KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1

Sabtu, 30 Oktober 2010

Penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan di desa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pijat merupakan salah satu bentuk terapi sentuh yang berfungsi sebagai salah satu teknik pengobatan penting yang sudah dikenal sejak lama, (Roesli. U., 2001). Melalui sentuhan pemijatan terhadap jaringan otot peredaran darah dapat meningkat lancar ataupun posisi otot dapat dipulihkan dan diperbaiki sehingga dapat meningkatkan fungsi-fungsi organ tubuh dengan sebaik-baiknya. Sentuhan atau pijatan pada bayi dapat merangsang produksi ASI, meningkatkan nafsu makan atau meningkatkan berat badannya (Luize., 1999).
Pijatan bayi merupakan salah satu cara yang menyenangkan untuk menghilangkan ketegangan dan kerewelannya. Karena pijatan lembut akan membantu mengendurkan otot-ototnya sehingga ia menjadi tenang dan tertidur. Pemijatan terhadap bayi oleh ibunya sendiri juga mempunyai makna sendiri, karena sangat berpengaruh terhadap hubungan batin atau hubungan kejiwaan antara ibu dan anak. Bagi sang bayi, pijatan ibu dapat dirasakan sebagai sentuhan kasih sayang yang sangat berarti bagi pembentukan kepribadiannya kelak dikemudian hari (Nestle., 2005).
Namun sayangnya masih banyak mitos-mitos dimasyarakat khususnya pada perawatan bayi yang tetap dipercaya, contohnya : masih banyak ibu-ibu yang enggan untuk melakukan pemijatan secara rutin kepada bayinya apalagi diawal-awal kelahirannya karena mereka beranggapan bahwa bayi tidak boleh sering dipijat, badannya masih lemah atau alasan lain yang tidak pernah dibuktikan kebenarannya. Padahal sentuhan pada bayi pada awal-awal kelahirannya bisa memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan bayi (Nestle.,2005).
Sebuah penelitian tentang pijat bayi prematur dilakukan oleh psikologi Tiffany Field, direktur Touch Research Institute di University of Miami School Of Medicine tahun 1986 di Florida, menunjukkan bahwa pemijatan sehari-hari memberikan manfaat yang berlimpah. Berat bayi prematur yang dipijat selama 10 hari, terbukti dapat bertambah 47% lebih banyak dibandingkan dengan bayi yang tidak dipijat. Penelitian ini juga menemukan bahwa bayi yang mendapatkan pijatan lebih aktif dan waspada dan masa tinggal mereka di rumah sakit pun 6 hari lebih singkat dibandingkan dengan para bayi prematur yang tidak memperoleh pijatan (Seyburn. G. J., 2006)
Pijat bayi tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisik dan emosional bayi. Jika pijat bayi dilakukan oleh ayahnya, maka bisa meningkatkan produksi ASI pada tubuh ibu. Ini dinyatakan dalam suatu penelitian di Australia yang mengatakan bahwa ketika seorang ayah berinisiatif memijat bayi, hal itu akan menimbulkan perasaan positif pada istri. Inisiatif ini akan membuat istri merasa di sayang dan nyaman sehingga akan merangsang produksi oksitosin, dimana hormon ini berguna untuk memperlancar ASI. Penelitian menunjukkan 80% produksi hormon oksitosin dipengaruhi oleh kondisi psikis ibu. Selain itu, pijat akan membuat bayi cepat lapar sehingga makin banyak ASI yang disedot oleh bayi, maka produksi ASI makin meningkat (Waspada online.,2005).
Disamping itu data klinis terbaru hasil riset menunjukan bukti-bukti mengenai manfaat dari stimulasi sentuhan bayi dan ibu. Studi ini menunjukkan bahwa pijat bayi 47% mengurangi masalah tidur bayi dan 100% pria orang tua setuju bahwa pijatan tersebut memberikan pengalaman positif yang luar biasa antara bayi dan orang tuanya. Pijat juga meningkatkan fungsi motorik dan memperkuat jalinan otot yang mengalami down syndrome, termasuk 44% mempengaruhi perbaikan fungsi motorik bayi dan 82% perbaikan pada otot lengan dan kaki (Waspada online.,2005).
Meskipun pijat bayi mempunyai manfaat yang besar bagi bayi, namun kenyataannya banyak ibu yang tidak melakukan pemijatan pada bayinya. Mereka akan memijatkan bayinya pada dukun pijat bayi ketika bayi mereka rewel saja. Ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan ibu tentang manfaat pijat bayi. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada bulan Maret 2007 terhadap para dukun bayi yang melakukan pijat bayi, ternyata mereka melakukan pijat bayi berdasarkan pengalaman saja tanpa dibekali pengetahuan tentang cara pijat bayi yang benar. Karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada usia 3-7 bulan di Desa Taman Fajar Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang ada maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimanakah penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan di Desa Taman Fajar Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :
1. Jenis penelitian : Deskriptif
2. Objek penelitian : Penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan
3. Subjek penelitian : Dukun pijat bayi.
4. Tempat penelitian : Desa Taman Fajar Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur.
5. Waktu penelitian : 5–10 Juni 2007

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan di Desa Taman Fajar Kecamatan Purbolinggo Lampung Timur.
2. Tujuan Khusus
a. Diperoleh gambaran tentang persiapan alat-alat yang digunakan untuk pelaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi.
b. Diperoleh gambaran tentang cara kerja dalam melakukan penatalaksanaan pijat bayi :

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Dukun Pijat Bayi
Untuk dapat menambah wawasan sehingga dapat menerapkan pijat bayi yang benar dalam praktek memijat bayi sehari-hari.
2. Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan masyarakat tentang manfaat pijat bayi pada bayi usia 3 – 7 bulan.
3. Bagi Prodi Kebidanan Metro
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kepustakaan dan bahan acuan dan perbandingan dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pijat bayi.

lihat artikel selengkapnya - Penatalaksanaan pijat bayi oleh dukun pijat bayi pada bayi usia 3-7 bulan di desa

Penatalaksanaan pencegahan infeksi nifas di ruang kebidanan RSU

BAB I PENDAHULUAN





A. Latar Belakang Masalah


Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan barometer pelayanan kesehatan ibu di suatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti pelayanan kesehatan ibu belum baik. Sebaliknya bila AKI rendah berarti pelayanan kesehatan ibu sudah baik. Dengan besar kematian sekitar 585.000 setiap tahunnya maka berarti kematian ibu terjadi hampir setiap menit di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 99% kematian maternal dan perinatal terjadi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia (Manuaba, 2002: 18).


Saat ini angka kematian maternal dan neonatal di Indonesia adalah 334/100.000 kelahiran hidup dan 21,8/1000 kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, maka AKI di Indonesia adalah 15 kali AKI di Malaysia, 10 kali lebih tinggi daripada Thailand, atau 5 kali lebih tinggi daripada Filipina. Salah satu faktor penting dalam upaya penurunan angka kematian tersebut yaitu penyediaan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang berkualitas dekat dengan masyarakat (Saifuddin, 2002 : 4).


Asuhan masa nifas diperlukan karena periode ini merupakan masa kritis baik bagi ibu maupun bayi. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Pelayanan kesehatan primer diperkirakan dapat menurunkan AKI sampai 20%, namun dengan sistem rujukan yang efektif AKI dapat ditekan sampai 80%. Menurut United Nations Children Emergency Fund (UNICEF), 80% kematian ibu dan perinatal terjadi di rumah sakit rujukan (Saifuddin, 2001 : 3).


Suatu tindakan obstetrik seperti seksio sesarea atau pengeluaran plasenta secara manual, dapat meningkatkan resiko seorang ibu terkena infeksi. Resiko tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :





Tabel 1. Distribusi Infeksi Bakterial Pada Pasien Obstetrik.





No. JENIS INFEKSI INSIDENS


1. Chorioamnionitis 0,5 – 1%


2. Postpartum Endometritis :


- Seksio Sesarea


- Persalinan Pervaginam 0,5 – 85%


<>
lihat artikel selengkapnya - Penatalaksanaan pencegahan infeksi nifas di ruang kebidanan RSU

Penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh bidan di puskesmas

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu tolak ukur penting dalam menciptakan Indonesia sehat adalah menekan Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Ibu (AKI). AKI di Indonesia masih relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65, dibandingkan dengan 1: 1100 di Thailand. Hasil survey menunjukkan bahwa AKI di Indonesia telah turun menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup pada SDKI 1998-2002 (www.AKI.com, 2006).
Penyebab kematian ibu adalah perdarahan, eklamsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 % kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam persalinan terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu (www.AKI.com, 2006).
Perdarahan pasca persalinan sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan dengan perdarahan antepartum. Sebagian besar kematian ibu yang terjadi saat pertolongan pertama, sehingga masih mempunyai peluang yang besar untuk dapat melakukan pertolongan yang adekuat untuk menurunkannya, waktu yang paling kritis untuk terjadinya perdarahan adalah ketika pelepasan plasenta dan segera setelah itu. Hal ini disebabkan karena terputusnya pembuluh darah ditempat berimplantasinya plasenta (Saifuddin, 2002).
Seorang ibu dapat meninggal karena perdarahan pasca persalinan dalam waktu kurang dari 1 jam, lebih dari 90 % dari seluruh kasus perdarahan pasca persalinan yang terjadi dalam 24 jam setelah kelahiran bayi disebabkan oleh atonia uteri. Sebagian besar kematian akibat perdarahan pasca persalinan terjadi beberapa jam pertama setelah kelahiran bayi (APN IBI, 2004). Salah satu cara mempercepat kelahiran plasenta dan dapat mencegah atau mengurangi perdarahan pasca persalinan adalah dengan penatalaksanaan manajemen aktif kala III persalinan (Saifuddin, 2002).
Manajemen aktif kala III (MAKT) dapat mempercepat pelepasan plasenta. Dengan melaksanakan langkah-langkah manajemen aktif kala III sesuai dengan prosedur, dapat mengurangi banyaknya darah yang hilang dan dapat mengurangi angka kematian dan angka kesakitan yang berhubungan dengan perdarahan. Manajemen aktif kala III meliputi pemberian 10 unit oksitoksin segera setelah kelahiran bayi, sebelum kelahiran plasenta, dan diikuti oleh penegangan tali pusat terkendali (PTT) untuk membantu plasenta lahir lebih cepat dan terakhir memberi pijatan pada uterus (masase) untuk menjaganya tetap berkontraksi setelah kelahiran plasenta. Oksitoksin hanya dapat diberikan melalui injeksi sehingga memerlukan pertolongan bidan atau dokter. Karena tidak mungkin untuk meramalkan secara akurat, maka semua ibu yang melahirkan harus ditolong oleh tenaga kesehatan ahli yang dapat melaksanakan manajemen aktif kala III (Bidan Media Komunikasi Keluarga Indonesia, Edisi No 56/2003).
Di Kabupaten Lampung Selatan pada tahun 2002 angka kematian ibu (AKI) sejumlah 13 orang dari 20.162 kelahiran hidup (64,47/100.000 kh) dan pada tahun 2003 sebanyak 16 orang dari 25.140 kelahiran hidup (63,64/100.000 kh) dan pada tahun 2004 sebanyak 19 orang dari 30.118 kelahiran hidup (62,81/100.000 kh), hal ini menunjukkan adanya penurunan yang sangat signifikan. Dengan penyebab klinis kematian terbesar adalah karena perdarahan yaitu sebesar 39 %. (Dinkes Kabupaten Lampung Selatan, 2004).
Pie Diagram I : Penyebab Kematian Ibu Di Kabupaten Lampung Selatan
Tahun 2004
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti di Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan pada bulan Januari – Desember 2005 jumlah persalinan 936 ditemukan sebanyak 22 orang yang mengalami perdarahan, dan 6 orang diantara meninggal akibat perdarahan tersebut, sehingga Angka Kematian Ibu di Puskesmas Way Urang periode Januari - Desember sejumlah 641 per 100.000 kh. Jika dibandingkan dengan Angka Kematian Ibu di Indonesia sekalipun Angka Nasional, maka Angka Kematian Ibu (AKI) di Puskesmas Way Urang jauh lebih tinggi (Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Lampung Selatan, 2005). Berdasarkan pra survey dari tanggal 6 - 11 April 2006 di wilayah Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda, ternyata ditemukan 10 bidan. Setelah peneliti melakukan observasi terhadap 4 bidan dalam hal penatalaksanaan manajemen aktif kala III, hanya 1 bidan (25%) yang melaksanakan penatalaksanaan manajemen aktif kala III secara sistematis dan lengkap, sedangkan 3 bidan (75%) belum melaksanakan penatalaksaan manajemen aktif kala III yaitu pada saat pemberian suntikan oksitoksin dan pemijatan fundus uteri (masase) dilakukan secara tidak sistematis dan lengkap/dilakukan secara lengkap tetapi tidak sistematis.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti sejauhmana penatalaksanaan manajemen aktif kala III yang dilaksanakan oleh tenaga kesehatan khususnya bidan di Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, penulis dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut : “Bagaimanakah Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III oleh Bidan di Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Mengetahui penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh Bidan di Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.
2. Tujuan Khusus
a. Diperolehnya gambaran tentang penatalaksanaan manajemen aktif kala III pada
Pemberian Suntikan Oksitoksin Oleh bidan.
b. Diperolehnya gambaran tentang penatalaksanaan manajemen aktif kala III pada Penegangan Tali Pusat Terkendali Oleh bidan.
b. Diperolehnya gambaran tentang penatalaksanaan manajemen aktif kala III pada Pemijatan Fundus Uteri Oleh bidan.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian : Deskriptif
2. Subjek Penelitian : Bidan
3. Objek Penelitian : Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III
4. Lokasi Penelitian : Puskesmas Way Urang Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan
5. Waktu Penelitian : Tanggal 08-13 Mei 2006

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Bidan Puskesmas
Sebagai masukkan untuk menambah wawasan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga bidan di Puskesmas tentang penatalaksanaan manajemen aktif kala III.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai bahan kajian teori yang telah diperoleh Mahasiswi selama mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di Politeknik Kesehatan Tanjung Karang Program Studi Kebidanan Metro dan sekaligus sebagai bahan atau sumber bacaan diperpustakaan Institusi Pendidikan.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Sebagai perbandingan bagi penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian-penelitian atau yang serupa dan dapat lebih disempurnakan lagi.

lihat artikel selengkapnya - Penatalaksanaan manajemen aktif kala III oleh bidan di puskesmas

Pemantauan perkembangan balita di posyandu …..wilayah kerja puskesmas

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin sejak dalam kandungan. Upaya kesehatan yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih didalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus meningkatkan kualitas hidup agar anak mencapai tumbuh kembang optimal (Kaptiningsih,dkk,2005)
Perkembangan yang dialami anak merupakan rangkaian perubahan yang teratur dari satu tahap perkembangan ke tahap berikutnya dan berlaku secara umum (Ramba, dkk, 2001). Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan, pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung (Kaptiningsih,dkk,2005). Masa 3 tahun ini menetapkan landasan untuk kesehatan, perkembangan emosional, kemampuan sosial kemandirian dan hubungan antar manusia yang positif dimasa mendatang (Einsenberg, dkk 1998). Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dengan bahasa kreatifitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia berjalan sangat cepat. Perkembangan moral serta dasar- dasar kepribadian anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap kelainan atau penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi dan ditangani dengan baik akan mengurangi sumber daya manusia dikemudian hari (Kaptiningsih,dkk,2005).
Upaya pembinaan tumbuh kembang anak diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan psikososial anak. Upaya tersebut dilakukan sedini mungkin dengan perhatian khusus pada bayi dan anak balita yang menerapkan “masa kritis” dan “masa emas” bagi kelangsungan tumbuh kembang anak. Pembinaan perkembangan anak merupakan salah satu upaya prioritas dalam mempersiapkan anak Indonesia menjadi calon generasi penerus bangsa yang sehat cerdas, ceria, tangguh dan berbudi luhur (Kaptiningsih,dkk,2005)
Mengingat jumlah balita di Indonesia sangat besar yaitu 22.911.712 balita dari 203.456.005 jiwa jumlah penduduk Indonesia (www.google.co.id, 2000), maka sebagai calon generasi penerus bangsa, kualitas tumbuh kembang balita di Indonesia perlu mendapat perhatian serius yaitu mendapat gizi yang baik, stimulasi yang memadai serta terjangkau oleh pelayanan kesehatan berkualitas termasuk deteksi dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang (Kaptiningsih,dkk,2005)
Pembinaan perkembangan anak secara komperhensif dan berkualitas diselenggarakan melalui kegiatan stimulasi, deteksi dini dan intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang balita. Melakukan deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang artinya melakukan skrining atau mendeteksi secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang balita termasuk menindak lanjuti setiap keluhan orang tua terhadap masalah tumbuh kembang anaknya (Kaptiningsih,dkk,2005). Kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini penyimpangan perkembangan balita diselenggarakan dalam bentuk kemitraan antara keluarga (orang tua, pengasuh anak dan anggota keluarga lainnya), masyarakat (kader, tokoh masyarakat, organisasi profesi, dan sebagainya) dengan tenaga profesional (kesehatan, pendidikan dan sosial) (Kaptiningsih,dkk,2005)
Indikator dari kegiatan stimulasi, deteksi dan intervensi dini perkembangan balita pada tahun 2010, adalah diharapkan 90% balita dan anak pra sekolah terjangkau oleh kegiatan stimulasi. Sedangkan indikator kegiatan deteksi dini tumbuh kembang dan stimulasi balita di Kota Metro untuk tahun 2006 adalah 80%.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada bulan April 2006 di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro timur dari 9 ibu yang mempunyai balita, mereka tidak pernah melakukan pemantauan atau penilaian perkembangan pada balitanya. Sehingga mereka tidak tahu perkembangan balitanya sesuai dengan tahap perkembangan menurut usia anak atau terdapat penyimpangan. Berdasarkan studi pendahuluan tersebut maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang gambaran perkembangan balita di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang terdapat pada latar belakang maka diperoleh rumusan masalah dalam penelitian yaitu “Bagaimanakah gambaran perkembangan balita di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur Mei 2006”?.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran perkembangan balita di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.
Tujuan Khusus
Penelitian ini secara khusus bertujuan untuk memperoleh gambaran :
a. Perkembangan balita usia 1-3 tahun di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.
b. Perkembangan balita usia 4-5 tahun di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.

D. Ruang Lingkup Penelitian
Dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup yang di teliti adalah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian : Penelitian Deskriptif
2. Objek Penelitian : Pemantauan perkembangan pada balita.
3. Subjek penelitian : Balita usia 1-5 tahun
4. Lokasi penelitian : Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.
5. Waktu Penelitian : 11 Mei dan 28 Mei 2006

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi pihak puskesmas sebagai bahan masukan mengenai evaluasi keluarga dalam melakukan pemantauan perkembangan balita khususnya di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Kecamatan Metro Timur.
1. Bagi kader Posyandu sebagai masukan untuk meningkatkan pemantauan perkembangan balita di BKB maupun penyuluhan terahadap keluarga yang mempunyai balita tentang pentingnya pemantauan perkembangan balita.
2. Bagi keluarga atau ibu yang mempunyai balita dapat menambah pengetahuan tentang pemantauan perkembangan terhadap anaknya dan memotivasi keluarga tentang pentingnya pemantauan dan penilaian perkembangan pada balita usia 1-5 tahun di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.
3. Bagi peneliti lain sebagai referensi atau bahan perbandingan untuk melakukan penelitian lanjutan yang berhubungan pemantauan perkembangan seperti determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi pemantauan perkembangan terhadap balita di Posyandu Sejahtera V Kelurahan Iring Mulyo Kecamatan Metro Timur.

lihat artikel selengkapnya - Pemantauan perkembangan balita di posyandu …..wilayah kerja puskesmas

Pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di rumah bersalin

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Resusitasi merupakan upaya untuk mengembalikan bayi baru lahir dengan asfiksia berat menjadi keadaan yang lebih baik dapat bernapas atau menangis spontan dan denyut jantung menjadi teratur.
Pelaksanaan resusitasi pada bayi asfiksia berat sangat penting terbukti dari kenyataan, bahwa setiap derajat asfiksia dalam menit-menit pertama kehidupan dapat membuat anak cacat seumur hidup. Sumbatan jalan napas oleh mukus darah, meconium, kerusakan otak selama trauma, obat-obatan yang diberikan pada ibu dan kehilangan darah akibat kompresi tali pusat atau perdarahan dapat mengakibatkan asfiksia dan syok pada bayi baru lahir serta kerusakan otak yang menetap (Sadir, 1988:1).
Di Indonesia penyebab utama tingginya angka mordibitas dan mortalitas neonatal adalah asfiksia neonaturum sekitar 50-60 % (Manuba, 1988 : 19). Dalam Seminar Nasional Akademi Kebidanan Aisyiyah, Solo 26 Juli 2003 dijelaskan angka kematian perinatal (AKP) pada tahun 1984 diperkirakan 45/1000 kelahiran. Penyebab utama kematian perinatal adalah asfiksia, komplikasi pada Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), tetanus neonaturum dan trauma kelahiran, kematian tersebut sebenarnya dapat dicegah apabila kesehatan ibu selama kehamilan terjaga dengan baik dan pertolongan persalinan yang diberikan bersih dan aman sehingga sumbatan jalan napas, trauma persalinan dan perdarahan tidak akan terjadi.
Di Kabupaten Tanggamus data kematian tahun 2003, jumlah kematian bayi baru lahir 63 (0,37%) dari 17.185 kelahiran, yang meninggal karena asfiksia 19 (30,16%) bayi baru lahir. Sedangkan di Kecamatan Gadingrejo angka kematian bayi baru lahir 5 (0,36%) dari 1.397 kelahiran, yang meninggal karena asfiksia 3 (60%) bayi baru lahir.
Pada pra penelitian di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo bayi baru lahir pervaginan disebabkan oleh preeklamasi/eklamasi, kelainan presentasi, partus tak maju menderita asfiksia 28 (16,18%) dari 173 kelahiran, yang meninggal dunia 6 (21,43%) dari 28 bayi baru lahir yang menderita asfiksia berat (data Januari–Desember 2003). Berdasarkan data yang peneliti peroleh selama pra penelitian di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo, jumlah kematian bayi baru lahir dengan asfiksia berat masih sangat tinggi.
Dari uraian pada latar belakang penulis tertarik mengadakan penelitian tentang pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia berat oleh tenaga kesehatan di RB Mutiara Hati Gadingrejo.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, penulis merumuskan masalah tentang “Bagaimanakah pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di RB Mutiara Hati Gading Rejo?”

C. Ruang Lingkup
1. Sifat penelitian : Deskriptif yaitu menggambarkan pelaksanaan resusitasi terhadap bayi baru lahir dengan asfiksia
2. Subjek penelitian : Tenaga kesehatan yang melakukan tindakan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia.
3. Objek penelitian : Bayi baru lahir yang menderita asfiksia berat.
4. Lokasi penelitian : Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo.
5. Waktu penelitian : 8 – 31 Mei 2004

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo tahun 2004.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui persiapan alat dalam pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo tahun 2004.
b. Untuk mengetahui persiapan penolong dalam pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo tahun 2004.
c. Untuk mengetahui cara kerja dalam pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di Rumah Bersalin Mutiara Hati Gadingrejo tahun 2004.

E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Instansi Rumah Bersalin Mutiara Hati
Menambah pengetahuan dalam pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia sehingga pelaksanaan resusitasi dapat dilaksanakan dengan baik.
2. Bagi peneliti
Penelitian ini sangat berguna untuk menambah pengalaman penelitian serta sebagai bahan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat selama kuliah, khususnya obstetrik ginekologi dan metode penelitian dalam rangka menganalisa kesehatan ibu dan anak khususnya masalah pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia.
3. Bagi Program Studi Kebidanan Metro
Untuk menambah wawasan khususnya para mahasisiwi dalam melaksanakan asuhan kebidanan sehingga dapat cepat mengambil keputusan jika memerlukan tindakan segera.

lihat artikel selengkapnya - Pelaksanaan resusitasi pada bayi baru lahir dengan asfiksia oleh tenaga kesehatan di rumah bersalin

Fisiologi Laktasi

Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin).

Produksi ASI (Prolaktin)

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk produksi ASI.


Gambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktinGambar 1. Proses produksi ASI/ refleks prolaktin


Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu dikarenakan isapan bayi.



  1. Refleks prolaktin

  2. Refleks aliran (let down reflek)


Refleks Prolaktin

Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi. Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung.

Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting susu


Refleks Aliran (Let Down Reflek)

Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.


Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.

Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas.


Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi



  1. Refleks menangkap (rooting refleks)

  2. Refleks menghisap

  3. Refleks menelan


Refleks Menangkap (Rooting Refleks)

Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha menangkap puting susu.


Refleks Menghisap (Sucking Refleks)

Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi. Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi, lidah dan palatum sehingga ASI keluar.


Refleks Menelan (Swallowing Refleks)

Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.


Pengeluaran ASI (Oksitosin)

Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior, sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula. Pengeluaran oksitosin selain dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh reseptor yang terletak pada duktus. Bila duktus melebar, maka secara reflektoris oksitosin dikeluarkan oleh hipofisis.

http://askep-askeb.cz.cc/

Gambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosinGambar 2. Proses pengaliran ASI/ refleks oksitosin


Referensi


Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 10-11)

Arianto, 2004. Anatomi Payudara dan Fisiologi Payudara. Diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 10:55 WIB http://sobatbaru.blogspot.com/2009/02/anatomi-payudara-dan-fisiologi-laktasi.html

http://botefilia.com/index.php/archives/2009/01/10/asi-laktasi/ diunduh Ahad, 6 September 2009; pukul 10:50 WIB.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (hlm:3-5)

Roesli, U., 2005. Panduan Praktis Menyusui. Jakarta: Puspaswara. (hlm: 10-17)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika (hlm: 11-18)

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Fisiologi Laktasi

Manfaat ASI Untuk Negara

Manfaat ASI Untuk Negara: "

ASI memberikan manfaat untuk negara, yaitu:



  1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

  2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

  3. Mengurangi devisa dalam pembelian susu formula.

  4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.


Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.

Kandungan ASI yang berupa zat protektif dan nutrien di dalam ASI yang sesuai dengan kebutuhan bayi, menjamin status gizi bayi menjadi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun.



Gambar 1. ASI mengurangi kesakitan dan kematian bayiGambar 1. ASI mengurangi kesakitan dan kematian bayi

http://askep-askeb.cz.cc/

Mengurangi subsidi untuk rumah sakit.

Rawat gabung akan memperpendek lama perawatan ibu dan bayi di rumah sakit, sehingga mengurangi subsidi/ biaya rumah sakit. Selain itu, mengurangi infeksi nosokomial, mengurangi komplikasi persalinan dan mengurangi biaya perawatan anak sakit di rumah sakit.


Mengurangi devisa dalam pembelian susu formula.

ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Dengan memberikan ASI maka dapat menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar/ tahun yang seharusnya dipakai membeli susu formula.


Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.

Anak yang mendapatkan ASI, tumbuh kembang secara optimal sehingga akan menjamin kualitas generasi penerus bangsa.


Gambar 2. ASI meningkatkan kualitas generasi bangsaGambar 2. ASI meningkatkan kualitas generasi bangsa


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 17-24)

http://parekita.wordpress.com/2008/10/17/managemen-menyusui/ Ardiyanto, T. 2008. Manajemen Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:52 WIB.

http://www.geocities.com/bpniludhiana/bfeeding.htm Diunduh 23 September 2009, 08:02 WIB.

http://www.gizi.net/asi/download/KEUNGGULAN%20ASI%20DAN%20MANFAAT%20MENYUSUI.doc Diunduh 23 September 2009, 08:07 WIB.

http://www.indianwomenshealth.com/Healthy-Breast-Feeding-93.aspx Diunduh 23 September 2009, 07:58 WIB.

http://www.klikdokter.com/illness/detail/133 Masa Menyusui. Diunduh 23 September 2009, 07:05 WIB.

Program Manajemen Laktasi, 2004. Buku Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta. (bab 3, hlm : 3-10)

Pusdiknakes, 2003. Buku 4: Asuhan Kebidanan Post Partum. (hlm: 25)

Roesli, U. 2008. Inisiasi Menyusu Dini. Jakarta: Pustaka Bunda. (hlm: 40-49)

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika. (hlm: 31-34)

http://askep-askeb.cz.cc/

lihat artikel selengkapnya - Manfaat ASI Untuk Negara

Tanda Cukup ASI

Bayi usia 0-6 bulan, dapat dinilai mendapat kecukupan ASI bila mencapai keadaan sebagai berikut:

  1. Bayi minum ASI tiap 2-3 jam atau dalam 24 jam minimal mendapatkan ASI 8 kali pada 2-3 minggu pertama.

  2. Kotoran berwarna kuning dengan frekuensi sering, dan warna menjadi lebih muda pada hari kelima setelah lahir.

  3. Bayi akan buang air kecil (BAK) paling tidak 6-8 x sehari.

  4. Ibu dapat mendengarkan pada saat bayi menelan ASI.

  5. Payudara terasa lebih lembek, yang menandakan ASI telah habis.

  6. Warna bayi merah (tidak kuning) dan kulit terasa kenyal.

  7. Pertumbuhan berat badan (BB) bayi dan tinggi badan (TB) bayi sesuai dengan grafik pertumbuhan.

  8. Perkembangan motorik baik (bayi aktif dan motoriknya sesuai dengan rentang usianya).


  9. Gambar 1. Bayi dengan motorik baik oleh karena kecukupan ASIGambar 1. Bayi dengan motorik baik oleh karena kecukupan ASI


  10. Bayi kelihatan puas, sewaktu-waktu saat lapar bangun dan tidur dengan cukup.

  11. Bayi menyusu dengan kuat (rakus), kemudian melemah dan tertidur pulas.


Gambar 2. Bayi tertidur pulas oleh karena kecukupan ASIGambar 2. Bayi tertidur pulas oleh karena kecukupan ASI


Referensi

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 29-30)

www.bkkbn.go.id/Webs/DetailProgram.php?LinkID=249 Perawatan Bayi Dengan ASI . Diunduh 11 November 2009 – 08:04 PM.

http://ruanglaktasi.blogspot.com/ Soraya, L. 2007. Cukupkah ASI Saya Untuk Bayi?. Diunduh 11 November 2009 – 08:15 PM.

http://www.scribd.com/doc/19706805/MANAJEMEN-LAKTASI. Diunduh 11 November 2009 – 10:05 PM.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Tanda Cukup ASI

Konsep Dasar Masa Nifas

Tujuan pembelajaran


Mahasiswa setelah mengikuti mata kuliah ini dapat :



  1. Menjelaskan pengertian masa nifas

  2. Menjelaskan tujuan asuhan masa nifas

  3. Menjelaskan peran dan tanggungjawab bidan dalam masa nifas

  4. Menjelaskan tahapan masa nifas

  5. Mengetahui kebijakan program nasional masa nifas


Pengertian Masa Nifas



  1. Masa nifas adalah masa dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu setelah melahirkan (Pusdiknakes, 2003:003).

  2. Masa nifas dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung kira-kira 6 minggu. (Abdul Bari,2000:122).

  3. Masa nifas merupakan masa selama persalinan dan segera setelah kelahiran yang meliputi minggu-minggu berikutnya pada waktu saluran reproduksi kembali ke keadaan tidak hamil yang normal. (F.Gary cunningham,Mac Donald,1995:281).

  4. Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang umumnya memerlukan waktu 6- 12 minggu. ( Ibrahim C, 1998).


Tujuan Asuhan Masa Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :



  1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.

  2. Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

  3. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.

  4. Memberikan pelayanan keluarga berencana.

  5. Mendapatkan kesehatan emosi.


Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Bidan memiliki peranan yang sangat penting dalam pemberian asuhan post partum. Adapun peran dan tanggung jawab dalam masa nifas antara lain :



  1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas.

  2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi serta keluarga.

  3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.

  4. Membuat kebijakan, perencana program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan administrasi.

  5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.

  6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman.

  7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosa dan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama priode nifas.

  8. Memberikan asuhan secara professional.


Tahapan Masa Nifas

Masa nifas terbagi menjadi tiga tahapan, yaitu :



  1. Puerperium dini

    Suatu masa kepulihan dimana ibu diperbolehkan untuk berdiri dan berjalan-jalan.

  2. Puerperium intermedial

    Suatu masa dimana kepulihan dari organ-organ reproduksi selama kurang lebih enam minggu.

  3. Remote puerperium

    Waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat kembali dlam keadaan sempurna terutama ibu bila ibu selama hamil atau waktu persalinan mengalami komplikasi.


Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Kebijakan program nasional pada masa nifas yaitu paling sedikit empat kali melakukan kunjungan pada masa nifas, dengan tujuan untuk :



  1. Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi.

  2. Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya.

  3. Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas.

  4. Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya.


Asuhan yang diberikan sewaktu melakukan kunjungan masa nifas:





































































KunjunganWaktuAsuhan
I6-8 jam post partumMencegah perdarahan masa nifas oleh karena atonia uteri.
Mendeteksi dan perawatan penyebab lain perdarahan serta melakukan rujukan bila perdarahan berlanjut.
Memberikan konseling pada ibu dan keluarga tentang cara mencegah perdarahan yang disebabkan atonia uteri.
Pemberian ASI awal.
Mengajarkan cara mempererat hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
Menjaga bayi tetap sehat melalui pencegahan hipotermi.
Setelah bidan melakukan pertolongan persalinan, maka bidan harus menjaga ibu dan bayi untuk 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai keadaan ibu dan bayi baru lahir dalam keadaan baik.
II6 hari post partumMemastikan involusi uterus barjalan dengan normal, uterus berkontraksi dengan baik, tinggi fundus uteri di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal.
Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan.
Memastikan ibu mendapat istirahat yang cukup.
Memastikan ibu mendapat makanan yang bergizi dan cukup cairan.
Memastikan ibu menyusui dengan baik dan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan menyusui.
Memberikan konseling tentang perawatan bayi baru lahir.
III2 minggu post partumAsuhan pada 2 minggu post partum sama dengan asuhan yang diberikan pada kunjungan 6 hari post partum.
IV6 minggu post partumMenanyakan penyulit-penyulit yang dialami ibu selama masa nifas.
Memberikan konseling KB secara dini.

Referensi

Saifudin, Abdul Bari Dkk, 2000, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Yayasan Bidan Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta

Ambarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia.

http://borneo-ufi.blog.friendster.com/2008/07/konsep-nifas-eklamsi-forceps/ diunduh 1 September 2009: 20.00 WIB.

http://masanifas.blogspot.com/ diunduh 1 September 2009: 20.10 WIB.

http://yoana-widyasari.blogspot.com/2009/04/satuan-acara-pengajaran-s.html diunduh 1 September 2009: 20.05 WIB.

Ibrahim, Christin S, 1993, Perawatan Keebidanan (Perawatan Nifas), Bharata Niaga Media Jakarta

Pusdiknakes, 2003. Asuhan Kebidanan Post Partum. Jakarta: Pusdiknakes.

Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika.

Suherni, 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - Konsep Dasar Masa Nifas

KIE dalam Pelayanan KB

Konseling dan Persetujuan Tindakan Medik


Maksud dari konseling dan persetujuan tindakan medik adalah untuk mengenali kebutuhan klien, membantu klien membuat pilihan yang sesuai dan memahami tujuan dan risiko prosedur klinik terpilih.


Konseling

Konseling adalah proses pertukaran informasi dan interaksi positif antara klien-petugas untuk membantu klien mengenali kebutuhannya, memilih solusi terbaik dan membuat keputusan yang paling sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi.


Tujuan konseling KB

Konseling KB bertujuan membantu klien dalam hal:



  • Menyampaikan informasi dari pilihan pola reproduksi.

  • Memilih metode KB yang diyakini.

  • Menggunakan metode KB yang dipilih secara aman dan efektif.

  • Memulai dan melanjutkan KB.

  • Mempelajari tujuan, ketidakjelasan informasi tentang metode KB yang tersedia.


Prinsip Konseling KB

Prinsip konseling KB meliputi: percaya diri / confidentiality; Tidak memaksa / voluntary choice; Informed consent; Hak klien / clien’t rights dan Kewenangan / empowerment.


Keuntungan Konseling KB

Konseling KB yang diberikan pada klien memberikan keuntungan kepada pelaksana kesehatan maupun penerima layanan KB. Adapun keuntungannya adalah:



  • Klien dapat memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhannya.

  • Puas terhadap pilihannya dan mengurangi keluhan atau penyesalan.

  • Cara dan lama penggunaan yang sesuai serta efektif.

  • Membangun rasa saling percaya.

  • Mengormati hak klien dan petugas.

  • Menambah dukungan terhadap pelayanan KB.

  • Menghilangkan rumor dan konsep yang salah.


Hak Pasien

Pasien sebagai calon maupun akseptor KB mempunyai hak sebagai berikut: a) Terjaga harga diri dan martabatnya. b) Dilayani secara pribadi (privasi) dan terpeliharanya kerahasiaan. c) Memperoleh informasi tentang kondisi dan tindakan yang akan dilaksanakan. d) Mendapat kenyamanan dan pelayanan terbaik. e) Menerima atau menolak pelayanan atau tindakan yang akan dilakukan. f) Kebebasan dalam memilih metode yang akan digunakan.


Konseling KB dan Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal dalam pelayanan kesehatan menggunakan :



  1. Motivasi

  2. Edukasi / pendidikan

  3. Konseling


Motivasi

Motivasi pada pasien KB meliputi: Berfokus untuk mewujudkan permintaan, bukan pada kebutuhan individu klien; Menggunakan komunikasi satu arah; Menggunakan komunikasi individu, kelompok atau massa.


Pendidikan KB

Pelayanan KB yang diberikan pada pasien mengandung unsur pendidikan sebagai berikut: Menyediakan seluruh informasi metode yang tersedia; Menyediakan informasi terkini dan isu; Menggunakan komunikasi satu arah atau dua arah; Dapat melalui komunikasi individu, kelompok atau massa; Menghilangkan rumor dan konsep yang salah.


Konseling KB

Konseling KB antara lain: Mendorong klien untuk mengajukan pertanyaan; Menjadi pendengar aktif; Menjamin klien penuh informasi; Membantu klien membuat pilihan sendiri.


Peran Konselor KB

Proses konseling dalam praktik pelayanan kebidanan terutama pada pelayanan keluarga berencana, tidak terlepas dari peran konselor. Tugas seorang konselor adalah sebagai berikut:



  • Sahabat, pembimbing dan memberdayakan klien untuk membuat pilihan yang paling sesuai dengan kebutuhannya.

  • Memberi informasi yang obyektif, lengkap, jujur dan akurat tentang berbagai metode kontrasepsi yang tersedia.

  • Membangun rasa saling percaya, termasuk dalam proses pembuatan Persetujuan Tindakan Medik.


Ciri Konselor Efektif



  • Memperlakukan klien dengan baik.

  • Berinteraksi positif dalam posisi seimbang.

  • Memberikan informasi obyektif, mudah dimengerti dan diingat serta tidak berlebihan.

  • Mampu menjelaskan berbagai mekanisme dan ketersediaan metode konstrasepsi.

  • Membantu klien mengenali kebutuhannya dan membuat pilihan yang sesuai dengan kondisinya.


Jenis Konseling

Jenis konseling terbagi menjadi tiga, yaitu:



  1. Konseling umum

  2. Konseling spesifik

  3. Konseling pra dan pasca tindakan


Konseling Umum


Konseling umum dapat dilakukan oleh petugas lapangan keluarga berencana atau PLKB. Konseling umum meliputi penjelasan umum dari berbagai metode kontrasepsi untuk mengenalkan kaitan antara kontrasepsi, tujuan dan fungsi reproduksi keluarga.


Konseling Spesifik

Konseling spesifik dapat dilakukan oleh dokter / bidan / konselor. Konseling spesifik berisi penjelasan spesifik tentang metode yang diinginkan, alternatif, keuntungan-keterbatasan, akses, dan fasilitas layanan.


Konseling Pra dan Pasca Tindakan

Konseling pra dan pasca tindakan dapat dilakukan oleh operator / konselor / dokter / bidan. Konseling ini meliputi penjelasan spesifik tentang prosedur yang akan dilaksanakan (pra, selama dan pasca) serta penjelasan lisan / instruksi tertulis asuhan mandiri.


Teknik Konseling Gallen dan Leitenmaier, 1987

Teknik konseling menurut Gallen dan Leitenmaier (1987), lebih dikenal dengan GATHER yaitu:

G : Greet respectully

A : Ask, Assess needs

T : Tell information

H : Help choose

E : Explain dan demonstrate

R : Refer or Return visit

Dalam bahasa Indonesia, juga lebih dikenal dengan SATU TUJU yang meliputi:

Sa : Salam

T : Tanya

U : Uraikan

Tu : Bantu

J : Jelaskan

U : Kunjungan ulang atau rujuk


Informed Choice

Informed choice merupakan bentuk persetujuan pilihan tentang: Metode kontrasepsi yang dipilih oleh klien setelah memahami kebutuhan reproduksi yang paling sesuai dengan dirinya / keluarganya; Pilihan tersebut merupakan hasil bimbingan dan pemberian informasi yang obyektif, akurat dan mudah dimengerti oleh klien; Pilihan yang diambil merupakan yang terbaik dari berbagai alternatif yang tersedia.

http://askep-askeb.cz.cc/

Informed Consent

Informed consent adalah :



  • Bukti tertulis tentang persetujuan terhadap prosedur klinik suatu metode kontrasepsi yang akan dilakukan pada klien.

  • Harus ditandatangani oleh klien sendiri atau walinya apabila akibat kondisi tertentu klien tidak dapat melakukan hal tersebut.

  • Persetujuan diminta apabila prosedur klinik mengandung risiko terhadap keselamatan klien (baik yang terduga atau tak terduga sebelumnya).


Persetujuan tindakan medik (Informed Consent) berisi tentang kebutuhan reproduksi klien, informed choice, dan prosedur klinik yang akan dilakukan; ada penjelasan tentang risiko dalam melakukan prosedur klinik tersebut; standar prosedur yang akan dilakukan dan upaya untuk menghindarkan risiko; klien menyatakan mengerti tentang semua informasi tersebut diatas dan secara sadar memberikan persetujuannya.


Informed consent juga dilakukan pada pasangannya dengan alasan sebagai berikut :



  • Aspek hukum, hanya saksi yang mengetahui bahwa pasangannya secara sadar telah memberikan persetujuan terhadap tindakan medik.

  • Suami tidak dapat menggantikan posisi istrinya untuk memberikan persetujuan (atau sebaliknya) kecuali pada kondisi khusus / tertentu.

  • Secara kultural (Indonesia) suami selalu menjadi penentu dalam memberikan persetujuan tetapi secara hukum, hal tersebut hanya merupakan persetujuan terhadap konsekuensi biaya dan pemahaman risiko (yang telah dijelaskan sebelumnya) yang mungkin timbul dari prosedur klinik yang akan dilakukan.


Referensi

Arjoso, S. 2005. Rencana Strategis BKKBN.

Affandi, B., 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta.

Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia.

NRC-POGI, 1996. Buku Acuan Nasional Pelayanan Keluarga Berencana.

www. bkkbn.go.id

http://askep-askeb.cz.cc/
lihat artikel selengkapnya - KIE dalam Pelayanan KB

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: