Bekerja

Ibu yang bekerja bukan menjadi alasan tidak dapat menyusui bayinya. Banyak cara yang dapat digunakan untuk mengatasi hal tersebut, antara lain :



  1. Bawalah bayi anda jika tempat kerja ibu memungkinkan.

  2. Menyusui sebelum berangkat bekerja.

  3. Perahlah ASI sebagai persediaan di rumah sebelum berangkat bekerja.

  4. Di tempat kerja, ibu dapat mengosongkan payudara setiap 3-4 jam.

  5. ASI perah dapat disimpan di lemari es atau freezer.

  6. Pada saat ibu di rumah, susuilah bayi sesering mungkin dan rubah jadwal menyusui.

  7. Minum dan makan makanan yang bergizi serta cukup istirahat selama bekerja dan menyusui.


Gambar 1. ASI perahGambar . ASI perah


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 52-54).

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 4-5)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 57).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Masalah Menyusui Masa Pasca Persalinan Lanjut

Masalah Menyusui Masa Antenatal

Masalah yang timbul pada periode ini adalah :

  1. Kurang/salahnya pemberian informasi.

  2. Puting susu terbenam (retracted) atau puting susu datar.


Kurang/Salahnya Pemberian Informasi

Kebanyakan ibu masih beranggapan bahwa susu formula jauh lebih baik daripada ASI, sehingga apabila ASI dianggap kurang dengan segera menggunakan susu formula. Pada saat pemeriksaan kehamilan, pendidikan kesehatan tentang menyusui yang diberikan oleh petugas kesehatanpun juga masih kurang.


Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat pemeriksaan kehamilan tentang menyusui adalah :



  1. Fisiologi laktasi.

  2. Keuntungan/ manfaat pemberian ASI.

  3. Manfaat dari rawat gabung.

  4. Teknik menyusui yang benar.

  5. Kerugian susu formula.

  6. Dukungan pemberian ASI eksklusif.


Puting Susu Terbenam (Retracted) atau Puting Susu Datar

Bentuk anatomis dari papila atau puting susu yang tidak menguntungkan juga mempengaruhi proses menyusui. Meskipun pada masa antenatal telah dilakukan perawatan payudara dengan teknik Hoffman, yaitu dengan menarik-narik puting ataupun penggunaan breast shield dan breast shell.


Hal yang paling efisien dilakukan adalah isapan langsung yang kuat oleh bayi. Oleh karena itu, segera setelah bayi lahir lakukan:



  1. Biarkan bayi menyusu sedini mungkin dan lakukan kontak skin-to-skin.

  2. Lakukan inisiasi menyusu dini (IMD).

  3. Apabila puting benar-benar tidak muncul, lakukan penarikan dengan nipple puller atau menggunakan spuit.

  4. Bayi tetap disusui dengan sedikit penekanan pada areola mammae dengan jari.

  5. Bila ASI penuh, lakukan pemerasan dan berikan dengan sendok, cangkir ataupun teteskan langsung ke mulut bayi.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 43-45).

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 1-2)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Masalah Menyusui Masa Antenatal

Proses Laktasi

Pengertian Laktasi


Adalah proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI.


simbol internasional menyusui

Gambar simbol internasional menyusui


Pengaruh Hormonal

Proses laktasi tidak terlepas dari pengaruh hormonal, adapun hormon-hormon yang berperan adalah :



  1. Progesteron, berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi secara besar-besaran.

  2. Estrogen, berfungsi menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI.

  3. Follicle stimulating hormone (FSH)

  4. Luteinizing hormone (LH)

  5. Prolaktin, berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan.

  6. Oksitosin, berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Selain itu, pasca melahirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down/ milk ejection reflex.

  7. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta mengeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan areola sebelum melahirkan.


Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).


Proses Pembentukan Laktogen

Proses pembentukan laktogen melalui tahapan-tahapan berikut:



  1. Laktogenesis I

  2. Laktogenesis II

  3. Laktogenesis III


Laktogenesis I

Merupakan fase penambahan dan pembesaran lobulus-alveolus. Terjadi pada fase terakhir kehamilan. Pada fase ini, payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cairan kental kekuningan dan tingkat progesteron tinggi sehingga mencegah produksi ASI. Pengeluaran kolustrum pada saat hamil atau sebelum bayi lahir, tidak menjadikan masalah medis. Hal ini juga bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI.


Laktogenesis II

Pengeluaran plasenta saat melahirkan menyebabkan menurunnya kadar hormon progesteron, esterogen dan HPL. Akan tetapi kadar hormon prolaktin tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran.

Apabila payudara dirangsang, level prolaktin dalam darah meningkat, memuncak dalam periode 45 menit, dan kemudian kembali ke level sebelum rangsangan tiga jam kemudian. Keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri. Penelitian mengemukakan bahwa level prolaktin dalam susu lebih tinggi apabila produksi ASI lebih banyak, yaitu sekitar pukul 2 pagi hingga 6 pagi, namun level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.

Hormon lainnya, seperti insulin, tiroksin, dan kortisol, juga terdapat dalam proses ini, namun peran hormon tersebut belum diketahui. Penanda biokimiawi mengindikasikan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam setelah melahirkan, tetapi biasanya para ibu baru merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam (2-3 hari) setelah melahirkan. Artinya, memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung keluar setelah melahirkan.

Kolostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Kolostrum mengandung sel darah putih dan antibodi yang tinggi daripada ASI sebenarnya, khususnya tinggi dalam level immunoglobulin A (IgA), yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga mencegah alergi makanan. Dalam dua minggu pertama setelah melahirkan, kolostrum pelan pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.


Laktogenesis III

Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kontrol autokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI banyak. Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat dipengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi menghisap, dan juga seberapa sering payudara dikosongkan.


Produksi ASI yang rendah adalah akibat dari:



  • Kurang sering menyusui atau memerah payudara

  • Apabila bayi tidak bisa menghisap ASI secara efektif, antara lain akibat: struktur mulut dan rahang yang kurang baik; teknik perlekatan yang salah.

  • Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi)

  • Jaringan payudara hipoplastik

  • Kelainan metabolisme atau pencernaan bayi, sehingga tidak dapat mencerna ASI

  • Kurangnya gizi ibu


Referensi


Alfarisi, 2008. Fisiologi Laktasi. Diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 12:00 WIB

http://aku-anak-peternakan.blogspot.com/2008/05/fisiologi-laktasi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Menyusui diunduh Ahad, 6 september 2009; pukul 12:02 WIB

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 11-18)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Proses Laktasi

Minggu, 12 Desember 2010

Saluran Susu Tersumbat (Obstructed Duct)

Penyebab

  1. Air susu mengental hingga menyumbat lumen saluran. Hal ini terjadi sebagai akibat air susu jarang dikeluarkan.

  2. Adanya penekanan saluran air susu dari luar.

  3. Pemakaian bra yang terlalu ketat.


Gejala

Gejala ini jarang sekali dirasakan antara lain:



  1. Pada payudara terlihat jelas dan lunak pada perabaan (pada wanita kurus).

  2. Payudara terasa nyeri dan bengkak pada payudara yang tersumbat.


Penanganan



  1. Payudara dikompres dengan air hangat dan air dingin setelah bergantian, setelah itu bayi disusui.

  2. Lakukan masase pada payudara untuk mengurangi nyeri dan bengkak.

  3. Menyusui bayi sesering mungkin.

  4. Bayi disusui mulai dengan payudara yang salurannya tersumbat.

  5. Gunakan bra yang menyangga payudara.

  6. Posisi menyusui diubah-ubah untuk melancarkan aliran ASI.


Referensi

library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-daulat.pdf Sibuea, D. 2003. Problema Ibu Menyusui Bayi. Diunduh 17 November 2009 – 08: 13 PM.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 107-109)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 55).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Saluran Susu Tersumbat (Obstructed Duct)

Payudara Bengkak (Engorgement)

Penyebab

Payudara bengkak disebabkan karena menyusui yang tidak kontinyu, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah duktus. Hal ini dapat terjadi pada hari ke tiga setelah melahirkan. Selain itu, penggunaan bra yang ketat serta keadaan puting susu yang tidak bersih dapat menyebabkan sumbatan pada duktus.


Gejala


Perlu dibedakan antara payudara bengkak dengan payudara penuh. Pada payudara bengkak: payudara odem, sakit, puting susu kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan ASI tidak keluar kemudian badan menjadi demam setelah 24 jam. Sedangkan pada payudara penuh: payudara terasa berat, panas dan keras. Bila ASI dikeluarkan tidak ada demam.


Pencegahan



  1. Menyusui bayi segera setelah lahir dengan posisi dan perlekatan yang benar.

  2. Menyusui bayi tanpa jadwal (nir jadwal dan on demand).

  3. Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi.

  4. Jangan memberikan minuman lain pada bayi.

  5. Lakukan perawatan payudara pasca persalinan (masase, dan sebagainya).


Penatalaksanaan



  1. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek, sehingga lebih mudah memasukkannya ke dalam mulut bayi.

  2. Bila bayi belum dapat menyusu, ASI dikeluarkan dengan tangan atau pompa dan diberikan pada bayi dengan cangkir/sendok.

  3. Tetap mengeluarkan ASI sesering yang diperlukan sampai bendungan teratasi.

  4. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberi kompres hangat dan dingin.

  5. Bila ibu demam dapat diberikan obat penurun demam dan pengurang sakit.

  6. Lakukan pemijatan pada daerah payudara yang bengkak, bermanfaat untuk membantu memperlancar pengeluaran ASI.

  7. Pada saat menyusui, sebaiknya ibu tetap rileks.

  8. Makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan perbanyak minum.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 47-49).

http://library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-daulat.pdf Sibuea, D. 2003. Problema Ibu Menyusui Bayi. Diunduh 17 November 2009 – 08: 13 PM.

http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009421101430 2009. Payudara Bengkak. Diunduh 17 November 2009 – 07: 35 PM.

http://www.menyusui.net/problem-menyusui/bila-payudara-bengkak-saat-menyusui/ Kurniasih, D. 2008. Bila Payudara Bengkak Saat Menyusui. 17 November 2009 – 07: 33 PM.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 3)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 105-107)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 54-55).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Payudara Bengkak (Engorgement)

Manfaat ASI Untuk Keluarga

Manfaat ASI untuk keluarga, dapat dilihat dari aspek:

  1. Aspek ekonomi.

  2. Aspek psikologis.

  3. Aspek kemudahan.


Aspek ekonomi

Manfaat ASI dilihat dari aspek ekonomi adalah:



  1. ASI tidak perlu dibeli.

  2. Mudah dan praktis.

  3. Mengurangi biaya berobat.


Gambar 1. Manfaat ASI untuk keluarga ditinjau dari aspek ekonomiGambar 1. Manfaat ASI untuk keluarga ditinjau dari aspek ekonomi


Aspek psikologis

Dengan memberikan ASI, maka kebahagiaan keluarga menjadi bertambah, kelahiran jarang, kejiwaan ibu baik dan tercipta kedekatan antara ibu-bayi dan anggota keluarga lain.


Aspek kemudahan

Menyusui sangat praktis, dapat diberikan kapan saja dan dimana saja.


Gambar 2. Manfaat ASI ditinjau dari aspek kemudahan (saat bekerja)Gambar 2. Manfaat ASI ditinjau dari aspek kemudahan (saat bekerja)


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 17-24)

http://parekita.wordpress.com/2008/10/17/managemen-menyusui/ Ardiyanto, T. 2008. Manajemen Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:52 WIB.

http://www.geocities.com/bpniludhiana/bfeeding.htm Diunduh 23 September 2009, 08:02 WIB.

http://www.gizi.net/asi/download/KEUNGGULAN%20ASI%20DAN%20MANFAAT%20MENYUSUI.doc Diunduh 23 September 2009, 08:07 WIB.

http://www.indianwomenshealth.com/Healthy-Breast-Feeding-93.aspx Diunduh 23 September 2009, 07:58 WIB.

http://www.klikdokter.com/illness/detail/133 Masa Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:05 WIB.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 3, hlm : 3-10)

Pusdiknakes, 2003. Buku 4: Asuhan Kebidanan Post Partum. (hlm: 25)

Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta: Pustaka Bunda. (hlm: 40-49)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 31-34)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Manfaat ASI Untuk Keluarga

Sabtu, 11 Desember 2010

Puting Susu Lecet (Abraded and or cracked nipple)

Puting susu lecet dapat disebabkan trauma pada puting susu saat menyusui, selain itu dapat pula terjadi retak dan pembentukan celah-celah. Retakan pada puting susu bisa sembuh sendiri dalam waktu 48 jam.

Penyebab



  1. Teknik menyusui yang tidak benar.

  2. Puting susu terpapar oleh sabun, krim, alkohol ataupun zat iritan lain saat ibu membersihkan puting susu.

  3. Moniliasis pada mulut bayi yang menular pada puting susu ibu.

  4. Bayi dengan tali lidah pendek (frenulum lingue).

  5. Cara menghentikan menyusui yang kurang tepat.


Penatalaksanaan



  1. Cari penyebab puting susu lecet.

  2. Bayi disusukan lebih dulu pada putting susu yang normal atau lecetnya sedikit.

  3. Tidak menggunakan sabun, krim, alkohol ataupun zat iritan lain saat membersihkan payudara.

  4. Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam).

  5. Posisi menyusui harus benar, bayi menyusu sampai ke kalang payudara dan susukan secara bergantian diantara kedua payudara.

  6. Keluarkan sedikit ASI dan oleskan ke puting yang lecet dan biarkan kering.

  7. Pergunakan BH yang menyangga.

  8. Bila terasa sangat sakit boleh minum obat pengurang rasa sakit.

  9. Jika penyebabnya monilia, diberi pengobatan dengan tablet Nystatin.


Gambar . Puting susu lecet/ cracked nippleGambar. Puting susu lecet/ cracked nipple


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 46-47).

http://library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-daulat.pdf Sibuea, D. 2003. Problema Ibu Menyusui Bayi. Diunduh 17 November 2009 – 08: 13 PM.

http://www.idai.or.id/asi/artikel.asp?q=2009417153933 2009. Puting Susu Nyeri/Lecet . Diunduh 17 November 2009 – 07:22 PM.

http://www.scribd.com/doc/19706805/MANAJEMEN-LAKTASI . Puting Susu Lecet. Diunduh 17 November 2009 – 09: 10 PM.

http://www.steadyhealth.com/articles/Sore_Nipples__Prevention_and_Treatment_a49_f34.html Anne, M. 2006. Sore Nipples: Prevention and Treatment. Diunduh 17 November 2009 – 08: 43 PM.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 102-105)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 53-54).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Puting Susu Lecet (Abraded and or cracked nipple)

Jumat, 10 Desember 2010

Menyusui Dapat Mencegah Kanker Payudara

Penelitian membuktikan bahwa dengan menyusui dapat mengurangi bahaya terkena kanker payudara. Hal ini dapat terjadi jika seorang ibu menyusui anaknya dalam kurun waktu minimal setahun atau bahkan lebih. Dalam setahun, seorang ibu dapat menyusui lebih dari 1 anak, sebagai contoh; dengan menyusui 2 anak sekaligus dalam waktu 6 bulan, itu sama saja dengan menyusui 1 anak dalam waktu setahun.

Semakin lama seorang ibu menyusui anaknya, semakin kecil ia terkena resiko kanker payudara. Terdapat beberapa teori yang menjelaskan bagaimana menyusui bisa mengurangi resiko munculnya kanker payudara.

Pertama, saat menyusui terdapat perubahan hormonal, salah satunya yaitu penurunan hormon esterogen, yang dipercaya sebagai pemicu munculnya kanker payudara.

Teori lainnya mengatakan bahwa selama menyusui terdapat perubahan fisik pada sel payudara, sehingga payudara yang digunakan untuk menyusui memiliki antibodi lebih baik dalam melawan berbagai macam polutan dan lemak yang tidak sehat.

Menyusui setelah terdiagnosa mengidap kanker payudara diperbolehkan dan dianggap aman apabila, selama masih memiliki payudara dan tidak sedang menjalani terapi penyembuhan (kemoterapi dan terapi hormon).

Bagi wanita yang dinyatakan hamil setelah terapi lumpectomy dan radiasi pada salah satu payudara, maka dapat meyiasatinya dengan menyusui mempergunakan payudara lain yang tidak sedang menjalani terapi. Biasanya payudara tersebut bisa memproduksi susu untuk memenuhi buah hati terkasih.

Tetapi bila ternyata dinyatakan harus menjalani kemoterapi saat sedang menyusui, maka sebaiknya hentikan kegiatan tersebut. Dikhawatirkan obat-obatan yang diminum akan mencemari air susu yang dikonsumsi oleh si kecil.

Tapi satu hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat untuk meminimalisasikan bahaya dari kanker payudara adalah dengan pengetahuan yang memadai, pemeriksaan berkala, dan
pelaksanaan serangkaian pengobatan yang diperlukan.

lihat artikel selengkapnya - Menyusui Dapat Mencegah Kanker Payudara

Permasalahan Seputar Nifas

MENGELUARKAN DARAH LEBIH DARI TIGA HARI SEBELUM PERSALINAN


Oleh
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di

Pertanyaan.
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya : “Apa hukumnya darah yang keluar dari wanita hamil pada lebih dari tiga hari sebelum persalinan?”

Jawaban.
Para ahli fiqih telah mengatakan dengan jelas bahwa darah yang keluar dari wanita hamil pada lebih dari tiga hari sebelum persalinan adalah darah rusak darah penyakit) dan bukan darah nifas, dengan demikian wanita itu tiada dikenakan hukum nifas walaupun telah ada tanda-tanda menunjukkan akan datangnya masa nifas, namum demikian perlu diketahui bahwa dalam hal ini ada beberapa pendapat. Landasan pendapat para ahli fiqh ini adalah tanda kejadian yang telah biasa terjadi dan tidak berdasarkan nash karena tidak ada nash yang menetapkan hal ini, bahkan jika Anda memperhatikan darah yang keluar sebelum terjadinya persalinan terkadang lebih dari tiga hari sebagaimana telah banyak terjadi, maka dengan demikian, merujuk kepada pendapat para ulama fiqh itu tentang batasan masa nifas yang berdasarkan pada kebiasaan adalah lebih utama dari pada merujuk pada suatu pendapat yang tidak memeliki dalil dalam hal ini.

[Al-Majmu'ah Al-Kamilah Limu'alafat Asy-Syaikh Ibn Sa'di, hal. 100]

MENGELAURKAN DARAH SATU ATAU DUA HARI SEBELUM PERSALINAN

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya :”Jika wanita hamil mengeluarkan darah pada saat sehari atau dua hari sebelum persalinan apakah wanita itu harus meninggalkan puasa dan shalat karenanya atau bagaimana?”.

Jawaban.
Jika wanita hamil mengeluarkan darah pada saat menjelang persalinan sehari atau dua hari dengan disertai rasa sakit untuk melahirkan, maka darah yang keluar itu adalah darah nifas yang diaharuskan baginya untuk meninggalkan shalat karena adanya darah tersebut, adapun jika keluarnya darah itu tidak disertai rasa sakit sebagaimana sakitnya orang hendak melahirkan maka darah itu adalah darah rusak (darah penyakit) yang tidak menghalanginya untuk melakukan shalat dan puasa.

[52 Sua'alan Ahkamil Haidh, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal, 18]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wajan, Penerjemah Amir Hamzah Fakhruddin, Penerbit Darul Haq]

almanhaj.or.id

lihat artikel selengkapnya - Permasalahan Seputar Nifas

Permasalahan Seputar Nifas

HUKUM DARAH YANG MENYERTAI KEGUGURAN PREMATUR SEBELUM SEMPURNANYA BENTUK JANIN DAN SETELAH SEMPURNANYA JANIN.

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Di antara para wanita hamil terkadang ada yang mengalami keguguran, ada yang janinnya telah sempurna bentuknya dan ada pula yang belum berbentuk, saya harap Anda dapat menerangkan tentang shalat pada kedua kondisi ini ?

Jawaban.
Jika seorang wanita melahirkan janin yang telah berbentuk manusia, yaitu ada tangannya, kakinya dan kepalanya, maka dia itu dalam keadaan nifas, berlaku baginya ketetapan-ketetapan hukum nifas, yaitu tidak berpuasa, tidak melakukan shalat dan tidak dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya hingga ia menjadi suci atau mencapai empat puluh hari, dan jika ia telah mendapatkan kesuciannya dengan tidak mengeluarkan darah sebelum mencapai empat puluh hari maka wajib baginya untuk mandi kemudian shalat dan berpuasa jika di bulan Ramadhan dan bagi suaminya dibolehkan untuk menyetubuhinya, tidak ada batasan minimal pada masa nifas seorang wanita, jika seorang wanita telah suci dengan tidak mengeluarkan darah setelah sepuluh hari dari kelahiran atau kurang dari sepuluh hari atau lebih dari sepuluh hari, maka wajib baginya untuk mandi kemudian setelah itu ia dikenakan ketetapan hukum sebagaimana wanita suci lainnya sebagaimana disebutkan diatas, dan darah yang keluar setelah empat puluh hari ini adalah darah rusak (darah penyakit), jadi ia tetap diwajibkan untuk berpuasa, sebab darah yang dikelurkan itu termasuk ke dalam katagori darah istihadhah, hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kepada Fatimah binti Abu Hubaisy, yang mana saat itu ia mustahadhah (mengeluarkan darah istihadhah) : Berwudhulah engkau setiap kali waktu shalat. Dan jika terhentinya darah nifas itu diteruskan oleh mengalirnya darah haidh setelah empat puluh hari, maka wanita itu dikenakan hukum haidh, yaitu tidak dibolehkan baginya berpuasa, melaksanakan shalat hingga habis masa haidh itu, dan diharamkan bagi suaminya menyetubuhinya pada masa itu.

Sedangkan jika yang dilahirkan wanita itu janin yang belum berbentuk manusia melainkan segumpal daging saja yang tidak memiliki bentuk atau hanya segumpal darah saja, maka pada saat itu wanita tersebut dikenakan hukum mustahadhah, yaitu hukum wanita yang mengeluarkan darah istihadhah, bukan hukum wanita yang sedang nifas dan juga bukan hukum wanita haidh. Untuk itu wajib baginya melaksanakan shalat serta berpuasa di bulan Ramadhan dan dibolehkan bagi suaminya untuk menyetubuhinya, dan hendaknya ia berwudhu setiap akan melaksanakan shalat serta mewaspadainya keluarnya darah dengan menggunakan kapas atau sejenisnya sebagaimana layaknya yang dilakukan wanita yang msutahadhah, dan dibolehkan baginya untuk menjama dua shalat, yaitu Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya. Dan disyariatkan pula baginya mandi untuk kedua gabungan shalat dan shalat Shubuh berdasarkan hadits Hammah bintu Zahsy yang menetapkan hal itu, karena wanita yang seperti ini dikenakan hukum mustahadhah menurut para ulama.

Kitab Fatawa Ad-Dawah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/75]

almanhaj.or.id

lihat artikel selengkapnya - Permasalahan Seputar Nifas

Senin, 06 Desember 2010

Abses Payudara

Abses payudara berbeda dengan mastitis. Abses payudara terjadi apabila mastitis tidak tertangani dengan baik, sehingga memperberat infeksi.

Gejala



  1. Sakit pada payudara ibu tampak lebih parah.

  2. Payudara lebih mengkilap dan berwarna merah.

  3. Benjolan terasa lunak karena berisi nanah.


Penanganan



  1. Teknik menyusui yang benar.

  2. Kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara bergantian.

  3. Meskipun dalam keadaan mastitis, harus sering menyusui bayinya.

  4. Mulailah menyusui pada payudara yang sehat.

  5. Hentikan menyusui pada payudara yang mengalami abses, tetapi ASI harus tetap dikeluarkan.

  6. Apabila abses bertambah parah dan mengeluarkan nanah, berikan antibiotik.

  7. Rujuk apabila keadaan tidak membaik.


Abses PayudaraGambar. Abses payudara


Referensi

library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-daulat.pdf Sibuea, D. 2003. Problema Ibu Menyusui Bayi. Diunduh 17 November 2009 – 08: 13 PM.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 109-110)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 56-57).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Abses Payudara

Mastitis

Mastitis adalah peradangan pada payudara.


Mastitis ini dapat terjadi kapan saja sepanjang periode menyusui, tapi paling sering terjadi antara hari ke-10 dan hari ke-28 setelah kelahiran.


mastitisGambar. Mastitis


Penyebab



  1. Payudara bengkak yang tidak disusukan secara adekuat.

  2. Bra yang terlalu ketat.

  3. Puting susu lecet yang menyebabkan infeksi.

  4. Asupan gizi kurang, istirahat tidak cukup dan terjadi anemia.


Gejala



  1. Bengkak dan nyeri.

  2. Payudara tampak merah pada keseluruhan atau di tempat tertentu.

  3. Payudara terasa keras dan berbenjol-benjol.

  4. Ada demam dan rasa sakit umum.


Penanganan



  1. Payudara dikompres dengan air hangat.

  2. Untuk mengurangi rasa sakit dapat diberikan pengobatan analgetika.

  3. Untuk mengatasi infeksi diberikan antibiotika.

  4. Bayi mulai menyusu dari payudara yang mengalami peradangan.

  5. Anjurkan ibu selalu menyusui bayinya.

  6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan istirahat cukup.


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 49-50).

bayisehat.com/breastfeeding-mainmenu-33/430-mastitis-laktasi.html 2009. Mastitis Laktasi. Diunduh 18 November 2009 – 09:22 PM.

library.usu.ac.id/download/fk/obstetri-daulat.pdf Sibuea, D. 2003. Problema Ibu Menyusui Bayi. Diunduh 17 November 2009 – 08: 13 PM.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 5, hlm : 3-4)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 109)

Suherni, 2007. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya. (hlm: 55-56).

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Mastitis

Alasan Wanita Enggan Menyusui

Alasan Wanita Enggan Menyusui
American Academy of Pediatrics merekomendasikan wanita menyusui secara eksklusif selama enam bulan pertama. Air susu ibu (ASI) memang merupakan gizi terbaik untuk bayi. Terutama untuk kekebalan tubuh bayi, sehingga terhindar dari berbagai penyakit.

Sayangnya, tak semua ibu bisa atau mau menyusui bayinya. Alasan utama para wanita memilih berhenti memberikan ASI berkaitan dengan banyak hal. Seperti, rasa sakit saat menyusui, volume susu rendah, kembali bekerja, khawatir bentuk payudara rusak, atau kurangnya dukungan dari lingkungan. Akhirnya, banyak bayi yang mengonsumsi susu formula ketimbang ASI.

Negara-negara maju bahkan menyarankan wanita untuk tetap menyusui setelah keluar dari rumah sakit bersalin. Tapi, begitu mereka sampai di rumah, tidak begitu banyak yang memberikan ASI eksklusif minimal enam bulan.

Menurut Centers for Disease Control, hampir 74% wanita mulai menyusui. Namun, hanya 43% yang melakukannya hingga enam bulan, dan sebanyak 33% menyusui eksklusif hanya selama tiga bulan.

Di beberapa negara, para wanita pasca-melahirkan diharapkan tetap menyusui bayi secara eksklusif meski telah kembali bekerja. Mereka diberikan beberapa pengetahuan tambahan agar tetap bisa menyimpan ASI secara tepat.

Maka itu, para ibu disaranka agar tidak mudah menyerah memberikan ASI untuk buah hati. Memberikan susu formula bukanlah solusi terbaik. Melalui kesabaran, komitmen dan kondisi tubuh dan sehat, bisa membantu Anda memberikan ASI terbaik buat anak. Dukungan dari pasangan, atasan, teman, rekan kerja, dan anggota keluarga penting agar si kecil tetap bisa mendapatkan ASI eksklusif
lihat artikel selengkapnya - Alasan Wanita Enggan Menyusui

Minggu, 05 Desember 2010

Cara Menyusui yang Benar

Cara Menyendawakan Bayi
1. Bayi digendong, menghadap ke belakang dengan dada bayi diletakkan pada bahu Ibu.
2. Kepala bayi disangga/ditopang dengan tangan Ibu.
3. Usap punggung bayi perlahan-lahan sampai bayi sendawa.



Cara Menetekkan Bayi dengan Benar

  1. Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah janin setelah bayi lahir. Mintalah kepada bidan untuk membantu melakukan hal ini.
  2. Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum menetekkan.
  3. Perah sedikit kolostrum atau ASI dan oleskan pada daerah putting dan sekitarnya.
  4. Ibu duduk atau tiduran / berbaring dengan santai.
  5. 5. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi:
  • Perut bayi menempel keperut ibu.
  • Dagu bayi menempel ke payudara.
  • Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus.
  • Mulut bayi terbuka lebar menutupi daerah gelap sekitar putting susu.
6. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
7. Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera masukkan puting dan sebagian besar lingkaran/daerah
gelap sekitar puting susu ke dalam mulut bayi.
8. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.

Pemberian ASI berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong tadi.

Cara Melepaskan Puting Susu dari Mulut Bayi
Dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.

Cara Memeras ASI dengan Tangan

Bidan menganjurkan pada Ibu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu :
  1. Duduklah Ibu seenak/senyaman mungkin.
  2. Pegang/letakkan cangkir dekat dengan payudara Ibu.
  3. Letakkan ibu jari pada payudara diatas puting susu dan areola (bagian lingkaran hitam berwarna gelap pada payudara) dan jari telunjuk dibawah payudara, juga dibawah puting susu dan areola.
  4. Tekan ibu jari dan telunjuk kedalam, kearah dada. Ibu tidak perlu menekan terlalu keras, karena dapat menghambat aliran air susu.
  5. Kemudian tekanlah payudara Ibu kebelakang puting dan areola antara jari telunjuk dan ibu jari.
  6. Selanjutnya tekan dan lepaskan, tekan dan lepaskan.
  • Kegiatan ini tidak boleh menyakiti atau Ibu sampai merasa nyeri.
  • Pada awalnya, mungkin tidak ada susu yang keluar, tetapi setelah dilakukan penekanan beberapa kali, ASI akan &nbspmulai menetes keluar.
7. Tekan areola dengan cara yang sama dari arah samping, untuk meyakinkan bahwa ASI di tekan dari seluruh bagian payudara.
8. Hindari menggosok-gosok payudara atau memelintir puting susu.
9. Peras satu payudara sekurang-kurangnya 3-5 menit hingga aliran menjadi pelan; kemudian
lakukan pada payudara yang satu lagi dengan cara yang sama. Kemudian ulangi keduanya. Ibu dapat
menggunakan satu tangan untuk satu payudara dan gantilah bila merasa lelah. Memeras ASI
membutuhkan waktu 20-30 menit. Terutama pada hari-hari pertama, ketika masih sedikit ASI
yang diproduksi.
10. Simpan.
lihat artikel selengkapnya - Cara Menyusui yang Benar

Jumat, 19 November 2010

Kunjungan Ulang Antenatal

Kunjungan ulang yaitu setiap kali kunjungan antenatal yang dilakukan setelah kunjungan antenatal pertama.

Kunjungan ulang dilakukan/ dijadwalkan setiap 4 minggu sekali sampai umur 28 minggu. Selanjutnya tiap 2 minggu sekali sampai umur kehamilan 36 minggu dan setiap minggu sampai bersalin.


INGAT : Wanita hamil seyogyanya melakukan kunjungan antenatal sebanyak 4 kali selama kehamilan.


Kunjungan antenatal pertama : riwayat ibu dan pemeriksaan fisik.


Kunjungan antenatal ulang : pendektesian komplikasi-komplikasi ibu dan janin, mempersiapkan kelahiran dan kegawatan, pemeriksaan fisik yang terfokus dan pengajaran.


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan kunjungan ulang:



  1. Pihak Ibu

  2. Pihak Bayi

  3. Pemeriksaan Laboratorium/ Penunjang


Pihak Ibu


Riwayat kehamilan sekarang



  • Setiap masalah atau tanda-tanda bahaya : perdarahan vagina, sakit kepala yang hebat, perubahan visual secara tiba-tiba, nyeri abdomen yang hebat, bengkak pada muka/ tangan, gerak janin berkurang.

  • Keluhan-keluhan lazim kehamilan : pegel-pegel, kram pada kaki, sering kencing, pigmentasi kulit, sembelit.

  • Kekhawatiran-kekhawatiran lain : apakah bayi yang dikandungnya sehat, melahirkan itu sakit.

  • Perasaan ibu pada kunjungan sekarang.
http://askep-askeb.cz.cc/

Pemeriksaan fisik


Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan tekanan darah; berat badan; tinggi fundus uteri (tafsiran berat janin); auskultasi (mengetahui denyut jantung janin); palpasi abdominal untuk mendeteksi kehamilan ganda (setelah UK 28 minggu); manuver Leopold untuk mendeteksi kedudukan abnormal (setelah 36 minggu).


Pemeriksaan keadaan umum


Pemeriksaan keadaan umum meliputi penampilan; sikap tubuh dan emosi ibu.


Pihak Bayi


Pada bayi yang perlu dikaji adalah gerakan janin; denyut jantung janin (DJJ), dilakukan setelah UK 12 minggu; tafsiran berat janin (TBJ); letak dan presentasi, engagement (masuknya kepala ke panggul); kehamilan kembar/ tunggal.


Laboratorium


Pemeriksaan penunjang laboratorium yang dapat dilakukan pada kunjungan ulang antenatal adalah : Hemoglobin (Hb), hematokrit (Hmt); STS (Serologic test for syphilis) pada trimester III diulang; Kultur untuk gonokokus; Protein urin; Gula dalam darah; VDRL


Pendidikan Kesehatan dan Persiapan Kelahiran serta Kegawatdaruratan



  1. Memberitahu ibu mengenai ketidaknyamanan normal yang dialami.

  2. Menanyakan pada ibu mengenai kondisi nutrisi, tambahan zat besi dan anti tetanus.

  3. Ajarkan ibu mengenai (sesuai umur kehamilan), yaitu pemberian ASI, KB, latihan/ olahraga ringan, istirahat, nutrisi.

  4. Diskusikan mengenai rencana persalinan kelahiran/ kegawatdaruratan.

  5. Ajari ibu tanda bahaya, pastikan ibu memahami apa yang akan dilaksanakan jika menemukan tanda bahaya.

  6. Jadwalkan kunjungan berikutnya.

  7. Mencatat kunjungan dengan SOAP.


Referensi

Pusdiknakes, 2001. Buku 2 Asuhan Antenatal.

Sarwono, 2000. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Kunjungan Ulang Antenatal

Kamis, 04 November 2010

Menyusui pasca Persalinan Cesarea

Persalinan secara operasi (cesar) menjadi salah satu pilihan baik secara terpaksa dilakukan maupun atas permintaan ibu. Seorang ibu yang menjalani persalinan caesar tapi mempunyai keinginan kuat untuk dapat memberikan ASI pada bayinya kadang kala mengalami hambatan pada produksi ASI nya.

Beberapa keadaan yang dapat menyertai pasca persalinan cesar yang dapat mempengaruhi ASI baik secara langsung maupun tidak langsung antara lain:

1. Pengaruh obat -obatan yang diterima ibu baik untuk prosedur operasi maupun pasca operasi.

Beberapa obat dikhawatirkan akan berpengaruh pada ASI.

2. Perlunya waktu yang lebih untuk pemulihan kondisi ibu pasca operasi (misalnya rasa sakit pasca operasi). Hal ini tentu saja diikuti dengan persiapan jasmani untuk menyusui dan merawat bayi karena biasanya ibu akan menemui ksulitan untuk memperoleh posisi yang baik dan kenyamanan saat menyusui.

3. Psikologi /emosi ibu yang seringkali merasa “gagal” (terutama pada persalinan karena kondisi “terpaksa” dilakukan) .

Sebagian Ibu merasa tidak mempunyai kemampuan untuk melahirkan secara normal sehingga kecewa, malu untuk bertemu bahkan takut.

4. Lain-lain

Bayi yang lahir dengan persalinan operasi, kadang tampak lemah dan mengantuk.

5. ASI pasca persalianan caesar kadang diprokduksi lebih lambat (tidak segera keluar). Tetapi tidak perlu khawatir , ASI akan segera keluar setelah beberapa hari pasca persalinan.

Dapatkah ibu dapat memberikan ASI pasca persaliann caesar?

Meskipun beberapa kondisi yang sulit akan dirasakan oleh ibu pasca operasi, namun tak ada alasan untuk tidak dapat memberikan ASI pada bayinya, disamping tentu saja tipe anestesi dan kesuksesan operasi.

Persalinan caesar dengan anestesi epidural atau spinal block biasanya ibu akan lebih cepat tersadar dibandingkan dengan anestesi umum .

Adapun obat-obatan yang harus dikonsumsi ibu, hendaknya tak perlu dikhawatirkan. Sebaiknya sampaikan terlebih dahulu keinganan ibu untuk dapat memberikan ASI tersebut kepada dokter yang menangani agar ibu dapat segera melakukannya segera setelah kondisi memungkinkan. Selain itu dokter juga akan mempertimbangkan obat yang akan diberikan pada ibu.

Dalam hal ini sebenarnya obat yang dikonsumsi ibu tidak akan banyak mempengaruhi ASI. Meskipun ada obat dapat mempengaruhi ASI, namun itu dalam jumlah yang sangat kecil sekali. Apalagi pada awal permulaannya, ASI yang dikeluarkan adalah colostrum yang volumenya masih dalam batas kecil.

Tips untuk dapat menyusui pasca persalinan caesar:

1. Diskusikan segala sesuatu tentang prosedur operasi/hal yang akan dijalani ibu dengan dokter yang betanggungjwab menangani ( terutama tipe/jenis serta obat pasca persalinan.)

2, Carilah klinik/rumah sakit yang pro ASI.

3. Mintalah sesegara mungkin (as soon as possible) untuk memberikan ASI.

4. Meminta agar bisa rooming-in

5. Menyusui sesering mungkin

6. Carilah posisi yang benar dan kenyamanan saat menyusui.

Beberapa posisi yang tampak mudah dilakukan : Lying flat on your back,Clutch (football) hold, Side lying, Cross cradle (transition) hold

7. Mintalah dukungan dari orang lain (suami, keluarga dll)

8. Berdoa dan Yakinlah bahwa Anda dapat memebrikan ASI pada buah hati Anda.


sumber

obsgyn.net

breastfeeding.asn.au

family.go.com

rumahkusorgaku.wordpress.com

lihat artikel selengkapnya - Menyusui pasca Persalinan Cesarea

Sabtu, 30 Oktober 2010

Fisiologi Laktasi

Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin).

Produksi ASI (Prolaktin)

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.


Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktinGambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin


Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.



  1. Refleks prolaktin

  2. Refleks aliran (let down reflek)


Refleks Prolaktin

Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.

Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu


Refleks Aliran (Let Down Reflek)

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.


Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.

Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas.


Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi



  1. Refleks menangkap (rooting refleks)

  2. Refleks menghisap

  3. Refleks menelan


Refleks Menangkap (Rooting Refleks)

Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu.


Refleks Menghisap (Sucking Refleks)

Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar.


Refleks Menelan (Swallowing Refleks)

Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.


Pengeluaran ASI (Oksitosin)

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.

http://askep-askeb.cz.cc/

Gambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosinGambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin


Referensi


Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 10-11)

Arianto, 2004. Anatomi Payudara dan Fisiologi Payudara. Diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 10:55 WIB http://sobatbaru.blogspot.com/2009/02/anatomi-payudara-dan-fisiologi-laktasi.html

http://botefilia.com/index.php/archives/2009/01/10/asi-laktasi/ diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 10:50 WIB.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (hlm:3-5)

Roesli, U., 2005. Panduan Praktis Menyusui. Jakarta: Puspaswara. (hlm: 10-17)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 11-18)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Fisiologi Laktasi

Manfaat ASI Untuk Negara

Manfaat ASI Untuk Negara: "

ASI memberikan manfaat untuk negara, yaitu:



  1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

  2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

  3. Mengurangi devisa dalam pembelian susu formula.

  4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.


Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

Kandungan ASI yang berupa zat protektif dan nutrien di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan bayi, menjamin status gizi bayi menjadi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun.



Gambar 1. ASI mengurangi kesakitan dan kematian bayiGambar 1. ASI mengurangi kesakitan dan kematian bayi

http://askep-askeb.cz.cc/

Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

Rawat gabung akan memperpendek lama perawatan ibu dan bayi di rumah sakit, sehingga mengurangi subsidi/ biaya rumah sakit. Selain itu, mengurangi infeksi nosokomial, mengurangi komplikasi persalinan dan mengurangi biaya perawatan anak sakit di rumah sakit.


Mengurangi devisa dalam pembelian susu formula.

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Dengan memberikan ASI maka dapat menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar/ tahun yang seharusnya dipakai membeli susu formula.


Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Anak yang mendapatkan ASI, tumbuh kembang secara optimal sehingga akan menjamin kualitas generasi penerus bangsa.


Gambar 2. ASI meningkatkan kualitas generasi bangsaGambar 2. ASI meningkatkan kualitas generasi bangsa


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 17-24)

http://parekita.wordpress.com/2008/10/17/managemen-menyusui/ Ardiyanto, T. 2008. Manajemen Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:52 WIB.

http://www.geocities.com/bpniludhiana/bfeeding.htm Diunduh 23 September 2009, 08:02 WIB.

http://www.gizi.net/asi/download/KEUNGGULAN%20ASI%20DAN%20MANFAAT%20MENYUSUI.doc Diunduh 23 September 2009, 08:07 WIB.

http://www.indianwomenshealth.com/Healthy-Breast-Feeding-93.aspx Diunduh 23 September 2009, 07:58 WIB.

http://www.klikdokter.com/illness/detail/133 Masa Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:05 WIB.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 3, hlm : 3-10)

Pusdiknakes, 2003. Buku 4: Asuhan Kebidanan Post Partum. (hlm: 25)

Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta: Pustaka Bunda. (hlm: 40-49)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 31-34)

http://askep-askeb.cz.cc/

lihat artikel selengkapnya - Manfaat ASI Untuk Negara

Konsep Dasar Masa Nifas

Tujuan pembelajaran


Mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah ini dapat :



  1. Menjelaskan pengertian masa nifas

  2. Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas

  3. Menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas

  4. Menjelaskan tahapan masa nifas

  5. Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas


Pengertian Masa Nifas



  1. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).

  2. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).

  3. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).

  4. Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).


Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :



  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.

  2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

  3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.

  4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

  5. Mendapatkan kesehatan emosi.


Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :



  1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.

  2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.

  3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.

  4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.

  5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.

  6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.

  7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.

  8. Memberikan asuhan secara professional.


Tahapan Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :



  1. Puerperium dini

    Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.

  2. Puerperium intermedial

    Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.

  3. Remote puerperium

    Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.


Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :



  1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.

  2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.

  3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.

  4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.


Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:





































































KunjunganWaktuAsuhan
I6-8 jam post partumMencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II6 hari post partumMemastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III2 minggu post partumAsuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV6 minggu post partumMenanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.

Referensi

Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

http://borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.

http://masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.

http://yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.

Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta

Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.

Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Konsep Dasar Masa Nifas

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: