KOTAK PENCARIAN:

ANDA INGIN MENYIMPAN BLOG INI SILAHKAN KLIK +1

Jumat, 30 Juli 2010

Askeb BBLR dengan Ikterik

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PADA BAYI Ny ” D ” DENGAN IKTERIK GRADE IV

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT,berkat Rahmat dan HidayahNya penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Manajemen asuhan kebidananan pada bayi baru lahir pada bayi Ny ”D“ Irna D Anak RSUP DR M Djamil Padang Tgl 17-18 Nofember 2008.“Makalah ini penulis buat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah PKK II Kebidanan Di RSUP DR M Djamil pada Program Studi D III Kebidanan Politeknik Kesehatan Padang.
Penulis membuat makalah ini berdasarkan sumber yang relevan yang penulis peroleh dari buku-buku pustaka.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan kendala dan hambatan baik dalam memperoleh sumber yang relevan maupun dari segi penulisan.
Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rika Hardi A, Amd.Keb selaku pembimbing lapangan serta Ibu Widdefrita S.KM selaku dosen pembimbing serta teman-teman dan berbagai pihak yang ikut membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
Penulis menyadari dalam makalah ini banyak terdapat kekurangan,untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan dimasa mendatang.
Penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan dan dapat dipergunakan sebagaiman mestinya.

Padang, Oktober 2008


Penulis


BAB I
PENDAHULUAN

1) Latar Belakang

Neonatus merupakan bayi yang berumur 0-28 hari.Masa ini merupakan masa transisi dimana bayi memulai kehidupan dilur rahim ibunya.Begitu banayk perubahan ya ng dialami samapi dari organ fisik maupun fungsi tubuhnya.Hal ini terjadi karena bayi sudah hidup terpisah dari ibunya
Mengingat begitu besar perubahan ynag terjadi maka tak sdapat diingkari begitu banyak juga permasalahn ynag timbul karena hal tersebut.Diantaranya adalah perubahan patologis yang memberikan pengaruh buruk terhadap petumbuhan dan perkembangan bayi.
Salah satunya adalah terjadinya ikterus atau yang lebih dikenal dengan bayi kuning.Ikterus neonatorum merupakan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan bilirubin dalam jaringan tubuh sehingga kulit,mukosa,dan sklera berubah warna menjadi kuning.
Ikterus ini banyak terjadi pada bayi baru lahir terutama pada bayi prematur dan BBLR.Hal ini disebabkan karena organ hati yang berfungsi sebagai pemecah bilirubin belum terbentuk sempurna atau belum berfungsi sempurna layaknya bayi cukup bulan.
Mengingat begitu besar dampak dari ikterus maka perlu rasanya memberikan penyuluhan pada ibu yang bayinya menderita ikterus agar dapat memberikan perawatan yang berorientasi pada penyembuhan segera ikterus,Dan hal ini juga tak kalah penting dengan memberitahukan pada ibu yang mempunyai bayi agar terhindar dan dapat mengantisipasi agar bayinya terhindar dari tetanus neonatorum
Untuk lebih jelasnya akan penulis bahas pada BAB berikutnya

2.Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
• Menjelaskan tentang ikterus neonatororum meliputi definisi,etiologi, tanda dan gejala, klasifikasi ,manifestasi klinis,dan penanganan
• Menjelasakan tentang terapi sinar sebagai salah satu pengobatan ikterus neonatorum
• Megidentifilkasi salah satu kasus ikterus neonatorum di ruangan Peristi RS M.Djamil Pdanag
• Menjelaskan Manajemen Asuhan Kebidanan pada kasus ikterus neonatoru pada Bayi Ny D denagn ikterus neonatorum grade IV
















BAB II
TINJAUAN TEORI


IKTERUS
1. Definisi
• Ikterus adalah perubahan warna kulit menjadi kuning akibat pewarnaan jaringan oleh bilirubin ( Hellen Farrer ,Perawatan Maternitas )
• Ikterus adalah menguningnya sklera ,kulit,jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh ( IKA jilid 1 )
• Ikterus adalah meningginya kadar bilirubin dalam jaringan ekstravaskuler sehingga kulit ,konjungtiva ,mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kuning.Ikterus neonatorum adalh keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir yang disebut juga hiperbilirubinemia ( Ngastiyah ,Perawatan anak sakit )
• Ikterus adalah pewarnaan kuning dikulit ,konjungtiva dan mikosa yang terjadi karena meningkatnya kadar bilirubin dalam darah .Disebut dengan hiperbilirbinemia jika apabila didapatkan kadar bilirubin dalam darah > 5 mg % ( 85 mikromol / L ) ( PONED )
• Ikterus atau warna kuning pada bayi baru lahir dalam batas normal pada hari ke 2-3 dan menghilang pada ahri ke10
2. Etiologi
Adapun penyebab timbulnya ikterus atau jaundice adalah :
• Kurangnya protein Y dan Z ,enzim glukoronil tranferase yang belum cukup jumlahnya ( ikterus fisiologis )
• Produksi bilirubin yang berlebihan misalnya pada pemecahan darah ( hemolisis ) yang berlebihan pada incompabilitas ( ketidaksesuaian ) darah bayi dengan ibunya
• Gangguan dalam proses uptake da konjugasi akibat dari gangguan fungsi liver
• Ganguan proses tranportasi karena kurangnya albumin yang meningkat bilirubin
• Gangguan ekskresi yang terjadim akibat sumbatan liver karena infeksi atau kerusakan sel liver
3. Klasifikasi
Ada 2 macam iktersu neonatorum :
Ikterus Fisiologis
• Ikterus yang timbul pada hari ke 2-3
• Tidak mempunyai dasar patologis
• Kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau tidak mempunyai potensi menjadi kern ikterus
• Tidak menyebabkan morbiditas pada bayi
• Ikterus tampak jelas pada hari ke 5 dan 6 dan menghlang pada hari ke 10
Ikterus yang cenderung menjadi patologik adalah :
• Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama setelah lahir
• Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5 mg % atau lebih setiap 24 jam
• Ikterus yang disertai :
o Berat lahir kurang dari 2000 gram
o Masa gestasi kurang dari 36 minggu
o Asfiksia,hipoksia,dan sindroma gawat nafas pada neonatus
o Infeksi
o Trauma lahir pada kepala
o Hipoglikemia ,
o Hiperosmolaritas darah
o Proses hemolisis
o Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia kurang dari 8 hari atau 14 hari


Ikterus Patologis
o Penyalit hemolitik ,isoantibodi,karena ketidakcocokan golongan darah ibu dan anak seperti rhesus antagonis ABO dan sebagainya
o Kelainan dalam sel darah merah seperti defisiensi G-6PD ( glukosa pspat dehidrokinase ) ,talasemia
o Hemolisis : Hematoma ,polisitemia ,perdarahan karena trauma lahir,
o Infeksi :septisemia,meningitis ,infeksi saluran kemih,toksoplasmosis, sifilis,rubella da hepatis
o Kelainan metabolik : hipoglikemia
o Obat batan yang menggantikan bilirubin dengan albumin seperti sulfonamid salisilat,sodium benzoat ,gentamicin.
4. Tanda dan gejala
Ikterus Fisiologis:
o Warna kuning timbul pada hari ke 2 dan 3 serta tampak jelas pada hari ke 5 dan ke 6 serta menghilang pada hari ke 10 .
o Bayi tampak biasa ,minum baik dan pertambahan berat badan biasa
o Kadar bilirubin serum pada bayi kurang dari 12 mg /dl dan pada BBLR 10 mg /dl dan akan hilang pada hari ke14
Ikterus Patologis
o Timbul kuning pada 24 jam pertama kehidupan
o Kuning ditemukan pada umur 14 hari atau lebih
o Tinja berwarna pucat
o Kuning sampai lutut dan siku
o Serum bilirubin total lebih dari 12,5 mg /dl pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 pada bayi kurang bulan ( BBLR )
o Peningkatan kadar bilirubin 5 mg % atau lebih dalam 24 jam
o Ikterus diserai dengan proses hemolisis ( Inkompatibilitas darah )
o Bilirubin direk lebih dari 1 mg/dl atau kenaikan bilirubin serum 1 mg /dl atau 3 mg/dl/hari
o Ikterus menetap setelah bayi berumur 10 hari pada bayi cukup bulan dan lebih dari 14 ahri pada bayi kurang bulan ( BBLR )
5. Manifestasi Klinis
Pengamatan ikterus dilakukan dengan sinar matahari .Bayi baru lahir akan tampak kuning apabila kadar bilirubin serumnya kira kira 6 mg/dl .Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk pemeriksaan derajat kuning pada BBL menurut kramer adalah ” dengan jari telumjuk ditekankan pada tempat tempat yang tulangnya menonjol seperti tulang hidung ,dada ,lutut.Tempat yang ditekan akan tampak pucat
Bahaya hiperbilirubinemia adalah kern ikterus yaitu suatu perusakan otak akibat perlengketan bilirubin inbdirec pada otak terutama pada korpus striatum da talalmus.Secara klinis pada awalnya tidak jelas dapat berupa :
 Mata berputar
 Letargi
 Kejang
 Tidak mau menghisap
 Malas minum
 Tonus otot meningkat
 Leher kaku dan epistotonus
 Spasme otot
 Ketulian pada nada tinggi ,gangguan bicara ,retardasi mental
Derajat Ikterus Menurut KRAMER ( 1969 )
Derajat Ikterus Daerah Ikterus Perkiraan kadar Bilirubin
1 Kepala dan leher 6,6 mg %
2 Pusat – leher 9,9 mg %
3 Pusat – paha 13,2 mg %
4 Lengan + tungkai 16.3 mg %
5 Tangan + kaki > 16,5 mg %

6. Patofisiologi
Kurang lebih 80-85% biirubin berasal dari penghancuran eritrosit yang tua..Sisanya 15-20 % bilirubin berasal dari penghancuran eritrosit muda karena proses eritropuesisyang infektif disumsum tulang , hasil metabolisme protein yang mengandung heme lain seperti sitokrom P 450 hepatik ,katalase peroksidase ,mioglobin otot dan enzim yang mengandng heme dengan distribusi luas
Gangguan metabolisme bilirubin dapat terjadi lewat salah satu dari keempat mekanisme ini ,yaitu over produksi ,penurunan ambilan hepatic,,penurunan konjugasi hepatic,penurunan ekskresi bilirubin kedalam empedu akibat disfungsi intrahepatik atau mekanik ekstrahepatik
• Over Produksi
Peningkkatan jumlah hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah yang sudah tua atau yang mengalami hemolisis akan meningkatkan produksi bilirubin .Penghancuran eritrosit yang menimbulkan hiperbilirubinemia paling sering akibat intravaskuler seperti kelainan auto imun ,mikroangiopati ,atau hemoglobinopatiatau akibat resorbsi hematom yang besar..Ikterus yang timbul yaitu ikterus hemolitik.
Konjugasi dan tranfer bilirubin berlangsung normal ,tetapi suplai bilirubi tidak terkonjugasi melampaui kemamapuan sel hati ..Akibatnya bilirubin tak terkonjugasi meningkat dalam darah.Karena bilirubin tak terkonjugasi tidak larut dalam air maka tidak dapat diekskresikan dalam urine dan tidak terjadi bilirubinemia .Tetapi pembentukan urobilirubin meningkat yang mengakibatkan peningkatkan ekskresi dalam urine dan feses
Beberapa penyebab ikterus hemolitik ,hemoglobin abnormal ( cikle sel anemia) .Kelainan eritrosit ( sferositosis herediter ) ,antibody serum ( Rh .Inkompatibilitas trasfuse ),Obat obatan .
• Penurunan Ambilan Hepatik
Pengambilan bilirubin tak terkonjugasi dilakuka dengan memisahkannya dari albumin dan berikatan dengan protein penerima.Beberapa bat obatan seperti asam flavaspidat ,novobiosin dapat mempengaruhi uptake ini
• Penurunan konjugasi Hepatik
Terjadinya konjugasi bilirubin sehingga terjadi peningkatan bilirubin tak terkonjugasi .Hal ini disebabakan oleh defisiensi enzim glukoronil trasperase
• Penurunan Bilirubin kedalam empedu
Hal ini terjadi akibat disfungsi intrahepatik dan ekstra hepatik tergantung ekskresi bilirubin terkonjugasi oleh hepatosit yang aan menimbulkan masuknya kembali bilirubin kedalam sirkulasi sistemik sehingga timbul hiperbilirubinemia
7. Komplikasi
Terjadi kern ikterus atau ensefalopati biliaris.Kern Ikterus adalah kerusakan otak akibat perleketan bilirubin indirek pada otak terutama pada korpus striatum ,talamus,nukleus subtalamus hipokampus ,nukleus merah didasar ventrikel IV
Gejala kern ikterus dapat segera terlihat pada neonatus gejala ini mungkin sangat ringan dan hanaya memperlihatkan gangguan imunn letargi dan hipotonia
Sealnjutnya bayi ungkin kejang ,spastik dan ditemukan opistotonus.Pad stadium lanjut mungkin didapatkan adanya asetosis disertai gangguan pendengaran dan retardasi mental dihari kemudian.Oleh karena itu,pada penderita hiperbilirubinemiadilakukan pemeriksaan berkala, baik dalam hal pertumbuhan fisik dan motorik ataupun perkembangsn mental serta ketajaman pendengaran.
8. Penatalaksanaan
• Ikterus Fisiologis
 Mengajari ibu cara menyinari bayi dengan cahaya matahari pagi biasanaya sekitar jam 7 pagi sampai jam 8 pagi selama 15-30 menit
 Lakukan asuhan dasar pada bayi
• Beri minum bayi sesuai kebutuhan dan kalori yang cukup
• Perhatikan frekwensi BAB
• Usahakan agar bayi tidak terlalu kepanasan atau kedinginan
• Memeliahara kebersihan tempat tidur bayi dan lingkungannya
• Mencegah Mencegah terjadinya infeksi
• Jika bayi dapat menghisap ,anjurkan ibu untuk menyusui secara dini dan ASI eklusif lebih sering minimal setiap 2 jam
• Jika bayi tidak dapat menyusu beriakn ASI melalui pipa nasogastrik atau dengan gelas dan sendok
• Jaga bayi agar tetap hangat
• Ikterus fisisologis tidak memerlukan penanganan khusus dan dapat dirawat jalan dengan nasehat untuk ku njungan ulang setelah tujuh hari .Jika bayi tetap kuning selama 7 hari maka
 Lakukan penilaian lengkap
 Lakukan pemeriksaan ulang untuk ikterus tanyakan apakah kencing sehari semalam atau apakah sering buang air besar
 Tindakan
o Jika didapatkan klasifikasi lakukan tindakan lanjut
o Jika tetap didapatkan klasifikasi ikterus fisiologis :
Disertai kencing 6 kali sehari semalam atau BAB sering ajari ibu cara menyinari bayi dan kunjungan ulang setelah 14 hari
Disertai kencing 6 kali sehari semalan dan BAB kurang lakukan penilaian ulang pemberian ASI.
o Jika kuning menghilang pujilah ibu


• Ikterus Patologis
• Cegah agar gula darah tidak turun
• Jika anak masih bisa menetek mintalah pada ibu untuk menetekkan anakanya
• Jika anak tidak bisa menetek lagi tapi masih bisa menelan beri perasan ASI atau susu pengganti ,Jika keduanaya tidak memungkinkan beri air gula 30-50 cc sebelum dirujuk
• Cra membuat air gula.Larutkan 4 sendok teh gula kedalam gelas yang berisi 200 cc air masak
• Jika anak tidak bisa menelan berikan 50cc air susu ataua ir gula melalaui pipa ansogastrik ,jika tidak rujuk segera
• Nasehati ibu agar menjaga bayi tetap hangat
• Sertakan contoh darah ibu jika kuning terjadi pada 2 hari pertama kehidupan
• Rujuk segera.
• Setiap ikterik yang muncul pada 24 jam pertama adalah patologis dan membutuhkan pemeriksaan labor lanjut
• Pada bayi dengan ikterus kramer grade 3 atau lebih perlu dirujuk
• Perhatikan frekwensi BAK dan BAB
• Beri terapi sinar untuk bayi yang dirawat di RS dan jemur bayi dibawah sinar matahari pagi pada jam 7-8 selaam 30 menit/.15 menit telentang dan 15 menit telungkup
• Cegah kontak kdengan keluarga yang sakt dan cegah trjadiny ainfeksi

Langkah promotif dan Preventif
• Menghindari pengguanana obat obatan pada ibu hamil yang berakibat menimbulkan ikterus ( sulfa,antimalaria,nitrofurantio ,aspirin, novobiosin oksitosin )
• Penanaganan keadaadn ynag berakibat BBLR
• Penanaganan infeksi maternal ,KPD secara tepat dan cepat
• Penanganan asfiksia dan trauma persalinan dengan tepat
• Pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi baru lahir dengan ASI eksklusif
Mengatasi Hiperbilirubinemia
• Mempercepat proses konjugasi
Dengan pemberian fenobarbital .Obat ini bekerja sebagai enzim inducer.sehingga konjugasi dapat dipercepat .Pengobatan dengan cara ini tidak begitu efektif danmembutuhka waktu 48 jam baru terjadi penurunan bilirubin yang berarti.Mungkin ini akan lebih bermamafaat apabila diberiakn pada ibu yang akan melahirkan 2 hari kedepan
• Membuka Substrat yang urang untuk Tranformasi dan konjugasi
Contohnya ialah pemberian albumin untuk mengikat bilirubin yang bebas .Albumin dapat diganti dengan plasma dengan dosis 15-20 ml/kgBB.albumin dapat segera diberiakn sebelum trasfornasi tukar dikerjakan oleh karen aalbumin akan mempercepat keluarnya bilirubin di ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin yang dikatnya lebih mudah dikeluarkan dengan trasfusi tukar .Pemberian glukosa perlu unruk konjugasi hepar sehingga berfungsi sebagai sumber energi
• Melakakuakn dekompensasi bilirubin denga fototerapi
Walaupun foto terapi dapat menurunkan kadar bilirubin dengan cepat ,cara ini tidak dapat mengagantikan transfusi tukar pada proses hemolisis berat.Fototerapai dapat diguanakan untuk pra dan pasca tranfusi tukar
• Tranfusi tukar
Pada umumnya trasfusi tukar dilakukan pada :
• Pada semua keadaan denga keadaan bilirubin indirek < 20 mg %
• Kenaiakan kadar bilirubin inbdirek yang cepat yaitu 0,3 -1 mg %/jam
• Anemia berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung
• Byi dengan kadar Haemoglobin < 14 gr % dan uji coomb direk positif

Tatalaksana Ikterus Neonatorum :
• Tentukan jenis ikters ( Fisologis atau Patologis )
• Jika patologis ukur kadar bilirubin .
Jika TSB > 5 mg /dl diatas kurva yang sesuai atau jika kadar TSB >25 mg/dl.Gejala akute bilirubin: Meningkatnya ketegangana otot,meregangnya bayi denagn posisi seperti busur ,demam,tangisan dengan nada tinggi
• Terapi sinar dilakukan berdasarkan kadar bilirubin ,usia gestasi ,saat bayii lahir,usia bayi saat ikterik,
• ASI tetap diberikan .Pemberaian ASI atau susu formula setiap 2-3 jam .TSB > 25mg/dl ulangi pengukura dalam 2-3jam.TSB >20-25 ulangi pengukuran dalam 3-4 jam .TSB < 20 ulangi pengukuran dalam 4-6 jam .TSB terus menurun ulangi pengukuran dalan 8-12 jam .Jika TSB naik menuju batas exchange trasfusi maka lakukaj ekschange tranfusi
• Jika kadar bilirubin <13-14 mg/dl hentikan terapi cahaya .Pad bayi dengan penyakit hemolisis atau bayi yang menyelesaikan terapi cahaya sebelum usia 3-4 hari lakukan pengukuran ulang bilirubin setelah 24 jam penghentian terapi
• Terapi sinar dimulai jika ikterus berat
• Tentukan apakah bayi memeiliki faktor risiko berikut :Berat lahir < 2500 gr,lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu
• Ambil contoh darah dan periksa kadar bilirubin serum dan haemoglubin tentukan golongan darh bayi dan lakukan tes Comb:
 Bila kadar bilirubin serum dibawah nilai dibutuhkannya terapi sinar ,hentikan terapi sinar
 Bila kadar bilirubin serum berada atau diatas nilai dibutuhkannya terapi sinar lakukan terapi sinar
 Bial faktor rhesus dan golongan darah ABO bukan erupakan penyenbab hemolisis atau bila ada riwayat defisiensi G6PD dikeluarga lakukan uji saring G6PD bila memungkinkan
 Tentuakn diagnosis banding

TERAPI SINAR
Sejarah dan Prinsip Dasar
Terapi sinar ditemukan oleh kremer.Terapi sinar konvensional menggunakan panjang gelombang 425-475 nanometer.Intensitas cahaya yang biasa digunakan adalah 6-12 mikro watt /cm per nm.Cahaya diberikan pada jarak 35-50 cm diatas bayi..Jumlah bola lampu yang dipergunakan berkisar antara 6-8 buah terdiri dari biru ( F20T12 ) ,cahaya biru khusus ( F20T12/BB ) atau daylight fluorescent tubes.Cahaya biru kuusu memilki kerugian karena dapat membuat bayi terlihat bir walaupun pada bayi yang sehat hal ini secara umum tidak mengkhawatirkan.Untuk mengurangi efek ini ,digunakan 4 tabung cahaya biru kusus pada bagian tengah unit terapi sinar standar dan dua tabung day light pada setiap bagian samping unit.
Pada bayi baru lahir ,enzim hati yang berfungsi sempurna sehingga banyak bilirubin tidak dapat terkonjugasi dan bayi terlihat kuning.Dengan bertambahnya umur bayi maka enzim hati tersebut akan lebih baik fungsinya ,bilirubin akan lebih banyak dikonjugasi dan warna kuning pada tubuh serta mata bayi berkurang ,lalu menghilang .Proses ini memerlukan waktu sekitar seminggu untuk bayi baru lahir dengan berat badan normal dan sekita 2 minggu untuk BBLR .Biasanya peningkatan bilirubin pada keadaan ini jarang mencapai kadar bilirubin yang berbahaya bagi bayi.Untuk mempercepat konjugasi bilirubin dapat dilakukan pemberian sinar biru ( fototerapi ),yaitu sinar khusus yang dapat membantu kerja enzim hati sehingga proses konjugasi lebih cepat terjadi.

MEKANISME KERJA TERAPI SINAR

Bilirubin tidak larut dalam air.Cra kerja adalah dengan mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air untuk diekskresikan melalui empedu atau urine.Ketika bilirubin meng arborbsi cahaya ,terjadi reaksi fotokimia yaitu iso merisasi.Juga terdapat konversi ireversibel menjadi isomer kimia lainnya bernama lumirubin yang dengan cepat dibersihkan dari plasma melalau empedu.Lumirubin adalh produk terbanayak degradasi bilirubin akibat terapi sinar pada manusia.Sejumlah kecil bilirubin Plasma tidak terkonjugasi diubah oleh cahaya menjadi dipyrole yang diekskresikan lewat urin.Foto isomer bilirubin lebih polar dibandingakn bentuk asalnya dan secar langsung bisa diekskresikan mellaui empedu.Hnaya produk foto oksidab saja yang bisa diekskresikan lewat urin.Peningkatan bilirubin isomer dalam empedu menyebabakan bertambahnya pengeluaran cairan empedu kedalam usus ,sehingga peristaltik usus meningkat dan bilirubin akan lebih cepat meningglakan usus halus.Itulah sebabnya terapi secara klinis tidak efektif pada bayi dengan gangguan peristaltik seperti obstruksi usus atau bayi denag enteritis.Pada penderita asidosis ,hipoksia ,atau hipoalbumineia penggunaan terapi sinar perlu disertai perbaikan kelainan yang menyertainya.

Tenik Terapai Sinar
Persiapan :
• Hangatkan ruangan tempat unit terapi sehingga suhu dibawah lampu antara 28 sampai 30 C
• Nyalakan mesin dan pastikan semua tabung fluoresens berfungsi denagn baik
• Ganti tabung /lampu yang telah rusak : bagi tabung yang telah digunakan 2000 jam atau 3 buan
• Gunaakan linen putih pada basinet atau inkubator dan tempatkan tirai putih disekitar daerah unit terapi sinar ditempatka untuk memantulkan cahaya sebayak mungkin kepada bayi
Pemberian Terapi Sinar
Tempatkan bayi dibawah terapi sinar:
• Bila baerat bayi 2 Kg aatu lebih tempatkan abyi dalam keadaan telanjang pada basinet .Tempatkan bayi yang lebih kecil dalam inkubatot
• Letakkan bayi sesuai petunjuk pemakaian alat dari pabrik
• Tutupi mata bayi dengan penutup mata ,pastikan lubang hidung bayi tidak tertutup
• Tutupi gonad bayi
• Posisi bayi sebaiknya diubah setiap 6-8 jam agar bagian yang terkena menyeluruh
• Pastikan bayi diber makan
• Motivasi ibu untuk menyusui bayinya dengan ASI paling kurang setiap 3 jam
• Selama menyususi pindahkan bayi dari unit terapi sinar dan lepaskan penutup mata
• Pemberian suplemen atau penganti ASI dengan makanan atau cairan lain ( Contoh : pengganti ASI ) tudak ada gunanya
• Bila bayi menerima cairan per IV atau ASI telah dipompa tingkatkan volume cairan atau ASI sebanyak 10 % volume total perhari selama bayi masih terapi
• Bila bayi menerima caira IV atau makanan NGT jangan pindahkan bayi dari terapi
• Perhatikan selalam menjalani terapi sinar ,konsistensi tinja bayi bisa menjadi lebih lembek dan berwarna kuning
• Teruskan terapi dan tes lain: Bila bayi meneriam oksigen matiakn lampu terapi sebentar untuk engetahui apakah bayi sianosis sentral
• Ukur suhu bayi dan suhu udar dibawah sinar terapi setiap 3 jam.Bila suhu bayi lebih dari 37,5 ,pindahkan bayi adri unit terapi sampai suhu 36,5 -37,5 C
• Ukur kadar bilirubin serum setiap 24 jam ,kecuali kasus kusus
Hentikan terapi sinar bila kadar serum bilirubin < 13 mg/dl
• Bila bilirubinserum tidak dapat diperiksa hentikan terapi sinar selama 3 hari
• Setelah terapi sinar dihentikan :
Observasi bayi selama 24 jam dan ulangi pemeriksaaan bilirubin serum bila mungkin.
Bila ikterrus kembali ditemukan atau bilirubin serum berad diatas nilai untuk memulai terapi sinar,ulangi terapi sinat .Ulangi langkah terapi sinr jika ada indikasi untuk itu
• Bila terapi sinar sudah tidak perlu lagi ,dan bayi sudah membaik pulangkan bayi.
• Ajarkan ibu untuk menilai ikterus dan beri nasehat untukm membawa kembali bayinya
• Bilirubin dikulit ceppat menghilang selama terapi sinar.Warna kulit tidak bisa dijadikan acuan untuk menentukan kadar bilirubin serum selam bayi masih dalam terpi sinr dan dalam 24 jam setelah penghentian terapi sinar

KOMPLIKASI
• Bronze baby yaitu berkurangnya ekskresi hepatik hasil penyinaran ilirubin
• Diare karena bilirubin indirek menghambat laktase
• Hemolisis ,Dehidrasi dan ruam kulit











MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR
PADA BAYI NY “D” DENGAN IKTERUS GRADE IV
DI RUANG PERISTI IRNA D ANAK
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
TGL 17-18 NOFEMBER 2008


A. IDENTITAS/ BIODATA
Nama Bayi : Bayi NY ” D ”
Anak ke : Pertama
Umur bayi : 8 hari
Tgl : 9 Nofember 2008
Jenis kelamin : Laki laki
Berta Badan sekarang : 2200 gram
Berat badan lahir : 2600 gram
Panjang badan : 47 cm
No MR : 616555

Nama ibu :Ny. “D”
Umur :31 th
Suku/bangsa :Minang/Indonesia
Agama :Islam
Pendidikan :DIII
Pekejaan : IRT
Alamat :Jl.Pinang suri 3 no 27 Air Tawar Timur

Nama ayah : Tn “D”
Umur : 30 th
Suku/bangsa :Minang/Indonesia
Agama :Islam
Pendidikan :SMA
Pekejaan :Wiraswasta
Alamat :Jl.Pinang Suri 3 no 27 Air Tawar Padang

B. DATA SUBJEKTIF
Pasien masuk tanggal : 13 Nofember 2008
Pukul : 15.10 WIB
Keluahn utama : Bayi kuning sejak 1 hari yang lalu
Riwayat kehamilan
• HPHT : 15-02-2008
• TP : 22-11-2008
• Imunisasi : lengkap
• Usia kehamilan :38-39 minggu
Riwayat Penyakit Kehamilan
• Perdarahan : Tidak ada
• Pre Eklampsia : Tidak ada
• Eklampsia : Tidak ada
• Penyakit Kelamin : Tidak ada
• Penyakit Lain : Tidak ada
Kebiasaan waktu hamil
• Makanan : Tidak ada pantangan
• Obat Obatan : TIdak ada
• Merokok : Tidak ada
• Lain –lain : Tidak ada
Riwayat persalianan Sekarang
• Riwayat Persalinan : Sectio Secarea
• Ditolong Oleh : Dokter
• Ketuban : Jernih
Komplikasi persalinan
• Ibu : Tidak ada
• Bayi : Tidak ada
Keadaan BBL
A/S : 7/8 ( langsung menangis )
Resusitasi
• Penghisapan lendir : ada
• Ambu : Tidak ada
• Masase jantung : Tidak ada
• Oksigen : Ada
• Rangsangan : Tidak ada
Riwayat penyakit sekarang
• Bayi lahir secara section secarea 8 hari yang lalu atas indikasi partus lama berat badan lahir 2600 gram panjang badan 47 cm langsung menangis,jejas persalinan tidak ada dan kelainan kongenital tidak ada .
• Ampak kuning sejak 5 hari yang lalu/sejak tanggla 12 Nofember 2008 pada muka dan leherpada mulanya ,sekarang kuning sudah sampai lutut
• Tampak tahi mata kiri kehijauan pada pinggir kelopak mata sehingga kelopak mata kiri lengket sejak tanggal 13 -11-2008

C. PENGKAJIAN FISIK
1. Keadaan umum : Sedang
2. Tanda Vital
a) Nadi : 145x/ mnt
b) Pernafasan : 43x/ mnt
c) Suhu : 36,8˚C
3. Pemeriksaan
a) Kepala : UUB ,UUK : tidak cekung ,berdenyut ,bentuk kepala normal,tidak ad kapu dan hematom.
b) Mata
• Kelopak mata : tidak ada oedema
• Konjungtiva : ada kotoran mata
• Sclera : ikterik
• Simetris : Ya

c) Mulut dan gigi hidung
• Pernapadsan cuping hidung tidak ada
• Labio palato schiziz: Tidak ada
• Stomatitis : tidak ada
d) Telinga
• Simetris : YA
• Lekuk telinga : Ada
• Cairan yang keluar : Tidak ada
• Tinggi telinga ujung atas : Sejajar dengan mata
e) Leher
• Kelenjar tiroid : tidak ada pembesaran
• Kelenjer limfe : tidak ada pembesaran.
f) Dada
• Respirasi rate : Normal
• Suara nafs : Bersih
• Tonjolan mamae : Kecil
• Gerakan dada : Simetris
• DJA :Teratur
• Tulang rusuk :Tidak terlhat
Abdoment
• Bentuk : Bulat
• Bising usus :Ada
• Tali pusat
g) Kulit
• Vernik kaseosa :Ada
• Lemak subkutan :ada
• Warna :ikterik
• Lanugo :sedikit
h) Pungung,panggul,bokong
• Tonjolan punggung :Tidak
• Sikap bongkok :Tidak
• Lipatan bokong :simetris
• Anus :ada
i) Genitalia
• Jenis kelamin : laki-laki
• Ujung penis : ad
• Letaknya : Normal
• Lubang penis : ada
• Scrotum : testis sudah turun kescrotum.
• Ruggae : ada

j) Refleks
• Reflek moro : Positif
• Reflek rooting : Positif
• Reflek sucking : Positif
• Reflek grasping : Positif
• Reflek babinsky : Positif
k) Ekstremitas
 Atas
Jumah jari : Lengkap
Pergerakan :Aktif
Kuku jari :Menutupi ujung jari
Kulit : Ikterik sampai lengan atas
 Bawah
Jumlah jari : lengkap
Pergerakan : Aktif
Kuku jari : Menutupi ujung jari
Kulit : Ikterik sampai paha


Nutrisi
1. Minuman yang diberikan : ASI ( bayi sudah menyusu dengan ibu )
2. Pemberian : Setiap 2 -3 jam
Eliminasi
o BAB : 5 kali
o BAK : 10 kali
Istirahat/tidur
Keadaan waktu tidur : tenang
Kebersihan diri : Bersih
Pengetahuan ibu
Pengetahuan ibu tentang perawatan bayi sehari hari: Ibu masih takut merawat bayinya dan merasa belum mamapu untuk merawat bayinya
Tanggapan keluarga : Baik
Obat yang diberikan :
Antopometri
1. LK : 32 cm
2. LD : 28 cm
3. LLA : 12 cm
4. LP : 24 cm
Pemeriksaan labor
o Tanggal 17 -11 2008 :
o Hb : 18,6 gr %
o Leukosit : 10.700
o Trombosit : 131.000
o Hematokrit : 52 %
o Bilirubin total : 13,2
o Bilirubin direk : 3,3
o Bilirubin indirek : 9,9
o SGOT : 74
o SGPT : 15

BAB IV
PENUTUP


1. Kesimpalan
Adapun dari penjelasan diatas dapat disimpulkan :
Ikterus merupakana penyakit yang disebabkan olkeh penimbunan kadar bilirubin dalam jaringan tubuh yang mengakibatkan bayi menjadi kuning.Peningkatan kadar bilirubin yang lebih dari 5 mg% dapat dikatakan ikterus neonatorum
Dalam salah satu kasus yang diambil dapat disimpulkan bahwa bayi Ny D menderita ikterus Grade IV dengan kuning sudah sampai pada lutut dan lengan dengan jumlah kadar blirubi total mencapai 13,3 mg %.
Adapun penanganan yang dilakukan di RS adalah dengan memberikan terapi sinar yang bertujuan untuk memecah bilirubin agar dapat dikeluarkan melalui urine ( bilirubin direk ) sehingga dengan ini kadar bilirubin dapat berkurang
Dalam Follow Up selama 2 hari didapatkan hasil bahwa dengan penyinaran yang dilakuka selama lebih kurang 4 hari sudah dapat menurunkan kadar bilirubin menjdi 7,4 mg % yang tentunya juga didukung oleh faktor eksternal lainnya yaitu dengan pemberian nutrisi yang adekuat
2. Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan :
Menyarankan pada ibu bayi agar melakukan terapi pencegahan ikterus neonatorum dengan cara :
• Menjemur bayi dibawah sinar matahari pagi selama 30 menit
• Memberiakn ASI yang adekuat
• Pengontrolan BAK dan BAB
• Perawatan bayi sehari hari
Bagi ibu yang bayinya terkena ikterus agar tetapa dapat memberikan ASI dan minuman yang cukup untuk bayi sehingga dapat menurunkan kadar ikterus dan membantu mempercepat penyembuhan
Diharapkan bagi Bidan jika menemukan kasus ikteru neonatorum untuk dapat melakukan pemeriksaan secara seksama dan mampu mengidentifikasi dan memberiakan pertolongan pertama pada bayi ikterik dan merujuk kasus tersebut ketingkat pelayanan kesehatan yan g lebih tinggi.
























DAFTAR PUSTAKA


Mansjoer ,Arif.2002.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta :EGC.
------------. 2002. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : YBPSP
Tim FK Unpadj.2000.Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1.Bandung : FK Unpadj
Ngastiyah .1998.Perawatan anak Sakit.Jakarta : EGC.
Tim Dokter Anak .2004.PONED.Jakarta : EGC
Hellen FARRER .2002.Perawatan Maternitas.Jakarta : EGC.
WWW.Google.Com
WWW.yahoo .com


















SATUAN ACARA PENYULUHAN


Topik : Perawatan bayi ikterus
Sasaran : Ibu bayi ( Ny “D “ )
Target : 1 orang
Hari/Tanggal : Minggu / 23 November 2008
Jam : 11.00 WIB
Waktu : 45 menit
Tempat : Ruang Peristi


I. TUJUAN
A. TUJUAN UMUM
Pada akhir pertemuan diharapkan Ibu dapat memahami tentang Ikterus dan mampu merawat bayinya.
B. TUJUAN KHUSUS
Pada akhir pertemuan diharapkan para peserta dapat:
 Menjelaskan tentang pengertian dan penyebab serta gejala Ikterus
 Menjelaskan tentang perawatan bayi dengan ikterus
 Mampu mempraktekakn cara pemberian ASI yang baik.

II. MATERI
Terlampir
III. METODE PENGARAHAN
Ceramah Tanya Jawab
IV. MEDIA
 Leaflet


V. KEGIATAN PENYULUHAN


No Kegiatan Waktu Penjelasan
1






2








3

Pendahuluan






Proses








Penutup 5 menit






30 menit








10 menit  Mengucapkan salam
 Memperkenalkan diri
 Menyapa peserta
 Menyampaikan topic
 Membuat kontrak waktu
 Membagikan leaflet

 Menjelaskan definisi Ikterus
 Menjelaskan penyebab Ikterus
 Menjelaskna tanda dan gejala Ikterus
 Menjelaskan upaya pencegahan Ikterus
 Memberikan kesempatan pada Ibu untuk bertanya
 Menjawab pertanyaan dari Ibu
 Menyimpulkan hasil penyuluhan
 Memberikan kesempatan kembali pada ibu untuk bertanya
 Menutup acara penyuluhan






VI. KRITERIA EVALUASI
Struktur :Diharapkan pada penangung jawab penyuluhan untuk dapat mengevaluasi sejauh mana audiens mampu mencerna hal yang disampaikan
Proses: Dengan mengajukan pertanyaan pada audiens tentang materi yang telah disampaikan
Hasil : Peserta mampu menjawab apa yang ditanyakan oleh penyuluh dan peserta ( ibu ) merespon dengan baik selama kegiatan berlangsung
Pertanyaan yang diajukan :
• Apa pengertian Ikterus
• Apa tanda dan gejala ikterus
• Sebutkan perawatan bayi dengan ikterus
• Meminta ibu untuk mempraktekkkan cra menyususi yang baik dan benar


DAFTAR PUSTAKA
www.askep-askeb-kita.blogspot.com
lihat artikel selengkapnya - Askeb BBLR dengan Ikterik

Askeb Ca Ovarium

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA Ny “ U “ DENGAN POST DEBULKING ATAS INDIKASI Ca OVARIUM STADIUM IIIb DISERTAI ANEMIS SEDANG PRO KEMOTERAPI
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Ny “ U “ Dengan Post Operasi Atas Indikasi Ca Ovarium Stadium IIIb Disertai Anemis Sedang Pro Kemoterapi Di Ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang Tanggal 15-16 Oktober 2008.
Dalam penulisan makalah ini penulis banyak mendapatkan kendala dan hambatan baik dalam memperoleh sumber yang relevan maupun dari segi penulisan. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulis dapat penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari dalam makalah ini banyak terdapat kekurangan. Untuk itu , penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kemajuan dimasa mendatang.
Penulis berharap agar makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.





Padang, Februari 2009



Penulis





BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kanker ovarium merupakan keganasan yang sering dijumpai tetapi sebagian besar datang sudah dalam stadium lanjut atau ditemukan saat operasi . kanker ovarium sering dinamakan pembunuh dingin atau silent killer karena perjalanan penyakitnya lambat tetapi mematikan
Kanker ovaorium merupakan keganasan ginekologi yang terbanyak setelah kanker leher rahim dan hamper separuh dari kematian wanita di Indonesia karena keganasan ginekologi disebabkan oleh kanker ovarium.
Angka kejadian kanker ovarium ini kira-kira 20% dari semua keganaan alat reproduksi wanita. Insiden rata-rata dari semua jenis diperkirakan 15 kasus baru per 100.000 populasi wanita setahunnya.
Karena angka kejadian kanker ovarium cukup tinggi di Indonesia, maka diperlukan asuhan kebidanan yang intensif. Oleh karena itu , penulis tertarik untuk merapkan asuhan kebidanan pada Ny “ U “ dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang pro kemoterapi di ruang onkologi irna A kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang.

1.2. Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Dapat memberikan asuhan kebidanan pada klien dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang pro kemoterapi di ruang onkologi irna A kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang.
1.2.2. Tujuan khusus
Setelah membuat makalh ini mahasiswa diharapkan mampu :
a) Melakukan pengkajian data kepada Ny.”U” dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi
b) Menentukan diagnosa, masalah, dan kebutuhan dari data yang telah dikumpulkan
c) Menentukan antisipasi masalah dan diagnosa potensial pada Ny “ U “dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi
d) Menentukan tindakan segera terhadap Ny “ U “ dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi
e) Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada Ny.”U” dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi berdasarkan interpretasi data
f) Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditetapkan
g) Mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan kepada Ny.”U” dengan post operasi atas indikasi Ca ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi berdasarkan interpretasi data

1.3. Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana menerapkan asuhan kebidanan pada klien dengan kanker ovarium di ruangan onkologi Irna A kebidanan RSUP Dr. M .Djamil Padang.












BAB II
TINJAUAN TEORI

KARSINOMA OVARIUM

I. Anatomi dan Fisiologi Ovarium
Ovarium adalah salah satu organ sistem reproduksi wanita, sistem reproduksi terdiri dari ovarium, tuba fallopi, uterus dan vagina. Kedua ovarium terletak dikedua sisi uterus dalam rongga pelvis dengan panjang sekitar 1,5 – 2 inchi dan lebar < 1 inchi, ovarium akan mengecil setelah menopause.
Ovarium memiliki dua fungsi yaitu:
1. Menyimpan ovum (telur) yang dilepaskan satu setiap bulan, ovum akan melalui tuba fallopi tempat fertilisasi dengan adanya sperma kemudian memasuki uterus, jika terjadi proses pembuatan (fertilisasi) ovum akan melekat (implantasi) dalam uterus dan berkembang menjadi janin (fetus), ovum yang tidak mengalami proses fertilisasi akan dikeluarkan dan terjadinya menstruasi dalam waktu 14 hari setelah ovulasi.
2. Memproduksi hormon estrogen dan progesteron, kedua hormon ini berperan terhadap pertumbuhan jaringan payudara, gambaran spesifik wanita dan mengatur siklus menstruasi

II. Kanker ovarium
Kanker ovarium berasal dari sel - sel yang menyusun ovarium yaitu sel epitelial, sel germinal dan sel stromal. Sel kanker dalam ovarium juga dapat berasal dari metastasis organ lainnya terutama sel kanker payudara dan kanker kolon tapi tidak dapat dikatakan sebagai kanker ovarium.
Menurut data statistik American Cancer Society insiden kanker ovarium sekitar 4 % dari seluruh keganasan pada wanita dan menempati peringkat kelima penyebab kematian akibat kanker, diperkirakan pada tahun 2003 akan ditemukan 25.400 kasus baru dan menyebabkan kematian sebesar 14.300, dimana angka kematian ini tidak banyak berubah sejak 50 tahun yang lalu.
Hampir 70 % kanker ovarium epitelial tidak terdiagnosis sampai keadaan stadium lanjut, menyebar dalam rongga abdomen atas (stadium III) atau lebih luas (stadium IV) dengan harapan hidup selama 5 tahun hanya sekitar 15–20%, sedangkan harapan hidup stadium I dan II diperkirakan dapat mencapai 90% dan 70%.

Etiologi
Penyebab kanker ovarium sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Ca mamae diduga memeliki hubungan terhadap kejadian kanker ovarium pada wanita.. sebaliknya pada wanita pada wanita yang mengidap Ca ovarium juga mempunyai faktor resiko mengidap Ca mamae 3-4 kali lipat.
Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan Ca ovarium adalah :
a) Diit tinggi lemak
b) Merokok dan alcohol
c) Infertilitas
d) Riwayat Ca mamae, kolon, dan endometrium
e) Nullipara

Faktor resiko kanker ovarium
Penyebab pasti kanker ovarium masih dipertanyakan, beberapa hal yang diperkirakan sebagai faktor resiko kanker ovarium adalah sebagai berikut:
• Riwayat keluarga kanker ovarium dan kanker payudara
• Riwayat keluarga kanker kolon dan kanker endometrial
• Wanita diatas usia 50 – 75 tahun
• Wanita yang tidak memiliki anak(nullipara)
• Wanita yang memiliki anak > 35 tahun
• Membawa mutasi gen BRCA1 atau BRCA2
• Sindroma herediter kanker kolorektal nonpolipoid
• Ras kaucasia > Afrika-Amerika
• Dll

Jenis kanker ovarium
1. Tumor epitelial
Tumor epitelial ovarium berkembang dari permukaan luar ovarium, pada umumnya jenis tumor yang berasal dari epitelial adalah jinak, karsinoma adalah tumor ganas dari epitelial ovarium (EOC’s : Epitelial ovarium carcinomas) merupakan jenis tumor yang paling sering ( 85 – 90% ) dan penyebab kematian terbesar dari jenis kanker ovarium. Gambaran tumor epitelial yang secara mikroskopis tidak jelas teridentifikasi sebagai kanker dinamakan sebagai tumor bordeline atau tumor yang berpotensi ganas (LMP tumor : Low Malignat Potential).
Beberapa gambaran EOC dari pemeriksaan mikroskopis berupa serous, mucous, endometrioid dan sel jernih.

2. Tumor germinal
Tumor sel germinal berasal dari sel yang menghasilkan ovum atau telur, umumnya tumor germinal adalah jinak meskipun beberapa menjadi ganas, bentuk keganasan sel germinal terutama adalah teratoma, dysgerminoma dan tumor sinus endodermal. Insiden keganasan tumor germinal terjadi pada usia muda kadang dibawah usia 20 tahun, sebelum era kombinasi kemoterapi harapan hidup satu tahun kanker ovarium germinal stadium dini hanya mencapai 10 - 19% sekarang ini 90 % pasien kanker ovarium germinal dapat disembuhkan dengan fertilitas dapat dipertahankan.

3. Tumor stromal
Tumor ovarium stromal berasal dari jaringan penyokong ovarium yang memproduksi hormon estrogen dan progesteron, jenis tumor ini jarang ditemukan, bentuk yang didapat berupa tumor theca dan tumor sel sartoli-leydig termasuk kanker dengan derajat keganasan yang rendah.





Klasifikasi stadium kanker ovarium berdasarkan FIGO (International Federation of Gyneklogi and Obstetric ) :
Stadium I terbatas pada 1 / 2 ovarium
I A Mengenal 1 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
I B Mengenai 2 ovarium, kapsul utuh, ascites (-)
I C Kriteria I A / I B disertai 1 > lebih keadaan sbb :
1. Mengenai permukaan luar ovarium
2. Kapsul ruptur
3. Ascites (+)

Stadium II perluasan pada rongga pelvis
II A Mengenai uterus / tuba fallopi / keduanya
II B Mengenai organ pelvis lainnya
II C Kriteria II A / II B disertai 1 / > keadaan sbb :
1. Mengenai permukaan ovarium
2. Kapsul ruptur
3. Ascites (+)
Stadium III kanker meluas mengenai organ pelvis dan intraperitoneal
III A Makroskopis : terbatas 1 / 2 ovarium
Mikroskopis : mengenai intraperitoneal
III B Makroskopis : mengenai intraperitoneal diameter < 2 cm, KGB (-)
III C 1. Meluas mengenai KGB dan /
2. Makroskopis mengenai intraperitoneal diameter > 2 cm

Derajat keganasan kanker ovarium
1. Derajat 1 : differensiasi baik
2. Derajat 2 : differensiasi sedang
3. Derajat 3 : differensiasi buruk
Dengan derajat differensiasi semakin rendah pertumbuhan dan prognosis akan lebih baik.

Tanda dan keluhan kanker ovarium
Kanker ovarium sulit terdeteksi, hanya sekitar 10 % dari kanker ovarium yang terdeteksi pada stadium awal, keluhan biasanya nyeri daerah abdomen disertai keluhan–keluhan:
• Pembesaran abdomen akibat penumpukan cairan dalam rongga abdomen (ascites)
• Gangguan sistem gastrointestinal; konstipasi, mual, rasa penuh, hilangnya nafsu makan dll
• Gangguan sistem urinaria; inkontinensia uri
• Perasaan tidak nyaman pada rongga abdomen dan pelvis
• Menstruasi tidak teratur
• Lelah
• Keluarnya cairan abnormal pervaginam (vaginal discharge)
• Nyeri saat berhubungan seksual
• Penurunan berat badan
• Dll

Deteksi dini kanker ovarium
Semakin dini tumor ovarium ditemukan dan mendapat pengobatan harapan hidup akan semakin baik metode pemeriksaan yang sekarang ini digunakan sebagai penyaring kanker ovarium adalah:
Ø Pemeriksaan pelvik dan rektal : termasuk perabaan uterus dan ovarium untuk mengetahui bentuk dan ukuran yang abnormal, meskipun pemeriksaan rektovaginal tidak dapat mendeteksi stadium dini kanker ovarium.
Ø Ultrasounografi (USG): Dengan gelombang ultrasound untuk membedakan gambaran jaringan sehat, kista dan bentuk tumor padat, melalui abdomen ataupun pervaginam, dimana mampu mendeteksi keganasan dengan keluhan asimtomatik tapi ketepatan pada stadium dini rendah.
Ø Penanda tumor CA-125: Pemeriksaan darah CA-125 digunakan untuk menilai kadar CA-125 dimana peningkat pada kanker ovarium, wanita dengan kanker ovarium stadium lanjut terjadi peningkatan CA-125 (>35µ/ml) sekitar 80% walaupun ketepatan pemeriksaan ini baru mencapai 50 % pada stadium dini, pada wanita premonopause, kehamilan, endometriosis, fibroid uterine, penyakit ganguan fungsi hati dan kista ovarium juga terjadi peningkatan kadar CA-125.

Diagnosis kanker ovarium
• Anamnesis dan pemeriksaan fisik pelvik
• Radiologi : USG Transvaginal, CT scan, MRI
• Tes darah khusus : CA-125 (Penanda kanker ovarium epitelial), LDH, HCG, dan AFP (penanda tumor sel germinal)
• Laparoskopi
• Laparotomi
• Pemeriksaan untuk mengetahui perluasan kanker ovarium
- Pielografi intravena (ginjal, ureter, dan vesika urinaria), sistoskopi dan sigmoidoskopi.
- Foto rontgen dada dan tulang.
- Scan KGB (Kelenjar Getah Bening)
- Scan traktus urinarius
Penatalaksanaan kanker ovarium
1. Operasi
2. Radioterapi
3. Kemoterapi

Kanker ovarium epitelial :
• Stadium I : Pilihan terapi stadium I dengan derajat diferensiasi baik sampai sedang, operasi salpingo-ooforektomi bilateral (operasi pengangkatan tuba fallopi dan ovarium) atau disertai histerektomi abdominal total (pengangkatan uterus) dan sebagian jaringan abdominal, harapan hidup selama 5 tahun mencapai 90%, pada stadium I dengan diferensiasi buruk atau stadium Ic pilihan terapi berupa:
a) Radioterapi
b) Kemoterapi sistemik
c) Histerektomi total abdominal dan radioterapi

• Stadium II: Pilihan terapi utama operasi disertai kemoterapi atau radioterapi, dengan terapi ajuvan memperpanjang waktu remisi dengan harapan hidup selama 5 tahun mendekati 80 %.
• Stadium III dan IV:
Sedapat mungkin massa tumor dan daerah metastasis sekitarnya diangkat (sitoreduktif) berupa pengeluran asites, omentektomi, reseksi daerah permukaan peritoneal, dan usus, jika masih memungkinkan salpingo-ooforektomi bilateral dilanjutkan terapi ajuvan kemoterapi dan atau radioterapi.

Kanker ovarium germinal :
• Disgerminoma: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dimana kanker ditemukan dilanjutkan radioterapi atau kemoterapi.
• Tumor sel germinal lainnya: pengangkatan ovarium dan tuba fallopi dilanjutkan kemoterapi.

kanker ovarium stromal :
• Operasi yang dilanjutkan dengan kemoterapi.
Kombinasi standar sistemik kemoterapi berupa TP (paclitaxel + cisplatin atau carboplatin), CP (cyclophosphamide + cisplatin), CC (cyclophosphamide + carboplatin).

ANEMIA
Seseorang, baik pria dan wanita, dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12g/100ml.

Etiologi :
 Yang didapat : anemia defisiensi besi, anemia akibat perdarahan, anemia akibat radang atau keganasan, anemia megaloblastik, anemia hemolitik, anemia aplastik atau hipoplastik.
 Yang diturunkan : talasemia, hemaglobinopati sel sabit, hemaglobinopati lain, anemia hemolitik herediter.

Klasifikasi :
Berdasarkan etiologi :
1) Anemia defisiensi besi (62,3%)
2) Anemia megaloblastik (29,0%)
3) Anemia hipoplastik (8,0%)
4) Anemia hemolitik/ sel sickle (0,7%)

Menurut WHO :
1. Anemia ringan : 10-11mg %
2. Anemia sedang : 8-9 mg%
3. Anemia berat :< 7 mg %
Anemia ringan biasanya hanya diberi tablet tambah darah, dan untuk anemia sedang berat terapi yeng efektif adalah dengan transfuse darah.
1) Anemia Defisiensi besi
Anemia jenis ini biasanya berbentuk normostik dan hipokromik serta paling banyak dijumpai. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan reasorpsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.

Diagnosis
Anemia defisiensi yang berat ditandai dengan cirri-ciri yang khas yaitu mikrositosis dan hipokromasia. Sifat lain yang khas bagi defisiensi besi adalah
a. Kadar besi serum rendah
b. Daya ikat besi serum tinggi
c. Protoporfirin eritrosit tinggi
d. Tidak ditemukan hemosiderin dalam sum-sum tulang
Terapi
Kemasan zat besi dapat diberikan peroral atau parental
 Peroral : sulfas ferosus, atau glukonas ferosus dengan dosis 3-5 x 0,20 mg.
 Parental : diberikan bila ibu hamil tidak tahan pemberian peroral atau absorpsi di saluran pencernaan kurang baik, kemasan diberikan secara intramuskuler atau intravena. Kemasan ini antara lain: imferon, jectofer, dan ferrigen.

Pencegahan
Mengkonsumsi cukup makanan bergizi dan mengandung unsur besi atau mengkonsumsi suplemen tambahan pada keadaan tertentu minimal 1 tablet sehari, missal pada ibu hamil, pada wanita yang sedang menstruasi, asupan gizi yang kurang, dan lain-lain.

2) Anemia Megaloblastik
Disebabkan karena defisiensi asam folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12. sering ditemukan pada wanita yang jarang mengkonsumsi sayuran hijau segar atau makanan dengan protein yang tinggi. Gejalanya meliputi mual, muntah dan anoreksia yang bertambah berat.
Diagnosis
Apabila ditemukan megaloblas promegaloblas dalam darah atau sum-sum tulang. Perubahan-perubahan dalam leukopoesis, seperti metamielosit datia dan sel batang datia yang kadang-kadang disertai vakuolisasi san hipersegmentasi granuiosit.
Diagnosis pasti baru dapat dibuat dengan percobaan penyerapan dan percobaan pengeluaran asam folik.
Terapi
 Tablet asam folik diberikan 15-30mg per hari
 Vitamin B12 3x1 tablet per hari
 Sulfas ferosus 3x1 tablet per hari
 Pada kasus berta dapat diberikan transfusi darah
Pencegahan
Pada umumnya asam folik tidak diberikan secara rutin, kecuali di daerah-daerah dengan frekuensi anemia megaloblastik yang tinggi.
3) Anemia Hipoplastik
Disebabkan karena sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru.

Diagnosis
Gambaran darah tepi: normostik dan normokromik. Sum-sum tulang memberikan gambaran normoblastik dan hipoplasia. Penyebabnya belum diketahui kecuali yang disebabkan oleh sepsis berat, keracunan dan sinar rontgen dan sinar radiasi.
Untuk diagnosis diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan:
 Darah tepi lengkap
 Pemeriksaan fungsi sternal
 Pemeriksaan retikulosit
Terapi
Dengan obat-obatan tidak memuaskan, mungkin pengobatan yang paling baik yaitu transfuse darah, yang perlu sering diulang.

Pencegahan
Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia hipoplastik. Akan tetapi dalam pemberian obat-obat selalu harus dipikirkan pengaruh samping dari obat itu. Khususnya obat-obat yang mempunyai pengaruh hemotoksi seperti: strepromisin, oksitetrasiklin, kiortetrasiklin, sulfonamide, klorpromazin atebrin, dan obat pengecat rambut sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil.

Prognosis
Anemia hipoplastik berta yang tidak diobati mempunyai prognosis buruk, baik bagi ibu maupun bagi anak.

4) Anemia Hemolitik/sel sickle
Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung cepat dari pada pembuatannya
Secara umum anemia hemoitik dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yakni :
a. Golongan yang disebabkan oleh faktor intra korpuskuler, seperti pada sfenositosis, eliptositosis, anemia hemolitik herediter, thalasemia, anemia sel sabit, hemoglobinopana C, D, G, H, I dan araxysmal nocturnal haemoslobinuria
b. Golongan yang disebabkan oleh faktor ekstra korpuskuler seperti pada infeksi, keracunan arsenikum, neoarsphenamin, timah, sulfonamide, kinin, paraquin, pimaquin, nitropurantoin, rancun ular, pada defisiensi 6-6-PD, antagonismus rhesus atau ABO, leukemia, penyakit hodjkin, limfosarkoma, penyakit hati

Diagnosis
Gejala yang lazim dijumpai ialah gejala proses hemalitik, seperti anemia, hemoglobinemia, hemoglobinuria, hiperbilirubinemia, hiperurobiunuria, dan sterkobiuin lebih banyak dalam faeses

Terapi
Tergantung pada jenis dan beratnya
 Pada anemia berat diperlukan transfusi darah yang kadang diulang beberapa kali untuk meringankan ibu dan untuk mengurangi bahaya hipoksia janin
 Spenektomi dianjurkan pada anemia hemolitik bawaan dalam trimester II dan III
 Pemberian obat-obat yang dapat menyebabkan kelumpuhan sumsum tulang harus segera dihentikan

KEMOTERAPI
Kemoterpi adalah zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel kanker. Pada saat ini cara pengobatan kanker dapat digolongkan sebagai berikut: Pembedahan (operasi) yaitu mengambil jaringan tumor, radiasi, membubuh tumor dengan sinar berenergi tinggi untuk merusak sel kanker, kemoterapi terapi menggunakan obat untuk membunuh sel kanker, hormon terapi, menghambat kanker yang perkembnagannya tergantung hormon dan biologi terapi atau imunoterapi, yaitu menggunakan kemampuan biologi tubuh yang alamiah untuk memerangi tumor. Tergantung pada tahapan kanker, cara pengobatan dapat tunggal ataupun kombinasi dari jenis pengobatan tersebut diatas. Kombinasipun dapat berurutan misalnya: Operasi dilanjutkan kemoterapi atau dapat pula bersamaan seperti kemoterapi disertai radiasi atau radiasi plus hormonal terapi. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker dan diberikan secara sistematik. Obat anti kanker yang artinya penghambat kerja sel. Untuk kemoterapi bisa digunakan satu jenis sitostika. Pada sejarah awal penggunaan kemoterapi digunakan satu jenis sitostika, namun dalam perkembangannya kini umumnya dipergunakan kombinasi sitostika atau disebut regimen kemoterapi, dalam usaha untuk mendapatkan hasiat lebih besar.
Pemakaian obat-obatan baik tunggal kombinasi ini telah melalui penyelidikan mendalam diberbagai pusat kesehatan. Semua akibat yang bermanfaat (khasiat) serta dampak buruknya semua jenis kemoterapi sudah disahkan oleh Dep Kes dinegara yang bersangkutan, maka akan menjadi suatu regimen standart, sedangkan apabila masih dalam penelitian dipusat pengobatan kanker, belum disahkan disebut regimen kemoterapi dalam uji klinik (clinical trial).
Memahami sifat-sifat sitostatika serta penggunaannya, baik tunggal ataupun regimen kombinasi serta akibat baik dan buruk juga apa manfaatnya merupakan pekerjaan sehari-hari para dokter onkologi. Dan tugasnya pula untuk mengembangkan dan menyempurnakannya. RS Dharmais merupakan salah satu pusat kanker yang bertugas mengemban misi tersebut. Khususnya penerapannya pada kasus-kasus di Indonesia.

Cara kemoterapi :
Kemoterapi merupakan pengobatan sistemik, sebagian besar diberikan dengan cara injeksi kedalam pembuluh baik vena, sebagian kecil dapat berupa tablet/capsul dan kadang-kadang ada yang diberikan subcutan atau suntik dibawah kulit, serta intratekal (diinjeksikan kedalam system syaraf) jarang sekali yang disuntikan ke otot. Apabila pasien diberikan suntikan intravena, seringkali digunakan kateter atau selang plastik kedalam vena untuk mencegah kerusakan vena serta mempermudah injeksi. Kemoterapi diberikan diberikan secara siklit, dapat secara mingguan, dua mingguan 3-4 mingguan. Pasien mendapatkan kemoterapi dosis tinggi diberikan dalam unit rawat inap. Kondisi pasien juga menentukan apakah dapat diberikan dirawat jalan atau rawat inap.

Akibat kemoterapi:
Tubuh manusia terdiri dari organ-organ tubuh. Organ tubuh terdiri dari jaringan dan jaringan dari sel tubuh yang berubah atau mutasi menjadi ganas dan membelah terus terkendali dan menjadi besar mendobrak, merusak, jaringan sekitarnya dan akhirnya menyebar, bersarang diorgan lain dan mengulangi pertumbuhan seperti tempat semula. Sel kanker inilah yang menjadi target obat kemoterapi. Akibat kemoterapi bermacam-macam tergantung jenisnya, dosis besar dan ganda mempunyai akibat akan lebih besar dan sebagainya.
Kemoterapi anti kanker akan menyebabkan sel kanker serta beberapa jenis sel sehat yang juga sedang membelah atau tumbuh mengalami kerusakan. Namun sel kanker akan mengalami kerusakan lebih parah dibanding kerusakan pada sel sehat. Setelah beberapa periode 1-3 minggu sel sehat pulih dan sel kanker juga akan pulih kembali namun mengalami kerusakan berarti, sehingga atas dasar inilah obat anti kanker dipergunakan. Untuk mencegah kerusakan permanen dari sel sehat, obat kanker tidak bisa diberikan sekaligus 4-8 siklus. Hal ini dimaksud untuk memulihkan sel sehat. Dilain pihak berangsur mengecilkan kanker sehingga akhirnya sel kanker menjadi sangat kecil tidak terlihat lagi dan bisa dihancurkan dengan sinar atau dihilangkan dengan operasi. Secara umum obat anti kanker mempunyai akibat terhadap sel kanker yang sedang cepat membelah itu, namun sel sehat yang cepat membelah pun termasuk kena akibat anti kanker tersebut.
Diantara sel sehat yang terkena akibat adalah sel-sel darah dimana berfungsi memerangi infeksi, membantu pembekuan dan membawa oxygen keseluruh tubuh. Bila sel-sel darah terkena pengaruh, maka penderita akan gampang terkena infeksi, gampang memar dan serta mudah mengalami pendarahan. Demikian pula badan terasa lemah karena kurang energi yang dibakar oleh oxygen.
Sel-sel pada saluran cerna juga cepat membelah, sehingga akibat gangguan saluran cerna, pasien akan merasa tidak nafsu makan, mual muntah serta sariawan dan diare akibat rontoknya selaput lendir mulut dan usus.
Rambut yang sedang tumbuh pun akan rontok, pertumbuhan terhenti, sementara haid menjadi tidak ada dan laki-laki sementara mengalami sterilisasi. Pada pusat kanker yang lengkap disediakan bank sperma untuk antisipasi apabilia terjadi sterilisasi permanen pada pria.
Untuk kemoterapi yang sangat agresif dimana kerusakan sel darah sangat berat, dipergunakan cangkok sum-sum tulang dari tubuh sendiri (autologus bone marrow tranplantation). Sel susm-sum tulang kita diambil dan disimpan dengan pengawet. Pada waktu kerusakan sel darah begitu berat akibat kemoterapi yang agresif, sel sum-sum tulang badan kita yang disimpan ditransfusikan kembali ketubuh untuk memulihkan kerusakan tersebut.

Penyuluhan yang dapat diberikan pada pasien pro kemoterapi :
Pada prakteknya sehari-hari yang dikhawatirkan pasien terutama muntah, sariawan, nafsu makan hilang dan terutama wanita adalah kebotakan. Hal ini wajar, namun dengan penerangan dan persiapan lebih baik, antara lain pemeriksaan laboratorium berkala, obat anti muntah, obat nafsu makan serta obat-obat lain, semua dapat diatasi. Disamping itu gangguan tersebut tidak permanen dan akan pulih sebelum dilakukan siklus berikutnya.
Mengingat pengobatan kanker dengan kemoterapi memberikan efek samping yang cukup berat, sebelum mendapatkan kemoterapi pasien harus menjalani beberapa pemeriksaan agar tubuhnya tahan menghadapi akibat dari kemoterapi. Pemeriksaan awal tersebut ditetapkan oleh dokter onkologi medik, diantaranya pemeriksaan darah lengkap, test fungsi liver dan lain-lain.

Manfaat kemoterapi :
Sampai saat ini tidak semua kanker mendapat manfaat dari kemoterapi.
Berikut ini rincian beberapa manfaat kemoterapi pada berbagai jenis kanker.
1. Kemoterapi sangat bermanfaat (karena dapat sembuh atau hidup lama).
• Penyakit Hodgkin
• Non Hodgkin limfoma jenis large sel
• Kanker testis jenis germ sel
• Leukemia dan Limfoma pada anak
2. Kemotarapi bermanfaat (karena dapat dikendalikan cukup lama, kadang-kadang sembuh)
• Kanker Payudara
• Kanker Ovarium
• Kanker Paru jenis small sel
• Limfoma non Hodgkin
• Multiple Mieloma
3. Kemoterapi bermanfaat untuk paliatif (dapat mengulang gejala)
• Kanker Nasofaring
• Kanker Prostat
• Kanker Endometrium
• Kanker Leher dan Kepala
• Kanker Paru jenis non small sel
4. Kemoterapi kadangkala bermanfaat
• Kanker Nasofaring
• Melanoma
• Kanker usus besar

Mengingat keterbatasan manfaat kemoterapi, maka digunakan kombinasi dengan cara pengobatan lain untuk mengambil masing-masing manfaat, yaitu:
 Kemoterapi adjuvant, kemoterapi yang diberikan sesudah operasi. Manfaatnya mengurangi kekambuhan lokal dan mengurangi penyebaran yang akan timbul.
 Kemoterapi neo adjuvant, kemoterapi yang diberikan sebelum operasi manfaatnya adalah mengurangi ukuran tumor sehingga mudah dioperasi.
 Kemoterapi paliatif diberikan hanya untuk mengurangi besarnya tumor yang dalam hal ini karena atau lokasinya menggangu pasien karena nyeri ataupun sulit bernafas.
Kemoterapi adalah suatu cara penobatan kanker yang sudah teruji, meski pun tidak dapat dihindari adanya efek samping. Penelitian-penelitian yang professional tentang kemoterapi dapat dimanfaatkan untuk pengobatan kanker dan mengeliminasi efek samping yang terjadi.

Syarat-syarat pemberian kemoterapi :
1. syarat yang harus dipenuhi penderita :
 keadaan umum cukup baik
 penderita telah siap secara psikologik bila terjadi efek samping termasuk yang menyangkut kosmetik, misalnya alopesia.
 Faal ginjal dan hati baik
 Diagnostic histologik ( tidak mutlak )
 Kanker cukup sensitif terhadap sitostatik
 Riwayat pengobatan sebelumnya
 Laboraturium : Hb ≥ 10 gr%, leukosit ≥ 5000/mm³, trombosit ≥ 150.000/mm³
2. syarat yang harus dipenuhi penolonng :
 pengetahuan kemoterapi yan memadai
 keterampilan menyuntikkan obat
 sarana pemeriksaan laboratorium yang memadai
 pengetahuan mengenai efek samping yang akan terjadi termasuk cara mengatasinya.
Kontra indikasi kemoterapi :
1. kontra indikasi mutlak:
 kehamilan
 keadaan umum jelek
 infeksi-infeksi akut, termasuk sepsis
 gangguan sisti hemopoetik berat

2. kontra indikasi relative :
 usia lanjut
 ganguan ringan fungsi organ-organ : ginjal, hati, jantung
 penderita tidak kooperatif

Cara-cara pemberian kemoterapi:
1. Secara langsung ke dalam pembuluh darah yang memasok daerah dimana tumor tumbuh
2. Drip intravena (dari sebuah kantong atau botol cairan intravena, selama beberapa menit sampai beberapa jam)
3. Intravena (langsung kedalam vena, selama beberapa menit)
4. Per-oral (berupa tablet, kapsul atau cairan)

Frekuensi pemberian kemoterapi:
1. Bervariasi, tergantung dari kankernya :
- beberapa obat dalam 1 hari
- 1 dosis/hari selama beberapa hari
- berkesinambungan selama beberapa hari
- dosis 1 kali/minggu
- 1 dosis atau beberapa hari pemberian obat/bulan
2. Pengobatan bisa diberikan beberapa minggu sampai beberapa tahun
3. Serangkaian pengobatan bisa diberikan hanya 1 kali, atau beberapa rangkaian pengobatan bisa diberikan dengan selang waktu diantaranya

NUTRISI PASIEN KANKER :
Malnutrisi merupakan hal yang sering ditemukan pada pasien kanker, defisiensi gizi yang sering ditemukan pada penderita kanker adalah defisiensi rotein dan kalori dengan manifestasi mengecilnya masa otot.

Penyebab kurang gizi :
 Rendahnya nutris yang dikonsumsi penderita
 Konsumsi bahan nutrisi oleh sel kanker
 Pengaruh metabolisme sel kanker
Gizi yang kurang umunya disebabkan oleh anoreksia, gangguan fungsi traktus gastrointestinal dan kebutuhan yang meningkat. Anoreksia dapat disebabkan oleh gangguan fungsi mengecap dan mencium maupun gangguan fungsi susunan syaraf pusat.
Nutrisi yang baik dikonsumsi oleh pasien kanker adalah :
 Banyak mengandung serat dan cairan
 Tinggi protein dan kalori
 Makanan yang tidak merangsang timbulnya muntah
 Makanan yang rendah lemak
 Makan yang mudah dicerna


















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dengan menerapkan manajemen asuhan kebidanan pada Ny “ U “ dengan Post operasi atas indikasi Ca Ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi di ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang diharapkan mampu :
1) Melakukan pengkajian pada Ny “ U “ dengan Post operasi atas indikasi Ca Ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi di ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang
2) Mengidentifikasi secara benar masalah atau diagnosa pada Ny “ U “ dengan Post operasi atas indikasi Ca Ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi di ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang
3) Mengidentifikasikan diagnosa potensial yang mungkin terjadi pada Ny “ U “ dengan Post operasi atas indikasi Ca Ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi di ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang
4) Melakukan kolaborasi dengan dokter dan petugas laboratorium terhadap masalah yang ada maupun masalah yang berpotensi terjadi.
5) Membuat rencana asuhan yang rasional pada Ny “ U “ dengan Post operasi atas indikasi Ca Ovarium stadium IIIb disertai anemis sedang Pro kemoterapi di ruang Onkologi Irna A Kebidanan RSUP Dr.M. Djamil Padang
6) Melaksanakan implementasi terhadap asuhan yang telah dibuat secara rasion
al
7) Mengetahui dari evaluasi dari implementasi yang telah dilaksanakan menurut data yang diperoleh dari klien dan keluarga klien.


B. Saran
1) Bagi mahasiswa diharapkan:
• Dengan adanya manajemen asuhan kebidanan, diharapkan mahasiswa dapat menerapkan asuhan yang diberikan kepada klien sesuai dengan standar asuhan kebidanan

2) Bagi institusi pendidikan
• Diharapkan institusi pendidikan dapat menyiapkan mahasiswa dalam menghadapi kasus-kasus yang terjadi dalam bidang kesehatan khususnya kebidanan baik fsiologis maupun patologis
• Diharapkan institusi pendidikan dapat menjadi naungan bagi para mahasiswa agar menjadi jeli terhadap masalah-masalah kebidanan.

3) Bagi lahan praktek
• Diharapkan lahan praktek dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu.

















DAFTAR PUSTAKA

Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan. Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
Prawirohardjo. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sastrawinata, sulaiman. 1981. Ginekologi. Bandung : Elstar offset
www. Carcinoma ovarium.com
www. Kanker ovarium.co.id
www.askep-askeb-kita.blogspot.com
lihat artikel selengkapnya - Askeb Ca Ovarium

Gambaran Kejadian Abortus dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Gambaran Kejadian Abortus dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya”.
Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:
  1. Ibu Hj. Ulvi Mariati, S.Kp M. Kes selaku ketua jurusan kebidanan Poltekkes Padang.
  2. Ibu Fatmi Arma, SKM selaku Ka Prodi D III Kebidanan Padang.
  3. Ibu Dra. Hj. Mohanis, M.Kes, ibu Yuliva, S.SiT, M.Kes dan bapak H. Muslim, SKM yang telah memberikan bimbingan dalam menulis makalah ini.
  4. Teman-teman senasib dan seperjuangan yang telah membantu dan memberi dukungan moril dalam pembuatan makalah ini.
  5. Teristimewa penulis uacapkan terima kasih kepada kedua orang tua, kakak dan adik tercinta yang telah memberikan doa, bantuan dan dukungan baik moril maupun materil.
Semoga bantuan dan bimbingan bantuan dan bimbingan yang telah diberikan mendapat pahala di sisi Allah SWT.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat barmanfaat bagi kita semua.
Padang, Januari 2009
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah kesehatan merupakan masalah penting yang tengah dihadapi oleh masyarakat saat ini, apalagi yang tengah menimpa kaum wanita. Kesehatan reproduksi wanita adalah hal yang sangat perlu diperhatikan menimbang bahwa wanita adalah makhluk yang unik. Disini wanita ini, dalam siklus hidupnya mengalami tahap-tahap kehidupan, diantaranya dapat hamil dan melahirkan.
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sedangkan menurut WHO batasan usia kehamilan adalah sebelum 22 minggu (google).
Abortus didefenisikan sebagai keluarnya janin belum mencapai viabilitas (yang mampu hidup diluar kandungan). Dan masa gestasi mencapai 22 minggu atau lebih, berat janin 500 gr atau lebih. Abortus lebih sering terjadi pada wanita berusia 30 tahun dan meningkatnya angka graviditas 6% kehamilan pertama atau kedua berakhir dengan abortus, angka ini meningkat menjadi 16% pada kehamilan ke-3 dan seterusnya (google.com yang dikutip dari Hipokrates, 2002).
Kejadian abortus sulit diketahui, karena sebagian besar tidak dilaporkan dan banyak dilakukan atas permintaan. Keguguran spontan diperkirakan sebesar 10% sampai 15% (Manuaba, 1998:214).
Insiden kehamilan diketahui secara klinis sebanyak 15%-25% diantara kehamilan ini mengalami komplikasi perdarahan pada trimester pertama, 50% dari ini mengalami abortus. Tidak ada bukti yang meyakinkan pengobatan manapun mempengaruhi hasil akhir. 95% kehamilan berlangsung lewat trimester pertama. Bila pada pemeriksaan USG terlihat aktivitas jantung janin (google.com, kutipan dari Indra, 2007).
Biasanya kejadian keguguran dilaporkan dalam angka kaguguran (abortion rate). Angka keguguran ialah jumlah keguguran dalam setiap 1000 kelahiran hidup. Dilaporkan besar angka keguguran berkisar antara 8,3 sampai 15 %. Angka ini diperkirakan lebih kecil daripada yang sebenarnya berdasarkan alasan-alasan di atas. Angka keguguran ini bersifat umum dan tidak memperhitungkan semua keguguran yang terjadi sejak kehamilan yang pertama. Angka keguguran yang spesifiklah jumlah keguguran dalam setiap 1000 kehamilan dihitung sejak kehamilan yang pertama pada setiap wanita yang pernah hamil pada satu populasi tertentu (google, yang dikutip dari dr. TMA Chalik 1997:2).
Menurut data WHO persentase kemungkinan terjadinya abortus cukup tinggi. Sekitar 15–40% angka kejadian, diketahui pada ibu yang sudah dinyatakan positif hamil, dan 60–75% angka abortus terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu (google, yang dikutip dari Lestariningsih, 2008).
Diperkirakan frekuensi keguguran spontan berkisar antara 10-15 %. Namun demikian, frekuensi seluruh keguguran yang pasti sukar ditentukan, karena abortus buatan banyak yang tidak dilaporkan, kecuali bila telah terjadi komplikasi. Juga karena sebagian keguguran spontan hanya disertai gejala dan tanda ringan, sehingga wanita tidak datang ke dokter atau rumah sakit (Rustam Muchtar, 1998: 211).
Sekitar 1 dari 100 hingga 200 wanita akan mengalami abortus 3 kali berturut-turut, yang disebut abortus habitual atau abortus berulang. Jika abortus berturut-turut ini merupakan abortus dengan kegagalan pembentukan janin, hal ini biasanya tidak memerlukan penangan yang terlalu rumit, dan kemungkinan kehamilan yang baik pada kehamilan berikutnya adalah 62%. Namun jika yang terjadi adalah kematian janin, maka diperlukan pemeriksaan yang lebih mendalam untuk mencari adanya kelainan-kelainan yang mungkin menjadi penyebab dan mengatasinya, agar abortus tidak terulang kembali.
Di Indonesia, diperkirakan sekitar 2 – 2,5 % juga mengalami keguguran setiap tahun, sehingga secara nyata dapat menurunkan angka kelahiran menjadi 1,7 pertahunnya ( Manuaba, 2001 ).
AKI di Indonesia masih di dominasi perdarahan 42 %, ekslamsi 13% & infeksi 10 % ( BKKBN, 2005 ).
Kejadian abortus diduga mempunyai efek terhadap kehamilan berikutnya, baik pada timbulnya penyulit kehamilan maupun pada hasil kehamilan itu sendiri. Wanita dengan riwayat abortus mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya persalinan prematur, abortus berulang, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (Cunningham, 2005).
Pada penelitian Thom terhadap 2.146 penderita dengan riwayat abortus satu kali, 94 orang (4,9%) menunjukkan adanya pertumbuhan janin yang terhambat pada kehamilan berikutnya, 174 orang (8,7%) melahirkan bayi prematur. Sedangkan dari 638 penderita dengan riwayat abortus 3 kali atau lebih, ternyata terjadi pertumbuhan janin yang terhambat pada 41 orang (6,4%), prematuritas pada 63 orang (10,8%) (Suryadi, 1994).
Karena banyaknya kasus abortus ini terjadi, maka penulis berusaha untuk membahas masalah abortus ini dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan data kasus yang tertera pada latar belakang, maka didapat masalah mengenai abortus dalam kehamilan yang sering terjadi saat ini karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran kejadian abortus dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.
1.3.2 Tujuan Khusus
· Diketahuinya gambaran kejadian abortus
· Diketahuinya apa yang dimaksud dengan abortus dan bagaimana abortus itu
· Diketahuinya klasifikasi dari abortus
· Diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi abortus dalam kehamilan.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Mahasiswa
  • Menambah wawasan mahasiswa kebidanan tentang gambaran kejadian abortus dan pengetahuan mengenai abortus.
  • Sebagai wujud atau aplikasi dari ilmu yang didapat dalam perkuliahan.
1.4.2 Bagi Instiusi Pelayanan
  • Sebagai bahan masukan atau informasi bagi pelayanan kebidanan dalam rangka meningkatkan pelayanan kebidanan di Rumah Sakit.
1.4.3 Bagi Pendidikan
  • Sebagai bahan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bagi peserta didik.
  • Sebagai bahan acuan untuk penulisan selanjutnya yang berkaitan dengan kehamilan abortus.
  • Dapat memperbaiki mutu pembelajaran dalam institusi pendidikan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Abortus
2.1.1 Pengertian
Dewasa ini yang dimaksud dengan abortus adalah kehamilan yanng berhenti prosesnya pada umur 20 minggu kebawah, atau berat fetus yang lahir 500 gram atau kurang. Abortus yang terjadi tanpa didahului oleh tindakan apapun disebut abortus spontan, dan yang terjadi akibat sesuatu tindakan sengaja untuk menghentikan proses kehamilan disebut abortus provokatus (dr. TMA Chalik 1997:2).
Keguguran adalah dikeluarkannya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000 gr atau umul hamil kurang dari 28 minggu (Manuaba, 1998:214).
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari 20 minggu (Sarwono, 2005: 302).
Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidup, yaitu sebelum kehamilan berusia 20 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya perdarahan pada wanita yang sedang hamil. Dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis. Yang pertama adalah abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukkan kantong kehamilan yang kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, di mana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan (google.com).
Abortus atau keluron adalah pengeluaran fetus sebelum akhir masa kebuntingan dengan fetus yang belum sanggup hidup, sedangkan kelahiran prematur adalah pengeluaran fetus sebelum masa akhir kebuntingan dengan fetus yang sanggup hidup sendiri di luar tubuh induk (google.com dikutip dari Toelihere, 1985).
Abortus dapat terjadi pada berbagai umur kebuntingan dari 42 hari sampai saat akhir masa kebuntingan. Abortus dapat terjadi bila kematian fetus di dalam uterus disertai dengan adanya kontraksi dinding uterus sebagai akibat kerja secara bersama-sama dari hormon estrogen, oksitosin, dan prostaglandin F2α pada waktu terjadinya kematian fetus itu. Oleh karena itu fetus yang telah mati terdorong keluar dari saluran alat kelamin (Google.com kutipan dari Hardjopranjoto, 1995).
Berakhirnya kehamilan sebelum anak dapat hidup di dunia luar disebut dengan abortus (google.com kutipan dari Prof. R. Sulaeman Sastrawinata, 1984).
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Sarwono Prawirohardjo, 2002:145).
Keguguran adalah pegeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (Rustam Muchtar, 1998:209).
Suatu kehamilan dikatakan mengalami abortus bila kehamilan tersebut terhenti atau gagal dipertahankan pada usia kehamilan kurang dari 22 minggu atau berat badan janin kurang dari 500 gram. Selanjutnya bila kita menyebut abortus jangan lupa terdapat abortus yang jalannya tidak per vaginam tetapi per abdominam yang kita kenal dengan kehamilan ekstra uterin yang kemudian gagal tumbuh dan terjadilah perdarahan intra abdominal yang memerlukan tindakan operasi untuk menghentikaan terjadinya perdarahan atau menutup sumber perdarahan (google.com).
2.1.2 Patogenesa
Fetus dan plasenta keluar bersamaan pada saat aborsi yang terjadi sebelum minggu ke sepuluh, tetapi terpisah kemudian. Ketika plasenta, seluruh atau sebagian tertinggal didalam uterus, perdarahan terjadi dengan cepat atau kemudian.12 Pada permulaan terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus akan berkontraksi untuk mengeluarkannya.
Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korialis belum menembus desidua terlalu dalam; sedangkan pada kemailan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal.3 Hilangnya kontraksi yang dihasilkan dari aktivitas kontraksi dan retraksi miometrium menyebabkan banyak terjadi perdarahan.
2.1.3 Gambaran Klinis
Gejala abortus inkomplit berupa amenorea, sakit perut, dan mulas-mulas. Perdarahan bisa sedikit atau banyak, dan biasanya berupa stolsel (darah beku); sudah ada keluar fetus atau jaringan. Pada abortus yang sudah lama terjadi atau pada abortus provokatus yang dilakukan oleh orang yang tidak ahli, sering terjadi infeksi. Tanda-tanda infeksi alat genital berupa demam, nadi cepat, perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeri tekan, luekositosis. Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang baru saja terjadi didapati serviks terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisa jaringan dalam kanalis servikalis atau kavum uteri, serta uterus berukuran kecil dari seharusnya.
2.1.4 Diagnosis
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan :
  1. Anamnesis
1) Adanya amenore pada masa reproduksi
2) Perdarahan pervaginam disertai jaringan hasil konsepsi
3) Rasa sakit atau keram perut di daerah atas simpisis
  1. Pemeriksaan Fisis
1) Abdomen biasanya lembek dan tidak nyeri tekan
2) Pada pemeriksaan pelvis, sisa hasil konsepsi ditemukan di dalam uterus, dapat juga menonjol keluar, atau didapatkan di liang vagina.
3) Serviks terlihat dilatasi dan tidak menonjol.
4) Pada pemeriksaan bimanual didapatkan uterus membesar dan lunak.
  1. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin, leukosit, waktu bekuan, waktu perdarahan, trombosit., dan GDS.
2) Pemeriksaan USG ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasil konsepsi.
Diagnosis Banding:
1. Abortus komplit
2. Kehamilan ektopik
2.1.5 Klasifikasi abortus
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
1. Abortus spontan yairu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
2. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja tanpa indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi:
1) Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim dokter ahli.
2) Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
Menurut gambaran klinis, dibedakan atas:
1. Abortus membakat (imminens) yaitu abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
Dalam hal ini, keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan memberikan obat-obat hormonal dan antispasmodika serta istirahat. Kalau perdarahan setelah beberapa minggu masih ada, maka perlu ditentukan apakah kehamilan masih baik atau tidak. Kalau reaksi kehamilan 2 kali berturut-turut negatif, maka sebaiknya uterus dikosongkan (kuret).
2. Abortus insipiens yaitu abortus yang sedang berlangsung dan mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, ketuban yang teraba akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri, kehamilan tidak dapat dipertahankan lagi. Terapi seperti abortus inkomplit.
3. Abortus inkomplit (keguguran yang tersisa) yaitu jika hanya sebagian hasil konsepsi yang dikeluarkan, yang tertinggal adalah desidua atau plasenta.
4. Abortus komplit artinya seluruh hasil konsepsi telah keluar (desidua atau fetus), sehingga rongga rahim kosong. Terapi hanya dengan uterotonika.
5. Missed abortion adalah abortus dimana fetus atau embrio telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih. Fetus yang meninggal ini bisa keluar dengan sendirinya dalam 2-3 bulan sesudah fetus mati, bisa diresorbsi kembali sehingga hilang, bisa terjadi mengering dan menipis yang disebut fetus papyraceus, atau bisa jadi mola karnosa dimana fetus yang sudah mati 1 minggu akan mengalami degenerasi dan air ketubannya diresorbsi.
6. Abortus habitualis (keguguran berulang) adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih. Menurut HERTIG abortus spontan terjadi dalam 10 5dari kehamilan dan abortus habitualis3,6-9,8% dari abortus spontan.
Kalau seorang penderita telah mengalami 2 abortus berturut-turut maka optimisme untuk kehamilan berikutnya berjalan normal, hanya sekitar 16 %.
7. Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi genital.
8. Abortus septik adalah abortus yang disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman ataupun toksinnya kedalam peredaran darah atau peritonium.
2.1.6 Komplikasi
  1. Perdarahan (hemorrhage)
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada waktunya.
  1. Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi. Terjadi robekan pada rahim, misalnya abortus provokatus kriminalis. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.
  1. Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat.
  1. Infeksi
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma, Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis, sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur. Umumnya pada abortus infeksiosa, infeksi terbatas padsa desidua. Pada abortus septik virulensi bakteri tinggi dan infeksi menyebar ke perimetrium, tuba, parametrium, dan peritonium. Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus, Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus, dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah Neisseria gonorrhoeae, Pneumococcus dan Clostridium tetani. Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat membentuk gas.
2.1.7 Prognosis
Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan sebelumnya.
  1. Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %
  2. Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui, kemungkinan keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %
  3. Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih aborsi spontan yang tidak jelas.
2.1.8 Penatalaksanaan
  1. Memperbaiki keadaan umum. Bila perdarahan banyak, berikan transfusi darah dan cairan yang cukup.
  2. Pemberian antibiotika yang cukup tepat yaitu suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam, suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam, atau antibiotika spektrum luas lainnya.
  3. 24 sampai 48 jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan yang banyak, lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
  4. Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.
Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang ke rumah. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi.2 Pasien dianjurkan istirahat selama 1 sampai 2 hari. Pasien dianjurkan kembali ke dokter bila pasien mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.13 Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menandatangani surat persetujuan tindakan.
2.2 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Abortus Dalam Kehamilan
Penyebab abortus dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu:
  1. Faktor janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini terjadi pada 50%-60% kasus keguguran.
  1. Faktor ibu:
1) Kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid, kencing manis.
2) Faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus, Anti phospholipid syndrome.
3) Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman, toksoplasma , herpes, klamidia.
4) Kelemahan otot leher rahim
5) Kelainan bentuk rahim.
  1. Faktor Bapak: kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan abortus.
Selain 3 faktor di atas, faktor penyebab lain dari kehamilan abortus adalah:
  1. Faktor genetik 9,10
Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16.
Penyebab yang paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas kromosom pada janin. Lebih dari 60% abortus spontan yang terjadi pada trimester pertama menunjukkan beberapa tipe abnormalitas genetik. Abnormalitas genetik yang paling sering terjadi adalah aneuploidi (abnormalitas komposisi kromosom) contohnya trisomi autosom yang menyebabkan lebih dari 50% abortus spontan. Poliploidi menyebabkan sekitar 22% dari abortus spontan yang terjadi akibat kelainan kromosom.
Sekitar 3-5% pasangan yang memiliki riwayat abortus spontan yang berulang salah satu dari pasangan tersebut membawa sifat kromosom yang abnormal. Identifikasi dapat dilakukan dengan pemeriksaan kariotipe dimana bahan pemeriksaan diambil dari darah tepi pasangan tersebut. Tetapi tentunya pemeriksaan ini belum berkembang di Indonesia dan biayanya cukup tinggi.
  1. Faktor anatomi
Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada 10-15 % wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
1) Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian (uterus bersepta). Duktus mullerian biasanya ditemukan pada keguguran trimester ke dua.
2) Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan aliran darah endometrrium.
3) Kelainan yang didapat misalnya adhesi intrauterun (synechia), leimioma, dan endometriosis.
Abnormalitas anatomi maternal yang dihubungkan dengan kejadian abortus spontan yang berulang termasuk inkompetensi serviks, kongenital dan defek uterus yang didapatkan (acquired). Malformasi kongenital termasuk fusi duktus Mulleri yang inkomplit yang dapat menyebabkan uterus unikornus, bikornus atau uterus ganda. Defek pada uterus yang acquired yang sering dihubungkan dengan kejadian abortus spontan berulang termasuk perlengketan uterus atau sinekia dan leiomioma. Adanya kelainan anatomis ini dapat diketahui dari pemeriksaan ultrasonografi (USG), histerosalfingografi (HSG), histeroskopi dan laparoskopi (prosedur diagnostik).
Pemeriksaan yang dapat dianjurkan kepada pasien ini adalah pemeriksaan USG dan HSG. Dari pemeriksaan USG sekaligus juga dapat mengetahui adanya suatu mioma terutama jenis submukosa. Mioma submukosa merupakan salah satu faktor mekanik yang dapat mengganggu implantasi hasil konsepsi. Jika terbukti adanya mioma pada pasien ini maka perlu dieksplorasi lebih jauh mengenai keluhan dan harus dipastikan apakah mioma ini berhubungan langsung dengan adanya ROB pada pasien ini. Hal ini penting karena mioma yang mengganggu mutlak dilakukan operasi.
  1. Faktor endokrin:
1) Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20 % kasus.
2) Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya produksi progesteron).
3) Hipotiroidisme, hipoprolaktinemia, diabetes dan sindrom polikistik ovarium merupakan faktor kontribusi pada keguguran.
Kenaikan insiden abortus bisa disebabkan oleh hipertiroidismus, diabetes melitus dan defisisensi progesteron. Hipotiroidismus tampaknya tidak berkaitan dengan kenaikan insiden abortus (Sutherland dkk, 1981). Pengendalian glukosa yang tidak adekuat dapat menaikkan insiden abortus (Sutherland dan Pritchard, 1986). Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut dari korpus luteum atau plasenta, mempunyai kaitan dengan kenaikan insiden abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua, defisiensi hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu nutrisi pada hasil konsepsi dan dengan demikian turut berperan dalam peristiwa kematiannya.
  1. Faktor infeksi
Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus) dan malaria. Infeksi intrauterin sering dihubungkan dengan abortus spontan berulang. Organisme-organisme yang sering diduga sebagai penyebab antara lain Chlamydia, Ureaplasma, Mycoplasma, Cytomegalovirus, Listeria monocytogenes dan Toxoplasma gondii. Infeksi aktif yang menyebabkan abortus spontan berulang masih belum dapat dibuktikan. Namun untuk lebih memastikan penyebab, dapat dilakukan pemeriksaan kultur yang bahannya diambil dari cairan pada servikal dan endometrial.
  1. Faktor imunologi
Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya aliran darah dari ari-ari tersebut.
Faktor imunologis yang telah terbukti signifikan dapat menyebabkan abortus spontan yang berulang antara lain: antibodi antinuklear, antikoagulan lupus dan antibodi cardiolipin. Adanya penanda ini meskipun gejala klinis tidak tampak dapat menyebabkan abortus spontan yang berulang. Inkompatibilitas golongan darah A, B, O, dengan reaksi antigen antibodi dapat menyebabkan abortus berulang, karena pelepasan histamin mengakibatkan vasodilatasi dan peningkatan fragilitas kapiler.
  1. Penyakit-penyakit kronis yang melemahkan
Pada awal kehamilan, penyakit-penyakit kronis yang melemahkan keadaan ibu, misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis jarang menyebabkan abortus; sebaliknya pasien penyakit tersebut sering meninggal dunia tanpa melahirkan.
Adanya penyakit kronis (diabetes melitus, hipertensi kronis, penyakit liver/ ginjal kronis) dapat diketahui lebih mendalam melalui anamnesa yang baik. Penting juga diketahui bagaimana perjalanan penyakitnya jika memang pernah menderita infeksi berat, seperti apakah telah diterapi dengan tepat dan adekuat. Untuk eksplorasi kausa, dapat dikerjakan beberapa pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan gula darah, tes fungsi hati dan tes fungsi ginjal untuk menilai apakah ada gangguan fungsi hepar dan ginjal atau diabetes melitus yang kemudian dapat menimbulkan gangguan pada kehamilan seperti persalinan prematur.
  1. Faktor Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling besar menjadi predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum ditemukan bukti yang menyatakan bahwa defisisensi salah satu/ semua nutrien dalam makanan merupakan suatu penyebab abortus yang penting.
  1. Obat-obat rekreasional dan toksin lingkungan.
Peranan penggunaan obat-obatan rekreasional tertentu yang dianggap teratogenik harus dicari dari anamnesa seperti tembakau dan alkohol, yang berperan karena jika ada mungkin hal ini merupakan salah satu yang berperan.
  1. Faktor psikologis.
Dibuktikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang dengan keadaan mental akan tetapi belum dapat dijelaskan sebabnya. Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum matang secara emosional dan sangat penting dalam menyelamatkan kehamilan. Usaha-usaha dokter untuk mendapat kepercayaan pasien, dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat membantu.
Pada penderita ini, penyebab yang menetap pada terjadinya abortus spontan yang berulang masih belum dapat dipastikan. Akan lebih baik bagi penderita untuk melakukan pemeriksaan lengkap dalam usaha mencari kelainan yang mungkin menyebabkan abortus yang berulang tersebut, sebelum penderita hamil guna mempersiapkan kehamilan yang berikutnya.
Disamping pemeriksaan umum, perhatikan gizi dan bentuk badan penderita. Selain itu perlu dilakukan pula pemeriksaan suami-istri, antara lain pemeriksaan darah dan urin yang rutin, pemeriksaan golongan darah dan faktor Rhesus, pada istri dibuat kurve harian glukosa darah, diperiksa fungsi thiroid dan pada suami diperiksa sperma.
Pada penderita ini sangat dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ultrasonografi dan histerosalfingografi, karena dengan melakukan pemeriksaan ini dapat diketahui apakah ada kelainan anatomis pada uterus.
Faktor genetik dan faktor malfungsi endometrium menyebabkan abortus dalam trimester pertama dan kelainan anatomis menjadi sebab abortus dalam trimester kedua atau lebih. Jika pada penderita dengan abortus spontan berulang ditemukan kelainan bawaan seperti uterus bikornis atau uterus septus dan belah diyakinkan tidak ada faktor lain yang menyebabkan, dapat dilakukan operasi plastik pada uterus seperti operasi menurut Strassman. Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan prosedur cerclage (penjahitan benang melingkar untuk menguatkan serviks) harus ditunda sampai sesudah kehamilan berusia 14 minggu, sehingga abortus dini yang disebabkan oleh faktor-faktor lain telah disingkirkan.
Pada kehamilan selanjutnya, selain terapi yang bersifat kausal, maka penderita dengan abortus spontan yang berulang, perlu mendapat perhatian yang khusus. Dianjurkan kepada penderita untuk banyak istirahat namun hal ini tidak berarti bahwa ia harus selalu berada di tempat tidur, akan tetapi perlu dicegah usaha-usaha yang melelahkan. Pada kehamilan muda sebaiknya jangan bersenggama. Nutrisi makanan harus adekuat mengenai protein, karbohidrat, mineral dan vitamin. Khusus dalam masa organogenesis pemberian obat-obat harus dibatasi, dan obat-obat yang bersifat teratogenik tidak boleh diberikan. Faktor emosional memegang peranan sangat penting, pengaruh dokter sangat besar dalam mengatasi ketakutan dan keresahan.
Terapi hormonal umumnya tidak diperlukan, kecuali jika ada gangguan fungsi thyroid atau gangguan fase Luteal.
Persiapan ibu dan keluarga untuk kehamilan selanjutnya antara lain setelah terjadi abortus dan kuretase pasien dapat segera hamil tetapi harus melalui pantang berhubungan selama 2 minggu setelah kuretase dan menghindari aktivitas berat. Selain itu dalam mempersiapkan kehamilan yang sehat penderita disarankan untuk selalu mengkonsumsi makanan bergizi serta konsumsi vitamin yang dapat menguatkan kandungan serta istirahat yang cukup dan menghindari stresor fisik dan emosional.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berjuta-juta wanita setiap tahunnya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa kehamilan berakhir dengan kelahiran tetapi beberapa diantaranya diakhiri dengan abortus. Dan kejadian abortus sangat banyak ditemukan yang merupakan salah satu dari perdarahan dalam masa kehamilan.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup di luar kandungan.
Abortus ada 2 macam, baik itu spontan maupun buatan. Dan masing-masing dari abortus ini terbagi lagi. Sehingga ada banyak bentuk-bentuk abortus yang kita temui.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi abortus dalam kehamilan baik itu dari faktor ibu, bapak, janin dan faktor-faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya abortus atau kehamilan yang tidak dapat dipertahankan.
3.2 Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah:
· Kepada mahasiswa dapat lebih meningkatkan pengetahuannya mengenai hal-hal yang patologi dalam kehamilan khususnya abortus dalam kehamilan.
· Kepada instansi kesehatan maupun pemerintah dapat meningkatkan program kesehatan masyarakat, seperti penyuluhan dan upaya deteksi dini terhadap kehamilan-kehamilan yang beresiko.
· Kepada masyarakat luas dapat membantu dan mematuhi program kesehatan yang telah dicanangkan pemerintah maupun instansi kesehatan sehingga mau bekerjasama dalam upaya peningkatan tingakat kesehatan masyarakat, terutama menyangkut kehamilan yang beresiko ini.
DAFTAR PUSTAKA
Fathdry, Al. 2002. Catatan Obstetri dan Ginekologi
Boyle, Maureen. 2002. Kedaruratan dalam Persalinan. Jakarta: EGC
Chalik, TMA. 1998. Hemoragi Utama Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC
Cuningham, dkk.1995. Obstetri William, Jakarta: EGC
Manuaba, I.B.G. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC
______________2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan RutinObstetri Ginekologi dan KB. Jakarta: EGC
Mochtar, Rustam. 2002. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Winkjosastro, hanifa. 1999. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBPSP
Obstetri Patologi. 1984. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad. Bandung: Elstar Offset
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Buku Acuan Nasional Maternal dan Neonatal. Jakarta: JPNKR-POGI
http://askep-askeb-kita.blogspot.com/
lihat artikel selengkapnya - Gambaran Kejadian Abortus dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya

TIDAK MENEMUKAN YANG DICARI GUNAKAN KOTAK PENCARIAN: